Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
22. Gerald's Party


__ADS_3

Zeva menatap ragu sebuah dress selutut tanpa lengan yang ia pakaikan pada sebuah manekin. Penampakan dress itu tampak elegan dengan warna keseluruhannya berwarna putih keabu-abuan. Hiasan berupa ornamen bunga bertangkai berwarna abu tua tampak menghiasi hampir seluruh permukaan dress tersebut. Dipadukan dengan sebuah ikat pinggang berwarna senada dengan gaun, semakin menambah kesan elegan dan feminin yang terpancar dari gaun itu.


Mau dilihat seberapa lama pun, Zeva semakin yakin bahwa dress cantik pemberian Gerald itu sudah pasti adalah sebuah barang mahal. Namun, Zeva tidak tahu berapa nilainya.


“Enggak pa-pa nih gue pake? Haduh, tuh orang kenapa sih seenaknya aja nyuruh gue dateng ke party-nya? Mana pake ngasih dress segala lagi.”


Perhatian Zeva kemudian beralih pada sebuah paper bag lain yang belum sempat ia buka.


Sedikit penasaran, Zeva akhirnya meraih paper bag tersebut yang ia taruh di atas tempat tidur, lalu mengambil barang yang berada di dalamnya. Dan, ya. Sebuah kotak berwarna putih dengan logo tertentu, yang Zeva tebak dalamnya adalah sepasang sepatu.


Dan benar saja. Ketika kotak tersebut telah sepenuhnya ia buka, terlihat sepasang high heels berwarna senada dengan dress yang tadi, kembali membuat Zeva terpana. Apalagi di high heels tersebut terdapat ornamen bunga yang hampir serupa dengan di dress yang tadi.


Zeva semakin dibuat tidak nyaman dengan semua pemberian dari Gerald. Semuanya terlihat begitu cantik, dan Zeva merasa tidak cocok mengenakan semua barang mahal ini.


Tetapi, jika tidak memakai dress pemberian Gerald, lantas apa yang harus Zeva pakai nanti? Haruskah Zeva tetap memakai semua ini?


“Zeva! Temen kamu nungguin di depan rumah tuh!” Sahutan Raya, sang mama yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya, seketika membuat Zeva terperanjat dengan sepasang bola mata yang terbelalak.


“Hah? Te-temen? Nungguin di depan rumah?” Beo Zeva, kemudian berdeham untuk menetralkan perasaan menggebu di hatinya.


“Iya! Katanya hari ini kalian mau ke pesta, ya? Kok, belum ganti baju?” Raya menelisik menatap inci ruang kamar putrinya yang agak berantakan. Tak berapa lama, perhatiannya langsung terkunci pada sebuah dress cantik selutut yang dipakaikan di badan sebuah manekin.


“Gaunnya cantik. Buruan pake, kasian temen kamu udah nuggu lama di luar! Disuruh masuk katanya gak usah. Mama ke dapur dulu, ya?” Cerocos mamanya, yang sosoknya kemudian menghilang dari balik pintu.


Zeva lagi-lagi menghela napasnya, seraya berlari ke arah jendela kamar yang belum sepenuhnya tertutup rapat. Ketika ada sedikit celah yang terdapat di jendela, Zeva mencoba mengintip keluar untuk memastikan apakah teman yang dikatakan mamanya tadi benar Gerald, atau bukan?


Sialnya, itu benar-benar Gerald!


Buru-buru Zeva pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap, sebelum cowok itu berakhir mengomel bawel seperti yang sebelum-sebelumnya.


****


Suara siulan menggoda, seolah menyambut Zeva yang baru saja keluar sembari kembali menutup pintu rumahnya. Diliriknya ke arah Gerald, cowok itu tampak tak henti-hentinya terus menatap Zeva dari atas sampai bawah. Sesekali, cowok itu juga akan berdecak kagum melihat penampilan Zeva malam ini yang terasa begitu berbeda.


“Lo cantik.” Ucap Gerald tiba-tiba, membuat Zeva semakin merasa tidak nyaman mengenakan pakaian yang jauh dari style favoritnya.


“Apaan sih lo! Kek orang mesum aja,”


“Buset! Gue muji, Neng! Malah dikatain mesum, gimana sih?” Gerald mendengus kesal sembari mengitari mobilnya, kemudian membukakan pintu samping kemudi untuk Zeva.


Di sisi lain, Zeva sempat kembali ragu. Mobil yang Gerald bawa kali ini lain dari yang pernah cowok itu pakai ketika bersamanya minggu lalu.


“Kenapa? Buruan masuk! Entar orang rumah gue pada panik, gara-gara yang punya party gak ada di tempat. Buruan!” Suruh Gerald. Dengan pasrah, Zeva pun menurut seperti yang dikatakan cowok itu.


****


“Al! Lo ke sini sama siapa? Kok gak bilang sama gue kalau lo juga mau ke party-nya Gerald?” Diandra menyahut lembut, disertai sentuhan halus yang gadis itu berikan pada salah satu bahu Aldevaro.


Aldevaro yang sebelumnya tengah melamun sembari termenung lantas menoleh. Raut wajah datarnya pun seketika menampilkan seulas senyuman tipis ketika netranya menemukan sosok Diandra yang tampak manis dalam balutan dress selutut berwarna peach.


“Gue bareng si Daniel sama yang lain. Btw, ini ngundangnya satu angkatan?”


Diandra menghela napas panjang seraya menggendikan bahunya. “Kek gak tahu aja sifatnya gimana?” Balas Diandra, kemudian terkekeh.


“Al, ke sana, yuk! Sekalian sapa Mama Papa gue.” Diandra menunjuk ke depan, tempat di mana sekumpulan orang-orang penting berada di sana.


Ya, bisa dibilang pesta ulang tahun Gerald ini isinya bukan hanya orang-orang dari sekolah saja. Banyak dari rekan kerja orangtuanya bahkan kolega-kolega bisnis terkenal yang hadir ikut memeriahkan. Tidak heran jika pestanya pun digelar di sebuah ballroom hotel yang didekor dengan dekorasi mewah dan elegan. Penampakan pesta tersebut pun lebih seperti sebuah pesta pertunangan dibandingkan dengan sebuah pesta ulang tahun.


“Nanti aja. Mereka kelihatan lagi sibuk ngobrol sama tamu,” tolak halus Aldevaro, yang diangguki anggukkan setuju oleh Diandra.


“Iya sih. Kalau gitu lo mau gabung sama kumpulan temen-temen sekolah kita aja?” Tanpa diduga-duga, Diandra kemudian memeluk salah satu lengan Aldevaro. Raut wajahnya pun tampak berseri ketika bersitatap dengan Aldevaro.


Merasa kurang nyaman, Aldevaro sudah hendak melepaskan tangan Diandra, namun gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya. “Udah, yuk ikut!” Ujar Diandra lagi, kemudian menarik lengan Aldevaro, tanpa berniat menunggu cowok itu membalas ajakannya.


Setibanya di kumpulan anak-anak sekolahnya, mereka yang tadinya sempat mengobrol dan bercanda, langsung menghentikan candaan mereka. Perhatian mereka pun spontan langsung tertuju pada Aldevaro dan Diandra yang kian hari kian lengket seperti pasangan kekasih.

__ADS_1


“Iiiih, baru juga udah lepas dari si Zeva, sekarang malah muncul satu lagi.” Celetuk Stella, posisi gadis itu berada cukup jauh dari Aldevaro dan Diandra yang berada di tengah-tengah.


“Udahlah, Stell, nyerah aja!” Ucap Joy, tak henti-hentinya terus mengingatkan Stella.


“Dari pada lihatin doi orang, mending lihatin doi nasional kita.” Celetukan itu berasal dari mulut Abhigail, anak kelas XII IPS 3 yang juga berteman cukup dekat dengan Stella, khususnya Joy.


Perkataan dari Abhigail sontak mendapat tatapan menyelidik dari Stella, Joy, Rena dan Gina. “Doi nasional? Siapa?” Tanya Joy, yang diangguki Stella dan yang lain.


Abhigail tampak merotasikan bola matanya sembari berdecak. “Ya elah, siapa lagi kalau bukan si Daniel Arsenio? Lihat dia, hidupnya bebas banget. Dia gak punya doi, tapi di hati para ciwi-ciwi, dia adalah doi idaman! Andai dia lirik gue, dikit aja, hiks!”


“Ah, males. Tuh orang playboy cap bango! Gak heran gak punya doi,”


“Tapi iya juga sih. Tapi gak pa-pa, asalkan dia kagak punya doi, mukanya masih lumayan,”


“Apanya yang lumayan? Dia yang paling ganteng menurut gue!” Tekan Abhigail, membuat Joy yang sedari tadi menyimak, dibuat tersedak ludahnya sendiri.


“Gak salah lo, Bhi? Lo demen ama modelan kek si Daniel? Mata lo beneran gak pa-pa?” Joy menatap lekat-lekat Abhigail, membuat Stella dan teman perempuannya yang lain hanya tertawa sembari geleng-geleng kepala. Tidak dengan Abhigail yang mendengus jengah.


“Apaan sih lo! Emangnya kenapa kalau gue demen sama tuh orang?”


“Enggak kenapa-kenapa, cuman reaksi agresif lo barusan kek fans-fans fanatik,”


“What? Lo bil-”


“Udah, udah! Kok kalian malah jadi berantem sih? Malu woi, ini di party orang! Lihat dong dekorasinya aja gak maen-maen, masa lo berdua barbar gitu sih? Cuman gara-gara si Daniel doang?” lerai Gina, yang dibalas anggukan setuju oleh Stella.


“Hadeuh, kalau orangnya denger pasti bahagia banget tuh orang.” Celetuk Rena.


Tak berapa lama, situasi di antara mereka pun mulai kembali tenang seperti sebelumnya. Sayangnya, situasi tenang tersebut hanya bertahan beberapa saat. Kebanyakan dari anak-anak lain mulai heboh gosip sana-sini, yang membuat perkumpulan Stella dan yang lain ikut heboh, lagi.


“Mereka pada ngomongin apa sih? Heboh banget perasaan,” Rena menyahut kepo. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya menggeleng pelan dengan fokus ke mana-mana.


“Keknya di depan, deh. Coba kita terobos ke depan!” Ujar Joy, kemudian menerobos berjalan ke depan, seolah mewakili teman-temannya yang juga merasa kepo.


Tidak dengan Joy yang berhasil menerobos, karena gadis itu memang cukup gesit untuk hal-hal seperti itu. Dan, ya. Suatu hal yang membuat anak-anak sekolahnya menggosip sana-sini kini mulai dipahami oleh Joy. Raut wajah gadis itu langsung berubah pucat pasi ketika di hadapannya, tampak Zeva tengah diperebutkan oleh dua orang lelaki yang bisa kalian tebak siapa mereka.


“Mampus! Jangan-jangan mereka mau berantem lagi?”


****


“Gue mau ke tempat lain aja.” Saat Aldevaro hendak melepaskan tangan Diandra, gadis itu lagi-lagi menahannya. Raut wajahnya tampak memelas, seolah ia tidak ingin terlepas sedetik pun dari Aldevaro.


“Kenapa? Lo gak suka di sini?”


“Gue-” Aldevaro sontak menghentikan ucapannya, ketika sepasang netranya tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan asing yang sanggup membuat napasnya tercekat. Bahkan, tangannya sudah mulai terkepal kuat di bawah sana.


Melihat reaksi tak biasa dari Aldevaro, Diandra lantas menjatuhkan perhatiannya pada apa yang tengah dilihat Aldevaro. Belum sempat ia benar-benar menjatuhkan perhatiannya, Aldevaro sudah lebih dulu melenggang meninggalkan Diandra yang dibuat memaku dengan sepasang bola matanya yang terbelalak.


“Al?!” Sahut Diandra, seraya berlari mengekori Aldevaro. Tak butuh waktu lama, Diandra sudah dapat kembali mengejar langkah Aldevaro yang entah mengapa tiba-tiba berhenti.


Dengan manja, tangan gadis itu kembali memeluk lengan Aldevaro. “Kenapa sih, Al? Kok, lo lari-larian?” Tak ada balasan apa pun dari Aldevaro. Karena merasa penasaran, akhirnya Diandra ikut mengalihkan perhatiannya ke depan. Dan saat itu juga, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, saat sepasang remaja yang tak lain ialah Gerald dan Zeva, baru saja tiba memasuki ballroom hotel.


Merasa atmosfer di sekitar mulai terasa mengerikan, Diandra memutuskan untuk melepaskan pelukannya dan menjauh dari Aldevaro. Siapa yang akan mengira, Aldevaro justru menahan tangan Diandra, membuat gadis itu tanpa sadar menoleh ke arahnya. Tanpa ia sadari pula, hatinya merasa bahagia karena Aldevaro yang mulai bersikap tak biasa.


Di depan sana, Zeva mencoba menelan ludahnya susah payah dengan dadanya yang entah mengapa terasa begitu sesak. Berbeda dengan Gerald yang tersenyum puas di sampingnya. Cowok itu bahkan dengan terang-terangan menggenggam tangan Zeva. Membuat Aldevaro yang masih terdiam di tempat semakin dibuat tersulut emosi, dan yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan melihat gadisnya berpegangan tangan dengan laki-laki lain.


“Lo juga ke party gue, Al? Gue kira lo gak bakal dateng,” sahut Gerald, kemudian menarik pelan tangan Zeva agar posisi mereka semakin berdekatan, sehingga Aldevaro akan semakin dibuat emosi melihatnya.


“Lo lupa? Gue selalu dateng disetiap pesta ulang tahun lo! Gue bukan lo yang gak pernah hadir di setiap kali gue ulang tahun.” Balas Aldevaro, namun tatapannya malah tertuju pada Zeva yang tampak membuang muka.


“Oh ya? Sorry, kalau gue gak pernah dateng! Tapi buat pesta lo tahun depan, gue pastiin bakal dateng sambil bawa hadiah spesial buat lo,” terang Gerald. Saat cowok itu hendak melangkah sembari menggandeng tangan Zeva, Zeva lantas menepis tangan Gerald sampai terlepas. Tanpa mengatakan apa-apa, gadis itu kemudian melenggang dari sana, meninggalkan Gerald, bahkan Aldevaro yang sedari tadi terus-menerus menatap ke arahnya.


Mulai muak dengan berbagai sandiwara yang tiada artinya, Aldevaro ikut melenggang dari sana, namun bukan berniat untuk mengejar Zeva. Cowok itu lebih memilih pergi ke luar untuk menenangkan diri.


Di samping itu, Gerald terus-menerus mengulum senyum. Hal yang selama ini selalu menjadi khayalannya, di mana Aldevaro tersiksa seperti hari ini, kini benar-benar terjadi tepat di depan matanya.

__ADS_1


Berbeda dengan Diandra yang terdiam dengan berbagai pemikiran di otaknya. Saat gadis itu hendak berniat menyusul Aldevaro, langkahnya dihentikan Gerald. “Mau ke mana lo?” Sahut Gerald, disertai tatapan menusuk, yang ditujukan pada Diandra.


“Gue-”


“Gak usah sok-sokan ngasihanin dia. Atau kalau lo masih mau nyamperin tuh orang, gue bisa aja gak pernah nganggap lo ada selamanya di hidup gue, Pengganti.”


****


“Bang! Sejak kapan lo ngerokok?” Sahutan yang cukup nyaring itu membuat sang empunya nama seketika menolehkan kepalanya ke belakang, dan sudah ada Chiko dengan tampang syoknya sembari terus berjalan menghampirinya.


“Lo di sini, Ko?” Sahut Aldevaro, sembari menggeser sedikit tempat duduknya untuk ditempati Chiko.


Chiko belum membalas sahutan dari Aldevaro. Cowok itu masih terlalu syok dengan pemandangan di luar dugaan di hadapannya, di mana Aldevaro, cowok yang paling anti dengan hal merokok, kini tengah menyesap sebatang rokok yang menyala di mulutnya.


“Kok, gak ke dalem?”


“Ngapain? Ngelihatin pacar sendiri digandeng sama cowok lain, gitu maksudnya?”


Chiko mendesah pelan seraya menajamkan matanya ketika Aldevaro masih saja menyesap rokok yang panjangnya sudah hampir setengahnya.


“Bang, udah napa? Lo kenapa sih? Aldevaro yang gue kenal gak pernah ngerokok kek gini! Lo ada masalah ‘kan sama cewek lo?”


Aldevaro tak langsung menjawab pertanyaan dari Chiko. Cowok itu malah dengan santainya membuang sisa rokoknya, kemudian menginjaknya hingga hancur tak bersisa. “Gak tahu. Gue aja gak ngerti kenapa dia tiba-tiba kayak gitu.”


“Jangan-jangan bener lagi.” Gumam Chiko, yang terdengar dengan sangat jelas oleh telinga Aldevaro. Sontak cowok itu menoleh dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


“Maksud lo?” Terdengar helaan napas panjang dari mulut Chiko, yang membuat Aldevaro semakin penasaran akan apa maksud dari perkataan cowok itu barusan.


“Gue mau tanya satu hal sama lo, Bang!”


“Apa?”


“Seminggu yang lalu, waktu kita latihan band di ruang musik, lo sama yang lain lagi ngebahas apa?” Pertanyaan Chiko membuat Aldevaro mengerutkan keningnya. Sebisa mungkin cowok itu mengingat kejadian demi kejadian di hari itu.


“Emangnya kenapa?” Buntu, otaknya seolah tak dapat diajak bekerja sama untuk mengingat hal demi hal yang terjadi satu minggu yang lalu.


Chiko lagi-lagi menghela napasnya. “Waktu itu gue minta kalian buat break bentar ‘kan? Lo inget, waktu gue bilang mau ke toilet bentar?”


Aldevaro kembali mengingat-ingat kejadian hari itu. Tak berapa lama kemudian, ia mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mengingat potongan demi potongan kejadian hari itu.


“Waktu gue baru selesai dari toilet, gue ngelihat cewek lo nangis di depan ruang musik. Sebenarnya lo sama yang lain ngebahas apa sih waktu itu?”


“Apa? Zeva ke ruang musik?” Aldevaro sontak bangkit dari posisinya, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Chiko. Raut wajahnya bahkan berubah pias kala mengingat apa saja yang dia dan teman-temannya bahas sepeninggalan Chiko ke toilet.


Sial!


Jadi ini penyebab Zeva bersikap seperti sekarang? Sepertinya, Zeva telah mendengar pembicaraan mereka sehingga berakhir salah paham seperti sekarang ini.


“Enggak! Ini gak bisa dibiarin. Gue harus samperin Zeva!” Saat Aldevaro hendak melenggang, Chiko tiba-tiba menahan lengannya. Membuat perhatian Aldevaro lantas kembali pada cowok itu dengan sesekali menatapnya tajam, kemudian menepis tangannya.


“Tunggu, Al!”


“Tunggu apa lagi sih, Ko? Gue mau nyamperin Zeva!”


“Al!” Bentak Chiko, ketika sang pemilik nama masih saja bersikap keras kepala, tak mau mendengarkan ucapannya. “Dengerin gue! Lo gak bisa samperin cewek lo sekarang. Situasinya gak memungkinkan.”


“Kenapa enggak bisa? Emangnya Zeva lagi ngapain di dalem?” Ucapan tak terduga dari Aldevaro, seketika membuat Chiko gelagapan di tempatnya.


Sial! Gimana nih?


“Cewek lo lagi- Eh, lo mau ke mana? Aldevaro! Bang!” Chiko refleks mengerang frustasi, saat tanpa mau mendengarkan penjelasannya, Aldevaro langsung melenggang meninggalkannya.


“Aaaarghhhh! Bangs*t lo, Ko! Gak bilang, salah. Bilang, makin salah. Gimana kalau mereka sampe berantem lagi?!” Gerutu Chiko, sebelum pada akhirnya cowok itu memilih mengekori langkah Aldevaro yang telah lebih dahulu meninggalkannya.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2