Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
08. "Lo mau 'kan, balikan sama gue?"II


__ADS_3

“Var? Lo gak pa-pa?”


“Eh?! Gu-gue-”


“Lho? Masih pada belum berangkat? Katanya kalian mau jogging bareng,” suara sahutan dari ambang pintu rumah Zeva, membuat kedua remaja itu lantas menolehkan kepala mereka.


Melihat sang mama yang tampak tersenyum manis ke arah mereka berdua, tanpa sadar membuat Zeva langsung menjauhkan posisinya dari Aldevaro.


“Mama mau ke mana?” Tanya Zeva, bertepatan ketika Raya telah sepenuhnya berhadapan dengan Zeva dan Aldevaro.


“Mama mau ke warung bentar. Garem udah habis soalnya,”


“Mau saya anter, Tante?” Tawar Aldevaro tiba-tiba. Entah mengapa terdengar sangat lucu di telinga Raya, apalagi raut wajahnya yang tampak datar namun masih bisa dikategorikan tampan.


“Gak usah! Deket, kok. Tuh di sana! Mending sekarang kalian langsung aja. Keburu siang, entar malah panas, lho. Mama duluan, ya.” Pungkas Raya, terdengar sangat terburu-buru dalam mengatakan kalimatnya.


Entahlah, tapi di telinga Zeva, rasanya ucapan sang mama seperti tengah menyudutkan mereka untuk segera melakukan apa yang akan mereka lakukan pagi ini. Menyebalkan sekali.


Melihat Raya yang langsung melenggang begitu saja, sedikit membuat Aldevaro bingung harus bagaimana. Cowok itu bahkan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Tak berlangsung lama, perhatian Aldevaro lantas beralih pada Zeva yang terlihat tengah menghela napas di tempatnya.


“Mau sekarang aja?” Tanya Aldevaro tiba-tiba, yang kemudian langsung diangguki oleh Zeva.


“Naik motor?”


“Gak usah! ‘Kan niatnya mau jogging, masa naik motor, sih?” Zeva terkekeh dengan kepalanya yang menggeleng pelan.


Melihat Zeva yang terkekeh, kedua sudut bibir Aldevaro tanpa sadar ikut terangkat. Cowok itu membuang wajahnya dari Zeva, seraya memasang senyum yang semakin lama, semakin lebar.


“Ya udah kalau gitu.” Tanpa melirik Zeva sedikitpun, Aldevaro lantas meraih tangan Zeva dan menggenggamnya erat, layaknya sepasang kekasih.


Zeva sempat terpaku akan perlakuan dari Aldevaro yang selalu tiba-tiba itu. Sepasang bola matanya bahkan tak bisa beralih dari punggung lebar Aldevaro yang berjalan tepat di hadapannya.


“Ayo, katanya mau jogging? Masa jalan, sih,” Aldevaro menoleh sekilas ke arah Zeva, membuat gadis itu tersadar dengan apa yang tengah ia lakukan.


Dengan melepaskan terlebih dahulu genggaman tangan Aldevaro, Zeva kemudian menyejajarkan posisinya dengan laki-laki itu tepat di samping kirinya. Gadis itu mulai berjogging seperti Aldevaro yang sudah lebih dulu melakukannya.


Aldevaro terkekeh pelan seraya mengulum senyumannya. Tak berapa lama kemudian, dia mulai kembali meraih tangan Zeva dan menggenggamnya seperti semula.


“Kenapa malah lebih nyaman kayak gini, ya,” ujar Aldevaro. Senyumannya masih belum juga luntur dari wajahnya.


Sedangkan Zeva, gadis itu sudah dibuat dag-dig-dug tidak karuan akibat ulah Aldevaro dan juga mulutnya yang menjadi sering sekali berkata asal. Menyebalkan!


“Apaan sih? Gak usah modus, deh. Inget, Masnya cuma masa lalu.” Celetuk Zeva membuat Aldevaro semakin gencar menyunggingkan senyum dan tawanya.


“Kenapa emangnya kalo cuma masa lalu? Balikan lagi sama mantan udah mulai jadi trend lagi, lho, Mbak.” Balas Aldevaro, sengaja menirukan Zeva.


Zeva tertawa seraya mencoba melepaskan tangannya dari Aldevaro. Namun bukannya terlepas, cowok itu malah semakin mengeratkan genggamannya.


“Lepasin, ih! Tar ada yang lihat terus salah paham, gimana?”


“Ya udah, sih. Tinggal jelasin aja,”


“Gimana cara ngejelasinnya?”


Aldevaro tampak berpikir sejenak sembari terus berjogging bersama Zeva di sampingnya. “Ekhem. ‘Dia mantan saya, Pak, Bu.’ Gitu.” Ujar Aldevaro. Semakin membuat Zeva tidak tahan untuk tidak tertawa.


Ketika genggaman tangan cowok itu sedikit melonggar, buru-buru Zeva melepaskan tangannya, kemudian berlari meninggalkan Aldevaro yang menatapnya dengan sorot memelas.


“Tungguin gue, Va!” Teriak Aldevaro, kemudian berlari mengejar langkah Zeva yang telah lebih dulu meninggalkannya.


****


Aldevaro dan Zeva sontak membeku di tempat dengan raut wajah dingin terpasang di wajah mereka. Niat hati ingin berjogging di lapangan luas yang sempat dilihat oleh Aldevaro kemarin, kini niatan itu hanya akan menjadi sebuah angan belaka. Di mana di lapangan yang di pinggirannya terdapat banyak pepohonan rindang itu, tengah dipakai oleh sekumpulan ibu-ibu yang kebanyakan memakai pakaian olahraga. Dan sebagiannya pula ada yang memakai piyama dan daster.


Mau pada senam kah?


“Lapangannya mau dipake, Var,” lirih Zeva, tanpa melirik pada cowok itu.


“Mau pergi aja?” Aldevaro kembali meraih tangan Zeva dengan kepala yang mulai menoleh pada gadis itu. Spontan Zeva pun ikut menoleh pada Aldevaro dengan raut wajahnya yang tampak kecewa. Helaan napas pun lantas keluar dari mulutnya.


“Emm …”


“Hei, kalian berdua!” Sahutan yang terdengar cukup garang itu, seketika mengalihkan perhatian Zeva maupun Aldevaro. Ketika netra mereka menemukan sekumpulan ibu-ibu yang tengah menatap mereka dengan curiga, Zeva dan Aldevaro tanpa sadar menenggak ludah mereka.


“Kalian ngapain di sini pagi-pagi? Lagi pacaran, ya?” Teriak seorang ibu-ibu bertubuh gempal dengan hanya mengenakan pakaian daster bunga-bunga.


Sontak teriakan si ibu itu menghasilkan sebuah ghibah ke ibu-ibu yang lain yang mulai membicarakan mereka.


“Eng-gak!” Zeva berucap spontan dengan sepasang bola matanya yang membulat. Raut wajahnya tampak tegang, begitupun dengan Aldevaro yang berada di sebelahnya.


“Terus itu ngapain pada pegangan tangan segala?” Teriak salah seorang ibu-ibu yang lain yang mengenakan hijab, dan setelan olahraga yang terlihat begitu ketat di tubuhnya.


Perkataannya itu sontak membuat Zeva melepaskan tangannya dari Aldevaro. Gadis itu tersenyum canggung pada para ibu-ibu yang salah paham pada mereka.


“Kita gak pegangan tangan, kok. Ya, ‘kan, Var?” Zeva mendelik tajam menatap Aldevaro yang juga terlihat kaku di hadapan para ibu-ibu.


“Hah? Oh! I-iya, kita cuma-”


“Daripada bengong sambil pacaran, kalian mending ikut senam ke sini, ayok!”


“Anak muda jaman sekarang. Gak pagi, gak malem, pacaran aja bisanya.” Decak sebal para ibu-ibu, semakin membuat Zeva merasa tidak nyaman.

__ADS_1


“Gak usah, lain kali aja, Bu. Permisi.” Ucap Zeva, kemudian menarik Aldevaro agar keduanya dapat segera menjauh dari sana.


Berbagai sahutan terdengar dari belakang mereka, namun Zeva maupun Aldevaro memilih untuk tidak peduli. Keduanya dengan mempercepat langkah kaki, akhirnya telah sepenuhnya menjauh dari jangkauan para ibu-ibu senam.


****


“Sorry, ya. Jogging-nya gak jadi. Gue gak tahu kalo lapangannya ternyata lagi dipake,” Zeva memberengut dengan perasaan yang tidak nyaman.


Di sepanjang langkah mereka meninggalkan area lapangan, keduanya sibuk terdiam dengan berbagai lamunan masing-masing.


“Ya udah, sih, gak pa-pa. Yang penting tetep bisa sama lo,” ujar Adevaro, sedikit memelankan suaranya ketika mengatakan kalimat yang kedua.


“Yang penting apa?” Zeva yang kurang mendengar dengan cukup jelas pun bertanya seraya mengerutkan dahinya.


Bukannya menjawab, Aldevaro malah tersenyum tanpa melirik Zeva sedikitpun. Salah satu tangannya terangkat mengacak pelan puncak kepala gadis itu, membuatnya refleks mengerang.


“Enggak, gak ada apa-apa. Eh, itu bubur ayam bukan, sih?” Aldevaro sengaja mengalihkan topik mereka dengan menunjuk seorang penjual makanan beserta gerobaknya.


Zeva lantas ikut menjatuhkan perhatiannya pada apa yang ditunjuk Aldevaro. Kedua matanya menyipit dengan sesekali membaca dagangan apa yang tertulis di kaca gerobak tersebut.


“Keknya iya. Kenapa? Lo mau?” Zeva menoleh pada Aldevaro. Sedangkan cowok itu tampak berpikir dengan dahinya yang mengerut dalam.


“Kalau lo?” Tanya Aldevaro, balik bertanya.


Zeva meringis. Helaan napas gusar ia embuskan, membuat Aldevaro sedikit bingung maksud dari respon Zeva padanya.


“Gue gak bawa uang. ‘Kan niatnya kita mau jogging, bukan jajan.”


“Tapi mau?” Tanya cowok itu lagi, terdengar menuntut.


“Em-”


“Kelamaan. Udah, gue yang bayar, yuk!” Putus Aldevaro pada akhirnya. Tangan cowok itu lagi-lagi meraih tangan Zeva, dan menarik gadis itu mendekati penjual bubur ayam yang tengah dibicarakan.


Di tempatnya, Zeva merasa tidak nyaman. Aldevaro lagi-lagi bersikap seolah keduanya benar-benar begitu dekat. Hatinya tanpa sadar sudah dibuat luluh, namun Zeva teramat sadar siapa dirinya di sini.


Ingin bibirnya berkata menolak, namun hatinya malah berkata lain. Sehingga yang terjadi saat ini adalah, gadis itu ikut duduk bersama Aldevaro di bangku yang telah disiapkan penjual bubur keliling itu.


“Buburnya dua ya, Mas!” Ucap Aldevaro yang spontan diacungi jempol oleh penjualnya.


“Mau pake telor, Mas, Mbak?” Sang penjual bertanya seraya menyembulkan kepalanya dari balik gerobak.


Aldevaro tampak berpikir sejenak, dengan fokus yang tertuju pada Zeva yang terlihat tengah melamunkan sesuatu.


“Yang satunya pake, yang satunya lagi enggak.” Ujar Aldevaro, yang dibalas ‘siap’ oleh pedagang bubur itu.


Aldevaro menghela napas panjang dengan satu tangannya ia jadikan sebagai tumpuan untuk dagunya. Perhatiannya yang semula pada si penjual bubur, kini kembali pada Zeva. Gadis itu masih terlihat sama dengan sebelumnya, melamun.


“Va!” Sahut Aldevaro, membuat Zeva yang tengah terhanyut dalam lamunannya, seketika tersadar lalu menoleh.


Dahi Zeva refleks berkerut dengan bibirnya yang mengerucut. Pikirnya, Varo kenapa, sih? Emang ada yang lucu?


“Kenapa sih? Stres, ya?” Celetuk Zeva, seraya merotasikan kedua bola matanya.


“Muka lo lucu, Va! Tegang banget, kek, awal-awal ketemu mantan.” Ujar Aldevaro, masih tergelak di bangkunya


“Ya ‘kan, elo mantannya! Dasar gak sadar diri,”


“Oh, iya. Haha,”


“Iiih, berisik! Bisa diem gak?” Wajah Zeva sudah memerah menahan amarah. Aldevaro yang tertawa seperti inilah yang membuatnya berkali-kali lipat terlihat sangat menyebalkan.


“Sorry, sorry! Siapa suruh lo-nya lucu banget,”


Tak berapa lama kemudian, bubur ayam pesanan keduanya pun tiba. Si penjual tadi langsung menaruh masing-masing pesanan pelanggannya ke atas bangku, dikarenakan tidak ada meja di sana.


“Ini yang pake telor, sama ini yang enggak pake telor,”


“Eeh, yang pake telor harusnya punya saya, Mas!” Zeva menghentikan tangan sang penjual yang hendak menaruh mangkok buburnya di hadapan Zeva.


Sang penjual tampak terdiam sejenak dengan otak kecilnya yang terus berpikir.


“Ooh, yang pake telor punya Mbaknya?” Tanyanya, yang langsung diangguki oleh Zeva.


“Kirain punya Masnya,” si penjual itu kemudian menukar mangkok buburnya, kemudian melenggang dari hadapan sepasang remaja itu setelah dirasa selesai.


“Dia mah gak suka telor rebus yang ada di bubur, amis katanya,” Zeva mendengus di akhir kalimat yang ia lontarkan. Sontak hal itu mengundang perhatian Aldevaro yang hendak menyuapkan sesendok bubur ayam ke dalam mulutnya.


“Orang beneran bau amis, kok.” Cibir Aldevaro, kemudian memasukkan suapan buburnya yang sempat terjeda.


“Dih! Gini nih kalo anak konglomerat. Gak tahu rasa. Padahal gak amis sama sekali tuh,”


“Sembarangan gak tahu rasa! Heh, itu mah hidung lo aja yang mampet ketutupan upil. Udah tahu telor rebus di bubur tuh amis.”


Zeva spontan menimpuk punggung Aldevaro. Gadis itu hendak mengoceh, namun mulutnya penuh karena tengah mengunyah buburnya. Zeva pun mengerang kesal pada Aldevaro yang bisa-bisanya bicara seenak jidat.


“Iiih, kebiasaan deh! Bisa gak, sih, kalo lagi makan jangan ngomongin yang jorok? Ngeselin banget sih hidup lo!”


Aldevaro tak membalas ucapan Zeva. Cowok itu hanya menggerutu disela aktivitasnya menyendok bubur.


“Gitu aja baperan.” Gerutu cowok itu, tepat ketika dirinya baru saja memasukkan satu suapan lain ke dalam mulutnya.


Sementara Zeva yang mendengar dengan sangat jelas gerutuan cowok itu mulai tidak terima. Dengan kesal, gadis itu mencubit pinggang Aldevaro, membuatnya lantas mengaduh.

__ADS_1


“Shhh… pedes banget cubitannya, gila!”


“Gitu aja baperan.” Balas Zeva, sengaja meniru Aldevaro.


Di sisi lain, mas-mas penjual bubur itu tampak menggeleng-geleng kepala menyaksikan keributan kecil sepasang pasangan muda di hadapannya. Sumpah demi apa pun, dirinya teramat iri menyaksikan pertengkaran mereka.


Di usianya yang sudah kepala tiga, dirinya masih melajang. Kalah dengan anak muda tampan yang menjadi pembeli pertamanya di pagi yang masih sangat teduh ini.


“Nasib, nasib.” Gerutunya, seraya mengembuskan napas lelah, kemudian menjatuhkan dirinya di atas bangku.


****


“Va! Masih marah, ya,” Aldevaro mencolek bahu Zeva, namun malah langsung ditepis kasar poleh sang empunya.


“Gak tahu,” balasnya jengah, seraya mempercepat langkah kakinya.


“Udah dong marahnya. Ya?”


“Bodo amat,”


“Vaa,” panggil Aldevaro. Cowok itu sengaja berdiri di hadapan Zeva, sehingga langkahnya refleks terhenti.


Saat Zeva hendak melangkah ke kanan, Aldevaro menghalanginya. Saat Zeva hendak melangkah ke kiri, cowok itu lagi-lagi menghalangi jalannya. Spontan Zeva berdecak seraya mendesis, dengan sepasang bola mata yang menatap tajam Aldevaro.


“Jangan marah lagi,” Aldevaro menatap sendu Zeva yang tingginya hanya sampai sedadanya. Otomatis ketika menatap gadis itu, Aldevaro harus menunduk agar dapat melihat wajah Zeva yang marah karenanya.


Zeva tak menjawab. Gadis itu malah kembali mendengus seraya melipat kedua tangannya di dada. Kepalanya pun sengaja menengok ke samping, agar netranya tidak bersitatap dengan netra milik cowok itu.


“Va,”


“Hm.”


“Gue salah, ya?” Tanya cowok itu. Terdengar decakan sebal yang keluar dari mulut Zeva.


“Pikir aja sendiri,”


“Salahnya di mana?”


“Iih! Pikir sendiri lah,”


“Ya udah gue minta maaf. Jangan marah lagi tapi,”


“Emang tahu salahnya di mana?” Zeva mendongakkan kepalanya, menatap Aldevaro yang terlihat kicep di tempat.


“Karena gue ngomong-ngomong upil pas lo lagi makan?” Tebak Aldevaro. Ingin sekali Zeva meralat ucapan cowok itu, namun bisikan aneh yang entah dari mana, seolah menyadarkannya dari apa yang tengah ia lakukan pada cowok itu.


Kenapa gue jadi marah? Emangnya gue siapa?


“Ekhem. Ya-ya udah, gue gak marah lagi. Gue yang baperan.” Ucap Zeva pada akhirnya.


Sebenarnya, hal yang membuatnya sedikit merajuk pada Aldevaro adalah karena cowok itu yang mengatakan bahwa dirinya ‘baperan’. Entah mengapa sudut hatinya serasa teriris, padahal cowok itu hanya asal berbicara.


Dasar lo gak tahu diri! Maki Zeva pada dirinya sendiri dalam hati.


“Gitu dong. Baperan,” ujar Aldevaro, yang diiringi dengan tawa pelan.


Melihat Aldevaro yang tersenyum tulus padanya, Zeva pun ikut menyunggingkan senyumnya walau terpaksa. Ia tidak ingin mengundang banyak pertanyaan dalam otak Aldevaro.


Hening. Suasana di antara keduanya mendadak sunyi tanpa adanya obrolan lagi. Diam-diam Aldevaro melirik Zeva yang terlihat melamun. Kepalanya tampak sedikit menunduk, dengan sesekali menghela napas pendek.


Tanpa mengatakan apa-apa, Aldevaro meraih tangan Zeva yang tampak menganggur. Cowok itu pun saling menautkan jemari mereka, membuat Zeva dibuat tersentak dari lamunannya.


“Var?” Sahut Zeva. Tanpa menoleh, Aldevaro tersenyum manis dengan kepalanya yang agak menunduk. Tak berapa lama kemudian, cowok itu menolehkan kepalanya menatap Zeva dari samping.


“Gue harap, gue bisa selamanya genggam tangan lo kayak gini, Va,” ujar Aldevaro. Sontak Zeva menghentikan langkah kakinya dengan sepasang bola matanya yang agak melebar.


“Mak-sud-nya?”


Aldevaro sempat terdiam beberapa saat, dengan sesekali mencoba menelan ludahnya susah payah. “Gue masih sayang sama lo, Va. Seberusaha apa pun gue lupain lo, gue tetep gak bisa. Gue pengin kita kayak dulu lagi, Va.” Terang Aldevaro. Saat itu juga, Zeva langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Aldevaro.


Gadis itu gugup, dan ia bingung harus menjawab apa. Ucapan Aldevaro membuatnya merasakan senang sekaligus takut yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Tanpa Zeva minta, ingatannya tentang apa yang telah ia lakukan pada Aldevaro di masa lalu kembali bersinggah di kepalanya. Ucapan demi ucapan yang sempat ia lontarkan pada diri sendiri, bahwa dirinya tak layak memiliki Aldevaro, seolah segera menyadarkannya untuk tidak kembali menjalin hubungan dengan cowok itu.


Aldevaro terlalu baik untuk dirinya yang buruk.


“Va, jawab gue! Lo masih sayang juga ‘kan, sama gue?” Aldevaro kembali meraih tangan Zeva yang mendadak serasa berkeringat dingin. Dengan cepat gadis itu kembali menarik tangannya dari genggaman Aldevaro.


“Va-”


“Var!” Zeva memotong ucapan Aldevaro, membuat jantung cowok itu tiba-tiba berdegup kencang.


“Ya,” sebisa mungkin Aldevaro menjawab sahutan Zeva, walau dalam hati ia teramat gugup.


“Lo ngajak gue balikan?” Pertanyaan menjurus itu langsung menampar hati Aldevaro. Jantungnya pun kian berdegup kencang seiring dengan pertanyaan Zeva yang memenuhi kepalanya.


Dengan menarik napas dalam-dalam, Aldevaro mengangguk mantap. “Iya. Lo mau ‘kan, balikan sama gue?”


Zeva terdiam beberapa saat. Kedua bola matanya serasa memanas, sehingga tanpa dirinya sadari, setetes air mata luruh begitu saja. Dengan cepat gadis itu langsung menghapus jejaknya agar tak segera diketahui Aldevaro.


“Va-” Saat Aldevaro hendak berbicara, gadis itu segera memotongnya.


“Lupain gue, Var. Gue cuma masa lalu. Lo gak pantes dapetin gue yang udah pernah nyakitin hati lo. Lo pantes dapet yang lebih baik. Misalnya, cewek yang kemarin nyamperin lo. Jadi tolong, lupain gue.”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2