Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
06. "Yang penting gue bisa lihat lo!"


__ADS_3

Perlahan, Aldevaro melepaskan genggaman tangannya pada Zeva ketika setibanya mereka di dalam gedung basket sekolah yang terlihat cukup ramai.


Permainannya masih belum digelar, namun penonton yang didominasi perempuan sudah stand by di tribun penonton. Melihat suasana yang cukup ramai itu sedikit membuat Zeva tidak nyaman. Gadis itu tidak mengenal siapa pun di sini, kecuali Aldevaro.


Zeva menarik ujung kaos Aldevaro saat cowok itu hendak pergi menghampiri seseorang di tribun paling bawah. Sontak perhatian Aldevaro langsung beralih pada Zeva yang terlihat enggan berada di tempatnya.


“Kenapa?” Aldevaro meraih tangan Zeva yang menarik kaos olahraganya. Tatapannya berubah lembut ketika menatap gadis yang tingginya hanya sampai sedadanya itu.


“Emm, gue gak nonton dulu aja, ya! Gue gak nyaman di sini,” Zeva sedikit menundukkan kepalanya dengan dahi yang mengerut dalam.


Jika kalian ingin tahu ada apa dengan Zeva, maka jawabannya adalah, Zeva fobia keramaian. Gadis itu akan merasa sesak dan tidak aman jika harus dihadapkan dengan keramaian seperti sekarang ini. Rasa-rasanya seperti, semua orang tengah memerhatikannya dengan tatapan kurang mengenakan.


Aldevaro terdiam sejenak ketika bayangan masa lalu di mana Zeva juga bersikap sama saat di keramaian terputar di benaknya.


Benar. Zeva tidak bisa berada di keramaian seperti ini. Waktu itu saja tubuh gadis itu langsung bergetar hebat akibat fobianya. Entah apa yang sudah terjadi pada hidup Zeva sampai membuatnya memiliki ketakutan seperti itu.


Tetapi, kapan lagi dirinya bisa memperlihatkan kehebatannya pada Zeva? Padahal tadi dirinya sudah begitu excited jika Zeva akan menonton pertandingannya.


“Em, kalau gitu, gue temenin nontonnya. Gimana?” Daripada tidak melihat Zeva sama sekali, Aldevaro lebih memilih mengalah kali ini. Salah satu tangannya pun lagi-lagi meraih tangan Zeva yang terasa berkeringat.


“Hah? Tapi ‘kan, bukannya elo yang mau tanding? Kenapa jadi nonton bareng?”


Aldevaro tampak berpikir sejenak. Selang berapa lama, cowok itu tersenyum lembut pada Zeva. “Gak pa-pa. Yang penting gue bisa lihat lo! Niat awal gue ‘kan, gue pengin pamer di depan lo. Kalau lo-nya gak nonton, buat apa gue main?” Ujarnya, sanggup membuat Zeva terdiam mematung.


“Ya udah, kita cari tempat duduknya yang cuman ada kita aja, gimana?” Aldevaro menarik pelan tangan Zeva, sehingga gadis itu dengan refleks berjalan mengikuti langkahnya.


Dan sampailah kedua remaja itu di tribun paling atas, di mana di tribun tersebut begitu kosong, karena kebanyakan penonton lebih dominan duduk di tribun paling bawah.


Aldevaro membukakan kursi tribun untuk ditempati Zeva. Dengan ragu, gadis itu lantas duduk di sana, tepat di samping Aldevaro.


Tak berapa lama kemudian, para pemain dari kedua tim basket mulai memasuki lapangan. Semua penonton lantas bersorak, namun tak berapa lama kemudian, teriakan tersebut berhenti saat seseorang yang mereka nanti-nanti, tak berada di daftar para pemain.


Melihat kegaduhan itu, perhatian Zeva lantas beralih pada Aldevaro yang terlihat begitu santai menatap ke arah lapangan.


“Var!” Sahut Zeva, sontak Aldevaro menoleh.


“Hm.”


“Main, gih! Dicariin tuh sama penontonnya,”


“Gak, ah. Tar lo pergi lagi. Gak mau gue,” Aldevaro bersidekap seraya menyandarkan punggungnya di kursi tribun. Dahinya tampak berkerut dengan bibirnya yang sedikit cemberut. Tanpa sadar tingkah imutnya mengundang tawa Zeva.


“Udah, buruan main! Gue gak pergi, deh, janji. Tapi dengan syarat, gue di sini aja nontonnya. Gimana?” Zeva berusaha meyakinkan cowok itu agar mau turun ke lapangan. Sempat Aldevaro terdiam sejenak seraya menimbang, tak berapa lama kemudian, salah satu tangan cowok itu terangkat mengusap pelan puncak kepala Zeva, membuatnya refleks mengerang.


“Janji, ya! Awas kalo ingkar! Tar gue susul ke kelas lo dan bilang kalau lo mantan gue.” Ujar Aldevaro. Senyuman miring lantas ia berikan sebelum cowok itu benar-benar melenggang dari hadapan Zeva.


Sedangkan Zeva, gadis itu sudah sangat dibuat salah tingkah oleh perlakuan hingga perkataan Aldevaro. Lagi-lagi jantungnya seolah berdisko hanya karena laki-laki itu.


“Bisa-bisanya gue punya mantan kayak Varo! Ah, gak tahu ah,” Zeva mengembungkan pipinya, masih sebal dengan perlakuan Aldevaro beberapa saat yang lalu.


Ketika perhatiannya kembali pada Aldevaro yang tengah menuruni tribun, teriakan histeris para siswi langsung tercipta saat itu juga. Zeva yang tadinya sibuk memandangi Aldevaro pun sontak terjengit dengan sesekali mengurut dada.


“Waseekkk! Pangeran kita dateng, gaes! Dari tadi kek lo!” Selorohan usil itu berasal dari mulut Reno, teman sekelasnya yang juga adalah ketua tim di pertandingan basket kali ini.


“Kemana aja tadi lo? Malah nyuruh si Sandi buat gantiin. Lo ‘kan tahu si Sandi amatiran, gimana sih?” Celotehan tersebut berasal dari Ergi. Sontak perhatian teman-teman satu tim lantas beralih menatapnya.


“Sorry! Gue lagi nemenin cewek gue tadi.” Ujar Aldevaro santai, tetapi malah membuat teman-temannya terkejut setengah mati.


“Cewek? Lo punya cewek?” pekik mereka, beruntung tak sampai terdengar ke tribun penonton.


“Proses menuju balikan,” balas Aldevaro. Seulas senyum misterius tiba-tiba terbit di wajahnya. Perhatiannya pun lantas beralih pada salah satu ujung tribun, tempat di mana Zeva tengah berada saat ini.


Di sana, terlihat Zeva dengan senyuman tulus tengah melambaikan tangannya pada Aldevaro. Teman-temannya yang melihat itu pun sontak melebarkan mulut mereka dengan fokus yang tak bisa beralih dari gadis yang tengah duduk sendirian di ujung tribun.


“Wanjer! Kayaknya bakalan ada yang berhasil balikan, nih. Adem banget senyumannya, yak,” Aden mengelap liurnya yang entah sejak kapan mulai menetes.

__ADS_1


“Huss! Ngomong dijaga. Pawangnya ngamuk entar,” ujar Reno. Tawanya langsung pecah diiringi tawa yang lain.


“Dah, dah! Pertandingannya sebentar lagi. Pokoknya kita harus menang! XII IPA 1 SEMANGATTT!” Ucap Andi heboh, yang juga dibalas demikian oleh teman-temannya yang lain.


****


Pertandingan bola basket telah usai, namun sedari menjadi penonton selama pertandingan berlangsung, Zeva sama sekali tidak paham dengan sistem point permainan itu. Dan lagi, selama pertandingan berlangsung, fokus Zeva hanya tertuju pada Aldevaro. Hanya Aldevaro.


Dan saat ini pun, anak kelas XII IPA 1 telah berhasil mengalahkan anak kelas XII IPA 5. Sudah cukup pertandingan kali ini membuat kedua kelas yang digadang-gadang tak bisa akur itu, diharuskan meluruskan perselisihan mereka.


“Udah, ya. Sesuai sama perjanjian awal, kalau kelas kita menang, kita semua gak boleh saling musuhan lagi.” Reno yang menjadi ketua tim basket di kelasnya, berkata tepat di depan kapten basket anak kelas XII IPA 5, Saga.


Saga yang notabene pendiam dan tidak mudah keras kepala pun mengakui kekalahan timnya. Salah satu tangannya terulur menghadap Reno, berharap cowok itu mau menjabat tangannya.


“Deal! Sekarang kita bukan lawan lagi, tapi kawan,” ujar Saga. Jabatan tangannya diterima oleh Reno. Tak berapa lama kemudian, teman-temannya yang lain ikut menjabat tangan satu-persatu tim lawan mereka dengan diiringi canda tawa.


Ya. Sekarang masalah mereka sudah diluruskan dengan baik-baik.


“Gue ke atas dulu, ya,” Aldevaro menyelak di antara teman-temannya yang lain. Membuat fokus kedua tim basket itu lantas beralih pada cowok jangkung itu.


“Mau ke mana, Al?” Sahut Saga, yang dibalas selorohan heboh oleh Reno, Andi, Aden, dan Ergi, yang paham dengan masud Aldevaro.


“Biasaaa… nyamperin mantannya diaaa!” Celetuk Ergi dengan suara yang cukup keras.


“Bacot lo!” Aldevaro mengacungkan jari tengahnya kepada Ergi tanpa sedikitpun menatap cowok itu.


Sementara itu, Zeva lagi-lagi dibuat deg-degan hanya karena cowok itu berjalan ke arahnya. Banyak pasang mata yang memerhatikan setiap gerak-gerik Aldevaro dengan tatapan memuja penuh harap.


Namun ketika menyadari bahwa cowok itu tengah berjalan mendekati seorang gadis yang tampak begitu asing, seketika satu gedung basket dibuat heboh! Apalagi senyuman laki-laki itu yang perdana dapat mereka lihat sejelas itu.


Sayangnya, senyuman itu hanya untuk seorang perempuan yang tak lain ialah Zeva.


“Gue keren, ‘kan?” Aldevaro memberikan tangannya tiba-tiba, berharap Zeva menerimanya.


Sialnya, banyak tatapan iri sekaligus benci mengarah pada Zeva saat ini, membuat gadis itu ragu untuk menerima uluran tangan Aldevaro.


“Pulang, yuk! Gue anter,”


“Lho? Tapi ‘kan, ini masih jam pelajaran? Emang boleh pulang?” Zeva mengikuti ke mana arah Adevaro berjalan, masih dengan tangannya yang digenggam oleh cowok itu.


“Lo gak tahu? Kemaren di grup sekolah ‘kan, ada pengumuman kalau hari ini sekolah cuman setengah hari. Gurunya lagi persiapan buat rapat orangtua besok,” ujar Aldevaro. Zeva tampak ber-oh ria seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Gitu, ya. Gue gak tahu,”


“Lo belum masuk grup WA sekolah?” Aldevaro lantas menghentikan langkah kakinya, membuat Zeva ikut berhenti. Kedua alisnya tampak berkerut dalam, dengan sepasang bola matanya yang agak menyipit akibat terpapar sinar matahari langsung.


“Belum.” Jawab Zeva seadanya. Toh, dirinya memang belum masuk grup apa-apa. Jadi, ya, begitulah.


Aldevaro mendengus kesal mendengar pengakuan dari Zeva. Tak berapa lama kemudian, cowok itu meraih ponselnya yang ia ambil dari saku celana. “Sini, gue masukkin. Tulis nomor lo!” Aldevaro memberikan ponselnya pada Zeva. Saat gadis itu hendak meraih ponsel Aldevaro, suara seseorang dari arah lain seketika menghentikan niatan serta mengalihkan atensi keduanya.


“Al!” Pekikan lembut itu tak lain berasal dari seorang gadis yang tengah berlari dari arah depan sana seraya mengembangkan senyum manisnya. Melihat hal itu, entah mengapa sudut hati Zeva sedikit tersentak. Dadanya mendadak sesak melihat senyuman tulus itu terukir hanya untuk Aldevaro.


“Al! Katanya kelas kita menang, ya? Duh, sorry, ya gue gak nontonin lo! Tapi do’a gue manjur, lho! Gue terus-terusan berdo’a supaya kelas kita menang, dan ternyata beneran menang! Seneng banget!” Ucap Diandra dipenuhi senyuman dan keceriaan, sampai tak menyadari, bahwa di antara mereka saat ini masih ada Zeva.


“Iya, gak pa-pa. Btw, emang lo ke mana aja sampe gak nontonin kelas kita tanding tadi?”


“Emm, gue sama anggota OSIS lagi rapat soal pelengseran anggota sekarang. Mereka juga lagi mikir-mikir buat milih calon terbaik yang bisa memimpin sekolah kita nanti. Apalagi anggota yang nyalonin sekarang kelihatannya masih kurang meyakinkan. Mana bentar lagi ada pemilihan ketua sama anggota OSIS yang baru, lagi. Duh…” Diandra tampak memijit pelipisnya yang terasa pening.


“Sabar. Semangat, ya!” ucap Aldevaro tulus.


Lagi, Zeva merasa tersisihkan saat ini. Daripada menjadi penonton di sana, lebih baik dirinya undur diri.


“Kalau gitu gue pulang duluan, ya, Var-”


“Eh, Al! Lo pulang sama siapa? Gue nebeng dong, kali ini aja! Si Gerald ngamuknya kumat lagi tuh, gak mau ngasih gue tebengan. Dasar ngeselin!” Diandra menyela ucapan Zeva yang belum sepenuhnya terucap.

__ADS_1


Entah itu sebuah ketidaksengajaan atau memang disengaja, Zeva benar-benar sedikit kesal karenanya. Namun, dirinya sadar akan di mana posisinya saat ini. Dirinya hanyalah ‘mantan pacar’, dan bukan siapa-siapa bagi Aldevaro.


“Gue duluan!” Ucapan itu Zeva berikan pada Aldevaro. Cowok itu yang sadar sudah melupakan kehadiran Zeva, refleks meraih pergelangan tangan gadis itu.


“Sorry, gue gak maksud buat-”


“Kok, minta maaf, sih? Emang lo punya salah apa sama gue? Gue ‘kan, cuma bilang mau pulang duluan. Emang salah, ya?” Zeva merutuki dirinya sendiri yang dengan emosi melontarkan kalimat tersebut.


Kalimat yang tak seharusnya diucapkan oleh Zeva yang hanya berstatuskan mantan pacar. Kesannya seperti, Zeva adalah pacar yang tengah merajuk pada Aldevaro.


Diandra yang baru menyadari kehadiran Zeva lantas mengerutkan keningnya. Hatinya mendadak kesal melihat kedekatan Aldevaro bersama gadis itu. Tanpa sadar kedua tangannya ikut terkepal di bawah sana.


“Maksud gue, lo ‘kan, pulang sama gue!”


“Gak usah! Rumah gue deket, kok. Mending lo anterin-”


“Diandra, gue duluan, ya! Sorry, gue gak bisa bareng lo! Gue udah janji mau anterin Zeva pulang. Yuk, Va!” Dengan sangat terburu-buru, Aldevaro menarik Zeva meninggalkan area gedung basket. Seolah jika dirinya lebih berlama lagi di sana, maka Zeva akan meninggalkannya.


“Eeh, Al! Lo mau ke mana?” Diandra mendengus sebal saat teriakannya tak digubris Aldevaro. Gadis itu kemudian menggeram dengan sesekali menendang botol bekas yang kebetulan berada tak jauh dari posisinya.


“Siapa sih tuh cewek? Ganggu aja perasaan.”


****


“Var, udah! Gue pulang sendiri aja, ya? Rumah gue deket, kok. Mending lo anterin cewek yang tadi. Kasian tahu, rumahnya pasti jauh.” Zeva terus-menerus rewel di sepanjang perjalanan menuju parkiran sekolah. Hal itu lantas membuat Aldevaro risih karena Zeva yang terus mengoceh tanpa henti.


“Lo kenapa, sih? Lo marah?” Aldevaro bersidekap di samping motornya yang terparkir rapi. Tatapan matanya pun tampak menyelidik saat netranya kembali bertemu dengan milik Zeva.


“Kenapa gue harus marah? Emang gue siapanya lo?” Gadis itu sedikit memelankan suaranya di akhir kalimat.


Sayangnya, Aldevaro mendengar semuanya.


“Nah, itu lo tahu! Udah, buruan naik! Parkiran sekarang udah sepi, yang lain udah pada pulang. Lo mau di sini sampe kapan?”


Zeva memalingkan wajahnya dengan bibirnya yang mengerucut sebal. “Gue mau pulang sendiri aja,”


Saat Zeva hendak melenggang, buru-buru Aldevaro mencegat langkahnya dengan berdiri menghadang gadis itu. Sontak hal itu membuat Zeva lantas mendongakkan kepalanya, menatap wajah Aldevao yang begitu jauh dari jangkauannya.


“Lo batu juga, ya! Pulangnya sama gue, Zeva Anindira!” Aldevaro kembali meraih tangan Zeva, namun langsung ditepis kasar olehnya.


“Gak mau, Aldevaro Wirathama! Gue mau pulang sendiriiii! Lo kenapa sih gak ngerti? Nyebelin banget sih, lo jadi mantan! Minggir!” Zeva memekik, tanpa sadar meluapkan emosinya. Hal tersebut membuat Aldevaro sedikit tertarik untuk kembali menggoda gadis itu, mantan pacarnya.


“Pulang sama gue, atau kita terus di sini dan gak pulang sama sekali. Itu sih terserah lo aja, maunya gimana.”


“Heh! Lo pikir gue bakal ngalah? No way! Gue mau pulang!” Saat Zeva hendak melenggang ke samping Aldevaro, cowok itu ternyata tidak menghentikan langkahnya. Hal tersebut membuat Zeva sedikit tenang, namun hanya bertahan sebentar.


Di detik berikutnya, cowok itu dengan berani mengangkat tubuh mungil Zeva yang tak seberapa. Zeva yang tubuhnya serasa terangkat pun refleks berteriak histeris. Kedua lengannya dengan spontan ia lingkarkan di leher Aldevaro.


“Varoooo! Turunin, gak? Lo apa-apaan, sih? Lo gak waras? Turunin gueee!”


“Sttt! Kalau lo teriak lagi, entar ada yang ngecek ke sini lagi. Tar ngiranya gue lagi berbuat mesum sama lo. Kalau entar ditanya, gue harus jawab apa coba? Masa gue bilang, kalau gue lagi godain mantan? ‘Kan gak lucu, Va!” Ucapan diiringi kekehan pelan Aldevaro yang tepat di wajah Zeva, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Jantungnya bahkan sudah sangat berpacu saat ini.


“Turunin!” Permohonan Zeva terdengar pelan kali ini, dan itu sanggup membuat Aldevaro semakin enggan untuk melepaskan Zeva.


“Kalau lo janji mau pulang sama gue, gue bakal turunin lo sekarang juga. Tapi kalau masih gak mau, gue gak keberatan kok, gendongin lo yang notabene adalah MANTAN GUE sekalipun,” Aldevaro menarik smirk-nya seraya menarikturunkan kedua alisnya. Entah keberanian darimana cowok itu sampai berani melakukan hal nekat begini pada Zeva. Intinya, Aldevaro tidak ingin Zeva meninggalkannya. Untuk kali ini saja, Aldevaro masih ingin berduaan dengan Zeva sebentar. Tidak peduli jika gadis itu merasa risih sekalipun.


“Gimana? Mau ‘kan, pulang sama gue?” Tanya Aldevaro untuk yang terakhir kalinya.


Dengan menarik napasnya dalam-dalam, Zeva kemudian mengangguk malas seraya berdeham pelan. “Hm.”


“Gimana? Gue gak denger!”


“Hmmm!”


“Hah!? Gue gak ngerti! Ngomongnya pake bahasa manusia dong, Va!”

__ADS_1


“Iiihhh! IYAAA, GUE MAU PULANG SAMA LOOOO!”


To be continue...


__ADS_2