
Zeva menghela napas dalam, ketika setibanya ia di depan halaman rumahnya. Ketika hendak berbalik, Zeva menemukan sebuah mobil asing yang baru ia sadari terparkir di samping halaman rumahnya. Sontak Zeva mengerutkan kening. Tatapan matanya pun kemudian beralih pada pintu utama rumahnya yang sedikit terbuka.
“Mama udah pulang? Tumben?” Zeva menggerutu, disela langkah kakinya yang perlahan ia seret sampai ke ujung pintu.
Ketika tangannya mulai menarik knop pintu dan membukanya lebar-lebar, saat itu juga, perasaan terkejut dan kalut seolah berkumpul menjadi satu. Amarah yang selama ini terus ia simpan seorang diri, lagi-lagi meluap tanpa ia minta.
“Kamu! Mau apa di rumah Saya? Ma! Mama!” Kepalan di kedua tangan Zeva mulai mengepal kuat, sampai rasanya ingin sekali memukul orang.
Mendengar suara teriakan Zeva yang memanggil namanya, Raya yang pada saat itu tengah berada di dapur pun berlari ke ruang tengah untuk menghampiri putrinya.
“Iya, Sayang! Kenapa?” Raya menatap waswas raut wajah tak bersahabat putrinya yang terus menerus ia layangkan pada seorang pria paruh baya yang tak lain ialah ayah kandungnya.
Perlahan, perhatian Zeva kemudian beralih menatap Raya dengan sorot kecewa. “Kenapa? Mama ngapain nerima tamu kayak dia? Gak takut jadi omongan warga kalau Mama masukkin mantan suami ke rumah sendiri?”
“Zeva! Dengerin Mama! Dia Papa kamu-”
“Apa? Papa? Sejak kapan dia mau jadi papanya Zeva? Dia bahkan ninggalin Zeva disaat waktu itu Zeva nanya sama dia, dia mau pilih kita, atau pelakor itu! Mama sendiri juga tahu ‘kan, waktu itu dia jawab apa? Dia bilang, dia mau pergi sama pelakor itu! Terus sekarang apa!? Dia dateng ke sini setelah gak pernah ngasih kabar selama dua tahun untuk menebus semua kesalahannya, begitu?” Raya dibuat terdiam tak dapat berkutik oleh semua rentetan amarah yang diluapkan oleh putrinya. Begitupula dengan Samudera, selaku papa kandung yang merasa dirinya benar-benar sudah tidak dianggap oleh Zeva.
Sakit sekali rasanya. Tetapi, ia sadar diri, bahwa di sini, Zeva dan Raya-lah yang paling tersakiti.
“Pokoknya, Zeva gak mau tahu! Dia harus keluar dari rumah ini, sekarang!” Bentak Zeva. Untuk yang pertama kalinya, gadis itu memberontak seperti hari ini.
Tampak di tempatnya Raya dibuat kelimpungan akan perkataan Zeva. Saat ia hendak kembali menenangkan, suara dari mulut Zeva lagi-lagi terlontar, membuatnya semakin dilema.
“Kalau masih gak mau, fine! Zeva yang keluar!” Setelahnya, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Zeva berlari meninggalkan Raya beserta Samudera yang terus menerus berteriak meneriakkan namanya.
Sayang, langkah Zeva yang gontai tidak berhasil mereka kejar. Sehingga yang terjadi selanjutnya adalah, Raya menangis terperosot ke tanah, sementara Samudera yang frustasi, terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
****
“Awhh!” Zeva meringis sakit, saat bahunya diserempet oleh tubuh seseorang yang berlari melewatinya. Tak ada ucapan kata ‘maaf’ atau apa pun dari orang yang telah membuatnya demikian. Seolah tidak berbuat salah, orang tersebut hanya fokus pada dirinya sendiri.
Zeva lantas memelankan langkah kakinya selepas ia benar-benar telah pergi sangat jauh dari tempat tinggalnya. Pikirannya kosong, dan Zeva tidak tahu harus pergi ke mana di saat senja hampir tergantikan oleh malam.
Sial! Hatinya sakit dan perutnya lapar. Ia tidak sempat makan siang ketika di sekolah tadi, karena sibuk mengobrol sana-sini dengan anak-anak kelas lain seputar Erwin dan Gerald.
Dan kini, Zeva menyesal akan segalanya.
Langkah Zeva refleks terjeda ketika posisi gadis itu berada di depan sebuah toko hewan. Kepalanya menoleh mencoba menelisik hal apa saja yang berada di dalam sana.
Hanya ada berbagai jenis kucing di dalam sana, karena memang toko tersebut diperuntukan untuk orang-orang yang menggemari kucing. Tanpa sadar Zeva menaikkan kedua sudut bibirnya saat tidak sengaja menangkap seekor kucing yang tengah mengucap gemas di dalam. Sungguh, melihat kucing tersebut membuat Zeva teringat dengan masa lalu di mana ia pun pernah memiliki seekor anak kucing. Sayangnya, anak kucing itu harus berakhir mengenaskan akibat ada seseorang yang dengan jahil memberikannya racun.
Tiba-tiba, Zeva teringat pada Aldevaro yang sangat-sangat alergi terhadap bulu kucing. Entah ada angin apa, tiba-tiba Zeva tertawa pelan ketika kembali mengingat hal itu.
Perlahan, Zeva meraih ponselnya yang ia taruh di dalam tas. Belum sempat ia benar-benar meraihnya, seseorang dari arah lain berjalan dengan tergesa-gesa, sehingga berakhir menabrak tubuh Zeva.
Orang itu tampak terkejut dan meminta maaf walau sekilas, karena tengah mengobrol dengan seseorang di balik telepon. Zeva hanya bisa memandangnya bingung saat ini. Tersadar ponselnya tidak berada di tangannya, perhatian Zeva kemudian menjelajah ke atas trotoar.
Dan benar saja. Ponselnya sudah tergeletak di sana. Saat mengambilnya, Zeva terkejut melihat layar ponselnya yang retak tak berbentuk. Saat mencoba menyalakannya, ponsel tersebut sudah mati lebih dulu.
Sialan! Kenapa hari ini Zeva sial sekali?
“Ish! Kok, retak, sih? Mana gue lagi gak ada duit buat servis, lagi! Kenapa sih gue selalu sial? Heuhhh!!!” Zeva mengerang sebal sembari mencak-mencak di tempatnya.
Hatinya kian merasa kalut, dan entah mengapa rasa-rasanya kedua bola matanya terasa berair saat ini. Saat Zeva mengelapnya, mata yang hanya terasa berair itu berubah menjadi sebuah lelehan air mata yang terus mengalir deras tanpa ia minta.
“Iihh! Kenapa malah jadi nangis sih? Berhenti dong! Gue gak mau nangis!” Gerutu Zeva. Sayangnya, air mata yang terus ia sudutkan untuk berhenti malah menjadi semakin deras membanjiri. Isakan demi isakan pun turut keluar seolah sengaja untuk membuatnya terlihat semakin rapuh.
Dan, ya. Zeva berakhir menangis di tengah-tengah keramaian. Gadis itu berjongkok seraya menyembunyikan rona wajahnya yang memerah dan basah akibat air mata yang tak pernah mau disuruh berhenti.
Cukup lama Zeva menangis seorang diri tanpa ada seorang pun yang peduli, sebuah tepukan hangat di salah satu bahunya spontan menyentak Zeva dari apa yang tengah ia lakukan.
Didongakkannya wajahnya itu, sepasang bola matanya lantas refleks membulat sempurna saat tahu, siapa yang baru saja menyentuh bahunya.
“Zeva?”
“Ririn?”
__ADS_1
Terjadi keheningan beberapa saat, hingga setelahnya, Zeva lantas bangkit kemudian berakhir memeluk erat tubuh seorang gadis yang ia panggil Ririn itu. Begitupula dengan Ririn yang turut memeluk Zeva. Hatinya mendadak merasa tenang dapat kembali melihat Zeva setelah cukup lama mereka berpisah. Ia benar-benar rindu dengan Zeva, sahabat terbaiknya sewaktu SMP dulu.
“Ya ampun, Va! Gue kangen banget sama lo! Akhirnya perjuangan gue gak sia-sia pergi ke Jakarta buat temuin lo!”
Perlahan, Zeva melepaskan pelukan mereka. Raut wajahnya kian terlihat kacau dengan air mata yang membanjir habis seluruh wajahnya. Melihat hal itu, Ririn terkekeh pelan, seraya membantu menyeka air mata Zeva.
“Zeva-ku! Kenapa mukanya kayak gini? Lo jelek tahu kalau nangis gini! Coba, cerita sama gue, lo kenapa bisa nangis di pinggir jalan kayak gini? Drama banget perasaan,” Ririn lagi-lagi terkekeh, yang membuat Zeva mengerang di tempatnya.
“Ternyata lo masih sama kayak dulu,” gumam Zeva, membuat Ririn tertarik.
“Oh, ya? Emang, dulu gue gimana?”
“Ngeselin.” Ungkap Zeva, membuat Ririn tak bisa berhenti tertawa.
“Ekhem. Kita nyari tempat buat ngobrol, yuk! Gue yang traktir!” Ungkap Ririn tiba-tiba. Siapa yang akan menyangka jika raut wajah pilu Zeva dapat dengan cepat berganti ceria selepas mendengar ajakan dari Ririn. Dengan manja, Zeva beralih memeluk lengan sahabatnya, dan mendusel-duselkan kepalanya di lengan tersebut.
“Lo yang paling baik. Makasih, Rin.”
****
Ririn menghela napas berat seraya menaruh boba tea di samping tempat duduknya. Raut wajahnya mendadak sendu, selepas mendengar kisah demi kisah yang diceritakan secara singkat dan padat oleh Zeva, namun tetap cukup membuat orang yang mendengarnya merasa iba.
Di tempatnya, Zeva menundukkan kepala dengan sepasang bola mata yang kembali terasa berair. Ririn yang notabene sangat peka pun lantas memeluk Zeva dari samping tanpa berkata apa-apa.
“Rin!” Sahut Zeva, seraya mencoba menyeka air matanya yang lagi-lagi luruh membasahi wajahnya.
“Hm.”
“Apa … gue jahat?” Sahut Zeva lagi. Terdengar dengusan pelan dari mulut Ririn yang membuat Zeva kian insecure dengan jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Ririn selanjutnya.
“Gue rasa, itu sebanding.”
“Sebanding?”
“Iya! Kalau gue ada di posisi lo, gue bakalan kabur ke luar kota! Enak aja Tante Raya menjamu mantan suami yang udah dengan jahatnya selingkuhin dia? Mana sampe belain segala, lagi,” terang Ririn, menggebu-gebu. Tanpa sadar membuat Zeva tersenyum tipis dibuatnya.
Zeva tertegun mendengar penuturan tak terduga dari Ririn. Omong-omong, bisa dibilang Ririn ini sama seperti dirinya. Korban anak broken home. Bedanya, di keluarga Ririn, yang berkhianat adalah ibunya. Ibunya dengan tega meninggalkan Ririn ketika masih berusia lima tahun demi bisa menikah lagi dengan seorang pria kaya raya. Pada waktu itu, ayah Ririn tengah sakit-sakitan.
Terdengar kembali helaan napas dari mulut Ririn yang membuat Zeva tertarik untuk menoleh. Sebuah senyuman tipis penuh luka dengan sepasang bola matanya yang berkaca-kaca, membuat Zeva tidak tega sudah membuka luka lama Ririn.
“Maaf!” Zeva bergumam pelan, seraya memeluk Ririn semakin erat. Begitupula dengan Ririn yang balas memeluk tubuh Zeva yang terasa begitu tipis, tidak seperti ketika gadis itu masih berada di bangku SMP.
“Btw, Va! Kok, badan lo kecil banget sih? Padahal lo tinggi!” Ririn melonggarkan pelukan mereka hingga terlepas. Perhatiannya pun lantas beralih pada raut wajah Zeva yang tampak kebingungan atas pernyataan darinya.
“Serius? 162 tinggi?” Raut kebingungan itu mendadak berganti berseri. Dan Ririn menyadarinya.
“Tinggi, kalau dibandingin sama tinggi badan gue yang gak nyampe 160,” gerutu Ririn, terdengar malas. Spontan Zeva terkekeh pelan. “Ekhem, tapi kalau dibandingin sama si Aldevaro yang tingginya gak ngotak, elo pendek, sih,” tutur Ririn, membuat Zeva refleks menghentikan kekehannya dan berganti raut menjadi cemberut.
“Iiihhh! Dasar body shaming!”
“Emang iya, kok! Btw, lo masih sama si Aldevaro? Terakhir lo kirimin foto kalian berdua tuh kalau gak salah … dua tahun yang lalu!” Ririn mulai mengganti topik pembicaraan, berharap Zeva mau kembali terbuka padanya seperti dulu.
Zeva menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia benar-benar akan bercerita penuh pada Ririn. “Em, masih! Baru balikan kemaren,”
“Oh, ya? Gue bilang apa, cinta lama belom kelar tuh endingnya pasti bersatu lagi! Huhh, rasain!”
“Kok, rasain? Kasih ucapan selamat, kek,”
“Ooh, mau dikasih ucapan selamat?” Ririn menatap Zeva penuh selidik. Zeva yang otaknya mendadak berpikir lugas pun refleks mengangguk menanggapi.
“Ya udah, bawa cowok lo ke hadapan gue! Tar gue kasih ucapan selamat diiringi kado spesial buat lo berdua!”
“Serius? Kenapa tiba-tiba?” Tanya Zeva, masih belum menerka apa yang akan dilakukan Ririn selanjutnya.
“Mau, enggak?” Tanya Ririn lagi. Tanpa berpikir panjang, Zeva lagi-lagi mengangguk membalas pertanyaan Ririn.
“Ya udah. Terus, sekarang lo mau gimana?” Ririn yang lagi-lagi dengan cepat mengganti topik pembicaraan, membuat Zeva yang brlun sepenuhnya mencerna topik sebelumnya, hanya mengerutkan kening tanda kurang paham.
__ADS_1
“Gimana, apanya?”
Ririn menghela napas panjang, seraya meraih boba tea miliknya, dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Setelahnya, perhatiannya kembali pada Zeva. “Lo mau pulang, apa gue tinggal? Gue anak kost sekarang. Kostan gue sempit. Atau, mau gue teleponin Ayang lo aja kali, ya?” Usulan Ririn membuat Zeva spontan mencebikkan bibirnya.
“Ck, ‘kan layar hp-nya retak! Gak bisa dipake,” sungut Zeva, sembari memperlihatkan layar ponselnya yang retak tak berbentuk.
“Pake nomor gue! Gak mungkin lo gak tahu nomor hp cowok lo sendiri!” Ririn mentap tajam manik mata Zeva. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh sarkas yang diakhiri dengan merotasikan kedua bola matanya.
“Tahu, kok!”
“Ya udah, nih! Telepon suruh jemput.” Ririn memberikan ponselnya pada Zeva yang langsung diraih tanpa sungkan.
****
Beberapa puluh menit berlalu, sebuah motor yang teramat sangat Zeva kenali, berhenti di hadapan mereka. Ketika sang pengendara motor itu mulai melepas helm, seulas senyuman merekah kemudian terbit di wajah Zeva. Tak terkecuali dengan Aldevaro yang merasa senang bukan kepalang, akibat sikap Zeva yang akhir-akhir ini jadi sering sekali mengandalkannya.
“Maaf, ngerepotin!” Ujar Zeva pelan. Siapa yang akan menyangka, jika di belakang sana, Ririn malah menertawakannya terang-terangan.
“Sok sungkan banget sih lo, Va! Gak ada salahnya kok minta bantuan sama calon suami, iya, ‘kan?” Ririn melangkah pelan menyusul Zeva yang telah lebih dulu berada di samping Aldevaro.
Aldevaro yang merasa tidak mengenal gadis yang berada di belakang Zeva pun lantas menoleh pada Zeva seraya bertanya, “Siapa?” Sesekali akan kembali mencuri pandang biasa pada Ririn.
Dengan aura positif yang seolah terus menyebar, Zeva menarik tangan Ririn agar berdiri lebih dekat dengan Aldevaro. Dengan manja, Zeva memeluk sebelah tangan Ririn. “Ririn! Sahabat dari SMP!”
“Hai!” Sapa Ririn, agak canggung memang. Tetapi, itu bukan hal besar jika sudah menyangkut soal Zeva.
“Ooh, temen waktu di SMP Putri?” Tebak Aldevaro, yang dibalas gelengan pelan oleh Zeva dan Ririn.
“Bukan! Tapi, sahabat sebelum Zeva bener-bener pindah ke Jakarta. Ya, walaupun cuma temenan 6 bulan, kita masih tetep kontekan, kok! Iya ‘kan, Va?” Ujar Ririn, yang diangguki anggukan antusias oleh Zeva.
“Iya, dong!”
Tanpa keduanya sadari, Aldevaro tersenyum tipis melihat tingkah Zeva yang terlihat jauh lebih bahagia dari biasanya. Tatapan matanya yang semakin lembut dan sikapnya yang sedikit centil, entah mengapa rasanya begitu asing namun candu diwaktu yang bersamaan.
“Oke. Mau pulang sekarang?” Tawar Aldevaro. Terlihat Ririn yang mulai berpikir seolah mewakili Zeva.
“Mending, lo bawa ke tempat lo aja dulu. Zeva lagi marahan sama Mamanya,”
“Oh, ya?”
“Ririn!” Tatapan Zeva berubah nyalang, namun hal tersebut tak membuat Ririn takut sama sekali.
“Terus, emangnya lo mau berhadapan lagi sama Bokap lo si tukang selingkuh itu? Iya?” Perkataan Ririn, membuat Aldevaro dengan spontan menatap Zeva. Terlihat raut wajah gadis itu yang berubah murung dalam sekejap mata.
“Enggak, sih. Tapi, mungkin sekarang dia udah pulang!”
“Ya udah, terserah lo! Awas kalo entar Tante Raya ceramahin lo pas sampe di rumah!”
“I-iya juga, ya, emm … gimana dong?” Terlihat raut wajah Zeva yang kian tampak murung dan lesu di tempatnya.
Walau Aldevaro tidak tahu pasti apa yang telah terjadi pada Zeva, namun, rasa-rasanya ia sudah paham akan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Ririn.
Dengan menahan berbagai gejolak di hatinya, Aldevaro meraih tangan Zeva, dan menggenggamnya erat. “Ayok, gue anter pulang! Gue yang akan ngomong sama Tante Raya.”
“Ta-tapi gue …”
“Bagus! Ini yang sedari tadi gue tunggu-tunggu. Aldevaro baik, anterin Zeva dengan selamat sampe rumah, ya! Entar gue kasih bonus, deh, kalau Zeva-nya udah bener-bener selamat sampe tujuan,” Ririn menyela panjang lebar, sehingga membuat ucapan yang hendak keluar dari mulut Zeva berakhir terpotong.
Dengan tampang sombong, Aldevaro menatap Ririn dengan penuh percaya diri, seolah apa yang baru saja ia tugaskan padanya adalah hal yang terlalu mudah. “Kecil! Lo tenang aja, gue akan mengantar calon istri gue dengan selamat sampe rumahnya.”
“Apaan sih, Var! Gak usah ikut-ikutan Ririn, deh,”
“Satu hal lagi,” Aldevaro sengaja menjeda perkataannya sejenak, sehingga tanpa sadar membuat Ririn penasaran dan menunggu kalimat apa yang akan dilontarkan oleh Aldevaro selanjutnya. “Gue akan menagih bonus yang lo janjiin barusan ke gue. Deal?”
“Deal!”
To be continue…
__ADS_1