
“Niel! Tar malem jadi, yak!” Revan, salah satu teman sekelas Daniel, menyahut pelan pada sang pemilik nama.
Sedangkan yang disahut hanya terkekeh seraya mengangguk pelan. “Kalau gak ada problem,” ujar Daniel, dibalas anggukan paham oleh Revan, begitupula oleh satu orang temannya yang lain, yang sedari mereka berbincang hanya diam dan memerhatikan.
“Oke. Kita duluan kalau gitu,” pungkas Revan, lalu melenggang menuju motornya yang ia parkirkan tepat di depan sebuah gedung olahraga umum yang sering digunakan untuk tanding futsal maupun voli.
Omong-omong soal hari ini, Daniel dan beberapa teman sekelasnya baru saja selesai menonton pertandingan futsal yang hampir setiap minggunya sering diadakan di sana.
Karena Daniel adalah pecinta bola sejati, ia tidak akan mungkin meninggalkan kesempatan untuk menonton pertandingan seperti itu. Ditambah dengan teman-temannya yang mengajak secara langsung untuk turut serta menonton, membuat Daniel semakin bersemangat untuk ikut menonton.
Dan, untuk ajakan dari Revan tentang nanti malam adalah tentang menonton pertandingan futsal dibagian finalnya. Namun, sepertinya nanti malam Daniel tidak akan ikut menonton bagian finalnya. Setelah ini saja Daniel akan pergi menemui seseorang yang teramat sangat ia rindukan. Sudah cukup lama Daniel tidak pergi menjenguknya. Dan sepertinya, sore ini adalah waktu yang paling tepat.
Sebelum benar-benar akan melangkah ke arah motornya yang juga berada di parkiran, Daniel menyempatkan diri untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah toko bunga yang kebetulan letaknya berhadapan langsung dengan gedung olahraga.
Sesampainya di dalam, Daniel langsung disambut hangat oleh sang pemilik toko bunga yang tersenyum ramah padanya. Seolah kedatangan Daniel ke toko bunga tersebut bukan lagi kali pertama.
“Kamu ke sini lagi?” Sahut pemilik toko bunga tersebut yang usianya kisaran tiga puluh tahunan. Wajahnya terlihat masih sangat muda dan cantik. Sosoknya yang ramah mengingatkan Daniel pada sang mama.
“Iya, Bu! Seperti biasa, ya,”
“Em, apa masih untuk orang yang sama?” Tanyanya ramah, yang dibalas kekehan serta anggukan pelan oleh Daniel.
“Kalau begitu tunggu sebentar, ya,” ujarnya, lalu melengos dari hadapan Daniel untuk segera membungkuskan buket bunga yang selalu Daniel pesan seperti biasa.
Tak butuh waktu lama, wanita paruh baya itu membawakan pesanan Daniel. Sebuah buket bunga spesial berukuran besar yang diisi oleh beberapa jenis bunga berwarna-warni yang akan ia hadiahkan pada mamanya yang terbaring lemah di rumah sakit.
Setelah buket bunganya telah benar-benar dibungkus, barulah Daniel memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada wanita itu. Namun, ada yang aneh saat Daniel memberikan uang tersebut padanya.
Wanita pemilik toko bunga itu malah menolak bayaran atas buket bunganya. “Kenapa? Apa sekarang harganya naik? Kalau gitu-”
“Bukan.” Wanita itu sejenak menjeda kalimatnya. “Ini khusus dari Saya untuk Mama Kamu. Semoga cepat sembuh, ya,”
Daniel sempat dibuat tertegun beberapa saat, hingga suara grasak-grusuk dari buket bunga yang dimasukan ke dalam sebuah paper bag, sanggup mengenyahkan lamunannya. “Ekhem. Tapi, masa Saya gak bayar? Biasanya ‘kan, juga-” Daniel lagi-lagi menghentikan kalimatnya saat wanita pemilik toko bunga itu memberikan buket bunga yang telah dibungkus rapi ke tangan Daniel.
Perhatian Daniel perlahan beralih pada buket tersebut yang berada di tangannya. Setelahnya, perhatian Daniel kembali pada wanita pemilik toko bunga itu yang masih memasang senyum manis padanya.
“Anggap saja bunga itu hadiah serta doa buat kesembuhan Mama Kamu. Kamu adalah anak yang baik. Pasti beliau seneng banget menerima bunga itu dari Kamu. Mohon diterima, ya.”
Seolah telah kehilangan kata-kata, di tempatnya Daniel hanya bisa terdiam menunduk sembari menarik napasnya dalam-dalam. Genggaman tangannya pada tali paper bag itu mendadak mengerat. Tak berapa lama, kepalanya mulai mendongak menatap penuh rasa terima kasih teruntuk wanita pemilik toko bunga itu.
“Kalau begitu Saya terima. Terima kasih untuk bunganya, Mama Saya pasti suka.”
****
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Daniel tak henti-hentinya terus memasang senyuman manis di balik helm full face yang tengah ia kenakan. Bayangan wajah cantik mamanya ketika kembali bertemu dengannya setelah cukup lama, membuat Daniel kian mempercepat laju motornya.
Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera bertemu sang mama, satu-satunya wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
Hampir tiba di tikungan jalan, Daniel mulai sedikit mengerem motornya. Anehnya, rem motornya tiba-tiba tidak berfungsi. Saat Daniel mencoba berkali-kali untuk kembali mengerem motornya, bukannya memelan, motornya justru malah semakin melesat ke depan.
Sial!
Bagaimana ini?
Dengan berbagai pertimbangan singkat, Daniel membanting stir motornya ke arah pembatas jalan. Mengakibatkan dirinya beserta motornya berguling-guling di tengah jalanan yang beruntungnya tengah sepi.
“Akh!” Daniel meringis kesakitan saat tubuhnya terhempas kuat ke atas jalanan beraspal. Bahkan, salah satu kakinya ikut terjepit oleh badan motornya sendiri. Sempat terus berusaha seorang diri dikarenakan jalanan yang tengah sepi, seseorang dari arah lain bersama dengan motor KLX-nya, berhenti dan membantu Daniel.
Tak butuh waktu sampai sepuluh menit, Daniel telah sepenuhnya terlepas dari belenggu badan motornya yang menindih cukup kuat salah satu kakinya.
“Lo gak pa-pa?”
Suara sahutan yang terdengar lemah lembut itu membuat Daniel mengerutkan alisnya beberapa saat. Ketika mendongak untuk menatap siapa yang baru saja menolongnya, saat itu juga, Daniel langsung membelalakkan matanya saat helm full face yang dikenakan orang itu sepenuhnya terlepas dari kepalanya.
__ADS_1
“Elo?” Dengan terburu-buru, Daniel ikut melepas helm full face-nya. Menampilkan wajah serta rambutnya yang lumayan acak-acakan akibat kecelakaan yang baru saja menimpanya.
“Lho? Daniel? Ternyata elo? Lo gak pa-pa ‘kan? Ada yang sakit, gak?” Jovanka Davisha, atau yang akrab dipanggil Joy, cewek yang baru saja membantunya, menatap penuh cemas pada Daniel. Sayangnya, cowok itu malah dibuat bengong di tempat dengan sesekali mengerjap mata.
Tak pernah sekalipun Daniel kira bahwa cewek sejudes Joy akan membantunya disaat seperti ini. Dan lagi, tadi Daniel sempat mengira bahwa yang tengah membantunya adalah seorang laki-laki.
Nyatanya, itu adalah Joy yang notabene adalah seorang perempuan.
“Woi! Kok, bengong? Lo gak pa-pa ‘kan?” Joy mengibaskan tangannya di hadapan Daniel, sehingga membuat cowok itu akhirnya tersadar dari lamunannya.
“Hah? Gu-gue ... Akh!” Daniel meringis pelan, saat dirinya berusaha untuk berdiri sendiri.
Peka akan hal itu, refleks Joy menahan lengan Daniel, dan membantu cowok itu untuk berjalan ke tepian. Sampai pada akhirnya mereka mulai tiba di trotoar, barulah banyak orang yang datang mengerubungi untuk melihat apa yang baru saja terjadi.
“Lho, ada apa ini? Masnya gak pa-pa?”
“Kok, bisa terjadi hal seperti ini?”
“Ada yang sakit gak Mas?”
Daniel meringis pelan saat kaki serta beberapa bagian tubuhnya mulai merasakan rasa sakit dan ngilu yang lumayan. “Saya gak pa-pa, kok,” ujar Daniel, masih sempat-sempatnya memasang senyuman pada orang-orang yang tengah mengkhawatirkannya.
“Wah, ini remnya blong Mas! Ini kayaknya ada yang sengaja, deh. Gak mungkin ini bisa putus kayak gini, nih.” Salah seorang pemuda dua puluh tahunan tampak mengecek satu persatu bagian motor Daniel yang masih tergeletak di tkp. Sementara Daniel dan Joy, dua orang itu refleks saling pandang dengan tatapan penuh keterkejutan.
“Si Erwin!” Ucap Joy spontan. Sedangkan Daniel, cowok itu lantas menyentil pelan dahi Joy, membuat sang empunya refleks mengaduh. “Huss! Jangan asal tuduh! Gak ada buktinya juga ‘kan,”
“Ngeselin banget sih! Bukannya bilang makasih gue tolongin, ini malah sembarangan nyentil-nyentil pala orang.” Joy menggeplak bahu Daniel spontan, membuat sang empunya refleks meringis sakit. Tatapan tajam nan menusuk lantas Daniel layangkan pada Joy yang tengah menyengir lebar di hadapannya.
Sungguh, Joy lupa kalau Daniel ini baru saja terlepas dari kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawanya.
“Kita ke rumah sakit aja, ya? Kayaknya lo harus diperiksa menyeluruh, deh. Takutnya ada apa-apa gitu. Oke? Sebagai permintaan maaf, gue temenin lo, deh,” Joy memberi usulan, berharap Daniel mau melupakan hal apa yang baru saja ia lakukan padanya.
“Nah, bener kata Mbaknya! Gimana Mas, mau dicariin taksi atau ambulans, gituh?” Salah seorang warga ikut menambahkan. Spontan perhatian Daniel maupun Joy lantas menoleh padanya sekilas.
“Kok, gak usah? Lo ‘kan lagi sakit!” Raut wajah Joy berubah kaget yang ia tujukan pada Daniel.
Siapa yang akan menyangka, hal tersebut sukses membuat Daniel terkekeh pelan. “Ya ‘kan, ada lo!”
“Gue?” Tunjuk Joy pada dirinya sendiri. Daniel pun mengangguk.
****
“Thanks, ya, udah bantuin sama nemenin gue ke rumah sakit.” Daniel berucap tulus pada Joy yang tengah membantunya mendorong kursi roda.
By the way, akibat salah satu kakinya yang tertimpa badan motor, Daniel jadi agak sulit untuk berdiri apalagi berjalan. Dengan terpaksa, Daniel akhirnya memilih duduk di kursi roda. Itu pun Joy yang memaksa. Kalau saja tidak, tadi Daniel sudah memilih untuk memakai tongkat saja.
Sayangnya, salah satu lengannya juga ikut terkena imbasnya. Jadilah Daniel pasrah dan memilih kursi roda tersebut.
“Yaa, walaupun lo rada-rada ngeselin, tapi gue terima ucapan terima kasih lo.” Balas Joy, membuat Daniel tanpa sadar menghela napas.
Terjadi suatu keheningan beberapa saat di antara keduanya. Ketika Joy kembali mendorong kursi roda Daniel, sentuhan hangat di salah satu tangannya membuat Joy refleks mengubah perhatiannya. Menatap Daniel yang kini tengah menoleh ke belakang.
“Bunganya.” Daniel berucap spontan, sedikit membuat Joy tidak paham. Namun tak berapa lama, Joy mulai menangkap pembicaraan Daniel.
“Ooh, buket bunganya, ya?” Daniel mengangguk cepat, sementara Joy tampak kebingungan harus menjawab apa.
“Em, sebenarnya, buket bunganya tadi udah lecet dan gak berbentuk banget. Mau gue ambil tapi bunganya udah …” Joy menggantungkan ucapannya ketika raut wajah Daniel mendadak sendu. Wajah cowok itu pun tampak menunduk dengan sesekali menghela napas.
Haduhh, jadi gak tega lihatnya.
“Em, bunganya penting banget, ya? Apa seharusnya gue bawa aja tadi? Udah lecet tadi, gue kira lo gak akan mau.” Joy mengubah posisi berdirinya dari awalnya berdiri di belakang Daniel, menjadi berjongkok di hadapan cowok itu.
Lagi-lagi terdengar sebuah helaan napas yang diakhiri dengan sebuah senyuman terpaksa. “Gak pa-apa, gue bisa beli lagi, kok. Oh, iya. Kayaknya gue udah gak pa-pa, deh. Gue mau-” saat Daniel hendak bangkit dari kursi roda, dengan cekatan Joy menahannya. Tatapan matanya bahkan berubah menelisik pada Daniel yang juga tengah menatapnya penuh tanya.
__ADS_1
“Mata lo yang sebelah mana, lo udah gak pa-pa? Udah, gak usah maksain gitu, deh. Emangnya lo mau ke mana sih buru-buru gitu?”
“Gue mau ketemu Nyokap. Kebetulan dia dirawat di sini juga. Kalau dia lihat gue babak belur begini, dia bisa khawatir. Gue gak mau bikin dia kepikiran disaat kondisi dia sendiri aja lagi gak memungkinkan.” Terang Daniel. Raut wajahnya tampak serius saat mengatakan deretan kalimat tersebut. Anehnya, hal itu membuat Joy merasa tertarik sehingga berakhir melamunkan satu hal tentang Daniel.
“Woi! Kenapa lo?”
“Hah? Eh! Eng-gak! Jadi … ekhem! Lo … mau gimana sekarang?” Tanya Joy, berusaha untuk menutupi perasaan aneh yang tiba-tiba saja bersarang di hatinya.
“Tolongin gue, ya! Sekali lagi ini aja! Anterin gue ke ruang rawat Nyokap gue, tapi lo gak boleh bilang apa-apa soal kondisi gue sekarang.”
“Heh! Tanpa gue ngaduin pun, Nyokap lo bakal ngelihat! Cara jalan lo aja pincang gitu, satu lengan lo juga luka, ini maksudnya gimana sih?” Jujur saja, Joy bingung dengan isi pikiran Daniel saat ini.
Meminta tolong untuk mengantarnya ke ruang rawat ibunya, tapi tidak boleh mengatakan perihal ia mengalami kecelakaan padanya? Dari raut wajah dan gestur tubuh yang berbeda pun dapat terlihat dengan sangat jelas kalau Daniel baru saja kecelakaan. Terus, fungsinya Joy yang harus ikut Daniel menemaninya bertemu ibunya apa coba?
“Tenang aja, gue ada ide, makanya gue minta tolong sama lo!”
“Ide? Ide apa?”
****
Di salah satu bangsal VIP, seorang wanita paruh baya tampak melamun dengan kondisi tubuh yang terbaring lemah di atas blankar rumah sakit. Punggungnya sengaja ia sandarkan pada tumpukan bantal. Tatapan wanita itu tampak begitu sendu yang ditujukan pada pemandangan langit yang mulai gelap dari balik jendela.
Raut wajahnya tampak pucat dengan tubuhnya yang dari hari ke hari semakin terlihat kurus. Rambutnya yang semula berwarna hitam legam pun perlahan mulai berganti warna sebagian.
Helaan napas lagi-lagi ia embuskan tatkala seseorang yang sudah dari cukup lama ia nanti-nantikan kedatangannya belum juga datang dan menjenguknya.
“Daniel mana sih? Padahal ‘kan, Mama udah kangen banget sama dia,” gerutu wanita itu, biasa disapa Arumi, yang gerutuannya dapat didengar oleh seorang pengurus rumahnya yang turut ia bawa ke rumah sakit untuk mengurusi berbagai keperluannya.
“Mungkin Tuan Muda sedang dalam perjalanan, Nyonya. Nyonya yang sabar, ya,” ujar si pengurus rumahnya yang biasa dipanggil Mbak Yati.
Lagi-lagi Arumi kembali menghela napas di tempatnya. Saat ia hendak mengutarakan kembali rasa rindunya, pintu bangsalnya terbuka lebar. Tampaklah seorang pemuda tinggi nan tampan, berjalan memasuki ruangannya dengan membawa sebuah buket bunga segar di kedua tangannya. Tatapan matanya bahkan terlihat begitu lembut, pun diiringi dengan sebuah senyuman lebar yang terpatri di wajahnya.
“Daniel? Kamu ke sini, Nak?” Arumi mulai merentangkan kedua tangannya yang disambut hangat oleh Daniel.
Dengan penuh kerinduan, Daniel memeluk tubuh sang mama begitu erat, setelah sebelumnya ia menyimpan terlebih dahulu buket bunganya ke atas meja nakas. “Mama apa kabar?” Sahut Daniel, ketika pelukan mereka telah sepenuhnya terlepas. Namun, untuk kontak mata, baik itu dari Daniel maupun Arumi, mereka belum mau memutuskannya.
“Mama baik. Gimana sama kabar Anak Mama yang super duper tampan yang selalu sibuk ini, hm?”
“Baik juga kok, Mah.” Jawab Daniel, diakhiri terkekeh pelan.
Perlahan, perhatian Arumi mulai beralih ke belakang, tepat di mana seorang gadis yang tak lain ialah Joy tengah berdiri kaku di ambang pintu masuk.
“Gak ada yang mau Kamu ceritain nih, sama Mama?” Pertanyaan Arumi, tanpa sadar membuat Daniel mengerutkan dahinya.
Ketika sebuah kode berupa tatapan mata dari mamanya terus mencuri-curi pandang ke belakang, barulah Daniel pun ikut menolehkan kepala ke sana. Dan, dapat ia temukan Joy yang tengah menyengir di ambang pintu seraya melambaikan tangan.
“Oh, dia?” Saat Daniel berucap demikian, buru-buru Joy berjalan tergesa-gesa ke hadapan Arumi. Tersenyum lembut lalu menyalami wanita paruh baya itu.
“Kenalin, namanya Jovanka. Temen sekolah. Kebetulan gak sengaja ketemu di jalan, dan akhirnya Aku ajak ke sini.”
“Halo, Tante! Saya Jovanka, biasanya sih sering dipanggil Joy sama temen-temen yang lain,” Joy mulai membuka mulutnya, masih setia dengan memasang senyuman lembutnya pada Arumi.
Arumi balas tersenyum ramah pada Joy. “Yakin cuman temen? Bukan pacar?” Pertanyaan tiba-tiba itu sedikit membuat Joy maupun Daniel terkejut. Sempat keduanya saling pandang beberapa saat, hingga suara gelak tawa dari Arumi membuyarkan suasana.
“Gak usah tegang gitu dong! Mama cuma bercanda kali,”
Di tempatnya, Joy mulai tertawa membalas candaan dari Arumi. Entah itu memang sebuah tawa yang asli, atau hanya sekadar formalitas belaka, Daniel pun tidak tahu pasti. Namun yang jelas, Joy yang penampilannya terlihat sangat tomboy ini, ternyata tampak begitu cantik saat sedang tertawa.
Untuk penampilan, Joy hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana jeans hitam yang dibalut dengan jaket kulit berwarna senada. Untuk alas kakinya sendiri Joy memakai sepatu sneakers biasa berwarna abu-abu. Oh, jangan lupakan rambutnya yang lurus sebahu ia ikat sebagian. Semakin menambah kesan keren untuk gadis itu, apalagi ketika mengingat bagaimana ia mengemudikan motor KLX-nya saat membawa Daniel ke rumah sakit tadi.
Benar-benar tipe cewek idaman Daniel.
Tunggu, apa?
__ADS_1
To be continue…