Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
25. Tentang Masa Lalu Gerald


__ADS_3

Gerald terkekeh pelan seraya menjeda langkah kakinya setibanya ia di parkiran sekolah. Tak berapa lama setelahnya, cowok itu kembali menyeret kedua kakinya menuju motor KLX-nya yang terparkir tepat di samping tubuh seorang gadis yang tengah berdiri seraya memunggunginya.


“Beneran mau ikut lo? Heran gue, padahal, ini pertama kalinya gue bawa nih motor ke sekolah, tapi lo udah stand by aja di sana. Lo stalking gue?” Sahutan yang diakhiri dengan decakan kagum itu membuat gadis yang tak lain ialah Zeva itu pun lantas membalikkan tubuhnya menghadap Gerald.


“Sebagai gantinya lo akan kasih tahu gue di mana Aldevaro ‘kan? Gue ikut lo karena gue mau ketemu dia!” Tekan Zeva datar. Saat itu juga, raut wajah Gerald langsung berubah keruh. Kedua rahangnya tampak mengeras dengan sepasang bola mata yang menyipit tajam menatap Zeva.


“Bisa gak sih, lo lupain aja tuh cowok?” Ucapan itu sontak membuat Zeva yang semula menatap asal ke sekitar, langsung memfokuskan pandangannya pada sepasang mata Gerald yang masih setia menatapnya tajam.


“Gak bisa! Dia terlalu berarti buat gue.” Jelas Zeva. Tanpa sadar membuat Gerald mengepalkan kedua tangannya. Dan sialnya, perkataan Zeva terus terngiang di otaknya, sampai membuat dadanya merasakan sesak tanpa alasan.


Mencoba untuk mengalihkan rasa sakit tak berbekas itu, Gerald mengalihkan perhatiannya ke arah lain, kemudian diakhiri terkekeh miris. Setelah dirasa cukup tenang, cowok itu kembali memusatkan perhatiannya pada Zeva.


“Terserah!” Timpal Gerald, kemudian mengitari motornya. Meraih helm dan melemparkannya pada Zeva.


“Kok, dikasih ke gue? Terus lo?” Zeva menatap heran Gerald sembari mengangkat helm yang dilempar cowok itu bersejajaran dengan wajahnya.


Gerald tak langsung menjawab pertanyaan Zeva. Cowok itu malah mendengus pelan, kemudian mengambil alih helm yang sempat ia lemparkan pada Zeva, dan memakaikannya ke kepala Zeva.


Sontak, perlakuan tersebut membuat Zeva terkesiap. Menyadari apa yang baru saja Gerald lakukan padanya, refleks Zeva hendak melepaskan helm yang berada di kepalanya.


“Kok, dipake ke gu-”


“Mau ngapain lo?” Sentak Gerald, membuat kegiatan Zeva yang tengah melepaskan pengait helm pun terhenti.


“Lepas nih helm lah! Ngapain lo kasih ke gue? ‘Kan elo yang ngebonceng, kenapa jadi gue yang pake helm? Lo ‘kan cuman bawa satu!”


“Perjalanan kita jauh. Gue cowok, gue gak pa-pa. Mending lo yang pake. Kalau lo gak mau, lo bisa buang ke mana aja! Gue gak kekurangan duit buat beli satu helm kayak gini doang.” Cerocos Gerald panjang lebar. Zeva yang hendak beralasan pun mendadak urung akibat ucapan dari cowok itu yang terdengar sangat menyebalkan, apalagi ketika secara tidak langsung cowok itu menyombongkan harta kekayaannya.


“Fine! Gue pake. Gue rakyat miskin, gue bukan lo yang bisa dengan gampangnya buang helm mahal sembarangan kayak buang sampah gitu aja ke tempat pembuangan.”


“Bagus, deh.”


****


Zeva mengerutkan keningnya sembari melepas helm yang masih menempel di kepalanya. Tepat ketika gadis itu telah sepenuhnya melepas helm, barulah ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat asing itu.


“Kenapa kita ke sini?” Sahut Zeva. Gadis itu semakin tidak mengerti mengapa Gerald membawanya ke sebuah villa mewah yang letaknya berdekatan dengan pesisir pantai.


Tak hanya itu, pemandangan sekitarnya yang diselipi beberapa pohon kelapa serta beberapa pohon rindang lain, membuat kesan sejuk saat pertama kali melihatnya. Dan jangan lupakan halaman luas villa yang juga di depannya terdapat kolam ikan berukuran cukup besar yang dipadukan dengan air mancur di tengahnya. Semakin membuat siapa pun yang memandangnya merasa ingin sekali menghabiskan waktu di sana.


“Ger-” Zeva menghentikan ucapannya saat tangan Gerald menyentuh salah satu pundaknya. Saat menoleh, senyuman tipis dan terkesan hangat terbit di wajah cowok itu.


“Mantan lo tinggal di sana dari kemaren. Bukan buat liburan, tapi karena emang tiap tahun kita selalu ke sini di tanggal dan bulan yang sama.” Terang Gerald tiba-tiba. Merasa ada yang janggal dari ucapan cowok itu padanya, Zeva lagi-lagi mengerutkan kening.


“Kita?”


Gerald tersenyum simpul dengan wajahnya yang sedikit menunduk. “Iya. Hari ini adalah hari peringatan kematian seseorang.” Ujar Gerald, tanpa sedikit pun menatap ke arah mata Zeva.


Di tempatnya, Zeva dibuat terdiam membeku akan pengakuan singkat dari Gerald yang sanggup membuat hatinya terenyuh. Ketika netranya menatap lekat ke arah sepasang bola mata Gerald, dapat ia lihat aura kesedihan yang terpancar dari kedua bola mata itu yang terlihat mulai sedikit berkaca-kaca.


“Oh, ya! Sebelum gue bawa lo ke MANTAN PACAR LO, gue mau bawa lo ke sebuah tempat yang gue jamin, lo pasti bakalan suka,”


“Ekhem. Ke mana?”


“Dah, ikut aja.”


Sesampainya di tempat yang dikatakan oleh Gerald, Zeva refleks menutup mulutnya ketika menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat memanjakan mata. Di mana di hadapannya saat ini, Zeva disuguhkan dengan pesisir pantai yang begitu bersih berwarna putih, serta deburan ombak tenang yang seolah menyapu bersih hamparan pasir yang telah sangat basah itu.


Bukan hanya itu saja. Sebuah ayunan kayu yang terbuat dari dua buah pohon yang jaraknya bersebelahan, serta tempat tongkrongan yang tak jauh dari kursi ayunan tersebut, semakin membuat  Zeva terpana. Dan sialnya, Zeva sampai lupa dengan tujuannya datang ke mari bersama Gerald.

__ADS_1


“Ini- Wow! Pasirnya putih banget! Mana air lautnya juga biru banget lagi! Iiih lucu bangetttt! Jadi pengin duduk di sana deh,” tatapan Zeva kemudian beralih pada Gerald yang sedari tadi terus-menerus memerhatikannya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu refleks memukul lengan Gerald gemas. Sialnya, hal itu justru malah mengagetkan Gerald yang sedari awal sibuk memandanginya.


“Gila! Kok, lo baru ngasih tahu gue, kalau ada tempat sebagus ini sih?”


“Suka?” Tanya Gerald, seolah melupakan rasa panas yang masih terasa di lengannya akibat pukulan dari Zeva.


“Banget!” Ujar Zeva, sembari tersenyum hangat. Sangat hangat sampai membuat Gerald tidak bisa lepas dari wajah cantik itu.


“Ekhem. Yah, itu sih hal masuk akal kalau lo baru lihat tempat ini. Karena daerah sini emang punya keluarga gue.” Gerald mengalihkan tatapan matanya, merasa dirinya sudah terlalu lama menatap Zeva.


Raut wajah cerah Zeva langsung berubah memberengut saat mendengar sebuah kenyataan dari mulut Gerald. Sial, Zeva iri dengan anak konglomerat yang berada tepat di sebelahnya ini!


“Oh, pantesan.” Ujar Zeva, datar. Walau begitu, matanya tak bisa berbohong dengan pemandangan cantik yang terpampang di hadapannya.


“Duduk di sana, yuk!” Ajakan itu seketika membuat perhatian Zeva lagi-lagi beralih pada Gerald. Tak berapa lama, Gerald melangkahkan kakinya lebih dulu, dan meninggalkan Zeva yang masih termenung di tempatnya.


“Eh!?”


Zeva mengikuti langkah ke mana Gerald pergi. Dan, ya. Langkah cowok itu berhenti tepat di sebuah tempat lesehan dekat ayunan yang beberapa saat yang lalu sempat dikagumi oleh Zeva.


Di saat yang sama, Gerald lebih dulu mendudukkan dirinya di sana, kemudian di susul oleh Zeva yang juga ikut mendudukkan diri tepat di samping Gerald.


“Gue mau cerita satu hal sama lo. Mau dengerin?” Gerald menyahut tiba-tiba, membuka obrolan baru di tengah-tengah keterdiaman mereka.


Lagi-lagi Zeva menoleh pada cowok itu. “Cerita apa?”


Terdengar helaan napas panjang yang keluar dari mulut Gerald. “Sebenarnya,” Gerald menggantungkan ucapannya dengan perhatian yang beralih menatap Zeva.


Waktu seakan berhenti berputar tatkala sepasang mata legam Gerald menatap lurus pada sepasang manik mata Zeva. Cowok itu seolah terbius dan melupakan kalimat apa yang hendak ia katakan pada Zeva. Sampai pada akhirnya, sebuah telapak tangan yang sengaja di goyang-goyangkan tepat di depan wajahnya, menyadarkan Gerald dari lamunannya.


“Ger? Kok, bengong? Lo mau cerita apa?” Dan, ya. Pemilik telapak tangan itu sudah dapat dipastikan, tak lain ialah Zeva.


Gerald terkekeh pelan di tempatnya. “Gue … bingung mau ngomong dari mana dulu,”


“Lo tahu gak? Sebenarnya, gue sama Diandra itu bukan saudara beneran,” ungkap Gerald, mulai bercerita. Di tempatnya, Zeva mengerutkan keningnya, merasa kurang paham maksud dari perkataan Gerald.


“Maksudnya?”


“Diandra itu … anak angkat.” Terang Gerald. Saat itu juga, napas Zeva seakan tercekat mendengar kenyataan tersebut.


Dan, ya. Satu hal yang membuat Zeva selama ini bertanya-tanya tentang, mengapa Diandra dapat dengan terang-terangan bersikap tak biasa pada Aldevaro, akhirnya terjawab. Ya, karena mereka tidak memiliki hubungan darah.


Pantesan tuh cewek ngebet banget sama Varo! Ternyata saudara angkat, batin Zeva menyimpulkan.


“Sebenarnya, alasan kenapa Diandra bisa hadir ke keluarga gue karena kematian adik gue, Gisha.”


“Lo punya adik?” Satu hal lain yang membuat Zeva terkejut bukan kepalang adalah, Gerald ternyata memiliki seorang adik.


Bukan jawaban lisan yang Zeva dengar dari mulut Gerald, melainkan sebuah anggukkan mantap yang berarti, cowok itu benar-benar memiliki seorang adik.


Dan apa tadi katanya? Meninggal?


“Dia tiga tahun lebih muda dari gue. Waktu itu, gue masih berusia delapan tahun, sedangkan Gisha … masih berusia lima tahun. Dan, ya. Gisha meninggal gara-gara gue. Dan dia …” Gerald menghentikan ucapannya tiba-tiba. Salah satu tangan cowok itu beserta jari telunjuknya terangkat ke depan. Menunjuk lautan atau mungkin ombak yang bergulung di depan.


Zeva mengikuti ke mana arah tunjuk Gerald. Gadis itu kembali mengerutkan keningnya saat Gerald masih belum mengatakan apa-apa. “Gisha meninggal terseret arus itu. Dan itu semua gara-gara gue.”


Zeva refleks menutup mulutnya, merasa syok dengan pengakuan dari Gerald. Sepasang bola mata gadis itu terasa memanas tanpa sebab. Merasa ikut terluka, padahal ia sendiri tidak tahu seperti apa rupa Gisha yang diceritakan oleh Gerald.


“Andai waktu itu gue gak bawa Gisha buat berenang di pantai. Mungkin, sekarang gue masih bisa lihat dia tumbuh dewasa.” Ucapan Gerald terdengar sendu. Dan Zeva menyadarinya. Spontan Zeva menoleh pada Gerald, yang terlihat masih menatap lurus ke arah laut.

__ADS_1


“Harusnya waktu itu gue-”


“Itu bukan salah lo! Stop nyalahin diri lo sendiri!” Zeva menyela, diiringi sentuhan lembut pada salah satu punggung tangan Gerald. Spontan cowok itu menoleh dengan sepasang bola mata yang sedikit melebar.


“Gisha meninggal bukan karena lo! Kalau Tuhan emang udah takdirin umatnya meninggal di usia muda, kita sebagai manusia gak bisa berbuat apa-apa. Lo harusnya berdoa buat Gisha supaya tenang di sana. Jangan malah terus nyalahin diri lo sendiri!”


Sungguh! Gerald dibuat termangu akan kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Zeva. Belum pernah ia mendengar dari siapa pun, bahwa; apa yang selama ini terjadi pada Gisha bukan karena ulahnya.


Bahkan keluarganya, mereka hanya diam ketika Gerald terus-menerus menangis meminta maaf atas kepergian Gisha. Tak sampai di sana. Demi melupakan kesedihan mereka, sang ibu malah membawa seorang anak perempuan seumuran Gerald, dan mengenalkannya sebagai anggota keluarga baru mereka.


Kesal? Jelas!


Belum ada seminggu Gisha meninggal, perhatian ibunya langsung beralih pada putri angkatnya. Semua kasih sayang dan cinta yang dahulu hanya untuk Gisha, kini beralih pada Diandra. Si pengganti yang merusak suasana kekabungan mereka.


Dan, ya. Sejak hari itu, Gerald sangat membenci Diandra. Tak peduli jika sang ibu selalu membela Diandra dengan kalimat yang teramat sangat Gerald benci, di mana beliau selalu saja berkata; Diandra itu mirip Gisha, dan Diandra adalah pengganti Gisha.


Tanpa diduga-duga, air mata Gerald luruh begitu saja. Laki-laki yang dikenal paling bengal dan sangat dijauhi oleh satu sekolah itu kini benar-benar menjatuhkan air matanya tepat di hadapan seorang gadis.


Ingatan demi ingatan di mana Gisha selalu tersenyum manis padanya, hingga tangisan meminta pertolongan terakhir yang keluar dari mulut Gisha saat ia terseret ombak, membuat Gerald kian meneteskan air mata yang selama beberapa tahun ini terus ia pendam sendirian.


“Enggak! Gisha meninggal karena gue, Va! Bahkan kakek aja yang dulu sangat memperhatikan gue, sejak kejadian hari itu sampai sekarang, dia udah gak sudi lagi ngelirik gue! Dia bahkan selalu bangga-banggain cewek itu, sama kayak Nyokap gue yang menanggap bahwa kehadiran cewek itu adalah pengganti dari Gisha. Udah pasti semuanya salah gue! Gue yang menyebabkan Gisha meninggal! Kalau Gisha gak pernah gue ajak berenang, mungkin sekarang dia udah tumbuh remaja! Dan Diandra, si pengganti sialan itu gak akan pernah ngerusak keluarga gue! Gue benci!” Gerald mengepal kuat kedua tangannya dengan hati yang bergejolak. Rahangnya bahkan mengeras menahan kalut dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.


Di sisi lain, Zeva menatap kasihan laki-laki yang selalu dirinya salah pahami.


Gerald yang ia kira tak memiliki perasaan, urakan, kasar, dan hal buruk yang menempel di namanya, tidak pernah memiliki kesakitan apalagi masa lalu yang menyedihkan.


Nyatanya, Gerald tetaplah Gerald. Dia juga adalah anak manusia yang tak sepenuhnya sempurna seperti yang kelihatannya. Bahkan, kesakitan Gerald jauh lebih parah dari yang Zeva rasakan, di mana Gerald diharuskan kehilangan sosok yang paling ia sayangi selamanya, tanpa bisa ia lihat lagi.


Perlahan namun pasti, Zeva menarik tubuh Gerald mendekat ke arahnya. Di detik yang sama, gadis itu memeluk tubuh Gerald, dikala cowok itu masih setia menangisi sang adik serta garis hidupnya yang tidak seindah yang orang lain kira.


Disaat keduanya masih berlarut akan suasana sendu, dari sanalah sesosok orang yang tak pernah dikira, menyaksikan adegan demi adegan yang tidak seharusnya ia lihat dalam jarak yang cukup berjauhan.


Di tempatnya, orang tersebut mulai mengepalkan kepalan tangannya. Mengeratkan rahang, bahkan sampai mengerutkan kening tanda tak suka.


Hatinya sesak, sungguh! Namun dirinya sadar, di mana posisinya saat ini.


“Jadi … lo akhirnya memilih sama saudara sepupu gue, si Gerald? Apa di dalam hati lo, gue gak pernah ada? Sebenci itu lo sama gue, Va, sampe dengan teganya lo memilih dia?!” Gerutuan itu tak berarti apa-apa, karena tidak dapat didengar oleh sang empunya nama yang terpanggil namanya, kecuali dirinya sendiri.


Dengan langkah muak, laki-laki yang tak lain ialah Aldevaro itu pun bergegas pergi, meninggalkan Zeva dan Gerald yang posisinya masih sama.


Sudah tak dapat dipungkiri lagi jika kedua remaja itu pasti telah menjalin hubungan yang sangat dekat. Begitulah tanggapan Aldevaro.


****


“Maaf, gue malah ngelihatin kelemahan gue di hadapan lo. Lo pasti ilfeel ‘kan, sama gue? Ngelihat cowok paling urakan nangis di depan seorang cewek. Cih, cemen juga gue,” Gerald kembali membuka suara selepas ia dan Zeva yang sama-sama terdiam setelah tangisan dan curahan hati Gerald telah dilimpahkan semuanya.


Zeva yang sedari tadi sibuk memandangi matahari yang siap terbenam pun hanya terkekeh pelan di samping tubuh cowok itu.


“Bukan cemen! Kalau emang pada dasarnya lo capek, gak ada salahnya kok, luapin semua emosi lo itu dengan nangis. Cowok juga manusia, ya kali gak boleh nangis. Semua makhluk di bumi ini pasti perlu nangis buat ngeluapin emosi mereka.” Ujar Zeva, yang jauh dari ekspektasi Gerald.


Sungguh, kenapa gadis itu pandai sekali membuat Gerald terpaku bahkan terkesima!? Semua deretan kata-kata yang terlontar dari mulutnya seolah hanya berisikan kalimat-kalimat yang mampu membuat Gerald melupakan rasa sakit serta beban hidupnya.


Sial! Gerald semakin menginginkan Zeva untuk menjadi miliknya segera. Namun pertanyaannya adalah, apakah gadis itu bersedia dan mau melupakan Aldevaro yang masih saja selalu ia bahas?


Omong-omong soal Aldevaro, Gerald jadi melupakan janjinya pada Zeva untuk mempertemukan mereka hari ini.


“Udah sore. Sesuai janji gue sama lo, gue akan temuin lo sama MANTAN PACAR KESAYANGAN LO itu!”


“Serius?” Tanggapan Zeva yang terdengar sangat bersemangat semakin membuat Gerald insecure jika sampai kapan pun, perasaannya tidak akan pernah terbalas.

__ADS_1


Gerald terkekeh miris seraya menganggukkan kepalanya. “Of course! Gue bukan tipe cowok yang ingkar janji, asal lo tahu!


To be continue…


__ADS_2