
“Sama-sama,” Aldevaro berujar spontan, kala Zeva telah sepenuhnya turun dari atas motornya dan hanya terdiam dengan bibirnya yang cemberut.
“Dih! Makasih, ya,” ujar Zeva, seraya memasang senyuman palsu. Hal itu lantas membuat Aldevaro semakin tidak tahan untuk sekadar menahan tawanya di depan Zeva.
“Iya, ‘kan, gue udah bilang ‘sama-sama’ tadi,”
“Terserah. Pulang, gih! Gue mau-”
“Lo ngusir? Gini-gini gue pernah jadi pacar lo, Va!” Potong Aldevaro. Membuat Zeva seketika melebarkan mulutnya.
“Iya, terus?”
“Gue pernah jadi orang yang berarti di hidup lo, dan lo juga pernah cinta sama gue. Tawarin apa dulu, kek, sebelum gue pulang.” Terang Aldevaro, entah mengapa begitu menyebalkan di telinga Zeva.
Dasar mantan gak tahu malu! Seenak jidat ngomong begitu di depan rumah orang.
“Gini, ya, Var! Maksud gue barusan tuh baik, bukan mau ngusir MANTAN yang nyebelinnya minta ampun kayak lo dari halaman rumah gue. Gue cuma mau ngingetin, langit udah mendung, gimana kalau keburu hujan? Mendingan sekarang lo pulang sebelum hujan turun, itu maksud gue.” Jelas Zeva, sengaja menggunakan nada suara yang manis dan bukan yang ngegas agar cowok di hadapannya ini tidak lagi bawel seperti barusan.
Bukannya balas menjawab perkataan Zeva, Aldevaro malah cekikikan sendiri di atas motornya dengan salah satu tangannya yang ia gunakan untuk menutupi sebagian lubang hidung dan mulutnya. Melihat hal itu, Zeva semakin dibuat sebal oleh cowok itu.
Tak berapa lama kemudian, Aldevaro menghentikan aksi cekikikannya dengan berdeham sekali. Tak berapa lama kemudian, perhatian cowok itu kembali pada Zeva yang tampak dongkol di tempatnya.
“Gue cuma bercanda kali, Va. Sensi banget, sih,”
“Terserah.” Saat Zeva hendak melenggang memasuki pintu rumahnya yang masih tertutup rapat, salah satu tangan Aldevaro refleks meraih pergelangan tangan Zeva, sehingga langkahnya lagi-lagi dibuat terhenti akibat ulah cowok itu.
“Ck. Apalagi sih? Badan gue lengket, gue pengin buru-buru mandi,”
“Ekhem. Besok ‘kan weekend nih,” Aldevaro sengaja menggantungkan sejenak ucapannya, membuat dahi Zeva lantas berkerut.
“Terus?”
“Barusan sebelum sampe rumah lo keknya gue lihat ada lapangan, deh. Itu lapangan bukan, sih?”
“Ooh. Iya, itu lapangan bola. Sering dipake main sama anak-anak SMP. Kenapa emangnya?”
Aldevaro tersenyum tipis, sedikit membuat Zeva keheranan akan senyuman cowok itu yang terlihat misterius.
“Kenapa, sih?”
“Enggak. Gue cuma mau ngajak lo olahraga bareng aja. Mumpung libur, ‘kan? Sekalian juga gue pengin main-main ke daerah sini. Gimana?” Tawaran Aldevaro barusan membuat Zeva tersentak. Sepasang netranya lantas melebar beberapa saat.
“Ekhem. O-olahraga bareng? Olahraga apaan?”
Aldevaro tampak berpikir sejenak. “Jogging?”
Kini giliran Zeva yang tampak berpikir seraya menimbang-nimbang ajakan cowok itu. Tak menunggu waktu lama baginya untuk berpikir kembali, gadis itu lantas mengangguk mengiyakan. Pikirnya, toh cuma jogging. Ya, walaupun minusnya Zeva harus jogging sama mantan.
“Serius, lo mau?” Sepasang bola mata Aldevaro tampak berbinar melihat anggukkan pasrah Zeva. Benar-benar diluar dugaan.
“Hm. Pulang sana, badan lo bau!” Zeva menutupi kedua lubang hidungnya, berpura-pura merasakan bau, padahal tidak sama sekali.
Aldevaro yang dikatai bau pun sontak menciumi satu-persatu ketiaknya. Saat tak mencium bau sedikitpun dari sana, cowok itu lantas mengalihkan perhatiannya kembali pada Zeva dengan salah satu alisnya yang terangkat.
“Badan wangi gini dikatain bau. Ya udahlah, gue pulang. Bye, Va!” Aldevaro kembali memakaikan helm di kepalanya, kemudian menyalakan kembali stater, lalu menaikkan standar. Setelah dirasa sudah, cowok itu tersenyum manis pada Zeva sebelum dirinya benar-benar melenggang dari halaman rumahnya.
“Bye, Var!” Balas Zeva, setelah Aldevaro benar-benar telah melenggang dari halaman kecil depan rumahnya.
****
Tring!
Bunyi notifikasi dari ponselnya seketika membuat Zeva yang baru saja keluar dari kamar mandi, spontan mengalihkan fokusnya pada benda pipih persegi panjang tersebut yang terletak di atas tempat tidur.
Saat mencoba mengecek ponselnya, tiba-tiba dahi Zeva mengerut melihat sebuah pesan singkat yang dikirim seseorang lewat instagram. Pikir Zeva, diriya sudah hampir beberapa tahun ini tidak aktif di instagram, dan sudah selama itu pula tidak mendapat dm seperti saat ini.
Di profilnya pun tidak ia cantumkan foto. Beberapa postingan yang sempat ia unggah pun ia sembunyikan, sehingga hanya beberapa foto tentang alam yang berada di postingan instagramnya. Tapi ternyata, masih ada saja yang mau nge-dm-nya?
Tring!
Suara notifikasi ponselnya lagi membuat Zeva sontak tersadar dari apa yang ia lamunkan. Dengan cepat Zeva mulai membuka aplikasi instagramnya. Dua pesan dm dari nama akun yang sedikit familiar menyapa netranya.
Aldvrowtm.24
Zeva refleks melepaskan ponselnya sampai benda tersebut langsung terjatuh ke lantai. Bukannya dirinya lebay atau bagaimana, Zeva hanya merasa kaget tiba-tiba saja mantan yang baru saja mengantarnya pulang tadi siang, kini mengirimkan chat padanya.
Maksudnya apa coba?
Mencoba untuk bersikap biasa saja, Zeva kemudian mengambil kembali ponselnya yang berada di lantai. Dengan menarik napasnya dalam-dalam, gadis itu mulai membalas chat dari Aldevaro.
Tak berapa lama kemudian, pesannya langsung dibalas.
Aldvrowtm.24
Zeva sempat terdiam sejenak untuk menimbang perkataan Aldevaro. Entah mengapa ketika cowok itu mengatakan ingin meminta nomornya, sedikit membuat Zeva gugup tanpa sadar.
__ADS_1
“Padahal ‘kan, buat dimasukkin ke grup sekolah. Mikir apaan sih gue,”
Tanpa mau berbasa-basi lagi, Zeva lantas mengetikkan sederet nomor WhatApp-nya pada Aldevaro.
****
Zevaaavezz_
“Heh, singkat banget balesnya,” Aldevaro berucap pelan seraya tersenyum geli memandangi roomchat-nya bersama Zeva.
Setelah mengetikkan kalimat tersebut, Aldevaro lanjut menyalin nomor Zeva di kontaknya. Saat hendak memberikan nama, dirinya seketika dibuat kelimpungan harus memberi nama apa pada kontak mantan pacar yang saat ini tengah kembali dekat dengannya.
“Gue kasih nama apa, ya? Kalau ‘Zeva’ doang, kurang mainstreem.” Aldevaro mendengus pelan seraya mengerutkan dahinya. Berpikir kuat mencari nama kontak yang cocok ia berikan pada Zeva.
“Ha, gue tahu,” Aldevaro menaikan salah satu sudut bibirnya seraya mulai mengetikkan nama yang menurutnya sangat-sangat cocok untuk Zeva.
Setelah selesai, cowok itu langsung membuka WhatsApp, kemudian mencari nama kontak Zeva yang ia beri nama,
Mantan;)
Tak berapa lama kemudian, gadis itu membalasnya.
“Nah, ‘kan, sifat aslinya keluar. Baru juga perdana dichat, udah kek males aja chattan sama gue.” Aldevaro terkikik sendiri meratapi chat balasan Zeva. Tak ingin membuang-buang waktu, cowok itu kembali mengirimi Zeva chat lain.
Sempat tak ada balasan lagi dari Zeva beberapa saat, membuat Aldevaro menunggu dengan tidak sabar. Selang beberapa detik kemudian, balasan dari Zeva pun muncul.
Aldevaro terkekeh pelan membaca jawaban tak terduga itu. Padahal, dirinya cuma asal nebak saja, tetapi ternyata malah tepat sasaran?
Terlalu fokus memandangi chat terakhir dari Zeva sampai membuatnya tak sadar bahwa gadis itu kembali mengiriminya chat lain. Sontak Aldevaro tersadar dengan apa yang tengah dirinya lakukan.
Aldevaro tertawa pelan membaca pesan chat lain yang baru saja dikirimkan Zeva. Memang mood booster sekali gadis itu untuk hidup Aldevaro.
Apakah dirinya tengah dicuekkin?
“Gak mungkin. Pasti sinyal hp gue yang gak beres,” gerutu Aldevaro, seraya berjalan ke arah balkon kamarnya dengan ponselnya yang ia angkat tinggi-tinggi.
Setibanya di balkon, cowok itu masih belum mendapatkan balasan dari Zeva. Aldevaro refleks berdecak dengan masih mengangkat ponselnya tinggi-tinggi mencoba untuk menguatkan sinyal ponselnya yang mungkin saja tiba-tiba menghilang.
Tetapi ketika dilihat dengan lebih dekat, sinyal ponselnya full, kok. 5G malah.
Tring!
Suara notifikasi WhatsApp membuatnya terburu-buru mendekatkan kembali ponselnya yang sempat kembali ia angkat tinggi-tinggi.
Dan seperti dugaannya, notif tersebut berasal dari Zeva.
“Gitu doang?” Aldevaro mengernyit bingung. Matanya berkali-kali membaca pesan chat dari Zeva yang teramat singkat itu.
“Gue kira bakalan panjang karena notifnya gak muncul juga,” gumam Aldevaro. Saat ia hendak mengetikkan jemarinya untuk membalas, suara beberapa notifikasi dibarengi dengan ponselnya yang bergetar, menghentikan kegiatannya.
Aldevaro mendengus sebal lantaran Zeva yang sudah lebih awal pamit sebelum dirinya sempat mengetikkan balasannya.
Menyebalkan!
Tapi, yah, mau bagaimana lagi?
Dengan lesu, Aldevaro mulai mengetikkan jemarinya dan membalas pesan Zeva sebelum gadis itu segera offline.
Dan, yah. Tak ada balasan lain dari Zeva selain ceklis dua biru yang menandakan bahwa gadis itu sudah membacanya.
Aldevaro menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya panjang ke udara malam yang terasa cukup dingin. Saat laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap gelapnya langit malam, seketika kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis.
Tak bertahan lama, senyuman itu lantas berganti menjadi tawa sarkas. Salah satu tangannya yang masih menggenggam ponselnya ia taruh tepat di atas pagar balkon, kemudian ia tumpu dengan tangan yang satunya lagi di atas tangan yang tadi.
“Gue harus gimana sama lo, Va,” Aldevaro lagi-lagi menarik napasnya dalam-dalam, masih dengan mendongakkan kepalanya menatap langit.
“Di satu sisi, gue masih gak bisa lupain tentang lo yang udah ninggalin gue gitu aja. Tapi di sisi lain, hati dan perasaan gue gak bisa bohong, kalau sebenarnya gue masih berharap kita bisa kayak dulu lagi.” Aldevaro terkekeh miris dengan kedua bola matanya yang entah sejak kapan mulai terasa berair. Salah satu tangannya yang menganggur, kini beralih mencengkram kuat pagar balkonnya.
__ADS_1
“Gue masih cinta sama lo, Va. Lo terlalu gak mungkin untuk gue blacklist dari hidup gue. Gue gak bisa kalau harus kehilangan lo lagi. Lo terlalu berarti di hidup gue.”
Di saat yang sama, Zeva menarik selimutnya sampai sebatas dada dengan posisi tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi puluhan stiker berbentuk bintang. Stiker-stiker tersebut tampak bercahaya seiring kurangnya pencahayaan di dalam kamarnya.
Ya. Lampu kamar Zeva sengaja dimatikan, dan hanya lampu tidur di atas nakasnya saja yang menerangi kamarnya.
Raut wajah gadis itu tampak sendu, jauh berbeda ketika dirinya masih saling mengirim pesan dengan Aldevaro. Wajahnya terus-menerus memancarkan aura positif dengan kedua pipinya yang sesekali bersemu akibat balasan dari Aldevaro yang sanggup membuat jantungnya bergetar hebat.
Tak bisa ia pungkiri jika Zeva pun masih memiliki perasaan yang sama pada Aldevaro. Hanya saja, dirinya terlalu sadar diri untuk memperlihatkan rasa sukanya pada laki-laki itu yang berstatus mantan pacarnya.
Karena sebab dirinyalah hubungan keduanya kandas. Siapa suruh dirinya begitu kejam saat itu? Anggap saja apa yang ia alami saat ini adalah karma baginya karena telah menyakiti hati seorang laki-laki.
“Maafin gue, Var!” Zeva menenggak salivanya dengan susah payah. Kedua tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
“Gue sebenarnya malu sama diri gue sendiri untuk berhadapan sama lo. Tapi sikap lo ke gue akhir-akhir ini membuat gue perlahan sedikit melonggarkan rasa malu gue. Gue bahkan dengan gak tahu dirinya seneng saat lo bersikap seperti saat kita masih pacaran dulu, Var.” Tanpa terasa, air mata yang sebelumnya ia tahan supaya tetap menggenang, perlahan mulai luruh sehingga membasahi pelipis sampai ke telinga luarnya.
Isakkan kecil pun ikut keluar tatkala pikirannya kembali melayang memikirkan Aldevaro. Posisinya yang semula terlentang, perlahan mulai berganti menjadi menyamping ke kanan. Tubuhnya pun beringsut dengan lututnya yang ia tekuk.
Lagi-lagi air mata sialan itu kembali menuruni pelipisnya. Rasa sakit dan sesak yang tiba-tiba menjalar di dadanya membuat gadis itu dengan refleks memukuli dadanya beberapa kali.
“Gue harus gimana, Var …” lirihnya, kemudian memilih untuk menenggelamkan kepalanya dalam balutan selimut dan bantal.
****
Pukul 6 pagi tertera besar di jam dinding di dalam kamarnya. Zeva yang sudah dari pagi-pagi sekali bersiap-siap pun meraih ponselnya yang tengah ia charger di atas nakas.
Ketika ia membuka ponselnya, baterainya hanya terisi sampai 87%. Tetapi karena hari ini Aldevaro akan menjemputnya di rumah jam 6 pagi, Zeva pun tidak peduli dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket hoodie-nya yang berwarna lilac.
Saat Zeva hendak keluar dari dalam kamarnya, bunyi notifikasi masuk seketika menghentikan niatannya. Diraihnya kembali ponselnya tersebut yang belum lama ini ia taruh di saku jaketnya.
Varooo
Zeva tersenyum kecil melihat pesan chat tersebut yang tak lain berasal dari Aldevaro. Dengan penuh semangat, seolah sudah melupakan kesedihannya tentang apa yang kemarin sempat ia tangisi, gadis itu mulai membalas chat dari Aldevaro dengan hati yang sedikit berbunga-bunga.
Setelah dirasa cukup, gadis itu kembali menaruh ponselnya di tempat semula, dan dengan langkah senang berjalan keluar dari dalam kamarnya yang bernuansa putih dan lilac.
Tepat ketika Zeva baru saja keluar kamar dengan pakaian yang telah rapi, sang mama, Raya yang juga baru saja keluar dari dalam kamarnya melirik putrinya dari atas sampai bawah.
“Tumben hari sabtu gini udah rapi. Kamu mau ke mana?” Sahutan pelan yang tidak ada niatan untuk mengagetkan itu, sontak membuat Zeva terlonjak. Sepasang bola matanya melebar dengan perhatian yang beralih pada Raya.
“Mama? Eng-gak ke mana-mana kok, hehe,” Zeva menyengir lebar dengan kedua tangannya yang ia taruh di belakang punggungnya.
Seulas senyuman misterius lantas terbit di wajah cantik sang mama. Melihat hal itu, sedikit membuat Zeva dibuat gelagapan. “Mau ketemu Varo, ya? Cieee… akhirnya bisa ketemu sama Varo lagi,” goda Raya. Seketika itu juga, wajah Zeva langsung memerah padam.
“Apaan sih, Ma! Kok, Mama bisa tahu Varo mau ke sini?”
“Barusan dia ketok pintu rumah. Pas Mama bukain, eh, tahu-tahunya dia tetangga kita dulu. Yang sering main sama kamu waktu SMP itu, lho. Mama kaget banget sampai gak percaya tadi. Mukanya makin ganteng sama tubuhnya makin tinggi. Itu kayaknya tingginya bisa sampe 180 juga kayaknya lebih, deh. Bisa ketemu sama Varo lagi itu ceritanya gimana?” Ujar Raya, teramat panjang lebar. Membuat Zeva tanpa sadar menghela napas seraya memutar bola matanya.
“Ngomongnya satu-satu, Ma. ‘Kan, bingung gimana balesnya, haduh… Tapi yang pasti, sekolah baru aku itu sebenarnya sekolahnya Varo,” balas Zeva yang ditanggapi ‘oh’ oleh Raya.
“Terus sekarang kamu sama dia-”
“Nanyanya nanti dulu, ya, Ma. Entar Varo nungguin lama ‘kan gak enak.” Potong Zeva, membuat Raya mendengus pasrah, kemudian mengangguk.
“Ya udah. Nanti curhatnya harus full, ya. Gak boleh ada yang kurang pokoknya,”
“Apaan sih, Mama! Tauk ah, Zeva keluar dulu, dah, Ma!” Pungkas Zeva, kemudian berlari meninggalkan sang mama yang terkekeh geli melihat tingkah putrinya.
“Zeva, Zeva … anak Mama udah gede ternyata.” Gerutu Raya, kemudian melenggang menuju dapur untuk mulai memasak sarapan.
****
“Eh, Var! Lo udah nunggu lama, ya,” Zeva menyahut pelan, ketika gadis itu baru saja keluar dari dalam rumahnya dan hendak kembali menutup pintu tersebut.
Aldevaro yang tengah memainkan posel di atas motor ninjanya, refleks menoleh dengan ponselnya yang langsung ia matikan dan ia taruh di dalam saku jaket. Cowok itu pun mulai turun dari atas motor seraya menghampiri Zeva yang tengah berjalan ke arahnya.
“Gak lama, kok. Santai aja,” ujar Aldevaro, diakhiri dengan seulas senyuman.
“Em, kalau gitu mau langsung aja?” Tanya Zeva, tepat ketika gadis itu telah berdiri di hadapan Aldevaro.
Bukannya langsung menjawab, Aldevaro malah terdiam dengan fokus yang tertuju pada wajah natural Zeva serta rambut ikalnya yang diikat satu. Leher jenjang hingga anak rambut yang tidak ikut terikat di dekat tengkuknya jadi perhatian Aldevaro. Terlihat sangat menggoda dan…
Aldevaro buru-buru berdeham dengan perhatian yang mulai beralih ke arah lain. Ke mana pun, asal jangan sampai matanya ini khilaf dan malah menatap yang bukan-bukan.
Sialan! Dirinya benar-benar sudah gila!
Jika Zeva sampai tahu jika Aldevaro membayangkan sesuatu yang bukan-bukan tentang gadis itu, pasti dia akan marah dan tidak mau bertemu dengannya lagi.
Kenapa otaknya tiba-tiba jadi kotor begini? Pasti gara-gara tertular virus mesum dari Daniel dan Chiko.
Ya. Pasti gara-gara mereka.
“Var? Lo gak pa-pa?”
“Eh?! Gu-gue-”
To be continue...
__ADS_1