Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
14. Balikan


__ADS_3

Sesampainya di rooftop, Zeva langsung melepaskan cekalan tangan Aldevaro dari tangannya. Tatapan mata gadis itu berubah menelisik saat Aldevaro malah terdiam dengan fokus yang belum juga beralih dari wajah cantik Zeva.


Karena gugup terus-menerus ditatap sedekat itu oleh Aldevaro, Zeva lantas memundurkan langkah kakinya dengan kepalanya yang menoleh ke samping. Siapa yang menyangka jika Aldevaro malah mengikuti Zeva dengan melangkahkan kakinya mendekati gadis itu dengan tatapan yang belum juga beralih dari wajahnya.


“Lo … ada apa bawa gue ke sini?” Zeva memberanikan diri bertanya lebih dulu pada Aldevaro. Sudah cukup dirinya terus menahan diri untuk tetap diam, seperti yang dikatakan oleh hatinya.


Bukannya membalas pertanyaan Zeva, Aldevaro malah menarik pinggang gadis itu supaya lebih mendekat, seperti yang sempat dia lakukan pada Zeva tempo kemarin.


Mendapat perlakuan yang sama seperti yang pernah terjadi kemarin saat sepulang sekolah, jelas membuat Zeva terkejut sampai bola matanya membulat sempurna. Saat hendak melepaskan diri, Aldevaro lagi-lagi menahannya, seperti saat kemarin.


“Lo apa-apaan sih? Le-lepasin!” Cicit Zeva, tak lantas membuat Aldevaro menurut kemudian melepaskan Zeva seperti yang diinginkan oleh gadis itu.


“Gue ulangi apa yang pernah gue bilang berkali-kali sama lo. Gue masih sayang sama lo, dan gue juga yakin kalau lo juga masih punya perasaan yang sama ke gue. Semuanya terbukti pas kemarin lo bales ciuman gue. Please! Gue mau kita kayak dulu lagi, Va. Apa sesulit itu permintaan gue?”


Zeva seolah dibuat membisu akan perkataan merentet dari Aldevaro yang wajahnya hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari jangkauannya. Demi apa pun, jika Zeva boleh berkata jujur, ya, dirinya masih memiliki perasaan yang sama pada Aldevaro.


Namun, apakah Zeva masih pantas?


“Sulit. Jawabannya adalah sulit, Var.” Perlahan namun pasti, Zeva menjauhkan diri dari Aldevaro yang perlahan mulai lengah di tempatnya. Gadis itu bahkan sempat mundur beberapa langkah agar posisinya tidak terlalu berdekatan dengan Aldevaro.


Kini giliran Aldevaro yang terdiam. Raut wajah cowok itu berubah sendu dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


“Kenapa? Bukannya lo juga masih sayang sama gue?” Pertanyaan terakhir dari Aldevaro membuat Zeva gelagapan. Raut wajahnya bahkan sudah bersemu dengan jantungnya yang berdegup tak karuan.


“Ka-kapan gue ngomong gitu?”


Aldevaro menaikkan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian yang sanggup membuat bulu kuduk Zeva meremang. Dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke hadapan Zeva supaya wajahnya bersejajaran dengan wajah gadis itu, Aldevaro kemudian menarik pergelangan tangan Zeva dan menggenggamnya dengan penuh perasaan.


“Balasan dari ciuman lo kemarin udah cukup membuat gue yakin kalau lo juga masih ada perasaan sama gue.” Bisik Aldevaro, tepat di telinga Zeva.


Dengan panik, Zeva langsung mendorong dada bidang Aldevaro yang mulai semakin berani berdekatan dengannya. Dadanya mulai naik turun dengan napasnya yang mulai sedikit memburu. Tanpa pernah Aldevaro sangka, Zeva mulai menangis di hadapannya. Air mata gadis itu luruh begitu saja tanpa berniat mau dibendung seperti biasa.


“Lo nangis? Gue … gue ada salah ngomong? Gue minta maaf kalau gue keterlaluan. Gue-”


“Lo kenapa sih, Var? Lo tuh harusnya benci sama gue! Gue udah mutusin lo secara sepihak tanpa persetujuan lo, tapi kenapa lo malah kayak gini? Benci sama gue, Var, gue mohon! Gue lebih suka dibenci daripada diginiin. Gue merasa semakin bersalah sama lo kalau lo terus-terusan kayak gini, asal lo tahu itu!” Pekik Zeva, tanpa memedulikan Aldevaro yang belum menyelesaikan kalimatnya.


Aldevaro sempat terdiam beberapa saat. Namun tak berapa lama kemudian, dia tersenyum tipis. “Itu artinya, lo masih punya perasaan yang sama ‘kan, sama gue?”


Zeva melepas kacamatanya, kemudian menyeka kasar air matanya yang lagi-lagi lolos menuruni wajahnya. Dengan menelan ludahnya susah payah, gadis itu mengangguk beberapa kali dengan air matanya yang kian deras menuruni wajah cantiknya.


“Iya! Gue masih sayang sama lo, tapi gue gak bisa balikan sama lo! Gue gak pantes buat lo, Var! Lo gak boleh suka lagi sama cewek yang udah pernah nyakitin hati lo. Gue-” Zeva menghentikan perkataannya, ketika Aldevaro menarik tangannya, mengikis jarak di antara keduanya.


“Gue gak bisa benci sama lo, Va. Seberapa sering pun gue mencoba, gue tetep gak bisa. Lo terlalu berarti di hidup gue. Gue gak peduli lagi sama masa lalu. Sekarang, gue mau lo. Gue mau lo jadi milik gue. Tolong jangan pergi lagi, Va. Gue gak bisa kalau tanpa lo di sini.” Lirih Aldevaro. Tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi, cowok itu mulai menarik Zeva ke dalam pelukannya.


****


“Joy!” Joy yang namanya dipanggil pun lantas berdeham pelan, dengan sepasang bola matanya yang masih setia terpejam. Omong-omong, gadis itu tengah merebahkan dirinya di atas beberapa kursi yang sengaja disejajarkan di dalam kelas.


“Lo … yakin kalau Si Murid baru itu … mantannya Aldevaro?” Pertanyaan yang tiada habisnya itu seolah terus-menerus Joy dengar dari beberapa siswi yang berbeda hari ini. Dengan kesal, gadis itu membuka matanya dan mulai mengubah posisi menjadi terduduk. Tatapan matanya pun berubah tajam kala bersitatap dengan seorang gadis yang belum lama ini menanyai pertanyaan yang sama berulang kali.


“Kenapa sih lo bawel banget? Iya, dia bilang sendiri sama gue kalau dia itu mantannya Si Aldevaro! Berapa kali sih gue harus bilang ini, hah? Lo pikir gue gak capek apa jawab pertanyaan lo semua soal tuh cowok?” Sentak Joy, mampu membuat beberapa temannya terdiam dengan bibirnya yang mengerucut.


“Cuman mantan ‘kan? Bukan berarti mereka bakal balikan juga,” gerutu Stella, gadis yang sempat menanyai Joy beberapa saat lalu.


Dengan menarik napas dalam-dalam, Joy kembali menjatuhkan tatapannya pada gadis itu dengan tatapan yang lebih menusuk dari sebelumnya. “Lo gak lihat waktu Si Aldevaro senyum pas nyamperin Si Zeva di gedung olahraga waktu itu? Dari tatapannya aja udah kelihatan, kalau tuh cowok masih ada rasa sama Si Zeva.”

__ADS_1


Stella lagi-lagi dibuat cemberut oleh perkataan Joy. Rena yang duduk di sebelah Stella pun mau tak mau menenangkan gadis itu dengan mengusap pelan lengannya. “Udah, Stell. Cowok ganteng masih banyak kok. Ya, ‘kan, Joy?”


“Tapi gue maunya cuman Aldevaro! ALDEVAROO!!!! Dia itu tipe gue bangettttt huwaaaa! Kenapa sih Si Zeva-Zeva itu dateng ke sekolah ini? Padahal tinggal dikit lagiiiiii aja gue bisa jadian sama dia.” Celotehan Stella ditanggapi kekehan sarkas oleh Joy.


“Halu lo? Dikit lagi bisa jadian dari mana anj*r? Tuh Gunung Es baru bisa nampilin senyumannya aja pas awal-awal ada Si Zeva di sekolah ini! Dideketin sama lo? Lo lupa kalau dia pernah natap lo dengan tatapan bengisnya?”


“JOVANKAAAA! Lo bisa gak sih, hibur gue dikit aja, hah?! Udah mulai pindah haluan, ya, sekarang. Ngedukung Si Zeva lo?” Stella sudah kehilangan kesabarannya. Napas gadis itu memburu dengan raut wajahnya yang memerah padam menahan amarah.


Joy tersenyum miring menanggapi Stella. “Kalau hiburan palsu dari gue bisa bikin lo terjatuh semakin dalam, gue lebih milih berkata apa adanya buat nyadarin lo. Kalau sampai kapan pun, lo gak akan pernah bisa dapetin hati Si Aldevaro.”


****


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa dan siswi dari berbagai penjuru kelas mulai berhamburan dari kelas masing-masing. Tak terkecuali dengan kelas XII IPA 2, kelasnya Zeva. Saat pembelajaran baru saja dibubarkan, kelasnya yang tadinya heboh, mendadak semakin heboh dengan perhatian mereka yang sesekali tertuju pada pintu kelas yang terbuka lebar.


Karena penasaran, Zeva ikut menjatuhkan fokusnya ke sana. Dan betapa terkejutnya saat seseorang yang teramat Zeva kenali, tengah berdiri di depan pintu kelasnya dengan posisi memunggungi.


Mulut Zeva yang tadinya terkatup rapat mendadak terbuka. Perhatiannya pun kini beralih pada teman-teman sekelasnya yang ternyata tengah menatapnya dengan tatapan datar.


“Cieee… siapa tuh yang di depan?” Suara cekikikan Joy, mengalihkan perhatian Zeva. Tidak dengan teman-temannya yang lain yang tampak jengah dan memilih untuk segera meninggalkan kelas.


“Ap-paan sih?” Dengan gugup sekaligus malu, Zeva berlari keluar dari dalam kelas. Saat sudah sampai di depan pintu, Aldevaro yang tadinya berdiri memunggunginya, perlahan membalikkan tubuhnya. Dan hal pertama yang dia lihat adalah raut tegang Zeva. Seulas senyuman manis lantas terbit di wajah tampannya.


“Lo ngapain di sini?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Zeva. Tanpa mencoba mendengarkan jawaban dari mulut Aldevaro, gadis itu langsung saja menarik tangan Aldevaro untuk segera menjauh dari area kelasnya.


Aldevaro yang ditarik seperti itu pun hanya bisa diam seraya mengulum senyum manisnya. Diam-diam dirinya merasa senang saat Zeva mulai bersikap seperti semula. Fokus sepasang netranya seolah hanya tertuju pada punggung Zeva yang memimpin jalan di depan.


Zeva menghentikan langkah serta melepaskan tangan Aldevaro dari cekalan tangannya, tepat ketika keduanya saat ini tengah berada di lapangan sekolah yang terlihat sudah cukup sepi.


Tak berapa lama kemudian, gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap Aldevaro dengan raut wajahnya yang tampak memerah. Entah karena gadis itu tengah menahan malu atau sedang menahan amarah, yang pasti, raut wajahnya terlihat begitu menggemaskan di mata Aldevaro.


“Gak usah cemberut gitu. Makin gemes tahu, gak.” Ujar Aldevaro spontan, sanggup membuat Zeva tersentak, sehingga dengan refleks gadis itu langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Aldevaro.


Aldevaro tak langsung menjawab celotehan Zeva. Cowok itu malah terkekeh pelan, dengan salah satu tangannya meraih tangan Zeva. “Siapa yang ngegosipin lo? Bilang sama gue, tar gue kasih pelajaran sama orangnya. Berani-beraninya dia gosipin pacar gue.” Ujar Aldevaro, sanggup membuat jantung Zeva dibuat bergetar, sehingga dengan refleks gadis itu menepis tangan Aldevaro dari tangannya.


Bukan Aldevaro namanya kalau tidak keras kepala. Cowok itu malah dengan santainya kembali menarik tangan Zeva dan menggenggamnya erat.


“Udah. Pulang, yuk! Mumpung udah sepi.” Bisik Aldevaro, entah mengapa terdengar sangat mengesalkan di telinga Zeva. Namun, Zeva memilih diam dan tak mengungkit maksud dari deretan kata-kata yang diucapkan oleh Aldevaro. Gadis itu memilih pasrah saat Aldevaro menarik tangannya ke sana ke mari agar mengikuti langkah kakinya.


****


“Gak usah natap-natap gitu, deh. Gue colok mata lo, ya, lama-lama!” Zeva menyipitkan matanya ketika menyadari bahwa sedari dia turun dari atas motor Aldevaro, cowok itu terus-menerus menatap wajahnya dengan tatapan yang tak biasa.


Bukannya membalas perkataan Zeva, Aldevaro malah tersenyum aneh yang membuat bulu kuduk Zeva tiba-tiba berdiri.


“Kenapa sih? Sadar woi!”


“Ck. Lo mah gak ada romantis-romantisnya jadi pacar. Kalau gue senyum kek barusan tuh, senyumin lagi kek, apa kek. Dasar Es Krim!”


Tiba-tiba Zeva mengernyitkan dahinya. “Kok, es krim?”


“Iyalah. Dingin tapi manis, kayak es krim.” Jelas Aldevaro, diakhiri dengan menaikturunkan kedua alisnya.


Demi apa pun, Zeva tidak dapat menahan senyumannya ketika Aldevaro mulai berkata-kata manis tentang dirinya. Entahlah, bawaannya salting, dan Zeva tak bisa menyembunyikan perasaan itu.


“Apaan sih! Gak usah gombal deh. Mendingan lo pulang sekarang. Pulang! Pulang, gak!” Suruh Zeva, yang direspon gelak tawa oleh Aldevaro. “Cieee… salting. Gue ganteng, gak, Va?”

__ADS_1


“Dih, apaan, random banget pertanyaan lo!? Enggak, lo jelek! Sana pulang!” Suruh Zeva lagi. Semburat merah tak lagi dapat Zeva sembunyikan di kedua pipinya.


“Kok, jelek? Gantenglah! Kalau gue jelek, lo mana mau balikan sama gue.” Celetuk Aldevaro, semakin membuat Zeva dongkol berlama-lama bersama Aldevaro.


“Pulang, Varooooo!”


“Iya, Sayangggg… bawel banget dari tadi.” Cetus Aldevaro, membuat Zeva semakin dibuat gelagapan di tempatnya. Debaran jantungnya bahkan sudah berdegup sangat kencang dengan raut wajahnya yang kian memerah, karena ulah Aldevaro yang bisa-bisanya memanggilnya dengan panggilan “sayang”.


“Sayang-sayang, pala lo peyang!”


“Kasar banget. Untung gue masih tetep cinta,”


“Varo, iiihhhhh!”


“Iya, iya, ini pulang! Noh, pake dulu helm. Puas, hm?” Aldevaro mulai menghidupkan kembali motornya setelah iaselesai memakai helmnya kembali. Setelahnya, sebelum Aldevaro benar-benar pergi, ia menyempatkan diri untuk kembali menggoda Zeva dengan mengedipkan sebelah matanya. Selepasnya, tanpa mengatakan sepatah dua patah kata, Aldevaro beserta motornya pergi begitu saja seperti yang telah beberapa kali disuruh oleh Zeva.


“Gila! Apaan coba?” Pekik Zeva, tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Sialnya, jantungnya dibuat berdegup semakin kencang akibat ulah Aldevaro, lagi.


****


Drrtt… Drrtt… Drrtt…


Suara dering ponsel yang ditaruh sembarangan di atas tempat tidur, mengenyahkan fokus Aldevaro yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, menyelesaikan ritual mandi sorenya.


Saat ia mulai meraih ponselnya, seketika helaan napas kecewa keluar begitu saja. Pikirnya, yang tengah meneleponnya saat ini adalah Zeva. Ternyata mamanya.


“Halo, Ma-”


“Kamu di mana? Si Mbok bilang kamu udah berhari-hari ninggalin rumah. Kabur kamu, hah? Pulang, gak?” Aldevaro refleks menjauhkan ponselnya saat suara nyaring milik sang mama menyapa gendang telinganya. Dengan menghela napas terlebih dahulu, cowok itu kembali mendekatkan ponselnya pada daun telinganya. Tak lupa, Aldevaro pun memasang senyuman terpaksa yang sayangnya tak dapat disaksikan oleh sang mama.


“Eeh, Mama! Mama gimana kabarnya? Baru pulang dari Paris pasti capek, ‘kan? Mendingan Mama sekarang-”


“Pulang, Al! Kamu ngapain sih, pake tinggal di apartement segala? Punya uang dari mana kamu? Minta sama Papa, iya? Mama marahin Papa kamu entar, lihat aja.” Celotehan mamanya yang lagi-lagi memotong kalimatnya membuat Aldevaro tanpa sadar mengepalkan kepalan tangannya, dengan kedua sudut bibirnya yang semakin melengkung membentuk senyuman palsu.


“Mama mau marahin Papa kayak gimana juga percuma. Orang Al dapet apartementnya bukan dari Papa, kok.”


“Oh! Kamu minta sama Kakek, iya? Udah Mama bilangin berapa kali sama kamu, jangan minta yang aneh-aneh sama Kakek! Kamu ini gimana sih, masih aja gak ngerti!? Kamu ‘kan, tahu kalau Kakek itu orangnya licik. Kamu-”


“Ma.” Sahutan pelan dari Aldevaro, refleks membuat mamanya mendengus. Raut wajah beliau pun tampak semakin kesal saat kembali membayangkan jika putranya meminta suatu hal yang besar pada pada sang kakek.


“Al gak minta, Ma. Ini hadiah ultah dari Kakek pas bulan kemaren. Kakek yang maksa sampe hampir tiap malem suka hubungin Al. Yaa, mau gak mau, Al terima.” Terdengar bunyi decakan sebal dari seberang sana.


“Kenapa harus apartement? Kenapa gak yang lain aja? Kamu ‘kan, bisa nawar sama dia. Secara ‘kan, apa pun yang kamu minta, dia bakal kasih tanpa syarat. Tapi walaupun gitu, Kakek kamu itu licik! Kamu gak boleh deket-deket sama dia!”


Aldevaro tampak berpikir sejenak untuk membalas pertanyaan merentet dari mamanya. Otaknya terus menimbang tentang, haruskah dirinya membalas jujur, atau bohong?


“Emm … Mama mau jawaban yang jujur atau yang …”


“Yang jujur lah, Al!” Sela sang mama. Detik berikutnya, kedua alisnya mulai berkerut dalam saat menyadari perkataan setengah-setengah dari putrannya. “Kamu yang minta, ya?” Tebaknya, membuat Aldevaro langsung dibuat gelagapan di tempatnya.


“I-itu …”


“Pulang sekarang, atau gak usah pulang ke sini lagi!” Pekik mamanya, langsung memutus sambungan telepon tanpa berniat menunggu Aldevaro membalas.


Di tempatnya, Aldevaro sudah dibuat ketar-ketir. Ponselnya langsung ia banting ke atas tempat tidur, dengan kedua tangannya yang mulai sibuk mengacak rambutnya yang masih sangat basah.

__ADS_1


“Mampus gue.” Dengus Aldevaro, kemudian meraih handuk lain yang ia taruh di atas meja belajar.


To be continue...


__ADS_2