Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
27. Hampir Hilang Kendali


__ADS_3

“Anj*r! Encok gua kumat!” Chiko berdesis pelan, selepas ia, William dan Theo, merebahkan tubuh Aldevaro di atas ranjang. Sedangkan Daniel, kerjaan cowok itu hanya memerintah dan memerintah. Menyebalkan memang. Tapi, yah, ya sudahlah.


“Panas, gila! Ini AC-nya nyala gak sih? Mana haus lagi,” gerutu Theo. Cowok itu dengan langkah tertatih, berjalan meninggalkan kamar Aldevaro, menyusul teman-temannya yang telah berada di ruang tengah.


“Anj*r, gua gak kuat! Gua pengin minuman yang dingin-dingin!” Chiko dengan tingkat kehausan tinggi, berlari menuju dapur apartemen. Membuka kulkas dan meraih salah satu minuman dingin yang kebetulan tinggal beberapa botol lagi.


“Ko, gua juga pengin dong, ambilin, please!” Sahutan itu berasal dari mulut Daniel yang tampak sok terkapar, padahal cowok itu tidak melakukan kerja berat seperti yang dilakukan oleh tiga temannya.


“Ambil aja sendiri! Ngapain lo nyuruh-nyuruh gue?” Chiko berjalan perlahan menuju ruang tengah, selepas mendapatkan apa yang ia inginkan.


Melihat Chiko yang kembali dengan sebotol minuman dingin, William dan Theo spontan berlari menuju dapur untuk mengambil minuman yang sama seperti milik Chiko. Tidak dengan Daniel yang malah terkekeh sarkas di tempatnya.


“Ceritanya lo bales dendam nih, Ko, sama gue?”


“Kamu nanyea?”


“Kamu bertanya-tanyea?” Suara sahutan terakhir bukan berasal dari mulut Chiko, melainkan William yang tampak tersenyum sumringah, selepas menghilangkan dahaganya dengan sebotol minuman dingin bersoda.


“Sialan! Bagi dong, Will, dikit aja! Gua juga haus, nih,”


“Ogah, ah! Tar jigong lo nempel lagi di mulut botolnya. Ambil sendiri sono! Mumpung ada satu lagi,”


“Yaah … udah abis! Sisa satu lagi, itu pun udah jadi milik gue.” Theo mengacungkan sebotol minuman dingin bersoda yang isinya tinggal separuh.


Dan, ya. Hal itu membuat Daniel kesal setengah mati, karena dirinya tidak kebagian minuman. Sialan mereka!


“Setan lo semua!”


“Kok, setan? Manusia-lah! Elo kali Bang yang setan!” Celetuk William, spontan ia langsung mengatupkan mulutnya saat menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.


“Lo udah bosen hidup, Will?” Bisik Chiko, yang posisinya kebetulan bersebelahan dengan William. Sedangkan Theo, cowok itu hanya asik menenggak minuman dinginnya, tanpa mau ikut terlibat.


“Lo ngatain gue apa barusan? Lo ngat-”


“Eeh, gue gak ngatain! Gue bilang, lo tuh ganteng! Cowok paling ganteng seantero sekolah! Daniel Arsenio yang pacar aja gak punya, tapi ceweknya di mana-mana! Mantep ‘kan?” William menyengir lebar di akhir kalimat yang ia lontarkan. Sementara Chiko dan Theo, keduanya malah tergelak tanpa bisa ditahan lagi.


“Eh, Will! Lo kalau mau muji, ya muji! Kalau mau ngeledek, ya ngeledek! Jangan lo muji sambil ngeledek. Entar yang ada lo dapet bogem mentah dari Bang Kuda Nil,” Theo besahut, yang diacungi jempol oleh Chiko. “Nah, itu!” Ujar Chiko, masih setia dengan raut wajahnya yang tergelak.


“Sabar, Niel, sabarrr! Ini bukan waktu yang tepat buat marah sama salah satu anak buah lo!” Daniel menggerutu pelan, yang kemudian ia mulai menarik napas dalam-dalam, lalu membuanganya perlahan.


Dengan langkah pelan, Daniel berjalan melewati William. Sempat membuat cowok itu gelagapan, karena ia pikir, Daniel akan menghajarnya saat itu juga. Tapi ternyata, Daniel malah melewatinya dan masuk ke dalam kamar Aldevaro. Sontak William mengekori langkah Daniel.


“Lo kenapa ke sini?” William menyahut pelan pada Daniel. Sedangkan yang disahut hanya diam seraya meraih ponsel Aldevaro yang sempat ia taruh di atas salah satu nakas.


“Lo mau telepon siapa?” Sahut William lagi, ketika mendapati Daniel mulai membuka aplikasi kontak di ponsel Aldevaro. Lagi-lagi cowok itu tidak menjawab pertanyaan William. Ia sibuk mencari kontak seseorang yang cukup sulit ia temukan.


“Anj*r! Nama kontaknya si Zeva apaan sih? Kagak nemu perasaan,” Daniel mulai lelah sendiri saat nama kontak yang ia cari-cari tak juga ia temukan.


Di sisi lain, William mendengus, kemudian mengambil alih ponsel Aldevaro yang berada di tangan Daniel. Mengetikan beberapa huruf, dan munculan nama kontak yang tidak pernah Daniel pikirkan sebelumnya, Mantan;).


“Bangs*t! Kok, gue gak kepikiran?” Daniel mengambil alih ponsel di tangan William. Dengan bergegas, cowok itu langsung menghubungi nomor Zeva.


“Makanya, kalau orang nanya tuh dijawab! Gue jauh lebih tahu tentang isi hapenya Bang Al daripada lo,” terang William, kemudian melenggang dari hadapan Daniel, yang tengah menunggu sambungan teleponnya terhubung dan diangkat.


“Ha-halo? Var?” Sip! Teleponnya sudah diangkat.


“Ini gue, temennya. Lo bisa dateng ke apartemen Aldevaro sekarang?”

__ADS_1


“Sekarang?”


“Iya! Aldevaro habis mabok, dan mungkin ini ada sangkut pautnya sama lo. Gue tunggu,” Selepas mengatakan perihalnya, Daniel langsung menutup sambungan telepon secara sepihak. Dapat ia pastikan bahwa Zeva tengah syok di tempatnya, apalagi ini menyangkut soal Aldevaro.


Daniel kemudian meletakkan ponsel Aldevaro di tempat semula. Tatapan matanya tampak dingin yang ia layangkan pada wajah Aldevaro. Cowok itu terlihat masih memejamkan matanya, namun mulutnya masih tidak berhenti memanggil nama Zeva.


Sebegitu nekadnya Aldevaro karena perempuan bernama Zeva ini, sehingga membuatnya memilih jalur yang salah sebagai pelampiasan? Sungguh, ini tidak seperti Aldevaro yang dulu.


“Gue jadi benci sama si Zeva! Karena dia ‘kan, lo jadi berubah kayak gini?” Daniel lagi-lagi menghela napas panjang seraya bersidekap.


“Gue akan gantiin lo buat balas dendam sama tuh cewek! Gue gak peduli semarah apa lo ketika tahu gue berbuat jahat sama cewek itu. Gue cuman gak terima sahabat gue berubah kayak gini cuman karena satu cewek!”


****


Pukul sembilan malam, Zeva dengan hanya memakai piyama tidur yang dibalut jaket hoodie berwarna hitam, berlari keluar dari dalam rumahnya hanya untuk pergi ke apartemen Aldevaro.


Zeva yang pada saat itu tengah merebahkan tubuhnya hendak memejamkan mata, lantas mengurungkan niatnya begitu mendengar ponselnya berbunyi. Nama kontak Aldevaro pun muncul di bagian paling atas layar ponselnya, membuat Zeva terlonjak buat main.


Ketika Zeva mulai mengangkat panggilan telepon tersebut, suara seseorang yang cukup asing menyapa gendang telinga Zeva. Helaan napas kecewa sempat ia embuskan. Namun tak berapa lama, ucapan seseorang tentang kondisi Aldevaro, membuat Zeva refleks menutup mulutnya. Suruhan seseorang yang menyuruhnya untuk datang saat itu juga ke apartemen Aldevaro, semakin membuat Zeva bingung harus bagaimana.


Dan, ya. Zeva memilih nekat keluar dari rumah dengan sembunyi-sembunyi. Takut jika dirinya keluar dengan tergesa-gesa, maka mamanya yang baru saja tidur, terbangun dan menanyai soal ke mana ia akan pergi.


Kini, Zeva telah berada di lift apartemen dan sedang menunggu lift tersebut membawanya ke lantai lima, setelah perjuangan penuh berlarian mencari ojek hingga taksi yang beroperasi.


Tepat ketika lift terbuka lebar, Zeva langsung berlari menuju pintu apartemen Aldevaro yang teramat ia hafal di mana letaknya. Sebelum benar-benar sampai, Zeva sempat mengernyit ketika pintu apartemen Aldevaro tampak sedikit terbuka. Tanpa berbasa-basi lagi, Zeva masuk begitu saja, membuat beberapa orang laki-laki yang tengah mengobrol santai di dalam dibuat hening oleh kedatangannya yang tanpa permisi.


Saat itu juga, Zeva merutuki tindakannya yang tanpa pikir panjang langsung menerobos masuk begitu saja.


“Kak Zeva? Kok, lo bisa ada di sini?” Sahutan kebingungan itu terucap dari mulut William. Ketika Zeva hendak membalas, ucapan seseorang dari arah lain menginterupsi mereka.


“Gue yang nyuruh!” Daniel berjalan santai keluar dari kamar Aldevaro dengan tatapan dingin nan menusuk yang ia layangkan pada Zeva.


“Titip Aldevaro. Lo bisa ‘kan, jagain dia semaleman?” Sahutan tak terduga dari mulut Daniel, mengundang berbagai reaksi dari William, Chiko dan Theo. Ketiga cowok itu yang masih dalam posisi terduduk di atas sofa pun lantas bangkit dengan perhatian yang tertuju pada raut wajah dingin Daniel.


“Lo gila?” Chiko bersuara, mewakili rasa keterkejutan teman-temannya.


“Gue nyuruh lo begini bukan tanpa alasan. Aldevaro kegep lagi mabok di bar sambil nyebut-nyebut nama lo! Jadi, lo juga bertanggung jawab atas Aldevaro. Malam ini, lo yang jagain dia! Kita mau cabut, karena besok masih sekolah,” ucapan Daniel yang egois, membuat ketiga temannya semakin menatap cowok itu dengan tatapan heran. Ingin mereka bertanya, namun tatapan dingin nan menusuk Daniel yang ditujukan pada mereka, membuat mereka tidak dapat berbuat apa-apa.


Di tempatnya, Zeva terdiam menunduk dengan sesekali menenggak ludahnya susah payah. “I-iya, gue bisa kok, jagain Aldevaro! Kalian pulang aja,” ucap Zeva dengan bibir yang agak gemetar antara menahan tangis dan perasaan bersalah.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Daniel mulai mengode teman-temannya untuk segera pergi. Dan tentunya, mereka bertiga hanya bisa pasrah terhadap perangai Daniel yang kembali pada wujud aslinya.


Ya! Walaupun Daniel biasanya suka terkesan sering bercanda, tapi jangan salah. Orang seperti Daniel-lah yang perlu diwaspadai. Karena ketika sekalinya orang yang sering bercanda berubah serius, dia akan menjadi sosok yang paling mengerikan ketika sedang marah.


Zeva lagi-lagi menenggak ludahnya ketika Daniel, beserta teman-temannya yang lain telah benar-benar pergi dari apartemen Aldevaro. Tanpa diduga-duga, air mata Zeva lolos begitu saja dari salah satu pelupuk matanya.


Tak bertahan lama, setelahnya Zeva menghapus air mata tersebut, dan kembali pada niat awalnya untuk menjaga Aldevaro semalaman penuh.


“Gimana kalau sampe Mama nyariin? Mana gue lupa gak bawa hape, lagi,” Zeva menghela napas berat, seraya menyeret kedua kakinya memasuki kamar Aldevaro. Ketika sesampainya di sana, Zeva refleks menutup hidung saat aroma asing langsung menyeruak memasuki rongga hidungnya.


“Bau alkohol! Varo beneran mabuk? Gara-gara gue?” Zeva bergumam pelan, mencoba membiasakan diri dengan aroma asing itu. Masih dengan melangkahkan kakinya, langkah Zeva lantas berhenti tepat di samping tubuh Aldevaro yang terkapar tak sadarkan diri.


Entah laki-laki itu memang benar-benar tidak sadarkan diri, Zeva pun tidak tahu pasti.


Melihat sepasang sepatu yang masih terpasang utuh di kedua kaki Aldevaro, Zeva spontan beralih melangkah menuju kedua kaki Aldevaro yang menjuntai di ujung kasur. Dengan telaten, gadis itu melepas satu persatu sepatu tersebut, dan menaruhnya di dekat nakas.


Saat Zeva hendak berbalik untuk mengambil air dan lap untuk membersihkan wajah Aldevaro, sesuatu yang hangat mencengkram kuat salah satu pergelengan tangannya.

__ADS_1


Belum sempat ia menoleh, tubuhnya dibuat limbung hingga terjatuh ke atas kasur yang pada dasarnya masih ada Aldevaro.


“Va-var?” Saat Zeva hendak menoleh ke belakang, sepasang lengan kekar mulai melingkar di pinggangnya. Mengelus sensual pinggang ramping itu yang kemudian beralih pada perut rata Zeva. Tanpa sadar Zeva dibuat melenguh akan tindakan gila itu yang bisa dipastikan jika pelaku utamanya tak lain ialah Aldevaro.


“Va-var? Lo udah sadar? To-tolong lepasin gue, Var! Jangan kayak gini, please!”


“Gue gak bisa.” Bisikan rendah kelewat panas dari mulut Aldevaro, seketika membuat bulu kuduk Zeva meremang. Saat gadis itu mencoba membalikkan tubuhnya menghadap Aldevaro, saat itu juga tatapan sayu nan menusuk langsung menyapa netranya.


“Sialan lo, Va!” Makian dari mulut Aldevaro, membuat Zeva tanpa sadar mengerutkan keningnya. Saat ia hendak melayangkan beberapa pertanyaan, Aldevaro dengan lancang kembali mengelus sensual pinggannya, terutama di area-area sensitif. Membuat Zeva lagi-lagi melenguh tanpa ia sengaja.


“Ja-jangan sentuh gue, Var! Lo gak akan apa-apain gue ‘kan?” Napas Zeva sudah mulai tidak beraturan akibat Aldevaro. Dan hal itu sukses membuat Aldevaro memasang senyuman jahatnya yang tak pernah ia perlihatkan pada Zeva.


“Lo bercanda? Udah ada lo di depan mata gue, gue gak akan lepasin lo semudah itu!” Detik itu juga selepas mengutarakan kalimatnya, Aldevaro langsung menarik Zeva semakin mendekat ke arahnya. Mendaratkan ciuman kasar tepat di atas bibir Zeva yang sedikit terbuka.


Sontak hal itu membuat Zeva terkejut, dan dengan refleks Zeva mencoba mendorong Aldevaro yang kian nafsu menciuminya. Nahas, kekuatan Zeva tak sebanding dengan kekuatan Aldevaro. Gadis itu berakhir lemas akibat hampir kehabisan napas.


Aldevaro kemudian melepaskan ciumannya. Menatap Zeva yang berada tepat di bawah kungkungannya intens, tanpa sedikit pun mengalihkan fokusnya dari sana. Saat Aldevaro hendak kembali melanjutkan ciumannya, saat itu juga Zeva mulai menangis sembari menutupi wajahnya yang merona karena malu yang bercampur dengan sakit hati.


Kenapa Aldevaro melakukan hal ini padanya? Apa salahnya sehingga laki-laki itu memaksanya seperti ini?


“Udah, ya, Var! Gue takut! Fine, gue salah! Gue udah salah paham sama lo! Gue minta maaf! Tapi tolong, jangan kayak gini!” Zeva kian menangis kencang di bawah Aldevaro. Sementara Aldevaro, cowok itu seolah tuli dengan tangisan dari Zeva. Seluruh isi otaknya hanya menanggapi soal; mengapa Zeva dapat dengan mudah berpaling darinya, dan jatuh ke pelukan Gerald, saudara sepupunya sendiri?!


Ini tidak adil!


“Gue gak peduli! Lo jahat, Va! Seenggaknya kalau lo benci sama gue, lo jangan jatuh cinta sama sepupu gue! Lo tahu sendiri ‘kan kalau gue benci banget sama dia? Gue gak terima! Sebelum si Gerald apa-apain lo, gue yang akan apa-apain lo lebih dulu!”


“A-apa? Kapan gue- eungh,” Zeva melenguh tertahan, saat dengan lancang Aldevaro malah beralih menciumi lehernya. Zeva kembali berusaha memberontak, namun lagi-lagi, usahanya selalu berakhir gagal saat dengan ganasnya Aldevaro meninggalkan beberapa jejak keunguan di beberapa sudut lehernya.


Saat tangan Aldevaro yang satunya mulai beralih menyentuh permukaan perut Zeva, dengan spontan Zeva membekap mulutnya saat perasaan aneh mulai menyeruak diiringi napasnya yang kian tersengal. Lagi-lagi Zeva menangis sembari terus menggerak-gerakan tubuhnya, agar Aldevaro mau melepaskannya.


Nihil, tangan Aldevaro justru semakin menelusup ke atas hingga suara pekikkan keras dari mulut Zeva, menghentikan aksi gila Aldevaro.


“Jangan!” Tangan Zeva turut mencegah kegilaan Aldevaro. “Jangan, Var, gue mohon! Gue gak mau lo nyesel! Dan gue juga gak mau kita berdua sama-sama nyesel nantinya! Kita bicarain baik-baik lagi, oke? Ya? Please, jangan kayak gini! Lo bikin gue takut,” ucapan lirih Zeva diiringi air matanya yang kian menetes, membuat Aldevaro tersadar sepenuhnya dari apa yang tengah ia lakukan pada Zeva.


Spontan Aldevaro membelalakkan matanya, dan segera menjauh dari Zeva yang masih menangis tersedu-sedu di bawah kungkungannya.


Saat itu juga, Aldevaro mengerang keras sembari menjambak rambutnya sendiri. Gila! Gue mau ngapain barusan? Gue mau lecehin Zeva? Bangst lo, Al! *Gerutu Aldevaro, merasa bersalah atas apa yang telah dan hampir ia lakukan pada Zeva, jika gadis itu tidak spontan berteriak seperti tadi.


Zeva lantas bangkit dari atas tempat tidur sembari membenarkan tatanan pakaiannya. Tak lupa, ia pun mulai menghapus jejak air mata yang terasa begitu basah menempel di hampir seluruh wajah hingga jatuh ke permukaan leher dan telinga.


Dirasa mulai sedikit tenang, tatapan Zeva kemudian beralih pada Aldevaro yang terlihat menunduk dalam dengan posisi terduduk menyandar di lantai.


Zeva menarik napasnya dalam-dalam, lalu perlahan mulai berjalan ke arah Aldevaro yang terlihat sama seperti sebelumnya. Saat Zeva hendak menyentuh punggung tangan Aldevaro dan duduk di sampingnya, cowok itu tiba-tiba menepis tangan Zeva dan menjauh dari Zeva.


“Var-”


“Jangan deket-deket gue, Va! Bisa aja gue langsung terkam lo kayak barusan. Mending lo pulang. Lo gak cocok berada di deket orang jahat kayak gue,” Aldevaro kian memalingkan wajahnya dari Zeva yang masih saja setia menatapnya.


“Var-”


“GUE BILANG PULANG, VA, PULANG! LO BILANG LO TAKUT ‘KAN SAMA GUE?” Aldevaro tiba-tiba membentak seraya berdiri tegak di hadapan Zeva yang masih dalam posisi terduduk di atas lantai. Sontak Zeva ikut berdiri, berhadapan dengan Aldevaro yang lagi-lagi membuang muka darinya.


“Maafin gue, Var! Lo jadi kayak gini karena gue ‘kan? Maaf, gue udah salah paham sama lo! Maaf udah bikin lo jadi kayak gini! Gue-” Zeva menghentikan ucapannya, saat pelukan rapuh dari Aldevaro tiba-tiba merengkuh tubuhnya. Dapat Zeva dengar isakan kecil dari Aldevaro dengan cowok itu yang kian mengeratkan pelukannya.


“Lo hampir habis sama gue, Va, dan lo masih mikirin soal masalah kita yang dulu? Rasa benci lo di mana? Lo harusnya benci sama gue, karena gue hampir aja buat lo rusak! Gue minta maaf, Va! Enggak! Jangan maafin gue! Gue gak pantes dapet permohonan maaf dari lo!” Aldevaro kemudian melepas pelukannya, menatap Zeva lekat-lekat yang juga tengah balas menatapnya.


“Mulai hari ini, gue akan benar-benar lupain lo, lepasin lo! Tapi gue mohon satu hal dari lo,” Aldevaro menjeda ungkapannya, membuat Zeva bertanya-tanya dengan dahinya yang tiba-tiba kembali berkerut.

__ADS_1


“Lo boleh pacaran sama siapa pun, jatuh cinta sama cowok manapun! Tapi tolong, jangan jatuh cinta sama si Gerald! Gue bisa gila kalau lo sampe bener-bener jadian sama dia.”


To be continue…


__ADS_2