Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
17. Antara Aldevaro dan Gerald


__ADS_3

“Iyalah. Tapi tidurnya di teras. Mau?” Tawar Zeva, membuat Aldevaro seketika menghela napas malas.


“Enggak jadi, deh. Tidur di rumah aja.” Ujar Aldevaro, diakhiri sebuah kekehan kecil yang membuat Zeva semakin jengah di tempatnya.


Hening. Tak ada lagi suara sahut menyahut dari keduanya. Mereka seolah terhanyut dalam makan malam yang terbilang sangat sederhana ini. Walaupun begitu, entah mengapa terasa begitu hangat.


“Va!” Sahutan Aldevaro, membuat Zeva yang baru saja menyelesaikan makan mi-nya dibuat menoleh dengan kedua alis yang terangkat. Saat matanya tak sengaja melirik ke arah mangkuk milik Aldevaro, ternyata cowok itu juga sudah menghabiskan mi-nya dan hanya menyisakan kuahnya yang tinggal sedikit.


“Kenapa?”


Aldevaro menatap dalam-dalam sepasang bola mata Zeva yang juga tengah balas menatapnya. Helaan napas lagi-lagi ia embuskan, seraya bersidekap di tempatnya. “Lo gak pa-pa? Tadi lo nangis waktu teleponan sama gue.”


Hati Zeva terasa mencelos, saat ucapan dari Aldevaro kembali mengingatkannya akan kejadian beberapa saat yang lalu, di mana papanya kembali menampakkan diri di hadapannya. Raut wajah gadis itu pun kembali murung dengan kepalanya yang mulai menunduk.


“Emangnya ... lo mau dengerin gue?” Tanya Zeva, yang lebih terdengar seperti sebuah gumaman kecil, namun masih dapat didengar dengan cukup jelas oleh Aldevaro.


“Kok, gitu. Gue ‘kan pacar lo, Va. Gue akan dengerin semua yang mau lo ceritain ke gue.” Ucapan Aldevaro membuat Zeva spontan menghela napasnya. Tak berapa lama, gadis itu tersenyum simpul seraya mengangguk.


“Setelah dari mini market tadi, gue ketemu Papa, setelah dua tahun dia pergi gak pernah ngasih kabar dan temuin gue.” Zeva menghentikan ucapannya dengan menarik napasnya dalam-dalam. Sedangkan Aldevaro, cowok itu memilih diam, sebelum Zeva benar-benar menyelesaikan perkataannya.


“Dia dateng ke hadapan gue dan bilang kalau dia kangen sama gue, Var.”


“Heh. Kangen? Gue rasa dia udah mulai merasa nyesel sekarang.” Lanjut Zeva, lagi-lagi diakhiri dengan menghela napas.


“Gue benci sama dia, Var! Gara-gara dia selingkuh sama perempuan lain, keluarga yang bahkan selalu gue banggain hancur gitu aja. Kepercayaan yang tadinya selalu gue kasih buat dia udah gak ada lagi. Gue ... gue ... gue benci sama dia! Gue-” ucapan Zeva refleks terpotong saat sebuah pelukan hangat yang berasal dari Aldevaro, tiba-tiba menyentaknya. Ketika mendongak, Zeva menemukan Aldevaro tengah memejamkan mata, sembari terus memeluk Zeva yang masih terduduk di atas kursi.


Zeva tak melanjutkan ucapannya lagi. Gadis itu berakhir menangis dalam pelukan Aldevaro yang kian mengeratkan pelukannya. Tangis gadis itu kian pecah saat elusan lembut di kepalanya terus-menerus Aldevaro berikan padanya.


Lega. Hal yang selama ini selalu Zeva pendam seorang diri, seakan menguap terbawa oleh tangis. Kedua bola mata gadis itu membengkak, dan wajahnya ikut memerah karena sedari tadi, ia terus-menerus menyeka air mata yang berjatuhan menuruni wajahnya.


Dirasa cukup tenang, Zeva mencoba melepaskan diri dari pelukan Aldevaro. Begitu pula dengan cowok itu yang ikut melonggarkan dekapannya.


Tanpa diduga-duga, Aldevaro lantas berjongkok di hadapan Zeva yang masih menunduk seraya menyeka sisa air matanya. Tatapan matanya tampak begitu teduh dan menenangkan. Membuat Zeva sempat terhanyut dibuatnya.


Perlahan namun pasti, kedua tangan cowok itu menyentuh permukaan tangannya, kemudian menggenggamnya erat seolah tengah memberikan kekuatan pada Zeva.


“Makasih udah mau cerita soal masalah lo sama gue. Gue sebagai pendengar cuma berharap, lo bisa baikan lagi sama bokap lo. Karena mau bagaimanapun juga, dia tetep ayah kandung lo, Va. Sebenci apa pun lo sama dia, lo tetep harus maafin dia. Mungkin, kedatangan dia kali mau minta maaf sama lo atas apa yang udah dia perbuat dulu. Awalnya mungkin sulit untuk nerima kembali bokap lo. Tapi, gue yakin semuanya akan baik-baik aja nanti. Hm?” Aldevaro menyunggingkan seulas senyuman tipis di akhir kalimat yang ia ucapkan. Tak lupa, ia pun membantu Zeva untuk menyeka air mata yang lagi-lagi menuruni wajah cantik gadis itu.


“Udah, ya, jangan nangis lagi. Gue hancur kalau lihat lo nangis di depan gue kayak gini.” Ujar Aldevaro, kemudian menarik Zeva dan membawanya untuk berdiri dari tempatnya. Di detik yang sama, Aldevaro kembali membawa Zeva ke dalam pelukannya. Tubuh Zeva yang mungil, membuat cowok itu merasa nyaman sendiri. Ingin rasanya waktu dapat dihentikan sejenak agar Aldevaro dapat terus memeluk gadisnya seperti ini.


Di sisi lain, Zeva merasa pengap karena Aldevaro yang lagi-lagi memeluknya tanpa permisi. Mana tinggi Zeva hanya sedada cowok itu, lagi. Rasanya Zeva seperti akan tenggelam jika mereka masih saja berpelukan.


“Var, udah. Gue udah gak pa-pa, kok.” Gumam Zeva, seraya menjauhkan dirinya dari Aldevaro.


Dengan berat hati, Aldevaro melepaskan pelukannya. Tatapan matanya seolah tak bisa beralih dari Zeva yang terlihat masih murung di tempatnya, namun tidak separah tadi.


“Coba senyum dikit. Gue penasaran senyuman manis lo tuh kek gimana sih?” Aldevaro menyahut, seraya berkacak pinggang. Sepasang bola matanya menatap tajam Zeva yang terlihat cukup kebingungan.


“A-apa sih?”


“Senyum, Va. Lo bisa senyum gak sih? Perasaan dari dulu muka lo jutek mulu kek orang punya banyak utang,”


“Sembarangan ngatain kek orang punya banyak utang! Lo kali yang banyak utang!” Cetus Zeva, wajahnya kian memberengut akibat mulut cowok itu yang masih saja suka seenaknya ketika berbicara.


Terlalu gemas dengan perubahan raut wajah Zeva yang semakin lebih parah, dengan nekat Aldevaro menarik kedua pipi Zeva dan mencubitnya cukup keras. Refleks Zeva memekik dengan sepasang bola matanya yang langsung berkaca-kaca, menatap sang pelaku pencubitan pipinya.


“Kok, lo cubit pipi gue sih, Var? Huwaaa...”

__ADS_1


“Makanya, kalau gue suruh lo senyum tuh senyum. Jangan cemberut aja. Cepet tua tahu rasa lo!” Ucap Aldevaro, yang dibalas gerutuan kesal oleh Zeva.


“Masih mau cemberut?”


“Misih mii cimbirit?”


“Yakin?”


“Yikin?”


Aldevaro terkekeh pelan mendengar gerutuan Zeva yang terus-menerus menirunya. Gadis itu benar-benar tidak menyadari dengan tindakannya barusan sudah cukup membuat Aldevaro tertantang. Sebuah ide gila dengan seenaknya melewati pikirannya.


“Oke.” Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Aldevaro mulai menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Zeva. Tatapan matanya berubah menusuk, sanggup membuat Zeva dibuat gelagapan oleh tatapannya.


“Kalau gue bilang senyum, berarti harus senyum, Zevaaaa!” Bisik Aldevaro, seraya menarik paksa garis senyum Zeva dengan kedua jari telunjuknya. Walaupun ini sebuah paksaan, namun apa yang dilakukan Aldevaro padanya terasa begitu lembut. Sampai tanpa sadar Zeva mulai memasang senyum sebenarnya.


Aldevaro tersenyum puas melihat Zeva yang kini mulai memasang senyuman di depannya. Tak ada lagi raut wajah murung maupun jutek, membuat Aldevaro semakin betah berlama-lama menatap wajah cantik itu.


“Nah, gini ‘kan enak dilihatnya. Makin cantik, deh.” Gerutu Aldevaro, sanggup membuat jantung Zeva berdebar di tempatnya.


“Udah malem. Gue pulang duluan, ya. Pintu sama jendelanya jangan lupa dikunci setelah gue pergi. Kalau lo takut di rumah sendirian, lo bisa telepon gue.” Ucapan lain dari mulut Aldevaro, seketika menyadarkan Zeva dari lamunannya. Dengan kaku, gadis itu berdeham pelan seraya membuang muka dari tatapan Aldevaro.


Tanpa mengatakan sepatah dua patah kata lagi, cowok itu melenggang dari dalam dapur rumah Zeva, diikuti Zeva yang ikut berjalan di belakang. Ketika sampai di depan pintu, keduanya masih sama-sama terdiam.


Dan ketika Aldevaro hendak melangkah mendekati motornya yang terparkir tepat di halaman rumah Zeva, Aldevaro tiba-tiba membalikkan tubuhnya seraya kembali berjalan ke arah Zeva yang kebingungan dengan sikapnya yang terlihat sedikit gelisah.


“Kenapa, Var? Ada yang ketinggalan?” Bukannya membalas pertanyaan Zeva, Aldevaro malah semakin mendekatkan dirinya pada Zeva, lalu mengecup pelan dahi gadis itu.


Mendapat serangan tiba-tiba dari Aldevaro, jelas Zeva terkejut. Sepasang bola matanya sudah membulat hampir sempurna, ketika tanpa mengatakan apa-apa, cowok itu sudah lebih dulu mengecup dahinya.


“Gue pulang duluan, ya. Besok jam setengah 7 pagi gue jemput.”


****


Setelah memarkirkan motornya dengan asal-asalan, ia lalu menendang salah satu ban motornya tanpa tahu kesalahan apa yang sudah diperbuat motor tersebut padanya. Tatapannya bahkan terlihat begitu garang dengan deru napas yang tak beraturan.


“Arghhh! Sialannnnnnn! Apaan sih maksudnya? Dasar kakek tua anj*ng! Awas aja, gue gak akan tinggal diem.” Dumelnya. Beruntung sekolah dalam keadaan sangat sepi, jadi tidak ada yang menyaksikannya tengah menggila di pagi-pagi buta ini.


Namun, sepertinya Gerald salah jika menganggap sekolah benar-benar tengah sepi. Di depan gerbang sana terlihat seorang gadis tengah mengatur napasnya dengan kepala yang celingukkan ke sana ke mari. Seketika itu juga, sebuah senyuman miring terbit di wajah Gerald. Entah mengapa mood-nya langsung berubah lebih baik ketika netranya menemukan sesosok gadis yang akhir-akhir ini sulit sekali untuk ditemui.


Siapa lagi kalau bukan Zeva?


Dengan langkah gontai, Gerald berjalan menghampiri Zeva yang terlihat masih tak sadar tengah diintai. Dan ketika cowok itu telah benar-benar berada tepat di sekitar gadis itu, tanpa berbasa-basi, Gerald menepuk pelan salah satu bahu Zeva, sampai membuat gadis itu berjengit hingga melatah. Dan ketika ia berbalik, sebuah senyuman mengerikan dari Gerald, menyapa netranya.


“Lo apa-apaan sih? Kaget tahu!” Zeva memekik sebal, disertai tangannya yang dengan refleks memukul bahu Gerald. Seketika gadis itu lupa jika yang tengah berada di hadapannya saat ini adalah seorang cowok yang cukup berbahaya.


Bukannya marah atau bagaimana, Gerald malah tertawa puas melihat reaksi Zeva yang sama persis dengan apa yang sempat ia bayangkan.


Aneh. Gerald tak merasa kesal sedikitpun, padahal gadis itu sempat memarahinya, bahkan berani memukulnya. Jika gadis yang melakukan hal tersebut adalah Diandra, saudari angkatnya, Gerald tak bisa jamin dirinya akan tertawa seperti saat ini.


“Kaget, ya? Kasian. Elo sih, ngapain jam segini di depan gerbang celingukan kek orang aneh? Habis maling sendal milik tetangga, lo?” Tuduh Gerald, yang spontan dibalas delikan tajam oleh Zeva.


“Sembarangan kalo ngomong. Terserah gue dong mau gimana-gimana juga. Situ ada masalah?” Teriakan Zeva seketika menyadarkan Gerald dari apa yang tengah ia lakukan.


Pikirnya, benar juga apa yang dikatakan Zeva. Kenapa Gerald harus ikut campur?


“Ekhem. Gak juga, sih. Btw, tumben lo jam segini udah ke sekolah?”

__ADS_1


Lagi-lagi Zeva menatap Gerald dengan tatapan kurang bersahabat. Hal tersebut membuat Gerald dibuat gugup untuk yang pertama kali dalam hidupnya. Nih, cewek kenapa sih?


“Lha, terus elo juga kenapa jam segini udah ada di sekolah? Cowok kayak lo tuh ‘kan biasanya suka datang telat, tuh. Tumben masih pagi udah di parkiran?”


“Si Anj*r, gue nanya malah balik nanya. Ngeselin juga ya, lo, lama-lama! Jangan lupa, lo masih ada utang sama gue.”


“Hah? Utang apa?” Pertanyaan polos dari Zeva, membuat salah satu sudut bibir cowok itu tertarik. Dengan tatapan kelewat menusuk yang juga diiringi dengan kedua kaki yang melangkah pelan, Gerald berhasil membuat Zeva tak berkutik, sehingga melangkah mundur adalah jalan alternatifnya saat ini untuk menghindari Gerald.


“Lo-” belum sempat Gerald menyelesaikan ucapannya, kedua kerah seragam sekolahnya tiba-tiba ditarik kasar oleh seseorang, sehingga posisinya kini beralih menghadap wajah seseorang yang sedari kemarin, berhasil membuatnya emosi. Seulas senyuman meremehkan lantas terbit di wajahnya.


“Hei, gue kira siapa?! Pantesan bawaannya kasar, ternyata elo, Al.” Sahut Gerald, sedikitpun tidak merasa terintimidasi oleh tatapan dingin yang dilayangkan oleh Aldevaro padanya.


Ya. Orang yang tengah menarik kasar kerah seragamnya tak lain ialah Aldevaro. Sepupu yang sampai kapan pun selalu ia anggap sebagai musuh.


“Apa-apaan lo? Berani-beraninya lo deketin cewek gue. Udah bosen hidup lo, hah? Pergi, gak, lo!” Aldevaro menghempas kasar kerah seragam Gerald, selepas ia mengutarakan kalimatnya. Dengan sangat posesif, cowok itu berjalan ke arah Zeva yang terlihat syok, kemudian menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


Melihat dan mendengar kejadian tak terduga sekaligus perkataan Aldevaro barusan, membuat Gerald sempat terdiam beberapa saat untuk mencerna setiap deretan kata yang dilontarkan oleh Aldevaro. Tak berlangsung lama, akhirnya cowok itu paham apa arti dari sikap serta perkataan Aldevaro.


“Waah... sekarang dia cewek lo? Balikan lagi lo berdua?” Tatapan meremehkan itu Gerald berikan pada Zeva yang tampak menunduk di tempatnya. Gadis itu benar-benar merasa malu saat ini, apalagi sekarang sekolah sudah mulai ramai.


Banyak pasang mata yang mencuri pandang pada mereka bertiga, khususnya pada Zeva. Tak ayal, mereka bahkan sampai bergosip yang bukan-bukan, hanya karena posisi mereka bertiga saat ini terlihat seperti Zeva tengah diperebutkan oleh dua lelaki. Dan parahnya, kedua lelaki itu adalah sepasang saudara sepupu yang tidak pernah bisa akur.


Mulai terbawa akan suasana, Aldevaro hampir saja kembali melabrak Gerald, jika saja Zeva tidak segera mencegah cowok itu untuk tidak berbuat hal yang nekat. Dengan pasrah seraya menarik napas dalam-dalam, Aldevaro memilih diam dan mengalah untuk kali ini saja.


“Pergi dari hadapan gue, sebelum gue ngehajar lo saat itu juga.” Tekan Aldevaro. Di tempatnya berada, Zeva terus-menerus menggenggam erat lengan Aldevaro, takut cowok itu akan bertindak di luar kendali yang mungkin akan merugikannya nanti.


“Lo pikir gue takut?” Sahutan angkuh dari Gerald, hampir membuat Aldevaro benar-benar kehilangan kendali, jika saja Zeva tidak bergerak lebih cepat untuk semakin menahan lengan Aldevaro.


“Udah, kita ngalah. Kita yang pergi dari sini, oke?” Bisik Zeva, seraya membawa Aldevaro untuk menjauh dari Gerald yang masih setia berdiri angkuh di tempatnya.


****


Sampai di koridor kelas dua belas, Zeva barulah melepaskan genggamannya pada lengan Aldevaro. Belum sempat gadis itu bernapas lega, kini giliran Aldevaro yang beralih menarik tangannya ke sebuah tangga yang menuju ke rooftop.


Laki-laki itu tak mengatakan apa pun, dan dengan seenaknya menarik Zeva untuk mengikuti langkah kakinya. Di belakang, Zeva hanya bisa diam dan pasrah melihat Aldevaro yang sepertinya telah salah paham dengan apa yang sempat ia lihat tadi ketika berada di depan gerbang sekolah.


Ya, bagaimana tidak akan jadi salah paham jika tadi Gerald sempat mau menyudutkannya di gerbang? Laki-laki manapun akan kesal dan marah jika pacarnya diperlakukan seperti itu oleh cowok lain. Apalagi oleh musuh sendiri.


Setibanya di rooftop, Aldevaro barulah melepaskan tangan Zeva. Raut wajah cowok itu tampak mengerikan dengan tatapan dingin nan menusuknya yang khas. Demi apa pun, Zeva sangat takut melihat sepasang bola mata itu. Namun, bagaimanapun juga, Zeva tetap harus meluruskan hal ini.


“Var,” ketika Zeva hendak meraih tangan Aldevaro, cowok itu langsung menepisnya, dan malah berakhir menarik tubuh mungil Zeva ke dalam pelukannya.


Saat itu juga, Zeva merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Sikap Aldevaro padanya benar-benar di luar prediksinya. “Va-var?” Panggil Zeva. Bukannya segera membalas, Aldevaro malah kian mengeratkan pelukannya, membuat Zeva terheran akan sikapnya yang tak pernah bisa Zeva pahami.


“Lo gak diapa-apain sama si Gerald, ‘kan?” Sahut Aldevaro, setelah cukup lama cowok itu terdiam di tempatnya. Perlahan namun pasti, ia mulai melonggarkan pelukan tersebut hingga terurai. Sepasang bola matanya menatap penuh kekhawatiran pada raut wajah kebingungan Zeva.


“Ekhem. Gu-gue gak pa-pa, kok. Sebaliknya, apa yang lo lihat tadi tuh enggak-”


“Gue tahu. Lo bukan cewek kayak gitu. Pasti si Gerald ‘kan, yang duluan? Awas aja tuh orang. Gue gak akan pernah-” ucapan Aldevaro refleks terhenti saat kedua tangan Zeva menyentuh kedua pipinya. Perhatian Aldevaro yang semula jengah, perlahan mulai beralih pada raut wajah Zeva yang terlihat begitu mencemaskannya.


“Var, udah, ya? Gue gak pa-pa, kok. Hm?” Lirih Zeva. Saat itu juga, Aldevaro merasakan sebuah ketenangan mengalir dalam dirinya. Helaan napas panjang kemudian ia embuskan, seraya balas menyentuh kedua tangan Zeva yang masih setia berada di kedua pipinya.


“Kita ke kelas, ya? Bentar lagi bel.” Sahut Zeva, yang dibalas anggukan pelan oleh Aldevaro.


“Kalau dia sampe apa-apain lo, bilang sama gue,”


“Iya, gue pasti bakal bilang sama lo.”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2