Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
24. Penjelasan William


__ADS_3

“Jadi, apa yang mau lo omongin?”


William tampak menarik napasnya terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya cowok itu benar-benar berbicara. “Jadi gini,” William menjeda perkataannya. Jika dipikir-pikir, sulit juga memulai kata-kata. Dimulai dari mana dulu, ya?


“Ekhem. Jadi, lo ada kesalahpahaman di sini.” Ujar William spontan. Refleks Zeva yang kurang paham maksud dari perkataannya pun lantas mengerutkan kening.


“Kesalahpahaman apa maksudnya? Gue gak merasa ada salah paham sama lo.”


“Bukan sama gue. Tapi Aldevaro,”


“Aldevaro? Maksudnya?” Zeva semakin tidak paham akan perkataan dari William. Gadis itu yang awalnya sedikit ogah-ogahan mendengar ucapan dari William, berakhir kepo dan ingin mengetahuinya sampai tuntas.


“Sekitar satu bulan yang lalu, waktu ada acara penampilan seni khusus kelas duabelas IPA 1 IPA 2, pas jam istirahatnya lo ada di depan ruang musik ‘kan?”


Zeva membelalakkan bola matanya ketika bayangan hari itu langsung terputar otomatis tanpa mengharuskannya berpikir panjang. Dengan menarik napas dalam-dalam, Zeva mengangguk mantap dengan raut wajahnya yang berubah datar.


“Sebenarnya, percaya atau enggak, masih ada hal yang belum lo dengerin dari percakapan kita waktu itu, di mana waktu itu Aldevaro dengan jujur sekaligus lantang kalau dia gak lagi main-main sama lo.” Terang William. Saat itu juga, Zeva merasakan hatinya mencelos tanpa diduga-duga. Jantungnya mendadak bergemuruh dengan perasaannya yang kembali goyah.


“Dan, oh iya,” William lagi-lagi menjeda ucapannya, membuat Zeva kembali tersadar dari lamunannya. “Aldevaro juga pernah ngomong pas awal-awal ketemu sama lo, kalau katanya dia sempet pengin balas dendam. Tapi katanya lagi, gak butuh waktu berhari-hari, perasaan dendam itu langsung hilang hanya dengan ngelihat wajah lo! Dia memilih ngelupain rasa sakitnya hanya demi bisa kembali lagi sama lo, Kak!”


Zeva semakin dibuat terdiam tak berkutik mendengar penjelasan panjang dari William. Dadanya bahkan terasa semakin sesak dengan perasaan bersalah yang kembali bersarang di sana.


Bagaimana ini? Zeva sudah salah paham pada Aldevaro, tetapi kenapa lelaki itu tidak berniat untuk menjelaskan padanya?


Ralat. Jika dipikir-pikir kembali, Aldevaro sempat beberapa kali meminta Zeva untuk meluangkan waktu untuknya menjelaskan kesalahpahaman ini. Namun, Zeva memilih untuk mengabaikan karena rasa sakit dan kecewa telah lebih dulu bersarang di hatinya.


“Satu hal lagi.” Ucapan lain dari William, lagi-lagi mengenyahkan berbagai pemikiran Zeva. Raut wajah gadis itu tampak terguncang dengan sepasang bola matanya yang berkaca-kaca.


“Aldevaro tulus ngajak lo balikan.”


Saat itu juga, Zeva merasakan air matanya luruh begitu saja. Ketika William hendak melenggang, dirasa telah selesai dengan tugasnya, disitulah Zeva langsung menghentikan langkah William.


“Lo tahu di mana dia sekarang? Gue rasa, gue harus ketemu dia sekarang dan minta maaf atas kesalahpahaman yang bikin gue sama dia jadi kayak gini.”


William tak langsung menjawab pertanyaan itu. Cowok itu dengan berat hati menggeleng pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Zeva. “Hari ini dia gak masuk sekolah, dan dia gak bilang apa pun ke gue sama yang lain kenapa gak masuk sekolah. Mungkin, kalau lo cari tahu ke orang rumahnya, lo bakal dapet jawaban.” Terang William. Sebelum cowok itu benar-benar melenggang, diam-diam ia memerhatikan raut wajah Zeva yang berubah frustasi, seolah menyiratkan suatu penyesalan akan sebuah fakta sekilas yang seharusnya tidak langsung ia percayai.


“Gue duluan.” Pamit  William, cowok itu benar-benar melenggang dari hadapan Zeva yang kemudian berlari entah ke mana dengan sepasang bola mata yang berkaca-kaca.


****


“Woi! Zeva! Dari mana aja lo? Nitip beli air cuman ke kantin doang, ngaretnya sampe setahun! Dari mana aja sih lo? Gue udah hampir pingsan tahu nungguin lo dari tadi!” Di tengah lapangan outdoor yang luas, Joy tampak menggerutu kesal ketika mendapati Zeva yang sedari tadi kehadirannya terus ia nanti-nantikan, mulai memunculkan batang hidungnya.


"Sorry! Nih, airnya. Sebagai ganti rugi karena lama, ini duitnya gue balikin, deh. Sorry, ya, bikin lo kelamaan.” Zeva menyerahkan sebotol air mineral dengan satu lembar uang lima ribuah pada Joy.


Joy yang pada awalnya hanya berucap asal, tak benar-benar marah, lantas menatap Zeva dengan tatapan bingung.


“Apaan sih, enggak ah! Enak aja gue ditraktir sama lo. Bukannya uang jajan lo lagi miris, ya? Enggak ah, nih ambil! Barusan gue cuman ngedrama aja. Malah dianggap serius,” Joy memasukkan uang yang sempat Zeva berikan padanya ke dalam saku celana olahraga Zeva. Saat Zeva hendak mengeluarkannya, tangan Joy mencegahnya.


“Ambil, Zeva!” Tekan Joy, sok dingin, padahal sebenarnya ia tidak dalam mood yang demikian.


Zeva sempat terdiam beberapa saat, hingga pada akhirnya gadis itu menghela napas sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya udah.” Ujarnya lesu. Hal itu lantas memancing rasa penasaran Joy yang sedari kedatangan Zeva beberapa saat yang lalu, gadis itu sudah memasang raut wajah yang tidak baik.


“Lo lagi ada masalah?” Sahut Joy, blak-blakan.


“Gue …” Zeva menggantungkan kalimatnya, yang disambung dengan tarikan dan helaan napas berat setelahnya.


“Hm? Kenapa? Cerita sama gue. Gue ‘kan, bestie lo!” Ucap Joy, berusaha meyakinkan Zeva agar gadis itu mau bercerita padanya.


“Lo … tahu gak, kenapa Aldevaro hari ini gak masuk sekolah?”


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


“Apa? Lo nanyain siapa tadi?” Joy refleks terbatuk, seraya mendekatkan posisi duduknya di samping Zeva. Sedangkan Zeva, gadis itu merasa dirinya salah berbicara. Ia lupa kalau Joy itu orangnya cerewet dan ember. Gimana kalau sampai gadis itu berbicara yang tidak-tidak untuk jadi bahan menggosip?


“Eng-gak jadi, deh,”

__ADS_1


“Dih! Lo nanyain si Aldevaro? Cie … akhirnya lo ngerasa kangen juga yekan sama tuh cowok?!” Goda Joy, sembari menaik-turunkan alisnya dengan perhatian yang belum juga beralih dari Zeva yang membuang muka darinya.


“Gu-gue cuman nanyain keberadaan dia doang, kok! Soalnya …” Zeva lagi-lagi menggantung kalimatnya, membuat Joy semakin penasaran sehingga semakin mendekatkan posisi tubuhnya pada Zeva.


“Soalnya?”


“Em … gak ada! Gue duluan, ya!” Zeva tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya, kemudian melengos dari hadapan Joy yang terdiam dengan mulutnya yang menganga lebar.


Sial! Kebiasaan si Zeva!


“Woi! Lo kalau gak niat cerita, gak usah spoiler! Zeva?! Iiihhhh! Bikin kesel aja tuh anak,” gerutu Joy, kemudian kembali menenggak air minumnya yang tinggal separuh hingga tandas tak bersisa.


****


Jam telah menunjukkan hampir pukul empat sore, dan bertepatan dengan itu, sistem belajar mengajar di SMA BIMA SAKTI telah usai. Zeva yang biasanya selalu pulang paling akhir, kini menjadi siswi pertama yang keluar lebih dulu dari dalam kelas.


Bukan bermaksud untuk mendahului. Hanya saja, ia harus segera mencaritahu di mana keberadaan Aldevaro saat ini juga. Karena menurut informasi dari William tadi, Aldevaro tidak masuk sekolah. Tidak ada keterangan selain izin biasa. Ya, katanya sih begitu.


“Eeh, lo temennya Aldevaro yang waktu itu pernah main basket bareng ‘kan, ya? Boleh tanya-tanya bentar, gak?” Zeva refleks mencegat langkah seorang pemuda yang tampak tak asing.


Pemuda yang tak lain ialah siswa dari kelas XII IPA 1, kelasnya Aldevaro, menatap Zeva dari atas sampai bawah, merasa tak asing dengan wajah perempuan yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.


“Ooh! Ceweknya si Al, ya? Iya, gue temen sekelasnya. Ada apa?” Tunjuk pemuda itu yang bername tag Raden Kian Santang, atau yang akrab dipanggil, Aden.


“I-itu … katanya hari ini dia gak masuk sekolah, ya? Kalau boleh tahu, Aldevaro ke mana? Apa dia .., sakit?” Mendengar pertanyaan dari Zeva, entah mengapa membuat Aden terkekeh. “Lo bukannya pacarnya? Masa gak tahu?” Melihat keterdiaman Zeva dengan raut wajahnya yang berubah keruh, Aden mulai menyimpulkan satu hal.


“Lagi marahan, ya? Pantesan akhir-akhir ini gue jarang lihat kalian barengan! Eh, jangan-jangan, kalian udah putus?”


“Kasih tahu aja, lo tahu gak dia ke mana dan kenapa gak masuk ke sekolah. Bisa?” Tatapan mata serta tutur kata Zeva yang berubah dingin dan tajam, membuat Aden tanpa sadar menelan ludahnya.


“I-itu, gue juga gak tahu. Dia cuman minta surat izin buat hari ini gak masuk sekolah. Udah, itu aja,” terang Aden. Tanpa ia duga, Zeva langsung melenggang dari hadapannya tanpa mengatakan apa-apa.


Melihat hal itu, membuat Aden bedecak tanpa sadar. “Keknya bener deh, sama yang dibilang orang-orang. Jodoh itu cerminan diri. Emang cocok banget dah mereka. Mukanya sama-sama nyeremin kalau lagi kesel. Salut gue!”


****


Ketika Zeva melirik jam di layar ponselnya, pukul enam lewat lima menit tertera di sana. Tanpa basa-basi lagi, Zeva melanjutkan langkah kakinya menyebrangi jalan raya untuk sampai di sebuah gedung apartemen yang posisinya tepat di hadapannya.


“Semoga Varo ada di apartemennya, deh,” gerutu Zeva, disela langkah kakinya memasuki lobi apartemen. Ketika netranya mulai menangkap sebuah lift yang terbuka akibat beberapa orang yang baru saja turun dari lantai atas, buru-buru gadis itu berlari. Beruntung, lift-nya tak langsung tertutup rapat sehingga Zeva dapat langsung masuk begitu saja.


Dengan menarik napas dalam-dalam, Zeva lantas memencet tombol angka lima, letak di mana apartemen Aldevaro berada. Cukup lama gadis itu berdiri sambil menunggu pintu lift terbuka. Hingga di beberapa menit terakhir, lift pun mulai terbuka. Dengan cepat tanpa berpikir lagi, Zeva berlari sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tas yang berada di pundaknya.


Sampai di depan pintu apartemen Aldevaro, Zeva mencoba memberanikan diri memencet bell. Beberapa saat menunggu, nyatanya tidak ada reaksi apa pun. Zeva pun memilih kembali memencet bell beberapa kali. Dan, ya, hasilnya sama seperti tadi.


“Var? Lo ada di dalem? Bisa bukain pintunya? Ini gue, Zeva!” Tak kehabisan akal, Zeva lantas mengetuk pintu apartemen itu seraya menyahut cukup keras. Sialnya, masih belum juga ada tanda-tanda dari dalam sana.


Terlanjur tidak sabar, takut terjadi apa-apa di dalam, Zeva pun nekat memasukkan password pintu apartemen Aldevaro yang pernah dikirim seseorang lewat sebuah pesan singkat dulu.


Sialnya lagi, passwordnya mendadak salah. Sepertinya Aldevaro telah mengganti kata sandinya.


Zeva mengembuskan napas berat sembari menyandarkan punggungnya ke pintu apartemen. Raut wajahnya tampak frustasi saat usahanya untuk bertemu Aldevaro terus saja sia-sia dari kemarin.


Tanpa sadar air matanya mulai menggenang. Ketika Zeva perlahan menyekanya, air mata itu justru kian deras meluncur menuruni wajahnya, sehingga kini dirinya malah berakhir terisak sembari berjongkok, masih menyandarkan punggungnya di pintu apartemen Aldevaro.


“Var, gue minta maaf … Kenapa lo gak mau bukain pintunya buat gue? Padahal gue cuman mau minta maaf karena udah salah paham sama lo! Apa gue terlambat?” Lirih Zeva. Saat gadis itu hendak kembali menyeka air matanya, ponsel yang berada di dalam tasnya berbunyi. Buru-buru ia membuka tas lalu merogoh ponselnya ketika mendapati sebuah panggilan suara dari Joy. Langsung saja Zeva mengangkat panggilan tersebut tanpa berpikir panjang.


“Halo, Joy?” Sahut Zeva, sembari mengubah posisinya menjadi berdiri. Tak lupa, Zeva pun mulai menghapus sisa air mata yang masih menempel di wajahnya.


“Va! Lo bakal ke sekolah ‘kan?”


“Iyalah! Kok, nanyanya gitu?”


“Hehe. Enggak! Nanya doang. Em, gue mau lihat tugas lo dong, soalnya gue belum ngerjain apa-apa. Btw, lo udah ngerjain tugas yang minggu kemaren ‘kan?” Penjelasan singkat dari Joy, membuat Zeva menghela napas panjang. Pikirnya, ada apa gadis itu tiba-tiba meneleponnya di jam segini? Ternyata soal tugas minggu kemarin.


“Udah.”

__ADS_1


“Sip, entar gue lihat, ya!”


“Ck, iya! Gue tutup, ya. Gue lagi di jalan, nih,”


“Oke! Bye! Muahh!”


Panggilan telepon pun terputus dengan Zeva yang mematikannya. Merasa tak ada lagi yang harus ia lakukan di sini, mengingat Aldevaro mungkin tidak ingin melihatnya atau memang sedang tidak berada di dalam, Zeva pun memilih pergi dari sana dengan perasaan kecewa.


****


Zeva memberengut lesu ketika jam telah menunjukkan tengah hari. Perasaannya kacau tak menentu karena sedari pagi sampai detik ini, ia masih belum juga melihat batang hidung Aldevaro.


Kemana dia pergi dan kenapa dia tidak berada di sekolah, seolah menjadi pertanyaan-pertanyaan penting dalam otak Zeva saat ini. Sialnya, takdir seolah belum merestuinya untuk kembali bertemu dengan Aldevaro. Padahal, Zeva hanya ingin meminta maaf atas kesalahpahamannya pada cowok itu yang menyebabkan hubungan keduanya berakhir seperti ini.


“Va! Gue ke toilet bentar, ya!” Sahutan itu berasal dari mulut Joy. Zeva yang tengah mengaduk kuah baksonya hanya membalas sahutan Joy dengan dehaman biasa.


Tak membuang-buang waktu lagi, Joy akhirnya melenggang dari hadapan Zeva. Joy tidak sadar jika sebenarnya Zeva tengah murung saat ini. Entah itu karena efek sudah tidak tahan lagi ingin segera buang air kecil atau apa. Yang jelas, Joy adalah tipe perempuan yang sangat peka akan lingkungannya.


Sepeninggalan Joy, seseorang tanpa diduga-duga menarik kursi di depan Zeva, kemudian mendudukinya. Sempat berpikir bahwa orang tersebut adalah Joy, ketika Zeva mendongak, nyatanya orang tersebut adalah Gerald.


Tumben?


Sudah cukup lama Zeva tidak melihat Gerald akhir-akhir ini. Dan ketika Zeva kembali melihat cowok itu, banyak hal yang telah berubah darinya. Misalnya, beberapa bekas lebam di beberapa sudut wajahnya yang terlihat jelas oleh indera penglihatan Zeva.


“Hai! Sendirian aja? Mana cowok lo?” Entah sapaan itu murni karena tidak tahu menahui, atau memang disengaja, Zeva teramat kesal ketika mendengarnya. Memilih diam dan tidak membalas, Gerald terkekeh sinis di tempatnya.


“Udah putus lagi, ya? Berarti, gue ada kesempatan dong?”


“Bisa diem gak sih lo?”


“Ups! Sorry, gue gak bisa! Gue terlalu bahagia pas denger kabar lo berdua putus lagi,” terang Gerald, semakin membuat Zeva kesal dibuatnya.


“Em, tar pulang sekolah lo ikut gue, oke?” Perkataan itu tiba-tiba meluncur dari mulut Gerald, tepat ketika Zeva memasukkan suapan baksonya. Kedua alis gadis itu langsung bertaut sembari menatap Gerald dengan tatapan menyelidik.


“Ke mana?”


“Ada, deh. Gue yakin lo bakalan suka,” ucap Gerald, membuat Zeva lantas merotasikan bola matanya.


“Gak usah kepedean. Gue gak mau ikut!” Tekan Zeva, kemudian melanjutkan sesi makan siangnya tanpa mau menatap Gerald lebih lanjut.


“Yah … sayang banget lo gak mau ikut. Padahal, gue bisa aja nunjukin lo di mana si Aldevaro sekarang.” Perkataan itu refleks membuat Zeva terpaku. Tanpa sadar gadis itu mulai menatap Gerald dengan tatapan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


“Gimana? Tertarik sekarang? Tempat tujuan gue adalah tempat di mana si Aldevaro berada sekarang. Mau ikut? Kalau mau, tar pulang sekolah gue tunggu di parkiran.” Selepas mengatakan kalimat itu, Gerald lantas melenggang dari hadapan Zeva. Tak lama setelahnya, Joy yang pamit ke toilet pun kini telah kembali dan menduduki kursi yang sempat diduduki oleh Gerald.


“Kursinya anget. Barusan ada yang nempatin?” Sahut Joy, tanpa melirik ke arah lawan bicaranya.


“Hm.” Ujar Zeva, masih terhanyut akan ucapan Gerald beberapa saat yang lalu.


“Siapa?”


“Noh, si Gerald.”


“Apa?! Mau ngapain tuh cowok nyamperin lo?” Pekikan Joy yang terdengar cukup nyaring, membuat Zeva tersadar dari apa yang tengah ia pikirkan. Dengan berdeham pelan, Zeva pun membalas, “Gak tahu! Gabut kali.”


“Dia ngomong apa aja?”


“Eng-gak banyak! Cuman basa-basi doang bikin orang yang dengerin jadi kesel.”


“Cih, dasar gak berubah. Lain kali lo jangan mau dideketin sama tuh cowok. Selama ini dia gak pernah bersikap lembut sama siapa pun, dan dia itu tukang cari gara-gara! Dia pernah ngebully satu cewek gara-gara cewek itu gak sengaja bikin kesalahan sama dia! Dan lo tahu, kelanjutannya gimana?” Joy tampak menjeda sesi ceritanya, membuat Zeva yang sedari tadi diam dan mendengarkan pun langsung mendekatkan wajahnya dengan raut wajah yang berubah serius.


“Gimana?”


“Si cewek itu langsung pindah sekolah gara-gara gak nyaman terus-terusan dibully sama si Gerald! Jadi, pokoknya lo harus hati-hati! Jangan deket-deket sama si Gerald, oke?”  Peringat Joy, membuat Zeva mau tidak mau mengangguk, walau dalam hati ia sudah memiliki niatan untuk ikut dengan Gerald sepulang sekolah nanti.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2