Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
46. EPILOG: Aldevaro POV


__ADS_3

Orang-orang pernah bilang, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Tetapi, ada juga yang bilang kalau jatuh cinta itu rumit. Sangat rumit.


Dan, ya. Sepertinya, Aku juga merasakan hal yang dikatakan oleh orang-orang tentang cinta.


Awalnya, hidupku masih biasa-biasa saja. Rasanya begitu menyebalkan, apalagi ketika mengingat kondisi kedua orang tuaku yang tidak pernah tampak akur.


Pernah sesekali. Hanya saja, mereka berdua lebih sering bertengkar dibandingkan dengan akur. Tentu saja, mereka bertengkar disaat Aku tidak ada.


Lantas, bagaimana Aku bisa tahu?


Karena ... Aku selalu mengintip di sela-sela pintu, terkadang juga bersembunyi di dalam lemari baju, atau bahkan ketika berada di dalam kamar berpura-pura tidur.


Jujur, Aku lelah. Hanya karena keegoisan Mama yang tidak pernah ingin mengalah, membuat pertengkaran senantiasa hadir di antara mereka.


Mama yang memiliki passion sebagai desainer hebat terkemuka, terkadang tidak pernah memiliki waktu untuk keluarga. Dan, Papa. Papa juga sibuk membangun bisnis ke kancah internasional, sehingga membuatnya jarang sekali berada di rumah.


Namun, Papa tidak seperti Mama yang selalu mengabaikanku, disaat beliau sendiri masih dikategorikan sebagai orang yang sibuk.


Papa selalu menyempatkan waktu untuk menemaniku bermain, walau hanya sebentar. Terkadang, Papa jugalah yang selalu memandikanku di waktu kecil. Papa dan Papa.


Mama? Memiliki sedikit waktu luang pun, beliau selalu tampak enggan untuk melihatku. Sampai pada akhirnya ketika Aku yang dahulu begitu ingin dimanja dan diperlakukan selayaknya anak-anak lain, perlahan mulai menjauh seperti yang diinginkan Mama.


Sikapku berubah dingin, dan bukan bertahan sementara.


Waktu terus berlalu sampai mungkin. Ya, masih mungkin. Mama merasakan bahwa dirinya telah benar-benar jauh dari diriku.


Berbagai cara terkadang terus ia lakukan untuk membujukku agar kembali padanya. Sayangnya, sikapku mulai memberontak pada saat itu, sehingga jarak di antara kami perlahan semakin menjauh.


Hah, sial! Padahal, waktu itu Aku sangat berharap Mama kembali membujukku dengan segala cara. Sayangnya, pekerjaannya jauh lebih penting dibandingkan Aku.


Lulus sekolah dasar tanpa mengetahui lebih dalam sehangat apa kasih sayang dari seorang Ibu, membuatku semakin menjauh dari sekitar.


Teman? Bahkan, Aku tidak punya. Hanya ada beberapa, itu pun berbeda sekolah denganku. Ada yang masih SD, ada juga yang seumuranku, tapi tetap saja Aku tidak nyaman. Aku sudah terbiasa termenung sendirian.


Sampai pada saatnya, waktu itu ketika Aku baru saja pulang dari sekolah, pemandangan tak biasa, terpampang jelas tepat di seberang rumahku.


Ada beberapa mobil bak yang mengangkut berbagai jenis barang dari mulai yang berukuran kecil, sedang, sampai yang berukuran besar.


Pikiranku saat itu hanya mengarah pada, oh ada tetangga baru.


Hanya itu.


Saat Aku hendak berlalu, sesuatu entah apa terasa mengganjal di salah satu kakiku. Ketika Aku mulai mengangkat kaki, sebuah boneka berukuran segenggam tangan orang dewasa, terinjak olehku tanpa disengaja.


Ketika mengambilnya dan sudah hampir membuangnya, seseorang dari arah lain tiba-tiba merebutnya. Membuat perhatianku lantas beralih pada sosok itu yang telah berhasil mengejutkanku.


Saat itu juga, sepasang bola mataku seolah terbuka lebar menatap seorang gadis kecil seumuranku yang terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang diikat satu.


Jujur, Aku tidak tahu apa arti dari perasaan aneh yang hinggap di dadaku pada waktu itu. Yang jelas, Aku tidak membenci dia, tapi dia malah yang membenciku karena telah mengotori barang miliknya.


Tidak sampai di sana, di hari-hari berikutnya, Aku mencoba mendatangi gadis itu untuk meminta maaf. Sayangnya, tidak semudah itu. Gadis itu begitu jutek, dan selalu tampak enggan ketika Aku berusaha untuk mengakrabkan diri.


Sampai pada satu peristiwa, sikapnya perlahan mulai berubah.


Waktu itu, dia terjatuh dari atas sepeda. Rem sepedanya blong, mengakibatkan sepedanya oleng sampai menabrak pohon. Lututnya sedikit cedera, dan kebetulan Aku yang menjadi saksi, langsung saja berlari dan menolongnya.


Aku masih ingat bagaimana raut wajahnya yang penuh air mata saat darah perlahan menetes dari salah satu lututnya. Sangat lucu namun juga kasihan.


Dengan penuh keberanian, Aku menggendongnya di atas punggungku sampai ke dalam rumahnya. Di perjalanan menuju rumah, Aku tak membiarkan diriku kehilangan kesempatan untuk meminta maaf sekaligus berkenalan dengannya.


Dan, ya. Dimulai dari sejak hari itu, Aku memanggilnya dengan panggilan, Zeva.


Zeva Anindira, usia 13 tahun. Seumuran denganku. Bedanya, Aku lahir di tanggal 8 Maret 2004. Sedangkan Zeva, kalau tidak salah ingat di tanggal 17 September 2004.


Seumuranlah, ya. Hanya beda beberapa bulan saja.


Walau pada saat itu kami tidak satu sekolah, tetapi, kami menjadi sahabat yang cukup akrab. Aku maupun Zeva sering keluar masuk rumah masing-masing di hari libur sekolah.


Hidupku yang abu-abu, perlahan mulai berwarna, dan semuanya karena Zeva.


Tiga tahun lamanya bersahabat dengan Zeva, membuatku tersadar akan satu hal yang selama ini terus mengganjal hatiku.


Ya. Aku menyukai Zeva.


Dengan bermodalkan keberanian sekaligus nasihat dari teman ke teman, Aku mencoba mengajak Zeva berpacaran tepat ketika waktu itu Aku baru saja diterima masuk di salah satu SMA paling bergengsi di ibukota.


Ya, bisa dibilang, masih sangat muda. Usia 15 atau 16? Entahlah.


Waktu itu, tepat ketika kami masih menikmati hari libur, Aku mengajak Zeva untuk jogging bersama di alun-alun ibukota.


Kebetulan pada saat itu tengah ada sebuah acara di sana. Membuatku jadi tidak terlalu pusing memikirkan alasan apa jika sewaktu-waktu Zeva menolak ajakanku.


Beruntungnya, Zeva menerima ajakanku pada waktu itu. Rencana pertama untuk menembak Zeva, sukses. Oke! Tinggal beberapa langkah lagi.

__ADS_1


Tepat di hari H, selepas berjogging, Aku mengajak Zeva untuk beristirahat di sebuah bangku yang kebetulan cukup jauh dari keramaian. Sempat beberapa saat terjadi kecanggungan, sampai salah satu tanganku mulai menyentuh permukaan punggung tangan Zeva dengan cukup berani.


Saat itu, tatapan kami bertemu. Degup jantungku seolah semakin berirama kencang, seiring dengan kami yang terus saling pandang.


Mencoba untuk mempersingkat waktu, Aku pun mulai membuka obrolan basa-basi terlebih dahulu. Sampai di obrolan ke dua, barulah Aku mulai mengutarakan perasaanku.


Terjadi keheningan cukup lama, membuatku berpikir satu kemungkinan yang ada, bahwa Zeva akan menolak perasaanku.


Siapa yang tahu, jawaban spontan yang Zeva lontarkan, nyatanya sanggup membuatku terkejut hampir tidak percaya.


Bisa dibilang, ya, Zeva menerima cintaku.


Mantap!


Berarti selama ini, Aku tidak sedang jatuh cinta sendirian 'kan?


Ah, rasanya Aku ingin mengulang waktu. Ingin sekali Aku pergi ke masa-masa itu, di mana masih belum ada masalah di antara kita.


Sayang sekali, kita kurang berjodoh waktu itu. Hubungan cinta kita bahkan tidak bertahan lebih dari satu bulan. Zeva pergi begitu saja tanpa sebuah kepastian bersama dengan kenangan indah yang turut dibawa pergi.


Perasaan kesal itu tentu saja tidak bisa dibohongi. Rasanya begitu sakit jika harus melihat ke belakang, di mana dengan teganya Zeva pergi meniggalkanku.


Tidak bisakah sedikit memberikanku penjelasan tentang apa yang terjadi hari itu?


Apakah sesulit itu?


Namun, semua kekesalan dan rasa sakit itu perlahan mulai Aku lupakan seiring dengan waktu yang terus berjalan.


Kisah cintaku yang gagal pada waktu itu menyadarkanku bahwa jatuh cinta, tidak selamanya selalu indah.


Sampai ketika Aku hampir melupakan segalanya, Zeva kembali ke hadapanku setelah kurang lebih dua tahun lamanya dia tidak pernah menampakkan diri.


Semuanya serasa mimpi yang datang di pagi hari. Terasa tidak nyata, namun itulah yang terjadi.


Zeva. Gadis yang dahulu teramat kucintai sepenuh hati, namun malah meninggalkanku pergi, kini berdiri dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan dua tahun yang lalu.


Wajahnya yang dahulu begitu polos, kini terlihat begitu dewasa dengan postur tubuhnya yang lumayan cukup tinggi untuk dikategorikan perempuan.


Aku bahkan sempat terhanyut beberapa saat akan perubahannya, namun bisikan aneh yang entah datang dari mana, menyadarkanku untuk tidak lagi menaruh hati pada Zeva.


Amarah dalam diri yang telah begitu lama terkubur, tiba-tiba meluap dengan sendirinya.


Tanpa membalas sapaan basa-basi dari Zeva, Aku memilih melenggang begitu saja. Membawa rasa sakit hati yang sejak saat itu terus bermunculan.


Sialnya, balas dendam yang nafsuku maksud, lagi-lagi tidak berjalan semestinya. Perasaanku yang lain dengan lemah berkata, bahwa Aku masih sangat menginginkan Zeva.


Balas dendam? Mulai perlahan Aku lupakan. Tetapi siapa sangka, hal itu justru menjadi bumerang tersendiri, disaat Aku ingin benar-benar merombak hubunganku dengan Zeva seperti dulu.


Zeva salah paham akan rencana awalku. Memang tidak sepenuhnya sebuah kesalahpahaman, namun hal itu memang sudah Aku enyahkan jauh-jauh.


Sekali lagi, Aku kehilangan cintaku.


Seolah frustasi, Aku akhirnya mengalah untuk benar-benar melepaskan Zeva. Sialnya, namanya sudah sangat melekat dalam dada. Sampai pada saat hubungan kami benar-benar jelas bukan lagi siapa-siapa, Aku masih setia memajang potretnya untuk dijadikan wallpaper ponsel.


Zeva ...


Aku minta maaf!


Aku mohon, kembalilah!


Aku janji, Aku tidak akan mempermainkan Kamu ...


Terlambat. Semuanya sudah terlambat. Seiring dengan Zeva yang terus menjauh, ia juga akhir-akhir itu sering berdekatan dengan Gerald, sepupuku sendiri.


Jujur. Dalam hati yang terdalam, Aku teramat tak suka melihat Zeva secepat itu sudah melupakanku dan beralih pada Gerald, padahal dia sendiri tahu betul, Gerald selalu memusuhiku.


Sempat terjadi sebuah kesalahpahaman lain, Aku pun memilih jalan pintas untuk menetralisir rasa sakit yang terus menerus Aku terima.


Dimulai dari sakit akan Mama dan Papa yang memutuskan bercerai, pun Zeva yang sepertinya telah benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Gerald.


Sial, sial, sial!


Kenapa dunia begitu tega menghancurkan hidupku? Haruskah Aku pergi dari sini dan memulai kehidupan yang baru?


Tetapi, separuh hidupku ada pada Zeva. Namun dia, malah menyerahkan hatinya pada laki-laki lain.


Minum di sebuah bar yang padahal Aku sendiri tidak pernah sekalipun melakukannya seumur hidupku, menjadi jalan pintas untuk saat itu.


Benar kata orang. Dengan alkohol, setidaknya Aku tidak perlu terlalu peduli untuk sementara waktu dengan rasa sakit yang terus menggerogoti hatiku.


Sialnya, karena alkohol jugalah, Aku hampir menodai perempuan yang Aku cintai.


Siapa lagi kalau gadis itu tak lain ialah Zeva?

__ADS_1


Malam itu, Aku benar-benar kesal pada diriku sendiri yang bisa-bisanya tergoda oleh sebuah nafsu sialan!


Jika saja Zeva tidak segera menghentikanku, mungkin, sebuah tragedi benar-benar akan terjadi. Dan mungkin, Zeva tidak akan pernah mau memaafkanku.


Luka, luka dan luka. Perlahan mulai terurai sedikit demi sedikit dengan lebih banyaknya komunikasi di antara kami.


Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk saling memaafkan dan memilih untuk kembali bersama seperti sedia kala.


Tentunya, setelah meluruskan semua kesalahpahaman rumit yang terjadi, barulah kami memutuskan untuk kembali.


Perasaan sendu yang berlarut-larut telah kami lalui, namun sialnya, sebuah tragedi yang menimpa seseorang di sekitar kami, membuat perasaan bahagia itu luntur dalam sekejap mata.


Gerald, sepupu yang selalu memusuhiku dari sejak kecil, pun orang yang Aku benci dengan alasan yang masih belum tahu pasti, pergi meninggalkan dunia begitu saja dengan meninggalkan sebuah tanggung jawab yang begitu besar.


Tidak pernah Aku sangka jika Gerald sudah bertindak sejauh itu, sampai membuat seorang gadis yang Aku kira pendiam, mengakui diri tengah berbadan dua, dan itu adalah darah daging dari Gerald.


Seolah masih belum cukup, takdir lagi-lagi menghukum sepasang remaja itu dengan memisahkan dunia mereka.


Belum sempat mendapat keadilan untuk apa yang telah diterima gadis itu, Gerald sudah lebih dulu dipanggil Tuhan untuk selamanya.


Wasiatnya sebelum benar-benar pergi adalah, memintaku untuk menjadi ayah angkat dari calon anaknya.


Aku yang bingung pada saat itu hanya bisa mengiyakan tanda menyanggupi. Setelahnya, Gerald benar-benar pergi.


Sial. Secepat inikah Gerald harus pergi? Padahal, masih banyak kesalahpahaman di antara kami yang belum diluruskan.


Namun, sebagai bentuk penghormatan terakhir pada seseorang yang dahulu pernah dekat dengan Gerald, Aku memutuskan untuk memaafkannya.


Beristirahatlah dengan tenang, Sobat. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk calon anakmu nanti.


Menghela napas sesaat, sejak kepergian Gerald, Aku semakin belajar lagi tentang arti hidup yang sesungguhnya.


"Janganlah sekali-kali menyia-nyiakan hidup jika tidak ingin berakhir menyedihkan."


Sampai, hatiku yang pada awalnya ragu, akhirnya mendapat sebuah titik terang untuk hubunganku dan Zeva.


Aku ingin menikahi Zeva atas dasar tekad dan cinta. Bukan karena Kakek yang pernah berkata dan memintaku untuk melakukannya.


Aku benar-benar tidak ingin kehilangan Zeva, seperti Abhigail yang kehilangan Gerald untuk selamanya.


Namun, akankah Zeva mau menikah denganku di usia kami yang masih belasan tahun ini?


Diluar dugaan, Zeva menerima pinanganku. Tanpa sedikit pun rasa ragu, Zeva memakai cincin pemberian dariku di salah satu jemari lentiknya. Senyum di bibirnya tampak begitu merekah, seolah ia benar-benar yakin dengan pilihannya untuk menikah denganku.


Waktu terus berjalan, hari kelulusan pun telah terlewati dengan penuh rasa haru. Dan, ya. Tepat setelah hari kelulusan, kami berdua melaksanakan acara pertemuan keluarga untuk memproses acara sakral yang akan dilangsungkan pada bulan depan.


Di sana, kami dan seluruh anggota keluarga besar tampak tertawa riang nan ceria. Walaupun pada kenyataannya Mama dan Papa sudah resmi bercerai, tetapi mereka berdua masih menjaga keharmonisan satu sama lain.


Begitupula dengan Zeva.


Zeva yang awalnya masih memiliki masa lalu yang belum tertuntaskan dengan sang papa, di hari yang berbahagia itu, mereka memulai kehidupan baru dengan saling memaafkan satu sama lain.


Rasanya sungguh mengharukan. Sampai tanpa sadar, hari pernikahan antara Aku, Aldevaro Wirathama, bersama dengan gadis pilihanku, Zeva Anindira, benar-benar berada di depan mata.


Sebelum benar-benar akan mengucap kalimat sakral, perasaanku sudah begitu kacau akan satu hal tentang kemungkinan besar akan salah dalam pengucapan.


Lagi-lagi Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Papaku yang posisinya tepat duduk di belakangku terus memberikan semangat agar Aku tetap tenang dan fokus.


Beberapa menit berlalu, Zeva yang ditemani oleh kedua orang tuanya, mulai berjalan menghadapku. Pesonanya begitu cantik sekali dan amat sangat manglingi.


Kebaya bernuansa putih khas Jawa Barat, tampak begitu indah melekat di tubuhnya yang langsing. Wajahnya pun tampak begitu berseri nan ayu dengan polesan make up tipis-tipis serta siger khas Sunda yang terpasang kokoh di kepalanya.


Sungguh sebuah pemandangan indah sampai membuatku tanpa sadar dibuat memaku, hampir tak berkedip.


Beberapa saat berlalu begitu saja, sampai tiba di mana Aku menjabat tangan calon papa mertuaku. Mengucap ijab qabul dengan maksud menyerahkan putrinya padaku sebagai seorang istri.


Jujur, jantungku berdegup sangat kencang waktu itu. Aku takut salah berbicara. Tetapi, beruntungnya Aku benar-benar lancar dalam pengucapan. Suara dari bapak penghulu yang mengatakan kata "sah" yang juga disambut antusias oleh para saksi dan tamu undangan yang berada di tempat yang sama, membuatku tanpa sadar bernapas lega.


Dalam hatiku yang terdalam, Aku berucap dengan penuh rasa haru; Zeva telah menjadi istriku.


Kini, tepat satu minggu setelah hari pernikahan, Aku menatap raut wajah Zeva yang tampak masih terlelap dalam tidurnya. Raut wajahnya begitu tenang. Terdengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa Zeva benar-benar tertidur lelap.


Perlahan, kubuka jendela kaca lebar-lebar yang berada di dalam kamar apartemenku. Kurang dari seminggu ini, Aku menempati apartemen ini bersama dengan perempuan yang Aku cintai.


Banyak hal positif yang terjadi. Membuatku terkadang enggan untuk pergi meninggalkannya walau hanya sedetik.


Tepat di tengah malam berbintang yang menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh menit ini, Aku menuliskan deretan kalimat dalam sebuah buku yang kuberi judul; 'My Firts and My Last'.


Sebuah buku diary yang juga terselip beberapa lembar foto di dalamnya. Semua kisah tentang Aku dan Zeva tertulis lengkap di sana. Bahkan, sudah lebih dari sepuluh halaman Aku menulis di buku itu.


Aku pikir, Aku harus menuliskannya di sana. Agar Aku dapat mengenangnya suatu hari, ketika keluarga kecil kami mungkin telah kedatangan seorang malaikat kecil yang akan bertanya tentang masa lalu kami berdua.


"Selamat mimpi indah, Zeva Istriku."

__ADS_1


__ADS_2