Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
30. Ketulusan Cinta yang Diuji


__ADS_3

“Va!” Sahutan diiringi tarikan halus di salah satu pergelangan tangan Zeva, membuatnya seketika menghentikan langkahnya meninggalkan area kantin, bersama dengan Joy yang pada saat yang sama posisinya berada di samping Zeva.


Raut wajah Zeva yang semula tampak murung, lantas berganti hangat. Senyuman manis namun terkesan menyimpan luka itu ia tampilkan pada Aldevaro. Laki-laki yang berhasil mencegat langkah kakinya.


“Var? Kenapa?” Sahut Zeva, mencoba terlihat biasa saja, walau pada dasarnya, otaknya masih kepikiran soal perkataan Daniel beberapa waktu yang lalu.


“Ekhem. Gue duluan, ya, Va! Takutnya kalian mau ngobrol apa gitu,” Joy yang sedari beberapa saat terdiam pun bersuara. Selepas mengatakan kalimatnya, gadis itu buru-buru langsung melenggang dari hadapan Zeva dan Aldevaro.


“Hati-hati!” Ujar Zeva, pada Joy yang telah lebih dulu meninggalkannya. Tak berapa lama kemudian, perhatian Zeva kembali pada Aldevaro yang terlihat menatapnya penuh tanya.


“Lo dari mana aja? Katanya lo mau nontonin gue olaharaga,” Aldevaro beralih menautkan jemari tangan Zeva, dan menariknya untuk menjauh dari area kantin. Hingga sampailah keduanya di sebuah bangku taman yang berada di pinggiran lapangan, barulah Aldevaro melepaskan tautannya.


“Em, gue dateng, kok!” Ujar Zeva, bertepatan ketika ia baru saja mendudukkan diri di bangku taman itu bersama Aldevaro.


Aldevaro mengerutkan keningnya dengan tatapan penuh selidik. “Gue gak lihat keberadaan lo tuh tadi!”


“Iihh! Ada! Cuman, baru aja gue duduk mau nonton, gue langsung lari ke toilet.”


“Mau ngapain?” Tanya Aldevaro, entah mengapa dirinya merasa kurang yakin akan perkataan Zeva.


“Ya, pikir sendiri aja ke toilet mau ngapain? Yang pasti bukan buat beli cilok,” terang Zeva, yang diakhiri terkekeh geli setelahnya.


Raut wajah suram Aldevaro pun berangsur membaik. Sebuah senyuman tipis lantas terbit di wajah tampannya. Di detik berikutnya, cowok itu mengacak puncak kepala Zeva dengan gemas, sehingga membuat sang empunya dibuat mengerang sembari memejamkan mata.


“Ya udah. Terus, kenapa gak balik lagi?” Tanya Aldevaro menuntut, seolah masih belum puas dengan jawaban dari Zeva beberapa saat yang lalu.


“Em, karena Joy ngajak ngegosip?” Jawaban Zeva terdengar lebih seperti sebuah kalimat tanya. Membuat Aldevaro lagi-lagi tersenyum karena ucapan dari gadis itu.


“Dasar cewek! Soal ngegosip itu udah jadi nomor satu, ya? Sampai pacar dilupain,”


“Ehehe. Maaf! Gak lagi, deh, ya?” Zeva semakin mengembangkan senyuman manisnya, sehingga kedua pasang matanya refleks ikut menyipit.


“Ekhem. Ngegosip soal apaan emang?” Di tempatnya, Aldevaro berusaha untuk tetap tenang, walau diberi cobaan berkali-kali lipat akan senyuman cantik nan mematikan dari Zeva.


Zeva mendengus pelan seraya bersidekap di tempatnya. “Dih, kepo! Ini masalah cewek! Cowok gak berhak tahu!” Terang Zeva, membuat Aldevaro lagi-lagi terkekeh dibuatnya.


“Ya udah.”


Terjadi keheningan beberapa saat setelahnya, hingga suasana yang sebelumnya terasa hangat pun mendadak kembali dingin. Zeva dengan berbagai pemikiran negatifnya akan perkataan Daniel tadi, dan Aldevaro yang melabuhkan pikirannya pada kejadian kemarin di mana kedua orang tuanya dengan jelas mengatakan, bahwa mereka akan benar-benar bercerai kali ini.


Tak dapat Aldevaro pungkiri, jika kejadian pertengkaran hebat yang terjadi di antara kedua orang tuanya kemarin membuatnya terus berlarut akan kesedihan yang mendalam.


Memang, sedari dulu, kedua orang tuanya sudah sangat sering bertengkar hebat di belakang Aldevaro. Namun, hal itu tidak pernah berlanjut hingga seserius kemarin sampai meminta izin pada Aldevaro untuk mengakhiri hubungan antar keduanya.


“Ekhem. Var!” Sahutan lembut yang meluncur dari mulut Zeva, seketika langsung mengenyahkan segala lamunan Aldevaro. Kepala cowok itu refleks menoleh dengan tatapan matanya yang berubah datar.


“Kenapa?” Sahut Aldevaro, seraya menyamankan posisi duduknya.


“Menurut lo … apa sebaiknya kita gak lanjut aja?” Sepasang bola mata Aldevaro spontan membulat dengan jantungnya yang terasa berhenti berdetak. Ucapan Zeva yang meluncur begitu saja, benar-benar sanggup membuat Aldevaro tak berkutik.


“Kenapa? Lo berubah pikiran sama semua janji yang udah lo ungkapin kemarin ke gue?” Aldevaro mengerutkan kening tanda tak suka, atau lebih tepatnya, kecewa. Bisa-bisanya gadis itu mengusulkan demikian setelah apa yang ia janjikan kemarin pada Aldevaro


“Bu-bukan gitu maksud gue,”


“Terus apa? Kenapa lo bilang kayak gitu?” Seolah habis kesabaran, Aldevaro bangkit dari posisinya. Diikuti oleh Zeva yang juga ikut bangkit, berdiri di samping tubuh Aldevaro yang terlampau menjulang tinggi.


“Gue bukan cewek baik, Var! Gue udah nyakitin hati lo sampai lo kayak kemarin. Gue bawa pengaruh buruk buat lo!”


“Terus gue?” Pertanyaan dari Aldevaro membuat Zeva terdiam, kurang paham maksud dari pertanyaannya.


“Maksudnya?”


“Gue bahkan jauh lebih buruk dari lo, Va! Gue juga bukan cowok baik, setelah apa yang hampir gue lakuin ke lo kemarin! Harusnya gue yang ngomong kayak gitu ke lo, kalau kehadiran gue buat lo itu cuman pembawa pengaruh buruk!” Zeva terdiam menunduk, meresapi untaian kalimat yang dilontarkan oleh Aldevaro.


Sedangkan Aldevaro, perhatian cowok itu seolah hanya tertuju pada Zeva, walau tatapan yang ia layangkan kini, tak lagi sama dengan yang sebelumnya. Bahkan, kepalan di kedua tangannya terasa begitu mengerat menahan gejolak yang terus ia tahan dalam dirinya.


“Maaf!” Ungkapan yang terdengar begitu pelan itu berhasil membuat Aldevaro sedikit melemah. Kepalan di kedua tangannya berangsur melonggar, hingga kini telah sepenuhnya terbebas.


“Gue tadi cuman kepikiran aja. Bukan bermaksud untuk bener-bener akhirin hubungan kita. Gue cuma-” Zeva menggantungkan ucapannya saat sebuah tangan besar nan kekar menyentuh permukaan telapak tangannya. Saling menautkan antar jari hingga pada akhirnya benar-benar saling bertaut.


“Gue anggap gak denger apa-apa soal hari ini. Yang jelas, kita sama-sama saling mencintai. Gue harap, gue gak akan denger lagi soal itu.” Zeva mengangguk pelan, menanggapi ucapan Aldevaro.

__ADS_1


“Dan satu hal lagi,” ucapan Aldevaro selanjutnya sengaja ia jeda beberapa saat, sehingga membuat Zeva lantas mendongakkan wajahnya menatap Aldevaro.


“Apa?”


Aldevaro tersenyum miring seraya menarik Zeva semakin mendekat ke arahnya. Di detik yang sama, Aldevaro membisikkan sesuatu, sehingga membuat Zeva yang mendengarnya, dibuat terdiam mematung.


“Gue udah terobsesi sama lo, Va! Gak ada yang boleh mengambil lo dari tangan gue. Lo, selamanya milik gue, Aldevaro.”


****


Hari-hari yang terasa begitu rumit, mendadak semakin rumit kala berbagai pemikiran yang seolah tidak ada habisnya, terus menggerayangi isi kepala. Gerald lagi-lagi menghela napas disela aktivitasnya yang tengah merebahkan diri di atas salah satu bangku panjang kantin yang selalu menjadi tempat pelariannya ketika berada di sekolah.


Sepasang netranya tampak terpejam, dengan kedua tangan yang ia taruh di belakang kepala sebagai bantal. Kedua kakinya pun tampak ia tekuk agar postur tubuhnya yang tinggi dapat muat di atas bangku panjang itu.


Tanpa Gerald sadari, beberapa laki-laki seangkatannya mulai mengerubungi. Berbagai bisikan bahkan ungkapan caci maki yang terdengar cukup lantang pun turut terdengar. Namun, Gerald berusaha untuk tidak peduli, meski ia sendiri pun dapat dengan jelas mendengarnya.


“Woi! Gue tahu lo gak tidur, sialan!” Sahutan kasar diiringi salah satu kakinya yang menendang meja dekat Gerald, membuat sang empunya yang berusaha untuk tetap tidak peduli pun urung. Sepasang bola matanya yang terpejam perlahan mulai terbuka.


Dengan malas, Gerald mulai mengubah posisinya menjadi terduduk sambil menyandar pada tembok. Di detik yang sama, Gerald melayangkan tatapan matanya pada tiga orang laki-laki yang begitu angkuh, seolah lupa, siapa Gerald di sekolah ini.


“Lo nyahut gue?” Dengan tampang watadosnya, Gerald menunjuk dirinya sendiri, seraya melipat kedua kakinya dengan sengaja.


Erwin, pemuda yang telah dengan berani mengganggu kedamaian Gerald pun berdecak. Kedua lengan yang semula menjuntai ke bawah pun mulai ia lipat di depan dada.


“Sombong banget lo, ya! Emangnya selain lo yang autis, siapa lagi yang bakal nempatin bangku jelek di kantin ini? Cuman lo, yak gak?” Erwin tertawa terbahak-bahak di akhir kalimat yang baru saja ia lontarkan. Tak ayal, kedua temannya pun ikut tertawa, tanpa tahu hal apa yang akan terjadi setelahnya.


Gerald terkekeh misterius, membuat Erwin dan dua orang temannya dibuat tanda tanya. Ketika Gerald mulai bangkit dan menegakkan postur tubuhnya, disitulah Erwin dan dua orang temannya terlonjak, sampai tanpa sadar memundurkan langkah kakinya.


“Kenapa? Gue baru aja bangun, dan reaksi lo semua udah kayak gini? Takut lo sama gue?” Gerald tersenyum mengejek, membuat Erwin dan kedua temannya dibuat kesal setengah mati.


Walau tak dapat mereka pungkiri jika pengaruh Gerald barusan memang terlalu mengerikan. Tatapan dingin serta gerak-gerik tenangnya mengingatkan mereka pada sesosok pemeran antagonis yang sering mereka tonton dalam tayangan film. Namun, walaupun demikian, hal tersebut tak menyurutkan niat mereka, khususnya Erwin yang datang untuk balas dendam pada Gerald, atas apa yang pernah laki-laki itu perbuat padanya.


Erwin menghempas tangannya, kemudian maju beberapa langkah ke hadapan Gerald yang masih menatapnya sama. “Siapa yang takut sama lo? Kalau gue takut, dari awal gue gak akan dateng ke sini, ke hadapan siswa biang onar kayak lo!” Ucapan lantang Erwin, sedikit membuat Gerald tidak suka.


Baginya, orang lemah seperti Erwin ini tidak berhak berkata demikian padanya. Jika nanti ia beri pelajaran, takutnya nyali cowok itu langsung ambyar, dan berakhir Gerald-lah yang dituding bersalah.


“Mau ngapain lo nyamperin gue? Balas dendam? Cih, lo gak akan mampu. Mending sekarang lo sama antek-antek lo balik, jangan ganggu gue, sebelum gue yang bakal habisin lo semua!”


“Hajar, Win! Gue tahu lo mampu, kok!”


“Iya, Win! Orang kayak si autis ini udah lo sikat aja, gak usah takut!”


Kedua laki-laki di samping Erwin itu seolah sengaja mengompori. Sialnya, Gerald terpancing. “Lo kalau ngomong biasa aja! Gak usah ngatain gue autis segala? Lo tahu apa soal autis, hah?” Dengan emosi yang mulai terkumpul di puncak, Gerald melangkah perlahan ke hadapan tiga laki-laki itu. Tak lupa pula untuk menendang apa pun yang berani menghalangi jalannya, termasuk meja kantin.


Kedua teman dari Erwin itu sudah mundur beberapa langkah akibat keberanian mereka yang entah sejak kapan mulai melebur. Tidak dengan Erwin sendiri yang masih setia di tempatnya, seolah benar-benar telah terhasut oleh omongan kedua temannya.


“Kenapa sensi gitu sih, Ger? Lo ada masalah? Oh, iya! Denger-denger, adek lo yang udah mati itu juga autis, ya? Sekarang gimana kabar-”


Bugh!


Bogeman mentah dari Gerald, seketika menghentikan ucapan Erwin yang belum sepenuhnya ia lontarkan. Semua siswa yang berada di kantin yang tadinya pura-pura jengah, mendadak heboh dan berlari mengerubungi untuk melihat apa yang tengah terjadi.


Ketika mata kepala mereka menemukan Erwin, siswa kelas 12 IPS 3, tergeletak di tanah bersama dengan kedua temannya yang tengah membantu memapahnya berdiri, dari sanalah gosip-gosip seputar Gerald kembali mencuat.


“Ihh! Gue kira si Gerald udah berubah, ternyata masih aja suka berantem. Padahal ini ‘kan masih di sekolah?”


“Iya, ihh! Gak punya rasa takut banget,”


“Keknya si Gerald kepancing, deh! Tadi gue agak denger dikit pas lagi pembicaraan mereka!”


“Emang bener-bener dah si Erwin! Jangankan si Gerald, gue aja gak suka sama tuh cowok! Sok jagoan, huh! Mendingan juga si Gerald ke mana-mana!”


“Gue juga! Walaupun si Gerald biang onar, asal lo gak bikin ulah aja sama tuh cowok, hidup lo bakalan aman, gue jamin,”


Erwin mendadak kesal setengah mati setelah mendengar komentar demi komentar para siswa dan siswi yang tengah berdiri mengerubunginya dan Gerald.


Bisa-bisanya mereka malah berakhir membela Gerald! Di sini ‘kan, yang korban adalah Erwin, bukan Gerald!


Dengan perasaan kesal dan marah yang telah menggunung, Erwin menepis kasar tangan kedua temannya, seraya melangkah gontai ke hadapan Gerald yang masih memasang raut wajah sama.


“Sialan lo, Ger! Gue akan-”

__ADS_1


Bugh!


Lagi-lagi ucapan Erwin harus menggantung di tengah-tengah, saat Gerald yang kelewat cekatan, kembali memberikan bogeman mentahnya tepat di rahang sebelah kiri Erwin.


Tak sampai di sana, Gerald bahkan memukuli Erwin dengan membabi buta. Kepalan tangannya yang kasar seolah terus memberikan bogeman mentahnya pada Erwin yang mulai terkulai lemah di tanah, tanpa ada seorang pun yang mau membantunya. Termasuk kedua temannya yang telah turut mengompori.


“Ger, udah!” Sahutan lantang diiringi derap langkah cepat, seketika menghentikan Gerald. Belum sempat ia menoleh, tangan seseorang mencengkram kuat lengannya yang berada di udara, hendak kembali melayangkan bogemannya pada Erwin.


“Ger, gue mohon! Udah, ya? Lo bisa di DO!” Diandra, dengan tampang memelas meminta pada Gerald untuk segera menghentikan aksi gilanya. Sialnya, Gerald sudah sangat termakan omongan Erwin. Dengan kasar, Gerald menepis tangan Diandra, dan hendak kembali melayangkan bogemannya pada Erwin.


Namun, belum sempat Gerald benar-benar melayangkan kepalan tangannya, lagi-lagi lengannya ditahan oleh seseorang, namun bukan Diandra. Melainkan, Daniel.


“Udah, Ger! Lo mau mukulin dia sampe gimana? Sampe mati, iya!” Pekikan lantang Daniel membuat Gerald berdecak, sehingga berakhir mengurungkan niatnya untuk kembali memukuli Erwin.


Cowok itu menendang meja dan bangku yang berani menghalangi pandangannya. Tatapan matanya tampak mengkilat, terlihat sangat jelas jika dirinya tengah menahan suatu amarah yang tengah mati-matian ia pendam.


“Bawa temen lo pergi dari hadapan gue! Kalau enggak, gue akan lakuin hal yang sama ke lo berdua kayak temen lo yang bermulut sampah ini,” Gerald menunjuk kedua teman Erwin yang tampak gemetaran di tempatnya. Tanpa berbasa-basi lagi, mereka berdua mulai membopong tubuh Erwin yang terkulai hampir tak sadarkan diri.


Sebelum mereka benar-benar pergi dari sana, suara Gerald yang rendah kembali menginterupsi. Membuat langkah mereka spontan terhenti beberapa saat.


“Bilang sama temen lo! Punya mulut tuh dijaga! Kalau enggak, lo tahu akibatnya.”


****


“Zeva! Zeva! Zeva!” Sang pemilik nama yang namanya terus menerus disahuti pun mulai menolehkan kepalanya ke belakang. Mendapati Joy dan juga Gabriel berlari ke arahnya, spontan Zeva bangkit bersama dengan Aldevaro yang masih setia berada di sampingnya.


“Ya ampun, Zevaaa! Gue cariin, ternyata lo masih mojok-”


“Huss! Sembarangan kalau ngomong! Ada apaan sih, tumben lo nyari-nyari gue?” Zeva memotong ucapan Joy, dan sang empunya hanya menyengir tanpa dosa. Tak berlangsung lama, raut wajahnya kembali serius seperti semula.


“Lo berdua udah denger belum?” Joy mulai membuka pembicaraan inti, membuat orang-orang sekitarnya dibuat bertanya-tanya.


“Denger apaan?” Sahutan itu berasal dari mulut Aldevaro. Tak dapat dipungkiri jika laki-laki itu pun mulai merasa kepo dengan pembahasan dari Joy yang baru mengatakan kalimat pembuka.


Gabriel yang sedari tadi diam menyimak pun berdecak sebal, melihat Joy dengan usilnya malah tersenyum tidak jelas, bukannya langsung membeberkan.


“Ck, kelamaan! Si Gerald berantem di kantin, dan sekarang dia dibawa ke ruang BK!”


“Apa? Dia berantem?”


“Sama siapa?”


“Erwin. Anaknya wakil kepala sekolah.”


****


“Jadi … apa yang sebenarnya terjadi?” Pak Regartha, sang guru BK yang terkenal garang level 50, memijit pelan pelipisnya yang terasa berdenyut ngilu.


Tak berapa lama, tatapan matanya kemudian jatuh pada wajah babak belur milik Erwin, dan dilanjut pada raut wajah Gerald yang tidak memiliki rona cacat sedikit pun.


Pak Regartha lagi-lagi mengembuskan napas berat di meja kebesarannya. “Saya sudah pernah bilang ‘kan, kalau ini yang terakhir buat kamu, Gerald?” Tatapan Pak Regartha kembali tertuju pada Gerald. Walau tatapan yang beliau berikan terlihat begitu mengerikan, namun bagi Gerald, hal itu tidak ada apa-apanya.


Gerald berdecih pelan di kursi khusus siswa yang posisinya bersebelahan dengan Erwin yang tengah tersenyum mengejek. Bisa dibilang, balas dendam Erwin terhitung berhasil. Karena niatnya adalah, membuat Gerald memukulinya tanpa ada sedikit pun perlawanan, sehingga dapat dengan mudah Gerald akan dikeluarkan dari sekolah.


Hanya tinggal menunggu guru BK dan kepala sekolah menindak lanjuti, maka Gerald akan tamat.


“Sesuai dengan perjanjian kita waktu itu. Jika kamu kembali berulah di sekolah ini, Saya sebagai Guru Bimbingan Konseling, atas izin dari kepala sekolah sebelumnya, Saya akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini!”


“Mantap.” Erwin menggerutu pelan, dan sialnya Gerald mendengarnya.


Saat Gerald bangkit dari tempat duduknya hendak kembali memberikan pelajaran pada Erwin, pintu ruang BK terbuka. Tampaklah sesosok pemuda berseragam sama, berjalan masuk tanpa sedikit pun meminta izin terlebih dahulu.


“Heh, Daniel! Siapa yang menyuruh kamu untuk masuk, hah? Keluar dari ruangan Saya!”


“Maaf untuk sebelumnya, Pak! Tapi di sini, Bapak gak bisa asal memberikan hukuman berat pada Gerald begitu saja,” Daniel membuka suara, selepas tubuhnya telah benar-benar berhadapan dengan Pak Regartha, serta Gerald dan Erwin.


“Gak usah sok peduli lo, Niel! Emang lo siapa? Mending sekarang lo keluar, gak usah ikut campur masalah gue!” Gerald berjalan maju menghampiri Daniel. Salah satu tangannya dengan kasar mendorong bahu Daniel, padahal laki-laki itu berniat baik pada Gerald, mantan sahabat baiknya.


“Udah, lo diem! Gue lakuin ini bukan cuman demi lo! Tapi demi Gisha juga, adek lo yang udah lama meninggal.”


To be continue…

__ADS_1


__ADS_2