
Di waktu yang hampir bersamaan, seseorang ditemani sang pujaan hati, tampak berlari keluar dari dalam mobil menuju sebuah tempat resepsi pernikahan yang digelar outdoor, tepatnya di tengah hamparan luas perkebunan buah stroberi.
Ia yang sudah sangat rapi, berlari memasuki perkebunan stroberi yang telah dihias sedemikian rupa tersebut bersama sang kekasih, sampai membuat tatanan rambut serta pakaiannya dibuat sedikit kusut.
Sekitar lima menit mereka berdua terus berlari, kepala mereka mulai celingukan menatap sana-sini, hingga tatapan mata mereka terfokus pada sepasang pengantin yang tampak tersenyum bahagia di sebuah tempat yang dikhususkan. Helaan napas berat lantas keduanya embuskan.
"Ini ... akadnya udah?" Sahut Daniel, menatap sedih pemandangan penuh kebahagiaan di hadapannya.
Sebuah tepukan pedas tiba-tiba mendarat di salah satu punggungnya. Ketika menoleh, Jovanka atau yang akrab disapa Joy, adalah pelakunya.
"Elo sih! Dibilangin akad nikah mereka tuh hari ini jam 8! Elo malah bangun jam 9! Ya, mereka udah sahlah, b*go!"
"Biasa aja, gak usah toxic! Gue cowok lo," Daniel berucap dingin dengan nada rendah yang sanggup membuat Joy kelimpungan.
Semenjak berpacaran dengan Daniel, Joy jadi mengetahui beberapa hal yang tidak pernah terlihat dari cowok itu sebelumnya.
Pertama, sikap Daniel ternyata jauh lebih mengerikan pada saat termakan emosi. Tatapan matanya selalu berubah dalam dan menusuk, sampai terkadang, Joy lupa kalau yang berada di hadapannya adalah Daniel.
Kedua, jika sudah mengklaim kepemilikan, Daniel seolah kukuh dan terobsesi. Sama halnya ketika dia sudah mengklaim Joy sebagai miliknya. Joy tidak diperbolehkan dekat dengan cowok manapun, jikalau ia maupun cowok yang dekat dengannya ingin berada dalam zona aman.
Beberapa waktu lalu saja ketika Joy tidak sengaja berpelukan dengan seorang laki-laki yang notabene adalah kakak sepupunya, Daniel dengan lancang mendatangi Joy dan berbuat hampir seenaknya. Beruntung Daniel tidak sempat mendatangi sepupu Joy, karena Joy telah menjelaskan semuanya.
Walau demikian, sikap posesive over protective Daniel tidak berkurang. Ia bahkan seolah menjadi terobsesi dengan Joy, dan tidak mengijinkan gadis itu pergi dari sisinya.
Agak sedikit menyebalkan memang, tapi sialnya, sepenuh hatinya sudah diisi oleh nama cowok itu, Daniel Arsenio.
Di tempatnya, mati-matian Joy menahan pergerakan Daniel yang terus menerus berjalan ke arahnya. Jujur, Joy belum pernah setakut ini dengan laki-laki, dan Daniel adalah yang pertama.
"O-oke, sorry! Gue keceplosan! Nggak gitu lagi. Please!" Joy sudah sangat terhimpit oleh tubuh Daniel yang menjulang tinggi dan cukup berisi itu. Punggung kecilnya bahkan mulai membentur sebuah pagar besi yang sengaja dibiarkan terbuka lebar.
Seulas senyuman tipis tampak tercetak di wajah Daniel. Salah satu tangannya perlahan menyentuh permukaan kepala Joy dan mengacaknya pelan.
"Lo takut sama gue?" Pertanyaan itu sedikit membuat Joy bingung harus menjawab apa. Kalau ia menjawab jujur, apa yang akan Daniel perbuat padanya? Begitupun sebaliknya.
"Gue ..."
"Udah. Yuk, sapa mereka!"
****
"Wuidihh ... pengantin baru nih. Selamat, selamat!" Daniel berucap lantang, tepat ketika posisinya benar-benar berada di hadapan sepasang pengantin baru yang tak lain ialah Aldevaro dan Zeva.
Kedua remaja yang telah sepenuhnya sah menjadi pasangan suami istri itu tampak saling melempar senyum malu-malu. Sebuah kebahagiaan tampak tercetak jelas di wajah mereka.
"Gue tungguin dari tadi, eeh baru nyampe. Ke mana aja lo? Mojok lo berdua?" Perkataan Aldevaro yang pada dasarnya memang sekadar spontan, siapa sangka malah membuat Joy yang juga berada di sekitar mereka, dibuat gugup dengan sesekali menelan ludah. Beruntung, sepertinya tidak ada yang menyadari kegusaran gadis itu.
"Gak usah ngawur lo! Elo berdua kali yang entar malem bakal, ekhem!" Lirikan mata Daniel yang nakal, sanggup membuat Zeva kelimpungan di tempatnya. Wajahnya bahkan terasa memanas hanya karena ucapan ambigu yang dilontarkan Daniel teruntuk mereka berdua.
"Kenapa? Iri, ya?" Dengan berani level tinggi, Aldevaro menarik Zeva ke dalam pelukannya. Menatap sengit Daniel yang juga tengah balas menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Udah sah nih bos, senggol dong,"
"Sialan nih bocah! Ngeremehin gue,"
Aldevaro terkekeh geli menyaksikan reaksi Daniel yang diledek habis-habisan olehnya. Harusnya, yang diledek saat ini adalah Aldevaro. Tapi kenapa malah jadi Daniel?
"Udah, udah. Kalian udah pada makan belum?" Aldevaro bertanya penuh perhatian, namun sialnya malah dibalas decak sebal oleh Daniel.
"Dih, sok care! Belomlah, makanya kita masih di sini."
"Ya udah, lo berdua makan aja dulu. Kebetulan di sini kita juga sibuk,"
Daniel spontan mengerutkan kening dengan tatapan mata yang masih terfokus pada Aldevaro. "Sibuk? Sibuk jamu tamu?"
"Sibuk romantis-romantisan." Terang Aldevaro. Saat itu juga, emosi sudah menguasai diri Daniel. Dengan spontan ia meraih tangan Joy, hendak membawanya pergi dari hadapan Aldevaro dan Zeva.
"Anj*r! Auk ah, pulang!"
****
Hari telah menjelang malam, dan resepsi pernikahan telah sepenuhnya usai digelar. Saat ini, Zeva dan Aldevaro telah benar-benar sah menjadi pasangan suami istri, berada di dalam sebuah kamar hotel yang telah dipesan dari jauh-jauh hari.
Dengan pakaian yang telah berganti menjadi pakaian biasa, keduanya tiba-tiba sama-sama terdiam kaku saat memandangi sebuah tempat tidur yang didominasi berwarna putih.
Tempat tidur ukuran king size itu telah dihias oleh beberapa kelopak bunga mawar yang disusun berbentuk hati dan ditengahnya ditempatkan dua buah handuk yang juga sengaja dibentuk sepasang ekor angsa yang saling berhadapan.
Gimana, nih? Gue harus mulai dari mana? Aldevaro membatin sambil sesekali melirik Zeva yang terlihat menunduk malu di tempatnya.
"Ekhem. Kalau gitu ... Aku mau mandi dulu," dengan perasaan yang terasa kian menggebu, Aldevaro memilih jalan lain agar keduanya dapat bernapas dengan leluasa, walau hanya berjalan sementara.
Perlahan, perhatian Zeva yang awalnya menatap asal ke samping, kini mulai terfokus pada wajah Aldevaro yang entah mengapa terlihat semakin tampan dengan jakunnya yang tampak naik turun.
Tersadar akan sesuatu, Zeva lantas menggeleng-gelengkan kepala untuk mengenyahkan segala pemikiran aneh yang menjalar di kepala.
__ADS_1
"Oh. I-iya udah, Aku tunggu sini." Zeva memajam kuat sepasang bola matanya, dirasa salah dalam berkata.
Rasanya aneh dan ia juga gugup jika sewaktu-waktu Aldevaro meminta hal itu. Lalu, Zeva harus membalas bagaimana nanti?
Tanpa Zeva sadari, seulas senyuman tipis mulai menghiasi wajah Aldevaro. Perlahan, Aldevaro berjalan menghampiri Zeva. Menyentuh hangat permukaan tangan gadis itu yang telah berstatus sebagai istrinya.
"Va!" Suara Aldevaro yang terdengar rendah, memanggil nama Zeva hingga membuatnya perlahan membuka mata. Tatapannya langsung terkunci pada sepasang netra milik Aldevaro yang menatapnya begitu dalam. Perasaan gugup lagi-lagi mendominasi dirinya.
"I-iya?" Zeva menyahut pelan, hampir terdengar seperti sebuah gumaman.
Sebelum kembali melontarkan kalimatnya, Aldevaro menelan ludahnya susah payah, masih dengan perhatian yang tertuju pada raut wajah Zeva yang entah mengapa terasa seperti tengah menggodanya.
"Kamu ... takut?" Pertanyaan itu sukses membuat semburat merah muda lagi-lagi menghiasi kedua pipi Zeva.
Saat Zeva hendak memalingkan muka, Aldevaro mencegahnya dengan menarik tangan Zeva, dan membawanya untuk ia kecup punggung tangannya.
"Kalau Kamu takut, Aku bisa nunggu, kok. Aku gak keberatan malam ini kita enggak ... ekhem! Intinya, Aku ngehargain keputusan Kamu." Ucapan ambigu dari Aldevaro, sanggup membuat Zeva semakin berdebar dengan wajahnya yang kian bersemu.
Aduh ... gimana, ya? Gue 'kan udah janji sama diri gue sendiri! Tapi ...
Zeva menghentikan pergerakan Aldevaro yang hendak berlalu meninggalkannya. Tatapan mata gadis itu berubah melemah, membuat Aldevaro bertanya-tanya akan tatapan yang Zeva berikan saat ini.
Tanpa diduga-duga, di detik berikutnya, Zeva berjinjit ke arahnya, kemudian mengecup singkat permukaan bibir Aldevaro. Sontak hal itu membuat Aldevaro tertegun dengan sepasang netra yang terbelalak. Degup jantungnya bahkan kian berirama seiring dengan Zeva yang melakukan hal tak terduga.
Perlahan namun pasti, Zeva lantas mengalungkan kedua lengannya di leher Aldevaro. Menatap dengan penuh keberanian sepasang bola mata Aldevaro yang entah mengapa tatapannya semakin terlihat dalam dan menusuk. Mati-matian Zeva menahan gejolak serta desiran aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"A-aku ... serahin semuanya sama Kamu." Ungkap Zeva. Dan, ya. Tatapan yang dilayangkan Aldevaro padanya semakin terlihat berbeda.
"Kamu yakin?" Pertanyaan yang terdengar terburu-buru itu, membuat Zeva menelan ludahnya susah payah, kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Gak akan nyesel?" Kedua tangan Aldevaro yang sedari tadi tergantung, belum melakukan apa-apa, lantas bergerak menarik tubuh Zeva agar semakin menempel dengannya. Tak ayal, kedua tangannya mulai nakal mengusap sensual pinggang gadisnya yang telah benar-benar berstatuskan istrinya.
"Zeva percaya sama Varo."
Sial! Jawaban Zeva yang menyebutkan masing-masing nama mereka, terdengar seperti sebuah undangan untuk Aldevaro. Gejolak yang sedari tadi mati-matian Aldevaro tahan, pada akhirnya terlepas begitu saja.
Zeva, gadis itu sudah berhasil menggodanya.
"Sekarang kalau minta berhenti, gak akan Aku kabulin, Va. Aku tanya sekali lagi, Kamu yakin?"
Dengan menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, Zeva kembali mengangguk. "I love you, Var!"
Fine! Ungkapan cinta itu sudah cukup menjadi kode keras teruntuk Aldevaro. Tidak ingin menunggu lebih lama, Aldevaro lantas menggendong tubuh Zeva ala bridal style, lalu menurunkannya secara perlahan di atas tempat tidur.
Tatapan yang Aldevaro layangkan terlihat begitu mengkilat, seolah ada jiwa lain yang menguasai diri cowok itu.
Perlahan, Aldevaro melepas kecupannya, menatap dalam Zeva yang juga balas menatapnya dengan tatapan yang serupa.
"I love you, Va. And I'm starting now!"
****
Malam yang panjang, akhirnya mulai berganti pagi. Cahaya matahari seolah berusaha mengintip melalui celah-celah tirai yang membungkus jendela kaca di sebuah kamar hotel dengan sepasang insan muda-mudi yang berada di dalamnya.
Senyuman penuh kebahagiaan seolah masih belum juga luntur dari wajah Aldevaro, sedari ia terbangun beberapa puluh menit yang lalu. Tatapan mata yang ia layangkan pada raut wajah tenang Zeva yang masih terlelap di sebelahnya, tampak begitu lembut penuh kasih sayang.
Tidak pernah sekalipun ia bayangkan akan melakukan malam pertama bersama Zeva secepat itu. Jika diingat-ingat, Aldevaro yang biasanya kalem, berubah beringas tadi malam. Aldevaro jadi merasa bersalah pada Zeva.
"Cantik banget sih Istri Aku." Aldevaro bergumam pelan, namun gumamannya tersebut berhasil membangunkan Zeva. Gadis itu, em bukan. Istrinya tampak meregangkan otot-otot tubuh yang terasa begitu pegal, sampai pada akhirnya, sepasang bola matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Seulas senyuman lembut lantas terbit di wajah Zeva yang ia berikan teruntuk Aldevaro, suaminya. "Pagi!" Ucapan selamat pagi yang terdengar cukup serak itu, semakin membuat Aldevaro bersemangat.
Dengan manja, Aldevaro menarik pinggang ramping nan polos milik istrinya, lalu mendusel-duselkan kepalanya dengan sepasang bola mata yang ia pejamkan.
"Pagi juga, istriku!"
"Kok, tidur lagi?"
"Masih pengin manja sama istriku!"
"Dih!" Zeva lagi-lagi mengulum senyuman lembut, seraya mencoba mendorong dada bidang Aldevaro yang polos untuk sedikit menjauh darinya.
Sontak saja hal itu membuat Aldevaro menatapnya penuh tanya. "Kenapa?"
"Aku mau mandi, Var. Badan Aku lengket."
Seolah mendapat sebuah ide, buru-buru Aldevaro mengubah posisinya menjadi terduduk. "Mau bareng aja?"
"Enggak!"
"Tegas banget jawabnya." Tatapan penuh kekecewaan lantas Aldevaro perlihatkan. Sialnya, Zeva yang tadinya mencoba teguh pada pendirian untuk menolak Aldevaro dengan tegas, perlahan pendirian itu mulai melebur dengan sendirinya.
Mamanya pernah bilang, surganya seorang istri itu di telapak kaki suami. Jadi, apa pun yang diinginkan suami, harus dituruti. Tapi ...
__ADS_1
"Mau, ya?" Tatapan menyebalkan Aldevaro yang memelas, tanpa sadar dibalas dengusan pelan oleh Zeva.
"I-iya udah, tapi janji, gak boleh ngapa-ngapain!"
"Siap, Bu Komandan!" Tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi, Aldevaro mulai bangkit dari tempat tidur. Kemudian menggendong tubuh Zeva tanpa diminta. Jelas saja itu membuat Zeva refleks terpekik. Dengan spontan kedua lengannya ia kalungkan di leher Aldevaro.
****
Pagi hari yang begitu cerah, nyatanya sudah hampir terlewat. Pukul 9 terpampang nyata di ponsel Zeva. Raut wajahnya tampak cemberut, mengingat tadi pagi ketika tengah melakukan aktivitas mandi, Aldevaro yang berjanji tidak akan melakukan apa-apa padanya, nyatanya hanya sebuah janji.
Hampir satu jam Zeva dibuat lemas oleh cowok itu yang terus meminta lagi. Menyebalkan!
Pokoknya, semua cowok tuh sama aja! Gak bisa nepatin janji! Ngeselinnnn!
"Ayang-"
"Diem di situ!" Tatapan nyalang Zeva perlihatkan teruntuk Aldevaro yang baru saja selesai berganti pakaian.
Di tempatnya, dengan wajah tanpa dosa, Aldevaro menatap Zeva penuh tanya, seolah lupa dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap istrinya.
"Ada ... yang salah?"
"Enggak! Intinya, jangan deket-deket. Aku lagi males deket-deket sama Kamu." Jawaban Zeva yang ketus, membuat Aldevaro kelimpungan harus membalas seperti apa.
Pasti Zeva marah karena yang tadi!
Tapi, yah, salahkan imannya yang setipis kertas tisu jika sudah berhadapan dengan Zeva. Apalagi, kini keduanya sudah sah menjadi pasutri. Semakin membuat Aldevaro kian gesit untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Ayang ... marah nih, ceritanya?" Tidak ada balasan apa pun dari Zeva. Spontan Aldevaro menghela napas panjang, seraya berjalan ke arah istrinya yang masih cemberut, tengah mendudukkan diri di sebuah sofa panjang.
"Ya udah, Aku minta maaf. Maaf, ya? Kamu sih, cantiknya kebangetan. 'Kan, jadi gak tahan,"
"Kok, Kamu malah nyalahin Aku?" Raut wajah cemberut Zeva semakin terpampang jelas.
Sepertinya, Aldevaro salah lagi.
"Enggak gitu maksudnya,"
"Terus apa?" Tuntutan pertanyaan Zeva, sedikit membuat Aldevaro bingung harus menjawab apa.
Jujurly, yang tadi malam masih kurang. Tetapi mengingat ini kali pertama bagi keduanya, Aldevaro mengalah. Dan untuk yang tadi pagi, Aldevaro kebablasan. Bahkan dirinya lupa tidak pakai pengaman.
Mampus!
Bukankah sebentar lagi mereka mulai masuk kuliah? Kalau beneran jadi ...
Ekhem. Gaklah! Sekali doang, masa langsung jadi. Batin Aldevaro bermonolog.
"Ekhem. Gini aja deh. Sebagai permintaan maaf, Aku ajak Kamu jalan-jalan. Gimana?" Mencoba mengenyahkan segala kemungkinan yang terus menerus ia pikirkan, Aldevaro akhirnya memilih jalan lain untuk membujuk Zeva.
Tampak raut wajah cemberut Zeva yang berangsur-angsur membaik dan berganti menjadi raut penuh tanya. "Ke mana?"
"Istriku maunya ke mana?" Tanya Aldevaro, halus. Diiringi sentuhan hangat di puncak kepala Zeva.
"Terserah, yang penting seru."
"Ya udah. Mau langsung aja, apa ganti baju dulu?" Tanya Aldevaro lagi. Sempat Zeva berpikir sejenak menimbang-nimbang. "Hmm, langsung aja!"
"Ya udah, ayok! Dimaafin tapi, ya?"
"Ck, iya!"
Perlahan, keduanya mulai bangkit dari sofa. Sebelum benar-benar pergi, keduanya mulai mempersiapkan diri mengambil tas, handphone, kunci mobil, serta dompet.
Keduanya tidak membawa pakaian hangat dikarenakan waktu masih menjelang pagi menuju siang. Cuaca di luar bahkan seolah tengah mendukung Aldevaro untuk membujuk istrinya dan membawanya jalan-jalan ke luar.
Zeva Anindira. Perempuan yang dahulu dengan tega mencampakkannya demi tidak membuat Aldevaro semakin terluka akan kehidupannya yang tak lagi sama, kini berdiri di samping Aldevaro, menemaninya sebagai pasangan sehidup semati.
Perempuan yang teramat ia cintai di dunia setelah ibunya, telah sepenuhnya menjadi miliknya, Aldevaro Wirathama.
Baik kini, esok, ataupun nanti, Aldevaro tidak akan pernah melepaskan Zeva. Ia akan berusaha sekuat tenaga agar gadisnya tidak akan lagi pergi seperti yang pernah terjadi.
Tangan lentik ini, sampai kapan pun akan tetap Aldevaro genggam sepenuh hati. Dan mungkin di suatu hari, Aldevaro baru bisa melepaskan tangan Zeva bila ajal memisahkan mereka.
"Va!"
"Hm?"
"I love you!"
"Love you too!"
...~TAMAT~...
__ADS_1
*Lho! Ini beneran tamat nih, Kak Mey?
Iya, sayang~ udh tamat, ya ... Kurang greget? Tenang, masih akan ada ekstra part di beberapa chapter ke depan. So, jgn dulu dihapus dari daftar perpustakaan, ya. Love you♡ terima kasih sudah membaca sampai akhir. Loplop dari Mey tpi bkn Meymey-nya Susanti:*