
“Pasti. Di masa depan ‘kan, Aku bakal nikah sama Kamu. Gimana gak bahagia coba?” Aldevaro mengedipkan salah satu matanya ke arah Zeva, sontak hal itu membuat Zeva dibuat salting brutal. Wajahnya lagi-lagi memerah, dan hal itu sukses menjadi tontonan gratis untuk Raya yang perdana menyaksikan anak gadis satu-satunya dibuat salah tingkah oleh laki-laki.
“A-apaan sih? Gak jelas, deh. Siapa juga yang mau nikah sama Situ?”
“Lho, gak mau? Katanya kemarin mau, makanya sekarang Aku datengin Mama Kamu, gimana sih, Va!” Ucapan ngasal dari mulut Aldevaro sukses membuat Raya tergelak, sedangkan Zeva dibuat memaku panas di tempatnya.
“Aduhduh kalian ini! Udah mulai berani saling goda di depan Saya, ya, ternyata.” Raya berdecak kagum, sementara Aldevaro yang disindir pun hanya tersenyum malu-malu sembari memberikan kode-kode aneh pada Zeva lewat tatapan matanya.
“Ekhem. Mumpung udah mau sore, gimana kalau Kamu makan malem di sini aja, Al? Kebetulan tadi Tante beli ikan, lumayan banyak dan gede-gede gitu! Kamu suka ikan gurame ‘kan?” Raya mencoba mengganti topik agar suasana tidak terus menerus memojokan puterinya.
Dilihat-lihat, Zeva ini kasihan juga kalau wajahnya tengah memerah seperti ini. Mungkin di lain waktu Raya dapat melihat kembali raut wajah puterinya yang tersipu karena hubungannya dengan Aldevaro.
“Wahh, kebetulan banget Tante, Al suka banget sama ikan gurame. Tapi … apa enggak pa-pa, nih, Al ikut makan malam di sini? Takutnya malah ganggu lagi,”
“Kok, ganggu sih? Kamu ‘kan Calon Menantu Tante, masa ngajakin makan malam doang dibilang ganggu? Makan malam di sini, ya, Al!” Ucapan yang dilontarkan Raya membuat Aldevaro tertegun. Tak berapa lama, raut wajahnya berubah semakin ceria saat kembali mengingat sebutan apa yang Raya berikan padanya.
Calon menantu?
Ya ampun! Mimpi apa Aldevaro semalam, sampai mamanya Zeva memberikan lampu hijau padanya. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
“Ya sudah kalau Tante bilang kayak gitu. Terima kasih sebelumnya,”
“Sama-sama. Yuk, ikut Tante ke dapur! Sekalian Kamu bisa jadi penonton dadakan buat Zeva. Zeva yang masak katanya,”
“Kok, jadi Zeva? Enggak mau, ah!” Zeva yang sedari tadi terus menerus terdiam selayaknya kambing congek pun mulai bereaksi. Perasaannya mendadak dongkol saat sedari tadi, mama tercintanya ini terus saja mengobrol gembira dengan Aldevaro.
Dan sekarang. Dengan seenaknya Raya mengatakan bahwa yang memasak kali ini adalah Zeva?
Yang benar saja!
Seumur-umur, Zeva gak pernah menggoreng ikan! Selain karena takut terciprat minyak panas, ia juga tidak tahu bagaimana cara meracik bumbunya. Dan bagaimana tingkat kematangannya yang pas.
Ini Mama sebenernya mau mamerin Aku, apa mau mempermalukan Aku di hadapan Aldevaro?
“Zeva … bisa masak, Tante?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Aldevaro membuat Zeva spontan melirik tajam cowok itu. Amarahnya tiba-tiba naik saat Aldevaro bertanya demikian yang terasa seperti sedang mempertanyakan skill memasaknya.
“Apaan itu maksudnya? Kamu gak percaya sama Aku?” Zeva lantas berdiri tegap menghadap Aldevaro. Sebuah dorongan kuat yang entah berasal dari mana tiba-tiba terasa merasuk begitu saja sampai ke dalam jiwa.
“Yaah, gimana ya? Soalnya tadi Kamu bilang gak mau, jadi Aku pikir Kamu gak bisa masak.” Aldevaro ikut bangkit dan berdiri di hadapan Zeva. Tampak dari gestur tubuh dan wajah cowok itu yang seakan tengah meremehkan Zeva.
Di tempatnya, Zeva berdecih pelan dengan kepala yang menoleh sekilas. Setelahnya, Zeva berjinjit di hadapan Aldevaro dengan sebuah tatapan tajam nan mengkilat yang ia tujukan pada Aldevaro.
Sayangnya, seberusaha apa pun Zeva untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Aldevaro, ia tetap kalah.
Lihatlah raut wajah cowok itu yang tertawa meremehkan? Benar-benar menyebalkan.
“Aku buktiin sama Kamu kalau Aku bisa masak! Minggir!” Setelah berkata demikian, Zeva langsung melenggang ke dapur begitu saja. Langkah kakinya tampak sengaja dihentak-hentakan, sehingga membuat Aldevaro maupun sang mama dibuat terkekeh geli.
“Dasar usil! Kalau ikannya nanti gosong, gimana? Cuman tinggal itu doang, lho!” Raya menepuk pelan lengan Aldevaro, masih dengan kekehan geli di wajahnya.
“Lho, katanya Zeva bisa masak?” Aldevaro sempat dibuat bingung beberapa saat, hingga pada akhirnya, sentuhan lembut di bahunya membuat Aldevaro tersadar dari lamunannya.
“Gini ya, Al! Tante kasih tahu Kamu satu hal ini tentang Zeva,” Raya sengaja menjeda sejenak perkataannya.
Karena terlanjur kepo, Aldevaro hanya bisa diam dan menunggu kalimat apa lagi yang akan dilanjutkan oleh Raya padanya.
“Zeva itu orangnya nekat. Kalau Kamu tantangin bahkan sampai memprovokasi dia kayak barusan, Zeva gak akan segan-segan buat ngelakuin hal itu. Walau berbahaya sekalipun. Jadi, nanti kalau kalian udah nikah, harap hati-hati sama yang namanya ucapan. Oke?” Terang Raya. Saat itu juga, Aldevaro hanya bisa terdiam di tempatnya dengan isi pikiran tertuju pada Zeva.
Selang berapa lama, seulas senyuman tipis terbit di wajanya. “Terima kasih udah ngasih tahu Saya, Tante. Saya janji, Saya gak akan kayak gitu lagi kalau menyangkut hal-hal yang berbahaya.”
“Jadi, kalau yang menyangkut hal biasa aja?”
__ADS_1
“Em … mungkin sesekali.” Ungkap Aldevaro, refleks membuat Raya kembali terkekeh.
****
Zeva menarik napasnya dalam-dalam, ketika sepasang bola matanya ini menatap satu-persatu alat dan bahan yang akan ia gunakan untuk menggoreng beberapa ekor ikan gurame yang sebelumnya telah dibersihkan lebih awal.
Soal resep rahasia dan cara membuatnya? Tenang! Zeva menemukan buku resep di dapur, dan kebetulan di sana ada beberapa resep dan cara-cara yang benar ketika hendak memasak ikan.
“Hm … digoreng doang keknya gak spesial, deh. Kalau dibuat pedas manis … kebetulan banget Mama suka pedes. Dan Varo … kalau gak salah juga suka pedes. Paling, diturunin tingkat kepedesannya aja kali, ya,”
Dirasa persiapannya telah oke, Zeva memilih menyimpan kembali buku resep tersebut di tempat yang mudah baginya untuk melirik resep ketika ia lupa nantinya.
Setelah sebelumnya ia telah memakai celemek dan mengikat rambutnya, Zeva mulai memilah bahan apa saja yang ia butuhkan untuk menggoreng ikan. Selain bahan utamanya itu sendiri harus ada ikan gurame, Zeva juga harus menyiapkan bahan lain seperti margarin, kecap manis, dan minyak goreng.
Untuk bumbu yang akan dihaluskan sendiri terdiri dari sembilan siung bawang putih, ketumbar bubuk, kunyit dan garam secukupnya.
Dan, untuk bumbu sambal pedas manisnya sendiri terdiri dari lima belas buah cabai merah, sepuluh buah cabai rawit, dan terasi.
Tunggu! Apakah ia punya terasi?
Perhatian dan langkah Zeva beralih pada lemari penyimpanan bahan makanan yang posisinya berada di samping kiri kulkas. Saat sepasang bola matanya ini masih menjelajah mencari di mana letak terasi, tangannya pun tak lupa ikut andil untuk mencari si terasi tersebut yang entah mengapa sangat sulit untuk ditemukan.
“Ma! Terasi di mana, ya?” Menyerah dengan keadaan, Zeva akhirnya menyahut keras pada mamanya yang masih berada di ruang tengah bersama dengan Aldevaro.
“Di dalem kulkas!” Balas mamanya berteriak tak kalah nyaring. Dengan cepat Zeva berlari membuka kulkas dan kembali menjelajah mencari di mana letak terasi.
Tak butuh waktu lama, netranya menangkap sebuah kantung keresek yang terlihat diikat asal di bagian rak bagian pintu kulkas. Ketika meraih dan membukanya, indera penciumannya langsung disambut dengan aroma khas dari terasi tersebut.
“Ketemu enggak?” Sahutan keras mamanya kembali terdengar.
“Ketemu!” Balas Zeva, seraya kembali menutup pintu kulkas, kemudian melanjutkan aktivitasnya memilah bahan-bahan yang sempat tertunda beberapa saat.
“Sampe mana tadi?” Zeva mengambil buku resep tadi dan membacanya dari awal seraya menatap kembali satu-persatu bahan-bahan yang telah ia pilah tadi.
****
Aroma harum dari ikan gurame pedas manis yang telah selesai dibuat dengan penuh kesabaran dan drama, akhirnya mulai tercium sampai ke hidung sang mama pun Aldevaro yang sedari tadi terus memerhatikan gerak-gerik Zeva dari jauh.
Saat Aldevaro dan Raya masuk ke dalam dapur, aroma harum yang semakin menyeruak seolah membangkitkan rasa lapar mereka. Ditambah dengan pemandangan cantik dari ikan yang telah dimasak itu sendiri, semakin menambah rasa ingin segera mencicipi.
“Waduh … Satu jam lebih Kamu masak, akhirnya selesai juga. Gimana? Bisa, enggak?” Raya menatap kagum masakan buatan Zeva yang telah ia hidangkan di meja makan.
“Em, lumayan agak menantang pas bagian harus goreng ikannya di minyak panas, hehee,” Zeva tersenyum malu-malu mendengar pujian singkat dari mamanya. Sedangkan di sisi lain, Zeva juga dibuat malu oleh tatapan memuja dari Aldevaro yang seolah terus saja tertuju padanya.
“Kayaknya enak, nih,” Aldevaro berjalan menghampiri Zeva yang menunduk malu di tempatnya. Sedangkan Raya, wanita paruh baya itu sudah tidak tahan lagi untuk segera mencicipi masakan Zeva, sehingga yang terjadi saat ini adalah, beliau dengan terburu-buru menyiapkan nasi dan beberapa buah piring serta gelas kosong.
“Kok, kalian pada bengong? Ayok, kita makan bareng-bareng!” Sahutan Raya menjadi penyadar bagi Zeva maupun Aldevaro. Sontak kedua remaja itu saling tatap satu sama lain dengan tatapan kagum mengagumi.
“Aku … mau cuci tangan dulu,” ucap Zeva, dengan fokus tertuju pada Aldevaro yang masih setia menatapnya demikian.
“Aku juga.” Balas Aldevaro, kemudian menyeret kedua kakinya menuju wastafel yang berada tepat di belakang tubuh mereka. Diikuti dengan Zeva di belakang, keduanya lantas berakhir bersamaan mencuci tangan.
Sesekali, Aldevaro akan berlaku usil pada Zeva dengan mencipratkan tetesan air sabun pada wajahnya. Ketika Zeva hendak membalasnya, suara deheman dari Raya membuat keinginannya untuk balas dendam terurung. Sehingga berakhirlah kini keduanya duduk di kursi makan yang masis kosong dan bisa dibilang mereka duduk saling bersebelahan.
“Ayok, gak usah malu-malu! Tante beneran udah laper banget, gimana sama Kamu, Al?”
“Saya juga, lumayan agak laper sih, Tante. Tapi-” belum sempat Aldevaro melanjutkan kata-katanya, sebuah piring yang telah diisi nasi dan sepotong ikan gurame pedas manis, langsung dihidangkan tepat di depannya.
“Nih! Udah Tante siapin buat Kamu.” Tindakan dan ucapan Raya membuat Aldevaro tertegun. Hati kecilnya tanpa sadar merasa iri dengan Zeva yang selalu mendapat perlakuan demikian dari mamanya.
Sedangkan Aldevaro, ingin disiapkan nasi dan lauk oleh mamanya ketika makan saja, beliau terus enggan dengan berbagai alasan tanpa sedikit pun bisa disanggah.
__ADS_1
“Makasih, Tante.” Seulas senyuman getir namun juga memiliki perasaan haru di dalamnya lantas Aldevaro perlihatkan.
Sebelum benar-benar akan menyantap makanannya, Aldevaro berdoa terlebih dahulu, kemudian meraih air minum yang juga telah disiapkan oleh mamanya Zeva. Begitu perhatiannya wanita paruh baya itu, tanpa sedikit pun membeda-bedakan akan mana putrinya dan mana yang hanya orang lain.
Bisa dibilang, Aldevaro masih orang lain di sini. Ia belum menikah dengan Zeva, tetapi rasanya seperti telah mendapatkan sebuah keluarga baru yang bahagia.
Di tempatnya, Zeva menatap waswas antara Aldevaro dan mamanya yang dengan antusias hendak mencoba masakannya. Batinnya takut jika masakan yang ia buat rasanya akan kurang enak atau bahkan mungkin keasinan, mengingat dirinya baru pertama kali memasak ikan.
“Gi-gimana? Enak, enggak?” Zeva menatap Aldevaro dan mamanya satu-persatu ketika suapan pertama masuk ke dalam mulut mereka.
Setelahnya, baik mamanya maupun Aldevaro, keduanya memasang raut wajah sama. Mereka berdua terdiam saling pandang satu sama lain, membuat Zeva merasa yakin bahwa masakannya tidak enak.
“Enggak enak, ya? Maaf, mungkin ini yang pertama buat Zeva. Jadi rasanya agak-”
“Enak!” Sahutan penuh semangat itu berasal dari Aldevaro. Ketika Zeva yang tadinya tengah menunduk pun perlahan mulai mendongakkan wajahnya, menatap penuh keterkejutan pada Aldevaro yang terlihat mulai lahap di tempatnya.
Ketika perhatian Zeva beralih pada sang mama, beliau pun mulai berekspresi sama. Sesekali, mamanya ini akan menggerutu pelan dengan seisi mulut penuh dengan nasi dan ikan buatan Zeva.
“Enak banget, lho! Nggak nyangka, Anak Mama sehebat ini. The best pokoknya!” Raya mengacungkan jempolnya ke arah Zeva yang masih dibuat bengong di tempat.
Sempat berpikir bahwa mama dan Aldevaro tengah berpura-pura, Zeva pun memilih mencobanya sendiri; seperti apa rasa ikan gurame pedas manis buatannya.
Dan, ketika satu suapan telah memasuki mulutnya. Saat itu juga, Zeva membulatkan matanya tak percaya. “Enak ‘kan?”
Zeva mengangguk antusias sekaligus merasa tak percaya dengan hasil masakannya yang ternyata bisa seenak ini.
“Bisa nih, besok langsung nikah,” goda Raya, membuat Zeva lagi-lagi tersipu di tempatnya.
“Apaan sih, Ma! Biasa aja, kok,”
****
“Makasih ya, buat makan malamnya. Makanannya enak banget. Jadi gak sabar buat mempersunting jadi istri,” Aldevaro berucap pelan, sebelum dirinya benar-benar akan pamit dari rumah Zeva.
Sebelumnya, ia sudah sempat pamit pada Raya. Hanya saja, sekarang giliran pamit sama anaknya yang alias adalah calon istrinya di masa depan.
Zeva memukul pelan bahu Aldevaro dengan wajahnya yang lagi-lagi bersemu. “Gak usah ngeselin, deh. Perasaan dari kemaren Kamu ngebet banget ngomong-ngomong soal nikah sama Aku.”
“Namanya juga lagi usaha biar pas dibagi ijazah langsung sah,” Aldevaro mengedipkan salah satu matanya genit, membuat Zeva refleks memukul dadanya.
“Emangnya … Kamu gak mau kuliah?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Zeva hampir tidak terdengar jika saja suasana di antara mereka saat ini tengah ramai. Beruntung, suasana di halaman rumahnya tengah sepi, sehingga perkataan Zeva dapat sepenuhnya didengar oleh Aldevaro.
“Ya, maulah! Tapi ‘kan kuliah bebas! Punya anak juga masih bisa kuliah,”
“Iih, Kamu itu, yaa!”
Aldevaro terkekeh geli melihat raut wajah Zeva yang berubah kesal. Perlahan, Aldevaro mendekatkan posisinya ke arah Zeva, lalu mengedarkan pandangannya untuk menatap sekitar. Dirasa sepi, Aldevaro lantas mendaratkan singkat bibirnya pada bibir milik Zeva.
“Bawel, ah! Yang penting ‘kan Aku begini juga sama Kamu, bukan sama orang lain,” bisik Aldevaro, tepat di telinga Zeva. Tersadar dengan apa yang baru saja terjadi, Zeva lantas mendorong Aldevaro sampai membuat tubuh cowok itu mundur beberapa langkah.
Bukannya merasa kesal atau bagaimana, Aldevaro malah tergelak dengan sangat menyebalkan.
“Iiihh! Ngeselin! Bilangin Mama, nih! Varo udah mulai berani cium-cium padahal ini di depan rumah calon mertuanya sendiri,” Zeva menggerutu pelan saat mengucapkan kalimat yang paling terakhir. Semburat merah lagi-lagi kembali menghiasi wajahnya akibat ulah Aldevaro.
“Oh? Mau diaduin sama Tante Raya? Ide bagus tuh! Siapa tahu besok beneran langsung sah,” balasan tak terduga dari Aldevaro, semakin membuat Zeva naik pitam untuk tidak kesal pada cowok itu. Dengan refleks, Zeva lagi-lagi mendorong Aldevaro agar segera pergi dari halaman rumahnya.
“Varo ngeseliiiinnnn! Pulang, gak!”
Lagi-lagi Aldevaro terkekeh. Sedikit pun ia tidak merasa kesal dengan Zeva. Yang ada, Aldevaro malah semakin gencar untuk menggoda gadis itu. “Iya, iya, adooh! Jangan dorong-dorong, dong, Yang!”
“Yang, yang, matamu! Pergi sekarang, gak!” Zeva merasakan wajah dan telinganya yang terasa memanas. Dengan menahan berbagai kekesalan, Zeva lantas berlari meninggalkan Aldevaro yang masih tergelak di tempatnya.
__ADS_1
Sebelum Zeva benar-benar sampai di daun pintu, suara teriakan dari Aldevaro seketika menghentikan langkah kakinya. “Sleep well, honey!”
To be continue…