
“Lo boleh pacaran sama siapa pun, jatuh cinta sama cowok manapun! Tapi tolong, jangan jatuh cinta sama si Gerald! Gue bisa gila kalau lo sampe bener-bener jadian sama dia.”
“Hei! Gue gak lagi pacaran sama siapa pun, apalagi cowok yang lo maksud adalah Gerald. Dan juga, gue gak lagi jatuh cinta sama cowok manapun selain lo! Cuma lo, Var! Lo ngerti ‘kan, maksud gue?” Zeva perlahan menyentuh kedua lengan Aldevaro lembut, meyakinkan cowok itu bahwa dirinya tidak seperti yang Aldevaro katakan.
Aldevaro menggeleng-gelengkan kepalanya seraya semakin menangis terisak di hadapan Zeva. Air mata laki-laki itu luruh, bertepatan dengan Zeva yang kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
“Tapi lo gak pantes sama gue, Va! Gue orang jahat! Gue hampir aja bikin lo-”
“Lo gak sengaja! Aldevaro yang gue kenal gak kayak gini. Pasti ada apa-apa ‘kan? Cerita sama gue, lo kenapa? Apa karena gue? Gue minta maaf!” Ucapan terakhir dari mulut Zeva, membuat Aldevaro spontan melepaskan diri dari pelukan Zeva. Wajah laki-laki itu tampak memberengut dengan jejak air mata di mana-mana.
Sial! Kenapa Aldevaro jadi secengeng ini ketika di hadapan Zeva? Benar-benar memalukan!
“Iya, salah satunya karena lo!” Ungkap Aldevaro, tanpa sedikit pun menatap pada Zeva yang mulai menunduk di tempatnya.
“Ka-kalau gitu gue-”
“Kenapa lo meluk-meluk si Gerald? Lo jadian ‘kan sama dia?” Zeva spontan mendongakkan wajahnya dengan dahi yang berkerut dalam.
“Meluk si Gerald? Lo tahu dari,”
“Tuh ‘kan! Udah gue duga! Lo pasti udah jadian sama dia,” Aldevaro menatap kecewa Zeva yang masih dibuat bengong di tempatnya. Ketika cowok itu hendak melenggang dari hadapan Zeva, sontak gadis itu langsung mehanan langkah Aldevaro
“Gue gak jadian sama Gerald! Lo salah paham, Var!” Aldevaro mendengus sembari menepis kasar tangan Zeva. Tanpa berniat menoleh, Aldevaro lantas kembali melanjutkan langkah kakinya sampai ke luar dari dalam kamar.
Dan, ya. Zeva mengekori langkah Aldevaro di belakang. Masih mencoba menjelaskan sesuatu yang harus segera ia luruskan.
“Var, dengerin gue! Tadi sore lo ada di pantai keluarganya si Gerald ‘kan? Kenapa lo gak samperin gue? Justru gue ke sana karena mau nyamperin lo! Kenapa lo-”
“Kalau lo mau nyamperin gue, kenapa di sana lo berdua malah mesra-mesraan?” Zeva refleks terdiam, bingung mau menjawab apa. Bibirnya seketika dibuat kelu oleh pertanyaan menjurus dari Aldevaro. Dan, ya. Raut wajah Zeva yang seperti inilah yang membuat Aldevaro kesal melihatnya.
“Lo gak bisa jawab ‘kan? Berarti bener, dong?”
“Enggak! Ini salah paham! Fine, gue emang meluk dia, tapi bukan karena gue sama dia ada hubungan spesial! Gue kayak gitu karena gue gak tega. Dia cerita soal adiknya Gisha yang udah meninggal. Dia terus-terusan nyalahin dirinya sendiri atas kepergian Gisha. Cuman itu kok!” Zeva memekik keras, sembari menjelaskan sebuah kebenaran yang memang seperti itulah keadaannya.
Sialnya, sekeras apa pun Zeva menjelaskan pada Aldevaro, cowok itu tetap tidak bergeming. Ia masih berdiri kaku memunggunginya tanpa bergerak maupun berkata apa-apa.
Zeva lagi-lagi terisak di tempatnya merasa sia-sia ia datang kemari. Aldevaro tidak memercayai alasan Zeva, sebab itulah cowok itu masih tidak bereaksi apa-apa. Menyebalkan! Haruskah Zeva pulang saja?
“Fine! Gue emang salah, dan gue akui tindakan itu gak seharusnya gue lakuin. Tapi di sini gue sebagai seorang temen cuma berusaha menghibur, gak lebih! Walaupun Gerald sempat nyatain perasaannya sama gue tadi sore, gue tetep gak bisa berpaling ke dia.” Perkataan Zeva paling terakhir, membuat Aldevaro tertarik dan kesal diwaktu yang bersamaan.
Perlahan, Aldevaro membalikkan tubuhnya menghadap Zeva yang masih setia menunduk di tempatnya.
“Gerald nembak lo?”
“Iya!” Zeva berucap lantang, tanpa sedikit pun mau melirik pada Aldevaro.
“Kenapa gak lo terima?” Pertanyaan itu membuat Zeva terpancing untuk kembali melayangkan tatapannya pada Aldevaro. “Lo gila? Gue gak punya perasaan apa-apa sama dia! Sampai detik ini pun, orang yang gue cintai cuma lo, Var! Cuma lo! Gak ada yang lain,” pekik Zeva, ia sudah teramat lelah dengan semua drama yang terjadi di antara dirinya dan Aldevaro
Kenapa cowok itu tidak pernah bisa mengerti?
“Jadi … lo lebih memilih nolak dia?”
“Iya!”
“Karena gue?”
“Iya!
Sempat terjadi keheningan beberapa saat. Hingga tak berapa lama setelahnya, Aldevaro menarik tubuh Zeva dan berakhir memeluknya erat. Helaan napas berat disertai degup jantung Aldevaro yang berdetak dua kali lebih cepat dapat Zeva rasakan. Perlahan, Zeva membalas pelukan Aldevaro dan menduselkan kepalanya di dada bidang Aldevaro.
“Lo udah bilang gitu, jadi mulai sekarang lo milik gue! Lo gak diizinin suka sama cowok lain selain gue! Dan, lo juga gak bisa lari setelah semua pengakuan lo barusan.”
“Gue gak akan lari, Var! Karena gue cintanya cuman sama lo! Gue gak peduli lo seburuk apa, perasaan gue sama lo gak akan pernah berubah sampai kapan pun. Dan, maafin gue!” Aldevaro kian mengeratkan pelukannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gue yang salah! Gue harusnya gak pernah punya pemikiran buat balas dendam sama lo, disaat hati gue masih sangat membutuhkan lo. Lo adalah cinta pertama dan terakhir buat gue, Va! Maafin gue,”
Zeva terkekeh sendu diiringi air matanya yang lagi-lagi luruh membasahi wajahnya. Perlahan, gadis itu mulai menjauhkan diri sehingga pelukan antara keduanya mulai terlepas. Tatapan matanya yang lembut berkaca-kaca seolah hanya terkunci pada sepasang manik mata Aldevaro yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.
“Nah, karena kita udah maaf-maafan, sekarang gue mau nanya satu hal sama lo!”
“Nanya apa?”
__ADS_1
“Lo bilang katanya alasan lo kayak gini salah satunya karena gue. Lalu sisanya?” Aldevaro membisu, saat potongan demi potongan kejadian yang belum lama ini terjadi di rumah antara mama dan papanya, kembali terputar secara otomatis di otaknya.
Perasaan sakit dan kalut yang belum juga mereda itu seolah kembali bersinggah tepat di dadanya.
“Gue …”
****
Zeva refleks membekap mulutnya sendiri ketika ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Aldevaro sanggup membuatnya terkejut setengah mati.
Ditatapnya Aldevaro yang tengah menunduk dalam di sampingnya. Perlahan, Zeva memeluk tubuh laki-laki itu dari samping, mencoba untuk memberikan sedikit kekuatan padanya.
“Jadi … orang tua lo …” Zeva tidak sanggup melanjutkan perkataannya yang mungkin saja akan membuat Aldevaro semakin terluka. Dapat Zeva dengar suara helaan napas berat dari mulut Aldevaro.
“Iya! Katanya mereka mau cerai,”
Zeva mengalihkan perhatiannya pada wajah Aldevaro yang berjarak beberapa sentimeter saja darinya. “Terus?” Aldevaro ikut menoleh, tepat setelah mendengar sahutan dari Zeva.
“Ya, gitu. Gue dari kecil juga emang gak sedeket itu sama mereka. Tapi gak tahu kenapa, pas denger mereka mau cerai, hati gue tetep sakit,”
Terjadi keheningan beberapa saat di antara keduanya. Sampai ketika Aldevaro melepaskan tangan Zeva yang masih setia memeluknya, barulah keduanya kembali saling melempar kontak mata.
“Va!” Sahut Aldevaro, membuat Zeva yang sempat terhanyut beberapa saat akan tatapan dari Aldevaro pun lantas mengerjap. “I-iya?”
“Gue lagi gak mau sendiri. Lo mau gak tidur di sini buat malem ini aja?”
“Hah?” Permintaan Aldevaro seketika membuat Zeva tersentak dan refleks sedikit menjauhkan diri dari Aldevaro. “Ke-kenapa?”
“Gue … untuk kali ini aja gue pengin tidur ditemenin seseorang. Tapi lo tenang aja, gue gak akan apa-apain lo. Lo tidur di kasur atas, gue tidur di kasur bawah. Yang gue mau cuman ‘lo ada di sisi gue, Va’.”
Zeva menghela napas gusar dengan pikirannya yang tiba-tiba melayang pada sang mama. Jujur, Zeva datang ke sini tanpa memberitahu mamanya. Bahkan, untuk membangunkan sang mama yang tengah tertidur saja ia tidak berani. Beliau akan bertanya tiada henti jika sampai Zeva benar-benar meminta izin keluar rumah tengah malam.
Dan, ya. Sekarang pun Zeva masih gusar jika sewaktu-waktu mamanya terbangun di tengah malam, lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya dan tidak menemukan keberadaannya. Apalagi, Zeva juga lupa membawa ponsel saat hendak ke sini. Bagaimana ini?!
“Tapi … gue ke sini gak izin dulu sama Mama! Kalau pagi-pagi nanti nyariin gimana?” Cukup lama Zeva berpikir seraya menimbang-nimbang, gadis itu akhirnya mulai mengutarakan kegelisahannya pada Aldevaro. Tampak cowok itu mengerutkan keningnya seraya berpikir sejenak.
“Gue yang akan bilang sama Tante Raya!”
****
Dadanya sesak ketika mengingat kejadian demi kejadian di mana dengan lantangnya, ia mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis yang sudah jelas, tidak akan pernah menjadi miliknya.
Dan, ya. Entah keberanian dari mana ia sampai berani berbuat demikian! Dan lihatlah dirinya sekarang! Kacau. Satu kata itu mampu mendeskripsikan segalanya.
“Ger!” Sahutan diiringi tepukan di salah satu bahunya, menyadarkan sang empunya dari berbagai lamunan.
Ya! Orang yang tengah meratapi kesedihan itu tak lain ialah Gerald.
“Hm. Apaan?” Gerald mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum tipis di hadapan salah seorang teman di perkumpulan gengnya. Robby.
“Dari tadi gue perhatiin, keknya lo kebanyakan ngelamun, deh! Lo kenapa? Ada masalah?” Robby, laki-laki yang usianya berpaut tiga tahun lebih tua dari Gerald, melontarkan pertanyaan yang sedari tadi terus ia simpan dalam hati.
Gerald tak berniat langsung menjawabnya. Cowok itu hanya terkekeh miris dengan kepala yang sedikit menunduk. “Masalah cewek?” Pertanyaan spontan itu mengundang perhatian Gerald.
Dengan raut wajah syok, Gerald menatap Robby tanpa berkedip. Sedangkan di tempatnya, Robby terkekeh pelan. “Bener ternyata. Kenapa? Ditolak?” Sahut Robby lagi, seketika menyadarkan Gerald dari apa yang membuatnya demikian.
“Gak usah kepo.” Mode dingin Gerald mulai menyala, membuat Robby menghela napas panjang di sebelahnya.
“Kek bukan elo banget, Ger, sumpah! Gerald yang gue kenal, gak akan galau karena satu cewek! Apalagi ini, ditolak!? Siapa yang berani nolak cowok kayak lo?” Robby menyahut, sembari mengeluarkan rokok dari saku jaketnya. Meraih pemantik api untuk menyalakan rokok tersebut, dan kemudian menyesapnya.
“Menurut lo … apa gue gak ada kesempatan?”
“Hah? Maksud? Kesempatan apaan?” Robby mencoba mendekatkan posisi duduknya agar semakin berdekatan dengan Gerald.
Gerald lagi-lagi menghela napas berat, sebelum cowok itu benar-benar mengatakan curhatannya. “Gue nembak cewek yang masih terjerat sama mantannya. Dan, mantannya itu gak lain adalah, sepupu sekaligus musuh gue sendiri,”
“Apa? Maksud lo … cewek yang lo tembak itu, mantannya si Aldevaro?” Robby membulatkan matanya, menatap Gerald dengan tatapan tak percaya.
“Iya! Siapa lagi sepupu yang selalu gue anggap musuh dari dulu? Lo yang paling tahu tentang gue, Bang!” Ungkap Gerald. Detik berikutnya, Robby menggeleng-gelengkan kepala seraya mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Demi apa pun, ia tidak percaya.
“Lo berdua bisa gak sih, kalau apa-apa tuh gak usah rebutan? Waktu itu lo rebutan soal harta warisan! Terus perhatian dari keluarga! Sekarang? Lo mau rebutan cewek sama sepupu lo?” Robby berdecak kagum disela ia masih senantiasa menyesap batang rokoknya.
__ADS_1
“Kalau gue jadi lo, gue akan rebut tuh cewek! Mereka udah mantan ‘kan?”
“Tapi mereka masih saling suka,” timpal Gerald, terdengar begitu frustasi. Sampai membuat Robby, selaku teman dekat Gerald di perkumpulan, dibuat menganga tak percaya.
“Lo insecure?” Tanya Robby, dan Gerald hanya terdiam sembari terus mencerna perkataan Robby.
“Gue kasih tahu sama lo! Sebelum janur kuning melengkung, lo masih ada kesempatan buat bikin cewek itu jatuh ke pelukan lo! Tapi, yaa, itu sih terserah elo maunya gimana. Kalau lo insecure, yaa, lo lupain dia! Gak mudah emang ngejar satu orang cewek yang hatinya masih buat mantan pacarnya. Gue pernah ngerasain gimana di posisi lo,”
“Terus, apa yang lo lakuin pas ada di posisi itu?” Gerald balik bertanya, membuat Robby yang tadinya sok bijak dan menasehati, mendadak kelimpungan sampai terbatuk-batuk asap rokoknya sendiri.
“Yaa … gue pergilah! Susah Bro, ngejar cewek kayak gitu mah. Mending gue nyerah aja,” ujar Robby, diakhri menyengir lebar.
“Katanya sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan? Lo barusan ngomong gitu lho sama gue!”
“Iya, itu kalau si mantannya kagak ngeresponin tuh cewek! Kalau tuh mantannya malah ngajak balikan, gue bisa apa? Gue cuman bisa berdoa, semoga dia bahagia,”
“Sama aja dong kek gue! Anj*rlah,”
****
Pagi-pagi sekali, tepatnya pukul lima lewat tiga puluh menit, Zeva sudah stand by di depan pintu rumahnnya, bersama dengan Aldevaro yang posisinya berada tepat di belakang. Ketika Zeva hendak mengetuk pintu, sudut hatinya mendadak ragu, entah untuk yang keberapa puluh kali, gadis itu kembali menoleh ke arah Aldevaro dengan wajah memelas.
“Var, gue takut!” Cicit Zeva. Tanpa sadar membuat Aldevaro tersenyum geli melihat raut wajah menggemaskan itu. Perlahan, Aldevaro berjalan ke hadapan Zeva, hingga sampailah cowok itu di depan pintu rumah Zeva.
“Udah dibilangin biar gue aja yang ketok, malah ngeyel! Sini!” Saat Aldevaro hendak mengetok pintu, tangannya langsung dicekal oleh Zeva. Spontan Aldevaro langsung menoleh menatap raut wajah Zeva yang terlihat begitu tegang di tempatnya.
“Gimana kalau Mama sampe ngamuk?”
Benar juga! Gimana, ya?
“Em …” Aldevaro tampak berpikir kembali, sebelum cowok itu benar-benar akan mengetuk pintu dan berhadapan langsung dengan Raya, mamanya Zeva.
“Lo percaya ‘kan sama gue?” Tiba-tiba Aldevaro mempertanyakan kepercayaan Zeva padanya. Sontak gadis itu mengangguk kikuk tanpa tahu maksud dari apa yang baru saja dilontarkan oleh Aldevaro.
Tanpa berbasa-basi lagi, Aldevaro langsung mengetuk pintu rumah Zeva. Dan sialnya, cowok itu mengetuknya dengan sangat tidak sabaran. Membuat Zeva seketika dibuat lemas di tempatnya.
“Varo, ihh! Gimana kalau-” belum sempat Zeva menyelesaikan perkataannya, pintu rumahnya sudah terbuka lebar. Tampaklah sang mama, Raya, dengan raut wajah memberengut yang ia tujukan pada Zeva.
“Ma-ma?” Zeva spontan menelan ludahnya susah payah. Telapak tangannya mendadak berkeringat hanya karena tatapan dingin nan menusuk dari mamanya.
“Habis dari mana kamu? Pagi-pagi udah ngilang aja! Gak mau sekolah?”
“Anu, begini Tante. Kemarin Zeva- awhh!” ucapan Aldevaro tertahan saat sebuah cubitan keras melayang di lengannya. Ketika menoleh, tatapan Zeva yang menusuk langsung mengintimidasi Aldevaro.
“Kemarin? Emangnya kemarin Zeva-”
“Eeh, maksudnya Varo itu … kemarin ‘kan dia sakit, jadi tadi pas masih subuh, aku pergi jengukin dia, dan ternyata Varo-nya udah sembuh. Makanya pas tadi Mama bukain pintu kamar, akunya gak ada. Karena …” Zeva menggantungkan ucapannya saat tatapan Raya berubah nyalang. Demi apa pun, mamanya itu cukup mengerikan saat sedang dalam mode garang seperti ini!
“Oh, ya? Kok, kayaknya ada yang kalian sembunyiin, ya, dari Mama?”
Di tempatnya, Zeva semakin dibuat gugup setengah mati. Tanpa sadar ia mengepal kuat kepalan tangannya. Tak jauh dari Zeva, Aldevaro pun merasakan sebuah getaran hebat yang seolah siap menghantamnya.
Aduh! Gimana, nih? Jujur, gue bukan cowok baik! Kemarin aja habis itu sama Zeva! Aduh, gimana nihhhh!? Batin Aldevaro bermonolog.
“Kalian pacaran, ya!”
“Hah?!” Sahutan refleks itu keluar dari mulut Zeva dan Aldevaro. Menyadari bahwa keduanya bukanlah dicurigai hal lain, spontan keduanya saling menoleh ke arah masing-masing.
“Kita …”
“Iya, kita pacaran Tante!” Sahut Aldevaro cepat. Membuat Zeva yang hendak unjuk bicara pun dibuat meringis sembari melirik tajam Aldevaro dari samping.
“Udah Mama duga! Ya udah, buruan masuk! Hari ini kamu masih sekolah ‘kan? Cepetan mandi, habis itu sarapan! Mama mau langsung berangkat kerja soanya,” ujar Raya, membuat Zeva dan Aldevaro spontan menghela napas lega. Ketika wanita paruh baya itu hendak melenggang pergi, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Al, kamu juga mau sekolah ‘kan? Pacaran sama Anak Tante, boleh. Tapi jangan sampai kamu lupa status kamu sebagai seorang pelajar!”
“I-iya Tante, maaf! Kalau gitu saya mau pulang dul-”
“Kok, pulang? Kenapa gak sekalian aja kamu sarapan di sini?” Sahutan Raya yang terburu-buru membuat Aldevaro tidak nyaman. Entah mengapa, rasa-rasanya beliau mengetahui suatu hal yang tak kasat mata.
“Gak usah, Tante! Saya belum ganti baju juga soalnya. Nanti kalau saya udah siap, saya ke sini lagi jemput Zeva,” Aldevaro berusaha membalas sesopan mungkin, walau pada dasarnya tatapan Raya tampak lain dari biasanya.
__ADS_1
“Oh, gitu? Ya udah. Zeva! Buruan masuk! Al, hati-hati di jalan, ya!”
To be continue…