
Di tempatnya, tepatnya di depan halaman rumah, Zeva berdiri kaku dengan sesekali menghela napas gusar. Kepalanya terus menerus celingukan ke sana ke mari, mencari keberadaan Aldevaro, namun laki-laki itu masih belum juga menampakkan diri.
Zeva lantas meraih ponselnya yang telah diperbaiki sekitar beberapa hari yang lalu oleh Aldevaro. Bukan ingin menghubungi Aldevaro, namun fungsi ponsel tersebut saat ini sangat-sangat diperlukan oleh Zeva sebagai cermin dadakan. Lagi-lagi gadis itu terus menatap pantulan wajahnya di sana. Takut ada yang kurang, atau bedaknya malah luntur, dan lain sebagainya.
Terlalu berlarut akan kegelisahannya, sebuah motor yang cukup akrab berhenti di hadapannya. Helm yang dikenakan si pemilik motor itu pun mulai dilepaskan, sehingga nampaklah wajahnya yang tampan melempar senyum pada Zeva.
Zeva yang tersadar akan hal itu pun buru-buru menaruh ponselnya kembali di tempat semula. “Udah lama?” Sahut Aldevaro, sembari turun dari atas motornya.
Zeva tersenyum tulus, kemudian menggeleng. “Enggak.” Ujarnya, jelas hal itu membuat Aldevaro mengerutkan dahinya.
Perlahan namun pasti, Aldevaro menyejajarkan posisi tubuhnya dengan Zeva, sedikit membuat gadis itu kelimpungan di tempatnya. “Var? Kenapa? A-ada yang salah?” Sahut Zeva. Demi apa pun, jantungnya mendadak berdegup tak karuan akibat wajah Aldevaro yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
“Ada!” Aldevaro menegakkan posisi berdirinya seraya meraih sesuatu yang ia taruh di dalam salah satu saku jaket. Sebuah sapu tangan berwarna navy yang memiliki inisial nama Aldevaro di atasnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Aldevaro bergerak mengelap keringat yang turun di dekat telinga Zeva. Spontan Zeva tertegun dibuatnya, dengan jantung yang bisa kalian tebak secepat apa degupannya.
“Katanya gak lama, tapi kok keringetan?” Tatapan terakhir Aldevaro beralih pada manik mata Zeva, membuat gadis itu seketika dibuat tersadar akan lamunan singkatnya.
“Ha-hah? Emangnya iya?” Zeva meraih spontan sapu tangan di tangan Aldevaro, kemudian dilanjut meraih ponselnya untuk melihat seperti apa raut wajahnya saat ini.
“Dikit, kok!”
“Kalau gitu mau langsung aja?”
“Boleh. Emang kita mau ke mana?”
Seulas senyuman lagi-lagi terbit di wajah Aldevaro. “Rahasia.”
****
“Var?” Zeva menatap bingung Aldevaro yang sedari mereka sampai di sebuah tempat rahasia yang dikatakannya, ternyata tak lain ialah sebuah butik. Dan Zeva tebak, butik itu adalah sebuah butik yang dikhususkan untuk orang-orang berada seperti Aldevaro. Terlihat dari bangunannya yang cukup besar dan ruangannya yang luas diisi dengan berbagai pakaian bermerek yang harganya pasti diluar nalar.
Namun, hal yang membuat Zeva bingung adalah, ketika Aldevaro berjalan ke sana ke mari melewati berbagai jenis pakaian khusus wanita. Sepasang bola matanya terus menjelajah, dibarengi dengan kedua tangannya yang dengan lincah membuka satu demi satu pakaian yang tergantung.
“Yang ini gimana?” Aldevaro menyodorkan sebuah gaun dengan ukuran yang terlihat cukup pas ketika disandingkan dengan tubuh Zeva.
Panjang gaun itu bisa dibilang tidak terlalu pendek dan tidak pula tanggung. Intinya, cukup. Berada tepat di bagian lutut. Bentuknya pun bisa dibilang tidak terlalu mencolok dan tidak pula terlalu polos. Bagian lengannya pun tampak sengaja dibuat agak mengembung seperti balon hampir sebatas sikut. Sangat cocok dipakai untuk makan malam nanti bersama kakeknya yang bisa dibilang kolot itu. Warnanya pun sangat cantik dan cocok dengan warna kulit Zeva yang putih.
“Cobain ini dulu, Va! Siapa tahu cocok,” ujar Aldevaro, seraya menyerahkan gaun cantik berwarna nude tersebut pada Zeva.
Di tempatnya, Zeva masih dibuat bingung dengan apa yang tengah dilakukan Aldevaro. “Ini buat apa sih, Var? Kamu ngapain nyuruh Aku nyobain gaunnya? Emangnya ini mau dipake ke mana? Gaunnya kayaknya mahal, deh. Mending Kamu-”
“Udah, sekarang Kamu nurut. Masuk ke ruang ganti di sana, setelah itu perlihatin lagi ke Aku. Oke?” Sela Aldevaro, tanpa sadar membuat Zeva mendengus sebal.
“Tapi-” lagi-lagi ucapan Zeva harus terpotong oleh Aldevaro yang terus memberinya isyarat untuk segera mencoba gaun pilihannya. Dengan pasrah, Zeva pun menurut pada akhirnya.
Beberapa menit berlalu, Zeva akhirnya selesai mencoba gaunnya sendiri. Dengan tampang datarnya, Zeva memperlihatkannya pada Aldevaro yang tengah memegang beberapa jenis gaun model berbeda di tangannya.
“Gimana? Bagus, gak?” Tanya Zeva, sembari bergerak memutar untuk memamerkannya pada Aldevaro.
Di tempatnya, Aldevaro sempat dibuat terpana sesaat oleh Zeva. Gaun itu terlalu cantik dan sempurna dipakai di tubuh Zeva. “Cantik.” Ujar Aldevaro, spontan. Membuat Zeva yang masih setia memamerkan gaunnya pun lantas berhenti. Fokusnya kemudian beralih pada Aldevaro yang tampak salah tingkah akibat ucapannya sendiri.
“Oh, ya?” Zeva mengulum seulas senyum malu-malu dengan semburat merah yang terpatri di kedua pipinya.
“Ekhem. Nih, coba yang lain!” Senyuman malu-malu itu seolah luntur saat dengan menyebalkannya Aldevaro menyerahkan beberapa jenis gaun lagi pada Zeva. Kalau dihitung dengan benar, total gaun yang diberikan Aldevaro pada Zeva ada empat.
Sial! Apakah Zeva harus mencoba semuanya?
“Apa nih?”
“Cobain lagi!”
“Semua?” Pekik Zeva, spontan. Dan anggukan mantap dari Aldevaro menjadi jawaban mutlak saat ini.
Ingin Zeva menolak, namun tatapan penuh harap dari Aldevaro, membuatnya sulit untuk mengungkapkan hal itu. Sehingga berakhirlah Zeva menjadi seorang model dadakan yang akan memamerkan gaunnya di hadapan Aldevaro. Mana dirinya harus berganti model gaun tiap sepuluh menit sekali, lagi. Melelahkan.
__ADS_1
“Udah, ya,Var! Aku capek lepas pasang terus dari tadi!” Zeva mulai merengek, sembari mengibas-ngibaskan roknya. Hal itu sedikit mengundang tawa dari karyawan butik yang sedari tadi memerhatikan interaksi antara Zeva dan Aldevaro.
“Ya udah kalau Kamu udah gak mau,”
“Serius?” Raut wajah Zeva mulai berganti cerah. Tanpa menunggu Aldevaro membalas pertanyaannya, gadis itu langsung berlari ke dalam ruang ganti untuk melepas gaun yang tengah ia kenakan.
Sementara itu, Aldevaro menatap satu-persatu gaun yang sempat dicoba oleh Zeva. Perhatiannya kemudian beralih pada sang karyawan butik. “Saya ambil semua yang Pacar Saya pakai,”
“Tentu, Kak!”
****
“Udah?” Aldevaro beranjak dari sofa yang dikhususkan untuk pelanggan di dalam butik tersebut.
Belum sempat Zeva membalas pertanyaan Aldevaro, seorang karyawan butik yang tadi datang menghampirinya untuk mengambil kembali gaun yang telah ia coba. “Yang ini juga dibungkus, Kak?” Sahutnya, ditujukan pada Aldevaro. Sedangkan Zeva, gadis itu membeo dalam hati.
Juga? Maksudnya?
“Iya, Mbak! Langsung bill, ya!”
“Baik, Kak! Mohon ditunggu sebentar,”
Zeva menatap horor pada Aldevaro yang tengah balas menatapnya. “Kamu jadinya ngambil yang mana?” Sahut Zeva, hati-hati.
Tampak Aldevaro berpura-pura berpikir keras di tempatnya. “Semua.”
“Apa? Kamu gila!?” Pekik Zeva. Tersadar dengan suaranya yang tanpa sadar sudah naik beberapa oktaf, Zeva pun mengulum bibirnya seraya memejam kuat kedua matanya. Menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.
“Kamu-” saat Zeva hendak melanjutkan unek-uneknya, karyawan butik yang tadi datang lagi ke hadapan mereka. Memberikan beberapa buah paper bag pada Zeva yang masih planga-plongo di tempatnya.
“Total semuanya jadi lima belas juta, Kak! Sistem pembayarannya mau lewat cash atau debit, Kak?”
“Li-lima belas …” Zeva kehilangan kata-katanya. Tubuhnya mendadak kaku saat mendengar nominal harga yang dilontarkan oleh karyawan butik tersebut.
“Debit, terima kasih!” Dengan kalemnya, tanpa sedikit pun merasa terbebani, Aldevaro mengeluarkan kartu ATM-nya dari dalam dompet. Lagi-lagi hal itu membuat Zeva tidak bisa berkata-kata.
Sial!
Haruskah Zeva melepaskan Aldevaro saja? Ia takut jika sewaktu-waktu keluarga Aldevaro tidak akan mau menerimanya dan malah berakhir mengusirnya, seperti dalam cerita sinetron yang sering mamanya tengok di televisi.
****
“Var! Kita mau ke mana lagi?” Sahutan Zeva yang melihat Aldevaro sibuk menatap layar ponselnya, mau tidak mau mengundang perhatian Aldevaro. Laki-laki itu menoleh singkat pada Zeva, sebelum pada akhirnya dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.
“Ke mal!” Jawabnya santai, namun hal itu justru membuat Zeva refleks meringis jika sewaktu-waktu Aldevaro akan kembali membeli sesuatu tanpa Zeva minta.
“Mau ngapain lagi, sih? Ini aja kamu belum jelasin lho sama Aku! Ini buat apa sebenarnya? Kamu ngabisin uang Orangtua Kamu cuman buat beliin Aku semua ini? Kita balikin lagi aja, ya! Aku gak bisa terima semua barang mahal ini! Ini-”
“Itu bukan uang dari orangtua, kok. Itu hasil dari usaha Aku sendiri, Va, makanya Aku berani belanja semahal itu,” Aldevaro sengaja memotong pembicaraan Zeva. Tatapan matanya yang semula jengah pun mulai berfokus pada sepasang manik mata Zeva yang terlihat kebingungan.
Aldevaro menarik napasnya dalam-dalam, kemudian meraih kedua tangan Zeva, mencoba meyakinkannya. “Aku serius, Va! Atau … Kamu mau bukti?”
Zeva masih terdiam, tidak membalas apa-apa. Lagi-lagi Aldevaro menghela napasnya sesaat. Perlahan, Aldevaro melepaskan terlebih dahulu tangan Zeva yang sempat ia genggam. Merogoh kembali ponselnya yang belum lama ini ia taruh di dalam saku jaket.
Beberapa menit berlalu, Aldevaro terlihat mengutak-atik ponselnya. Hingga tak berapa lama kemudian, laki-laki itu menyerahkan ponselnya pada Zeva yang memperlihatkan sebuah bangunan restoran yang terlihat begitu mewah dan megah.
“Ini … restauran siapa?”
“Punya Akulah!” Dengan bangga, Aldevaro berkata demikian. Namun, hal itu tak langsung dipercayai oleh Zeva. Gadis itu justru malah mengerutkan keningnya seraya memperbesar foto tersebut untuk melihatnya lebih dekat lagi.
“Gak percaya. Paling punya Papa Kamu,” Zeva menyerahkan ponsel Aldevaro pada sang pemiliknya. Raut wajahnya masih sama, dan Aldevaro sedikit tertantang untuk semakin memperlihatkan dirinya pada Zeva.
“Yaah … harus percaya dong, Va! Ini tuh bisnis yang Aku sama si Daniel rintis dari jaman kelas 11. Restaurannya ada di bali, kalau gak percaya, nanti Aku bawa kamu ke sana, deh, biar gak ada lagi keraguan di antara kita,” Aldevaro mengedipkan sebelah matanya seusai berkata demikian. Dan, ya. Hal itu membuat Zeva semakin tidak memercayai ucapan Aldevaro.
“Iyain, deh, terserah! Intinya, Aku gak bisa nerima semua ini! Aku kembaliin.” Zeva menyerahkan semua paper bag berisi beberapa potong gaun yang sempat dibeli Aldevaro tadi kembali ke tangannya.
__ADS_1
Aldevaro menatap datar kedua tangannya yang kini penuh dengan beberapa paper bag. Helaan napas kemudian lolos dari mulutnya.
“Gini, deh. Aku beli ini semua sebenarnya ada alesannya. Entar jam 7 malem, Kakek mau ngadain makan malem kecil-kecilan. Paling yang diundang semua cucu-cucunya, biasanya juga begitu. Jadi, Aku mohon, Kamu harus terima, ya!” Aldevaro mengembalikan paper bag tersebut kembali pada Zeva. Di tempatnya, Zeva hanya bisa memberengut bingung.
“Tapi kenapa harus banyak banget? ‘Kan kamu bisa pilih satu, kenapa malah lima?”
Giliran Aldevaro yang terdiam dengan kedua alisnya yang berkerut dalam. “Yahh … siapa suruh Pacar Aku cantik banget. Jadinya gak tahan pengin beli semua,”
“Dih! Apaan sih! Gak usah gombal! Gak akan mempan, udah terlalu basi.” Zeva kian memberengut sebal, mendengar celotehan Aldevaro yang cukup menyebalkan.
Apa tadi katanya? Pacarnya cantik banget? Dih, dasar buaya!
“Daripada di sini terus, mending kita langsung aja ke malnya. Biar keburu, soalnya habis ini kita masih harus ke tempat lain.” Aldevaro menyahut, seraya memakai helmnya dengan terburu-buru.
Di tempatnya, Zeva lagi-lagi dibuat menghela napas berat. Walau teramat malas, pada akhirnya ia hanya bisa menurut dengan pasrah.
****
Setelah usai berbelanja hadiah di sebuah mal kenamaan ibukota, dan membungkusnya secantik mungkin, kini Aldevaro dan Zeva singgah di sebuah salon, selepas keduanya telah lebih dulu mengisi perut.
Di sana, bukan hanya Zeva yang didandani secantik mungkin. Tapi Aldevaro juga. Bedanya, Aldevaro sekarang sudah siap dengan tampilannya yang terbilang maskulin dengan mengenakan pakaian semi formal yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan dengan sebelumnya.
Rambutnya bahkan sengaja dipomade ke belakang, sehingga nampaklah dahinya yang terpampang jelas tanpa sedikit pun ada yang menghalangi.
Di sofa khusus ruang tunggu, Aldevaro melipat kedua kakinya dengan fokus yang tertuju pada layar ponselnya. Menampilkan deretan pesan singkat dengan sang kakek yang baru-baru ini mengiriminya pesan; kapan sampai, padahal jam belum benar-benar menunjukkan pukul tujuh malam.
“Var! Aku udah selesai!” Sahutan lembut dari arah belakangnya, membuat Aldevaro spontan mengalihkan atensinya. Ketika kepalanya perlahan menoleh ke belakang, refleks Aldevaro bangkit dari sofa dengan sepasang bola matanya yang terbelalak menyaksikan secantik apa Zeva saat ini.
“Bagaimana, Kak? Apakah Kakak puas dengan pelayanan kami?” Seorang manajer salon bersama dengan beberapa asistennya berjalan mendekat ke arah Aldevaro. Tak lupa ia pun memasang senyuman puas di wajahnya.
Di tempatnya, Zeva hanya bisa menunduk malu. Tampilannya sekarang yang sangat jauh berbeda dari biasanya, membuatnya merasa aneh dengan dirinya sendiri. Namun, tak ayal dirinya pun merasa ia menjadi jauh lebih cantik dari biasanya.
“Sangat puas.” Jawaban yang terlontar dari mulut Aldevaro itulah yang semakin membuat Zeva tak dapat menahan gejolak di dada. Jantungnya kian bergemuruh dengan wajahnya yang memerah menahan malu.
Perlahan, Aldevaro melangkah pelan ke hadapan Zeva yang masih setia menunduk di tempatnya. Entah ada angin lalu apa, tiba-tiba Zeva merasa gugup dihampiri oleh Aldevaro. Bahkan, ketika posisi keduanya telah saling berhadapan pun, Zeva kian merasa gugup. Apalagi ketika Aldevaro dengan lancang meraih salah satu tangannya dengan lembut. Di detik berikutnya, laki-laki itu mencium punggung tangan Zeva. Semakin membuat Zeva salah tingkah.
“Cantik.” Gumam Aldevaro. Fokus sepasang bola matanya seolah tak bisa dialihkan dari Zeva yang menatapnya malu-malu.
“Ekhem.” Zeva menarik tangannya dari Aldevaro seraya berdeham pelan. Kedua kakinya pun dengan refleks mundur beberapa langkah. “Ma-makasih.” Ujar Zeva, dengan kepala yang menoleh asal, mencoba untuk menyembunyikan rona merah muda di wajahnya. Sayangnya, Aldevaro sudah melihat semuanya.
****
“Ini … beneran cuma makan malem biasa ‘kan?” Entah untuk yang keberapa puluh kali, Zeva terus menerus menanyakan hal yang sama pada Aldevaro, dari sejak keduanya baru memasuki mobil. Sampai kini keduanya telah benar-benar tiba di depan sebuah pintu utama rumah yang terlihat seperti sebuah istana, Zeva kembali melontarkan kalimat itu.
Aldevaro terkekeh geli, melihat raut wajah Zeva yang bisa dipastikan tengah merasa gugup saat ini. Perlahan, Aldevaro menggenggam telapak tangan Zeva yang terasa dingin dan berkeringat.
“Gak usah gugup. Yang makan malem paling cuman Kakek, Aku, Diandra, sama si Gerald. Dan ditambah sama Kamu. Udah, segitu!” Terang Aldevaro.
“Si Gerald … juga bakal hadir?”
“Biasanya sih, hadir. Tapi … gak tahu juga,”
Terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka. Ketika Zeva masih berusaha berpikir, pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka lebar. Tampaklah beberapa pengurus rumah tangga yang berseragam khusus menyambut kedatangan Aldevaro dan Zeva.
“Silakan masuk, Tuan Muda! Tuan Besar sudah menunggu di atas.”
“Baik. Ayok, Va!” Aldevaro lantas menarik pelan Zeva untuk ikut masuk ke dalam.
Ketika keduanya menginjakkan kaki semakin masuk ke dalam, Zeva lantas dibuat kagum dan terkejut dengan setiap sudut ruangan yang terlihat begitu luas dengan suasana yang terasa hangat. Entah itu pengaruh desain penempatan barang, atau memang hawa yang dirasakan di rumah itu yang demikian, Zeva pun tak tahu pasti. Yang jelas, rumah kakeknya Aldevaro terasa begitu nyaman walau hanya sekadar ditatap.
“Va?” Sahutan pelan dari Aldevaro, sontak mengenyahkan berbagai pemikiran serta lamunan Zeva. Diliriknya Aldevaro yang menatapnya dari samping, Zeva pun bertanya, “Kenapa?”
Sempat terdiam beberapa saat, hingga akhirnya, Aldevaro kembali bersuara. “Nanti kalau Kakek nanya yang aneh-aneh, Kamu berhak untuk gak menjawab. Oke?”
Zeva kurang mengerti maksud dari perkataan Aldevaro barusan. Namun, daripada terus bertanya, yang penting sekarang ia mengangguk saja dulu. Soal maksud, nanti bisa ditanyakan ketika acara makan malam telah benar-benar usai.
__ADS_1
“Oke.”
To be continue…