
“Udah, lo diem! Gue lakuin ini bukan cuman demi lo! Tapi demi Gisha juga, adek lo yang udah lama meninggal.” Gerald sontak dibuat membatu ketika nama Gisha yang seolah telah dilupakan orang-orang, kini terucap kembali dari mulut Daniel yang dahulu pernah menjadi sahabat baiknya.
Di detik berikutnya, Gerald memalingkan wajah seraya mendengus. Untuk kali ini, ia akan membiarkan apa pun yang hendak dilakukan oleh Daniel.
“Oke, jadi begini, Pak! Sebenarnya, bisa dibilang Saya adalah saksi perkelahian antara Erwin dan Gerald,”
“Perkelahian? Bukannya Erwin diserang tiba-tiba oleh Gerald?” Tatapan Pak Regartha yang tajam, beralih pada sudut wajah Erwin yang tampak gelagapan.
“Eeh, Sa-saya beneran diserang, Pak! Ini wajah Saya buktinya!” Dalih Erwin, membuat Pak Regartha bingung akan mana yang benar dan yang salah.
“Kalau kamu memang saksi, lalu apakah kamu punya bukti jika Erwin dan Gerald sebenarnya berkelahi, dan bukan Gerald yang menyerang tiba-tiba?”
Seulas senyuman misterius terbit di wajah Daniel. Ketika laki-laki itu mengalihkan perhatiannya ke arah pintu ruang BK yang tertutup rapat, saat itu juga ia mulai menyahut untuk menginterupsi orang-orang yang berada di balik pintu tersebut. “Bawa masuk!”
Tak berapa lama setelah Daniel menyahut, dua orang laki-laki seumurannya membawa dua laki-laki lain dengan cara menyeret paksa keduanya agar segera masuk ke dalam. Raut wajah Erwin yang sebelumnya berusaha untuk tetap tenang, mendadak panas dingin saat mengetahui siapa yang dibawa oleh kedua laki-laki itu masuk ke dalam ruang BK.
“Joseph? Edgar? Ngapain lo berdua di sini?” Perlahan, Erwin bangkit dari posisinya, menatap penuh kalut akan hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Pak! Mereka berdua adalah kedua siswa yang juga berada di TKP. Mereka mencoba mengompori Gerald, dan itu semua suruhan dari Erwin,”
“Enggak! Enak aja lo asal ngomong! Lo bawa dua orang masuk ke sini sebagai saksi, bukan berarti mereka bener-bener saksi! Bisa aja ‘kan, elo yang nyogok mereka berdua buat jadi saksi tiruan?” Erwin yang tidak terima atas tuduhan dari Daniel pun mulai memperlihatkan kemarahannya. Dan sesekali, tatapan matanya akan menjurus pada Joseph dan Edgar yang terlihat begitu kaku di tempat.
“Saksi tiruan? Kenapa gue harus nyari saksi tiruan, sementara saksi aslinya ada di sini? Oh! Gue inget! Kalau gak salah, lo pernah nyari saksi tiruan buat menutupi kebusukan lo ‘kan?”
Skakmat!
Erwin benar-benar dibuat tak berkutik oleh ucapan Daniel selanjutnya. Gelagatnya pun tampak semakin mencurigakan, dan Pak Regartha menyadarinya.
“Heh! Lo berdua udah janji mau ngaku! Kenapa pada diem?” Daniel menggertak Joseph dan Edgar yang masih terdiam memaku di tempat.
Sempat terkejut beberapa saat, kedua laki-laki itu akhirnya bangkit dari posisinya dan beralih menghadap Pak Regartha.
“Ampun, Pak! Jangan hukum kita, Pak! Kita cuman suruhan! Kita gak tahu apa-apa!”
“Iya, Pak! Soal masalah hari ini juga Erwin yang nyuruh kita buat manas-manasin Gerald! Dan juga, Erwin sengaja gak ngebales balik, karena yang dia mau agar biar bisa ngeluarin Gerald dari sekolah, Pak!”
“I-iya, Pak! Soal masalah waktu camping tahun lalu juga! Sebenarnya bukan Vito yang ngelakuin itu ke Salsa! Tapi Erwin!”
“Sebentar!” Pak Regartha mulai kehilangan konsentrasinya akibat ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Joseph dan Edgar yang kelewat cepat.
Sementara itu, di tempatnya, Erwin semakin dibuat panas dingin akibat dengan kejujuran yang dilontarkan oleh mulut Edgar tentang kejadian tahun lalu. Sial!
“Kenapa, Win? Kedok udah mulai kebuka, lo mulai ngerasa takut?” Sahutan Daniel berhasil membuat Erwin tersadar dari lamunannya. Spontan tatapan matanya beraih pada Daniel yang menunggu dengan sabar akan Erwin sendiri yang membongkar kedok aslinya.
“Apaan sih lo! Siapa yang perk*sa Salsa? Bukan gue!”
“Heh! Yang bilang ‘perk*sa’ siapa? Gak ada yang ngomong gitu! Atau … jangan-jangan emang bukan si Vito lagi? Dan itu, sebenarnya elo, Win!” Gerald yang sedari tadi memilih diam menjadi penonton pun mulai kembali unjuk bicara menyudutkan Erwin. Seringaian puas seolah langsung terpatri di wajahnya.
“Gila! Ya-yang jelas bukan gue, soal apa pun itu! Udah terbukti semuanya salah si Vito! SI VITO! Ngapain lo nuduh-nuduh gue?”
“Biasa aja, Win, gak usah ngegas! Kelihatan banget kalau dalang dari pelecehan yang dialami Salsa waktu itu karena ulah lo, bukan Vito!” Daniel menatap nyalang Erwin yang semakin dibuat kaku di tempatnya. Saat hendak kembali berdalih, Daniel mengeluarkan sebuah berkas yang sedari tadi ia sembunyikan untuk ia berikan pada Pak Regartha.
“Semua bukti kejahatan Erwin ada di sini, Pak! Bapak bisa lihat selebihnya,”
****
“Eh! Lo udah tahu beritanya belum?”
“Apaan?”
“Itu lho, yang skandal waktu camping tahun kemarin, yang si Salsa itu,”
“Iya, tahu! Kenapa emangnya?”
“Si salsa hamil?”
“Bukan! Ternyata dalangnya bukan Si Vito, tapi Si Erwin!”
“Hah? Serius lo? Kata siapa?”
“Coba deh, kalian lihat situs resmi sekolah. Katanya, Si Erwin juga ketahuan pake obat-obatan terlarang gitu. Ihhh, serem banget, gak, sih?”
“Ya ampun! Gak nyangka banget! Ini serius?”
__ADS_1
“Duarius kalau bisa mah! Semua kedoknya dibuka tanpa ada yang kelewat sama si Daniel yang sering sama si Aldevaro itu, loh!”
“Ya ampun, ya ampunnn! Makin demen aja deh gue sama Daniel, awww! Dia belum punya cewek ‘kan?”
“Menurut rumor, sih, enggak ada. Cuman, ya, tuh cowok menurut rumor-rumornya banyak ceweknya, alias playboy!”
“Masis rumor! Belum tentu bener juga,”
“Eh, eh, eh! Itu Si Erwin!”
“Keluar dari ruang BK langsung dibawa sama anggota polisi dong!”
“Syukurin! Siapa suruh dia berengsek!”
“Stttt! Awas tar kedengeran sama orangnya,”
Seluruh siswa dan siswi SMA BIMA SAKTI mendadak saling bergosip sana-sini. Tatapan mencemooh yang mereka berikan pada sang pelaku tak terduga alias Erwin, membuat sang empunya dibuat memaku di tempat dengan kondisi kedua tangannya di borgol di belakang tubuhnya.
Sial! Apakah ini akhir dari perjalanan Erwin? Ia bahkan belum sempat membalaskan dendam pada Gerald, namun dirinya sudah mau dijebloskan ke penjara atas semua bukti-bukti yang selama ini terus berusaha ia sembunyikan.
Semuanya gara-gara Daniel!
“Awas lo, Daniel! Gue akan kembaliin semua penghinaan ini ke lo! Tunggu aja!” Erwin menggertak tajam, yang langsung dibalas kasar oleh beberapa anggota kepolisian yang menyuruhnya untuk kembali melanjutkan langkah kakinya sampai ke dalam mobil polisi.
Yang digertak sama sekali tidak bereraksi. Ia hanya diam dengan raut wajahnya yang datar. Sepeninggalan Erwin beserta anggota kepolisian, barulah Daniel melenggang dari tempatnya.
Baru beberapa langkah ia berjalan, Gerald berdiri menghadangnya. Sempat terjadi adu pandang beberapa saat, Gerald kemudian memutus pandangan itu, dan berjalan melalui tubuh Daniel tanpa mengatakan apa-apa.
Daniel menarik napasnya dalam-dalam, kemudian berbalik menatap punggung Gerald yang berjalan semakin menjauh menuju parkiran sekolah. “Maafin gue, Ger! Maaf karena ninggalin lo!”
****
Plak!
“Apa-apaan ini? Surat pemberitahuan diskor 3 hari? Kamu ingin mempermalukan keluarga ini sampai mana lagi, hah? Dasar anak durhaka! Apa kamu tidak tahu seberapa malunya Saya memiliki anak seperti kamu? Selalu bertengkar di sekolah, keluar masuk ruangan BK, nilai rapor di bawah rata-rata. Mau jadi apa kamu? Berandalan? Iya?” Irfan, sang papa, menatap nyalang Gerald, putra sulungnya dengan berapi-api. Ketika pria paruh baya itu hendak kembali melayangkan tamparannya, sang istri, Nia, berlari menghentikannya.
“Udah, Mas, Aku mohon! Jangan pukul Gerald lagi!” Nia mencengkram lengan Irfan dengan tangis yang mulai pecah.
“Lepas! Dia yang duluan membuat masalah! Anak seperti inilah yang harus diberi hukuman! Lihat sepupunya, Aldevaro! Apa dia pernah kedapatan bertengkar di sekolah? Memukul siswa lain? Masuk ruang BK? Dan diskor 3 hari? Tidak! Dia anaknya penurut, bukan seperti anak kita yang satu ini yang tidak pernah mengerti aturan!”
“Kamu gak boleh bicara seperti itu! Gerald-”
“Gak usah repot-repot, Mah! Bukannya dari dulu Mama gak pernah lihat Gerald? Kenapa sekarang sok-sokan peduli? Mending sekarang Mama peduliin anak kesayangan Mama, Si Diandra itu! Oke? Kalau udah, Saya pamit!” Selepas menengahi pembicaraan kedua orangtuanya, Gerald melenggang keluar dari dalam rumah, tanpa mau menghiraukan sahutan keras dan tangisan penuh dari Papa dan Mamanya.
“Bukan seperti itu, Gerald. Mama cuma-” tangis Nia kembali pecah ketika kembali mengingat hal apa saja yang mulai ia sadari telah dilakukan pada Gerald. Tubuhnya perlahan merosot ketika bayangan masa lalu di mana Gerald kecil yang menginginkan pelukannya, namun dengan kasar ia menolak keinginan kecil itu. Dalam hatinya pada saat itu, hanya ada Gisha, putrinya yang berkebutuhan khusus.
Ketika putrinya meninggal, ia malah buru-buru mencari pengganti untuk melupakan rasa sakitnya. Tanpa dirinya sadari, hal tersebut semakin membuat Gerald terluka.
Dan, ya. Nia pernah menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan Gerald sewaktu kecil yang membuatnya kian tersadar. Isi tulisannya kurang lebih seperti ini,
“Kalau Mama gak sayang Gerald, seenggaknya Mama sayang sama Gisha, karena Gerald sayang sama Gisha! Tapi … ternyata baik Gerald ataupun Gisha, Mama gak sayang keduanya.”
Parahnya, Nia menemukan kertas usang itu belum lama ini. Sekitar dua hari yang lalu. Dan, Nia menyesali semua yang pernah ia lakukan.
****
“Ger, lo mau ke mana!” Diandra menghentikan langkah Gerald, tepat ketika laki-laki itu tengah berusaha menaiki motornya.
“Bukan urusan lo!” Saat Gerald hendak memakai helm, Diandra lagi-lagi mencegahnya. Menarik Gerald agar turun dari atas motor KLX-nya.
“Bibir lo kenapa? Gue ambil dulu obat, ya,”
“Gak usah! Mending sekarang lo pergi dari hadapan gue. Gue benci lihat wajah sok polos lo!” Gerald mendorong tubuh Diandra, membuat tubuhnya hampir dibuat terjatuh.
Diandra terdiam menunduk meresapi semua deretan kalimat kebencian yang Gerald ungkapkan padanya. Tidak ada yang berubah. Gerald tetaplah Gerald yang selalu membencinya.
Saat Gerald hendak kembali melangkah menuju motornya, Diandra lagi-lagi mencoba menghentikan langkah laki-laki itu dengan berdiri tepat di hadapannya. Sepasang bola matanya bahkan tampak berkaca-kaca mencoba untuk tetap menahan tangis yang sudah hampir meluap.
“Apa-apaan lo? Minggir!” Sentakan Gerald, tak lantas membuat Diandra gentar.
“Bilang dulu, lo mau ke mana? Gue gak bisa biarin lo pergi gitu aja!” Diandra berpegang teguh pada pendiriannya untuk tetap berdiri di hadapan Gerald. Walau tubuhnya terasa bergetar hebat akibat tatapan dan sikap Gerald yang mengerikan, ia tetap mencoba untuk menahannya.
“Emang lo siapa berhak ngatur-ngatur hidup gue?” Diandra merasakan dadanya kian sesak saat kalimat tanya itu terlontar dari mulut Gerald.
__ADS_1
Mencoba menelan ludahnya susah payah, Diandra kemudian menjawab, “Gue saudara angkat lo!”
Dan, ya. Gerald berdecih pelan di tempatnya. “Cuman saudara angkat, dan lo berani ngatur-ngatur gue? Heh, lo sadar gak sih, gue gak pernah suka sama kehadiran lo di tengah keluarga gue! Lo tuh pengganggu, perusak, bahkan gara-gara lo, Nyokap gue dengan mudahnya lupain Gisha! Ngapain sih lo masih di sini? Mau cari muka sama siapa? Nyokap gue yang lo anggap penyelamat hidup lo dari kesengsaraan? Ngaca! Lo cuman pengganti yang udah merebut semuanya!”
Air mata yang sebelumnya mati-matian Diandra tampung, pada akhirnya luruh menerobos dari pelupuk matanya. Sakit, sungguh! Jika pada waktu itu Diandra tahu lebih awal bahwa kehadirannya hanyalah sebagai pengganti, Diandra tidak akan mau diadopsi oleh Nia dan Irfan.
Semua kebahagiaan yang ia terima dari kedua orangtua angkatnya, seolah menjadi luka paling dalam yang Gerald dapatkan. Beberapa bulan menjadi anggota baru di keluarga ini, dari sanalah Diandra mulai mengetahui dan paham mengapa Gerald, kakak angkatnya tidak pernah mau menerimanya.
“Kenapa? Gak terima? Gue lebih gak terima asal lo tahu!” Sepasang bola mata Gerald tampak menyipit tajam dan sedikit berkaca-kaca seolah menyiratkan beribu-ribu luka, ketika netra itu menatap dalam Diandra yang menangis karenanya.
“Maaf.” Gumam Diandra. Kepalanya tertunduk dalam, dengan tubuhnya yang kian bergetar akibat tangisannya. Sayangnya, Gerald berpura-pura tidak mendengarnya. Laki-laki itu malah memalingkan wajahnya dari Diandra. Kemudian melenggang dari hadapan Diandra dengan menaiki motornya.
****
“Lo … serius, Niel?” Aldevaro menatap wajah Daniel lekat-lekat, selepas mendengar semua ucapannya.
Sebelum Aldevaro menginjakkan kakinya ke dalam lobi apartemen, dari kejauhan terdengar suara derum motor diiringi suara sahutan yang teramat Aldevaro kenali. Dan benar saja, ketika Aldevaro menoleh, Daniel mulai menghentikan motornya di tempat parkir biasa.
Dan, ya. Laki-laki itu bercerita soal hari ini, di mana ketika berada di sekolah tadi, ia dengan nekad mengeluarkan semua bukti kebusukan Erwin. Padahal, Aldevaro sudah melarangnya untuk membiarkan Erwin. Karena bagaimanapun juga, semuanya akan berakhir sia-sia.
“Gue pikir, gue cuman denger gosip doang. Ternyata itu bener, ya,” Aldevaro kembali menyahut. Terdengar helaan napas panjang dari mulut Daniel.
“Mau gimana lagi? Seenggaknya, gue udah berbuat baik satu kali sama si Gerald. Bagaimanapun juga, dulu gue juga temen deketnya, sebelum dia mulai berubah menjadi orang lain.” Terang Daniel, terdengar pilu. Dan Aldevaro menyadarinya.
Tanpa sadar ingatannya melayang pada beberapa tahun silam ketika ia, Daniel, dan Gerald, dahulu adalah teman baik sewaktu SD. Mereka selalu bersama, suka maupun duka. Sayang, kebersamaan itu terhenti pada saat Gisha, adiknya Gerald meninggal. Tak sampai di sana, gosip soal sang ibu yang mengadopsi anak lain, disaat meninggalnya Gisha yang baru beberapa hari, membuat Gerald berubah menjadi orang lain yang kasar, tidak tahu aturan, dan pemberontak.
Padahal, Aldevaro dan Daniel waktu itu tahu betul, mengapa sikap Gerald dapat berubah sedrastis itu. Tetapi, entah karena waktu itu mereka masih terlalu muda dan tidak mengerti, atau karena apa, yang jelas, Aldevaro dan Daniel memilih pergi dari Gerald.
Pada waktu itu, Aldevaro masih ingat, kalimat seperti apa yang ia lontarkan pada Gerald yang bersikukuh ingin mengusir Diandra pergi. Sebuah kalimat singkat yang menyuruh Gerald untuk berhenti dengan rencana jahatnya, jika mereka masih tetap ingin berteman baik. Dan, ya. Gerald memilih untuk memutuskan pertemanan mereka waktu itu, dibandingkan harus menerima Diandra yang telah merusak keluarganya.
Sejak hari itu pun, Aldevaro dan Daniel benar-benar meninggalkan Gerald. Satu tahun kemudian, Aldevaro dan Daniel tak lagi hanya berdua. Datanglah Chiko, Theo dan William, yang menjadi teman baru mereka hingg saat ini.
Aldevaro menarik napasnya dalam-dalam dengan kepalanya yang mendongak menatap suramnya langit. “Apa … gue salah?” Gumam Aldevaro, yang turut dibalas helaan napas pula oleh Daniel.
“Gak tahu! Keknya, gue juga salah!”
“Apa jangan-jangan, Si Gerald semakin benci sama gue gara-gara gue selalu belain Diandra?” Gumam Aldevaro lagi. Lagi-lagi yang terdengar dari mulut Daniel adalah helaan napas.
“Tapi ‘kan, Diandra cewek! Gue cuman gak suka aja seorang cewek diganggu sampe segitunya sama cowok, apalagi itu si Gerald!”
“Terus, sekarang lo mau gimana? Si Gerald diskor 3 hari.” Terang Daniel, kembali mengingatkan akan point penting yang sedari tadi ia ceritakan tentang Gerald.
“Gue gak tahu! Dengan karakter Om Irfan yang keras dan Tante Nia yang gak peduli, gue rasa, Si Gerald bisa aja semakin tertekan.”
“Gue juga mikir gitu, sih,”
“Terus, masalah lo gimana tuh?”
“Emang gue ada masalah?” Daniel menatap kikuk pada Aldevaro yang kembali menatapnya, namun dengan tatapan yang berbeda.
Dengan malas, Aldevaro melipat kedua lengannya di depan dada. “Lo gak takut sama sekali sama Si Erwin?” Sahut Aldevaro, yang mulai dimengerti sedikit demi sedikit oleh Daniel.
“Kenapa gue harus takut? Sama-sama makan nasi, kok,”
“Enggak gitu maksud gue!”
“Iya, terus?” Daniel menaikkan salah satu alisnya, masih dengan perhatian yang terfokus pada Aldevaro.
Aldevaro menghela napas lelah, kemudian menoyor kepala Daniel hingga mengaduh. “Hati-hati! Keluarganya Si Erwin bukan keluarga sembarangan. Dia sekarang emang dijeblosin ke kantor polisi, tapi belum tentu juga dia masuk penjara. Secara ‘kan, ortunya banyak duit. Dan, lo!” Aldevaro menunjuk Daniel, sehingga dengan refleks Daniel pun turut menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa lagi sama gue?”
“Jaga diri lo baik-baik! Gue punya firasat kalau tuh anak bakalan bales dendam sama lo,” terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka berdua.
Detik selanjutnya, Daniel dengan manja bergelayut di lengan Aldevaro yang ia peluk tiba-tiba. Sementara sang empunya lengan dibuat syok dan ngeri di waktu yang bersamaan.
“So sweet banget sih lo, Al! Selingkuh sama gue, yuk! Gue rela,”
“Gue yang gak rela! Najis! Pergi lo!” Aldevaro refleks mendorong Daniel hampir membuatnya terjungkal. Bukannya marah, Daniel malah tertawa ngakak sembari memukuli bahu Aldevaro, padahal sang empunya mencoba menjauhkan diri.
“Santuy! Gue masih lurus, masih demen lobang, dibandingkan pedang! Maen sama lo? HARAM!”
To be continue…
__ADS_1