
"Al! Di sini!" Suhutan dengan nada suara bariton dari arah meja makan yang telah dihias sedemikian rupa, mengundang perhatian sang pemilik nama, pun gadis di sampingnya.
Dengan langkah tenang, Aldevaro berjalan ke arah sang kakek yang perlahan mulai bangkit dari posisinya.
"Selamat ulang tahun, Kek!" Ucap Aldevaro, seraya memeluk sang kakek yang tampak tertawa renyah menanggapi.
Sementara Zeva, gadis itu dibuat terkejut setengah mati oleh perkataan Aldevaro.
Ulang tahun? Kenapa Aldevaro tidak bilang kalau hari ini kakeknya ulang tahun? Zeva kira ini hanya makan malam biasa! Bagaimana ini?
"Oh, ya, Kek! Ada sedikit hadiah dari Zeva. Semoga Kakek suka," Aldevaro melepaskan pelukannya, dilanjut menarik Zeva supaya berhadapan dengan kakeknya yang biasa dipanggil, Kakek Hendra.
Hendra sempat dibuat terdiam beberapa saat memandangi raut wajah Zeva yang terlihat canggung di tempatnya.
Tiba-tiba, seulas senyuman tulus terbit di wajah Hendra. "Terima kasih, ya, Zeva! Kamu pacarnya Al, ya? Ayok! Duduk! Sini, hadiahnya Kakek simpan dulu, ya,"
"I-iya, Kek! Selamat ulang tahun juga, Kek," Zeva mengembuskan napas lega, melihat kakeknya Aldevaro ternyata tak seperti yang ia kira.
Beliau ramah, tutur katanya pun halus dan lembut. Beliau juga sangat murah senyum. Tetapi untuk kedepannya, tidak tahu juga sih.
"Sekali lagi Kakek mengucapkan terima kasih! Al, suruh Zeva duduk di sebelah kamu! Kakek mau ambil telepon dulu. Sepupu kamu si Gerald sama Diandra datengnya telat. Bikin orangtua khawatir saja." Dumel Hendra, kemudian melenggang meninggalkan ruang makan tersebut yang bisa dibilang lebih tampak seperti sebuah restauran mewah.
Di tempatnya, Aldevaro merespon ucapan sang kakek hanya dengan mengangguk seraya mengulum senyum. Setelahnya, laki-laki itu mulai menarik Zeva untuk mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Em, Var!" Zeva menyahut pelan, membuat Aldevaro yang baru saja duduk di sebelahnya lantas menoleh.
"Hm? Kenapa?"
"Kakek kamu ... orangnya lumayan asik, ya?" Terdengar kekehan pelan dari mulut Aldevaro dengan ekspresi wajah yang berubah kecut.
"Enggak. Kamu salah, Va! Dia bukan orang asik, tapi licik."
Detik itu juga, Zeva mulai mengerutkan dahi tanda kurang mengerti. Ketika Zeva hendak bertanya 'kenapa', kakeknya Aldevaro kembali. Raut wajahnya tampak beribu-ribu kali lebih bahagia dari yang sebelumnya.
Ketika pandangan Zeva tidak sengaja sedikit menjelajah, Zeva menemukan kehadiran Diandra dan juga Gerald yang mengenakan pakaian semi formal, berjalan mengekori langkah Hendra.
Setibanya mereka di meja makan, tanpa mengucapkan sepatah kata, mereka berdua duduk di kursi kosong yang masih tersedia.
"Nah, karena kalian semua sudah berkumpul untuk ikut merayakan ulang tahun Kakek, sekarang, gimana kalau kita makan malam dulu saja? Hm?" Sahutan Hendra, dibalas senyuman tipis oleh Diandra.
"Kakek gak mau tiup lilin dulu?" Sahut Diandra. Siapa yang akan mengira jika raut wajah Hendra akan langsung berubah memberengut.
"Jangan ngeledek! Kakek sudah tua, ngapain tiup lilin segala! Daripada tiup lilin, Kakek lebih suka makan sama-sama dengan ketiga cucu kesayangan Kakek."
"Ck! Basa-basi aja terus dari tadi," Gerald menggerutu sebal di tempatnya. Beruntung, gerutuannya tak sampai ke telinga sang kakek.
"Pelayan! Hidangkan makan malamnya!"
****
"Gimana? Kalian suka dengan menu makan malamnya?" Sahutan Hendra, selepas acara makan malam telah sepenuhnya usai, dibalas kekehan pelan oleh Diandra dan Aldevaro. Sementara Zeva dan Gerald, keduanya murni hanya diam. Bedanya, Zeva mengulum senyuman tipis. Tidak dengan Gerald yang sedari tadi terus memasang wajah memberengut.
"Suka banget, Kek! Apalagi tadi lobsternya gede-gede. Sayang banget tadi Kakek nggak nyicipin. Padahal enak banget, lho!" Diandra membalas antusias, yang dibalas kekehan renyah oleh Hendra.
"Kamu 'kan tahu, penyakit Kakek ini bagaimana!? Semua makan malam itu Kakek persembahkan untuk kalian, cucu-cucu Kakek." Terang Hendra, semakin membuat Gerald muak di tempatnya.
Tanpa berkata apa pun, Gerald kemudian beranjak dari tempatnya. Pergi dari sana meninggalkan Hendra yang dibuat terdiam beberapa saat.
Tiba-tiba saja, Hendra merasakan punggung tangannya disentuh oleh seseorang. Ketika menoleh, sudah ada Diandra yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. “Maafin Gerald, ya, Kek! Dia … em, mungkin lagi ada masalah. Tapi tadi dia enggak gitu, kok! Serius! Tadi dia seneng-seneng banget pas mau ke acara makan malem ini,” terang Diandra tiba-tiba. Tentu saja, gadis itu berbohong. Ia tidak ingin karena perangai Gerald yang kembali seperti semula membuat Hendra yang tengah berulang tahun menjadi bersedih akibat ulah saudara angkatnya.
Hendra lagi-lagi terdiam mencoba meresapi ucapan demi ucapan yang Diandra lontarkan. Selang berapa lama, beliau kembali memasang seulas senyuman tulus. “Baiklah. Mungkin, seperti kata Kamu, Gerald memang sedang ada masalah.” Ucap Hendra. Detik selanjutnya, perhatiannya beralih pada Aldevaro yang terlihat tengah saling menatap dengan Zeva.
Kedua remaja itu tampak saling terdiam, namun sepasang bola matanya seolah saling berbicara satu sama lain. “Ekhem!” Dehaman Hendra menjadi penyadar bagi keduanya. Refleks Aldevaro dan Zeva memutus pandangan mereka, sehingga kini perhatian keduanya beralih pada Hendra.
“Al, bisa ikut Kakek ke ruang baca sebentar? Ada hal yang mau Kakek bicarakan sama Kamu.”
Aldevaro mengerutkan kening dengan perhatian yang masih tertuju pada kakeknya. Dan, ya. Tak dapat dipungkiri bila hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman, seolah hal buruk akan terjadi selanjutnya.
“Sekarang, Kek?” Tanya Aldevaro, yang langsung diangguki anggukkan mantap oleh Hendra.
__ADS_1
Di tempatnya, Aldevaro mencoba menarik napasnya dalam-dalam, sebelum pada akhirnya ia kembali menoleh pada Zeva yang juga tengah menoleh ke arahnya. “Tunggu sebentar, ya!”
****
“Jadi … apa yang mau Kakek omongin?” Aldevaro menyahut hati-hati, setelah kurang lebih sepuluh menitan, ia dan sang kakek terus menerus terdiam.
Hendra tampak menarik napasnya dalam-dalam, dengan tatapan mata yang seolah hanya terfokus pada Aldevaro. “Kakek minta maaf kalau pertanyaan ini terdengar kurang nyaman. Tapi, Kakek melakukan ini semua juga demi Kamu.” Hendra mulai membuka pembicaraan empat mata meraka pelan-pelan.
Di tempatnya, Aldevaro kian mengerutkan keningnya dengan kepalan di kedua tangannya yang entah sejak kapan telah terkepal kuat. Hatinya mendadak ragu untuk semakin mendengarkan apa yang akan kakeknya bicarakan padanya.
“Begini. Kamu berpacaran dengan gadis itu bukan hanya untuk main-main, ‘kan?”
“Maksud Kakek apa?”
Ini dia. Sang kakek yang sedari tadi terus menutup diri dan hanya menampilkan raut wajah bijaksana sudah mulai kembali ke jati dirinya sendiri. Sialnya, hal itulah yang sedari tadi Aldevaro khawatirkan jika kakeknya ini kembali berulah.
Terdengar helaan napas dari mulut Hendra. “Kakek hanya bertanya, bukan ingin merusak hubungan kalian. Waktu itu Kakek juga pernah bilang ‘kan sama Kamu, kalau Kakek ingin melihat Kamu menikah ketika lulus SMA?”
“Tapi, Kek-”
“Sebentar! Kakek belum selesai bicara.” Aldevaro lagi-lagi mengepal kuat kepalan tangannya, saat Hendra menahan dirinya untuk membela diri. Pria yang usianya tak lagi muda itu seolah hanya peduli pada dirinya sendiri.
Sial!
“Kakek punya satu keinginan. Nikahi gadis itu ketika lulus nanti, atau jika Kamu tidak bersedia, Kakek bisa pilihkan gadis lain yang bersedia menikah sama Kamu!”
“Kek! Kakek mau Aku nikah diusia semuda ini? Yang bener aja, Kek!” Aldevaro sudah tidak tahan, sungguh! Dengan lancang, ia bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri menghadap Hendra.
Sedangkan Hendra, pria tua itu hanya duduk diam dengan raut wajah tenangnya, diselingi dengan meminum secangkir teh hangat.
“Kakek cuman ingin melihat Kamu menikah sebelum Kakek tiada. Kamu ‘kan tahu, Gerald orangnya seperti apa. Satu-satunya harapan Kakek saat ini cuman Kamu Al!”
“Tapi, Kek-” Aldevaro tidak kuasa melanjutkan kalimatnya saat suara helaan napas panjang dari sang kakek, pun diiringi dengan raut wajahnya yang berubah sendu, menatapnya dengan dalam.
“Al! Hidup Kakek sudah tidak lama lagi. Dengan penyakit yang Kakek miliki saat ini, keinginan Kakek cuman satu, yaitu melihat salah satu cucu Kakek menikah. Dan, Kamu adalah harapan Kakek. Kakek tidak meminta Kamu untuk menikah dengan wanita pilihan Kakek. Kakek cuman meminta Kamu menikah dengan gadis itu, Zeva, apa itu juga terlalu berat? Bukankah kamu sangat mencintai Zeva?”
Demi apa pun, Aldevaro teramat benci dengan kalimat yang selalu kakeknya ucapkan hanya untuk membuat Aldevaro menuruti perkataannya. Sialnya, kakeknya ini benar-benar memiliki riwayat penyakit khusus yang diderita orangtua, dan bisa saja ia akan dipanggil oleh Tuhan sewaktu-waktu.
Kenapa? Kenapa seluruh dunia seolah memojokkannya untuk melakukan hal lebih, padahal di sini, Aldevaro juga sama seperti yang lain. Ia hanya manusia lemah yang berlindung dibalik wajah tegar.
Perlahan, Aldevaro kembali menjatuhkan dirinya di tempat semula. Tatapan matanya berubah kosong. Bahkan, pikirannya terasa ke mana-mana saat ini.
“Al!” Sahutan dari Hendra lagi-lagi menyadarkan Aldevaro dari apa yang tengah ia lamunkan sejenak. Ia pun mulai kembali mendongak menatap wajah Hendra yang seolah tengah menunggu jawaban apa yang akan diucapkan oleh Aldevaro.
“Kakek mau Aku nikah setelah lulus SMA ‘kan?” Pertanyaan to the point Aldevaro, tanpa sadar membuat Hendra mengerjap beberapa kali. Tak lama kemudian, ia kembali mengubah raut wajahnya menjadi tenang seperti semula.
“Ya.”
“Oke. Aku akan mencoba mengabulkan permintaan Kakek. Dengan syarat, ini yang terakhir.”
****
“Var? Muka Kamu kenapa? Kok, kayaknya enggak semangat gitu?” Zeva mengutarakan kalimat penuh kekhawatiran yang ia tahan sedari perjalanan pulang dari tempat kakeknya Aldevaro. Dan sekarang, keduanya telah tiba tepat di depan halaman rumah Zeva yang terlihat cukup sepi, dikarenakan waktu yang telah menunjukkan pukul sembilan malam.
Diam-diam Aldevaro menatap raut wajah Zeva dengan penuh kekhawatiran di benaknya. Ada rasa ingin berbicara, namun sudut hatinya melarangnya untuk berkata. Hingga pada akhirnya, yang bisa dirinya lakukan hanyalah tersenyum kecut dengan kepalanya yang sedikit menunduk.
Jujur. Permintaan kakeknya kali ini cukup sulit untuk dilaksanakan. Tetapi jujur saja, dari awal, Aldevaro sebenarnya sudah memiliki niatan untuk mengajak Zeva menikah saat meraka lulus nanti. Namun, semuanya terus ia simpan dalam hati, mengingat menikah di usia muda itu tidak semudah yang terlihat.
Dan lagi, akankah Zeva mau menerima pernikahan di usia muda? Bahkan, Aldevaro saja baru genap berusia delapan belas tahun beberapa bulan yang lalu. Sedangkan Zeva, mungkin tahun ini gadis itu masih berusia tujuh belas tahun.
“Va!”
“Hm?” Zeva menatap penuh harap pada raut wajah Aldevaro yang sedari tadi tanpa henti terus menatap ke arahnya.
Sementara itu, lagi-lagi Aldevaro menghela napasnya. Ia bingung, sungguh!
“Kamu mau ngomong apa?” Perlahan tapi pasti, Zeva menyentuh permukaan tangan Aldevaro yang terasa dingin. Menatap lembut raut wajah Aldevaro yang masih tampak sama.
“Ekhem. Ja-jadi gini …”
__ADS_1
“Iya?”
“Em … kalau misal- ini misal, ya!” Aldevaro menekan ucapannya, sedikit membuat Zeva gemas sebab sudah sangat kepo dengan apa yang akan diucapkan oleh Aldevaro selanjutnya.
“Heem. Terus?”
“Em, misalnya nanti pas kita lulus, Kamu mau gak nikah sama Aku?” Terang Aldevaro, sontak membuat Zeva terkejut dibuatnya.
“Hah?!”
Sial! Sepertinya Aldevaro salah bicara. Lihatlah perubahan raut wajah Zeva saat ini! Terlihat begitu syok dengan kedua bola matanya yang membulat hampir sempurna.
“Enggak! Lupain,”
“Kamu ngajakin Aku nikah muda?” Tatapan mata Zeva berubah menelisik. Sayangnya, di satu sisi Aldevaro berusaha untuk tidak menatap mata Zeva yang terus menatapnya tanpa ragu.
“Anggap aja gak denger apa-apa.” Ujar Aldevaro. Saat ia hendak melenggang memasuki mobilnya, Zeva mencegat langkah Aldevaro di depan. Detik berikutnya, tampak gadis itu geleng-geleng kepala, yang sialnya kurang dimengerti oleh Aldevaro.
“Ya ampun, Var! Kamu udah gak tahan, ya? Hm?” Zeva mencoba menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Aldevaro. Sesekali ia berjinjit, namun sialnya tetap tidak berhasil.
“Ma-maksud?” Demi apa, otak Aldevaro seakan sudah meluncur ke mana-mana. Untuk menghilangkan prasangka, Aldevaro mencoba berpura-pura tidak tahu apa pun, walau jantungnya terasa semakin berdegup kencang.
Dengan sekali sentilan, Zeva sukses membuat Aldevaro meringis merasakan sakit yang lumayan di area dahinya. “Ish! Isi kepala cowok tuh sebenarnya apa aja sih? Nikah, nikah! Belajar dulu sana yang bener! Urusan nikah mah nanti!” Papar Zeva.
Dengan raut wajah kesal, Aldevaro menatap nyalang pada Zeva yang tersenyum puas ke arahnya. “Wajar dong! Kenapa? Emangnya, Kamu gak mau?” Aldevaro menatap penuh selidik, sedangkan yang ditatap malah terdiam dengan kedua pipinya yang terasa memanas.
Sial! Jangan-jangan wajahnya memerah?
“Apaan sih? Siapa juga yang mau!” Dengan sebal, Zeva mendorong Aldevaro. Namun, perbuatannya tersebut tak sedikit pun membuahkan hasil. Aldevaro tidak berganti posisi sedikit pun. Yang ada, laki-laki itu malah tersenyum jahil di tempatnya.
“Dih! Kamu ngerti sama apa yang lagi Aku bahas?”
Lagi-lagi Zeva merasakan wajahnya kian memanas setelah mendengar pertanyaan random dari Aldevaro.
“A-apaan sih? Ngerti apa coba, aneh!” Zeva mengipasi wajahnya dengan tangan tanpa sadar, sehingga hal tersebut semakin membuat Aldevaro yakin tentang satu hal.
“Wah … gak nyangka! Aku kira otak Kamu masih polos, Va! Gak nyangka ternyata udah-”
“Iiihh! Apaan sih, Var! Aku pukul, nih!”
“Eeh, iya, iya maaf! Gak lagi,” Aldevaro menyengir lebar, seolah melupakan niat awalnya untuk bertanya demikian pada Zeva.
Hening. Tak ada suara sahut menyahut di antara keduanya. Ditambah dengan suasana malam yang sejuk dan tenang, semakin membuat suasana di antara mereka terasa canggung tanpa sebab.
“Jadi ..?” Aldevaro kembali bersuara, setelah cukup lama ia mengatupkan mulutnya.
“Do you want to marry me?” Tanya Aldevaro, sekali lagi.
Zeva berusaha menarik napasnya dalam-dalam, sebelum pada akhirnya ia bertanya. “Kapan?”
“Saat kita lulus nanti” ujar Aldevaro, serius. Terlihat sedikit keragauan yang terpampang di raut wajah Zeva.
“Aku pikir, Aku masih harus pikirin lagi. Getting married is not easy, Var.” Ucapan Zeva memang ada benarnya. Menikah bukanlah hal yang mudah. Tetapi, Aldevaro sudah berjanji pada kakeknya. Lantas, ia harus bagaimana?
“I know that! But, Aku ingin mencoba memulai itu semua. Dan itu pun kalau Kamu juga bersedia.” Ujar Aldevaro, masih belum mau menyerah.
“Emangnya, Kamu punya uang? Aku bahkan uang aja masih minta lho sama Mama!”
Aldevaro terdiam, namun bukan berarti ia akan menyerah. “Aku punya!”
“Bukan uang orangtua Kamu, tapi uang Kamu!”
“Iya, aku punya, Va! Hasil kerja keras Aku dari merintis usaha restauran yang di Bali sama si Daniel itu. Aku rasa, dengan itu kita bisa-” Aldevaro menghentikan kalimatnya saat sebuah benda asing menempel hangat di permukaan pipi kirinya.
Oh, tidak! Zeva mencium pipinya! Rasanya Aldevaro tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Mulutnya terasa mati rasa akibat Zeva yang dengan tiba-tiba bertindak demikian.
Perlahan, Zeva menjauhkan diri dari Aldevaro. Tatapan matanya tampak sulit dijabarkan, apalagi dengan kedua pipinya yang lagi-lagi terlihat memerah. “Var! Boleh gak Aku simpen pertanyaan Kamu untuk nanti ketika kita bener-bener lulus? Sekarang, Aku gak tahu harus bilang apa.”
Aldevaro mengangguk paham seraya mengembuskan napas pasrah. “Tentu. I’ll be waiting for you.”
__ADS_1
To be continue…