
“Gue gak mau basa-basi. Singkirin anak buah lo, atau gue hancurin markas kalian.” Suara gelak tawa itu lantas mereda, selepas Gerald bersuara. Raut wajah para anggota geng motor itu berubah sangar dengan masing-masing dari mereka yang mulai mengerubungi Gerald.
Di tempatnya, Zeva sudah dibuat ketar-ketir. Gadis itu bergerak tak nyaman di tempatnya melihat Gerald yang sepertinya tengah dikepung oleh mereka. Ingin Zeva membantu, namun gadis itu tidak tahu harus berbuat apa.
“Bayar hutang lo, anj*ng! Mana 20 juta yang lo janjiin sama kita?” Seorang laki-laki berbadan besar dengan kepala botak, mendorong bahu Gerald sampai membuatnya mundur beberapa langkah.
“Kapan gue pernah janjiin duit 20 juta buat kalian? Perasaan taruhan kita waktu itu 10 juta. Dan lagi, lo sama geng motor rendahan lo itu curang! Lo sengaja nyelakain gue demi dapetin taruhan 10 juta itu! Dasar cemen, cuih.” Gerald meludah, membuat beberapa anggota geng motor itu hampir melabraknya, jika saja pemimpin mereka tak segera menghentikannya.
“Heh, bocah ingusan! Sebelumnya kita udah sepakat. Kalau lo menang, 10 juta dari kita buat lo. Dan kalau gue yang menang, lo bayar dua kali lipat dari harga yang kita janjiin. Masih untung kita kaliin dua! Kalau 10, lo bisa apa? Bocah ingusan yang duit aja masih minta sama bokap.”
“Ya. Perjanjian itu berlaku kalau kita sama-sama main jujur! Main curang? Sorry, itu gak berlaku. Gue gak akan ngasih sepeser pun buat lo semua. Apa yang udah lo lakuin sama gue waktu itu gak akan pernah bisa gue maafin.”
Hening. Tak ada lagi suara sahut-menyahut dari keduanya. Tak berapa lama kemudian, seseorang dengan sembrono langsung menyerang Gerald saat itu juga. Beruntung cowok itu sigap sehingga ia langsung menghindar begitu saja.
Tak sampai di situ, keduanya berakhir satu lawan satu, sampai laki-laki yang sempat menyerang Gerald itu pun kewalahan dan berakhir terkapar di jalan.
“Segitu doang kemampuan anak buah lo? Banci!” Sahut Gerald, berlagak. Seulas senyuman meremehkan lantas terbit di wajahnya.
Para anggota geng motor tersebut sudah pasti tersulut emosi mendengar perkataan meremehkan Gerald. Tanpa berbasa-basi lagi, mereka mulai menyerang Gerald secara bersamaan. Hal tersebut hampir membuat Gerald kewalahan, namun cowok itu masih mampu menjatuhkan para lawannya.
Dan lihatlah saat ini. Mereka langsung terkapar akibat serangan dari Gerald yang tak bisa dikatakan main-main untuk ukuran cowok SMA. Napas cowok itu tampak memburu dengan posisi tubuhnya yang masih berancang-ancang, bersiap jika sewaktu-waktu mereka akan kembali menyerangnya.
Satu orang laki-laki bertubuh kurus yang tak lain ialah sang ketua geng hanya terdiam seraya terkekeh di atas motor gedenya. Selang berapa lama, laki-laki itu mulai bangkit dari atas motor. Berjalan menghampiri Gerald yang tengah menatapnya dengan tatapan siap membunuh.
“Makin keren aja lo, Ger. Tujuh orang berbadan gede lo habisin secepat kilat. Emang gak ada lawan dah anakkonglomerat yang satu ini. Salut gue.” Laki-laki itu bertepuk tangan beberapa kali. Tanpa Gerald sadari, laki-laki kurus itu tengah mengkode salah satu anak buahnya yang telah siap memegang sebuah balok kayu hendak memberikan pukulan telak pada Gerald.
Saat kode yang diberikan pemimpinnya itu kembali diperlihatkan, buru-buru dia berlari ke arah Gerald dengan sebuah balok kayu berukuran cukup besar yang berada tepat di atas kepalanya.
“Gerald awas!” Teriakan Zeva menjadi penyadar Gerald. Cowok itu sedikit lengah, sehingga pukulan dari balok kayu itu mengenai dirinya. Beruntung pukulan itu tak sampai mengenai kepala bagian belakangnya, akibat Gerald yang telah lebih dulu menghindar.
“Aakh!” Zeva berteriak histeris, saat pukulan itu mengenai salah satu bahu Gerald. Cowok itu sempat mengaduh dengan posisi tubuhnya yang hampir limbung.
Kini, semua anggota geng motor itu telah kembali bangkit dan membentuk suatu formasi lengkap. Mereka tersenyum remeh kala Gerald masih belum bergerak di tempatnya. Pukulan yang diberikan salah satu anggota geng motor itu tidak main-main. Bahkan darah segar tampak menyembul dari dalam seragam putihnya.
Sepasang bola mata Zeva lantas memanas melihat adegan itu. Pandangan matanya bahkan terasa memburam akibat air matanya yang menggenang di pelupuk mata. Gadis itu kembali bergerak gelisah di tempatnya. Kedua kaki bahkan tangannya pun ikut bergetar hebat menyaksikan adegan baku hantam yang perdana ia saksikan di depan mata kepalanya sendiri.
“Gue harus gimana?” Gumam Zeva, dengan perhatian yang belum juga beralih dari Gerald yang tengah menahan sakit sembari dikerubungi para anggota geng motor.
“Gue kasih waktu seminggu buat lo lunasin hutang 20 juta itu! Waktu segitu cukup, ‘kan?”
“Anj*ng lo!” Maki Gerald. Detik berikutnya, sebuah tendangan kasar mengenai salah satu engsel lututnya, sehingga mau tak mau tubuh cowok itu dibuat berjongkok dengan sesekali mengeram menahan sakit.
“Inget, ya? Seminggu lagi gue tungguin, dan lo harus udah stand by di depan basecamp kita.” Laki-laki kurus itu menarik rambut Gerald cukup kuat, membuat kepala cowok itu dibuat mendongak menatapnya.
Gerald tidak berniat membalas. Ia hanya diam dengan tatapan menusuk menahan emosi yang tertuju pada laki-laki kurus itu. Detik berikutnya, laki-laki itu menghempaskan rambut Gerald, kemudian melenggang dari hadapan Gerald, yang disusul oleh para anak buahnya. Selepasnya, para geng motor jalanan itu mulai melajukan motor ke sebuah tempat yang selalu menjadi tempat tongkrongan mereka.
“Argh!” Gerald mengerang saat bahunya terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya. Ketika ia menoleh, seragamnya sudah hampir dipenuhi darah yang terus-menerus keluar. Dengan sangat memaksakan diri, Gerald berusaha bangkit dari posisinya.
Tanpa ia duga, Zeva berlari membantunya setelah hampir cukup lama gadis itu hanya diam dan menonton. Lengan Gerald yang menganggur Zeva raih, kemudian menaruhnya di bahunya. Melihat hal itu, tanpa sadar kedua sudut bibir Gerald terangkat membentuk sebuah kekehan kecil.
“Gue masih bisa jalan, kali.” Saat Gerald hendak melepaskan lengannya dari bahu Zeva, gadis itu menahannya. Sebuah tatapan menusuk, menyentak Gerald yang tengah menatap Zeva.
“Sekarang lo diem, dan ikutin kata gue.” Ujar Zeva, kemudian menyuruh Gerald untuk duduk di atas tepian trotoar. Cowok itu tidak menolak apalagi sampai memberontak. Dia lebih memilih diam dan menurut, seperti yang dikatakan oleh gadis itu.
“Kok, darahnya sampe ngalir gini, sih? Coba buka baju lo!” Usulan Zeva membuat Gerald spontan mendelik. Kepala cowok itu sampai menoleh ke belakang, menatap wajah Zeva yang seolah tanpa dosa selepas mengatakan kalimat keramat barusan.
“Lo gila?”
“Gue seratus persen waras. Buruan buka baju lo!” Tuntut Zeva, membuat Gerald tanpa sadar menelan ludahnya susah payah.
__ADS_1
“Maksa banget. Kenapa gak nanti malem aja, sih?” Perkataan Gerald terdengar ambigu. Zeva bahkan sempat terdiam beberapa saat untuk mencerna maksud dari perkataan cowok itu.
Tak berapa lama kemudian, Zeva mendorong pelan punggung Gerald saat paham maksud dari perkataan cowok itu barusan. “ Iihh! Gerald, lo mesum banget sih! Gue gaplok juga nih bahu lo biar tahu rasa sekalian.” Ancaman dari Zeva sedikit membuat Gerald menciut. Dengan terpaksa, cowok itu melepas satu-persatu kancing seragam sekolahnya. Setelahnya, dengan hati-hati, Gerald melepaskan seragamnya. Sesekali ia akan mendesis pelan saat bahunya tergesek kain seragamnya.
Saat tubuh bagian atas cowok itu telah sepenuhnya telanjang, seketika Zeva membungkam mulutnya saat sebuah pemandangan mengerikan terpampang di sana.
“Punggung lo … ini, bekas apa?” Zeva hampir menyentuh punggung Gerald yang menampilkan sebuah luka menghitam membentuk garis miring besar. Namun, belum sempat Zeva menyentuhnya, sahutan Gerald seketika menghentikannya.
“Lo mau cek luka di bahu gue, apa bekas luka di punggung gue?”
“Eh?! So-sorry, gue cek bahu lo sekarang.”
Hening. Tak ada lagi suara sahut-menyahut dari keduanya. Zeva yang sibuk menatap ngilu bahu Gerald, sedangkan cowok itu yang sibuk memikirkan pertanyaan Zeva yang membuatnya seketika menjatuhkan ingatannya pada kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang membuatnya membenci dirinya sendiri.
“Ger, ini kayaknya lukanya sobek gitu, deh. Kita ke rumah sakit aja, ya?” Sahutan Zeva, mengenyahkan Gerald dari lamunannya. Dengan hati-hati, cowok itu kembali memakai seragam sekolahnya yang sedikit basah akibat terkena darah.
“Gak usahlah. Tapi, gue gak bisa anterin lo pulang. Lo balik sendiri bisa?”
“Eh, terus lo? Lo pulang gimana?”
“Gue bisa nyuruh bawahan bokap buat jemput gue di sini. Sedangkan lo …”
“Ya udah, kalo gitu lo hati-hati, ya. Gue pulang duluan. Tapi, lukanya jangan lupa diobatin entar, biar gak infeksi.” Sela Zeva, kemudian tersenyum tipis di akhir kalimat yang ia ucapkan.
Tak berbasa-basi lagi, gadis itu berlari meninggalkan Gerald dengan terburu-buru, seolah jika Zeva tidak segera menjauh dari sana, maka Gerald akan mengejarnya.
Gerald lagi-lagi dibuat terkekeh hanya karena gadis bernama Zeva ini. Unik. Kata itu cocok disematkan pada Zeva, si pemilik tubuh ramping yang pesonanya mengingatkan Gerald akan seseorang.
Ya, seseorang yang teramat ia sayangi, yang sempat ia jaga sepenuh hati, namun malah berakhir meninggalkannya pergi.
“Sha, lo baik-baik aja ‘kan, di sana? Lo gak nyalahin gue ‘kan?” Gumam Gerald, yang diakhiri dengan tawa sumbang. Salah satu tangannya kemudian meraih saku celana, mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu bawahan sang papa.
“Jemput gue sekarang.”
****
Zeva terbatuk-batuk saat seseorang tiba-tiba saja duduk di bangku kantin di hadapannya. Dan dia adalah, Aldevaro. Kedatangan cowok itu yang tak mengatakan apa-apa dan langsung menempati bangku di depan Zeva membuat gadis itu terkejut sampai teredak minumannya sendiri.
Ketika menoleh pada Aldevaro, sebuah senyuman menyebalkan terpatri di wajah tampannya. “Hai!”
Zeva terkekeh miris mendengar sapaan tersebut. Ketika gadis itu hendak bangkit dan meninggalkan tempatnya, seseorang dari arah lain tiba-tiba mendudukkan dirinya di samping Zeva. Refleks Zeva membulatkan matanya saat mengetahui siapa orang tersebut.
“Gerald? Lo masuk sekolah?” Aldevaro mengernyit sebal saat Zeva memilih mengabaikannya, dan malah beralih pada Gerald yang jelas-jelas baru saja datang. Dasar pengganggu!
“Iyalah. Orang gue gak pa-pa, kok.” Gerald melirik sekilas Aldevaro yang berada di depannya. Senyum puas nan mengejek ia berikan pada sepupunya tersebut.
Di tempatnya, Adevaro sudah sangat-sangat terbakar api cemburu. Batinnya lagi-lagi menggerutu, sejak kapan mereka menjadi sedekat ini?
“Serius? Tapi kemaren lukanya kek sobek gitu perasaan. Lo beneran gak pa-pa?” Tanya Zeva, semakin membuat Gerald gencar di tempatnya, sementara Aldevaro mati-matian menutupi rasa kesalnya.
“Elaah, sobek dikit doang. Untung ada lo!” Ujar Gerald, sengaja menyunggingkan senyuman manisnya pada Zeva.
“Tapi … kok, bisa sampe sobek gitu, sih? Itu ‘kan, cuma kayu biasa.”
“Em, lo salah! Ada pakunya itu. Kerasa banget pas awal-awal kena,”
“Eugh… serius?” Tanya Zeva. Raut wajahnya tampak ngilu disertai rasa khawatir, yang membuat Aldevaro semakin ogah berlama-lama di sana.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Aldevaro lantas melenggang dari sana. Sebelum pergi, cowok itu menendang kaki meja di sebelah Gerald, membuat Gerald lagi-lagi merasa puas akan tindakannya barusan.
__ADS_1
Setelah dirasa Aldevaro telah benar-benar pergi, Gerald lantas tergelak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gila! Lo lihat barusan? Mantan lo cemburu lihat lo akrab sama gue! Haha, bahagia banget gue lihat dia kek barusan.” Terang Gerald, masih setia tergelak dengan sesekali memegangi perutnya yang terasa bergetar.
Zeva memutar bola matanya, mulai bosan dengan sikap Gerald yang kekanak-kanakkan. Ketika gadis itu hendak pergi meninggalkan Gerald, cowok itu menahan pergelangan tangannya. Refleks perhatian Zeva kembali pada cowok itu.
“Lo mau gak pacaran sama gue? Entar gue bantuin lo deh, buat manas-manasin mantan lo. Sekalian bantuin gue balas dendam sama tuh orang. Gimana?” Tawaran yang diajukan Gerald terdengar cukup menggiurkan di telinga perempuan, apalagi tampang cowok itu yang bisa dikategorikan tampan.
Namun sayang, Zeva bukanlah salah satu perempuan yang mudah tergiur oleh tawaran receh seorang Gerald. Sekalipun wajah cowok itu tampan dengan tubuhnya yang tinggi, masuk dalam kategori pria idaman Zeva, ia tidak bisa menerima cowok itu begitu saja.
“Boleh.” Jawab Zeva. Gerald sempat terdiam mendengar jawaban tak terduga itu. Jantungnya sempat berdegup kencang beberapa saat hanya karena ucapan disertai tatapan datar Zeva barusan. “In your dream!” Lanjut Zeva, kemudian melenggang dari hadapan Gerald yang dibuat terdiam beberapa saat. Selang berapa lama, cowok itu terkekeh.
****
Zeva mengangkat sebelah alisnya saat Aldevaro berdiri tepat di depan pintu kelasnya. Beruntung pada saat ini sekolah telah dibubarkan, jadi tak ada yang menyaksikan adegan di mana Aldevaro, cowok paling populer di sekolahnya, datang menghampiri Zeva di depan pintu kelas.
Saat Zeva hendak mengabaikan Aldevaro dan melenggang keluar dari dalam kelas, tangan cowok itu mencekal pergelangan tangannya, kemudian menarik paksa Zeva kembali masuk ke dalam kelas. Hal tersebut lantas membuat Zeva spontan menjerit, apalagi ketika Aldevaro mulai menyudutkannya di sudut kelas.
“Sejak kapan lo deket sama si Gerald?”
Zeva lantas menahan napasnya saat wajah Aldevaro semakin mendekat ke arahnya. Bahkan, gadis itu dapat merasakan embusan napas Adevaro yang menerpa wajahnya. Jantungnya bahkan sudah dibuat berdegup sangat kencang saat ini.
“A-apaan sih lo? Mi-minggir.” Zeva menahan dada bidang Aldevaro, saat cowok itu hendak semakin mendekatkan wajahnya pada Zeva.
Bukannya langsung menjauh, cowok itu malah diam dan lebih fokus pada sesuatu yang sedari tadi terus menjadi fokus utamanya.
Zeva menghela napas kesal saat Aldevaro masih tetap berdiam di tempatnya. Ingin Zeva mendorong kuat tubuh Aldevaro sampai membuatnya terjatuh. Sayangnya, untuk sekadar menatap cowok itu saja keberanian Zeva sudah menguap entah ke mana. Mengesalkan!
“Jauhin Gerald. Gue gak suka lo deket-deket sama dia.” Tekan Aldevaro, dengan nada suara rendahnya. Setelahnya, cowok itu sedikit menjauhkan dirinya dari Zeva.
Perlu digaris bawahi. Haya sedikit!
Mendengar perkataan Aldevaro yang terdengar seperti perintah, tanpa sadar membuat Zeva mengepalkan kedua tangannya. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, gadis itu menatap lekat-lekat Aldevaro yang hanya berjarak puluhan sentimeter saja dengannya.
“Kenapa lo ngatur-ngatur hidup gue? Terserah gue dong, gue mau deket sama siapa aja? Apa masalahnya?”
Aldevaro mengernyit tak suka dengan penuturan dari Zeva. Salah satu tangan cowok itu bahkan dengan berani menarik pinggang Zeva, agar posisi keduanya semakin berdekatan lagi.
Dan, ya. Zeva tersentak akan hal yang baru saja Aldevaro lakukan padanya. Saat dirinya hendak menjauhkan diri, Aldevaro ternyata mengeratkan pelukannya. Membuat Zeva semakin terkurung dan berakhir berada di dekapannya.
“Lo lupa? Gue masih sayang sama lo, Va! Gue mau kita kayak dulu lagi. Asal lo tahu aja, gue cemburu lihat lo akrab sama cowok lain, dan cowok lain itu tak lain adalah sepupu gue yang selalu memusuhi gue. Jujur sama gue, lo juga masih ada perasaan ‘kan, sama gue?”
“Enggak! Kata siapa gue masih ada perasaan sama lo? Lepasin gue, gak?” Zeva hampir terbuai hingga meneteskan air mata, jika saja ia tidak segera tersadar akan di mana posisinya saat ini.
Jujur, hatinya sakit saat mengatakan kalimat tersebut pada Aldevaro. Ingin dirinya berkata jujur, namun rasa-rasanya, Zeva sudah tidak berhak akan hal itu. Biarkan kisah indah yang pernah terjadi di antara mereka hanya menjadi kenangan masa lalu.
Aldevaro terdiam, mencoba mencerna setiap deretan kata yang baru saja diucapkan oleh Zeva. Sepasang bola matanya bahkan tak henti-hentinya menatap mata Zeva yang tampak selalu menghindar dari tatapannya.
Sekarang, Aldevaro tahu satu hal yang pasti dari Zeva.
Tanpa berpikir panjang, Aldevaro kembali menarik pinggang Zeva semakin mendekat, sehingga dengan spontan kepala gadis itu dibuat kembali mendongak menatapnya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan langka, Aldevaro lantas mendekatkan wajahnya pada Zeva, kemudian mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu yang sedari tadi terus-menerus mengalihkan fokusnya.
Waktu seakan berhenti sejenak saat Aldevaro dengan berani mencium Zeva di dalam kelasnya sendiri. Napas Zeva sampai tercekat lama dengan sepasang bola mata yang melebar dan jantungnya yang berdegup tak karuan.
Tak berapa lama kemudian, Aldevaro menghentikan aksinya. Perhatiannya kembali pada Zeva yang masih menegang di tempatnya. Seulas smirk lantas terbit di wajah tampan Aldevaro. Detik selanjutnya, Aldevaro kembali melanjutkan ciumannya dengan Zeva yang semakin dibuat menegang di tempatnya.
“Lo milik gue, Va! Dulu, sekarang, maupun nanti.”
__ADS_1
To be continue...