Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
29. Bekas Luka di Leher


__ADS_3

“Gue ke kelas dulu, ya!” Ucapan lembut diiringi sentuhan hangat di pipi sebelah kiri Zeva, membuat sang empunya dibuat merona. Refleks kepalanya langsung menunduk dalam dengan perasaan yang berkecamuk.


“I-iya udah, sana!” Ujar Zeva, malu-malu. Entahlah. Semenjak keduanya resmi berbaikan dan kembali menjalin hubungan seperti semula, dirinya menjadi gampang sekali dibuat salah tingkah.


“Hm … Nanti pas jam istirahat jangan lupa ke lapangan outdoor,” ujar Aldevaro, sedikit membuat Zeva mengerutkan keningnya seraya mendongak.


“Emang ada apa?”


“Gak ada apa-apa sih. Siapa tahu aja lo pengin lihatin gue olahraga,” terang Aldevaro, yang dibalas anggukan paham oleh Zeva. “Ya udah,” Balas Zeva. Entah kenapa terasa begitu datar di telinga Aldevaro.


“Gitu doang?”


“Maksudnya?”


“Enggak! Gue duluan,” pungkas Aldevaro, kemudian melenggang dari hadapan Zeva yang terdiam memaku di depan pintu kelasnya. Sepasang bola matanya terus menatap ke arah punggung tegak Aldevaro yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauannya.


Omong-omong soal hari ini, suasana sekolah atau lebih tepatnya di koridor kelas dua belas tampak masih sunyi. Hanya sedikit siswa dan siswi yang telah tiba di kelasnya, padahal jam telah menunjukkan pukul 6 lewat 47 menit.


“Hm, ke kelas aja, deh.” Gerutu Zeva, seraya memasuki kelasnya yang masih sangat sepi.


Zeva menaruh tasnya di atas meja yang selama beberapa bulan ini terus ia tempati. Letaknya berada di meja paling belakang dan berada tepat di tengah-tengah. Dan, ya. Zeva duduk seorang diri. Namun hal tersebut tak membuatnya merasa dibedakan hanya karena teman-teman di kelasnya yang lain duduk berpasangan.


Baru saja Zeva hendak menduduki kursinya, seorang gadis diikuti beberapa gadis lain di belakang, mulai memasuki kelas dengan cukup heboh. Spontan Zeva menoleh, dan tampaklah Stella, beserta kedua sahabat dekatnya, Rena dan Gina, memasuki kelas seraya menenteng tas sekolah mereka.


Pandangan ketiga gadis itu yang awalnya jengah, refleks langsung terkunci pada Zeva yang pada saat bersamaan tengah menatap mereka. Sempat terdiam beberapa saat, Stella mendengus kesal sembari merotasikan bola matanya dan mendudukkan diri di kursi miliknya.


Sedangkan Rena dan Gina, kedua gadis itu saling pandang dalam diam. Tak berapa lama kemudian, perhatian mereka kembali pada Zeva yang terlihat terkejut dengan sikap Stella yang tiba-tiba terasa memusuhinya.


“Udah di sini aja lo, Va! Berangkat sama siapa tadi?” Gina menyahut ramah pada Zeva. Tak lupa gadis itu pun berjalan ke arah mejanya yang kebetulan berada tak jauh dari posisi meja Zeva.


“Emm, sama Aldevaro,” ujar Zeva, sialnya terlalu jujur. Membuat Stella yang sedari tadi mendengarkan diam-diam, langsung bangkit dari kursinya, berjalan dengan langkah tergesa keluar dari dalam kelas.


Gina menyengir lebar pada Zeva, ikut tak enak hati saat menyaksikan perangai sahabatnya, Stella, yang sudah dipastikan tengah kesal akibat lagi-lagi Aldevaro kembali bersama Zeva.


“Lo balikan lagi sama dia?” Sahut Rena, tiba-tiba saja gadis itu menghampiri Zeva.


“I-iya,” ujar Zeva, malu. Sedangkan Rena dan Gina malah tersenyum penuh arti pada Zeva.


“Selamat, ya! Btw, jangan terlalu pamerin kedekatan lo di depan si Stella, ya! Dia dari pas jaman MPLS udah demen banget soalnya sama si Aldevaro. Cuman yah, gitu. Si Aldevaro-nya kaku.” Ujar Rena, tiba-tiba menerangkan sedikit soal Stella yang ternyata sudah menyukai Aldevaro sejak lama sekali.


Di tempatnya, Zeva hanya terdiam seraya berpikir. Tak berapa lama kemudian, gadis itu mengangguk sembari tersenyum tipis. Spontan Rena ikut mengembangkan senyumannya pada Zeva yang juga diikuti oleh Gina.


“Kalau gitu kita duluan, ya, Va! Ayok, Gin!” Ujar Rena, seraya menarik tangan Gina, dan membawanya keluar dari dalam kelas.


Sementara Zeva, ia belum sempat membalas ucapan dari Rena, gadis itu beserta sahabatnya telah pergi begitu saja. Padahal, ada sesuatu yang ingin Zeva tanyakan pada Rena.


Tapi, ya, gak terlalu penting juga sih! Jadi, ya sudahlah…


****


“Woi! Ciee! Lagi lihatin ayang, ya?” Sahutan keras diiringi tepukan di salah satu bahu Zeva, seketika mengalihkan perhatian sang empunya.


Diliriknya seorang gadis sebaya dengan Zeva, tersenyum manis ke arahnya, seolah tak memiliki dosa atas apa yang telah ia lakukan pada Zeva.


“Udah lama?” Sahut gadis itu, yang biasa dipanggil Abhigail. Anak kelas sebelah yang tinggal di jurusan XII IPS 3.


Omong-omong, saat ini Zeva tengah berada di pinggiran lapangan outdoor sekolah untuk melihat Aldevaro yang tengah berolahraga bersama teman-teman sekelasnya.


“Apanya?” Zeva balas menyahut, kurang mengerti maksud dari sahutan Abhigail yang terlalu to the point itu. Terdengar helaan napas gusar dari mulut Abhigail yang mengundang perhatian Zeva.


“Elo-nya! Lo udah lama di sini?” Jelas Abhigail, menatap tajam Zeva yang juga tengah balas menatapnya.


“Ooh. Kirain apaan. Belum lama, paling lima menitan,” ujar Zeva, fokusnya kemudian kembali ke lapangan di mana di sana masih ada Aldevaro bersama beberapa teman laki-lakinya tengah berbincang-bincang. Sedikit mendengar, sepertinya para anak laki-laki hendak bermain bola.


“Hm, Zeva!” Panggil Abhigail, beberapa saat ketika suasana di antara mereka berubah hening.


Lagi-lagi Zeva menoleh pada Abhigail dengan raut wajah ramah. Sementara Abhigail sendiri, ia tengah menerka-nerka sekarang. Wajahnya pun tampak sedikit serius, membuat Zeva spontan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Kenapa, Bhi? Ada yang salah?” Sahut Zeva, setelah cukup lama Abhigail masih terdiam di tempatnya.


“Eh? Eng-gak! Em, maksudnya, iya!”


Zeva semakin mengerutkan keningnya, menyadari Abhigail yang berbicara terbata-bata. “Ada apa? Lo gak pa-pa?” Tanya Zeva. Di tempatnya, Abhigail tampak berdeham beberapa kali seraya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.


“I-itu, leher lo kenapa? Lo gak habis itu ‘kan?”


“Maksudnya?”


Demi apa pun, Zeva mendadak panas dingin saat Abhigail bertanya hal tersebut. Entah mengapa, otaknya malah kembali melayang pada malam di mana dengan kasarnya, Aldevaro menjamah sekitaran lehernya.


Apa jangan-jangan … berbekas?


“Coba deh lo lihat di kamera! Kelihatan banget soalnya,” ujar Abhigail. Suaranya terdengar pelan dan terkesan hati-hati.


Dengan spontan, Zeva mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Membuka aplikasi kamera, dan membalikkannya ke mode selfie. Dan, seperti yang dikatakan oleh Abhigail, ada beberapa bekas kehitaman di lehernya. Dan itu tampak cukup jelas.


Kok, bisa? Tadi enggak ada, kok! Batin Zeva, memekik dalam hati.


“Va? Lo … gak pa-pa? Muka lo pucet banget,” Abhigail kembali menyahut pelan pada Zeva. Tampak Zeva yang mulai gelagapan di tempatnya, seraya mematikan ponsel dan memasukkannya kembali ke dalam saku rok.


“Hah? Eng-gak! I-ini … kemaren gue habis nyatok rambut, gak sengaja kena leher. Ta-tapi tadi gak berbekas gini, kok!” Balas Zeva, berusaha mencari sebuah alasan, agar Abhigail tidak lanjut mencurigainya.


Raut wajah Abhigail yang semula waswas, lantas berubah normal, dengan helaan napas lega yang ia embuskan lewat mulutnya. “Gue kira kenapa! Hampir aja gue mikir yang aneh-aneh!”


Zeva tersenyum kikuk, merutuki dirinya sendiri yang tidak hati-hati.


“Btw, gue juga pernah tuh kena kasus yang sama kayak lo! Gila, panas banget! Pas besoknya berbekas juga kek gitu, kek punya lo!”


“O-oh, ya? Terus, biar bekas lukanya cepet hilang, lo apain?”


Tampak Abhigail yang berpikir sejenak, sebelum pada akhirnya mulai mengutarakan kalimatnya. “Gak gue apa-apain sih, paling gue kasih concealer aja, atau enggak pakein foundation. Soalnya bekas lukanya bikin orang yang lihat jadi salah paham,”


Haduuh… mana gue gak bawa benda gituan lagi! Kalaupun bawa, buat apaan coba? Tapi pas lagi kayak gini keknya butuh banget sih. Gumam Zeva, lagi-lagi bergelut dengan pikirannya.


“Eeh, lo tenang aja! Kebetulan gue punya plester. Sementara lo pake ini aja,” Abhigail lagi-lagi menyahut, seraya menyerahkan sebuah plester yang ia ambil dari saku seragamnya pada Zeva.


“Gak pa-pa, pake aja! Daripada entar banyak orang yang lihat terus salah paham? ‘Kan gak enak. Udah, pake aja! Atau, mau gue pakein?” Usulan Abhigail, membuat Zeva dibuat kelabakan. Dan hal itu sudah cukup meyakinkan Abhigail tentang satu hal yang telah terjadi pada Zeva.


“Gak usah, gue bisa pake sendiri, kok! Gue ke toilet bentar, ya!” Pungkas Zeva, seraya melenggang dari hadapan Abhigail yang terdiam dengan berbagai pemikiran seputar Zeva.


****


Zeva mengembuskan napas lega, selepas ia telah benar-benar memasangkan plester di area lehernya. Jantungnya berdegup kencang, sungguh! Apalagi tatapan Abhigail barusan seolah tidak puas atas jawaban Zeva. Namun, kalimat yang dilontarkan gadis itu bertolak belakang dengan raut wajahnya.


“Haduhh! Jadi gak mau keluar dari toilet ‘kan, gue? Gimana dong! Mau nyalahin Varo, tapi di sini gue juga salah udah nyakitin dia. Siapa suruh gue salah paham sejauh itu sampai bikin dia frustasi! Gue emang bukan cewek baik.” Gerutu Zeva. Dan, ya. Gadis itu masih berada dalam salah satu bilik toilet perempuan yang sering digunakan oleh adik-adik kelas sepuluh.


Hendak berjalan keluar, tetapi rasa takut seolah menghalangi jalannya. Sehingga yang terjada saat ini adalah, Zeva terus-menerus menghela napas di dalam bilik toilet.


“Haduhh! Enggak, enggak, enggak! Masa iya, gue harus selamanya di sini? Stay cool, Zeva! Lo sama sekali gak ngelakuin hal lebih sama Aldevaro! Hanya ini, gak ada yang lain, kok! Buat apa lo gugup?” Lagi-lagi Zeva menggerutu, diiringi helaan napas berat yang tak henti-hentinya terus ia embuskan.


Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Zeva akhirnya membuka pintu toilet tersebut. Sebelum benar-benar keluar, gadis itu menyempatkan diri untuk mengecek keadaan sekitar dengan cara menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Dirasa aman, Zeva kembali menghela napas, namun kali ini adalah helaan napas lega. Setelahnya, Zeva benar-benar berjalan keluar dari toilet. Hatinya mendadak tentram saat tak mendapati satu orang pun yang lewat di lorong-lorong kelas.


Ketika hendak berbelok, Zeva refleks mengerem langkah kakinya, saat sepasang kaki jenjang, berdiri menghalangi jalannya.


Ketika Zeva mulai mendongak untuk menatap siapa pemilik kaki jenjang tersebut, seketika perasaan kalut mulai menghinggapinya. Napasnya refleks tercekat beberapa saat, ketika tatapan dingin kelewat mengerikan itu seolah ditujukan pada Zeva.


“Balikan lagi lo sama sahabat gue?” Sahutan tidak ramah yang terlontar dari mulut Daniel, si pemilik kaki jenjang tersebut, sontak menyadarkan Zeva dari berbagai lamunan. Refleks gadis itu memundurkan langkah kakinya, agar posisinya tidak terlalu berdekatan dengan Daniel.


“Gu-gue …”


“Iya, atau enggak!” Tuntut Daniel. Spontan Zeva memejam kuat sepasang bola matanya.


“I-iya!”

__ADS_1


Sempat terjadi keheningan beberapa saat. Ketika Zeva hendak melenggang dari hadapan Daniel yang masih setia menatapnya tajam, saat itu juga, sebuah tangan besar mencengkram kuat pergelangan tangannya. Dan hal itu sukses membuat langkah Zeva berhenti mendadak.


Bahkan, perasaannya mulai terasa tak nyaman. Entah mengapa Daniel bersikap berbeda dari sejak kemarin. Seakan jika saat ini, Daniel tengah menyimpan sebuah dendam pada Zeva.


“Putusin Aldevaro! Lo gak pantes sama dia,”


Hati Zeva terasa mencelos saat perkataan jahat meluncur dari mulut cowok itu. Ketika ia hendak melenggang dari hadapan Zeva, spontan Zeva menahannya. Kemudian menatap Daniel dengan tatapan meminta penjelasan atas apa yang baru saja ia katakan.


“Maksud lo apa?”


Daniel tersenyum menyeringai, dengan perhatian yang juga tertuju pada sepasang bola mata Zeva. Ketika ia hendak berujar, seseorang telah lebih dulu menarik Zeva agar menjauh dari jangkauannya.


“Heh, Daniel! Gak usah, ya, lo atur-atur sahabat gue! Terserah dia-lah, mau balikan lagi sama si Aldevaro kek, atau enggak sama sekali! Hubungannya sama lo apa, ya, kalau boleh tahu?” Joy menyelak kesal dengan pandangan nyalang yang ia tujukan pada Daniel.


Sementara Zeva, gadis itu terkejut bukan main dengan keberadaan Joy serta ucapannya yang terdengar membela Zeva.


Tunggu! Apakah sedari tadi Joy sudah mendengar semuanya?


Terdengar kekehan sarkas dari mulut Daniel. “Oh, ya? Gue juga SAHABAT BAIK Aldevaro, kalau lo juga lupa! Gue sama dia udah temenan sejak lama! Dan baru kali ini, sahabat yang selalu gue anggep baik, tiba-tiba berubah hanya karena satu orang cewek kayak dia! Gue gak suka lah! Dikira cewek cuman dia doang? Apa bagusnya tuh cewek buat si Aldevaro? Cuman jadi perusak hidupnya-”


“Stop! Lo cowok bukan? Gak usah lo ngehakimin Zeva! Gak usah sok tahu dan sok ikut campur masalah mereka, deh! Lo tahu apa? Cuman Zeva sama Aldevaro yang tahu hubungan mereka kayak gimana! Lo sebagai sahabat ada baiknya diem, dan support sahabat lo! Bukannya di belakang malah nusuk!” Joy lagi-lagi melampiaskan amarah yang seharusnya jadi milik Zeva. Lihatlah sekarang, raut wajah gadis itu tampak memerah dengan deru napasnya yang memburu.


Sementara Zeva? Ia hanya bisa menunduk dalam, seraya mengiyakan semua perkataan Daniel tentang dirinya.


“Sorry! Gue bukan berniat nusuk sahabat gue sendiri! Justru di sini gue berniat baik buat misahin dia dari cewek yang memberikan pengaruh buruk buat sahabat gue, Aldevaro!”


“Pengaruh buruk lo bilang? Lo kali yang pengaruh-”


“Udah, Joy! Ki-kita pergi aja, ya! Udah, jangan ngelawan lagi! Gue gak pa-pa, kok,” Zeva memotong ucapan Joy yang belum sepenuhnya ia keluarkan. Tampak gadis itu beralih menatapnya tak percaya.


“Tapi, Va! Dia udah-”


“Gue gak pa-pa, Joy! Kita pergi!” Kukuh Zeva, sembari menarik Joy agar segera menjauh dari hadapan Daniel.


****


“Euhhh! Sialan emang Si Daniel! Bisa-bisanya dia ngomong gak jelas sama lo? Berani banget dia! Fix, lo harus ngadu sih sama si Al-”


“Jangan!” Sela Zeva, seketika menghentikan langkah Joy yang berada tepat di sampingnya. Refleks gadis itu mengalihkan perhatiannya pada Zeva dengan sepasang alis yang berkerut dalam.


“Kok, jangan?” Sahut Joy, yang dibalas helaan napas gusar oleh Zeva.


“Gue gak mau bikin persahabatan mereka rusak gara-gara gue. Lo jangan bilang apa-apa, ya, sama Aldevaro?! Ini juga bukan masalah serius, kok! Malahan, apa yang dibilang sama Daniel ada benernya juga. Gue emang pengaruh buruk buat dia,”


Joy melebarkan mulutnya, merasa tak percaya dengan perkataan Zeva yang malah terdengar seperti mendukung perkataan Daniel tentang dirinya sendiri. Benar-benar menyebalkan!


“Apaan sih lo! Lo dukung orang yang udah dengan seenaknya ngerendahin lo, gitu?” Nada suara Joy terdengar sedikit membentak, namun hal tersebut tak membuat Zeva merasa tersinggung sama sekali.


Justru yang ada, ia merasa senang saat ternyata, di dunia yang cukup luas ini, masih ada yang mau menjadi sahabatnya.


“Bukan gitu,”


“Iya, terus?”


“Gue …”


“Please, ya, Va! Soal jangan bilang masalah ini sama si Aldevaro, fine! Itu terserah lo! Tapi untuk orang yang dengan terang-terangan ngerendahin lo, tolong jangan lo bela! Gue yakin seratus persen, Zeva yang gue tahu, gak mungkin bawa pengaruh buruk buat si Aldevaro!”


Terjadi keheningan beberapa saat, membuat Joy menatap penuh tanya pada raut wajah Zeva yang tengah menatapnya aneh. Detik selanjutnya, Zeva berakhir memeluk tubuh Joy. Terdengar suara isakan kecil yang berlanjut menjadi sebuah tangisan.


“Kenapa lo belain gue sampe segitunya? Padahal ‘kan, kita belum lama kenal, Joy!” Zeva menghentikan tangisannya. Melonggarkan pelukan, kemudian menghapus jejak air mata yang membasahi sebagian wajahnya.


Joy sempat terdiam beberapa saat, mencoba mencerna deretan perkataan yang baru saja diucapkan Zeva.


“Karena lo baik, lo gak munafik, lo apa adanya! Makanya gue suka temenan sama lo! Jauh dibandingkan kalau sama si Stella. Lo yang paling baik menurut gue, Va!” Joy membalas spontan tanpa berpikir panjang. Raut wajahnya tampak begitu tulus saat mengucapkan kalimat itu. Membuat Zeva yang mendengarnya lagi-lagi berakhir memeluk tubuh gadis tomboy itu.


“Gue gak sebaik itu, Joy,” lirih Zeva, di pelukan Joy.

__ADS_1


Joy tak membalas apa-apa. Gadis itu hanya menghela napas, sembari membalas pelukan Zeva. “Lo orang baik, Va! Percaya sama gue.”


To be continue…


__ADS_2