Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
26. Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Gerald mengerutkan kening mendengar sebuah pengakuan tak terduga dari salah seorang penjaga villa. Pria paruh baya yang bertugas sebagai tukang kebun itu mengatakan jika Aldevaro baru saja pulang dengan mobil mewahnya, sehingga kesempatan untuk Zeva bertemu dengan Aldevaro harus kembali tertunda.


Di tempatnya, Zeva menghela napas panjang dengan raut wajahnya yang berubah murung.


Miris. Sedari Zeva ingin bertemu dengan Aldevaro dari sejak kemarin, laki-laki itu begitu sulit untuk dijumpai. Ketika hampir memiliki kesempatan untuk bertemu, Zeva malah melewatkannya.


Sungguh menyebalkan.


“Bilangnya mau pulang ke mana kalau boleh tahu?” Seolah tak menyerah, Zeva melayangkan pertanyaan lain pada pria paruh baya itu.  Sangat besar harapannya untuk tahu di mana keberadaan Aldevaro saat ini.


“Den Aldevaro … katanya mau langsung pulang aja ke rumahnya. Begitu katanya,”


“Gitu, ya, Pak Hamzah? Kalau gitu, kita juga mau langsung pulang aja.”


“Lho, Den Gerald gak mau mampir dulu?” Pria paruh baya yang dipanggil Pak Hamzah itu melemparkan pertanyaannya pada Gerald yang tampak terburu-buru.


Sedangkan Gerald, cowok itu hanya menggeleng pelan disertai seulas senyuman tipis yang ia lemparkan pada sang tukang kebun yang bekerja di villa keluarganya.


Pak Hamzah lantas mengangguk paham. “Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, ya, Den!”


“Iya, Pak. Mari!”


****


“Beneran gak mau gue anterin ke rumahnya MANTAN LO?” Zeva berdesis pelan mendengar Gerald yang sedari mereka masih berada di sekolah, sampai di pantai, hingga sekarang mereka berada tepat di halaman rumah Zeva, cowok itu tak henti-hentinya menginisialkan nama Aldevaro dengan sebutan ‘MANTAN LO’. Dikira gak punya nama kali, ya?


“Gak usah! Udah malem, besok aja.” Ujar Zeva, sudah hendak melenggang, namun langkahnya dicegat oleh Gerald yang tiba-tiba saja menarik salah satu pergelangan tangannya.


Sontak hal itu membuat Zeva langsung berbalik dan menghentikan langkahnya, serta menatap Gerald penuh tanya. “Kenapa?"


Gerald tak langsung mengungkapkan kata-kata. Cowok itu masih terdiam dengan wajahnya yang agak menunduk. Helaan napas panjang kemudian ia embuskan, bertepatan dengan wajahnya yang ia angkat agar bersitatap dengan Zeva.


“Va!” Panggil Gerald pelan. Entah mengapa hal itu sukses membuatnya gugup setengah mati, sehingga dengan secepat kilat, Zeva menarik tangannya dari genggaman Gerald.


“Hm? Ke-kenapa?”


Seolah tersadar dengan apa yang hendak ia ucapkan, Gerald lantas memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Ia pun mendengus di saat kembali mengingat kalimat apa yang hendak ia lontarkan pada Zeva.


“Enggak jadi. Masuk sana!”


“Dih! Aneh!” Gumam Zeva. Ketika gadis itu berbalik, dari sanalah Gerald merasakan sebuah keberanian yang mengalir lewat darahnya.


Dengan tergesa-gesa, Gerald lantas turun dari atas motornya, berdiri di belakang Zeva yang belum sadar jika posisi Gerald kini tak lagi berada di atas motor.


“Gue suka sama lo!”


****


Aldevaro menghela napas gusar ketika setibanya cowok itu di pelataran halaman rumah mewahnya. Sebelum benar-benar keluar dari dalam mobil, cowok itu menyempatkan diri membuka layar lock screen di ponselnya yang menggunakan foto seorang gadis sebagai wallpaper.


Siapa lagi jika bukan Zeva-lah, gadis yang fotonya masih senantiasa Aldevaro pajang sebagai wallpaper itu? Raut wajah Aldevaro yang semula memberengut, kian bertambah murung saat bayangan di mana Zeva yang berinisiatif memeluk Gerald, terputar kembali di otaknya.


Sakit, sungguh! Rasanya seperti dadanya ini ditusuk oleh ribuan belati tajam yang menjurus langsung ke inti jantung dan hatinya. Berlebihan memang jika diibaratkan, namun, rasa sakitnya memang cukup luar biasa untuk Aldevaro yang tidak pernah terlibat dalam hal percintaan.


Sakit tapi tak berdarah.


Terlalu lama termenung, membuat Aldevaro merasa muak sendiri. Dengan langkah gontai, cowok itu keluar dari dalam mobilnya. Perasaan kalut semakin menggerogoti dada kala perasaan cinta yang masih setia bersarang, bercampur dengan rasa sakitnya.


Sore ini, Aldevaro menerima sebuah pesan singkat dari sang papa, bahwa beliau akan pulang ke rumah hari ini. Sehingga, mau tidak mau Aldevaro harus pulang ke rumah, walau dalam hati ia sebenarnya ingin menenangkan diri di apartemen.


Saat Aldevaro membuka pintu utama, sebuah pemandangan tak biasa menyambut sepasang netranya. Membuat kedua alisnya ikut berkerut dalam bertanya-tanya, akan apa yang baru saja terjadi di rumah mewah nan megah yang akhir-akhir ini telah jarang ia kunjungi.


Beberapa vas bunga berserakan beserta isinya. Lemari kaca yang dipenuhi barang-barang koleksi mahal tampak pecah dengan isi di dalamnya yang juga ikut berserakan di lantai.


Tunggu, ada apa ini?

__ADS_1


Apakah rumahnya habis kemalingan?


Tetapi, penjaga di rumah ini terbilang sangat banyak, dan tidak ada celah sedikit pun bagi pencuri menemukan titik masuk ke dalam rumah dan menghancurkan segala yang ada.


Lalu, siapa?


Pertanyaan yang masih menjadi teka-teki itu seolah langsung terpecahkan kala Aldevaro melangkah semakin masuk ke dalam. Sepasang bola mata cowok itu lantas memanas saat sebuah pemandangan yang selama ini cukup ia dengarkan dan saksikan diam-diam, kini malah terpampang nyata di depan sana.


“Mama! Papa! Ada apa ini?” Aldevaro menyahut cukup lantang bersamaan dengan kakinya yang spontan berlari menghampiri kedua orang tuanya.


Andreas dan Regina, selaku orang tua dari Aldevaro, spontan menoleh ke arah putra mereka dengan tampang penuh keterkejutan. Sepasang suami istri yang terlihat dalam kondisi yang tidak baik-baik saja itu kemudian membuang muka dari Aldevaro yang seolah meminta penjelasan lewat tatapan matanya.


“Puas kamu bikin Aldevaro melihat semua ini, hm? Kamu masih ingin menyakiti hati Aldevaro sampai mana lagi, Andreas? Belum cukup kamu, hah, IYA?”  Suara lantang dari Regina, menjadi penyadar Aldevaro. Spontan perhatian cowok itu langsung beralih pada sang mama yang tampak mengeratkan kedua kepalan tangannya.


“Kapan aku pernah menyakiti hati Aldevaro? Justru kamu, Regina! KAMU! Masih belum sadar juga kamu? Belasan tahun aku hidup sama kamu, yang kamu lakukan adalah bekerja, bekerja dan bekerja! Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan Aldevaro? Sejak kecil sampai sekarang, Aldevaro selalu menjadi pribadi yang pendiam. Dan itu semua karena kamu yang gak becus menjadi ibu,” seolah melupakan kehadiran Aldevaro, Andreas berjalan ke arah Regina, berkata lantang seraya menunjuk-nunjuk wanita yang telah menjadi istrinya selama kurang lebih sembilan belas tahun itu.


Di tempatnya, Aldevaro terdiam dengan segala amarah yang terasa kian menumpuk di dadanya. Kedua tangannya mulai terkepal kuat dengan perhatian yang seolah masih terkunci pada pemandangan di mana dengan terang-terangan, kedua orang tuanya bertengkar tepat di hadapannya.


“Aku kerja! Bukan sedang mencari dosa! Kamu bisa gak sih gak usah sok-sokan mengurusi hidup aku? Aku punya jalan hidupku sendiri! Dan aku yakin, Aldevaro gak keberatan dengan ibunya yang selalu sibuk. Karena semua yang selama ini aku lakukan, adalah untuk Aldevaro. Putraku!”


“Kamu lupa? Aku ini masih suami kamu! Untuk apa kamu menikah dengan aku jika masalah keuangan saja, kamu masih bersikeras mencari sendiri? Kamu menikah dengan aku bukan hanya dicukupi kebutuhan saja. Tapi semua! Aku tidak semiskin itu, Regina!”


“Udah, Ma, Pa! Cukup!”


“Aku tahu, kamu punya segalanya! Tapi apa yang kamu punya, tidak bisa digantikan dengan fashion aku. Pekerjaan ini, sampai kapan pun, aku gak akan bisa melepaskannya!” Sela Regina, masih kukuh dengan teguh pendiriannya.


“Pekerjaan yang kamu anggap fashion itu sudah melukai masa kecil Aldevaro! Kamu sadar gak sih, sejak kecil, Aldevaro selalu murung dan tidak pernah mau bergaul! Dan ketika ditanya oleh guru di sekolahnya, kamu tahu apa yang pernah Aldevaro katakan?”


“Pa, cukup! Aku mohon-”


“ALDEVARO RINDU SAMA MAMANYA! DIA INGIN MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA MAMANYA YANG TIDAK PERNAH ADA WAKTU UNTUK DIA! Puas kamu membuat Aldevaro menderita selama ini, hm?"


“CUKUP!” Bentakkan yang terdengar sangat nyaring itu, spontan membuat Regina maupun Andreas terdiam dengan napasnya yang sama-sama tercekat.


Andreas menunduk dalam di tempatnya, menyaksikan putra sematawayangnya menjatuhkan air mata yang selama ini tidak pernah sekalipun Aldevaro perlihatkan. Pria itu merasa sangat bersalah, sungguh! Bisa-bisanya ia hilang kendali dan meluapkan segala kemarahannya pada Regina tepat di hadapan Aldevaro.


Sedangkan Regina, wanita itu berusaha berjalan mendekat ke arah Aldevaro. Ketika ia hendak meraih tangannya, Aldevaro refleks menepisnya dengan tatapan penuh luka.


“Apa lagi setelah ini? Kailan mau cerai? Setelah drama pertengkaran yang sengaja kalian pertontonkan di depan putra kalian sendiri. Itu yang kalian mau ‘kan?” Regina dibuat membisu oleh kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Aldevaro.


Semua yang Aldevaro katakan memang itulah tujuan awalnya. Walau tidak sepenuhnya benar ketika ia dan sang suami malah berujung bertengkar hebat seperti sekarang ini. Namun, tujuan Andreas pulang ke rumah setelah berbulan-bulan lebih sibuk mengerjakan proyek di luar kota, adalah alasan bagi Regina untuk menceraikan pria yang telah cukup lama menjadi suaminya itu.


Regina tersenyum simpul dengan air mata yang tiba-tiba luruh dari pelupuk matanya. “Dari awal, Mama sama Papa itu emang gak cocok! Kami menikah karena didesak keluarga. Jadi, Mama mau minta izin sama kamu untuk satu hal. Yaitu, berpisah sama Papa kamu.”


Belum lama dadanya merasakan sakit bak ditusuk belati, kini Aldevaro harus kembali merasakan sakit, sesakit-sakitnya kala pengakuan dari sang mama yang bagaikan sebuah sambaran petir, menyambar tepat mengenai inti hatinya.


Aldevaro terkekeh miris dengan perhatian yang menjelajah ke seisi rumahnya. Air mata lagi-lagi menerjang lolos, padahal sebisa mungkin ia terus-menerus menahannya.


“Kenapa minta izin? Bukannya Mama selalu yakin, ya, kalau aku gak akan pernah keberatan dengan apa pun keputusan dan tindakan Mama? Cerai aja! Ngapain minta izin sama aku? Kalaupun aku ngelarang, Mama sama Papa tetep akan cerai ‘kan?”


Regina merasakan hatinya mencelos, selepas Aldevaro mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia kira akan terucap dari mulut putranya. Dengan langkah gontai, putra sematawayangnya itu lantas melenggang dari hadapannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.


****


“Aaargghhh! Sialan! Cerai katanya? Terserah, gue gak peduli!” Sedari meninggalkan rumah, Aldevaro langsung menjalankan mobilnya secara ugal-ugalan di jalan raya. Fokusnya tampak jengah dengan emosi yang sedari tadi masih belum juga mereda.


Sialnya lagi, air mata sialan itu kembali menerobos, padahal Aldevaro sedang tidak berniat untuk menangis. Benar-benar menyebalkan.


Di tengah-tengah keramaian jalan raya, Aldevaro mengerem mendadak mobilnya untuk meluapkan kekesalan yang tak kunjung hilang. Bunyi klakson kendaraan terdengar saling bersahutan yang berada tepat di belakang. Namun, hal itu tak membuat Aldevaro kembali menjalankan mobilnya. Yang ada, Aldevaro malah memencet klaksonnya sendiri dengan menggila. Membuat beberapa mobil dan motor yang masih setia di belakangnya meneriaki Aldevaro, sembari melengos melaluinya.


“Woi, bawa mobil tuh yang bener! Mentang-mentang mobil mahal, seenaknya aja di tengah jalan. Udah celaka mampus lo!"


“Maju, woi”


Seolah tuli Aldevaro hanya mendesah berat sembari memejamkan matanya kuat-kuat. Tak berlangsung lama, cowok itu kemudian kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi membuat pengendara di belakangnya kembali meneriakinya.

__ADS_1


Malam ini, akan menjadi malam paling memuakkan untuk Aldevaro. Ia akan pergi mencari pelampiasan atas rasa sakit yang terus-menerus ia terima. Dan, ya. Tujuan akhir dari perjalanan tak menentu ini adalah, club malam.


****


Daniel, Chiko, William dan Theo, berlari meninggalkan masing-masing kendaraan mereka untuk memasuki sebuah tempat yang sudah cukup lama mereka tinggalkan.


Raut wajah mereka tampak cemas, dengan sesekali akan mengecek satu-persatu sudut ruangan dengan pencahayaan remang-remang itu untuk mencari di mana keberadaan salah satu sahabatnya.


“Di sana!” Seruan Chiko, disambut kompak oleh ketiga sahabatnya. Mereka dengan bergegas berlari di tengah-tengah kerumunan orang-orang untuk sampai ke meja bar yang berada di paling ujung kiri.


Setibanya di sana, mereka refleks menghela napas kasar, menyaksikan Aldevaro tengah mabuk dengan sesekali meracau. Pemandangan langka memang, karena cowok itu tidak pernah sekalipun seperti ini. Untuk malam ini, Aldevaro memperlihatkan satu sisi gelapnya di hadapan para sahabatnya.


“Al! Lo mabok? Lo kalau ada masalah, jangan cari pelarian kayak gini! Untung bartender di sini kenalan sepupu gue.” Daniel mengguncang bahu Aldevaro yang tampak loyo. Sesekali, Aldevaro malah terkekeh sarkas, tanpa sedikit pun mau melirik ke arah para sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan kecewa.


“Bang, udah! Kita pulang! Lo udah teler,” ketika Theo hendak membawa Aldevaro berdiri, Aldevaro dengan spontan  menepisnya. Cowok itu dengan tanpa dosa kembali menenggak minumannya entah untuk yang keberapa gelas.


Dan, ya. Hal itu sukses membuat Daniel dan yang lain geram. Tanpa mengatakan apa-apa, William lantas meraih gelas di tangan Aldevaro, dan membuangnya sembarangan.


Aldevaro yang belum selesai menenggak minuman itu pun lantas menoleh dengan tatapan dinginnya. Membuat William tanpa sadar bergidik ngeri kala tatapan itu ditujukan padanya.


“Lo nyari gara-gara sama gue?” Saat Aldevaro hendak bangkit untuk menyerang William, saat itu juga tubuhnya langsung terhuyung, sehingga dengan refleks Chiko dan Theo menahan tubuh Aldevaro agar tidak ambruk.


Di tempatnya, Daniel lagi-lagi mendengus kesal yang kemudian diakhiri dengan berdecak. “Al! Lo kayak gini karena si Zeva ‘kan? Pantes lo, kayak gini cuman buat nangisin tuh cewek?”


Lagi-lagi Aldevaro melayangkan tatapan tajamnya, dan kali ini ditujukan untuk Daniel. Tanpa diduga-duga, Aldevaro kemudian berdiri, menarik kedua kerah jaket kulit yang dikenakan Daniel, dan membawa wajah cowok itu agar berhadapan dengannya.


“Gak usah jelek-jelekin cewek gue!”


Seolah tak merasa terintimidasi, Daniel menyingkirkan kedua tangan Aldevaro dari kerah jaketnya. Tatapannya berubah meremehkan saat Aldevaro masih saja tak bergeming di tempatnya. “Oh! Dia masih cewek lo ternyata? Gue kira … kalian udah putus?!” Perkataan Daniel sukses membuat Aldevaro tersadar dengan satu hal yang telah ia lupakan.


Aldevaro kemudian memundurkan posisinya, seraya kembali mendudukkan diri di tempat semula.


Daniel, Chiko, William dan Theo, refleks menghela napas bersamaan. “Udah dari kapan dia di sini?” Pertanyaan itu Daniel lontarkan pada sang bartender yang sedari tadi terus memerhatikan interaksi mereka berlima tanpa sedikit pun ada yang tertinggal.


“Dari jam 7. Untung hapenya gak dikunci, makanya tadi gue langsung telepon lo! Kayaknya, masalahnya gak semudah itu deh, Niel. Lo tanyain baik-baik lagi sama temen lo. Kalau bisa sih pelan-pelan aja.”


Daniel beserta teman-temannya mengangguk. “Makasih, ya, Bang udah jagain si Al! Kalau gak ada lo, gue gak tahu nasib nih anak kayak gimana,”


“Santai ajalah! Udah, sono, lo anterin temen lo pulang! Di dalem saku jaketnya ada kunci mobil. Sempet mau diambil orang tadi, untung ada gue yang lihat.” Ujar si bartender, lagi-lagi membuat Daniel tidak bisa tidak mengucapkan ucapan terima kasihnya.


“Sekali lagi makasih! Gue sama temen gue balik dulu,”


****


“Ini Bang Al mau dianterin ke rumahnya aja, apa gimana?” Sahutan William yang tengah menidurkan Aldevaro di bahunya, membuat Daniel yang tengah mengemudikan mobil Aldevaro dibuat berpikir keras.


“Bisa habis si Al kalau kita bawa ke rumahnya,” gerutu Daniel, yang juga diangguki oleh William.


“Ke apartemennya ajalah!” Ujar Daniel. William pun hanya dapat mengangguk sembari menatap kasihan pada Aldevaro yang sedari meninggalkan klub tadi, cowok itu tak henti-hentinya terus memanggil nama Zeva.


“Mampus, habis ini gue harus balik ke sono lagi! Motor kesayangan gue ditinggal sendirian, kasian amat!” Daniel menggerutu di sepanjang mengemudikan mobil Aldevaro. Sedangkan William, ia malah mendengus sebal, mengingat motor kesayangannya pun ikut ditinggal parkiran klub bersama punyanya Daniel.


Tidak dengan motornya Chiko dan Theo yang tengah mereka kemudikan tepat di belakang mobil Aldevaro. Ya, kedua cowok itu tidak berada dalam satu mobil dengan Daniel, Aldevaro dan William.


“Motor gue juga,” gumam William, diakhiri menghela napas panjang.


Cukup lama berkemudi di jalanan gelap yang cukup ramai, mereka akhirnya tiba di depan sebuah gedung apartemen. Mulai memasuki parkiran basemand, Daniel kemudian memarkirkan mobil tersebut di tempat yang biasa Aldevaro jadikan tempat parkir kendaraannya.


Bagaimana Daniel bisa mengetahui hal tersebut, karena sudah pasti, Daniel adalah sahabat dekat Aldevaro.


“Woi, lo berdua! Bantuin si Willi, gue mau bukain lift,” kalimat perintah itu Daniel lontarkan pada Chiko dan Theo yang baru saja selesai membuka helm.


Tanpa mengatakan apa pun, kedua cowok itu melaksanakan perintah dari Daniel. Membopong tubuh besar nan tinggi Aldevaro yang masih belum juga sadarkan diri.


To be continue…

__ADS_1


__ADS_2