Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
20. Refreshing with Gerald


__ADS_3

“Jangan tinggalin gue, Va! Va! ZEVA!” Aldevaro sontak terperanjat dari tempat tidur begitu bayangan di mana Zeva pergi meninggalkannya muncul dalam mimpinya. Napas cowok itu tampak begitu terengah-engah dengan peluh yang mengucur deras dari area dahi dan juga lehernya.


Sial. Ternyata cuman mimpi. Ketika Aldevaro menoleh pada jam dinding yang berada di dalam kamarnya, cowok itu terkekeh miris seraya membenarkan posisinya menjadi terduduk menyamping.


“Bisa-bisanya gue ketiduran. Sekarang udah jam segini, Zeva pasti udah pergi sama si Gerald.” Gerutu Aldevaro, seraya mengusap kasar wajahnya.


****


“Kita mau ke mana sih, Ger?” Zeva menyahut, tepat ketika gadis itu telah sepenuhnya turun dari atas motor Gerald.


“Lo bakalan tahu juga nanti,” ujar Gerald, seraya melepaskan helm, kemudian menaruhnya di atas stang motor. “Dah, yuk, masuk!” Gerald kemudian menarik pelan tangan Zeva. Gadis itu terlihat bengong di tempat, dengan perhatian yang belum juga beralih dari sebuah bangungan kecil yang Zeva tebak ialah toko bunga.


Sesampainya di dalam, Zeva sontak dibuat kagum oleh puluhan jenis bunga yang ditempatkan di tempat-tempat yang berbeda. Tanpa sadar Zeva berjalan ke arah beberapa bunga yang sudah dirangkai sedemikian rupa yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Cantik banget! Gue pernah lihat bunga ini, tapi baru kali ini lihat yang sebanyak ini.” Gumam Zeva, tanpa sadar membuat Gerald tersenyum tipis, sampai membuatnya lupa akan tujuannya datang ke tempat tersebut.


“Lho, Gerald?! Kamu beneran ke sini?” Sahutan lembut dari arah lain, sontak mengalihkan atensi Zeva maupun Gerald, sang pemilik nama yang baru saja dipanggil.


Diliriknya seorang wanita paruh baya yang terlihat masih begitu muda, tampak begitu syok sekaligus girang melihat kedatangan Gerald beserta orang lain yang dibawanya. Wanita tersebut langsung saja menghampiri Gerald dengan hati berbunga. Sesekali, beliau akan mencuri-curi pandang pada Zeva yang berdiri tepat di belakang Gerald.


“Halo, Tante!” Sapa Gerald ramah, diiringi dengan menyalimi tangan wanita paruh baya yang dia panggil tante itu. Atau, sebut saja namanya Reva. Tante Reva, adik kandung dari sang papa yang memutuskan untuk keluar dari keluarga besar dan hidup mandiri dengan membangun usaha sendiri.


“Ger, dia siapa? Pacar kamu?” Pertanyaan to the point itu sedikit membuat Gerald kikuk. Namun dengan mudah dapat dia atasi. “Mungkin?” ujar Gerald, membuat Zeva yang mendengar dengan sangat jelas di belakangnya, dibuat mendengus kesal. Batinnya bahkan menggerutu yang bukan-bukan akibat perkataan cowok itu yang seenaknya.


“Hm … misterius banget. Oh, iya, Tante punya sesuatu buat kamu. Ikut Tante ke dalam sebentar, yuk!”


“Mau ngasih kado, ya?” Tebak Gerald usil, yang dibalas kekehan renyah oleh Tante Reva.


“Udah, ikut aja!”


Ketika Tante Reva hendak menarik tangannya, Gerald menahannya sebentar, kemudian berbalik menatap Zeva yang masih setia di tempatnya. “Btw, Va! Tunggu di sini bentar, ya. Gue gak lama, kok.” Sahut cowok itu, seketika menyadarkan Zeva dari berbagai lamunannya.


“Eh? Iya, gak pa-pa, kok. Santai aja.” Balas Zeva, diakhiri tersenyum kaku yang ditujukan pada tantenya Gerald.


“Tunggu sebentar, ya.” Timpal Tante Reva. Setelahnya, wanita paruh baya itu langsung bergegas menarik tangan Gerald untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya.


Kini, tinggalah Zeva yang berdiri seorang diri. Karena merasa sedikit penasaran, gadis itu memutuskan untuk berkeliling melihat jajaran bunga dengan berbagai jenis dan bentuk yang membuat fokusnya terus-menerus teralihkan sedari tadi.


Dan, ya. Perhatian terakhirnya kini tertuju pada jajaran bunga mawar merah. Entah mengapa perasaannya mendadak sendu memandangi bunga tersebut. Matanya bahkan terasa berair, dengan cepat Zeva mendongakan wajahnya untuk menahan air mata tersebut.


Merasa dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, gadis itu memutuskan untuk keluar dari dalam toko. Perasaannya mendadak kacau ketika otaknya tidak sengaja memikirkan Aldevaro hanya karena menatap jajaran bunga mawar merah tersebut.


Jujur, hati Zeva masih merasakan sakit hingga saat ini. Walau di depan Aldevaro ia dapat menahan air matanya, pada kenyataannya Zeva tetaplah seorang perempuan rapuh yang juga akan menangis karena putus cinta.


“Harusnya gue tahu dari awal. Lo pasti benci banget sama gue sampai lo rela bersandiwara seolah-olah lo bener-bener pengin balikan sama gue. Kenapa gue malah kesenengan? Dasar beg*, lo,Va!” Gumam Zeva. Tanpa dirinya ketahui, Gerald tersenyum miring di belakangnya. Tepat ketika dia keluar dari dalam toko, cowok itu langsung disuguhkan dengan mendengar semua gumamam Zeva.


“Ekhem! Gue cariin ternyata lo di sini,” sahutan itu sedikit membuat Zeva terlonjak. Dengan cepat Zeva berbalik seraya mengubah raut wajahnya.


“Soalnya lo lama.”


“Ya, sorry. Ini Tante Reva ngasih hadiahnya kelamaan soalnya. Mana pada banyak gini lagi,”


Zeva menatap satu-persatu paper bag dari yang berukuran sedang hingga yang paling besar yang Gerald tenteng di tangannya. “Hadiah? Buat lo?” Gerald mengangguk, sembari menjatuhkan paper bagnya ke tanah. “Gila, ‘kan? Tante gue royal kalau udah menyangkut soal ultah gue. Padahal ‘kan masih ada seminggu lagi.”


“Eh, lo mau ultah? Tumben orang kek lo mau ultah?”


“Sialan! Ngeremehin gue nih cewek. Heh, denger, ya. Seminggu lagi gue ngadain party di hotel, dan lo!” Zeva spontan menunjuk dirinya sendiri saat Gerald menunjuknya.


Sebelum melanjutkan ucapannya, Gerald mengubah raut wajahnya menjadi memelas dengan helaan napas pasrah yang keluar dari mulutnya. “Dengan berat hati, gue undang lo ke party gue.”


“Hah?! Dengan berat hati lo bilang?” Zeva tak habis pikir dengan jalan pikiran cowok di hadapannya ini. Mengatakan hal seolah-olah jika Zeva-lah yang memaksa untuk ikut bergabung dalam pesta ulang tahunnya.


Jangankan untuk bergabung, tahu bahwa seminggu lagi cowok itu akan mengadakan pesta saja dia baru tahu sekarang. Apa-apaan coba?

__ADS_1


Gerald mengangguk, kemudian tertawa receh. Membuat Zeva semakin dibuat kesal oleh perangai ajaib cowok itu. “Sebelumnya gue mau minta maaf, dan dengan berat hati juga, gue gak bisa ke party lo. Oh, ralat! Bukan gak bisa, tapi gak mau. Makasih buat tawaran paksaannya.” Balas Zeva, sebelum pada akhirnya gadis itu melenggang meninggalkan Gerald yang masih setia tergelak di tempatnya.


“E-eh, mau ke mana? Gak usah sok-sok an ngambek, deh. Tenang aja, gue bakalan undang lo, kok, Oke?” Gerald menarik tangan Zeva, sehingga menghentikan langkahnya yang baru beberapa langkah itu.


Raut wajah gadis itu terlihat cuek dan jutek, seolah kembali pada tempatnya. “Huss! Gak usah pegang-pegang!” Sentaknya, membuat Gerald tak bisa berhenti untuk tidak mengembangkan senyumannya.


Aneh. Gerald tidak pernah tersenyum bahkan tertawa sesering ini. Hanya karena menggoda Zeva sedikit hingga membuatnya kesal, Gerald merasakan dirinya seakan kembali menjadi dirinya yang dulu. Dan semuanya karena Zeva.


Jika saja gadis itu bukanlah mantan dari saudara sepupunya, mungkin Gerald akan membuat Zeva menjadi miliknya.


“Bentar!” Gerald mengerutkan keningnya saat kepalanya tiba-tiba memikirkan satu hal.


“Kenapa lo?” Zeva menyahut, merasa ada yang aneh dari Gerald yang sebentar-sebentar tertawa, tersenyum, bahkan memasang raut serius seperti sekarang ini. Dan lihatlah sekarang. Cowok itu terus terdiam yang kemudian berakhir tersenyum tipis. Benar-benar mengerikan.


“Lo kenapa, sih? Kesambet?”


“Perasaaan lo dari tadi bawel banget, deh? Lo suka sama gue, hm?” Gerald kemudian bersidekap di tempatnya, dengan perhatian yang kembali pada Zeva.


“Dih! Halu lo? Gue? Suka sama cowok modelan kayak lo? Udah gak waras dong gue!” Celetuk Zeva, sembari melipat kedua lengannya di depan dada. Sedangkan Gerald, entah mengapa dirinya jadi sedikit minder dengan pengakuan yang terucap dari mulut Zeva.


“Jadi … cowok modelan kek gimana yang lo suka? Kek si Aldevaro?” Cetus Gerald, seketika membuat Zeva dibuat bungkam dengan sepasang bola matanya yang melebar.


Melihat reaksi Zeva yang demikian, entah mengapa membuat Gerald merasa kesal dan marah. Namun, cowok itu memilih diam dan memendamnya sendirian.


Ingatlah tentang ajakannya tadi siang saat di sekolah. Gerald mengajak Zeva untuk jalan-jalan keluar untuk mencari ketenangan, karena dirasa Zeva sepertinya membutuhkan teman untuk berbagi.


Entahlah, sejak kapan Gerald mulai peduli dengan orang lain? Biasanya, Gerald akan menjadi orang pertama yang tidak akan mencampuri urusan orang lain.


Dan siapa sangka. Tanpa berbasa-basi, Zeva menerima ajakannya!? Gadis itu bahkan sempat teresenyum tipis saat mengiyakan ajakan Gerald, membuat Gerald seketika merasa jantungnya akan mulai copot akibat degupannya yang terasa begitu cepat.


“Ekhem. Mumpung masih ada waktu, gimana kalau lo ikut gue ke suatu tempat?”


“Ke mana?” Pertanyaan Zeva, membuat Gerald dengan spontan menyerahkan seluruh paper bag-nya pada gadis itu. Dengan telaten dia mulai memakaikan Zeva helm. Tampak raut kebingungan yang bercampur dengan perasaan syok yang dapat Gerald lihat dari raut wajah Zeva.


Selepas memakaikan Zeva helm, Gerald pun beralih memakaikan helm untuk dirinya sendiri. Tatapan mata cowok itu masih setia tertuju pada Zeva yang terlihat bergerak tak nyaman di tempatnya. Pasti karena Gerald yang tiba-tiba memakaikan helm padanya.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Gerald langsung menjalankan motornya ke jalan raya, dengan Zeva yang spontan memeluk pinggangnya, akibat cowok itu yang dengan sengaja menjalankan motornya di atas kecepatan rata-rata.


Di balik helm full face yang Gerald kenakan, diam-diam Gerald kembali mengulum senyumannya. Perasaan senang dan puas yang lagi-lagi ia rasakan, membuatnya terasa bersemangat. Dan itu semua karena gadis bernama Zeva.


****


Zeva tak henti-hentinya terus menyembulkan kepala dari dalam jendela kaca mobil yang terbuka. Gadis itu bahkan sempat berteriak histeris saat sapuan dari angin yang menerpa wajahnya terasa begitu dingin namun menyegarkan.


Ya, bisa dibilang Gerald mengganti kendaraannya dengan mobil, sebelum cowok itu memutuskan untuk benar-benar mengajak Zeva berjalan-jalan seperti saat ini. Awalnya, Gerald hendak memakai mobil yang cupnya terbuka. Sayangnya dia lupa untuk membawanya ke bengkel akibat mesinnya yang beberapa waktu lalu tidak menyala.


“Gimana? Lo suka?” Teriak Gerald, sembari terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang terbilang sangat gila.


Beruntung jalanan yang mereka lewati hampir seluruhnya sepi. Membuat Gerald semakin berleluasa untuk mengemudikan mobilnya secara ugal-ugalan.


“Sukaaa bangettt! Gue belum pernah sebebas iniiiii!” Zeva balas berteriak dengan kepala yang masih menyembul dari balik jendela kaca mobil. Tak berapa lama kemudian, gadis itu mulai kembali menarik kenapalanya dari sana, dan mulai fokus pada jalanan setapak di depan sana.


“Kita sebenarnya mau ke mana sih, Ger?” Sahut Zeva, seraya menoleh pada Gerald yang tak henti-hentinya terus mengembangkan senyumannya.


“Pantai.” Jawab cowok itu singkat, seraya menoleh sekilas pada Zeva.


Di tempatnya, Zeva dibuat terdiam dengan berbagai pemikiran negatifnya. Pikirnya, mau apa mereka ke pantai di jam yang hampir malam begini?


“Lo serius?”


“Iyalah,”


“Pantai jauh lho, Ger!”

__ADS_1


“Ya terus?”


“Ini udah mau malem.”


“Lo takut?” Terdengar decakan sebal yang membuat Gerald semakin dibuat tertantang. “Tenang aja. Gue gak akan macem-macem. Gue juga gak nafsu sama lo. Gue cuman mau refreshing, itu doang, kok,” terang Gerald, entah mengapa membuat Zeva merasa kesal sendiri dibuatnya.


“Lo bisa gak sih, kalau ngomong jangan ngasal? Lo pikir gue juga bakal nafsu gitu sama lo? Sorry, otak gue masih bersih. Gak kotor kek punya lo, hmph!”


“Oke, terserah.”


Beberapa puluh menit kemudian, mereka berdua telah sepenuhnya sampai di sebuah pinggiran pantai yang terlihat begitu sepi dan sunyi. Hanya terdengar deburan ombak serta suara hembusan angin yang bergemuruh.


Zeva lantas keluar dari dalam mobil, kemudian menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin laut yang asin memasuki indera penciumannya. Rasanya, sejuk dan hangat diwaktu yang bersamaan. Apalagi melihat rona jingga di langit yang menandakan bahwa hari telah benar-benar senja. Bahkan sang mentari pun tampak hampir siap dilahap oleh dalamnya lautan.


“Gue suka senja. Kalau lo?” Perlahan, Zeva menolehkan kepalanya menatap Gerald yang ternyata posisinya berada tepat di sampingnya.


“Em, suka, sih. Tapi gue lebih suka hujan.” Gerald tampak mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. Perhatian Zeva pun perlahan mulai kembali pada objek cantik di depan sana.


Terdengar helaan napas berat dari mulut Zeva, yang mengundang Gerald untuk menoleh pada gadis itu. “Kenapa?” Sahut Gerald. Zeva tidak langsung menjawabnya. Dia hanya terkekeh miris sembari menundukkan kepalanya.


“Harusnya saat ini gue lagi nangis di pojokan kamar, bukannya healing di pantai sama lo yang notabene adalah cowok.” Zeva menggantungkan ucapannya, dibarengi dengan perhatiannya yang kembali pada Gerald, yang juga tengah menatapnya.


“Makasih, ya, udah ajak gue ke sini. Gue jadi ngerasa lebih plong sekarang. Berkat lo!”


Gerald lantas tersenyum tipis mendengar pengakuan tak terduga dari Zeva. Dadanya bahkan terasa bergemuruh, hanya karena Zeva berkata lembut padanya. “Sebenarnya, lo gak perlu berterimakasih sama gue. Gue biasanya suka dateng ke sini sendirian, itu pun kalau gue lagi ada masalah. Dan, yah, gue lagi ada masalah, makanya ngajak lo ke sini. Sekalian healing bareng,” terang Gerald, yang dibalas anggukan paham oleh Zeva.


“Em, kenapa ajak gue ke sini?”


“Gue lihat lo tadi nangis sendirian di rooftop, lo juga pasti ada masalah ‘kan? Sampe minjem badan gue segala buat nenangin diri,”


“Apaan sih lo! Kalau gak ikhlas, kenapa lo-nya diem aja? Biasanya juga banyak omong.”


“Iya juga, ya?! Gara-gara lo sih,”


“Kaget, ya? Sorry!” Hening. Tak ada lagi suara sahut menyahut di antara keduanya. Keduanya seolah membisu, dengan perhatian yang sama-sama menghadap ke laut barat. Tampak matahari hampir sepenuhnya tenggelam di depan sana, sehingga mengakibatkan cahaya di sekitarnya semakin menjingga kemerah-merahan.


“Mau pulang sekarang?” Sahutan tersebut membuat Zeva langsung menoleh. Sempat berpikir sejenak, akhirnya Zeva mengangguk sebagai jawaban dari tawaran pertanyaan Gerald.


****


Malam berbintang yang cukup sunyi, Zeva habiskan dengan melamun seorang diri di dalam kamarnya. Jendela kamarnya dibiarkan terbuka lebar, sehingga angin malam yang begitu dingin dapat langsung menyentuh permukaan kulitnya.


Sepi dan kesepian. Malam-malam seperti ini sudah sangat sering Zeva lewati seorang diri. Mamanya yang sibuk bekerja, apalagi saat ini beliau masih dinas di luar kota.


Ya, beginilah kehidupannya. Benar-benar memuakkan, tetapi juga malah menjadi suatu kebiasaan yang membuatnya nyaman di saat yang berasamaan.


Tok tok tok!


Bunyi ketukan pintu di depan rumahnya, seketika membuyarkan segala lamunan Zeva. Diliriknya ke arah jam dinding, pukul 9 malam tepat tertera di sana.


Perlahan, Zeva bangkit dari posisinya dengan hati dan pikiran yang bertanya-tanya. Pikirnya, siapa yang bertamu di malam-malam begini? Tidak mungkin itu mamanya, sudah sangat jelas tadi mamanya mengirimkan pesan, bahwa beliau baru bisa pulang ke rumah besok pagi.


Dengan ragu, Zeva keluar dari dalam kamarnya menuju ke pintu utama. Ketika tangannya telah membukakan kunci dan hendak menarik knop pintu, perasaan ragu tiba-tiba menghinggapinya. Otak kecilnya terus-menerus berpikiran negatif tentang sosok orang di balik pintu itu. Mungkinkah, maling?


Buru-buru Zeva menggelengkan kepalanya, merasa tak masuk akal akan pemikirannya barusan. “Gak mungkin! Maling gak akan ketok pintu, Zevaaa!” Gumamnya, sebelum memutuskan untuk membukakan pintu tersebut sepenuhnya.


Dan, ketika pintu tersebut sudah sepenuhnya terbuka, betapa terkejutnya saat seseorang yang tak pernah ia sangka, tengah berdiri jangkung di ambang pintu rumahnya dengan keadaan yang cukup kacau.


“Varo? Lo ngapain jam segini ke rumah gue?” Saat Zeva hendak kembali menutup pintu, tangan besar milik Aldevaro menahannya. Hal tersebut membuat Zeva terperanjat, apalagi ketika cowok itu dengan kasar mendorong pintu rumahnya.


“Var?” Perlahan, Zeva memundurkan langkah kakinya saat Aldevaro berjalan mendekat ke arahnya. Tatapan cowok itu tampak dingin dan redup, namun terlihat tajam di saat yang bersamaan.


Zeva menghentikan langkah kakinya, ketika punggungnya membentur badan sofa. Napasnya terasa tercekat, apalagi ketika Aldevaro semakin malangkahkan kakinya ke hadapan Zeva. Ketika tak ada lagi jarak di antara keduanya, barulah Aldevaro berhenti. Saat kepalanya sedikit menunduk untuk menatap wajah penuh waswas Zeva, saat itu juga, Zeva langsung membuang muka.

__ADS_1


“Gue mau jelasin semuanya sama lo, Va. Gue mohon, lo dengerin gue kali ini. Gue janji, ini yang terakhir.”


To be continue...


__ADS_2