Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
23. I'm sorry


__ADS_3

“Va!” Zeva yang namanya dipanggil pun lantas menoleh ke sumber suara, di mana ternyata orang yang baru saja menyahutinya tak lain ialah Joy, atau gadis dengan nama lengkap Jovanka Davisha.


Melihat Joy yang perlahan berjalan ke arahnya, sontak Zeva pun memasang seulas senyuman tipis yang lebih terlihat seperti sebuah senyuman terpaksa. Dan Joy menyadarinya. Maka dari itu raut wajahnya pun tampak datar tanpa ekspresi.


“Lo kenapa di sini?” Sahut Joy. Terdengar suara helaan napas panjang dari mulut Zeva.


“Emangnya gue gak boleh dateng ke party-nya si Gerald?”


“Ck. Bukan itu maksud gue. Lo kenapa diem di sini? Sendirian lagi. Si Gerald gak nemenin lo?”


“Dia ‘kan yang punya party. Pasti lagi sibuk lah,”


“Va! Sebenarnya lo ada masalah apa sih sama si Aldevaro? Kalian berdua gak kayak biasanya, tahu gak! Ada yang gak beres ‘kan? Please, cerita sama gue!” Joy meraih kedua tangan Zeva tanpa permisi. Dan hal tersebut membuat Zeva yang tadinya masih jengah, dibuat tersentak dengan sepasang netra yang terkunci menatap sepasang netra Joy.


Sempat terdiam beberapa saat, Zeva kemudian menarik kedua tangannya yang masih berada di genggaman Joy. Sesekali, Zeva akan berdeham pelan dengan raut wajahnya yang berubah suram.


“Gue gak ada apa-apa, kok sama-”


“Gak ada apa-apa gimana? Tadi di ballroom kalian udah kek orang asing! Mana kalian datengnya pada sama orang lain, lagi,”


“Emangnya Aldevaro ke sini sama siapa?” Pertanyaan spontan itu membuat Zeva langsung merutuki dirinya sendiri. Namun tidak dengan Joy yang tampak tersenyum kecil, menyadari kalau pada dasarnya Zeva masih peduli pada Aldevaro.


“Menurut lo?” Balas Joy, entah mengapa Zeva merasakan dadanya tiba-tiba terasa sesak setelah mendengar jawaban ambigu dari Joy.


Sempat terdiam beberapa saat, Joy kemudian terkekeh pelan melihat ekspresi Zeva yang kian murung dengan kepalanya yang menoleh ke samping.


“Dia bareng sama si Daniel dan temen-temen cowoknya, kok, bukan sama si Diandra.” Ujar Joy, membuat Zeva menoleh kemudian menganggukkan kepalanya.


“Va! Cerita dong, iih! Jangan diem-dieman aja. Kalian ada apa sih sebenarnya?” Joy kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada Zeva, seolah tak ada bosannya gadis itu terus bertanya hal yang sama, padahal sedari tadi Zeva masih tidak mau mengindahkannya.


Zeva masih tetap memilih diam di tempatnya. Gadis itu hanya mengendikkan bahu seraya menghela napas gusar, semakin membuat Joy kesal karena Zeva tidak mau menjawab pertanyaannya.


“Va-”


“Gue cariin dari tadi, ternyata lo di sini?” Sahutan dengan nada rendah itu sukses membuat perhatian Joy dan Zeva teralihkan. Ketika menoleh, sudah ada Gerald dengan tampang maskulinnya berjalan ke arah mereka berdua, atau lebih tepatnya berjalan ke arah Zeva.


Zeva mengerutkan keningnya, sementara Joy malah memokuskan pandangannya pada Zeva. “Kenapa lo nyariin gue?” Tanya Zeva. Tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Zeva, Gerald lantas menarik tangan gadis itu dan membawanya untuk ikut bersamanya.


Di tempatnya, Zeva hanya bisa bertanya-tanya dengan perasaan gugup akibat perhatian seluruh tamu kini beralih pada mereka berdua. “Ger, kita mau ke mana, sih?”


Tak berapa lama setelah mengatakan kalimat tanya itu, Gerald memberhentikan langkah kakinya. Posisi tubuhnya yang semula memunggungi pun kini berubah menjadi menghadap Zeva. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Gerald meraih kedua tangan Zeva dan menatapnya lekat-lekat.


Sempat terheran dengan tingkah aneh Gerald, saat Zeva hendak menarik kedua tangannya kembali, cowok itu menahannya. Dan siapa yang menyangka, Gerald malah dengan berani mencium punggung tangan Zeva, tepat di depan para tamu dan cahaya lampu yang entah sejak kapan mulai menyoroti mereka.


Sahutan heboh disertai tepukan tangan keras tak membuat Zeva tersadar dengan apa yang tengah dilakukan oleh cowok itu padanya. Selang berapa lama, Gerald melepaskan ciumannya dan beralih pada seorang MC acara yang tengah mengajukan berbagai pertanyaan padanya.


Sayangnya, Zeva tak dapat mendengarnya. Gadis itu seolah membatu di tempat karena ulah Gerald yang selalu seenaknya.


“Cek, cek,” suara Gerald yang terdengar lewat mikrofon yang diberikan oleh MC acara, seolah jadi penyadar Zeva saat ini. Wajah gadis itu langsung memerah padam, bukan karena tersipu, melainkan karena menahan kekesalan akibat tingkah Gerald yang menjadi semakin berani padanya.


Dan lihatlah sekarang. Banyak orang-orang yang membicarakan hal buruk tentang Zeva, khususnya dari anak-anak sekolahnya. Dan sialnya, Zeva tidak dapat berbuat apa-apa.


“Di sini gue mau memperkenalkan sosok perempuan yang menjadi inspirasi gue belum lama ini. Dan, ya, dia bukan pacar gue tapi gue lagi berusaha buat ngejar dia. Dan gue butuh doa dari kalian semua, semoga dia, alias Zeva, bersedia jadi pacar gue.” Terang Gerald. Bertepatan dengan itu, Aldevaro muncul dengan berbagai emosi yang seolah siap meluap kapan saja. Kedua tangannya pun tampak terkepal kuat, seolah siap untuk melayangkan bogemannya saat itu juga


Tanpa mau berbasa-basi lagi, Aldevaro berjalan gontai menuju Gerald dan Zeva yang tampak terdiam mematung di tempatnya. Belum sempat Aldevaro menghampiri mereka, Gerald kembali meraih tangan Zeva. Hal itu membuat Aldevaro semakin tersulut emosi, sehingga tanpa berpikir panjang, cowok itu langsung berlari menghampiri Zeva, dan menarik paksa tangannya dari genggaman Gerald.


Para tamu yang menyaksikan hal tersebut pun spontan terkejut. Ballroom seketika penuh dengan suara bisik-bisik, bahkan ada yang sampai berbicara keras mengomentari kejadian tak terduga yang mengundang hawa nafsu untuk bergosip.


“Apa-apaan lo! Gue udah pernah bilang ‘kan sama lo, Zeva masih cewek gue! Dan sampai kapan pun akan tetap jadi cewek gue!” Suara lantang Aldevaro, seketika mengheningkan suasana. Tak ada lagi yang mencoba berbicara sana-sini. Suara dingin Aldevaro sudah cukup membuat mulut para tamu terkatup rapat, serapat-rapatnya.


Gerald terkekeh pelan dengan sesekali akan mencuri pandang pada Zeva yang terlihat tengah menatap Aldevaro dari samping. Tatapannya tampak teduh seolah menyiratkan kerinduan. Sangat berbeda jauh ketika Zeva tengah menatapnya. Sungguh, Gerald tidak suka melihat Zeva bersikap tak adil seperti saat ini! Bukankah akhir-akhir ini mereka juga sudah dekat?


“Cewek lo?” Gerald menaikkan salah satu alisnya sembari melangkah pelan menghadap Aldevaro. Tidak dengan Zeva yang hanya dapat diam di belakang tubuh Aldevaro dengan tangannya yang tanpa sadar menggenggam kuat lengan cowok itu.


“Va! Lo beneran masih ceweknya si Al?” Pertanyaan tiba-tiba dari mulut Gerald, membuat Zeva tersentak. Kepalanya spontan mendongak menatap Aldevaro dan Gerald bergantian.


“Gue-” Zeva memotong ucapannya sendiri saat menyadari apa yang tengah ia lakukan saat ini. Buru-buru Zeva melepaskan cengkraman tangannya di lengan Aldevaro, kemudian menunduk malu seraya memundurkan langkah kakinya.


“Sorry, gue gak bermaksud buat-”

__ADS_1


“Udah jelas ‘kan? Zeva. Cewek. Gue!” Tekan Aldevaro, memotong ucapan Zeva yang belum sepenuhnya keluar dari mulutnya. Laki-laki itu bahkan sampai menarik pinggang ramping Zeva supaya semakin mendekat ke arahnya.


Di tempatnya, Zeva lagi-lagi dibuat mematung. Tak berlangsung lama, di detik selanjutnya, Aldevaro langsung menarik pergelangan tangan Zeva, membawanya untuk keluar dari acara yang tak sepatutnya mereka berada di sana.


Sedangkan di tempat lain, Gerald sudah benar-benar dibuat kehilangan akal, dan semuanya karena Aldevaro yang selalu mengacaukan segala rencananya. Rencana untuk mengenalkan Zeva sebagai calon masa depannya sudah gagal. Tak dapat Gerald pungkiri jika cowok itu sudah menyimpan rasa lain pada Zeva.


“Gue akan rebut cewek lo, gimanapun caranya!” Gumam Gerald, sebelum pada akhirnya cowok itu juga ikut melenggang meninggalkan ballroom hotel, tempat di mana pesta ulang tahunnya diselenggarakan. Dan, ya. Pesta dengan dekorasi mewah dan dihadiri para tamu penting itu seketika berubah menjadi kacau balau.


****


Zeva mencuri-curi pandang pada Aldevaro yang berada tepat di sampingnya. Tak ada reaksi maupun balasan dari cowok itu, padahal sudah cukup lama Zeva mencuri pandang pada Aldevaro. Memilih mengalah, tangan Zeva terulur untuk membukakan pintu mobil, namun tiba-tiba saja tangan seseorang menghentikannya.


Ketika kembali menoleh, Aldevaro tengah menatapnya dengan tatapan sayu nan dalam. Membuat Zeva seketika merasakan jantungnya yang kembali dibuat berpacu oleh Aldevaro, setelah kurang lebih satu pekan ini keduanya tidak pernah saling bertatap muka.


Dengan menelan ludahnya susah payah, Zeva lantas mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil Aldevaro. Gadis itu bahkan menundukkan wajahnya tanpa berkata apa-apa. Sedangkan Aldevaro, cowok itu juga mulai melepaskan genggaman tangannya, dengan punggungnya yang perlahan ia sandarkan ke belakang. Helaan napas berat lantas Aldevaro embuskan.


“Maaf!” Sebuah kata tak terduga keluar dari mulut Aldevaro. Zeva yang tadinya tengah termenung, lantas menoleh dengan raut penuh tanya.


“Gue bikin hubungan kita jadi kayak gini, ya? Lo pasti benci banget ‘kan, sama gue?” Zeva masih tetap diam di tempatnya.


Sungguh, ia bingung harus berkata apa?! Apa yang telah ia dengar minggu lalu tentang Aldevaro yang hanya menjadikannya sebagai alat pelampiasan saja, membuat Zeva sakit hati luar biasa.


Tetapi di sisi lain, sikap Aldevaro yang lembut membuat hatinya bergetar, sehingga berakhir dilema antara rasa sakit dan cinta.


“Gue akan lepasin lo mulai hari ini.” Terang Aldevaro tiba-tiba. Dan hal tersebut sukses membuat Zeva lagi-lagi menoleh dengan sepasang bola matanya yang melebar. Bahkan, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika sebuah kalimat tak terduga itu terlontar dari mulut Aldevaro.


“Tapi jujur, gue gak rela lepasin lo, Va! Tapi gue gak boleh egois. Kalau lo-nya udah muak, gue bisa apa? Gue harap, lo bisa jauh lebih bahagia tanpa gue.” Pungkas Aldevaro. Dan saat itu juga, Zeva langsung keluar dari dalam mobil Aldevaro dengan membawa rasa sakit dan sesak yang entah sejak kapan mulai kembali menguasai hatinya.


****


Hari demi hari terus Zeva lewati dengan penuh kesunyian dan kesendirian. Waktu pun seakan berputar dengan sangat cepat, di mana satu bulan telah berlalu semenjak hari di mana ia dan juga Aldevaro benar-benar mengakhiri hubungan mereka.


Rasanya sangat menyakitkan jika Zeva diharuskan kembali melayangkan ingatannya ke belakang. Berbagai pertanyaan seperti, ‘kenapa dulu kita harus kembali bersama’, dan, ‘kenapa kita harus berakhir seperti itu’, seolah tak ada habisnya terus berputar di kepalanya.


Helaan napas panjang lantas Zeva embuskan. Dengan malas, gadis itu mulai membereskan berbagai alat tulisnya ke dalam tas, dan bersiap untuk segera pulang.


Berbeda dengan teman-temannya yang telah lebih dulu pulang dari beberapa menit yang lalu, Zeva baru akan pulang saat ini. Entahlah. Akhir-akhir ini, Zeva lebih sering pulang paling terakhir dari siapa pun. Dan hal tersebut mampu membuatnya merasa jauh lebih tenang dan berleluasa.


Ralat, satu sekolah tampak sangat sepi saat ini.


Sialnya, hatinya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan. Bahkan, air matanya ikut andil saat otaknya tanpa sengaja memikirkan masa lalu di mana hal-hal baik selalu terjadi di antara ia dan Aldevaro.


Zeva menggeleng-gelengkan kepalanya saat ingatan demi ingatan terus berdatangan memasuki otaknya. Dengan kasar, Zeva mengusap pipinya yang terasa basah akibat air mata yang berjatuhan tanpa ia minta.


Tak ingin terus berlama-lama, Zeva memutuskan melanjutkan langkah kakinya. Ketika di belokan menuju tangga, tubuhnya tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang. Mengakibatkannya spontan mengaduh dengan tubuhnya yang refleks mundur ke belakang.


“Sorry!” Ucapan permohonan maaf itu terlontar dari mulut keduanya.


Karena penasaran, Zeva lantas mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja ia tabrak. Dan begitupula sebaliknya.


Saat itu juga, Zeva langsung membuang muka, ketika mengetahui bahwa orang yang tidak sengaja bertabrakan dengannya tak lain ialah Aldevaro. Cowok yang kini benar-benar berstatus sebagai mantan pacarnya.


Karena bingung sekaligus gugup, Zeva langsung melenggang begitu saja, tanpa mau untuk sekadar basa-basi dengan Aldevaro.


Di tempatnya, Aldevaro masih terdiam dengan tatapan matanya yang berubah sendu. Sepeninggalan Zeva beberapa saat yang lalu membuatnya kembali teringat dengan kisah indah mereka dulu, yang hanya bertahan tak lebih dari satu minggu.


Balikan. Andai saja ketika Aldevaro mengatakan kalimat itu tanpa ada rasa ingin menuntaskan dendam, dan murni karena perasaan cinta yang tulus, mungkin hubungan mereka masih bisa bertahan, tanpa adanya kesalahpahaman.


Seperti biasa, penyesalan selalu hadir belakangan.


****


“Bang Al!”


“Hm.”


“Lo … beneran udah putus sama cewek lo?”


Tampak Aldevaro langsung terdiam saat sahutan lain dari William memasuki gendang telinganya. Tampang cowok itu berubah kaku dari yang awalnya tengah memainkansebuah game di handphone-nya. Seolah tersadar dengan apa yang tengah ia pikirkan, cowok itu kembali melanjutkan aktivitas main game-nya tanpa mau memedulikan William yang kemudian menunduk tak enak hati di tempatnya.

__ADS_1


“Andai waktu itu gue gak bahas yang aneh-aneh, mungkin sekarang lo sama cewek lo gak bakal kayak gini.” Ujar William, spontan membuat Aldevaro yang tadinya masih sok sibuk, berakhir menyelesaikan kesibukan palsunya.


“Bukan salah lo. Udah, gak usah dipikirin.” Terang Aldevaro, sembari menyandarkan punggungnya di sofa, dengan sepasang matanya yang kemudian terpejam.


“Apa … gue samperin aja, ya,”


“Siapa?” Aldevaro refleks membenarkan posisinya dengan perhatian yang terfokus pada William. Salah satu alisnya bahkan tampak terangkat sebelah.


“Cewek lo lah, siapa lagi,”


Terdengar dengusan malas dari Aldevaro, “Ngapain?”


“Yaa, buat jelasin semuanya lah! Cewek lo marah karena dengerin ucapan gue yang unfaedah itu ‘kan? Maka dari itu, gue-”


“Gak usah!” Potong Aldevaro. Membuat William yang tadinya bersemangat, berubah loyo dengan kepalanya yang lagi-lagi menunduk.


“Kenapa?” Sahut William, dengan nada suara yang terdengar pelan.


Aldevaro tak langsung menjawabnya. Tampak cowok itu mencoba menenangkan hati dan pikirannya dengan kembali menarik napas cukup dalam.


“Mungkin emang kitanya gak jodoh, makanya kayak gini. Udahlah, lupain. Lo gak salah, kok, Wil. Kalau Tuhan udah rencanain kayak gini, kita bisa apa?”


“Tapi, Bang-”


“Udah, diem. Mending sekarang lo balik, bentar lagi maghrib.” Ujar Aldevaro, yang mau tidak mau harus dipatuhi.


Dengan berat hati, William perlahan bangkit dari posisinya seraya mengambil jaket hoodie yang ia taruh sembarangan di atas sofa di apartemen Aldevaro. Sebelum cowok itu benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk melirik Aldevaro yang memasang raut wajah suram. Kepalanya pun tampak menoleh asal ke arah jendela kaca yang menampilkan langit berwarna jingga kemerah-merahan.


“Gue balik dulu.” Pungkas William, yang hanya dibalas dehaman singkat oleh Aldevaro.


Pokoknya, gue gak akan biarin hubungan kalian kayak gini. Gue akan bantu lo sebisa gue. Dan gue harap, lo berdua bisa bahagia lagi kayak dulu.


****


“Eeh, bentar, bentar!” Zeva refleks terlonjak saat lamunan sepinya membuyar akibat seseorang yang tidak ia kenali menghalangi jalannya.


Karena bingung, Zeva lantas mengerutkan keningnya seraya menatap lekat-lekat seorang lelaki bule yang berdiri jangkung di hadapannya. “Ada apa, ya? Apa kita … pernah ketemu?”


Dan, ya. Laki-laki itu tak lain adalah William, salah satu dari sahabatnya Aldevaro, yang juga merupakan juniornya di sekolah.


Dengan seulas senyuman canggung, William lantas menyengir sembari sedikit memundurkan langkah kakinya. Cowok itu pun tampak sesekali berdeham pelan untuk menghilangkan kecanggungan.


“Gini. Gue … temennya Aldevaro. Bisa kita bicara bentar? Ini penting, banget malah!”


“Emang sepenting apa?” Sahut Zeva. Membuat William spontan menepuk jidatnya sendiri.


Bukan apa-apa. Hanya saja, perangai Zeva yang begitu datar dan dingin ketika mengatakan kalimat tanya tersebut, mengingatkan William pada Aldevaro. Benar kata orang, jodoh itu cerminan diri. Batin William, kembali tersenyum pahit.


“Hei! Kalau gak ada yang penting lagi, gue-”


“Ekhem. Kalau gitu gue mau to the point sama lo, Kak!”


“Kak?” Beo Zeva, dengan keningnya yang kembali berkerut seraya berpikir panjang.


Dengan sebal, William berdecak pelan yang kemudian diakhiri dengan menghela napas pendek.


“Emangnya kenapa sih kalau gue panggil lo dengan sebutan ‘Kak’? Lo ‘kan lebih tua dari gue! Gue ini adek kelas lo, lho! Gue panggil lo ‘Kak’ karena gue menghargai!” Terang William. Entah mengapa rasa-rasanya dirinya jadi geram sendiri saat menjelaskan hal tersebut.


Dan lihatlah Zeva. Gadis itu tampak termenung dengan dahinya yang masih berkerut. “Jadi … lo gak seangkatan sama Aldevaro?”


“Enggaklah!” Ujar William, terdengar ngegas, dan hal tersebut sukses membuat Zeva memberengut takut.


“Hadeuh … pokoknya, lo harus punya waktu sekarang, karena yang mau gue omongin saat ini sangat-sangat penting. Sekarang, ikut gue!” Saat William hendak meraih tangan Zeva, seketika bayangan wajah mengerikan Aldevaro langsung melintas begitu saja. Membuat William yang tadinya ingin berinisiatif membawa Zeva ke tempat yang sesuai untuk mengatakan perihalnya langsung terurung.


Bisa dikeroyok gue kalau ketahuan pegang-pegang miliknya Bang Al! Enggak! Gue masih pengin hidup!


“Ekhem. Pokoknya, ikutin langkah gue, kalau lo gak mau nyesel!” Tekan William, untuk yang terakhir kali, sebelum pada akhirnya cowok itu memilih melenggang lebih dulu dari hadapan Zeva.


Karena bingung sekaligus penasaran, pada akhirnya Zeva memilih mengikuti langkah William, sampai melupakan niat awalnya yang hendak mengantarkan minuman untuk Joy di lapangan.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2