Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
44. Perjalanan Menuju Akhir


__ADS_3

"Yah ... gak jadi surprise, deh. Ulang deh, ulang! Ekhem. Zeva! Will you marry me?"


Zeva spontan membekap mulutnya, saat Aldevaro berucap kalimat sakral diiringi dengan sebuah cincin yang ditampakkan nyata di dalam sebuah kotak.


Ada sedikit perasaan haru dan bahagia yang bersarang di dada, kala dengan tulus dan serius, Aldevaro melamarnya dengan cara tak biasa. Seulas senyuman bahagia diiringi semburat merah muda di kedua pipi menghiasi wajah Zeva.


"Ini ... beneran?" Zeva bertanya spontan, refleks Aldevaro menepuk jidatnya sendiri.


"Kamu nanyea?"


"Ihh, kok gitu!" Sontak Zeva memberengut kesal di tempatnya. Sepasang netra yang semula menatap penuh harap pada Aldevaro, mulai menatap asal ke samping. Sesekali, Zeva akan merutuki Aldevaro yang bisa-bisanya sikap menyebalkannya kumat disaat-saat seperti ini.


Terjadi sebuah keheningan beberapa saat di antara mereka. Aldevaro yang sedari tadi hingga kini fokusnya masih tertuju pada Zeva, perlahan meraih salah satu tangan gadis itu untuk dikecupnya punggung tangannya singkat.


Dan, ya. Hal itu berhasil membuat Zeva tersentak, sehingga perhatiannya kembali pada Aldevaro yang masih menggenggam tangannya.


"Aku tanya sekali lagi. Zeva mau nggak, nikah sama Varo?"


Zeva terkekeh geli seraya menarik tangannya yang masih berada di denggaman Aldevaro. Tawanya langsung tercetak sedari Aldevaro yang berucap tak biasa. "Geli, ihhh!"


"Eh, buseettt! Serba salah mulu gue perasaan! Terus maunya kayak gimana, Yang?"


Pasrah. Rasa-rasanya, Aldevaro sudah kehilangan kata-kata serta rayuan untuk membujuk gadisnya. Segala kalimat dari mulai pengungkapan menggunakan Bahasa Inggris agar terdengar keren, lalu menggunakan kalimat gemoy yang memanggil serta nama mereka, tak sedikit pun membuat Zeva membalas 'yes, I will' atau paling tidak 'iya, Aku mau nikah sama Kamu'.


Kini, giliran Aldevaro yang memberengut di tempatnya. Raut wajahnya tampak kusut dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada. Perhatian sepasang netranya ikut beralih menatap langit sore yang perlahan kehilangan jati dirinya, dan memudar membentuk sebuah langit malam.


Perlahan, Zeva mengambil alih kotak cincin berwarna biru beludru yang berada di tangan Aldevaro. Saat Zeva hendak membuka kotak itu sendirian, tangan Aldevaro mencegahnya. Membuat kotak cincin itu lagi-lagi berada di tangannya.


"Aku pakein." Tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi, Aldevaro mulai memasangkan cincin berinisial huruf Z dan A yang tergabung menjadi sebuah monokrom berukuran kecil, ke salah satu jemari tangan Zeva.


"Bagus, gak?" Aldevaro bertanya halus, selepas ia telah sepenuhnya memasangkan cincin di jemari tangan Zeva.


Di tempatnya, Zeva seolah dibuat tersipu dengan tampilan elegan dari cincin yang baru Aldevaro pakaikan padanya.


Satu kata yang mampu mendeskripsikan cincin itu. Cantik. Ukiran huruf Z dan A-nya tampak begitu elegan, dan Zeva menyukainya.


"Bagus banget,"


"Suka?"


"Hm. Makasih." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Zeva lantas memeluk Aldevaro dengan perasaan bahagia yang tak terelakkan. Senyuman hangat nan manis seolah belum tampak luntur dari wajah Zeva, pun dengan Aldevaro yang diam-diam mengulum senyumannya di sela-sela pelukan mereka.


"Jadi jawabannya udah fix, ya?" Bisikan dari Aldevaro, sedikit menyentak Zeva. Refleks gadis itu melonggarkan pelukan mereka hingga terurai.


"Ekhem. I-iyalah! Kalau enggak, ngapain juga Aku pake cincinnya?" Zeva memalingkan wajahnya ke samping, saat wajahnya terasa memanas tanpa sebab.


Aldevaro menarik napas dalam-dalam lalu menuntun Zeva kembali duduk di sebelahnya seraya saling menyandarkan kepala. Salah satu tangannya menggenggam tangan Zeva, kemudian saling menautkan jari jemari mereka dengan begitu erat.


"Jadi gak sabar pengin punya cucu," gerutu Aldevaro, dibalas delikan tajam oleh Zeva.


"Punya cucu matamu! Nikah sama punya anak aja belom, udah minta cucu."


"Sip, ngode nih." Lirikan mata Aldevaro yang tajam, membuat Zeva lagi-lagi dibuat salting brutal.


Saat berusaha melepaskan diri dari Aldevaro, jemari tangan Aldevaro yang bisa dikategorikan besar, membuat Zeva kesusahan. Sehingga berakhirlah Zeva pasrah di tempat dengan keadaan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.


"Ck, ish! Siapa juga ngode,"


"Ngode juga gak pa-pa."


****


Waktu terus berputar tiada henti, sampai tanpa disadari, hari kelulusan telah berada di depan mata. Seluruh angkatan kelas dua belas dengan pakaian formal dibalut seragam khas kelulusan dengan topi toga di kepala, tampak begitu bersemangat. Raut wajah begitu berseri seolah belum juga luntur dari wajah mereka.


Saat ini, seluruhnya telah dinyatakan lulus secara sah oleh pihak sekolah. Mereka juga telah berfoto bersama. Dan saat ini, kebanyakan tengah berfoto bersama anggota keluarga, pacar, maupun dengan para sahabat.


Berbeda halnya dengan teman-teman seangkatannya yang lain, saat ini Aldevaro dan juga Zeva tengah terburu-buru pulang ke rumah dengan alasan khusus.


Tepat di hari kelulusan, keduanya melangsungkan acara pertunangan yang digelar di rumah Zeva. Anggota keluarga Aldevaro sudah berada di sana dengan membawa barang-barang seserahan. Keduanya lantas diminta segera pulang oleh masing-masing anggota keluarga, dikarenakan takutnya waktu yang semakin terus berjalan.


Sekitar lima belas menit, keduanya sampai di depan halaman rumah Zeva yang tampak ramai. Ketika turun dari atas motor Aldevaro, ada perasaan gugup yang lagi-lagi mendominasi diri Zeva.


Untuk yang ke berapa kalinya di hari yang sama, Zeva sekiranya sudah gugup dua kali. Untuk yang pertama ketika tadi saat hari kelulusan, dan yang kedua adalah saat ini, di mana ia dan Aldevaro akan mengubah status mereka menjadi jauh lebih serius.


"Va?" Aldevaro menyentuh permukaan tangan Zeva, hingga membuat sang empunya yang masih dilanda gugup, lantas dibuat menoleh menatapnya.


Tanpa mengatakan apa-apa, seolah paham situasi, Aldevaro menggenggam tangan Zeva erat seolah memberikan kekuatan pada gadis itu agar tidak lagi gugup seperti sekarang.

__ADS_1


"Masuk, yuk!" Ajak Aldevaro, halus. Dengan menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, Zeva pun mengangguk beberapa kali setelahnya.


"Gugup banget?" Aldevaro kembali menyahut lembut, yang spontan dibalas anggukkan lagi oleh Zeva. Bedanya, kali ini anggukkan itu diiringi senyuman malu-malu yang terbit di wajahnya dihias make up.


"Sebenarnya, Aku juga gugup," Aldevaro berujar ikut mengutarakan isi hatinya. Sayangnya, ucapannya malah ditanggapi delikan tajam oleh Zeva yang merasa kurang percaya.


"Bohong!"


"Kok, bohong?"


"Gak kelihatan soalnya." Terang Zeva. Terdengar kekehan kecil dari mulut Aldevaro yang berjalan tepat di sampingnya.


"Ya, 'kan harus stay cool, Va! Depan calon mertua ini, harus kelihatan gagah."


"Idih! Masnya cari perhatian, ya?"


"Iyalah! Biar direstuin. Udah, udah. Ayo, ke dalem!" Aldevaro mulai mempercepat langkah agar segera bertemu dengan keluarganya pun calon keluarganya di masa mendatang.


Berbeda dengan Zeva, gadis itu seolah sengaja memperlambat langkahnya, masih gugup dengan perasaannya sendiri.


Merasakan posisi Zeva yang berada di belakangnya, masih dengan tangan yang terus Aldevaro genggam, Aldevaro lantas membalikkan tubuhnya menghadap Zeva sekilas. Menatap raut wajah Zeva yang tampak semakin gugup di tempatnya.


"Ayo, Va! Nanti yang lain makin nunggu!"


"I-iya, bentar! Aku tuh masih gugup tahu,"


"Ya udah, mau Aku gendong aja ke dalemnya, biar gak gugup?" Tawaran dari Aldevaro, sukses membuat Zeva lagi-lagi memasang raut wajah masam. Dengan helaan napas panjang yang turut ia embuskan.


"Itu mah yang ada makin gugup. Bisa-bisa bukan pertunangan yang dilangsungkan, tapi pernikahan!" Ketus Zeva, lalu melenggang terlebih dahulu dari dari hadapan Aldevaro yang tersenyum penuh arti.


****


"Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi kita besanan juga." Ucapan penuh haru itu diungkapkan oleh Regina, selaku ibu kandung Aldevaro. Wanita itu tak henti-hentinya terus menyeka air mata bahagia, selepas acara pertunangan putra sematawayangnya telah usai dilaksanakan.


Raya, selaku ibu kandung Zeva, turut mengangguk setuju. Ia pun tidak menyangka, bahwa putrinya yang dahulu begitu manja, sebentar lagi akan meninggalkannya dengan status yang berbeda.


"Perasaan, dulu tuh Zeva masih main bareng sama Varo di sekitaran kompleks. Eeh, tahu-tahunya sekarang udah mau jadi istrinya," ucapan Raya, refleks membuat Zeva yang berada di sekitar mereka, dibuat terbatuk beberapa kali.


Dan, ya. Hal itu ditanggapi serius oleh Aldevaro yang dengan sigap memberikan air minum pada Zeva. Sontak kedua anggota keluarga habis-habisan menggoda mereka.


"Langsung nikah ajalah, Al! Ngapain sih pake acara tunangan-tunangan segala? Kelamaan!" Sahutan menyebalkan itu berasal dari mulut Gian, adik bungsu dari papanya yang usianya bisa dibilang masih sangat muda. Sekitar dua puluh tujuh tahun, dan beliau sudah hendak didahului oleh keponakannya yang akan menikah bulan depan.


Sial.


"Waah ... Nyari gara-gara nih bocah,"


"Sabar, Gi! Gak ada yang salah sama ucapan Al, emang udah waktunya Kamu ngenalin cewek ke Papa." Hendra, sang papa pun kakek dari Aldevaro, ikut menimpali. Membuat Gian semakin terpojok oleh kata-katanya.


"Ya, nyari cewek gak semudah itu kali! Kalau gak jodoh, gimana?"


"Eeh, sttt! Kebiasaan Kamu Gian, kalau ngomong tuh gak usah diperjelas banget. Kalau jadi doa, Kamu mau?" Regina ikut nimbrung. Walau pada dasarnya Gian sudah bukan lagi adik iparnya, ia tetap harus menjalin hubungan yang harmonis agar Aldevaro tidak merasa terbebani akan perceraiannya dengan mantan suaminya, Andreas.


Andreas yang posisi duduknya berada di samping Regina, sang mantan istri, turut mengiyakan perkataannya. "Mau Kakak cariin cewek, gak?" Tawarnya, gelak tawa seolah kembali menghiasi calon keluarga besar itu.


"Kebiasaan! Gak usah, besok juga dapet."


"Dikira nyari cewek segampang itu apa? Lawak Kamu, Gi!"


Tok tok tok!


Bunyi ketokan yang berasal dari pintu depan, membuat kedua keluarga yang tadinya sibuk bercanda tawa, perlahan mulai mengalihkan atensi mereka ke arah pintu utama yang tertutup rapat.


Tak berapa lama, perhatian seluruhnya beralih pada Raya, saat bunyi ketokan pintu itu kembali terdengar.


"Ada tamu, ya, Jeng?" Sahut Regina.


Dengan perasaan yang berubah harap-harap cemas, Raya perlahan bangkit dari posisinya untuk membukakan pintu. Ia tahu betul siapa yang baru saja mengetok pintu rumahnya.


"Sebentar, ya. Zeva, ikut Mama, yuk!" Raya meraih pergelangan tangan Zeva dan membawanya sampai di ambang pintu.


Ketika Raya mulai menarik knop pintu sampai pintu tersebut berhasil terbuka sepenuhnya, dari sanalah Zeva mulai menarik diri dari genggaman sang mama. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca dengan perhatian fokus menghadap sosok pria yang tak lain ialah papa kandungnya, Samudera.


Perlahan namun pasti, Raya kembali menarik pergelangan tangan Zeva sampai tiba di area teras rumah. Raut wajahnya mati-matian memasang seulas senyuman, walau pada dasarnya hal yang Raya lakukan teramat menyedihkan.


Ditatapnya Zeva dan Samudera secara bergantian. Raya kemudian berdiri di tengah-tengah ayah dan anak itu yang telah berpisah sekitarnya lebih dari dua tahun.


"Sebentar lagi 'kan, Anak Kesayangan Mama mau menikah. Selagi Papa Kamu masih ada, jadi Mama memutuskan untuk menghadirkan Papa juga buat Zeva untuk menjadi wali nikah Kamu nanti. Dan untuk masa lalu, Zeva juga udah janji 'kan sama Mama? Zeva mau maafin Papa. Dan sekarang, Mama mau Kamu tepatin janji Kamu yang waktu itu." Raya membuka suara di tengah-tengah kegugupan yang melanda.

__ADS_1


Sedangkan Zeva, gadis itu masih terdiam dengan sesekali akan mencuri pandang ke arah Samudera yang tampak selalu menunduk penuh penyesalan.


"Pa!" Zeva menyahut pelan, selepas gadis itu menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan perasaan aneh yang menggebu di hatinya.


Mendengar namanya mulai dipanggil, Samudera lantas mendongakkan wajahnya. Menatap Zeva dengan tatapan penuh haru, mengingat beberapa saat lalu, Zeva kembali memanggilnya dengan sebutan papa.


"Zeva-"


"Papa minta maaf sudah menyakiti perasaan Zeva! Papa sayang sama Zeva. Papa harap, di masa depan, Kamu akan terus menjalani kehidupan bahagia bersama laki-laki pilihan Kamu. Papa merestui hubungan kalian." Samudera memotong ucapan putrinya. Tetes demi tetes air mata menerobos jatuh membasahi wajahnya yang tak lagi muda. Pun diiringi senyuman getir antara bahagia teruntuk putrinya dan luka karena telah melukai hati kecil orang yang ia kecewakan.


Tanpa berniat mengutarakan apa-apa lagi, Zeva lantas berlari memeluk Samudera. Tangisnya pecah diiringi perasaan penuh kerinduan yang jujur saja ia rasakan selama ini.


"Zeva minta maaf! Zeva udah egois."


"Zeva gak perlu minta maaf. Zeva gak egois. Papa yang harusnya minta maaf. Papa yang salah, Papa sangat menyesal sudah melukai perasaan putri kesayangan Papa. Beribu-ribu kali permohonan maaf saja rasanya tidak berarti apa-apa."


Cukup lama keduanya saling melempar kerinduan melalui pelukan ayah dan anak, pelukan tersebut diharuskan terurai saat tangan halus milik seseorang menyentuh salah satu bahu Zeva.


Ketika menoleh, mamanya yang cantik, tersenyum getir menahan tangis. Air mata tampak menggenang di kedua bola matanya. Sebisa mungkin Raya menahannya untuk tidak menjatuhkan satu tetes pun air matanya.


"Nah, karena sudah saling memaafkan, lebih baik sekarang kita masuk. Kebetulan kita masih belum melakukan acara makan-makan. Dan kita juga masih membicarakan soal persiapan hari pernikahan Kamu sama Al bulan depan. Jadi, kita masuk ke dalam, ya?" Ucapan lembut itu sukses membuat Zeva maupun Samudera terkekeh pelan.


Tanpa diduga-duga, Zeva menggandeng manja Samudera dan memeluk lengan kekar itu yang begitu ia rindukan.


"Zeva mau makan disuapin sama Papa." Ucap Zeva tiba-tiba. Spontan hal itu mengundang seulas senyuman bahagia di wajah Samudera.


"Iya, Papa suapin. Anak Papa masih manja rupanya. Bukannya bulan depan udah mau jadi istri orang? Masa masih kayak anak kecil?"


"Bodo amat! Zeva mau disuapin Papa!" Kukuh Zeva, raut wajahnya tampak memberengut, dan hal itu sukses membuat Raya maupun Samudera tidak tahan untuk tertawa.


"Ya sudah."


"Ayo, masuk!"


****


1 bulan kemudian ...


"Pa, Aku udah ganteng belum?" Sedari beberapa menit duduk di atas kursi yang dikhususkan untuk mempelai pengantin mengucap ijab qabul, Aldevaro tak henti-hentinya terus bertanya demikian pada papanya yang posisinya cukup berdekatan dengan dirinya.


Lagi-lagi Andreas menghela napas panjang mendengar pertanyaan sama yang terus menerus dilontarkan oleh Aldevaro.


"Anak Papa gak pernah gak ganteng! Udah, pede dong!"


"Aduh, Pa! Nanti pas pengucapannya Aku takut salah! Kalau salah, jangan diledekin, ya?" Ucapan dari Aldevaro, sanggup membuat Andreas tepok jidat.


Putranya yang senantiasa bersikap tenang ini ternyata ada masanya akan terlihat gugup seperti hari ini.


"Ya elah, Al! Udah, fokus makanya. Nih, minum dulu!" Andreas menyerahkan sebotol air minum ke tangan Aldevaro, yang langsung diterima tanpa ba-bi-bu.


Beberapa menit berlalu, suasana yang terasa tegang mendadak riuh dengan sahutan demi sahutan dari beberapa teman-teman Aldevaro maupun Zeva yang turut hadir untuk menyaksikan acara sakral itu.


Terlanjur penasaran, Aldevaro mengedarkan perhatiannya ke arah Chiko yang berada cukup jauh dari jangkauannya.


Lewat tatapan mata, Aldevaro mengode seolah bertanya, 'ada apa'. Langsung paham, Chiko pun membalas rasa keingintahuan Aldevaro lewat lirikan mata yang mengarah ke titik tertentu. Sontak Aldevaro pun mengalihkan perhatiannya ke arah mana Chiko menunjuknya lewat lirikan mata.


Dan, ya. Sepasang bola matanya sontak membulat hampir sempurna dengan degup jantung yang kian berirama, saat dengan anggun nan cantik, Zeva berjalan ke arahnya dengan didampingi kedua orangtua.


"Cie ... Kiw kiw!"


"Malem ini jadi kayaknya,"


"Jadilah, masa enggak!"


Berbagai sahutan nakal dari Chiko, William dan Theo, seolah langsung menyadarkan Aldevaro dari apa yang membuatnya diam tak berkutik.


Sial. Zeva terlalu cantik dan manglingi dengan balutan kebaya putih serta mahkota siger sunda yang terpasang di kepalanya. Tak hanya itu, polesan make up yang dikenakan pun tampak membuatnya terlihat begitu dewasa namun tidak membuatnya tampak tua.


Oh, iya. Karena Zeva murni orang asli Bandung, jadilah resepsi kali ini menggunakan adat Sunda.


Sempat terjadi adegan saling pandang, Aldevaro berdeham pelan seraya mencoba membenarkan letak dasi yang menggantung di kerah kemejanya yang dibalut dengan jas berwarna senada.


"Bagaimana? Sudah siap?" Pertanyaan tersebut berasal dari sang penghulu yang akan membantu melancarkan prosesi akad pernikahan.


Lagi-lagi Aldevaro berdeham pelan untuk menghilangkan kegugupannya.


"Si-siap."

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2