Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
11. "Mana janji lo barusan?"


__ADS_3

“Gue gak suka sama ucapan lo. Makan sekarang, atau gue pergi dan gak akan munculin diri di hadapan lo lagi.” Entah keberanian dari mana Zeva sampai mengatakan kalimat tersebut pada Aldevaro.


Jujur. Jantungnya berdegup tak karuan saat Aldevaro yang menatapnya dengan tampang datar seperti ini. Namun, tak berapa lama kemudian, cowok itu menjauhkan selimut, dan meraih semangkuk bubur yang berada di atas nakas. Zeva menghela napas lega saat Aldevaro pada akhirnya memilih menuruti perkataannya.


Hening. Tak ada lagi suara sahut-menyahut dari mulut keduanya. Bahkan sampai bubur itu habis pun, keduanya masih terdiam.


Saat hendak meraih segelas air putih, Aldevaro dengan cekatan mengambil gelas tersebut, kemudian menenggaknya sepertiga.


Zeva tak mempermasalahkan saat Aldevaro bertindak demikian. Gadis itu memilih diam dan pasrah saat Aldevaro juga mengambil obat penurun demam yang hendak Zeva ambil.


Oke. Cowok itu pasti sedang merajuk.


“Gue ke dapur-”


“Lo udah janji gak akan ke mana-mana. Dan gue pun udah habisin bubur sama obat yang lo kasih ke gue. Dan sekarang lo mau pergi? Mana janji lo barusan?” Aldevaro menarik pergelangan tangan Zeva, menghentikan niat gadis itu yang hendak mengambil alih nampan berisi mangkuk kotor dan gelas yang sudah kosong.


Perlahan, Zeva melepaskan tangan Aldevaro. “Gue cuman mau naro ini di dapur, kok. Lo tunggu di sini. Sebentar, gue janji.” Saat Zeva hendak kembali mengambil nampan, Aldevaro lagi-lagi menghentikan niatannya. Dengan tampang memelas, cowok itu menggeleng pelan, berharap Zeva mau mengikuti keinginannya.


“Jangan tinggalin gue lagi, Va! Udah cukup lo ninggalin gue tanpa kabar yang jelas selama dua tahun. Gue gak mau hal serupa itu terulang lagi.”


Zeva bungkam dibuat Aldevaro. Kepala gadis itu pun lantas menoleh ke sembarang arah, mencoba untuk menghindari tatapan Aldevaro padanya. Kenapa Aldevaro mengungkit hal itu?


“Ekhem. Y-ya udah, gue gak pergi. Tapi-” belum sempat Zeva menyelesaikan kata-katanya, Aldevaro dengan cekatan, kembali menarik pergelangan tangan Zeva, sampai tubuh gadis itu dibuat limbung, sehingga berakhir di atas tempat tidur.


Zeva membulatkan matanya saat wajah Aldevaro hampir tak berjarak dengan wajahnya. Saat gadis itu hendak menjauhkan diri, Aldevaro menarik pinggangnya, kemudian memeluknya erat, seraya menduselkan kepalanya pada ceruk leher Zeva.


Demi apa pun, Zeva teramat gugup dengan posisi mereka saat ini. Jantungnya sudah berdegup sangat kencang dengan napasnya yang hampir tercekat. Perdana Zeva dipeluk seorang cowok apalagi dengan posisi seperti ini. Dan lagi, cowok itu adalah mantan pacarnya.


“Var! Jangan kayak gini. Gue gak nyaman.” Zeva berucap lirih, sedikitpun tak digubris oleh Aldevaro. Saat menoleh ke bawah, wajah tenang Aldevaro dengan deru napas teratur dapat Zeva lihat. Sesekali, cowok itu akan terus mencoba mendekatkan dirinya pada Zeva, membuat gadis itu semakin tak berleluasa di tempatnya.


Zeva menghela napas pasrah melihat Aldevaro yang kini tak lagi bergerak di tempatnya. Tanpa dirinya sadari, sebelah tangan Zeva terangkat membelai surai hitam milik Aldevaro yang terasa begitu lembut dengan aroma khas sampo. Tanpa sadar pula gadis itu mengulum senyum tipisnya.


“Var?” Panggil Zeva, masih setia membelai surai cowok itu.


“Hm.” Terdengar suara dehaman rendah yang membuat Zeva seketika membelalakkan bola matanya. Dengan panik, Zeva melirik Aldevaro yang wajahnya hampir tak dapat ia lihat.


Dan, sepertinya cowok itu tengah mengigau. Terlihat dari sepasang bola matanya yang terpejam santai dan deru napasnya yang teratur menerpa sekitaran lehernya. Entah mengapa hal tersebut membuat Zeva semakin gugup, namun sebisa mungkin gadis itu tampak biasa saja.


“Lo benci gak sama gue?” Pertanyaan itu membuat Aldevaro menggeliat dalam tidurnya, sampai tak sadar sudah melepaskan pelukannya pada pinggang Zeva. Cowok itu tak membalas apa-apa. Dia masih setia tertidur lelap.


Zeva kembali menghela napas, namun kali ini, helaan napas lega yang keluar dari mulutnya. Dengan hati-hati, Zeva turun dari atas tempat tidur. Saat tak merasakan ada pergerakan dari Aldevaro, gadis itu lagi-lagi menghela napas.


“Gue pulang dulu, ya, Var.” Bisik Zeva, diiringi dengan kedua tangannya yang dengan telaten menarik selimut untuk cowok itu sebatas dada. Setelahnya, Zeva meraih nampan tadi yang ia taruh di atas nakas, kemudian melenggang dari dalam kamar Aldevaro.


****


“Zeva!” Aldevaro terbangun dari tidurnya dengan keadaan badannya yang penuh dengan keringat. Napas cowok itu memburu dengan sepasang netra yang menjelajah menatap setiap sudut ruang kamarnya yang didominasi cat berwarna abu-abu.


Dan, tidak ada siapa pun di dalam kamarnya. Aldevaro merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya bermimpi bahwa gadis itu tengah berada di dalam kamar apartemennya. Dia bahkan sampai bermimpi jika Zeva kembali meninggalkannya seperti dulu.


Sepertinya, Aldevaro sudah kembali dibuat jatuh cinta oleh Zeva. Gadis masa lalunya. Kalau tidak? Kenapa dirinya sampai bermimpi yang tidak-tidak? Mimpi hampir mencium Zeva yang pada akhirnya gadis itu menolaknya dengan memalingkan muka.


Memalukan!


Saat Aldevaro menoleh pada jam weker yang berada di atas nakas, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kalau dihitung, sudah hampir tujuh jam cowok itu tertidur. Namun, ada yang berbeda saat ia bangun kali ini.


Kepalanya tak lagi terasa pening. Seolah jika dirinya sudah makan dan meminum obat, padahal sedari tadi ia hanya tertidur.


Apakah yang tadi itu benaran hanya mimpi?


“Udahlah. Karena sekarang udah mendingan, gue mau mandi sekalian makan malem. Udah terlanjur bangun juga, ‘kan.” Ucap Aldevaro bermonolog, kemudian bangkit dari atas tempat tidurnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


****


Sedari kemarin malam sampai hari ini, Aldevaro tak habis pikir memikirkan sesuatu yang terus-menerus mengganggu pikirannya.


Entahlah. Kejadian di mana Zeva menjenguknya, merawatnya ketika sakit, dan bahkan mau menemaninya tidur terasa begitu nyata, sampai Aldevaro pun masih dapat merasakan sisa kehangatannya.


“Ck. Bisa-bisanya gue gak bisa bedain mana mimpi, mana kenyataan pas gue lagi sakit.” Gumam Aldevaro, membuat Pak Yanto yang mengajar di kelasnya seketika mengalihkan perhatian pada cowok itu.


“Ada apa, Al? Kamu bilang sesuatu?” Sahutan tersebut membuat sang pemilik nama lantas tersadar dari apa yang tengah ia lamunkan. Bukan hanya Aldevaro saja, seluruh atensi satu kelas kini beralih menatap cowok itu.


“Eh? I-iya, Pak? Bapak bilang sesuatu sama saya?” Pertanyaan balik dari Aldevaro membuat Pak Yanto tepok jidat. Sepertinya, muridnya ini sedang tidak fokus belajar.


“Kamu masih sakit? Bapak denger, kemarin kamu sempet sakit makanya gak ikut ekskul. Padahal kemarin pelepasan jabatan, lho.”


“Iya, Pak. Maaf, kemarin saya gak ikutan karena tiba-tiba sakit. Tapi saya udah izin kok, sama Daniel!”


“Iya, saya juga tahu dari si Kuda nil. Murid paling resek itu, ‘kan? Yang mulutnya paling ember? Bapak tahu dia.” Ujar Pak Yanto, kemudian kembali fokus pada pembelajaran.


Sedangkan Aldevaro, cowok itu menghela napas gusar saat otaknya kembali melayang pada sosok Zeva. Pokoknya, gue harus samperin dan tanya sama dia!


****


“Zevaaa! Lo masih marah sama gue? Tungguin gue, Vaaa!” Teriakan menyebalkan yang berasal dari mulut Joy, membuat Zeva yang mencoba untuk tetap jengah, dibuat berdesis kesal dalam langkahnya menuju kantin sekolah.


Saat hendak berbelok menuju tangga kelas, Zeva refleks menghentikan langkah kakinya, disusul Joy yang mulai menggenggam erat pergelangan tangannya, karena pada akhirnya gadis itu berhasil mengejar langkah Zeva.


“Hayooo… kena juga ‘kan, lo!” Joy memekik keras, belum menyadari alasan apa yang membuat Zeva menghentikan langkah kakinya. Bahkan, Zeva tak berucap sepatah kata pun. Sepasang netranya pun tampak terbelalak dengan kepalanya yang mendongak.


Melihat Zeva yang terdiam seperti seseorang yang baru saja bertemu dengan sosok makhluk astral, Joy lantas mengalihkan perhatiannya pada apa yang tengah Zeva lihat. Dan, seorang cowok berperawakan tinggi yang tak lain ialah Aldevaro, berdiri tepat di hadapan Zeva.


Joy spontan melepaskan genggaman tangannya pada Zeva. Dengan kikuk, gadis tomboy itu berjalan melewati Zeva tanpa sepatah kata. Ketika dirasa sudah cukup menjauh, gadis itu kemudian berlari secepat kilat.


“Lo ada waktu?” Sahutan datar itu membuat Zeva spontan mendongak menatap Aldevaro. Dengan ragu, gadis itu menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal.


“Kapan?” Tanya Zeva pelan. Tanpa berbasa-basi lagi, Aldevaro meraih tangan Zeva, dan membawanya menuju ke suatu tempat. “Sekarang.”


****


Zeva merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya mau diajak ke manapun oleh Aldevaro. Dan lihatlah sekarang. Cowok itu membawanya ke kantin sekolah yang pada saat ini tak sedikit murid-murid yang berdatangan untuk sekadar nongkrong maupun untuk mengganjal lapar. Bahkan, tak sedikit pula pasang mata yang melirik-lirik ke arah meja mereka berdua.


Ada yang menatap biasa saja, ada yang menatap iri, bahkan ada yang menatap sambil bisik sana-sini. Fix, mereka lagi ghibahin Zeva!


“Kok, lo ajak gue ke sini, sih?” Sungut Zeva, sudah tidak tahan dengan tatapan orang-orang padanya.


Aldevaro yang sedari tadi diam dan menikmati makan siangnya pun lantas mengalihkan perhatiannya pada Zeva. Tampak raut wajah risi Zeva, tengah mengaduk-aduk mangkuk baksonya.


“Kenapa emangnya? Bukannya lo juga mau ke kantin?” Sahutan Aldevaro membuat Zeva bingung harus membalas apa? Jika dirinya bilang, tidak ingin ke kantin bersama Aldevaro, nanti cowok itu tersinggung.


Zeva mendengus seraya memasukkan suapan baksonya yang sudah ia potong kecil-kecil. Walau pada dasarnya Zeva sedang tidak nafsu makan akibat suasana kantin yang berubah suram, Zeva harus tetap memakan bakso itu. Bagaimanapun uang jajannya sedang dipertaruhkan saat ini.


Ya, Zeva harus berhemat! Dirinya tak memiliki uang sebanyak dulu ketika kedua orangtuanya masih bersama.


“Ada hal yang mau gue tanyain ke lo.” Ujar Aldevaro tiba-tiba, membuat Zeva yang tengah melamun sembari mengunyah lantas terbatuk. Refleks gadis itu meraih gelas berisi air putih yang berada di atas meja.


Sayangnya, gelas tersebut bukanlah miliknya, melainkan milik Aldevaro. Cowok itu mengulum senyum tipis saat bibir Zeva mengenai mulut gelas yang juga sempat mengenai bibirnya. Sebisa mungkin cowok itu terlihat biasa saja walau dalam hati ia ingin tertawa.


“Uhuk, uhuk! Nanya aja. Kenapa harus tiba-tiba gitu, sih? Bikin orang kaget aja.” Zeva berdecak sebal, kemudian memasukkan suapannya lagi ke dalam mulutnya.


Aldevaro mengangguk beberapa kali dengan seulas senyum misterius. “Tapi sebelumnya, gue mau ngingetin lo satu hal.” Aldevaro sengaja menggantungkan perkataannya, membuat Zeva tanpa sadar menaikkan satu alisnya.


“Gelas yang lo ambil tadi … punya gue, Va.” Ucap Aldevaro dengan wajah serius. Sedangkan Zeva yang mendengarnya hanya mampu menganga lebar, sehingga menjatuhkan bakso berukuran kecil yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya, kembali meluncur ke dalam mangkuk.

__ADS_1


“Hah?! Maksud lo … gue baru aja minum air bekas lo gitu?”


“Of course! Dan, secara gak langsung kita udah ciuman, Va. Akh! Bisa-bisanya gue gak ngerasain gimana rasanya ciuman pertama gue sama lo.” Terang Aldevaro, terdengar sangat menjengkelkan di telinga Zeva.


“Ciuman pertama your head! Terus yang kemarin lo nyosor-nyosor itu apa?”


“Gue? Nyosor-nyosor? Kapan?” Tanya Aldevaro, pura-pura tak tahu. Padahal dalam hati ia sudah sangat-sangat menunggu saat ini.


“Lo amnesia? Kemarin pas gue jenguk-” Zeva refleks menghentikan ucapannya ketika ia menyadari apa yang tengah dirinya lakukan saat ini. Sedangkan di sisi lain, Aldevaro tengah tersenyum menyebalkan di tempatnya, menunggu Zeva membongkar sendiri kedoknya.


“Oh, kemaren … gue kira kemaren itu cuman mimpi. Lo tahu lah, ya, gue tuh kalo lagi sakit suka mengigau. Ternyata yang kemaren itu beneran.” Ucap Aldevaro, semakin membuat Zeva kesal dibuatnya.


“Gue mau ke kelas.” Pungkas Zeva tiba-tiba. Saat gadis itu hendak melenggang, Aldevaro menahan tangannya. Cowok itu kemudian ikut bangkit dari bangku kantin, dan menyejajarkan posisinya dengan Zeva. Ketika posisi keduanya telah saling bersebelahan, Aldevaro membisikkan sesuatu pada telinga gadis itu.


“Makasih buat pengobatan rawat jalan eksklusifnya, Mantan.”


****


“Hayooo! Mau ke mana lo, hah?” Zeva refleks memegangi dadanya, saat seseorang dengan sengaja mengejutkannya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu mendengus sebal saat mengetahui siapa dalang tersebut.


“Apaan sih lo! Minggir, gak?” Sentak Zeva, saat dengan jahilnya Gerald terus-menerus menghalangi langkahnya.


Gerald menyeringai, kemudian menarik paksa tangan Zeva, dan membawanya ke parkiran sekolah. Zeva sempat memberontak, namun tenaganya tak cukup kuat untuk menepis cengkraman cowok itu.


“Gerald! Lo mau ngapain tarik-tarik tangan gue, hah? Lepasin gue, gue mau pulang!” Saat cengkraman tangannya terlepas, akibat Gerald yang hendak memakai helm, Zeva sudah menyiapkan ancang-ancang untuk segera kabur. Sayangnya, cowok itu lagi-lagi menahan pergerakannya.


“Lo lupa sama apa yang gue bilang kemaren? Hidup lo gak akan pernah tenang lagi karena lo udah ngusik gue. Dan lagi, lo itu-”


“Mantannya Aldevaro.” Sela Zeva. Tampang gadis itu sudah tidak lagi seperti tadi. Amarah yang tertahan seolah terpampang jelas di raut wajahnya. Dengan kasar, gadis itu menyentak tangan Gerald yang masih mencengkramnya. Dan, ya. Cengkraman itu akhirnya terlepas.


“Kenapa emangnya kalau gue mantannya Aldevaro? Salah? Gak boleh? Harus banget lo lampiasin dendam lo sama gue yang udah gak ada hubungan apa pun sama dia? Lo gak waras, tahu gak!” Saat Zeva hendak melenggang, lagi-lagi cowok itu menahannya. Refleks Zeva mendesis kesal dengan sepasang netranya yang memicing tajam menatap manik mata Gerald.


“Apa lagi?”


“Denger ini baik-baik. Justru karena lo masih ada di hatinya Si Aldevaro, makanya gue jadiin lo target. Karena dengan begitu, dia gak akan berani usik hidup gue lagi. Dan sekarang, lo pulang sama gue!” Tekan Gerald. Dengan sikapnya yang pemaksa, cowok itu berhasil mengukung Zeva dan membuatnya bertekuk lutut. Membuat gadis itu mau tidak mau harus menurut.


****


“Ger, mereka siapa?” Zeva menyahut lirih kala segerombolan orang tak dikenal yang mengendarai motor gede berhenti tepat di depan mereka.


Perlahan namun pasti, Gerald menghentikan laju motornya. Cowok itu kemudian melepas ikatan helm yang menjerat kepalanya. “Turun.” Suruh cowok itu, tanpa sedikitpun menoleh pada Zeva.


Dengan hati-hati, Zeva turun dari atas motor Gerald yang merupakan motor sport keluaran terbaru tahun ini. Saat melihat cowok itu pun ikut turun dari motornya dan hendak berjalan ke arah sekumpulan orang-orang berpakaian serba hitam itu, Zeva lantas menghentikan Gerald dengan menarik ujung seragam atasnya.


“Lo mau ke mana? Jangan tinggalin gue, gue takut.” Zeva menggeleng-gelengkan kepala, berharap Gerald mau mengikuti perkataannya. Sayangnya, emosi cowok itu sudah menyeruak sampai ke ubun-ubun, sedari perjalanan pulang mereka diganggu oleh sekumpulan geng motor jalanan itu.


“Lo tunggu sini. Gue ada urusan bentar.” Ucap Gerald, seraya menepis pelan tangan Zeva yang masih mencengkram seragamnya.


“Wei, Brodi! Dari mana aja lo, Ger? Ngilang lo? Pas ketemu udah gandeng yang baru. Kasih ke kita juga lah, kita icip bareng-bareng.” Selorohan menggelegar itu berasal dari seorang laki-laki berperawakan kurus yang mengenakan kaos hitam tanpa lengan yang dipadukan dengan celana jeans bolong-bolong dengan warna senada.


Dengan tampang watadosnya, laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya pada Zeva, membuat Zeva semakin dilanda ketakutan. Apalagi ketika melihat tampang Gerald yang seperti begitu akrab dengan mereka. Pikir Zeva, jangan-jangan ini adalah salah satu trik untuk pembalasan dendam Gerald padanya?


“Berisik lo bab! Minggirin anak buah lo. Gue mau ajakin cewek gue ke oyo*. Dia udah gak sabar katanya.” Ujar Gerald, yang kemudian menoleh pada Zeva dengan sebuah seringaian anehnya.


Maksudnya apa coba?


Terdengar gelak tawa menggelegar dari sekumpulan orang-orang mengerikan itu, pun termasuk Gerald yang ikut tergelak. Semakin membuat Zeva ingin kabur dari sana. Tanpa sadar batinnya memanggil nama ‘Aldevaro’, berharap cowok itu datang dan menyelamatkannya dari Gerald dan para laki-laki yang Zeva tebak adalah sekumpulan anak-anak geng motor.


“Gue gak mau basa-basi. Singkirin anak buah lo, atau gue hancurin markas kalian.”


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2