
"Gerald!" Sahutan keras diiringi langkah cepat, seketika mengalihkan atensi sang pemilik nama yang pada saat bersamaan tengah berbincang pelan dengan anggota kepolisian yang meminta kesaksiannya.
Raut wajah penuh luka Gerald yang tampak datar, mulai menampilkan seulas senyuman tipis yang ditujukan pada Abhigail.
Belum sempat ia merasa tenang melihat gadisnya baik-baik saja, dari arah lain, tampak seorang pria asing berpakaian serba hitam dengan memakai topi dan masker, berlari ke arah Abhigail dengan langkah yang terbilang cukup gontai. Sebuah benda tajam bahkan tampak berada dalam genggaman tangannya yang terbungkus sarung tangan.
Terlanjur panik, Gerald pun ikut berlari menuju Abhigail. Ia kemudian memeluk erat tubuh gadis itu, dan memutar posisi mereka. Sehingga yang terjadi saat ini adalah, Gerald menggantikan posisi Abhigail dan melundunginya, namun sial, pisau tajam itu berhasil menusuk pinggang sebelah kiri Gerald.
"Ger, gue takut! Lo gak-" Abhigail menghentikan ucapannya saat sesuatu yang basah mengenai pakaiannya. Saat mencoba melepaskan pelukan, betapa terkejutnya ketika melihat raut wajah Gerald yang menahan sakit, namun masih menyisihkan secuil senyuman teruntuk gadis di hadapannya.
"Lo gak pa-pa 'kan?" Nahas, selepas Gerald bertanya demikian, tubuhnya mulai tumbang. Salah satu tangannya yang sedari tadi menahan rasa sakit sekaligus darah yang terus mengalir, perlahan mulai jatuh bersamaan dengan tubuhnya.
Di tempatnya, Abhigail seolah kehilangan kata-kata, menyaksilan Gerald yang kehilangan kesadaran tepat di hadapannya. Bahkan, darah segar seolah terus mengalir dari pinggang sebelah kirinya.
"Pembunuh! Apa yang udah lo lakuin sama cowok gue?" Abhigail memekik keras pada laki-laki berpakaian serba hitam yang mulai ditahan oleh beberapa anggota kepolisian.
Posisi Abhigail yang tersungkur di jalanan beraspal dengan kepala Gerald yang berada di pangkuannya, membuat laki-laki yang telah dengan tega menusuk Gerald, tertawa menggelegar tanpa dosa.
Dengan kasar, salah satu anggota polisi mulai membuka masker dan topi yang tengah ia kenakan. Sehingga tampaklah raut wajah tak asing yang sanggup membuat Abhigail membelalakkan mata.
"Lo!" Napas Abhigail terasa tercekat dengan tubuhnya yang kian bergetar hebat. Sementara laki-laki itu, dia masih saja tertawa gila dengan tampang mengejek.
"Mampus 'kan, lo? Rasain! Makanya, jangan berani-beraninya lo gangguin hidup gue! Erwin Bramantio! MAMPUS 'KAN, LO, HAH? HAHAHAHA!"
Abhigail menatap nanar Gerald yang masih tidak berkutik di tempatnya. Air matanya kian menetes saat darah segar seolah masih merembes dari hasil luka tusukan yang Erwin berikan.
"Enggak! Lo gak boleh kenapa-kenapa! Ambulans! Mana ambulans? Ger, lo harus kuat! Tatap mata gue! Lo gak akan tinggalin gue 'kan? Gerald, jawab!" Abhigail terus mengguncang tubuh Gerald, namun tak ada balasan dari cowok itu.
Kedua matanya belum terpejam, menandakan bahwa Gerald masih sadarkan diri. Sayang, tubuh Gerald kian melemah seiring darahnya yang terus mengalir, sampai membasahi pakaian Abhigail yang didominasi berwarna putih.
Abhigail masih menangis histeris, dan tidak ada yang memedulikannya. Para anggota polisi masih sibuk mengurusi sepuluh orang tersangka anggota geng motor, pun ditambah Erwin yang telah dengan brutal menusuk Gerald.
Tidak! Jika saja tadi Gerald tidak berlari ke arahnya, yang akan menjadi korban adalah Abhigail! Tapi, kenapa? Kenapa Gerald malah menyelamatkannya? Harusnya biarkan saja Abhigail yang tertusuk, sehingga ia tidak perlu menangisi Gerald yang saat ini terkapar di pangkuannya.
"Bhi!" Sahutan pelan yang terdengar cukup serak lantas mengalihkan perhatian Abhigail. Seulas senyuman getir mulai gadis itu perlihatkan, seraya menciumi tangan kekar Gerald yang terasa begitu dingin.
"Gue tahu, lo gak akan kenapa-kenapa! Jangan bikin kita takut, please ... lo harus tahan, ya?" Bertepatan dengan itu, mobil ambulans datang. Beberapa orang mulai mengeluarkan tandu dan langsung memberikan pertolongan pertama pada Gerald berupa kain untuk menahan agar darah tidak terus mengalir, cairan infus serta selang oksigen.
"Bhi, gue mau ngomong sesuatu," Gerald lagi-lagi berucap lemah, tepat ketika tubuhnya mulai dibopong ke dalam mobil ambulans.
Abhigail turut ikut ke dalam dengan posisi duduk berada tepat di samping Gerald. Kedua tangan Abhigail tak henti-hentinya menggenggam erat tangan Gerald yang terasa semakin dingin.
Sementara Gerald, pandangan matanya mulai sedikit memburam, namun sebisa mungkin ia terus terjaga sebelum ia benar-benar menyampaikan beberapa hal pada Abhigail.
"Bhi ..." Panggil Gerald lagi. Spontan Abhigail langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Gerald.
"Kenapa? Masih sakit?" Abhigail beralih mengusap surai hitam Gerald penuh cinta. Air matanya lagi-lagi lolos saat melihat sebuah anggukkan pelan dari Gerald.
"Sakit banget, Bhi ... kalau misalnya gue pergi, lo jaga diri baik-baik, ya? Maafin gue brengsek karena gak bisa nikahin lo,"
"Lo ngomong apaan sih? Gak usah ngawur, deh! Percaya sama gue, lo akan baik-baik aja!" Abhigail memukul pelan bahu Gerald nyaris terasa seperti sebuah sentuhan. Refleks cowok itu terkekeh pelan.
"Gue punya rekomendasi nama buat anak kita. Lo mau denger, gak?" Gerald lagi-lagi meracau tidak jelas. Semakin membuat Abhigail kesal dibuatnya.
"Mending lo diem, bentar lagi kita sampai di rumah sakit,"
"Gebhi Alisca. Cantik, gak?" Terang Gerald. Beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka.
"Kenapa harus Gebhi?" Tanya Abhigail, penasaran.
Masih dengan posisi yang sama, Gerald kembali terkekeh pelan dengan rasa sakit yang terasa semakin menyiksa. Namun, sebisa mungkin ia menutupinya agar Abhigail tidak semakin cemas.
"Gerald Abhigail. Gue ngerasa yakin kalau anak kita nanti bakalan cewek, Bhi! Pas dia lahir nanti, kasih nama itu, ya?" Gerald terbatuk pelan di akhir kalimat yang ia ucapkan. Sontak hal itu semakin membuat Abhigail cemas dan waswas.
"Pak! Ini sampainya kapan? Bisa sedikit cepat? Saya takut terjadi apa-apa sama pacar Saya!" Pekik Abhigail, sementara Gerald, kesadaran cowok itu mulai menurun. Bergegas beberapa anggota kesehatan kembali bertindak untuk memberikan pertolongan, agar Gerald dapat bertahan sampai setibanya mereka di rumah sakit nanti.
__ADS_1
****
"Maaf, keluarga pasien dimohon untuk tunggu di luar!" Seorang suster menahan pergerakan Abhigail yang hendak ikut masuk ke dalam ruang UGD untuk menemani Gerald.
Tanpa membantah apalagi menyanggah, Abhigail memilih menurut dan berdiri kaku di depan pintu. Penampilannya kacau, bercak darah di beberapa sudut pakaiannya menjadi saksi bahwa Gerald benar-benar terluka parah demi untuk melindunginya dan calon anak mereka.
"Aakh!" Abhigail meringis ngilu saat perutnya terasa sakit tanpa sebab.
Perlahan, Abhigail mulai mendudukkan tubuhnya di atas kursi tunggu di depan ruang UGD. Tangannya tak berhenti terus mengusap pelan perutnya yang berisi.
"Abhigail!" Pekikan disertai dengan suara derap langkah terburu-buru, mengalihkan atensi sang pemilik nama yang pada saat bersamaan masih dengan posisinya.
Senyum di wajah Abhigail lantas terbit teruntuk orang-orang yang baru saja datang. Seolah melupakan rasa sakitnya, Abhigail berlari seraya menangis memeluk seorang gadis yang tak lain ialah Zeva.
"Zeva! Makasih lo mau dateng temenin gue!"
"I-iya, Bhi! Lo tenang, ya! Gue yakin, Gerald pasti baik-baik aja," Zeva menepuk-nepuk pelan punggung Abhigail, walau pada kenyataannya ia tidak tahu apa yang tengah terjadi.
Abhigail dan Gerald. Apakah sekarang mereka ... memiliki hubungan yang serius?
"Bisa lo ceritain gimana kronologinya?" Aldevaro yang juga turut serta hadir di sana, menyahut di tengah-tengah. Raut wajahnya tampak cemas sekaligus tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi saat ini.
Beberapa saat yang lalu, Zeva yang pada saat bersamaan tengah bersama Aldevaro, tiba-tiba ditelepon oleh nomor Gerald.
Awalnya, Aldevaro sudah berancang-ancang untuk memarahi Gerald yang dengan berani menghubungi Zeva. Siapa sangka, yang bersuara ternyata bukan Gerald. Melainkan seorang gadis yang menangis tersedu-sedu meminta ditemani di rumah sakit. Ia juga mengatakan sedikit tentang Gerald yang tiba-tiba ditusuk oleh Erwin demi menyelamatkan nyawanya.
Ingin Aldevaro dan Zeva menanyakan lebih lanjut, suara isak tangis dari seberang sana sudah cukup membuat mereka tahu bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja.
Perlahan, Abhigail melepaskan diri dari Zeva. Jika dilihat-lihat lebih jauh, ada yang berbeda dari Abhigail. Selain karena pakaiannya yang berlumuran darah, ada satu pemandangan lain yang membuat Zeva berspekulasi tinggi.
Ya. Perutnya.
"Bhi! Lo sama Gerald ..." Zeva menggantung kalimatnya, takut jika ucapannya berakhir menyakiti hati Abhigail.
"Iya! Gue hamil!" Ucapnya, membuat Zeva maupun Aldevaro dibuat tersentak sampai tanpa sadar saling pandang.
"Ekhem. Ka-kalau gitu, sekarang bisa lo ceritain gimana kronologi keseluruhannya?" Zeva bertanya hati-hati, mencoba untuk menghilangkan kecanggungan yang melanda di antara mereka.
Dengan menarik napas dalam-dalam, Abhigail mengangguk beberapa kali sebagai jawaban 'ya' atas pertanyaan Zeva.
"Jadi gini ..."
****
"Mana Gerald?" Sahutan lantang yang terkesan terburu-buru, membuyarkan atensi ketiga orang remaja yang sama-sama dilanda panik di tempatnya.
Irfan dan Nia, selaku kedua orangtua kandung Gerald, beserta Hendra, sang kakek, pun Diandra selaku saudara angkat Gerald, berdiri kaku di depan ketiga remaja itu dengan perasaan kalut.
Tak hanya anggota dari keluarga Gerald saja yang datang. Kedua orangtua Aldevaro pun tampak berada di tempat, beberapa menit setelah anggota keluarga Gerald sampai.
"Apa yang terjadi? Katanya Gerald kecelakaan! Kecelakaan apa?" Nia berjalan menghampiri Aldevaro dengan sesekali membentak seperti orang kesetanan. Raut wajahnya murni dipenuhi ketakutan akan putranya yang masih berada di dalam UGD.
Dengan emosi yang tiba-tiba menyeruak, Regina, selaku ibu kandung Aldevaro, mendorong Nia agar menjauh dari putranya.
"Apa-apaan Kamu! Kamu pikir dengan bertanya demikian pada Anak Saya, Kamu bisa jauh lebih puas? Bukan Aldevaro yang mencelakai Gerald! Aldevaro bersama pacarnya bahkan berada di Rumah Saya tadi," Regina balas menyentak, tidak suka bila putanya dibentak-bentak oleh orang lain, apalagi orang itu adalah Nia.
Sang mantan suami, Andreas, turut datang menenangkan. Ia berkata halus dan menyuruh mantan istrinya untuk tetap diam, karena bagaimanapun, mereka tengah berada di rumah sakit.
Hening. Suasana di antara mereka mendadak sunyi tanpa sedikit pun ada yang berkata. Suara pintu ruang UDG yang terbuka, seolah mengejutkan seluruh anggota keluarga besar yang masih diluputi perasaan cemas dan khawatir. Tampak seorang dokter dengan seragam lengkapnya, berdiri di depan pintu ruang UGD.
"Gimana sama keadaan Anak Saya, Dok?" Irfan bertanya spontan pada sang dokter laki-laki yang usianya kira-kira pertengahan 30an.
"Tidak terlalu baik. Anak Bapak hampir tidak sempat tertolong akibat darah yang terus keluar hebat. Beruntung, sekarang dia sudah melewati masa kritisnya. Satu-persatu anggota keluarga boleh masuk untuk menjenguk. Tapi, jangan semua!" Jelas sang dokter, membuat semuanya refleks mengembuskan napas lega.
"Terima kasih, Dok, terima kasih!" Nia berucap cukup histeris, yang diangguki anggukkan pelan oleh sang dokter.
__ADS_1
"Sama-sama. Kalau begitu, Saya permisi dulu." Sepeninggalan sang dokter, buru-buru Nia masuk ke dalam ruang UGD bersama suaminya untuk melihat perkembangan kondisi Gerald.
Sesampainya di dalam, tangis Nia pecah. Perban bernoda darah dan selang oksigen seolah menjadi saksi, bahwa putranya, benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Ger, Nak! Siapa yang sudah berbuat hal ini sama Kamu? Kenapa dia begitu tega? Mama-"
"Ma," suara serak yang hampir tidak terdengar itu sanggup menyadarkan Nia maupun Irfan untuk memokuskan atensinya pada raut wajah Gerald.
Didekatkannya wajah Nia menghadap Gerald, tak lupa ia pun menggenggam erat-erat tangan tersebut yang terasa begitu dingin, sedingin es.
"Iya, Sayang? Mana yang sakit? Mau Mama panggilin dokter lagi, hm?"
"Tolong, Gerald mau ketemu Abhigail, Aldevaro, Daniel, Zeva, sama Diandra. Ini penting." Gerald berucap lemah dengan sepasang bola matanya yang sayu, menatap kosong ke depan.
Baik Nia maupun Irfan, kedua orangtuanya terdiam seraya menunduk dalam. Helaan napas berat Irfan embuskan. Kedua tangannya dengan halus, menarik tubuh Nia agar segera menjauh dari Gerald.
"Sebentar, Papa panggilkan."
"Tapi, Mas! Aku masih mau di sini sama Gerald!" Nia mulai sedikit memberontak tak mau beranjak.
Dengan penuh pengertian dari Irfan, akhirnya Nia pun mengalah. Ia memilih keluar meninggalkan Gerald yang masih dengan kondisi yang sama. Lagi-lagi air matanya jatuh membasahi pipi.
Pikirnya, sebegitu enggankah Gerald bertemu dirinya? Sejahat itukah dirinya dulu karena telah membuat jarak di antara mereka?
"Al! Gerald pengin ketemu Kamu, sama ... temen-temen Kamu yang lain," Irfan berucap datar, setibanya mereka berdua keluar dari ruang UGD. Tanpa berbasa-basi, Aldevaro, diikuti Abhigail dan Zeva, masuk ke dalam untuk melihat Gerald.
Sementara Diandra, gadis itu hanya menunduk kaku di tempatnya. Refleks Irfan menarik napas dalam-dalam ketika mengingat pesan lain yang diungkapkan Gerald padanya beberapa saat yang lalu.
"Diandra. Kamu juga masuk. Gerald juga pengin ketemu sama Kamu."
****
"Ger! Lo udah sadar? Gimana?" Aldevaro menatap cemas saudara sepupunya yang terbaring lemah dengan perban melilit di area pinggangnya.
Wajahnya tampak pias dan tatapannya tampak kosong. Entah mengapa, sudut hati Aldevaro mendadak tidak nyaman tanpa sebab.
"Si Daniel ... mana?" Sahut Gerald. Spontan Aldevaro menunduk dengan helaan napas yang keluar dari mulutnya.
"Dia ... lagi nungguin nyokapnya di rumah sakit. Kondisinya drop lagi, jadi ... gue gak sempet bilang apa-apa sama dia tentang lo,"
Terdengar helaan napas berat dari mulut Gerald disertai anggukkan singkat. "Gue gak bisa lama-lama. Di sini, gue mau minta maaf sama lo, Al. Atas semua sikap kasar gue ke lo, gue minta maaf! Mungkin ... ini kesempatan terakhir buat gue kayak gini, gue ... titip Abhigail, ya. Dia lagi hamil anak gue. Gue emang brengsek. Tapi Abhigail, dia gak salah apa-apa. Semuanya salah gue. Tolong, gantiin gue jagain Abhigail. Gue gak minta lo gantiin gue nikahin dia, bukan! Gue cuman mau, nanti lo yang jadi ayah angkat buat anak gue. Gue gak mau dia lahir tanpa ayah."
"Lo ngomong apaan sih, Ger! Gue gak suka sama nada bicara pasrah lo! Itu bukan lo! Yakin sama Tuhan, lo pasti sembuh." Aldevaro berujar dengan nada yang menyentak, tanpa sadar kedua tangannya pun mulai terkepal kuat, seiring dengan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Gerald.
Sementara di sisi lain, Abhigail sudah kembali menangis histeris memeluk Gerald. Bibir dan tubuhnya tampak bergetar hebat tanpa ia minta.
"Ger ... lo harus sembuh! Demi Gebhi, calon anak kita, ya? Lo sayang 'kan sama dia? Lo bilang, lo gak mau lihat dia lahir tanpa ayah? Jadi, lo harus sembuh!" Abhigail mengusap wajah serta surai hitam Gerald dengan penuh kasih. Lagi-lagi air matanya lolos begitu saja.
"Maafin gue, ya, Bhi! Gue sayang banget sama lo! Dan ..." Gerald menjeda kalimatnya. Salah satu tangannya terulur menyentuh perut Abhigail dan mengelusnya pelan. "Maafin Papa! Papa gak bisa temenin Gebhi lahir, tumbuh, dan gak bisa main bareng Gebhi. Papa sayang Gebhi."
"Dan, Diandra," Gerald mengalihkan perhatiannya ke sudut pintu, di mana di sana, Diandra yang telah masuk beberapa saat, hanya dibuat memaku dengan air mata yang menggenang di kedua bola matanya.
Mendengar Gerald yang memanggil namanya, buru-buru Diandra berjalan menghadap Gerald. Sesekali akan memasang senyuman getir teruntuk saudara angkatnya.
"I-iya, gue di sini! Lo-"
"Gue minta maaf karena selalu jahat sama lo! Bukan salah lo, tapi salah takdir yang menggariskan hidup kita kayak gini. Titip Mama sama Papa, ya. Jangan kecewain mereka. Gue tahu, lo yang paling bisa diandalkan daripada gue," Gerald tersenyum getir di akhir kalimat yang ia ungkapkan. Air matanya pun ikut lolos, membuat Diandra dan yang lain ikut menjatuhkan air matanya.
"Titip salam buat Mama, Papa, sama Kakek. Bilang sama mereka, gue minta maaf! Gue gak bisa bilang itu di depan mereka. Gue terlalu malu sama diri gue sendiri. Lo mau 'kan, sampein salam gue?" Tangan Gerald yang dingin dan bergetar, perlahan menyentuh permukaan tangan Diandra yang menganggur.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Diandra mengangguk beberapa kali dengan seulas senyuman penuh luka yang terpatri di wajahnya. Bibirnya bahkan tampak bergetar hebat, perasaan takut benar-benar mendominasi hatinya.
Tidak! Bukan hanya Diandra! Baik Aldevaro, Abhigail dan Zeva, mereka pun merasakan hal yang sama.
"Bhi! Gue ... pamit. Jaga diri lo baik-baik. Gue sayang sama lo."
__ADS_1
To be continue...