
“Em, lo … beneran balikan lagi sama mantan lo cuman buat balas dendam?” Sebuah sahutan dari dalam ruang musik, seketika menghentikan niatan seseorang yang hendak menarik knop pintu. Karena penasaran, gadis yang tak lain ialah Zeva itu pun memilih menguping dari balik pintu dengan perasaannya yang entah mengapa mulai terasa tidak nyaman.
“Niel. Lo yang bocorin, ya?” Zeva spontan membulatkan kedua bola matanya saat suara lain yang begitu ia kenali terdengar dari dalam sana. Tubuhnya bahkan terasa bergetar saat sebuah kenyataan lain yang tidak pernah ia sangka, seakan mulai menghantam permukaan hatinya.
Sempat berpikiran negatif beberapa kali, Zeva memilih mendengarkan lebih lanjut percakapan mereka lebih tajam lagi. Berharap apa yang dia dengar barusan adalah sebuah kesalahpahaman belaka.
“Serius lo Bang? Lo balikan lagi sama mantan lo demi balas dendam? Gila lo, gue sempet mikir hubungan kalian tuh real. Soalnya tatapan sama sikap lo ke dia tuh kek serius. Wah, parah lo!”
“Nih, ya, Bang! Dendam sama mantan tuh boleh, tapi jangan sampe lo mainin perasaan dia sampe kek real gini. Kalau lo bersikap kek begini, lo sama aja dong kek si Gerald.”
“Kok, lo samain gue sama si Gerald, sih?”
“Iyalah. Orang lo brengsk.” Terdengar suara gelak tawa dari dalam sana, yang membuat Zeva tidak tahan lagi untuk lanjut mendengarkan.
“Lo gak bilang apa-apa sama temen-temen lo. Berarti, itu semua bener, ya? Lo jahat, Var. Enggak. Seharusnya gue yang sadar diri, dan bukannya malah kesenengan kayak sekarang ini.” Zeva bergumam kecil seraya terus-menerus memundurkan langkah kakinya. Bulir-bulir air mata tanpa diduga-duga mulai meluncur bebas menuruni wajah cantiknya.
Sial. Rasanya begitu sakit sampai Zeva ingin sekali berteriak.
Dengan mengusap kasar terlebih dahulu sisa air mata di pipi, Zeva kemudian berlari meninggalkan ruang musik tanpa mau mendengarkan apa-apa lagi.
Terlalu tidak memedulikan sekitar, Zeva lagi-lagi menabrak tubuh seseorang ketika dirinya hendak berbelok untuk menaiki undakan tangga. Beruntung kali ini orang yang dirinya tabrak tidak berakhir terjungkal seperti yang terjadi pada Gerald beberapa saat yang lalu. Jadi, kali ini Zeva lebih tenang dan menunduk dalam sebagai permohonan maaf.
“So-sorry, gue gak sengaja.” Setelah mengucapkan kalimat permohonan maaf itu, Zeva kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda, tanpa mau mendengarkan balasan dari sosok orang yang baru saja ia tabrak. Di lorong paling ujung sana, Gerald mendapati Zeva yang terlihat terburu-buru menaiki puluhan undakan tangga.
Teringat akan hal memalukan yang Zeva lakukan padanya belum lama ini, sebuah ide jahil untuk menjahili Zeva tiba-tiba muncul di benaknya. Dengan langkah cepat, Gerald berlari mengejar Zeva yang bahkan Zeva sendiri tidak sadar langkahnya telah diikuti.
Sesampainya di atap sekolah yang sangat sepi, Zeva lantas menghentikan langkah kakinya. Tangis yang sebelumnya ia tahan sekuat tenaga, pada akhirnya keluar begitu saja. Air matanya lagi-lagi lolos diiringi isakan demi isakan kecil yang seolah tak henti-hentinya ia lontarkan dari mulutnya.
“Nah, mau lari ke mana lo, hah?!” Pekikan keras diiringi tepukan di bahunya, seketika membuat Zeva terlonjak dan dengan refleks menoleh.
Ketika mengetahui siapa pelaku yang sudah mengagetkannya, saat itu juga Zeva langsung membuang muka dengan sesekali mengusap wajahnya.
“Lo kenapa? Nangis?” Gerald mengubah posisi berdirinya yang semula berdiri di samping Zeva, menjadi berdiri di hadapannya.
Tanpa mau membalas pertanyaan dari Gerald, Zeva hendak pergi dari hadapan cowok itu, namun tangannya berhasil mencekalnya. Tak ada suara sahutan dari Gerald, maupun isakan dari Zeva. Ketika posisi Gerald mulai kembali berhadapan dengan Zeva, cowok itu melihat hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari gadis itu.
Wajahnya tampak lesu dengan bulu matanya yang agak basah. Terlihat sangat jelas jika Zeva baru saja menangis, dan hal itu perdana bagi Gerald menyaksikan cewek berwajah jutek itu menangis seperti saat ini. Bukannya merasa senang melihat gadis itu tersiksa, Gerald justru malah merasa kesal dan marah.
Di luar dugaan, Gerald menarik tangan Zeva lembut, sehingga membuat sang empunya dibuat mendongak menatap matanya. “Cerita sama gue, lo kenapa?” Sahut Gerald lembut. Dan entah mengapa terdengar begitu halus di telinga Zeva, sampai membuat gadis itu tanpa sadar mulai kembali melanjutkan tangisannya.
Ya, Zeva menangis di hadapan Gerald. Urat malunya seolah putus ketika sahutan lembut dari mulut cowok itu terdengar menyapa gendang telinganya. Air matanya bahkan mengalir dengan cukup deras. Sehingga tak henti-hentinya Zeva terus mengusap kasar wajahnya yang mulai agak kemerahan itu.
Di tempatnya, Gerald hanya bisa terdiam memandangi raut wajah menyedihkan Zeva. Salah satu tangannya bahkan sudah mau terangkat untuk mencoba menenangkan Zeva. Sayangnya, tangannya ini tidak seberani itu, dan selalu berakhir terhempas kembali ke tempatnya semula.
“Gu-gue boleh gak, pinjem badan lo bentar?” Suara gumaman kecil dari Zeva yang masih terisak, membuat Gerald tanpa sadar menaikkan salah satu alisnya. Belum sempat cowok itu membalas pertanyaannya, Zeva sudah lebih dulu memeluknya.
Hal tersebut lantas membuat Gerald syok di tempat. Tubuhnya seketika menegang dengan kedua lengan yang terangkat ke atas.
Karena bingung harus bagaimana, sesekali cowok itu akan berdeham pelan seraya mencoba merilekskan tubuhnya, walau jantungnya sudah hampir mau meledak seperti sebuah bom.
Perlahan namun pasti, Gerald melirik Zeva yang masih setia terisak memeluknya. Entah keberanian dari mana, cowok itu sampai membalas pelukan Zeva, berharap gadis itu segera menghentikan tangisnya.
Lima menit sudah berlalu, tangisan Zeva sudah tak lagi terdengar. Ketika Gerald mencoba melepaskan pelukannya, gadis itu sudah lebih dulu melepaskan diri dengan wajahnya yang terlihat begitu kacau. Matanya sembab dan wajahnya tampak basah.
“Lo kenapa, sih? Lo nangis di pelukan gue sampe seragam gue ikutan basah, coba lo lihat! Enak, ya, nangis di pelukan cogan, hm?!” Zeva terdiam dengan kepalanya yang sedikit menunduk. Ucapan Gerald tak berarti apa-apa baginya, namun sanggup membuatnya kepikiran.
“So-sorry! Baju lo jadi basah, ya? Mm, mau gue bantu cuciin aja?”
Gerald mendengus kesal, seraya menarik dagu Zeva agar gadis itu tak lagi menunduk, apalagi ketika tengah berbicara dengannya. “Kalau lo lagi ngomong sama gue, tatap mata gue, jangan nunduk!” Sentak Gerald, yang justru membuat Zeva kembali terisak. Karena frustasi, Gerald lantas menarik kembali tangannya dari dagu gadis itu. Dengusan kesal tak henti-hentinya terus dia hembuskan.
“Ekhem. Lo kenapa sih? Pake acara nangis segala. Lagi ada masalah?” Hening. Zeva tak menjawab pertanyaannya, semakin membuat Gerald gemas ingin kembali menghujat gadis itu. Namun entah mengapa, sudut paling dalam hatinya melarangnya melakukan hal tersebut. Yang malah pada akhirnya membuat Gerald semakin dibuat kalut sendiri.
“Ck, terserah lo, deh. Gue mau balik ke kelas. Gini-gini gue masih anak rajin, btw.” Terang Gerald, dan entah mengapa dirinya jadi bawel tiba-tiba. Tak ingin membuang-buang waktu, cowok itu langsung melenggang dari hadapan Zeva yang masih berdiam diri di tempatnya. Baru setengah jalan, langkah cowok itu langsung terhenti ketika mendengar suara sahutan dari Zeva.
__ADS_1
“Makasih, ya,”
Hanya itu. Namun entah mengapa hatinya terasa berbunga-bunga mendengarkan ucapan tersebut dari mulut Zeva.
Gerald lantas berdeham pelan untuk menghilangkan rasa aneh yang lagi-lagi bersinggah di dalam hatinya. Sebelum melanjutkan langkahnya, cowok itu memalingkan wajahnya ke samping, namun tidak sampai menoleh. “Terserah.” Ujarnya, kemudian melanjutkan langkah kakinya.
****
Aldevaro mengernyit bingung menatap sebuah pesan chat yang sudah kembali ditarik oleh seseorang. Dan parahnya, waktu pengiriman itu sudah cukup lama sekali. Kira-kira lebih dari 4 jam yang lalu. Tetapi, kenapa suara notifikasinya tidak terdengar?
Melihat kembali pesan yang sudah ditarik itu, membuat Aldevaro berspekulasi bahwa Zeva tengah ngambek akibat dirinya yang kelamaan tidak membalas pesan.
Terlanjur panik, Aldevaro langsung menghubungi nomor ponsel gadis itu, namun malah berakhir dengan sang operator yang menjawab teleponnya.
“Kok, gak aktif? Jangan-jangan beneran ngambek,” gumam Aldevaro, seraya menyeret kedua kakinya keluar dari dalam kelas.
Omong-omong, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 3 petang lewat 30 menit yang artinya sekolah telah usai.
Ketika Aldevaro melirik ke arah kelas sebelah yang tampak lumayan ramai, buru-buru Aldevaro berlari menerobos beberapa murid kelasnya untuk sampai di depan kelas XII IPA 2. Kelasnya Zeva.
“Ada yang lihat Zeva, gak?” Aldevaro menyahut pada beberapa orang siswi yang tampak asyik mengobrol ketika baru saja keluar dari dalam kelas.
Mengetahui ada yang melontarkan pertanyaan pada mereka, gadis-gadis itu langsung mengatupkan mulut dengan perhatian yang seolah langsung terfokus pada Aldevaro.
“Ekhem. Lo nyari siapa tadi?” Stella, cewek yang sering caper pada Aldevaro, menyelak di antara teman-temannya yang berdiri hampir menghalangi tubuh serta wajah tampan Aldevaro.
Dengan centil, Stella menyampirkan rambutnya ke depan yang membuat beberapa teman-temannya yang menyaksikan, dibuat geleng-geleng kepala.
“Gue nyari Zeva. Dia udah keluar belum?” Tanya Aldevaro lagi, yang kemudian dibalas kekehan miris oleh Stella.
Sial, batinnya menggerutu.
“Oh, lo nyariin Zeva? Dia udah keluar kelas duluan, baru aja. Kelihatannya sih kayak buru-buru banget gitu. Ya, ‘kan, guys?” Ujar Stella, diakhiri dengan meminta persetujuan teman-temannya, bahwa apa yang dia katakan barusan benar adanya.
“Tuh, gue gak-” Stella menggantungkan ucapannya, ketika dengan secepat kilat, Aldevaro langsung pergi begitu saja dari hadapannya. Padahal, Stella masih belum selesai untuk bertingkah manis di hadapan Aldevaro, tapi cowok itu malah meninggalkannya lebih dulu.
“Wah, baru juga mau mulai, udah …”
“Sadar, Stell. Tuh cowok udah ada pawangnya.” Celetuk salah satu temannya, membuat Stella semakin dibuat tertampar.
****
Aldevaro mengernyitkan dahi seraya menghentikan langkah kakinya, sesaat ketika sebuah pemandangan tak biasa terpampang jelas di depan sana. Karena terlanjur terbawa emosi, Aldevaro langsung berlari ke arah parkiran sekolah, kemudian menarik salah satu tangan seorang gadis yang bisa kalian tebak siapa dia.
“Dari mana aja? Gue cariin dari tadi, ternyata lo di sini?” Sahut Aldevaro, dengan sesekali mencuri pandang pada Gerald yang berada tepat di belakang Zeva.
Tanpa diduga-duga, Zeva menghempas kasar tangan Aldevaro dari pergelangan tangannya. Raut wajahnya pun tampak begitu dingin ketika bersitatap dengan Aldevaro.
Merasa ada yang aneh, Aldevaro sudah hendak kembali meraih tangan Zeva. Namun belum sempat cowok itu meraihnya kembali, Zeva sudah lebih dulu menjauhkannya.
“Va? Lo beneran marah sama gue?” Zeva spontan memalingkan wajahnya dari Aldevaro, ketika cowok itu melayangkan pertanyaan lain padanya.
“Entar jadi, ‘kan?” Sahut Gerald, yang posisinya masih setia berada di belakang Zeva dan Aldevaro.
Zeva yang sempat terhanyut beberapa saat akibat pertanyaan dari Aldevaro pun lantas menoleh ke belakang. Raut wajah yang semulanya terlihat datar dan dingin langsung berubah cerah seketika. “Jadi, dong. Harus!” Ujar Zeva, sengaja membesarkan volume bicaranya. Dan hal tersebut mampu membuat Aldevaro dibuat terbakar api cemburu.
Dengan kasar, Aldevaro menarik salah satu pergelangan tangan Zeva, membuat gadis itu tersentak sehingga perhatiannya berakhir pada cowok itu. “Apa-apaan lo berdua? Sengaja? Lo kalau marah sama gue jangan kayak gini. Gue gak suka.”
Zeva terdiam mencoba meresapi setiap untaian kata yang diucapkan Aldevaro. Dan entah mengapa, Zeva jadi ikut terbawa suasana, sehingga dengan kasar Zeva menepis tangan Aldevaro yang masih mencengkram pergelangan tangannya.
“Lo yang apa-apaan! Lo gak capek apa, setiap saat terus pura-pura kayak gini? Udah, ya, main-mainnya. Gue muak!” Saat Zeva hendak kembali melenggang, Aldevaro lagi-lagi menghentikan niatannya.
“Pura-pura? Maksudnya?”
__ADS_1
“Udahlah, Var, gak usah pura-pura lagi. Intinya lo cuman mau balas dendam, ‘kan, sama gue? Selamat! Lo udah berhasil bikin gue jatuh cinta lagi sama lo. Karena udah berhasil, udah, ya. Jangan ganggu gue lagi.” Terang Zeva, kemudian melanjutkan langkahnya tanpa mau menunggu Aldevaro membalas perkataannya.
Di tempatnya, Aldevaro terdiam memaku dengan berbagai isi pikiran yang mengacu pada satu hal. Dari mana Zeva mengetahui tentang hal tersebut yang bahkan sudah Aldevaro lupakan?
“Enggak! Ini harus dilurusin. Zeva-”
“Udahlah, Al, terima aja. Karena lo udah gak ada hubungan apa pun sama si Zeva, biarin kali ini dia jadi milik gue, oke?” Tepukan pelan di bahunya diiringi suara sahutan yang cukup menggelegar, lantas menghentikan Aldevaro.
Terlanjur terbawa suasana, Aldevaro lantas menatap Gerald dengan tatapan tajam seolah siap untuk membunuh. Sayangnya, hal tersebut tak sedikitpun membuat Gerald terintimidasi. Cowok itu bahkan semakin menjadi-jadi untuk terus memasang senyuman sinisnya teruntuk Aldevaro.
“Apa lo bilang?” Perlahan namun pasti, Aldevaro melangkahkan kakinya ke hadapan Gerald. Dan ketika jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa puluh sentimeter saja, barulah Aldevaro menghentikan langkah kakinya.
Gerald semakin menaikkan salah satu sudut bibirnya, seraya berjalan satu langkah ke hadapan Aldevaro. “Gue bilang, biarin dia sekarang jadi cewek gue. Barusan kalian putus lagi, ‘kan?” Bisik Gerald. Dan saat itu juga, Aldevaro langsung mendorong tubuh cowok itu sampai terhempas ke belakang.
Beberapa murid yang berada di area parkiran sekolah pun lantas dibuat berjerit menyaksikan Aldevaro dan juga Gerald yang sepertinya akan kembali bertengkar seperti sebelum-sebelumnya.
“Gak usah ngimpi lo, bangs*t! Zeva masih cewek gue. Selamanya gak akan pernah jadi milik siapa pun, kecuali gue.” Tekan Aldevaro. Terdengar suara gelak tawa dari Gerald yang semakin membuat Aldevaro terbawa suasana. Sebisa mungkin Aldevaro menahan dirinya untuk tidak semakin mengamuk saat itu juga.
“Mau taruhan? Entar habis pulang sekolah gue bakalan jemput dia di rumahnya. Dan lo, lo udah di blacklist sama dia. Gak percaya? Lo bisa ikutan dateng jam 4 sore ke rumahnya. Kita lihat, dia bakal pilih lo, atau gue.”
****
Tok tok tok!
Zeva refleks melirik jam dinding yang berada tepat di dalam kamarnya. Kedua alis gadis itu lantas berkerut saat tepat pukul 4 sore terpampang jelas di sana.
“Tepat waktu banget. Beneran udah nyampe tuh anak?” Zeva bergumam, seraya mengaplikasikan loose powder ke wajahnya. Hanya tipis-tipis, setelahnya Zeva mengoleskan sedikit liptint berwarna ceri di bibirnya.
Setelah dirasa cukup, Zeva meraih tas selempang yang sudah terdapat ponsel dan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Uang hasil tabungannya serta perbekalan dari sang mama yang meninggalkannya untuk pergi dinas selama beberapa hari.
Tok tok tok!
Bunyi ketokan di pintu depan rumahnya kembali terdengar, membuat Zeva spontan mendengus sebal disela langkah kakinya keluar dari dalam kamar.
“Bentar!” Teriak Zeva, sebelum gadis itu benar-benar mencapai pintu depan.
“Tumben banget datengnya tepat waktu? Giliran ke sekolah aja suka terlam-”
“Va!”
Zeva menggantungkan ucapannya, tepat ketika ia telah sepenuhnya membukakan pintu tersebut. Seseorang yang Zeva kira ialah Gerald, cowok yang mengajaknya janjian untuk keluar, nyatanya bukanlah Gerald. Melainkan Aldevaro.
Zeva langsung membuang muka dari Aldevaro yang tengah menatapnya dengan tatapan yang cukup intens.
“Lo mau ke mana di jam segini?” Sahut Aldevaro pelan, tak sedikitpun digubris oleh Zeva.
Bertepatan dengan itu, suara klakson motor yang cukup memekakkan telinga terdengar dari depan sana. Refleks keduanya menoleh ke arah sumber suara, di mana di sana terdapat Gerald yang baru saja sampai langsung melepas helm.
“Hai, udah lama nunggu?” Sahut Gerald, sengaja menebarkan senyuman manisnya pada Zeva. Tak peduli jika di sana ada Aldevaro sekalipun yang menatapnya dengan tatapan tak suka.
“Enggak lama, kok. Baru juga keluar,”
Ketika Zeva hendak melangkah meninggalkan pintunya yang telah ia kunci, salah satu tangannya dicekal kuat oleh Aldevaro, menyebabkan langkahnya langsung terhenti, dengan fokus yang beralih pada Aldevaro.
Tak berlangsung lama, Zeva langsung menepis tangan Aldevaro yang mencekalnya. Ketika Zeva hendak kembali melangkah, Aldevaro lagi-lagi menahan pergerakannya, dan kali ini lumayan kasar.
“Lo apa-”
“Please, jangan pergi sama dia, Va! Dengerin penjelasan gue, sekali aja, gue mohon!” Zeva tersentak, saat dengan spontan Aldevaro memeluknya cukup erat. Sempat terdiam beberapa saat, Zeva kemudian mendorong Aldevaro cukup kuat, sehingga pelukan yang diciptakan oleh cowok itu akhirnya terlepas.
“Gue udah cukup sabar selama ini, Var. Makasih buat perhatian palsu lo selama ini.”
“Va! Zeva! Jangan tinggalin gue, Va! Gue bisa jelasin semuanya!”
__ADS_1
To be continue...