Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
16. Luka dalam yang kembali menganga


__ADS_3

Zeva menelan ludahnya susah payah saat sesosok pria yang tak lain ialah papanya tersebut perlahan mulai melangkah ke arahnya. Refleks gadis itu langsung berjalan mundur saat tangan kekar yang sudah tampak asing itu hendak meraih tangannya.


Samudera, papa kandung Zeva, yang selama hampir dua tahun ini tak lagi memunculkan batang hidungnya, kini berdiri tegap membawa rasa sakit dan kecewa yang sebelumnya telah dengan susah payah Zeva lupakan.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba pria itu kini berdiri di hadapannya dan mengakui diri sebagai seorang ‘papa’? Lantas, haruskah Zeva menangis haru kala seorang papa yang dahulu sangat ia percaya, nyatanya mengkhianati kepercayaannya, dan menyakiti hati sang mama? Haruskah?


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Zeva lantas membuang muka dari tatapan penuh harap Samudera yang seolah meminta Zeva untuk membalas sapaan ramahnya. Sayangnya, Zeva terlalu sakit hati atas apa yang sudah papanya lakukan di masa lalu pada dirinya dan juga sang mama.


“Eva, tunggu, Nak!” Samudera menahan tangan Zeva, saat gadis itu hendak melenggang dari hadapannya.


Dengan emosi yang sudah begitu lama Zeva simpan seorang diri, gadis itu menepis kasar tangan sang papa dari pergelangan tangannya. Tatapan Zeva pun berubah nyalang saat bersitatap dengan Samudera yang terlihat tengah menatapnya dengan tatapan tak berdaya.


“Jangan sentuh saya! Saya tidak sudi disentuh oleh orang yang sudah dengan tega menyakiti hati orang yang paling saya cintai.” Samudera seketika dibuat bungkam kala kata-kata asing dari mulut Zeva memasuki gendang telinganya. Dadanya terasa begitu sesak dan sakit saat putri yang teramat ia cintai itu mengatakan kalimat yang seolah membatasi hubungan mereka.


“Eva, dengerin Papa-”


“Nama saya Zeva, bukan Eva!” Pekik gadis itu, kembali menepis kasar tangan Samudera yang terus-menerus berniat menyentuhnya.


Hal itu membuat Zeva terus teringat pada momen di mana keluarganya hancur hanya karena papanya yang selama ini terus ia percayai sepenuh hati, nyatanya berselingkuh dengan seorang wanita yang jauh lebih muda. Sangat memuakkan.


“Setop panggil saya Eva! Nama itu sudah tidak ada seiring dengan Anda yang dengan tega menyakiti hati kami. Saya benci pada Anda!” Ucap telak Zeva, kemudian pergi dengan tergesa-gesa, tanpa membiarkan Samudera mengatakan hal yang selama ini terus mengganggu pikirannya.


Di sisi lain, Samudera mengepalkan kedua kepalan tangannya, menggenggam rasa sakit dan kecewa yang sepertinya kini telah berpindah padanya. “Jadi, inikah yang kalian rasakan waktu itu?” Lirih Samudera. Tanpa dirinya sadari, setetes air mata mulai menuruni wajahnya yang tidak lagi terlihat muda.


Kekehan kecil berisi penyesalan yang baru-baru ini ia rasakan, membuatnya ingin sekali menjadi egois. Seandainya waktu dapat diputar ulang sesuka hati, maka dirinya ingin sekali mencegah hal itu dan kembali ke massa di mana dirinya yang perlahan mulai tergoda akan ujian dunia yang bersifat sementara.


“Tuhan… tidak adakah cara agar hamba-Mu ini dapat kembali seperti dulu? Hamba menyesal, Tuhan!”


****


Hari telah semakin gelap, namun Zeva seolah enggan untuk meninggalkan taman bermain di sebuah taman kanak-kanak yang letaknya cukup dekat dengan rumahnya. Di waktu yang telah menunjukkan hampir pukul enam sore tepat, gadis itu masih saja terdiam dengan wajah kaku serta tatapan datarnya.


Tak ada setetes pun air mata yang berjatuhan, padahal beberapa saat yang lalu, dirinya baru saja dipertemukan kembali dengan sosok papanya. Papanya yang dahulu bertekad bulat meninggalkan ia beserta sang mama hanya demi seorang perempuan lain.


Miris. Ingatan demi ingatan di mana perempuan selingkuhan sang papa datang ke rumahnya dua tahun yang lalu dan menciptakan suatu kehobohan, membuat Zeva kian membenci Samudera. Wanita yang waktu itu mengaku baru berusia 31 tahun itu membuat pernyataan gila pada sang mama, Raya, bahwa dirinya tengah mengandung anak Samudera.


Syok? Jelas!


Kejadian itu membuat Zeva kesal setengah mati. Bisa-bisanya ada seorang wanita gila masuk ke rumahnya dan mengakui bahwa dirinya tengah mengandung buah hati dari sang papa?!


Ya. Awalnya Zeva memang tak percaya. Namun, ucapan demi ucapan dari sang papa yang menjelaskan setiap inci kekeliruan yang dirinya perbuat, seakan menjatuhkan Zeva ke dalam sebuah jurang tak berujung.


Lagi. Zeva menghela napas pendek disertai kedua tangannya yang lagi-lagi terkepal kuat.


Entah keberanian dari mana, Zeva mulai membuka ponselnya dan menghubungi nomor seseorang yang biasanya tak pernah ia hubungi lebih dulu. Ya, siapa lagi jika bukan Aldevaro?


Mantan yang kini berubah status menjadi pacarnya. Tidak masalah bukan jika Zeva sekarang menghubungi cowok itu? Zeva merasa kacau saat ini, dan dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Kejadian beberapa saat yang lalu terjadi terlalu mendadak.


Tak butuh waktu lama bagi Zeva untuk menunggu sambungan teleponnya terhubung, cowok itu sudah lebih dulu mengangkat panggilannya. Nada suara lembut yang diakhiri kekehan kecil di seberang sana, membuat Zeva terhanyut sampai tanpa sadar mulai terisak.


“Var …” Panggilan lirih yang berakhir menjadi isak tangis yang tak pernah sekalipun ingin Zeva lakukan, membuat Aldevaro di seberang telepon sana mengganti nada bicaranya.


“Va? Lo gak pa-pa? Lo di mana?”


“Gu-gue. Gue di pinggir jalan deket rumah. Gue-” Zeva tak menyelesaikan perkataannya, dan malah berakhir menangis tersedu-sedu. Aldevaro yang mendengar tangisan itu pun jelas dibuat panik. Berbagai pikiran negatif tentang apa yang sudah terjadi pada Zeva, membuatnya seketika merasa mau gila.


“Diem di sana dan jangan ke mana-mana. Gue ke sana sekarang.” Selepas mengatakan hal itu, panggilan telepon pun terputus, dengan cowok itu yang lebih dahulu mengakhiri sambungannya.


Merasa tidak lagi mendengar suara Aldevaro, Zeva lantas membuka layar ponselnya. Dan baru menyadari bahwa panggilan teleponnya langsung diputus begitu saja.


“Kok, dimatiin sih? Halo? Var? Lo udah muak juga, ya, sama gue? Varooo!? Iiihhh... gue belum selesai ngomoooonggg!”


****


Di sepanjang jalan mengendarai motornya, Aldevaro tak henti-hentinya terus memikirkan Zeva. Cowok itu bahkan sampai tak sadar sudah mengendarai motornya di atas kecepatan rata-rata di tengah lalu-lalangnya jalanan ibu kota.


Ketika sudah hampir masuk ke jalanan yang menuju arah rumah Zeva, Aldevaro mulai memelankan laju motornya, dengan sepasang netra yang menjelajah ke seluruh penjuru jalanan yang terbilang cukup sepi dan gelap.

__ADS_1


“Lo di mana sih, Va? Bikin gue khawatir aja. Pake nangis pas lagi teleponan lagi. Dia gak kenapa-kenapa, ‘kan?” Gerutu Aldevaro, masih setia menajamkan netranya.


Saat Aldevaro masih setia mencari keberadaan Zeva di setiap penjuru jalan, sepasang netranya langsung membulat saat melihat sesosok perempuan berambut panjang tengah terduduk di atas sebuah ayunan anak kecil dengan kepala yang agak menunduk.


Demi apa pun, Aldevaro langsung tersentak melihat sosok yang cukup horor itu. Tak ayal, dirinya bahkan merasa bulu kuduknya mulai berdiri. Tetapi, jika diperhatikan baik-baik, sepertinya sosok itu lebih mirip ....


“Zeva?” Panggil Aldevaro hati-hati. Tak lupa ia pun mulai menghentikan motornya.


Tak ada balasan membuat Aldevaro lantas menenggak ludahnya susah payah. Dengan penuh keraguan, Aldevaro lantas turun dari motornya dan menghampiri perempuan yang ia tebak adalah Zeva. Namun entah mengapa, Aldevaro merasa jika itu bukanlah Zeva ataupun manusia. Gimana kalau itu ... hantu?


Perlahan namun pasti, Aldevaro mengulurkan salah satu tangannya ke arah bahu perempuan itu. Tangannya tampak bergetar hebat dengan keringat serta peluh yang mulai bermunculan di dahinya.


“Va- Allahu Akbar, ampun Ya Allah, ampunnn!” Aldevaro spontan menjerit, saat kepala perempuan itu yang semula menunduk, langsung mendongak sebelum dirinya sempat menyentuhnya. Cowok itu bahkan dengan refleks menjauh dan memejamkan kedua matanya.


“Ya ampun, Varooo! Lo bisa gak sih, kalau dateng tuh ngomong dulu? Sapa dulu kek, apa kek. Ini malah kek pocong, bikin orang takut aja!” Cerocosan panjang tersebut ternyata berasal dari Zeva. Ketika Aldevaro perlahan mulai membuka kedua matanya, cowok itu langsung menghela napas saat ternyata orang yang baru saja berkata demikian barusan benar-benar Zeva.


Dengan menarik napasnya dalam-dalam, Aldevaro lantas menyentil dahi Zeva sampai membuat gadis itu dibuat mengaduh kesakitan. Tatapan Zeva yang semula penuh keterkejutan pun berubah garang.


“Lo apa-”


“Elo yang apa-apaan? Ngapain jam segini lo masih keluyuran di jalanan sepi kek gini? Gak takut digondol setan lo, hah, iya? Mana pas gue sahutin kagak jawab lagi. Gue panik tahu gak! Gue kira lo tuh setan, Va!” Zeva melebarkan mulutnya menatap Aldevaro dengan tatapan tak percaya.


Niat awal menghubungi Aldevaro itu karena dirinya tidak tahu harus bercerita tentang hari ini pada siapa lagi. Tetapi kenapa malah jadi begini? Cowok itu membentaknya dan marah padanya?


Karena merajuk, Zeva memilih diam dan mengerucutkan bibirnya. Tanpa sadar kedua bola matanya sudah dibuat berkaca-kaca. Entah itu karena ucapan Aldevaro yang terdengar membentaknya, entah karena otaknya yang kembali berlabuh pada sang papa. Zeva pun tak tahu.


“Va!” Aldevaro menghela napas gusar setelah sebelumnya ia sempat melirik wajah Zeva yang tampak murung. Ia jadi merasa tidak enak hati sudah membentak Zeva.


“Va?” Panggil cowok itu lagi. Detik berikutnya, air mata Zeva luruh tanpa diduga-duga. Aldevaro yang melihatnya refleks tersentak dengan sepasang bola matanya yang melebar.


“Va, lo nangis? Gue minta maaf. Maksud gue tuh-”


“Bukan karena lo kok,”


“Te-terus?” Aldevaro menatap hati-hati pada Zeva yang terlihat lebih murung dari sebelumnya. Yakin bukan karena omongan gue? Batin cowok itu bermonolog.


“Gue gak pa-pa, kok. Makasih udah dateng, dan maaf udah nakutin lo.” Ujar Zeva. Seulas senyuman tipis terbit di wajahnya, padahal kedua bola matanya terlihat sangat jelas memancarkan aura kesedihan.


“Gue ...”


“Em, gini aja deh. Gue anterin lo pulang dulu, habis itu lo cerita semuanya sama gue. Oke?” Sela Aldevaro, yang sukses membuat Zeva tanpa sadar dibuat tertawa.


Zeva mengangguk beberapa kali, sembari menggandeng tangan Aldevaro. Hal itu membuat Aldevaro gelagapan di tempatnya. Baru kali ini Zeva berinisiatif padanya.


“Ekhem. Lepasin dulu dong tangannya. Nanti boleh deh, pas di motor lo bisa peluk-peluk gue. Gratis.” Goda Aldevaro, membuat Zeva tersadar akan perbuatannya. Dengan cepat gadis itu langsung menjauhkan diri dari Aldevaro, dengan wajahnya yang mulai memerah padam.


“Yuk, naik! Jangan lupa pegangan.”


****


“Makasih, ya, Var. Lo ... mau mampir dulu?” Zeva merutuki dirinya sendiri saat tak sengaja mengucapkan kalimat terakhir yang seharusnya tidak ia ucapkan. Ia lupa jika saat ini di rumahnya hanya ada dirinya seorang diri.


“Ekhem. Ma-maksudnya-”


“Oke. Sekalian katanya lo juga mau cerita ‘kan sama gue?” Tanpa paham situasi, Aldevaro mulai bangkit dari atas motornya, kemudian berjalan menghampiri Zeva yang baru saja membukakan pintu.


Dengan ragu, Zeva pun mempersilakan Aldevaro untuk masuk. Saat sudah di dalam, dirinya jadi bingung sendiri harus bagaimana?!


“Em, duduk dulu, Var. Gue ambilin minum dulu,” suruh Zeva yang hanya diangguki anggukkan pelan oleh Aldevaro.


Sepeninggalan Zeva menuju dapur, perhatian Aldevaro perlahan mulai menjelajah ke seisi rumah gadis itu yang terbilang sederhana. Sangat berbeda jauh ketika dia masih menjadi tetangga Aldevaro beberapa tahun yang lalu.


Ketika Aldevaro hendak menduduki sofa, Zeva kemudian datang dengan sebuah nampan berisi segelas air putih dan beberapa camilan yang sempat Zeva beli di mini market tadi.


“Diminum, Var.” Ujar Zeva, diakhiri dengan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Entahlah, intinya Zeva gugup saat ini.


Perlahan namun pasti, Aldevaro mulai mengambil segelas air tersebut dan menenggaknya sepertiga. Setelahnya, ia mulai menaruhnya kembali di tempat semula. Perhatiannya pun kembali pada Zeva yang tengah terduduk kaku di sofa single yang cukup berjauhan dari tempat duduknya saat ini.

__ADS_1


“Tante Raya ke mana? Belum pulang?” Pertanyaan itu membuat Zeva lantas tersentak dari berbagai lamunannya. “I-itu, Mama pergi dinas dua hari. Jadi, gue di rumah sendiri.”


Aldevaro sempat mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Tak berapa lama kemudian, cowok itu langsung tersadar akan sesuatu. “Tante Raya ... gak ada di rumah?” Tanyanya. Dan anggukkan kaku dari Zeva membuat Aldevaro sontak menenggak ludahnya susah payah.


Ini ujian apa berkah, ya? Takut khilaf gue. Batin Aldevaro, kemudian menghela napas.


“Btw, lo udah makan?” Sahut Aldevaro, sengaja mengalihkan obrolan untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya.


“Em, belom. Ini gue baru aja dari mini market habis beli buat makan malem.”


“Mi instant?” Tebak Aldevaro, yang diangguki Zeva.


“Gak sehat banget makan mi instant. Gimana kalau pesen aja?” Aldevaro mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Belum sempat ia menekan aplikasi pesan antar makanan, ponselnya sudah lebih dulu diambil alih oleh Zeva yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya.


“Kali-kali dong, Al.”


“Makan di sini, ya? Temenin gue.” Zeva tersenyum sangat manis teruntuk Aldevaro, berharap cowok itu dapat dibujuk hanya dengan bermodalkan seperti ini.


Sayangnya, apa yang Zeva harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Tangan cowok itu lagi-lagi berhasil menyentil dahinya.


“Tumben manggilnya ‘Al’? Biasanya juga ‘Varo’ tuh.”


“Iih. Kali-kali boleh lah. Yuk!” Tanpa menunggu Aldevaro membalas, gadis itu sudah lebih dulu menarik tangannya ke dapur. Aldevaro yang ditarik-tarik seperti itu pun hanya bisa diam, seraya mengikuti langkah Zeva yang berada di depannya.


Sesampainya di dapur, Zeva lantas melepaskan tangan Aldevaro, dan mulai fokus pada sekantung keresek belanjaan yang belum Zeva keluarkan semua.


“Lo mau yang mana? Gue ada beli 4 mi instant dengan rasa yang beda-beda. Pilih salah satu.” Zeva menyodorkan beberapa bungkus mi instant dari beberapa merek yang berbeda dengan varian rasa yang berbeda-beda pula.


“Emm, yang ini aja, deh.” Tunjuk Aldevaro pada mi instant dengan varian rasa kuah soto. “Oke, gue masakin sekarang.” Ujar Zeva, penuh semangat, sampai tanpa sadar gadis itu terus menampilkan seulas senyumannya padahal belum lama ini ia baru saja menangis.


Di tempatnya, Aldevaro mulai menduduki salah satu kursi makan yang tak jauh dari tempat Zeva tengah memasak mi instant. Tatapannya pun seolah tak bisa dialihkan dari Zeva yang terlihat berpengalaman. Sedikitpun gadis itu tidak terlihat kebingungan di tempatnya.


Yah, walaupun itu cuma masak mi instant, tapi jangan salah! Orang yang tidak pernah ke dapur mana bisa melakukan hal sekecil itu.


Merasa terus-menerus diperhatikan, Zeva memberanikan diri menoleh ke belakang. Dan benar saja, Aldevaro tengah menatapnya sambil tersenyum, dengan salah satu tangannya menopang dagu.


“Kedip, Varooo! Entar kesambet, gue gak mau tanggung jawab, ya!” Sahutan dari Zeva tak lantas membuat cowok itu menghentikan kegiatannya. Aldevaro malah semakin melebarkan senyumannya. Sesekali, cowok itu akan mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Zeva.


“Cieee... masaknya pinter banget. Sekalian buat latihan, ya?”


“Latihan? Latihan apa?” Zeva spontan mengerutkan keningnya, tanpa melirik pada Aldevaro.


“Latihan buat jadi istri gue lah.” Celetuknya, membuat Zeva spontan tersedak ludahnya sendiri.


“A-apa? Latihan buat jadi istri lo?” Zeva membalikkan tubuhnya menghadap Aldevaro dengan kedua tangannya yang ia taruh di pinggang. Dengan sangat polosnya, Aldevaro mengangguk menanggapi perkataan Zeva.


“Dih. Siapa juga yang mau jadi istri lo.” Ujar Zeva, yang lebih terdengar seperti sebuah gumaman. Tubuhnya pun tidak lagi menghadap pada Aldevaro yang tengah cekikikan di tempatnya. Dan sialnya, kenapa jantungnya berdegup begitu kencang? Bibirnya bahkan terus-menerus mengulum seulas senyuman yang bahkan tak bisa ia tahan.


“Ekhem.” Zeva berdeham, seraya mematikan kompor, dirasa mi yang ia rebus telah sepenuhnya matang. Dengan telaten, gadis itu memindahkan mi tersebut ke dalam dua buah mangkok yang sudah diisi bumbu penyedap. Setelah selesai, barulah memasukkan kuahnya.


Setelah dirasa beres, Zeva mulai membawa mangkuk mi tersebut satu-persatu ke atas meja, diawali dengan mangkuk mi milik Aldevaro. “Nih. Aduk sendiri.” Ujar Zeva, yang langsung disambut exited oleh Aldevaro.


“Lain kali masakin yang lain, ya.” Sahutan yang terdengar cukup menyebalkan itu membuat Zeva spontan menghentikan aktivitasnya yang hendak meraih sendok dan garpu yang berada di meja makan.


“Tuan Muda Al. Saya bukan pembantu Anda. Jika ingin request menu, Anda boleh kembali ke rumah Anda.” Sinis Zeva, lalu dengan tanpa perasaan mulai mengambil sendok dan garpu tersebut, kemudian mengaduk minya dengan wajah tertekuk.


Aldevaro terkekeh geli di tempatnya. Ketika ia hendak menyuapkan mi ke dalam mulutnya, seketika otak kecilnya memikirkan sebuah ide cemerlang untuk kembali menggoda Zeva.


“Ekhem. Btw, kalo gue nginep di sini boleh gak, sih?” Sahutan frontal itu membuat Zeva yang tengah mengunyah minya dibuat tersedak. Buru-buru gadis itu meraih gelas kosong yang ia isi air dengan terburu-buru, kemudian meminumnya hingga tandas.


“Apa lo bilang? Nginep di sini?” Zeva menatap nyalang Aldevaro, seraya menaruh gelas tersebut cukup kasar, sehingga menghasilkan sebuah bunyi yang cukup nyaring.


Tanpa berucap lisan, cowok itu membalas pertanyaan Zeva dengan anggukan kepala diiringi senyuman polosnya.


Iya, polos. Polos dalam artian lain.


“Boleh, kok.” Ucapan yang cukup melenceng dari ekspektasi itu, membuat Aldevarao spontan memelotot dengan mulutnya yang berhenti mengunyah. “Serius?” Tanyanya, menatap raut wajah Zeva penuh harap.

__ADS_1


“Iyalah. Tapi tidurnya di teras. Mau?”


To be continue...


__ADS_2