Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
36. Apa yang baru saja terjadi?


__ADS_3

“Baiklah anak-anak, sampai di sini ada yang mau ditanyakan?” Ucapan dari seorang guru yang tengah menerangkan di depan kelas, sontak menyadarkan para murid-muridnya yang dibuat mengantuk oleh sesi pembelajarannya.


Hening. Tak ada siapa pun di dalam kelas tersebut yang bersuara. Bahkan, si juara satu di kelas 12 IPA 2, Adel, pun ikut terdiam di tempatnya.


Guru yang tengah mengajar di kelas tersebut hanya menghela napas seraya menyunggingkan seulas senyum simpul. “Ya sudah, kalau tidak ada pertanyaan. Kalau begitu Ibu kasih kalian PR, ditulis di buku tugas. Minggu depan harus sudah diserahkan ke Ibu. Paham?”


“Paham, Bu!”


“Kalau begitu buka buku paket halaman 125.”


****


Di tempatnya, selepas guru yang mengajar di kelas 12 IPA 2 telah sepenuhnya meninggalkan kelas, Joy menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan sesekali akan menggerutu tak jelas. Demi Dewa Neptunus di dunia Spongebob, tugas sekolah kian hari seolah kian menumpuk, dan Joy belum mengerjakan satu pun.


Sialnya, guru mata pelajaran yang teramat Joy benci, yaitu guru fisika, memberikan pekerjaan rumah yang lumayan gila saking banyak dan sulitnya.


“Joy! Ke kantin, yuk!” Sahutan diiringi gebrakan di mejanya, membuat sang pemilik nama spontan mengubah posisi kepalanya menjadi menyamping.


“Gak ah, males gue! Lo aja!” Ujar Joy pada Stella yang di belakangnya terdapat kedua temannya yang lain, Rena dan Gina.


Stella tampak berdecak pelan di tempatnya seraya berkacak pinggang. Perhatiannya masih sama, yaitu pada Joy yang tampak melamun dengan posisi yang belum berubah sama sekali.


“Kenapa? Karena gue bukan si Zeva, makanya lo gak mau?” Ucapan Stella selanjutnya berhasil membuat Joy tertarik. Spontan gadis itu langsung menegakkan posisi duduknya. Tatapan matanya bahkan berubah tajam yang ia layangkan pada Stella.


“Maksud lo apa? Kenapa jadi bawa-bawa si Zeva?” Beruntung yang tengah dibicarakan tidak berada di dalam kelas. Bila Zeva berada di dalam kelas, bisa-bisa gadis itu akan terus menerus merasa bersalah. Seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.


Perlahan namun pasti, Joy mulai bangkit dari posisi duduknya. Berdiri di hadapan Stella yang menatapnya dengan tatapan yang jauh berbeda dari biasanya.


“Emang iya ‘kan? Setelah lo kenal sama si Zeva, lo mulai menjauh dari kita! Pindah haluan lo sekarang?” Dengan sengaja, Stella mendorong pelan bahu Joy. Membuat posisi gadis itu sedikit mundur, walau hanya satu langkah.


“Kenapa emangnya kalau gue deket sama si Zeva? Toh, gak ngerugiin lo.”


“Tapi dulu lo satu geng sama gue, Joy! Lo mau lupain semua yang udah kita lakuin bareng-bareng gitu aja?”


Joy menaikan salah satu alisnya. “Geng? Gue gak pernah masuk geng siapa pun. Gue cuman temenan sama semua orang, apa itu salah? Gue tetep di sisi orang tersebut karena gue ngerasa nyaman aja. Kek sekarang gue pas deket sama si Zeva.”


“Oh! Jadi lo pindah ke si Zeva karena lo udah ngerasa gak nyaman temenan sama gue, gitu?” Nada bicara Stella berubah membentak. Beberapa siswa dan siswi yang belum sepenuhnya meninggalkan kelas mendadak menoleh dan memerhatikannya.


“Secara harfiah, iya! Lo terlalu dibutakan sama khayalan lo, Stel! Gue udah sering bilang sama lo untuk setop, tapi lo selalu gak mau denger. Kadang gue bingung sama lo, sebenarnya lo mau masuk jalan kebenaran, apa jurang kebohongan yang lo buat itu.”


Plak!


Satu buah tamparan mendarat di salah satu pipi Joy, membuat suasana di dalam kelas tersebut mendadak hening seketika. Di tempatnya, Joy terkekeh pelan seraya menatap Stella dengan tatapan meremehkan, seolah apa yang selama ini ia khawatirkan benar-benar telah terjadi.


“Sialan lo Joy! Mulai detik ini, lo bukan temen gue lagi!” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Stella langsung melenggang dari hadapan Joy. Diikuti Rena dan Gina yang kebingungan di tempat.


****


Entah untuk yang keberapa puluh kalinya, Joy terus menghela napas setibanya ia di rooftop sekolah yang selama ini tak pernah sekalipun ia datangi. Tatapan matanya pun tampak kosong, seolah menerawang jauh ke sebuah ingatan lama di antara ia dan juga Stella.


Jujur, dulu Stella tidak seperti ini! Entah sejak kapan gadis itu berubah menjadi pribadi yang tidak pernah Joy kenali seperti sekarang.


Joy lantas menggeleng-gelengkan kepalanya saat otaknya mulai memikirkan hal yang tidak seharusnya. “Gue nyamperin si Zeva ke kantin aja kali, ya? Ngapain sih gue ke sini? Gak ada kerjaan banget,” gerutunya, seraya berbalik hendak meninggalkan rooftop.


Namun, belum ada Joy berjalan lima langkah, tampak seorang cowok yang entah sejak kapan berdiri tak jauh dari posisinya, dengan pandangan mata yang seolah hanya tertuju pada Joy. Bukan tatapan kagum, melainkan sebuah tatapan dingin nan sinis yang ia berikan.


“Sejak kapan lo di sini?” Sahut Joy, tak kalah sinis. Cowok yang tak lain ialah Daniel itu pun bereaksi dengan terkekeh sarkas atas pertanyaan dari Joy.


Dengan kedua tangan yang ia selipkan di kedua saku celana, Daniel berjalan menghadap Joy, masih dengan tatapan dinginnya yang belum juga berubah. “Kenapa emangnya? Perlu banget gue kasih tahu?” Daniel menghentikan langkah kakinya ketika ia telah benar-benar berhadapan dengan Joy hanya dengan jarak beberapa puluh sentimeter.


Joy mentap heran Daniel yang tiba-tiba bersikap demikian pada dirinya. Seingatnya, ia dan cowok yang sering dibicarakan oleh Abhigail dan teman-teman perempuannya ini tidak begitu dekat.


Ralat. Tidak pernah dekat. Hanya beberapa waktu lalu di mana Joy dengan berani memarahi cowok itu karena telah menyudutkan Zeva tanpa sepengetahuan Aldevaro.


“Mau ngapain lo samperin gue?”


“Gak usah pede! Gue ke sini karena gabut, bukan buat samperin lo!” Daniel berdecih pelan, seraya melenggang menuju beberapa kursi kayu yang sudah tidak terpakai di sana. Dan kebetulan, kursi tersebut tak begitu jauh dari posisi berdiri Joy.

__ADS_1


Dengan memejamkan kedua bola matanya, tampak Daniel mulai bersantai di sana dengan menyandarkan punggungnya di kursi tersebut. Kedua kakinya pun dengan sengaja ia naikan ke atas kursi satunya lagi.


Melihat hal itu, refleks Joy mendengus malas. “Dih, sok cool!” Gerutu Joy, sebelum pada akhirnya ia memilih untuk melenggang dari sana, tanpa mau terlibat lebih jauh dengan Daniel.


****


Tak terasa jam belajar mengajar telah sepenuhnya berakhir untuk hari ini. Kelas 12 IPA 2 menjadi kelas terakhir yang dipulangkan karena ada praktek dadakan di laboratorium hari ini. Dengan terpaksa, Zeva menjadi siswi yang paling terakhir meniggalkan kelas akibat harus menjalankan piket harian sebelum pulang.


Ponselnya yang ia taruh di dalam saku rok lagi-lagi bergetar. Ketika membukanya, sebuah pesan chat dari nama yang sama terus menanyainya kapan pulang. Siapa lagi jika bukan Aldevaro-lah yang terus mengiriminya pesan chat dan menunggunya di parkiran sekolah yang telah cukup sepi.


“Bentar dulu, ihhh! Dikit lagi inii,” Zeva mengucapkan kalimat tersebut sembari mengetikannya, lalu mengirimkannya pada Aldevaro.


Sebelum benar-benar melanjutkan aktivitasnya, Zeva menatap satu persatu sudut ruang kelas yang terlihat jauh lebih bersih dan rapi dari sebelumnya. Helaan napas lega lantas ia embuskan. Dirasa cukup untuk hari ini, Zeva lantas menutup rapat pintu kelas, kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk segerq pulang.


Namun, sebelum itu, tiba-tiba Zeva merasa dirinya harus pergi ke toilet dahulu. Perasaan ingin buang air kecil tiba-tiba saja menyerangnya tanpa diduga-duga. Dengan secepat kilat Zeva berlari menuju toilet kelas dua belas yang berada di ujung lorong.


Ketika Zeva sudah hendak berbelok masuk, tiba-tiba Zeva mengurungkan niatnya saat sepasang remaja yang sangat ia kenali, terlihat tengah berada di dalam sana dengan posisi yang lumayan sulit untuk dijabarkan.


Dengan hati-hati, Zeva bersembunyi dari balik tembok, sebelum pada akhirnya rasa penasaran mulai menyerangnya. Sehingga yang terjadi saat ini adalah, Zeva berusaha untuk mengintip.


Detik itu juga, Zeva kembali menarik tubuhnya untuk bersembunyi. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang melihat hal luar biasa yang tak pernah sekalipun ia bayangkan, di mana di dalam toilet tersebut tampak Gerald dan seorang gadis yang tak pernah sekalipun terpikirkan, saling memagutkan bibir mereka dengan sesekali melenguh pelan.


I-itu 'kan ... Abhigail? Abhigail sama Gerald ..?


Zeva menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Ketika Zeva mencoba untuk kembali mengintip, lagi-lagi Zeva semakin terkejut saat menyaksikan Gerald dan Abhigail semakin panas di dalam sana. Ciuman cowok itu bahkan sudah merambat ke area leher Abhigail.


Seolah melupakan apa yang menjadi tujuannya ke toilet, Zeva lantas mundur perlahan meninggalkan area toilet tersebut dengan langkah hati-hati. Ketika mulai sedikit menjauh, barulah Zeva berlari sampai pada akhirnya ia sampai di parkiran sekolah dengan keadaan hampir kehabisan napas.


Melihat tingkah Zeva yang tidak seperti biasanya, Aldevaro spontan menyentuh bahu gadis itu. “Are you okay?”


Zeva membalas pertanyaan Aldevaro dengan anggukkan beberapa kali, walau napasnya masih tersengal.


“Kita pergi sekarang! Ayok!” Zeva kemudian menarik tangan Aldevaro, setelah napasnya telah berangsur-angsur membaik.


“Ada apa sih? Kamu habis ketemu siapa?”


“Ya udah, oke, fine! Pake helm dulu tapi,”


“Ya udah, siniin!”


****


“Gerald!” Suara sahutan lembut milik seorang gadis yang posisinya berada di lorong kelas, mengejutkan sang pemilik nama yang pada saat bersamaan baru saja keluar dari dalam kelasnya.


Perlahan, Gerald membalikkan tubuhnya. Belum sempat ia mengetahui siapa yang baru saja memanggil namanya, seseorang telah lebih dulu memeluk tubuhnya begitu erat. Beruntung suasana satu sekolah telah sepenuhnya sepi. Jadi, tidak ada yang menyaksikan aksi keduanya yang bisa saja menimbulkan fitnah dan gosip antar siswa.


Di tempatnya, Gerald mendengus pelan dengan kepala yang menoleh asal. “Lepas.” Ujar Gerald, tak lantas membuat gadis yang tak lain ialah Abhigail itu melepaskan pelukannya. Justru, Abhigail kian mengeratkan pelukannya, diiringi suara isakan pelan yang terdengar cukup samar.


“Mau sampai kapan sih lo kayak gini sama gue? Gue mohon, jangan buang gue! Gue cinta sama lo, Ger!” Abhigail semakin terisak dengan posisi masih memeluk tubuh Gerald. Air matanya turut keluar ketika bayangan demi bayangan masa lalu terus bersinggah di kepala.


Gerald kembali mendengus seraya mendorong Abhigail, sehingga pelukan dari gadis itu lantas terlepas. Tampak Abhigail menatap Gerald dengan tatapan sendu, sedangkan Gerald memilih membuang muka.


“Ger-”


“Gak usah sentuh-sentuh gue! Bukannya lo suka sama si Daniel? Ngapain lo nyamperin gue?” Gerald menepis kasar tangan Abhigail yang hendak menyentuhnya. Lagi-lagi rasa sakit yang selama ini terus Abhigail pendam seorang diri, seolah semakin menyeruak keluar.


“Enggak gitu, Ger! Selama ini gue cuman pura-pura di hadapan semua orang! Gue kayak gitu supaya gak ada yang curiga sama gue! Itu juga ‘kan yang lo mau? Lo pernah pake gue, dan gue terima semua itu! Karena apa? Gue cinta mati sama lo, Ger! Apa lo gak bisa lihat gue aja? Lo punya gue ‘kan, Ger?” Tanpa diduga-duga, Abhigail meraih salah satu tangan Gerald, lalu ditempatkannya di dadanya sendiri.


Sempat terkejut beberapa saat, Gerald lantas menarik paksa tangannya dari genggaman Abhigail. “Gak usah mancing-mancing! Lo mau apa sebenernya?”


“Gue cuman mau lo, Ger! Gue mau lo jadi milik gue lagi!” Pekik Abhigail, seakan telah kehilangan akal sehatnya.


Tanpa Abhigail duga, Gerald menarik pinggangnya cukup kasar sehingga tak ada lagi sekat diantara keduanya. Abhigail lantas dibuat tersentak dengan sepasang bola mata yang terbelalak.


“Lo mau?” Tatapan menusuk dari Gerald diiringi nada suaranya yang rendah, tanpa sadar membuat Abhigail menelan ludahnya sendiri.


“Ikut gue!”

__ADS_1


****


“Awh!” Abhigail meringis pelan saat punggungnya dengan cukup keras membentur dinding toilet. Belum sempat Abhigail membenarkan posisinya, Gerald menarik tangannya cukup kasar, sehingga tubuh keduanya saling bertubrukan.


Saat Abhigail hendak menjauhkan diri, Gerald meraup tengkuknya, kemudian menjatuhkan ciuman kasar yang menuntut di bibir Abhigail yang sedari tadi seolah sengaja memancingnya.


Awalnya, Abhigail hendak menolak. Namun, kata-kata Gerald selanjutnya sudah cukup membuatnya terhina. “Ini ‘kan yang lo mau? Gue kasih kalau begitu,”


Rasanya sakit sekali, namun Abhigail memilih kembali memendamnya. Gadis itu menangis dalam diam, dengan bibirnya yang lagi-lagi menjadi target sasaran Gerald selanjutnya.


Tak berhenti di sana, ciuman Gerald bahkan mulai merambat sampai ke leher. Spontan Abhigail melenguh merasakan sensasi yang hampir cukup lama tak lagi ia rasakan.


Benar. Ini bukan kali pertama baginya dan Gerald melakukan hal ini.


Salah, memang. Tetapi, rasa cinta yang tabu seolah menggelapkan semuanya.


“Gue mulai.”


****


“Va! Kamu gak pa-pa?”


“Hah? A-aku eng-gak pa-pa, kok,” Zeva menyengir canggung pada Aldevaro yang sedari tadi masih menatapnya keheranan.


Anyway, saat ini Aldevaro tengah berada di rumahnya Zeva, bersama Zeva sendiri dan mamanya yang tengah cuty kerja, berada di dapur tengah menyiapkan sesuatu. Tak sampai setengah jam, Raya, mamanya Zeva, kembali ke hadapan mereka berdua dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa makanan ringan dan air minum.


“Tumben banget Kamu main ke sini, Al? Ada acara apa nih? Mau ngelamar Zeva?” Ucapan tak terduga itu refleks membuat Zeva tersedak ludahnya sendiri. Sementara Aldevaro, cowok itu hanya terkekeh pelan di tempatnya.


“Mama, iihh! Apaan sih?”


“Bercanda kali, Va!” Raya tersenyum geli, membuat Zeva memberengut di tempatnya dengan raut wajahnya yang memerah padam.


“Ekhem. Kalau Tante ngizinin, boleh aja sih, Tan,” timpal Aldevaro. Refleks Zeva memelotot tajam pada cowok itu yang bisa-bisanya ikut-ikutan sang mama.


“Ya udah. Kalau gitu Kamu berani enggak bawa orangtua Kamu ke sini?” Pertanyaan yang Raya lontarkan terdengar menantang di telinga Aldevaro. Raut wajahnya pun mulai berganti serius yang ia tujukan pada calon mama mertuanya.


“Em, kapan?”


“Kamu siapnya kapan? Tante sih terserah Kamu, Al. ‘Kan Kamu yang mau ngelamar Zeva,” terang Raya, santai. Sialnya, sikap sang mama yang seperti inilah yang membuat Zeva malu sendiri.


Entahlah, dirinya merasa asing jika mamanya sudah membahas hal yang seperti ini. Rasanya sangat … canggung?! Zeva bahkan merasa belum siap.


“Kalau gitu, Al coba bicara dulu sama Mama Papa.” Ujar Aldevaro.


Bisa dibilang, Aldevaro ini terlalu berani untuk berbicara hal yang serius pada Raya yang notabene adalah mamanya Zeva. Sikapnya yang tenang dengan jawaban lisannya yang terdengar jelas tanpa sedikit pun ada yang melenceng, membuat aura kedewasaan dari cowok itu semakin terpancar.


Dan, ya, Raya benar-benar dibuat kagum oleh Aldevaro. Bahkan rasanya, Raya tidak merasa kaget sedikit pun jika Aldevaro akan menemuinya langsung seperti sekarang ini dan mengutarakan isi hatinya.


Dari pertama kali Raya bertemu Aldevaro saat pemuda itu masih berada di bangku sekolah menengah pertama, Raya sudah dapat melihat hal yang berbeda dari pemuda itu. Dari mulai sikapnya yang selalu tampak tenang, tatapannya yang senantiasa dingin, dan sikap bertanggung jawabnya ketika melakukan suatu kesalahan.


Ya, bisa dibilang, Raya selalu memerhatikan Aldevaro ketika dahulu pemuda itu masih sering bermain dengan Zeva, sewaktu mereka masih menjadi tetangga.


Tanpa diduga-duga, seulas senyuman tipis terbit di wajah Raya. Isi kepalanya mulai memikirkan berbagai hal jika suatu saat Zeva benar-benar menikah dengan Aldevaro. Rasanya, Raya sudah tidak sabar untuk menunggu akan hari itu.


“Oh, iya, Al! Dengar-dengar, orangtua Kamu mau bercerai, ya? Gimana mereka sekarang?” Pertanyaan dari Raya selanjutnya, membuat Aldevaro terdiam kaku. Bingung harus menjawab apa?!


Otaknya bahkan mulai memikirkan hal-hal negatif yang bisa saja terjadi. “Ekhem. Mereka … masih proses persidangan, Tante,” terang Aldevaro. Seulas senyuman terpaksa ia perlihatkan. Dan sialnya, sepertinya Raya salah memilih topik.


“Maaf! Tante-”


“Bukan apa-apa, kok, Tan. Mungkin, ini memang udah yang terbaik buat mereka.”


Terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka, membuat suasana terasa semakin canggung. Zeva kemudian menarik napas dalam-dalam, lalu menyentuh lembut permukaan punggung tangan Aldevaro yang berada di sampingnya.


“Kamu yang sabar, ya. Aku yakin, setelah ini akan ada kebahagiaan yang menanti Kamu di masa depan,” ucapan yang keluar dari mulut Zeva terdengar begitu halus, sampai tanpa sadar membuat Aldevaro menyunggingkan senyumannya.


“Pasti. Di masa depan ‘kan, Aku bakal nikah sama Kamu. Gimana gak bahagia coba?” Aldevaro mengedipkan salah satu matanya ke arah Zeva, sontak hal itu membuat Zeva dibuat salting brutal. Wajahnya lagi-lagi memerah, dan hal itu sukses menjadi tontonan gratis untuk Raya yang perdana menyaksikan anak gadis satu-satunya dibuat salah tingkah oleh laki-laki.

__ADS_1


To be continue…


__ADS_2