
Aldevaro refleks menghentikan motornya di tepian jalan raya yang selalu tampak ramai. Kerlap-kerlip lampu jalanan pun mulai menyala seiring dengan waktu yang telah berganti gelap.
Zeva yang pada dasarnya melamun sedari ia dibonceng oleh Aldevaro pun mengernyit. Menatap penuh tanya pada bahu lebar Aldevaro yang dibalut jaket kulit berwarna cokelat.
“Kok, berhenti?”
“Gue laper. Jajan di sana dulu, yuk!” Aldevaro menunjuk beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan berbeda. Dari mulai bakso, gorengan, nasi goreng, dan masih banyak lagi.
Dan, ya. Jemari telunjuk Aldevaro menunjuk tepat ke arah pedagang nasi goreng yang kiosnya berada di seberang.
“Hm, ya udah!”
“Lihat ke belakang, takutnya ada kendaraan lain yang mau lewat.” Aldevaro menginterupsi, dan Zeva menyanggupi. Kepala gadis itu yang awalnya menoleh ke depan, kemudian berganti menjadi menoleh ke belakang dengan salah satu tangannya yang memberi isyarat pada para pengguna jalan lain agar memelankan laju kendaraannya.
Tak butuh waktu lama bagi Aldevaro untuk memutar arah, kini, mereka berdua telah sepenuhnya sampai di depan kios pedagang nasi goreng yang tampak cukup ramai oleh pembeli.
Keduanya turun dan memilih tempat duduk yang masih kosong. Sebelum benar-benar mendudukkan dirinya sendiri, Aldevaro dengan cekatan memberikan kursi pertamanya untuk ditempati Zeva.
“Makasih.” Ucap Zeva, diiringi seulas senyumn manis teruntuk Aldevaro.
Aldevaro tak membalas lisan. Laki-laki itu hanya balas tersenyum manis seraya mengusap pelan kepala Zeva. “Kayak biasa?” Tanya Aldevaro, membuka obrolan. Tampak Zeva sedikit mengerutkan alisnya dengan pikiran penuh tanya.
“Emang, lo masih inget selera gue kalau mau pesen nasi goreng?” Pertanyaan polos itu seketika mengundang tawa singkat dari Aldevaro. Setelahnya, Aldevaro lantas memasang raut wajah angkuh, seraya mencoba mendekatkan posisi duduknya di samping Zeva.
“Lo ngeremehin kekuatan memori otak gue?”
“Dih!” Zeva memberengut tak suka dengan pertanyaan Aldevaro. Gadis itu lantas menjauhkan sedikit posisi duduknya, dengan kepala yang menoleh malas ke sembarang arah.
“Nih, ya, Beb! Gue gak akan dapet peringkat juara umum satu SMA kalau mengenang masa lalu aja masih lupa,” terang Aldevaro, mulai terdengar semakin menyebalkan di telinga Zeva.
“Gak usah sombong! Anyway, siapa yang situ panggil ‘Beb’? My name is Zeva! Not ‘Beb’!”
Aldevaro lagi-lagi dibuat tertawa geli melihat reaksi Zeva. Dengan tingkat kejahilan tinggi, Aldevaro berusaha kembali mendekatkan posisi duduknya agar semakin berdekatan dengan Zeva. Tanpa tahu tempat, Aldevaro menatap Zeva dalam dengan salah satu tangan berada di dagu.
Jelas saja hal itu membuat Zeva risih bukan main. Ditatapnya nyalang Aldevaro yang masih dengan senyuman manisnya. Tak berapa lama, Zeva mendorong wajah Aldevaro sehingga menyebabkan fokus Aldevaro terganggu.
“Please, yah! Ini tuh tempat umum, gak usah ngeselin!” Pelotot Zeva. Sedangkan yang dipelototi hanya meringis sembari mengusap beberapa sudut wajahnya.
“Emang kenapa sih? Daripada di tempat sepi, ya ‘kan? Mending di tempat rame,” dalih Aldevaro tak mau kalah.
Zeva menghela napas berat sembari memijit pangkal hidungnya. “Enggak gitu juga, Varoooo!” Gumamnya, terdengar sangat frustasi.
“Iya terus gimana, Sayanggg!”
“Varo, iihhh! Jangan bikin gue malu! Tar kalau didenger sama orang dewasa bisa-bisa kita diketawain.” Raut wajah Zeva langsung memerah menahan malu sekaligus deg-degan yang diciptakan oleh Aldevaro.
Tetapi, lihatlah si pelaku yang berhasil membuat Zeva seperti sekarang ini? Ia malah ceikikikan sendiri di tempatnya tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Ya udah, iya, maaf! Bercanda doang kok, Yang,”
“Varooo!” Tekan Zeva, lagi-lagi mengingatkan Aldevaro untuk tidak seenaknya berbicara ketika di sekitar mereka masih ada orang lain.
“Ck. Iya, iya! Gue mau lanjut pesen ke depan, muach!” Pungkas Aldevaro, masih dengan sikapnya yang menyebalkan.
“Ampun, deh!”
****
Setelah menyelesaikan acara makan malam di kios nasi goreng pinggir jalan, Aldevaro dan Zeva kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang. Bisa dibilang, kini hari telah benar-benar gelap. Pukul 18 lewat 50 menit terpampang nyata di jam tangannya.
Sesekali, Zeva akan menghela napas berat. Masih memikirkan soal reaksi ibunya nanti ketika Zeva kembali ke rumah setelah beberapa saat yang lalu ia melarikan diri.
“Va?” Sahutan Aldevaro yang masih setia mengemudikan motornya, memutus berbagai pemikiran aneh dalam otak Zeva.
“Iya?” Balas Zeva, seraya sedikit memiringkan wajahnya ke samping agar dapat sedikit melihat raut wajah Aldevaro yang fokus melihat jalan raya di depan.
“Di rumah lagi ada problem, ya?” Pertanyaan Aldevaro tak langsung dijawab oleh Zeva. Gadis itu menyempatkan diri kembali menghela napas dalam-dalam.
“Iya, gitu deh,” ujar Zeva, terdengar lebih lesu dibandingkan yang sebelumnya.
Diam-diam Aldevaro menatap wajah Zeva lewat kaca spion. Dan benar saja, rona wajahnya kembali murung seperti sedia kala.
__ADS_1
“Mau pulang ke rumah atau …” Aldevaro menjeda kalimatnya sesaat ketika ia teringat satu hal yang belum lama ini terjadi di antara ia dan Zeva.
Enggak, enggak! Zeva baru aja mau maafin gue. Gue gak boleh bikin Zeva gak nyaman dengan nawarin buat ke apartement gue lagi. Aldevaro membatin, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Atau? Atau apa?” Zeva menyahut bingung, sementara Aldevaro kelimpungan harus menjawab apa.
“Emm, atau mau gue yang bantu bilang ke Tante Raya?”
“Gak usah. Gak penting juga.”
Hening. Tak ada lagi suara sahut menyahut dari mulut keduanya. Keduanya seolah terdiam membatu memikirkan sesuatu.
Tak terasa, akhirnya mereka sampai tepat di halaman depan rumah Zeva. Sebelum benar-benar akan turun, Zeva menyempatkan diri menjelajah seisi halaman rumah. Harap-harap jika mobil asing tadi masih terparkir di sana.
Beruntungnya, sudah tidak ada. Dapat Zeva pastikan jika pemilik mobil tadi tak lain ialah milik Samudera, ayah kandung yang kini tak lagi Zeva harapkan di dunia. Sebuah pengkhianatan besar sudah cukup membuatnya terluka hingga tak ingin lagi percaya.
“Makasih, ya, Var! Gue selalu ngerepotin lo,” Zeva melepas ikatan helm di lehernya selepas ia benar-benar telah beranjak dari atas motor Aldevaro.
Aldevaro sempat terdiam beberapa saat melihat Zeva yang mulai mengulurkan helmnya. “Yakin, gak perlu bantuan gue buat-”
“Gak usah. Gue juga udah gede, kok! Gue bisa hadapin ini. Mending, sekarang lo pulang. Udah malem banget soalnya. Takut ada apa-apa di jalan,”
Aldevaro menghela napas pasrah, kemudian mengangguk. “Ya udah. Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabarin gue. Oke?”
“Tapi ‘kan, hp-nya rusak!” Keluh Zeva, memberengut sebal di tempatnya.
“Oh, iya, ya! Gimana dong? Bisa kangen berat gue kalau malem ini gak teleponan dulu sama lo,”
“Gak usah gombal! Gak mempan,” ketus Zeva, membuat Aldevaro lagi-lagi menarik senyumannya.
“Ya udah, siniin hp-nya. Biar gue bawa ke tukang servis suruh benerin,”
Tampak Zeva menimbang-nimbang dengan sesekali perhatiannya akan mencuri pandang pada ponselnya dan kemudian pada raut wajah Aldevaro yang tampak menjanjikan. “Emm, ya udah, nih. Kabarin aja, ya, kalau udah beres. Kasih tahu juga biayanya berapa. Takutnya mahal lagi. Kalau mahal, mending gak usah, deh. Gue juga masih ada Wi-fi, kok, di rumah. Soal mau nelepon, lo tinggal telepon gue di WA aja, tapi kalau guenya pas lagi on. Kalau enggak-”
“Iyaaaa! Panjang amat kek emak-emak. Pokoknya, hp-nya aman sama gue,” potong Aldevaro, yang mendapat tatapan tajam dari Zeva.
“Ya udah. Sana pulang! Udah malem,”
“Hm. Pulang dulu, besok gue jemput lagi.” Pamit Aldevaro, diakhiri melambaikan tangan, sebelum pada akhirnya laki-laki itu benar-benar melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Zeva.
“Huft … gue pasti bisa!”
****
“Zeva! Kamu sudah pulang-” Raya spontan menghentikan perkataannya, saat dengan dingin, Zeva hanya berlalu tanpa sedikit pun mau menyapa atau bahkan menatap wajahnya. Gadis itu bak robot yang diciptakan hanya untuk bergerak, bukan untuk berekspresi selayaknya manusia.
Saat Raya hendak mengejar Zeva, hatinya mendadak sakit saat Zeva telah menutup rapat-rapat pintu kamar. Seolah tak ingin siapa pun datang mengganggunya, termasuk Raya.
Tak patah semangat, Raya lantas berjalan menuju pintu kamar Zeva. Tangannya terulur hendak mendorong knop pintu, namun tidak bisa terbuka karena Zeva telah menguncinya dari dalam.
Tok tok tok!
“Zeva, keluar dulu, yuk! Mama mau ngomong sebentar sama Zeva. Ini penting,” Sahutan Raya sama sekali tidak digubris oleh Zeva.
Belum mau menyerah, Raya lagi-lagi mengetok pintu kamar Zeva beberapa kali. Berharap kali ini Zeva mau membukakan pintu kamarnya, dan membiarkan Raya untuk berbicara empat mata.
“Zeva! Please, Mama mohon bukain pintunya!” Masih belum ada reaksi apa pun, dan hal itu sanggup membuat Raya tak bisa lagi menahan diri untuk terus menutupi kebohongan. Air matanya lantas luruh membanjiri pipi. Isakan demi isakan kecil turut keluar menjadi bukti bahwa, ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi jika putri sematawayangnya masih terus mengabaikannya seperti ini.
“Kalau Zeva gak mau bukain pintunya buat Mama, oke! Mama akan jelasin di sini.
Kedatangan Papa kamu tadi siang bermaksud untuk meminta maaf sama kita. Dia bilang, dia menyesal. Seharusnya waktu itu dia bisa menahan dirinya. Tetapi, jika Tuhan sudah menakdirkan umatnya ke dalam jalan demikian, kita sebagai manusia bisa apa?”
“Terus Mama maafin dia, gitu?” Teriakan yang lebih terdengar seperti tengah menahan tangis itu menyadarkan Raya.
“Mama gak mau maafin Papa kamu. Tapi, Mama gak boleh keras kepala! Tuhan saja Maha Pemaaf, lalu kenapa kita yang hanya umatnya tidak?” Tak ada lagi suara Zeva yang menyahut dari dalam. Hanya terdengar isakan-isakan kecil yang menandakan bahwa, Zeva tengah menangis di dalam sana.
“Papa kamu cerai dengan istrinya. Mama gak tahu persis karena apa, tapi yang jelas, mereka udah gak berhubungan lagi sejak setengah tahun.”
“Terus anak yang waktu itu masih dalam kandungan?” Tanya Zeva. Tampak Raya yang tengah berpikir sejenak untuk memilah kalimat apa yang sesuai untuk diungkapkan pada Zeva.
“Anak itu tidak dilahirkan. Di usia kandungan yang memasuki enam bulan, anak itu lahir prematur, dan tak lama kemudian meninggal.” Terang Raya, menjelaskan inti dari cerita panjang yang sempat diungkapkan oleh mantan suaminya tadi siang.
__ADS_1
“Dan, kedatangan Papa kamu ke sini tadi, dia ingin kembali sama Mama,” tak ada lagi suara sahut menyahut ataupun suara isakan tangis dari dalam kamar Zeva. Hanya terdengar derap langkah cepat, yang diakhiri dengan suara membuka kunci pintu yang terdengar begitu terburu-buru. Alhasil, pintu kamar pun mulai terbuka lebar. Tampaklah Zeva dengan raut wajah semu menatap Raya dalam.
“Terus, Mama bilang apa? Jangan-jangan Mama bilang setuju buat-”
“Enggak! Mama menolak permintaan Papa kamu. Seperti yang kamu tahu, Mama lebih baik hidup tanpa Papa kamu yang sudah mengkhianati kita, dibandingkan dengan hidup tanpa Anak Mama yang cantik jelita ini. Di hati Mama, cuma ada satu orang yang Mama cintai, dan itu adalah Zeva. Mama gak mau ngecewain Zeva.” Jelas Raya. Setelahnya, air mata saling berjatuhan dari kedua bola mata Zeva maupun Raya. Setelah cukup lama saling pandang, akhirnya Zeva berlari memeluk tubuh Raya. Menenggelamkan tangisannya dalam pelukan hangat ibundanya. Begitupula dengan Raya.
“Maafkan Papa kamu, ya. Kamu gak boleh punya dendam lagi sama dia. Dia Papa kandung kamu. Dan dia sudah menyesali semua perbuatannya. Demi Mama, kamu lupain semua rasa sakit waktu itu.”
****
Hari-hari yang suram seolah mulai melebur dan hampir terlupakan. Sudah memasuki minggu pertama semenjak kejadian demi kejadian yang menimpa Zeva, Aldevaro, Gerald, maupun yang lain.
Semua rasa sakit dan penderitaan itu seolah mulai diabaikan dengan seiring bertambahkan nilai kebahagiaan yang dirasakan. Tetapi, rasa bahagia itu tidak permanen. Semuanya masih sebuah topeng untuk menutupi rasa sakit sebenarnya yang tidak boleh orang lain lihat. Contohnya, Aldevaro.
Ketika berada di sekolah dan berbincang hangat dengan Zeva maupun teman-temannya, ia terus memasang senyum dan tawa. Namun, ketika setibanya di rumah yang sudah cukup lama tidak ia tinggali, rasa sakit yang mati-matian Aldevaro lupakan itu kembali terpampang nyata. Menyaksikan kedua orangtuanya yang sibuk menata dan membereskan barang-barang pribadi mereka akibat sidang hari pertama perceraian mereka akan segera dilaksanakan.
Andreas menatap sayu beberapa koper berukuran besar yang telah dirapikan oleh beberapa pembantu rumah tangga pun istrinya. Ralat, sepertinya, status keduanya nanti akan berubah menjadi mantan istri dan mantan suami. Sudah tidak akan memiliki hubungan apa-apa lagi.
“Pah!” Sahutan pelan dari Aldevaro, mengalihkan seluruh atensi Andreas. Ketika mendapati putra sematawayangnya, Aldevaro, berdiri tepat di belakangnya, seketika itu juga raut wajahnya mulai berubah pias.
“Al? Sejak kapan kamu di sini? Kamu sudah makan siang?” Andreas menepuk pelan bahu putranya, bertanya sedikit merentet untuk mengalihkan perasaannya yang tidak dapat dipungkiri terasa begitu sesak dan menyakitkan.
“Udah, Pah. Kalau … kalian?” Andreas spontan membatu saat pertanyaan Aldevaro terlontar begitu saja.
Hanya pertanyaan sederhana, namun bermakna dalam karena yang Aldevaro panggil ‘kalian’ itu sudah pasti ditujukan pada Andreas dan juga Regina, istri yang sebentar lagi menjadi mantan istri.
“Papa … kebetulan juga sudah. Kalau Mama kamu …” Andreas tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Perasaannya sudah campur aduk saat ini.
Tak berapa lama kemudian, Regina yang tengah sibuk membereskan barang-barangnya keluar dari dalam kamar. Niatannya yang hendak mengambil air putih di dapur langsung terurung saat melihat Aldevaro berdiri di samping tubuh Andreas.
“Al! Kamu ke sini? Sama siapa?” Raut wajah penuh keterkejutan Regina berganti cerah sekejap mata. Ketika tangannya hendak meraih tangan Aldevaro, putranya ini malah terkesan seperti menjaga jarak dari Regina.
Hal itu membuat hati Regina mencelos. Tatapannya berubah sendu ketika Aldevaro, putranya sendiri membuang muka darinya.
“Al?” Sahut Regina. Saat hendak kembali meraih tangan Aldevaro, ia lagi-lagi menghindar. “Maaf, Al terima telepon dulu.”
****
“Halo, Kek?” Aldevaro mengangkat sebuah panggilan telepon dari kakeknya, ketika dirinya telah sepenuhnya menjauh dari kedua orangtuanya.
Terdengar nada suara khawatir yang diucapkan oleh kakeknya di seberang telepon. “Al? Kamu gak pa-pa ‘kan? Sekarang kamu sedang di mana?”
Sempat terdiam beberapa saat, Aldevaro kemudian menghela napas dalam. “Mau lanjut pulang ke apartement, habis jengukin Mama sama Papa,”
Giliran sang kakek yang dibuat terdiam di seberang sana. Tak berlangsung lama, setelahnya terdengar suara dehaman pelan beberapa kali. “Bagaimana kalau malam ini kamu ke rumah Kakek? Kita makan malam bareng, oke? Sudah lama juga Kakek tidak bertemu cucu kesayangan Kakek,”
“Boleh. Jam berapa, Kek?” Aldevaro spontan melirik jam tangannya sekilas. Setelahnya, ia kembali memokuskan perhatiannya pada apa yang akan dikatakan oleh kakeknya selanjutnya.
“Jam 7 malam. Kakek tunggu, ya! Oh, kalau bisa, kamu boleh ajakin pacar kamu,” ujaran dari sang kakek yang paling terakhir, sedikit membuat Aldevaro terkejut. Sepasang bola matanya bahkan tampak melebar dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya. Raut wajahnya yang semula jengah pun berubah pias seketika
“Kakek … tahu?”
Terdengar suara kekehan pelan dari seberang sana. “Apa yang tidak Kakek ketaui? Kamu tenang saja, Kakek tidak akan mengganggu hubungan kalian. Karena kamu sudah memilih dia, berarti dia memang pantas untuk cucu Kakek,”
Lagi, Aldevaro kembali melebarkan bola matanya, namun dengan perasaan yang berbeda. Semburat kebahagian seolah dapat terbaca lewat ekspresinya saat ini. “Makasih, Kek! Al usahain bakal bawa Zeva ke hadapan Kakek!” Ujar Aldevaro, penuh semangat.
“Ya sudah. Kalau begitu, Kakek tutup teleponnya.”
Panggilan telepon pun benar-benar berakhir dengan sang kakek yang mematikannya lebih dulu. Setelahnya, Aldevaro mulai kembali menghela napas, namun dengan artian yang berbeda. Raut wajahnya bahkan tampak berseri. Dengan terburu-buru, Aldevaro mencari nama kontak Zeva, kemudian menghubunginya tanpa basa-basi.
Cukup lama Aldevaro menunggu panggilannya dijawab, di dering ke tiga, Zeva mulai mengangkat panggilannya. Terdengar suara dehaman pelan dari seberang sana sebelum pada akhirnya sebuah suara yang akhir-akhir ini Aldevaro rindukan kembali terdengar. “Halo, Var?”
“Kamu di mana?” Sahut Aldevaro, masih dengan senyuman di wajahnya.
“A-aku di rumah. Kenapa?”
“Jalan, yuk! Sekalian ada yang mau Aku bicarain sama Kamu,” Aldevaro berbicara dengan Zeva di telepon sembari berjalan menghampiri motornya yang ia parkirkan tepat di halaman depan rumah orangtuanya.
“Sekarang?” Nada suara yang dikeluarkan oleh Zeva terdengar syok di telinga Aldevaro.
“Iya. Aku otw,”
__ADS_1
“Hm … ya udah, Aku ganti baju dulu!” Pungkas Zeva. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Aldevaro kemudian menutup panggilan teleponnya. Menaruh ponsel di dalam saku jaket, menghidupkan motor, kemudian memakai helm. Setelah usai, ia mulai menaiki motornya, dan melajukannya ke jalan raya.
To be continue…