Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
21. Undangan Resmi


__ADS_3

“Gue mau jelasin semuanya sama lo, Va. Gue mohon, lo dengerin gue kali ini. Gue janji, ini yang terakhir.” Tak ada balasan maupun jawaban dari gadis itu. Dia hanya terdiam membisu dengan kepalanya yang sedikit menunduk.


“Va, gue mohon!” Lirih Aldevaro, membuat Zeva spontan mendongak menatap raut kacau Aldevaro yang masih setia menatapnya.


“Lo gak perlu jelasin apa-apa lagi sama gue, Var. Hubungan kita emang dari awal udah salah. Gue cuman masa lalu di hidup lo. Gue ngerti, kok. Pasti lo sakit hati ‘kan sama apa yang udah gue lakuin ke lo? Dan sekarang, lo udah membalaskan semua rasa sakit lo ke gue. Sekarang gue tahu gimana rasanya.”


“Enggak gitu, Va! Denger-”


“Maafin gue, Var! Gue tahu, gue egois. Harusnya gue bisa jujur sama lo soal keadaan gue waktu itu. Harusnya waktu itu gue gak matiin hp gue, biar gue bisa putusin lo dengan cara baik-baik tanpa pake surat yang gue titipin ke Tante Regina. Gue bener-bener minta maaf!” Zeva menjatuhkan air matanya, tepat ketika ia telah menyelesaikan kalimat yang telah begitu lama ia pendam dalam hati.


Rasanya sakit dan menyesakkan. Dan ini semua adalah salahnya. Jika saja keadaan waktu itu tidak sedang kacau, mungkin hubungan keduanya tidak akan berakhir seperti sekarang ini. Zeva benci dengan hidupnya. Sangat.


Aldevaro memundurkan langkahnya melihat Zeva yang kembali menitikkan air mata karenanya. Bibirnya tiba-tiba menjadi kelu saat hendak mengatakan hal yang sudah sangat ingin ia jelaskan pada Zeva, walaupun ia tidak tahu dari mana Zeva mengetahui soal rencana awalnya yang hendak membalaskan dendamnya pada gadis itu.


“Pulang, ya, Var! Buat lo ini pasti mudah, karena selama ini lo cuman main-main sama gue. Tapi bagi gue, ketemu lagi sama lo di keadaan kayak gini membuat gue terluka. Gue udah terlanjur punya rasa lagi sama lo. Gue mohon, lo pulang, ya! Please!” Zeva menautkan kedua tangannya sejajar dagu, dengan kepala yang mendongak menatap Aldevaro penuh harap.


Aldevaro membuang mukanya dari Zeva yang masih setia menatapnya demikian. Hancur sudah kepercayaan diri Aldevaro untuk menjelaskan segala kesalahpahaman mereka pada gadis itu. Pikirnya, mungkinkah Aldevaro harus menunggu Zeva jauh lebih tenang dahulu, kemudian dia baru menjelaskan semuanya?


Tetapi, kenapa rasanya begitu berat?


Sudah cukup Aldevaro kehilangan Zeva selama kurang lebih dua tahun ini, dan Aldevaro tidak ingin kembali kehilangan Zeva untuk yang kedua kali.


Namun kembali, di sini Aldevaro juga bersalah. Seharusnya, ia tidak harus memiliki perasaan dendam itu, jika pada kenyataannya hatinya masih sangat menginginkan Zeva.


“Gue pulang. Jaga diri lo baik-baik, Tante Raya belum pulang ‘kan? Pintu sama jendelanya jangan lupa dikunci. Kita ngobrol lagi kalau lo udah siap.” Putus Aldevaro pada akhirnya. Dengan sangat berat hati, cowok itu melangkahkan kakinya meninggalkan Zeva yang masih terdiam mematung di tempatnya.


Sebelum benar-benar melenggang keluar, Aldevaro menyempatkan diri melirik ke belakang. Dan saat itu juga, Zeva langsung mengalihkan pandangannya.


Miris. Apakah mereka harus kembali berpisah? Dengan cara seperti ini? Sebuah kesalahpahaman terbesar yang entah darimana munculnya.


“Gue pulang!” Pamit Aldevaro. Setelahnya, cowok itu mulai menutup rapat pintu rumah Zeva, sehingga sosoknya telah sepenuhnya menghilang dari pandangan Zeva.


Sepeninggalan Aldevaro, Zeva menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan air mata yang lagi-lagi menerobos memaksa keluar. Kedua tangannya pun bahkan dengan refleks memeluk kedua lututnya cukup erat. Menyalurkan rasa sakit serta kekalutannya lewat pelukan dingin tersebut.


****


Satu minggu telah berlalu semenjak kejadian cukup dramatis yang terjadi di antara Zeva dan Aldevaro. Sepasang remaja itu seolah tidak pernah lagi saling bertemu, padahal kelas mereka berada tepat bersebelahan.


Ralat, mereka pernah berpapasan beberapa kali, namun tak berlangsung lama. Hanya sebuah kontak mata, yang kemudian itu pun berakhir dengan keduanya yang sama-sama mengalihkan pandangan ke arah lain. Seolah keduanya adalah sepasang orang asing yang tak pernah sekalipun terikat sebuah hubungan.


Di sebuah kantin saat ini, Daniel terus-menerus menatap cemas Aldevaro yang begitu tidak nafsu akan apa pun selama lebih dari satu minggu ini. Perhatiannya lantas beralih pada teman-temannya yang juga merasa cukup heran dengan perangai tak biasa dari cowok itu.


“Ekhem! Jam istirahat nih. Gue tebak, pasti bentar lagi anak-anak kelas sebelah juga bakalan pada ke kantin. Iya, ‘kan?” Daniel menyahut kikuk, berharap perkataannya barusan dapat mengundang pertanyaan dari Aldevaro.


Chiko, Theo, dan William, ikut berdeham seraya bergerak gelisah di tempatnya. Ketiga cowok itu tampak tertawa garing, seraya menyetujui pernyataan Daniel barusan.


“Pasti lo lagi nungguin cewek lo ‘kan, Bang?”


“E-eh, itu keknya cewek lo, deh? Gak mau lo samperin, Bang?”


Hening. Aldevaro sama sekali tidak mengindahkan sahutan dari teman-temannya. Untuk sekadar menoleh saja cowok itu seolah enggan, atau mungkin … malas?


“Eeh, lo mau ke mana?” Daniel refleks menarik tangan Aldevaro, saat tanpa mengatakan apa-apa, cowok itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Membuat perhatian Chiko, Theo, dan juga William lagi-lagi kembali pada Aldevaro.


“Balik.” Balas Aldevaro singkat, seraya menghempas tangan Daniel yang masih mencekalnya.


“Balik ke mana?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Theo. Terdengar helaan napas panjang dari mulut Aldevaro yang semakin membuat teman-temannya kebingungan. Sebenarnya, ada apa dengan Aldevaro?


“Ke kelas.”


“Buat?” Sela Chiko, yang mendapat decakan sebal dari Aldevaro.


“Terserah gue lah, masalah buat lo semua?”


“Wah … ada yang gak bener nih pasti! Jelasin sama kita, lo kenapa? Lo lagi ada masalah ‘kan, sama cewek lo!” Tunjuk Daniel, mulai geram dengan sikap Aldevaro yang mulai tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Aldevaro tak lagi membalas pertanyaan demi pertanyaan dari teman-temannya. Cowok itu dengan pasrah kembali menjatuhkan dirinya di bangku kantin dengan raut wajahnya yang kian terlihat kacau.


“Cerita sama kita, lo kenapa? Gak biasanya lo kek begini, sumpah dah!” William dan teman-temannya yang lain mulai bersidekap di tempat mereka, menatap dalam-dalam Aldevaro yang masih tetap diam belum mau mengutarakan masalahnya.


Daniel mendengus, berpikir pada satu kemungkinan yang ada. “Lo putus sama cewek lo?”


“Nah, gue juga mikirnya ke sana,”


“Serius lo putus? Perasaan baru juga belum lama balikan, masa udah putus aja?!”


“Jangan-jangan lo beneran cuman mau balas dendam? Gila! Abang yang selama ini gue banggain ternyata-”


“Apa?” Selaan dari Aldevaro, seketika memotong ucapan demi ucapan dari teman-temannya, sehingga membuat mereka semua langsung terdiam. “Gue gak putus sama dia,” Aldevaro menggantung perkataannya dengan menarik napasnya terlebih dulu, sebelum pada akhirnya cowok itu benar-benar menyelesaikannya.


“Hubungan gue digantung, dan itu semua karena gue.” Lanjut Aldevaro, sukses membuat teman-temannya refleks menyeru kaget.


“Hah? Maksudnya, di-ghosting?”


“Kok, bisa?”


“Udahlah, gue males jelasinnya. Lain kali aja. Gue mau ke kelas.” Pungkas Aldevaro, seraya bangkit dari bangku kantin kemudian berlalu begitu saja.


Di tengah-tengah langkah kakinya, tiba-tiba Aldevaro kembali berpapasan dengan Zeva. Tampak gadis itu yang semula memasang senyum tipis, langsung berubah datar yang kemudian berakhir mengalihkan perhatian.


Sempat terdiam beberapa saat, detik berikutnya, Aldevaro memilih melanjutkan langkah kakinya tanpa mau memedulikan Zeva. Dan, ya. Tanpa sepengetahuan Aldevaro, Zeva menoleh ke belakang. Berharap cowok itu berbalik sedikit saja untuk melihatnya, namun nyatanya tidak!


“Zeva! Lama banget sih lo, buruannnn!” Sahutan melengking dari Joy yang tengah mengntre di gerobak bakso di depan, seketika menyadarkan Zeva dari apa yang tengah ia lakukan.


“I-iya, bentar!” Balas Zeva, namun perhatiannya masih tertuju pada punggung tegap Aldevaro yang perlahan semakin menjauh, sehingga sosoknya kemudian lenyap di balik kerumunan.


****


“Gue lihatin dari tadi, lo keknya banyak bengong, deh, Va? Lo ada masalah, ya, sama si Aldevaro?” Tebakan yang sangat menjurus itu, seketika membuat Zeva terbatuk makanannya sendiri. Dengan cepat gadis itu meraih segelas teh tawar yang berada tak jauh dari jangkauannya.


“Ekhem. Kok, lo bisa tahu?” Zeva merutuki dirinya sendiri saat dengan gampang memulai bercerita pada orang lain. Padahal, niatnya barusan bukan ingin seperti ini?! Hah, dasar!


“Helloooowww! Gue juga nyadar kali! Nih, ya. Lebih dari seminggu ini, gue udah jarang lihat lo bareng si Aldevaro lagi. Dan lagi, tiap kali kalian berpapasan, lo berdua kek orang asing, tahu, gak! Ya ‘kan, La?”


“Kok, ‘La’ sih? Gabriel dong! Lo pikir gue Tante Lala,” Gabriel merotasikan matanya, saat dengan asal Joy memanggilnya dengan panggilan yang paling dia benci. Bukannya merasa bersalah, gadis bernama lengkap Jovanka Davisha itu malah menyengir lebar seraya mepuk-nepuk bahu sahabatnya yang terpisah kelas dengannya.


“Siapa suruh nama lo ke barat-baratan? Nama lo susah kalau mau panggil, sorry-sorry aja nih! Ekhem, intinya, coba lo cerita ke kita, ada apa?” Joy mengalihkan pembicaraan mereka, dan memilih untuk memokuskannya pada masalah Zeva.


Zeva mengembuskan napas berat, seraya menjauhkan mangkuk baksonya yang tampak masih utuh. “Gak usah, deh. Gak penting juga, kok.”


“Gak penting, tapi bikin lo jadi kek begini? Halah, gak mungkin! Coba cerita pelan-pelan,”


“Tenang aja, Va! Gue orangnya gak kayak si Joy yang suka ember. Rahasia lo bakalan aman sama gue. Justru bagus lo gak cerita sama si Joy! Mending lo cerita ke gue aja, gue siap buat dengerin.” Joy spontan mendelik tajam, ketika dengan terang-terangan, Gabriel menuduhnya yang tidak-tidak. Ya, walau tidak sepenuhnya gadis itu salah. Tapi kalau sudah menyangkut hal yang seperti ini, Joy juga tidak mungkin ‘kan menyebarkannya pada orang yang tidak bersangkutan?


“Yeh, si Neng kalau ngomong, ya! Gue gak akan ember, kok, janji! Gak usah didengerin si Lala mah, aliran sesad dia.”


“JOVANKA!” Pekik Gabriel, seraya menggebrak meja. Hal tersebut sukses membuat beberapa pasang mata yang berada tak jauh dari tempat mereka, melirik dengan tatapan aneh.


“Apaan sih, Lalaaa ... berisik ah, ini si Zeva mau cerita katanya,”


“Huwaaaa! Panggil nama orang tuh yang bener dong, kok, lo terus-terusan panggil gue Lala? Gue ngambek sebulan, nih!”


“Ah, elah, ribet banget. Ya udah, iya gue minta maaf! Maafin gue, ya, Gabriel yang cantik, ululuuuh ... anak siape sih cantik amat? Kek, dugong-”


“Putri duyung!” Pekik Gabriel lagi, spontan membuat Zeva terhibur dengar kelakuan dua orang sahabat itu.


“Iya, iya! Mau putri duyung kek, putri dugong, gue kagak peduli! Intinya, Gabriel-ku a.k.a bestie-ku ini always beautiful and never not beautiful.” Jelas Joy, membuat senyuman Gabriel yang sebelumnya sempat luntur, kembali tercetak di wajah cantiknya.


“Kembali ke laptop. Zeva? Lo mau cerita ‘kan, sama kita?” Kini giliran Zeva yang senyumannya langsung memudar. Dengan menyiapkan sebuah ancang-ancang lebar, Zeva kemudian lari begitu saja, meninggalkan Joy dan Gabriel yang berteriak meneriakkan namanya.


“ZEVA! Wah, bener-bener nih anak. Ini bakso lo siapa yang bayar?”

__ADS_1


****


Stella spontan menutup buku pelajarannya, ketika Bu Hani, guru mata pelajaran biologi, keluar dari dalam kelasnya. Gadis yang memiliki tubuh tinggi dengan rambut panjang bergelombang itu, lantas menoleh ke meja belakang, tempat di mana Rena, salah satu temannya berada.


“Ekhem. Ren!”


“Hm.”


“Lo diundang gak, ke party-nya si Gerald?” Pertanyaan tersebut membuat Zeva yang tengah mencatat di barisan meja paling belakang, spontan menghentikan aktivitasnya. Gadis itu bahkan langsung pasang pendengaran super untuk mengetahui apa yang akan dibahas oleh para siswi di kelasnya.


“Diundang. Kenapa emangnya?” Rena menghentikan kegiatan mencatatnya, dengan perhatian yang beralih pada Stella. Tampak raut wajah Stella yang begitu girang dengan sesekali menggerakkan badannya di kursi, seolah sudah sangat-sangat menunggu akan hari itu.


“Berangkatnya bareng, oke?”


“Iya. Pake mobil lo tapi,”


“Gampang! Btw, lo diundang juga, gak, Joy?” Perhatian Stella langsung beralih pada Joy, yang tempat duduknya berada tepat di sebelah kirinya.


Di tempatnya, Joy mulai meregangkan otot-otot tubuh dan tangan, saat merasakan pegal akibat mencatat terlalu lama. “Males banget gue, tapi udah keburu diundang juga sih. Eh, Va! Lo juga pasti diundang ‘kan ke party-nya si Gerald?” Pertanyaan terakhir, Joy lontarkan pada Zeva yang terlihat melamun entah sedari kapan. Merasa ada seseorang yang baru saja memanggil namanya, sontak Zeva menengadahkan kepalanya.


“Gimana? Sorry, gue gak denger lo ngomong apa, bisa diulang?”


“Joy bilang, lo juga diundang ‘kan ke party-nya si Gerald, diundang ‘kan? Udah, entar malem kita ke sananya barengan biar gak nyasar. Party orang kaya pasti bakalan beda banget sama party orang-orang kecil kek kita.” Timpal Stella.


Zeva tampak terdiam dengan otak kecilnya yang terus berpikir. Jika diingat baik-baik, Gerald memang mengundangnya. Ya, walaupun cowok itu tidak tampak seperti benar-benar mengundangnya waktu itu. Tetapi, kalau dipikir kembali, sepertinya pesta yang dikatakan Stella barusan tidak akan sesuai untuk Zeva.


Zeva tidak memiliki gaun yang cocok untuk ia kenakan di pesta nanti. Dan lagi, Zeva mungkin tidak akan paham dengan pestanya para orang-orang kaya.


“Em, gue kayaknya gak bisa dateng, deh. Kalian kalau mau pergi, duluan aja.” Terang Zeva, membuat Joy yang tadinya jengah, sontak mengerutkan keningnya.


“Kok, gak ikut, sih?”


“Kenapa gak ikut? Lo takut, ya, ketemu sama Aldevaro? Akhir-akhir ini gue perhatiin, lo berdua kek lagi ada masalah gitu?! Jangan-jangan kalian udah putus?”


“Stella, lo kalau ngomong jangan keterlaluan!” Joy memperingati Stella, saat dengan tidak sopannya gadis itu berucap spontan tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.


Bukannya merasa terintimidasi, Stella malah tersenyum simpul seraya mengendikkan bahunya ke arah Zeva. “Kenapa sih? Gue ‘kan cuman nanya? Gak salah dong kalau gue sebagai seorang netizen berspekulasi?”


“Stella, lo-”


“Gak pa-pa, Joy. Gue emang udah putus, kok, sama Aldevaro. Udah, ya, gue mau lanjut nyatet. Bentar lagi bel pulang.” Sela Zeva. Saat itu juga, Joy langsung mendengus tak percaya akan pengakuan dari Zeva. Berbeda halnya dengan Stella yang tersenyum lebar saat mengetahui bahwa cowok idamannya kini kembali berstatus seorang diri.


****


“Hatchi!” Zeva mendengus, saat untuk yang kesekian kalinya gadis itu terus bersin dengan hidungnya yang agak sedikit gatal. Jangan-jangan demam?


“Gak mungkin! Masa gitu doang udah demam sih lo, Va! Lemah banget jadi cewek. Pasti cuman bersin biasa.” Gumamnya, seraya terus melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.


Ketika telah sampai di depan gerbang sekolah, Zeva dikejutkan dengan kehadiran Gerald yang tengah berdiri seraya bersandar di salah satu tiang gerbang. Cowok itu dengan soknya berjalan ke arah Zeva yang tampak cengo di tempat. Bukan karena terpesona akibat ketampanan Gerald, melainkan karena perangai anehnya yang entah mengapa terlihat semakin aneh ketika dilihat lebih jelas lagi.


“Nih, cowok mau ngapain lagi pake senyam-senyum kek orang sinting?” Gerutu Zeva, beruntung tak dapat didengar oleh Gerald.


“Hai!” Sapa Gerald, entah mengapa terdengar sangat menyebalkan di telinga Zeva. Padahal, minggu kemarin ketika keduanya berada di pantai, Zeva tidak merasakan ilfeel sedikitpun pada cowok itu. Tetapi, kenapa hari ini rasanya lain?


“Nih!” Gerald menarik salah satu tangan Zeva, kemudian menyerahkan dua buah paper bag berukuran sedang padanya.


Zeva sontak mengerutkan keningnya, seraya membuka isi dari paper bag tersebut yang baru ia sadari kalau Gerald membawa sesuatu di tangannya. “Apaan nih?”


“Em ... gaun yang bakal lo pake buat ke party gue nanti? Pokoknya, jam 7 malem lo udah harus stand by, gue gak mau tahu! Entar gue jemput, oke?” Setelah dirasa selesai, Gerald langsung melenggang dari hadapan Zeva, tanpa mau memberikan lawan bicaranya kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya.


Zeva mendengus tak percaya melihat sikap lain dari Gerald yang baru ia ketahui. Suka memutuskan seenaknya dan pemaksa, bisa-bisanya Zeva sempat mengira Gerald adalah cowok yang baik.


“Cowok emang sama aja!”


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2