Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
05. Gerald Beraksi


__ADS_3

Setibanya di kantin yang menjadi langganannya, Aldevaro refleks menghentikan langkah kakinya saat sebuah pemandangan tak terduga terpampang jelas di depan sana.


Sepasang netranya sontak memicing menatap tajam seorang laki-laki yang selama ini sering sekali memusuhinya. Kepalan di kedua tangannya pun terlihat begitu mengerat sampai tanpa sadar membuat telapak tangannya memutih.


Pemandangan yang terjadi di depan sana ialah, pemandangan di mana Gerald, sepupunya sendiri, tengah berduaan bersama Zeva, mantan pacarnya.


Tunggu! Sejak kapan mereka menjadi dekat?


Entah ini sebuah ketidaksengajaan atau sesuatu yang sudah direncanakan, Aldevaro benar-benar kesal melihat hal tersebut.


“Ettt! Lo mau ke mana?” Sahutan tiba-tiba dari arah belakang diikuti cengkraman kuat di salah satu bahunya, membuat Aldevaro yang hendak meninggalkan kantin lantas mengurungkan niatnya.


“Ck, lepas!” Aldevaro menepis kasar tangan tersebut yang tak lain ialah milik Daniel, sahabatnya yang bermulut ember.


Bukannya menurut, Daniel malah beralih merangkul bahu Aldevaro. Fokusnya pun ikut beralih ke mana arah pandang Aldevaro tertuju saat ini. Detik berikutnya, cowok itu bersiul dengan fokus yang belum juga teralihkan dari pemandangan luar biasa di depan sana.


“Waw! Mantanku dekat dengan musuhku. Gitu bukan, sih, judulnya?” Daniel menoleh menatap Aldevaro dengan tawa renyah yang senantiasa tertampang di wajahnya.


Sialnya, raut wajah Aldevaro tampak tak bersahabat. Hal tersebut lantas membuat Daniel gelagapan, sehingga cowok itu memilih melepaskan rangkulannya seraya mengubah raut wajahnya.


“Ekhem. Lo ke kantin karena laper, ‘kan? Kebetulan gue juga belum sarapan di rumah. Gimana kalau kita-” Daniel menghentikan ucapannya saat tatapan dingin kelewat menusuk itu kini beralih menatapnya.


“Gue udah gak mood.” Ujarnya singkat. Di detik yang sama, cowok itu melenggang meninggalkan kantin dengan langkah tergesa-gesa. Membuat Daniel yang menyaksikan tingkah Aldevaro hanya dapat menghela napas seraya mengelus dada.


“Sabar, Niel, sabar …”


****


“Hi, Pretty!” Sapaan tiba-tiba yang kelewat mengagetkan itu, sontak membuat Zeva yang baru saja hendak mendudukkan diri di salah satu bangku kosong di kantin, dibuat berjengit hampir melatah. Beruntung gadis itu dapat mengontrol dirinya sendiri sehingga kata-kata mutiara yang sering ia ucapkan dikala kesendiriannya, tidak terlontar di depan seseorang yang baru beberapa hari ini dikenalnya.


Melihat Zeva yang berhasil dibuat terkejut karena ulahnya membuat seulas senyum usil di wajah Gerald tertarik. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, cowok itu menduduki bangku tersebut yang sebelumnya hendak ditempati oleh Zeva.


Melihat hal itu, Zeva tanpa sadar memutar malas bola matanya.


Sabar, Va! Ngadepin orang aneh macem nih cowok emang harus didiemin biar sadar diri. Batin Zeva menyemangati dirinya sendiri.


Memilih menarik napasnya dalam-dalam terlebih dahulu, Zeva kemudian menjatuhkan dirinya di bangku lain yang berseberangan dengan bangku yang kini ditempati Gerald. Sontak salah satu alis cowok itu tertarik seraya menatap heran gadis di depannya.


“Gak duduk di samping gue?” Jari telunjuk laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri dengan perhatian yang masih tertuju pada Zeva.


“Gak, makasih!” Balas Zeva, jutek.


Gerald terkekeh pelan mendengar jawaban gadis itu yang jauh dari kata manis. Namun entah mengapa, dirinya menjadi semakin tertarik dengan gadis bernama Zeva ini.


“Jutek banget, Mbak balesnya. Masih marah, ya?” Gerald menumpu kedua tangannya di atas meja, mencoba mendekatkan posisinya dengan Zeva. Sepasang netranya pun tak luput dari wajah jutek Zeva yang baru dirinya sadari, ternyata gadis itu terlihat begitu cantik jika ditatap lebih dekat seperti saat ini.


Seleranya tinggi juga ternyata, gumam Gerald dalam hati.


“Marah? Kenapa gue harus marah? Dih,” Zeva semakin dibuat dongkol dengan Gerald. Ingin ia berlari, namun Zeva sudah terlanjur memesan makanannya.


“Btw, jam segini lo ngantin?” Gerald membenarkan posisi duduknya seraya meraih ponsel yang berada di saku kemeja seragamnya. Cowok itu membuka aplikasi kamera, lalu dengan seenak jidat mengambil foto Zeva yang terlihat jengah dengan kepalanya yang menoleh ke samping.


“Kenapa emangnya?” Perhatian Zeva kini beralih menatap tajam Gerald. Buru-buru cowok itu mematikan ponselnya agar kejahilannya tak terungkap saat itu juga.


“Orang-orang di kelas gue aja pada ke kantin, kok,” lanjut Zeva, bertepatan ketika nasi goreng pesanannya telah diantar oleh seseorang. Tak lupa Zeva mengucapkan terima kasih pada seorang gadis muda yang telah dengan begitu baik hati mengantarkan pesanannya. Senyuman hangat pun tak luput ia berikan.


Entah ada angin lalu apa, Gerald tiba-tiba terdiam kaku dibuat terpana akan senyuman Zeva yang terlihat begitu tulus, jauh dari saat ketika tengah berbicara dengannya.


Senyumnya yang manis, hangat, dan kedua bola matanya yang tampak menyipit, terlihat begitu cantik walau Gerald menatapnya hanya sepersekian detik.


Deg!


Buru-buru cowok itu menyadarkan dirinya ketika jantungnya yang biasanya berdetak normal, tiba-tiba berdegup kencang.


Sial! Jangan sampe gue suka sama nih cewek! Niat gue ‘kan, mau manas-manasin tuh orang doang. Apaan sih, gue? Gak ada, gak ada! Gak ada yang cantik. Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa dirinya sadari.


Zeva yang melihat tingkah ajaib cowok itu hanya bisa bergidik ngeri dan memilih melanjutkan melahap makanannya tanpa mau memedulikan cowok aneh itu.


Terserah! Batinnya, mulai jengah.


Selang berapa saat, Gerald bangkit dari posisi duduknya membuat Zeva lantas menolehkan kepala menatap gerak-gerik cowok itu. Dan setelahnya, tanpa mengatakan apa-apa, cowok itu melenggang dari hadapan Zeva dengan tampang wajahnya yang berubah dingin.


“Dasar cowok aneh, sinting! Gaje banget perasaan.” Gerutu Zeva, setelah cowok bernama Gerald itu benar-benar tak lagi terlihat oleh netranya.

__ADS_1


****


Niat hati ingin menjernihkan pikiran di atas rooftop sekolah, Gerald malah mendapati seseorang yang sangat ia kenali dari postur tubuh, sekalipun orang tersebut memunggunginya.


Gerald refleks berdecih dengan sepasang kakinya yang berjalan mendekat ke arah cowok yang tak lain ialah Aldevaro. Cowok itu terlihat begitu kaku berdiri di depan pagar pembatas. Entah apa yang sedang dia lakukan.


“Woi! Ngapain lo di sini?” Sahutan datar dibarengi tendangan pelan di ujung sepatu milik Aldevaro, sontak membuat sang empunya mengalihkan atensinya.


Diliriknya datar Gerald dari atas sampai bawah. Tak berapa lama kemudian, Aldevaro kembali mengalihkan tatapannya ke tempat semula seraya berdecih.


“Gue yang pertama di sini, harusnya gue yang nanya, ngapain lo di sini.” Aldevaro menatap sinis Gerald dengan posisi tubuhnya yang tak lagi menghadap pagar pembatas.


Gerald sempat terdiam sejenak. Selang berapa lama, cowok itu terkekeh, namun sepersekian detik yang sama, raut wajahnya langsung berubah dingin dengan tatapan matanya yang berubah menusuk.


“Perlu gue jawab pertanyaan lo?” Gerald mendekatkan posisi berdirinya ke hadapan Aldevaro. Bukannya mundur, Aldevaro malah menegakkan posisi berdirinya. Tatapan sinis nan merendahkan pun tak luput cowok itu perlihatkan terang-terangan di depan Gerald.


“Jauhin Zeva,” ucap Aldevaro, tepat ketika posisi mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja.


Gerald tak langsung menjawab perkataan dari Aldevaro. Cowok itu lagi-lagi hanya dapat terkekeh dengan kepala yang sedikit menunduk. Tak berselang lama, tatapannya kembali pada Aldevaro.


“Emang dia siapanya elo? Pacar? Bukan, ‘kan?” Salah satu tangan Gerald terulur mendorong pelan bahu Aldevaro, sehingga posisi cowok itu dibuat mundur satu langkah.


“Dia mantan gue,” ujar Aldevaro, tak mau kalah.


Gerald lantas tergelak mendengar penuturan dari Aldevaro. Tubuhnya pun refleks mundur beberapa langkah dengan sesekali kedua tangannya akan memeluk perutnya yang terasa sakit akibat tawa menggelegarnya.


“Emang kenapa kalau dia mantan lo?” Gerald menghentikan tawa seraya membenarkan posisi berdirinya. Raut wajahnya berubah santai dengan seulas senyum miring yang terpatri di wajahnya.


“Toh gue udah tahu, makanya gue deketin.” Ujar Gerald, mampu membuat emosi Aldevaro terpancing, sehingga yang terjadi saat ini adalah, kedua tangan Aldevaro sudah berada di kedua kerah seragam Gerald.


Hal itu sontak membuat Gerald sok panik. Raut wajahnya berubah puas melihat musuhnya sepertinya benar-benar terpancing kali ini.


“Sekali lo macem-macem sama Zeva, gue gak akan maafin lo. Dan satu hal lagi, gue akan buat lo sampai kapan pun gak bisa merebut hati kakek, seperti yang selama ini lo pikirkan terhadap gue.”


Ucapan Aldevaro yang paling terakhir membuat Gerald sedikit terpancing. Dengan penuh kekesalan, cowok itu menghempas kedua tangan Aldevaro dari kerah seragamnya. Tatapannya kembali dingin dengan kedua rahang yang telah mengeras.


Ingin Gerald melayangkan tinjuannya pada Aldevaro, namun ia masih sangat ingat jika saat ini dirinya tengah berada di lingkungan sekolah. Sudah cukup dirinya mendapat beberapa point penalti dari sekolah akibat dirinya yang sering berulah dengan Aldevaro.


Dan yang lebih sialnya lagi, tidak ada yang percaya padanya. Semua guru seolah hanya memercayai Aldevaro, padahal laki-laki itu tak pernah sedikitpun mengadu atau bahkan berdalih.


Benar-benar menyebalkan!


Sementara itu di sisi lain, Aldevaro menggeram kesal seraya mengepal kuat kepalan tangannya, kemudian melayangkan pukulannya tepat di sebuah meja kayu yang berada tak jauh dari tempatnya.


Dirinya marah dan hatinya kalut mendengar Gerald yang mulai kembali menjalankan aksinya untuk berebutan sesuatu dengannya.


Dan targetnya kali ini adalah, Zeva. Seorang gadis yang bahkan tidak tahu apa-apa harus menjadi target kegilaan seorang Geraldino Abraham. Cowok bengal nan bengis yang tak dapat ditebak isi hatinya.


“Gak! Gue gak boleh biarin Zeva terlibat. Gue harus lindungin dia.”


****


“Zeva!” Sahutan dengan nada rendah tersebut berhasil membuat sang pemilik nama menolehkan kepalanya ke sumber suara. Ketika ia menoleh, tubuhnya seketika memaku dengan sepasang bola matanya yang agak melebar.


Varo? Ngapain dia manggil gue?


“Ekhem. A-ada apa, Var? Lo manggil gue?” Zeva berusaha tampak biasa saja dipanggil seperti itu oleh sang mantan. Walau dalam hati dirinya teramat gugup, namun gadis itu sebisa mungkin menutupi perasaanya.


Perlahan namun pasti, Aldevaro melangkahkan kakinya ke arah Zeva. Ketika posisi keduanya mulai berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat, barulah cowok itu kembali melayangkan pertanyaannya pada Zeva.


Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri menatap sekeliling lapangan sekolah yang tampak begitu sepi. Tak lama kemudian, perhatiannya kembali pada Zeva.


“Sendirian aja?”


“Eh?” Zeva merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya melontarkan kata itu pada Aldevaro. Bukankah akan terlihat sangat jelas jika dirinya tengah gugup?


“Emm, maksudnya, i-iya. Gue sendirian aja. Ke-kenapa emangnya?”


“Lo gak pulang sama yang lain?” Pertanyaan lain dari Aldevaro semakin membuatnya bingung harus membalas apa. Namun sebisa mungkin Zeva harus terlihat biasa-biasa saja.


“Em, yang lain? Gue gak punya temen,” ujar Zeva. Seulas senyuman kaku terbit di wajah cantiknya.


“Eh, kalau gitu gue dulu-” belum sempat Zeva melanjutkan kalimatnya, salah satu tangan Aldevaro dengan berani meraih pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Rumah lo di mana? Gue anter,”


Saat itu juga, Zeva langsung menarik tangannya yang dicekal oleh Aldevaro, dan menaruhnya di belakang punggung. Demi apa pun, tadi itu terlalu tiba-tiba. Jantungnya sampai berdegup kencang akibat tindakan Aldevaro yang sanggup mengagetkannya.


“Ekhem. Gak usah! Rumah gue deket, kok, paling cuman-” lagi dan lagi, Zeva menghentikan ucapannya saat dengan lancang, Adevaro meraih tubuhnya ke dalam pelukannya.


Zeva yang mendapat serangan tiba-tiba itu pun hanya dapat terdiam dengan sepasang bola matanya yang lagi-lagi memelotot kaget. Degup jantungnya pun sudah tidak dapat dideskripsikan lagi.


Intinya, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.


“Gue kangen sama lo, Va! Kenapa waktu itu lo ninggalin gue? Sampai sekarang gue gak bisa lupain lo. Lo terlalu berarti di hidup gue.” Bisik Aldevaro tepat di telinga Zeva, membuat memori gadis itu seketika kembali berlabuh ke masa dua tahun yang lalu.


Masa di mana hidupnya hancur dalam satu waktu, dan dirinya yang ikut menghancurkan hidup seseorang yang teramat mencintainya. Aldevaro Wirathama.


****


“Aaaagghhhh!!!Kenapa gue kepikiran terus, siiihhhh! Huwaaa… Varooooo… lo apain gueee! Otak gue tumpul gara-gara ucapan lo waktu ituuuu!”


Tiga hari semenjak kejadian di mana Aldevaro memeluknya seraya mengatakan perasaan rindunya, Zeva dibuat terus kepikiran sampai tidak bisa tidur. Ketika sedang di sekolah pun, Zeva berusaha main kucing-kucingan, berharap dirinya tidak berpapasan dengan sosok Aldevaro.


Sudah cukup dirinya dibuat baper tingkat akut oleh cowok itu. Setiap kali mengingat momen itu pun, jantungnya selalu berdegup kencang dengan wajahnya yang suka memanas tiba-tiba.


Benar-benar menyebalkan!


Saat ini pun, Zeva tengah berusaha bersembunyi dari Aldevaro. Gadis itu berjalan mengendap-endap keluar dari dalam kelas sampai kantin sekolah, dan dirinya masih belum melihat sosok mantan pacarnya.


Zeva menghela napas lelah seraya menenggak sedikit demi sedikit minuman dingin yang sempat ia beli. Sebelum gadis itu benar-benar pergi dari sana, dirinya memilih merilekskan diri sejenak walau dalam hati ia masih sangat waswas.


Beruntung kantin tengah sepi saat ini, jadi tidak ada seorang pun yang mendengar gerutuannya tentang Aldevaro.


Tetapi, kenapa rasanya ada yang aneh, ya? Tumben kantin sesepi ini? Hanya ada dirinya dan pemilik kantin di sini.


“Ya udah, sih, ngapain juga dipikirin. Toh, bagus juga gue sendiran di kantin. Kapan lagi gue merasa setenang ini?” Gumam Zeva, kemudian mengendikkan bahunya tidak peduli.


“Sekalian juga bisa sembunyi, hehe,”


“Sembunyi dari siapa?” Sahutan datar itu refleks membuat Zeva berjengit sampai terbatuk-batuk. Botol minuman dingin yang berada di genggamannya lantas jatuh begitu saja ke lantai. Melihat hal itu, tanpa sadar kedua sudut Aldevaro terangkat walau sedikit.


Tak berlangsung lama, senyuman cowok itu langsung luntur dan kembali berganti datar.


“Sendirian aja?” Pertanyaan itu keluar tiba-tiba saja dari mulut Aldevaro. Membuat Zeva jadi teringat dengan kejadian tiga hari yang lalu di mana cowok itu pun mengatakan hal yang serupa.


Sialnya, kenapa Zeva malah tersipu? Jantungnya juga! Kenapa malah berdegup tidak karuan?


Please, lah! Jangan lebay!


Dengan menarik napasnya dalam-dalam, Zeva memberanikan diri menatap Aldevaro, setelah sebelumnya gadis itu sempat menunduk akibat tersedak minuman.


“Gue ‘kan, emang selalu sendiri, haha.” Balas Zeva, hatinya meringis mendengar tawanya sendiri yang terdengar sangat garing.


Aldevaro mengangguk beberapa saat. “Kalau gitu, lo mau ikut gue ke gedung basket?”


“Ngapain?” Zeva mengerutkan keningnya seraya kembali mendudukkan dirinya di bangku kantin yang lain.


“Nontonin gue main basket, lah! Lo gak mau lihat gue? Anak-anak yang lain pada di sana sekarang, makanya kantin sepi.” Ujar Aldevaro. Kedua kakinya melangkah mendekati Zeva yang masih terdiam di tempatnya.


Sedangkan Zeva, gadis itu lagi-lagi dibuat gelegapan oleh cowok yang tak lain dan tak bukan ialah mantan pacarnya itu. Tatapan matanya yang seolah hanya tertuju pada Zeva membuat gadis itu bingung harus bereaksi apa?! Aldevaro terlalu tampan untuk hanya sekadar ditatap dari jarak sedekat ini.


Sial, sial, sial!


Mungkin, di dunia ini hanya Zeva yang sering diganggu bahkan digoda oleh mantan. Adakah di dunia ini yang juga bernasib seperti dirinya? Kenapa dirinya memiliki mantan semenyebalkan Aldevaro?


“Kok, ngelamun? Lo mau ikut, atau enggak?” Aldevaro kembali menyahut, membuat berbagai lamunan dalam diri Zeva buyar begitu saja.


“Ehm, gue-” belum sempat Zeva menyelesaikan ucapannya, tangan Aldevaro sudah lebih awal meraih salah satu pergelangan tangannya, lagi.


“Kelamaan. Udah, ikut aja! Gue pilihin tempat paling bagus buat lo!” Potong Aldevaro, kemudian menarik gadis itu dan membawanya menuju gedung basket seperti yang cowok itu katakan.


Di sisi lain, Zeva hanya bisa cengo ditarik sana-sini oleh Aldevaro. Matanya seolah terbius oleh ucapan serta tidakan laki-laki itu yang sangat tidak mudah ditebak.


Lagi, jantung Zeva kembali dibuat berdegup kencang. Fokus sepasang netranya seolah hanya tertuju pada punggung tegap Aldevaro yang memimpin jalan di depannya. Genggaman erat yang semula berada di pergelangan tangannya kini beralih pada telapak tangan. Tanpa Zeva sendiri sadari, gadis itu membalas genggaman tangan Aldevaro yang terasa begitu hangat.


Rasanya seperti, ia dan juga Aldevaro kembali ke masa lalu. Masa di mana keduanya masih memiliki sebuah hubungan, walaupun hanya bertahan singkat.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2