Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
43. Bad Dastiny II


__ADS_3

"Bhi! Gue ... pamit. Jaga diri lo baik-baik. Gue sayang sama lo."


Waktu seolah berhenti berputar, selepas Gerald berucap demikian. Detak jantung yang awalnya masih terkontrol, perlahan mulai kehilangan fungsinya. Tangan dingin yang awalnya masih berada dalam genggaman Diandra, perlahan mulai terlepas seiring dengan kesadaran Gerald yang menghilang sepenuhnya.


Sepasang bola mata yang senantiasa menatap tajam siapa pun itu telah benar-benar terpejam. Suara tarikan napasnya bahkan tak lagi terdengar, membuat satu ruangan dibuat panik memanggil-manggil namanya.


"Ger? Gerald! Gerald kenapa lo diem? Enggak! Lo gak akan ninggalin kita semua 'kan? Gerald bangun! Jangan tinggalin gue!" Abhigail berteriak histeris dengan sesekali mengguncang bahu Gerald.


Nahas, seberapa kuat pun gadis itu memanggil dan mengguncang tubuh Gerald, tidak ada reaksi apa pun darinya.


Gerald yang Abhigail cintai sepenuh hati, telah benar-benar pergi meninggalkannya tanpa peduli, seberapa banyak luka dan kesakitan yang ia berikan.


"Gue panggil dokter!" Aldevaro mendadak bingung di tempatnya. Tubuhnya ikut bergetar hehat dengan perasaan kalut yang kian mendominasi. Kedua kakinya bergegas berlari menuju ruangan dokter. Sesekali, Aldevaro akan menyeka kasar air mata yang terkadang keluar begitu saja tanpa ia minta.


"Apa yang terjadi?" Berkat suara jeritan histeris Abhigail, pun Aldevaro yang berlari terburu-buru keluar dari ruang UGD, sanggup membuat satu keluarga besar ikut panik, sehingga berakhir membobol pintu ruang UGD.


"Gerald?" Perhatian Nia, sang ibu kandung, seolah langsung terkunci pada tubuh Gerald yang tak bereaksi. Dengan langkah gontai, wanita itu berlari menghampiri tubuh putranya.


"Apa yang terjadi sama Anak Saya? Gerald bangun, Nak! Ini Mama sama Papa! Gerald!" Nia ikut mengguncang bahu putranya. Sayang, apa yang ia lakukan, sama seperti Abhigail yang tak membuahkan hasil apa pun. Telinganya seolah tuli. Dan, ya. Gerald tetap terpejam damai di tempatnya.


Geraldino Abraham. Sampai sini sajakah akhir perjalanan hidupmu? Berakhir di usia delapan belas tahun, di mana di usia tersebut, terlalu banyak luka yang diterima. Terlalu banyak kesalahan pula yang ia buat, sampai sebuah kesalahan besar pun turut ia lakukan hanya demi mengalihkan semua rasa sakitnya.


Memiliki ayah yang keras dan terkesan tidak peduli. Ibu yang hanya mementingkan kesenangan sendiri. Kakek yang lebih mencintai cucunya yang jauh lebih hebat, seperti Aldevaro dan Diandra. Adiknya yang teramat ia cintai dan senantiasa ia lindungi sepenuh hati pun turut meninggalkannya.


Oh, tidak! Mungkin setelah ini, Gerald dapat pergi menyusul Gisha ke alam baka. Mungkin, adiknya nanti tidak akan kesepian lagi di sana. Mengingat, dahulu saja, Gisha begitu menempel pada Gerald. Gadis kecil itu selalu menangis, bila sedetik saja Gerald tidak menemaninya.


Selamat tinggal semuanya! Maaf sudah membuat kalian kecewa! Dan maaf, tidak bisa memperbaiki diri menjadi yang lebih baik lagi. Waktuku hanya sampai di sini.


****


Tangis disertai doa, seolah masih dalam genggaman, bagi orang-orang yang merasa ditinggalkan. Satu-persatu orang melayat ke tempat peristirahatan terakhir dengan perasaan yang campur aduk. Antara terkejut dan tidak percaya, secepat inikah Gerald, si Raja Biang Onar Sekolah, pergi selamanya?


Walau demikian, sebenarnya Gerald itu baik. Hanya saja, asalkan siapa pun tidak berani mencari masalah dengannya, maka siapa pun tidak akan merasakan getah dari kenakalannya.


Mungkin, karena sikapnya yang terlalu terang-terangan menyatakan ketidaksukaan terhadap Aldevaro, membuatnya disalah pahami satu sekolah.


Kini, siang telah berganti sore. Namun, baik keluarga dekat maupun Abhigail yang turut ditinggal pergi, enggan untuk beranjak dari tempat tersebut.


Seolah belum benar-benar mengikhlaskan, mereka semua masih berdiam diri di gumpalan tanah merah yang terpasang nissan bertuliskan nama Gerald sendiri serta tanggal kematiannya.


"Bhi! Kita pulang, yuk! Lo pasti pegel terus-terusan duduk dengan posisi kayak gini. Lagipula, lo 'kan lagi hamil. Apa lo gak kasian sama calon anak kalian, hm? Dia pasti ikutan capek," ucapan menenangkan yang dilontarkan Zeva, tanpa sadar mengundang perhatian Nia, Irfan dan juga Hendra.


Ketiga orangtua itu yang semula masih dalam perasaan berkabung akan putra mereka yang telah pergi, lantas beralih menatap Abhigail. Sorot mata penuh keterkejutan yang mereka layangkan, membuat Abhigail tanpa sadar menundukkan wajahnya antara merasa malu dan takut.


"Ini ... siapa, ya? Dan, kenapa gadis itu bilang kalau Kamu sedang hamil? Maksudnya-"


"Maaf menyela, Tante! Biar Al yang jelasin sama kalian," Aldevaro berujar menengahi, membuat perhatian ketiga orangtua itu beralih padanya.


"Jadi begini, Om, Tante, Kek. Gerald, melakukan kesalahan. Jadi, mohon maafkan Gerald sekali lagi. Dan, tolong terima Abhigail. Dia sedang mengandung calon cucu dan cicit kalian. Semuanya murni bukan keinginan siapa pun, tetapi, karena nasi sudah menjadi bubur, kita bisa bagaimana lagi?" Penjelasan singkat dari Aldevaro, sudah cukup membuat Nia lagi-lagi menjatuhkan air matanya.


Hatinya kian terasa hancur, mendengar kisah semasa hidup putranya sendiri yang dikelilingi oleh hal-hal negatif.


Gagal. Nia benar-benar telah gagal menjadi seorang ibu. Ibu macam apa yang tidak pernah mendidik anaknya, sehingga membuatnya perlahan masuk ke dalam sebuah lingkaran kegelapan?


Benar. Semua sikap kasar, pemberontak dan bebas dari Gerald, semuanya tercipta dari keegoisan Nia. Bila Gerald sampai bisa berlaku demikian pun, sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah kesalahannya yang tidak becus mendidik anak.


Nia tersenyum getir, seraya menyeka air mata yang lagi-lagi lolos dari pelupuk matanya. Perhatiannya beralih menatap Abhigail yang masih tertunduk kaku di tempatnya.


Perlahan, tangan Nia yang bergetar, menggenggam erat tangan Abhigail. Membuatnya seketika mendongakkan wajahnya, menatap Nia dengan sorot sendu.


"Tante minta maaf, ya! Gara-gara Tante, Kamu jadi harus merasakan hal seperti ini. Ini semua bukan sepenuhnya salah Gerald! Tante juga bersalah karena tidak pernah melirik Gerald. Untuk menebus semua kesalahan yang Gerald dan Tante lakukan sama Kamu, Tante sama Om, akan bertanggung jawab atas Kamu dan Calon Anak Kamu. Biarkan kami memberikan kehidupan yang layak untuk kalian. Dan sekali lagi, Tante minta maaf! Dan, tolong maafkan Gerald karena tidak bisa bertanggung jawab terhadap kalian."


****


Waktu terus berputar tiada henti. Kesedihan akan kepergian Gerald, seolah menjadi bayang-bayang menyakitkan yang terukir dalam hati orang-orang yang merasa ditinggalkan.


Saat ini, seorang pemuda berseragam SMA, tampak berjalan dengan langkah kaku, menyusuri setiap area makam. Langkah kakinya kemudian terhenti di sebuah makam yang sedari ia dikebumikan, pemuda itu belum sempat menengok sekalipun.

__ADS_1


Kedua tangannya mulai terkepal kuat, mengingat betapa jahatnya dirinya yang baru sempat menengok mantan sahabatnya.


"Sorry! Gue baru bisa lihat lo sekarang, Ger! Lo gak nyalahin gue 'kan?" Pemuda yang tak lain ialah Daniel, perlahan menjatuhkan tubuhnya di sebelah makam Gerald yang telah berpulang sekitar satu minggu yang lalu.


Perlahan, Daniel mulai menaburkan bunga tepat di atas tanah makam tersebut sembari memanjatkan doa. Air mata yang sedari tadi ia tahan, pada akhirnya lolos begitu saja.


Sial! Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Gerald memilih pergi untuk selamanya, bertepatan dengan sang mama yang turut pergi di hari dan waktu yang sama.


Ya. Daniel tidak bisa menyempatkan diri untuk melihat Gerald di saat-saat terakhirnya, karena sang mama yang menderita kanker, telah pergi untuk selamanya.


Waktu itu, Daniel benar-benar dilema. Daniel sempat diberitahukan oleh Aldevaro, tetapi ia tidak bisa datang karena kondisi yang serupa.


Tetes demi tetes air mata terus berjatuhan seiring dengan pikiran yang mulai menjelajah ke masa lalu. Isakan kecil turut keluar, membuat Daniel semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat itu juga.


"Gue ... gue masih gak percaya sama semua ini, Ger! Lo pergi ninggalin kita, padahal masalah diantara kita masih belum selesai! Kenapa lo tega? Gue belum minta maaf secara langsung sama lo! Maafin gue, Ger! Maaf karena gue ninggalin lo waktu kecil, padahal dulu kita sahabatan! Gue nyesel!"


Hening. Tak ada balasan apa pun dari ucapan permintaan maaf yang dilontarkan oleh Daniel. Semuanya terasa sia-sia, karena sampai kapan pun, Gerald mungkin tidak akan bisa menjawabnya. Gerald hanya akan mendengarnya di atas sana.


"Gue gak akan biarin pelaku yang bikin lo kayak gini tenang gitu aja! Dia belum tahu siapa gue 'kan, Ger? Cuman lo sama Aldevaro yang tahu, seperti apa gue yang sebenarnya. Tunggu aja."


****


Di balik jeruji besi yang dingin dan minim cahaya, seseorang tak henti-hentinya terus tertawa aneh sembari menggigiti ujung kukunya. Beberapa tahanan yang juga berada dalam satu sel dengannya dibuat menoleh terheran-heran.


Ingin mereka menghajar junior mereka yang telah dengan berani mengganggu mereka. Sialnya, kepala sipir di sana seolah melindungi pemuda itu, sehingga membuat tahanan manapun tidak berani menyentuh sehelai ujung rambutnya.


Dengar-dengar, ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang berkedok sebagai wakil kepala sekolah. Bisa dilihat jika pemuda yang baru seminggu menjadi tahanan tetap di sel penjara tersebut, memiliki kekuasaan tinggi berkat ayahnya.


"Tahanan 3452, ada yang ingin berkunjung!" Suara sipir dari luar sel, membuat semua tahanan yang berada dalam sel yang sama, dibuat menoleh ke arah pemuda tadi.


Tampak jelas sebuah senyuman puas di raut wajahnya. Menandakan akan terjadi hal baik, biasanya.


Tepat ketika pintu sel penjara dibuka, raut wajah pemuda itu berubah bingung. Sipir yang membukakan pintu, bukan sipir yang biasanya.


"Kenapa elo? Sipir yang biasa, mana?"


"Cepat! Jangan lelet!" Sentaknya, lalu memborgol pemuda itu, dan menyeretnya untuk pergi bersamanya.


Lagi-lagi pemuda itu merasa heran sendiri. Seumur hidupnya tinggal beberapa waktu di sel penjara, sipir belum pernah memborgolnya demikian. Hanya untuk bertemu tamu 'kan?


Kenapa sekarang jadi begini?


Cukup lama berputar-putar mengitari beberapa sel tahanan lain, pemuda itu beserta sipir akhirnya tiba di tempat biasa penjenguk akan bertemu para tahanan.


Borgol yang membelenggu kedua tangannya mulai terlepas. Tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata, sang sipir pergi dari hadapan pemuda itu yang telah ditunggu sekitar beberapa menit oleh orang yang berada di hadapannya.


"Heh, lo orangnya bokap gue 'kan? Kapan gue bisa bebas kayak waktu itu? Tuntutan masih bisa dialihkan, dan gue gak akan terus di sini selamanya, iya 'kan?" Raut wajah pemuda itu berubah berbinar, menatap penuh harap seseorang yang tengah mengenakan pakaian serba hitam dengan topi yang sengaja menutupi wajahnya.


Sepintas, laki-laki yang berada di hadapannya tampak tak asing. Beberapa saat kemudian, laki-laki yang ia kira adalah suruhan dari papanya itu, mulai melepaskan topi yang ia kenakan.


Betapa terkejutnya pemuda itu saat tahu siapa yang tengah berurusan dengannya.


"Elo! Anj*ng, lo ngapain di sini, hah? Pergi, gak, lo!"


Senyuman miring bak seorang psikopat lantas terpatri di wajah laki-laki itu yang tak lain ialah Daniel. Tatapan matanya yang dalam, semakin membuat pemuda yang tak lain ialah Erwin, dibuat mundur beberapa langkah dari tempatnya.


"Gimana kabar lo setelah nusuk sahabat gue? Good?" Daniel masih memasang raut wajah sama di tempatnya. Tatapan matanya pun semakin terasa menusuk dalam, walau pada dasarnya bibirnya tengah tersenyum.


"Lo mau apa?" Erwin mati-matian mencoba menahan gejolak aneh di dadanya. Perlahan, ia mulai mendudukkan diri tepat di hadapan Daniel yang terhalang sebuah meja.


"Kenapa? Udah mulai gak betah lo di sini, hm? Oh, gue ke sini mau nyampein kabar baik. Sebentar lagi, bokap lo juga bakalan nyusul lo ke penjara atas tuduhan penggelapan dana perusahaan, korupsi, dan ... apa lagi, ya, gue lupa?"


"Apaan lo? Lo ngancem gue?" Erwin menggebrak meja, sembari bangkit dari tempatnya. Tatapan matanya begitu nyalang yang ia tujukan pada Daniel.


Sayang, seolah tak merasa terintimidasi, Daniel malah semakin melebarkan senyumannya. Senyuman khasnya yang bila diartikan dalam kondisi seperti ini, jatuhnya seperti sebuah senyuman psikopat.


"Ngancem? Gue gak lagi ngancem! Gue cuman mau ngasih tahu, kalau kehidupan penjara lo yang busuk itu, baru aja dimulai. Barusan aja lo dianterin sama sipir yang baru 'kan? Lo mau tahu gak, sipir yang biasanya nganterin lo ke mana?" Daniel lagi-lagi menjeda kalimatnya. Tampak raut wajah Erwin yang berubah pias, dengan sesekali menelan ludah susah payah.

__ADS_1


Perlahan, Daniel mulai bangkit dari posisinya. Berjalan mengitari meja, sehingga kini posisinya berhadapan langsung dengan Erwin yang masih setia menatapnya harap-harap cemas. Seulas senyuman mengejek lagi-lagi Daniel perlihatkan, diiringi tepukan pelan di bahu Erwin yang langsung ditepis kasar olehnya.


"Dia udah mati." Bisik Daniel. Saat itu juga, Erwin langsung memundurkan langkahnya. Perasaan aneh lagi-lagi hinggap di dadanya, seiring dengan Daniel yang terus berbicara.


"Mulai sekarang, akan ada gosip tentang lo dan bokap lo di sel penjara ini. Dan, siap-siap aja lo mulai ngerasain yang namanya, jadi tahanan. Semoga pas di persidangan nanti, lo masih bisa napas, ya! Kalau gitu gue duluan. Jangan lupa jaga kesehatan! Bokap lo gak akan berguna kek dulu lagi soalnya," terang Daniel. Setelahnya, pemuda itu mulai melenggang keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Erwin yang memaku tak berdaya di tempatnya.


Sial! Apakah Erwin memilih lawan yang salah?


"Enggak! Tuh curut pasti cuman mau isengin gue. Bokap gue gak mungkin ikutan dipenjara. Kalau dia dipenjara, terus masa depan gue gimana? Enggak, enggak, enggak! Itu gak boleh terjadi!"


"Heh! Udah selesai 'kan? Ngapain masih diem? Sini!" Sipir tadi yang sempat mengantar Erwin dengan borgolan di tangan, kembali menampakkan diri dengan raut wajahnya yang kian sangar.


Entah mengapa, Erwin jadi merasa ketakutan sendiri, mengingat perkataan Daniel beberapa saat yang lalu.


Dia mati ...


Sipir yang dulu ... mati?


Tapi, kenapa?


Siapa yang membunuhnya?


Glek!


"Kenapa jadi diem? Baru ngerasa takut? Setelah ini, akan ada lebih banyak masalah yang lebih serius. Jadi, jangan terburu-buru." Sipir itu berkata demikian, seraya kembali memborgol kedua tangan Erwin. Entah apa maksud dari setiap penggalan kata-katanya. Yang jelas, Erwin merasakan hawa buruk yang sepertinya mulai mengintainya.


****


Menghela dan menghela. Seolah hal tersebut telah menjadi kebiasaan baru bagi beberapa orang yang ditinggalkan oleh Gerald. Termasuk, Aldevaro dan Zeva. Kedua remaja itu tengah saling bersandar satu sama lain di dalam sebuah rumah pohon yang belum lama ini dibangun. Rumah pohon yang berada di tengah-tengah lahan perkebunan stroberi milik keluarga Aldevaro.


Bukan karena apa. Hanya saja, perkebunan stroberi dahulu adalah tempat bermain bagi Aldevaro semasa kecil bersama Gerald dan Daniel. Di sana, mereka bukan saja bebas memetik buah stroberi yang mereka inginkan. Mereka juga sering belajar bersama bahkan menggambar pemandangan cantik yang seolah tidak pernah ada habisnya.


Kini, untuk mengenang hal-hal tersebut, Aldevaro memutuskan membuat rumah pohon berukuran 2×2,5 m di tengah-tengah lahan. Lubang pintu rumah pohon tersebut yang berbentuk lingkaran besar, sengaja menghadap hamparan luas perkebunan stroberi pun tepat ke arah tenggelamnya matahari.


Dilihat berkali-kali, rasa bosan tak pernah sekalipun mengginggapi diri. Hanya ada rasa rindu dan penyesalan yang sepertinya akan selalu berbekas.


"Var!" Zeva yang masih menyandarkan kepalanya pada bahu Aldevaro, perlahan mulai mengendurkan posisinya. Ditatapnya pemuda itu dari samping yang masih dengan fokusnya pada sang mentari sore.


"Hm." Aldevaro kemudian menolehkan kepala menatap Zeva. Tatapan matanya masih terlihat sendu, namun sebisa mungkin Aldevaro menutupinya.


"Kamu ngajakin Aku ke sini, pasti karena ada hal yang mau diomongin 'kan?" Pertanyaan Zeva, sedikit membuat Aldevaro terhenyak dengan sepasang bola mata yang mengerjap beberapa kali.


"Contohnya?" Walau batinnya berpikir pada satu kemungkinan itu, tetapi Aldevaro tidak ingin rencananya ketahuan secepat ini.


Pikirnya, bukan surprise lagi, dong!


Zeva berdecak sembari memberengut sebal di tempatnya. "Iihh! Masa Aku yang bilang duluan, sih?"


"Hah?"


Perlahan, Zeva mulai merogoh saku jaket yang tengah dikenakan Aldevaro. Karena bingung, Aldevaro hanya diam dengan sesekali menatap Zeva yang tampak kesusahan mencari sesuatu di dalam kantung saku jaketnya.


Sampai pada akhirnya, sesuatu yang Zeva cari mulai berada dalam genggaman, barulah Zeva mengeluarkannya. Membuat Aldevaro kicep tak berkutik oleh Zeva yang berinisiatif lebih dulu.


"Kamu ngajak Aku ke sini karena mau ngelamar Aku 'kan? Lama banget, udah ditungguin dari tadi juga!" Zeva memperlihatkan sebuah kotak cincin berwarna biru beludru dari saku jaket Aldevaro.


Demi apa pun, bagaimana Zeva bisa tahu soal rencananya hari ini? Duh, gagal beneran, deh.


"Kamu ... tahu?"


"Ya tahulah! Siapa suruh pas teleponan ngomongnya ambigu? Aku 'kan mikirnya jadi ke situ! Kamu ngelamar Aku 'kan, Var?" Senyuman manis langsung terbit di bawah Zeva. Sekilas membuat Aldevaro terbius beberapa saat.


Di detik selanjutnya, ketika Zeva hendak membuka kotak cincin itu, tangan Aldevaro mencegahnya. Mengambil alih kotak cincin tersebut ke tangannya.


"Yah ... gak jadi surprise, deh. Ulang deh, ulang! Ekhem. Zeva! Will you marry me?"


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2