
Suara dengkuran halus diiringi embusan napas tenang, mengalihkan atensi seseorang yang baru saja memasuki ruang kamar. Tatapan matanya yang semula jengah, lantas mulai berfokus pada satu titik yang membuatnya tertarik.
Dengan langkah pasti, Gerald berjalan ke arah tempat tidur, lalu ikut merebahkan dirinya di samping seseorang yang tak lain ialah Abhigail.
Tatapan matanya tampak dalam yang ia tujukan pada raut wajah tenang Abhigail. Sesekali, Gerald akan menelan ludahnya susah payah saat ingatan tentang beberapa hari yang lalu kembali berputar di kepala.
"Gue ... bakal jadi Papa?" Gerald bergumam nyaris tak terdengar. Tak berapa lama, fokusnya beralih menatap perut Abhigail yang jika diperhatikan baik-baik terlihat sedikit membulat.
Helaan napas dalam seolah terus menerus Gerald embuskan akhir-akhir ini. Hatinya gundah dan pikirannya buntu.
Entahlah. Sesuatu yang besar seolah mengganjal dalam jiwanya. Ada sedikit rasa cemas, namun entah apa itu.
Tentang dirinya dan Abhigail yang memiliki hubungan terlarang sampai ke batas ini?
Mungkin, tetapi, rasa-rasanya ada yang jauh lebih besar dari pada itu.
Oh, ya. Ia belum memberitahu keluarganya bahwa dirinya akan menikahi Abhigail setelah apa yang terjadi pada gadis itu. Begitu pula dengan Abhigail yang masih merahasiakannya dan memilih untuk sementara waktu tinggal seorang diri di apartemennya.
"Apa gue bisa?" Gerald lagi-lagi bergumam seraya bergelut dengan pikirannya. Dan, ya. Seperti yang pertama, gumamannya nyaris tak terdengar.
"Apa dengan kehadiran lo dan calon anak ini, bisa buat gue lupa akan semua rasa sakit gue, dan melupakan seseorang yang gak akan pernah bisa gue miliki?"
Perlahan, salah satu tangan Gerald terulur menyentuh wajah Abhigail yang tampak mengerang dalam tidurnya. Hanya beberapa saat. Setelahnya, raut wajahnya kembali tenang yang diiringi dengan dengkuran halus setelahnya.
Lagi, Gerald mengembuskan napasnya, seraya menjauhkan diri dari Abhigail. Posisi tubuhnya yang semula tidur menyamping menghadap Abhigail, lantas ia ubah menjadi terduduk biasa di tepian kasur.
Kedua alisnya tampak mengerut dalam. Perasaan gundah dan cemas seolah semakin menyeruak entah datang dari mana.
Saat Gerald memutuskan untuk bangkit dan meninggalkan Abhigail, salah satu tangannya dicengkram halus dari belakang. Ketika menoleh, raut wajah Abhigail yang masih mengantuk dapat ia saksikan dengan jelas.
"Lo mau ke mana?" Pertanyaan yang terdengar cukup serak itu seketika membangunkan Gerald dari berbagai pemikirannya. Dengan refleks, Gerald menyentak pelan tangan Abhigail yang masih menyentuh tangannya.
"Mandi. Kenapa? Mau ikut?" Pertanyaan yang dilontarkan Gerald di kalimat terakhir, tanpa sadar membuat Abhigail tersipu.
"O-oh." Hanya itu. Setelahnya, terjadi suatu keheningan beberapa saat di antara keduanya. Sampai sentuhan lembut dan hangat di tangan Gerald, lagi-lagi menghenyakkan keheningan.
"Kenapa?" Gerald bertanya halus, walau pada dasarnya masih terdengar dingin di telinga Abhigail.
Dengan menarik napasnya dalam-dalam, Abhigail memberanikan diri menatap raut wajah Gerald yang cukup jauh dari jangkauannya, akibat posisi mereka yang berbeda. "Laper." Ujar Abhigail pelan. Sialnya, hal itu tanpa sadar membuat Gerald mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Dan, ya. Abhigail pun melihatnya. Sebisa mungkin gadis itu tidak meledek, agar Gerald tidak kembali menjadi Gerald yang galak dan kurang peduli.
"Ya udah. Gue mandi dulu. Mau mandi juga, gak?"
"Hah? Em ... nanti aja setelah lo," ujar Abhigail, lagi-lagi wajahnya kembali tersipu ketika mengingat perkataan Gerald.
Di tempatnya, Gerald sempat terdiam membisu meratapi wajah Abhigail yang membuang muka darinya. Setelahnya, tanpa berniat berbasa-basi, Gerald lantas menarik tubuh Abhigail, dan menggendongnya sehingga tak ada lagi sekat di antara keduanya.
Hanya ada suara degupan jantung yang memompa cepat milik Abhigail, serta sepasang bola mata terbelalak yang ia layangkan pada Gerald yang tersenyum penuh arti padanya.
"Nga-pa-in?"
"Mandilah!" Raut wajah Abhigail kian bersemu. Lagi-lagi gadis itu membuang muka dari tatapan Gerald yang seakan hendak memakannya.
"Kenapa? Takut?" Bisikan Gerald yang terdengar berat, membuat bulu kuduk Abhigail terasa berdiri. Dengan pelan sekaligus hati-hati, Abhigail kembali menjatuhkan tatapannya pada Gerald. Tatapan mata cowok itu tampak menggelap, tanpa sadar membuat Abhigail menelan ludahnya susah payah.
"Gue ..."
"Ck, lama!" Tanpa berniat melontarkan pertanyaan-pertanyaan lagi, Gerald lantas membawa Abhigail menuju kamar mandi. Perasaan gugup kian mendominasi saat Gerald mulai mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
****
Kurang lebih sekitar satu jam untuk mandi dan bersiap, Gerald beserta Abhigail telah meninggalkan apartemen dengan penampilan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tangan Gerald yang sedari tadi terus menggenggam erat tangan Abhigail dari saat keduanya keluar dari apartemen, sampai detik di mana mereka tiba di sebuah restauran, Gerald maupun Abhigail masih belum mau melepaskan genggaman tangannya.
Ada sedikit perasaan tak rela, bahkan ketika keduanya telah sama-sama menduduki kursi yang posisinya bersebelahan. Sengaja, agar Gerald dapat berleluasa menggenggam tangan Abhigail yang terasa berkeringat dingin.
Entahlah. Rasanya, Gerald perlu menebus semua kesakitan yang telah begitu lama gadis itu derita karena mencintai cowok brengsek seperti dirinya. Berharap dengan ini, Gerald bisa melupakan masalah di rumah dan juga menghempaskan nama 'Zeva' yang masih begitu tertanam di hatinya.
"Mau makan apa?" Gerald bertanya lembut seraya membuka buku menu dengan salah satu tangannya yang menganggur.
Melihat Gerald yang cukup kesulitan, Abhigail berniat untuk melepaskan tangan Gerald. Tetapi, tatapan Gerald yang seolah meminta penjelasan dari apa yang ia lakukan, menghentikan niatannya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Eng-gak! I-itu ..."
"Apaan sih lo? Gue mau gini, gak usah nolak!" Tekan Gerald, dan sialnya walau terdengar sangat galak, tindakannya berhasil membuat Abhigail terus mengulum senyumannya. Hingga tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu.
"Buruan, mau makan apaan?"
"Terserah." Ucap Abhigail, masih dengan senyuman manis di wajahnya.
Tidak dengan Gerald yang mulai agak kesal mendengar jawaban Abhigail yang cukup membingungkan. "Ya, terserahnya tuh kayak gimana? Please, deh, cewek kalau diajak makan tuh jawabnya jangan terserah! Pusing gue!" Dengan emosi yang sedikit dibuat-buat, Gerald sukses membuat Abhigail memberengut di tempatnya.
"Ya udah, bento yang set ini aja. Minumannya pengin avocado juice. Terus dessert-nya pengin pancake," terang Abhigail, sebelum Gerald benar-benar marah dan berakhir pergi meninggalkannya.
Gerald menarik napasnya dalam-dalam seraya menatap Abhigail cukup sengit. "Pancake bukan dessert, dodol!"
"Ya, bodo amat, maunya itu!" Kukuh Abhigail, tak mau tahu. Refleks Gerald berpikir satu buah kemungkinan yang mungkin saja benar nyatanya. "Lo ngidam?"
"Gak tahu!"
"Ya udah." Balas Gerald, acuh tak acuh.
Tak berapa lama seorang waitress menghampiri meja mereka, bertanya sopan dan lembut akan hidangan apa yang akan mereka pesan.
Tak butuh waktu puluhan menit, waitress itu telah berhasil mencatat semua pesanan Gerald dan Abhigail. Ia tersenyum ramah dan berkata untuk menunggu hidangannya sekitar dua puluh menitan. Selepasnya, ia mulai pergi dari hadapan sepasang sejoli itu dan berpindah ke meja sebelahnya.
****
"Gimana? Enak, gak?" Gerald menyahut pelan, selepas keduanya telah benar-benar menghabiskan semua makanan yang dipesan.
Tatapan mata cowok itu seolah tak bisa beralih dari gerak-gerik Abhigail yang masih tampak lahap ketika memakan dessert miliknya.
"Hm. Mau es krim!" Pinta Abhigail, dengan raut wajah memelas yang ia perlihatkan langsung pada Gerald.
"Ya udah," saat Gerald hendak bangkit untuk memesan es krim, tangan Abhigail dengan refleks mencekalnya. Menatap cowok itu dengan tatapan penuh tanya. "Mau ke mana?"
Terdengar decakan sebal dari mulut Gerald. "Katanya lo mau es krim,"
"Tapi bukan es krim di sini."
"Ck, terus mau es krim yang di mana?" Tanya Gerald, mulai agak lelah, namun sebisa mungkin ia tetap sabar. Mengingat jika saat ini, Abhigail tengah mengandung dan mungkin saja, itu semua adalah keinginan dari calon bayinya.
"Ya udah." Pasrah Gerald. Membuat perasaan dalam diri Abhigail kian berbunga-bunga hanya karena cowok itu perlahan mulai bersikap jauh lebih baik.
Dan, ya. Abhigail senang bukan kepalang. Bahkan rasa-rasanya, Gerald terasa seperti berubah menjadi orang lain yang tidak ia kenali.
"Udah. Yuk!" Abhigail kembali bersuara, menyadarkan Gerald yang sedari tadi hanya diam dan memerhatikannya.
Tanpa berniat mengatakan apa-apa, Gerald mengulurkan tangannya ke wajah Abhigail. Mengusap pelan salah satu sudut bibir gadis itu yang terlihat belepotan karena memakan dessert yang terakhir.
Sialnya, hal itu membuat Abhigail tertegun beberapa saat hingga membuatnya tanpa sadar membelalakkan kedua bola matanya. Hanya bertahan singkat. Setelahnya, suara dehaman dari Gerald seakan membangunkannya kembali ke dunia nyata.
"Belepotan." Ujar Gerald, datar. Tetapi, di telinga Abhigail, perkataan itu terdengar begitu manis sampai sukses membuat wajahnya lagi-lagi tersipu.
"O-oh!"
"Kenapa? Salting gitu kelihatannya,"
"Ha-hah?! Si-siapa yang salting? Enggak ada tuh," Abhigail dibuat panik mendengar pertanyaan Gerald yang walau terdengar sangat datar, namun begitu menjurus sampai membuat jantungnya berdegup dua kali lipat dari biasanya.
Spontan Abhigail membuang muka, sedangkan Gerald malah terkekeh pelan, masih dengan perhatiannya yang tertuju pada Abhigail.
"Ya udah, katanya mau es krim? Gue mau bayarin dulu ini. Mau tunggu atau-"
"Ikut!" Sela Abhigail, cepat. Sepasang netranya pun kembali beradu pandang dengan Gerald yang pada saat bersamaan masih setia menatapnya.
Helaan napas panjang lantas Gerald embuskan. Perlahan, ia mulai bangkit dari posisi duduknya, seraya menggenggam tangan Abhigail yang entah sejak kapan berada di tangannya.
Abhigail turut bangkit di samping Gerald. Senyuman gadis itu lagi-lagi mengembang penuh rasa bahagia.
Makasih udah mau berubah demi gue dan calon anak kita.
****
"Ger? Mereka ... siapa?" Abhigail menatap kalut pada sebuah pemandangan horor di hadapan mereka, di mana sekumpulan geng motor mencegat mereka tepat di tengah jalanan yang cukup sepi penduduk.
Gerald yang posisinya berada tepat di samping tubuh Abhigail pun spontan mengernyitkan dahi dengan kedua tangannya yang terkepal kuat. Saat hendak keluar dari dalam mobil, Abhigail mencegahnya. Menggeleng cepat kepalanya sebagai bentuk penolakan agar Gerald tidak bertindak sembarangan.
__ADS_1
"Mau ke mana?" Tanya Abhigail, perasaannya mulai terasa tidak nyaman, apalagi ketika terdengar suara ketokan kasar dari arah pintu mobil sebelah Abhigail.
"Keluar, woi! Gua tahu lo berdua ada di dalem!" Sahutan kasar itu membuat Abhigail tanpa sadar menoleh ke arah kaca mobil di bagian depan. Perasaannya kian terasa kalut, apalagi ketika sentuhan dari tangan Gerald yang seolah tengah berusaha meyakinkannya.
"Lo jangan pernah keluar dari sini satu langkah pun! Kalau bisa, sekalian lo kunci mobilnya dari dalem. Gue keluar bentar,"
"Enggak! Lo gak boleh samperin mereka, Ger! Gue takut lo kenapa-kenapa! Mending lo di sini aja! Ki-kita telepon polisi, ya?" Saat Abhigail hendak meraih ponselnya, tangan Gerald mencegahnya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Gerald menjatuhkan ciuman lembut di bibir Abhigail yang tampak bergetar hebat. Mendapat perlakuan itu, spontan Abhigail menangis.
"Tungguin gue. Gue janji, gue gak akan kenapa-kenapa." Gerald berbisik pelan tepat di depan wajah Abhigail yang masih menangis.
Entahlah. Abhigail takut jika satu hal yang tidak diinginkan terjadi pada Gerald. Di luar sana, ada sekitar delapan sampai sepuluh orang yang mencegat mereka. Sedangkan di sini, hanya Gerald seorang diri.
"Tapi-" ucapan yang hendak Abhigail lontarkan terhenti saat jari telunjuk Gerald mendarat di bibirnya.
"I love you, Bhi! Gue gak akan biarin sesuatu yang buruk terjadi sama lo, gue, maupun buat calon anak kita nanti. Percaya sama gue, hm?" Gerald lagi-lagi berujar halus, semakin membuat Abhigail tak dapat berkata-kata lain selain menangis terisak.
"Jangan ke mana-mana, ya!" Selepas mengucapkan kalimat itu, Gerald bergegas keluar dari mobil tanpa mau mengutarakan apa-apa lagi. Sedangkan di sisi lain, Abhigail bergerak tak nyaman dengan air mata yang terus menerus mengalir membanjiri wajahnya.
"Gue harus lapor polisi!"
****
"Nah, dari tadi kek lo muncul, Ger! Kita nunggunya lama, taik!"
"Udah ganti lagi aja cewek yang lo bawa. Mana pake adegan romantis-romantisan segala lagi. Yang kemaren ke mana?" Ucapan menggelegar saling bersahutan dari sekumpulan geng motor itu, tak lantas membuat pendirian Gerald goyah untuk mundur dari tempatnya.
Dengan perasaan dendam yang terasa meluap-luap, Gerald menarik kerah jaket milik sang pemimpin geng motor tersebut tepat ke depan wajahnya.
Sempat membuat heboh sehingga hampir menimbulkan aksi baku hantam, sang pemimpin geng tersebut kemudian menginterupsi para anak buahnya untuk mundur perlahan.
Dengan penuh keterpaksaan, mereka pun menurut walau sebenarnya sudah sangat ingin melayangan pukulan pada Gerald.
"Santuy, Ger, santuy! Gue sama para anak buah gue ke sini nyamperin lo buat nyampein pesan dari si Boss."
"Kalau soal utang 20 juta waktu taruhan kita hari itu, gue udah bayar lunas asa lo tahu! Sekarang, pergi dari hadapan gue, sebelum lo semua habis sama gue!" Gerald berujar lantang. Sialnya hal itu tak membuat mereka terintimidasi dan berakhir pergi melarikan diri.
Justru yang ada, mereka semua malah tergelak dengan tawa yang begitu menggelegar.
Dengan kasar, sang pemimpin geng motor itu menghempas tangan Gerald yang masih berada di kedua kerah jaketnya. Tatapan matanya berubah mengejek dengan sesekali berdecak kesal.
"Utang? Itu masalah lo sama gue. Di sini, gue cuman mau nyampein salam dari orang yang sekarang berada di balik jeruji besi akibat ulah lo dan temen sialan lo! Oh, temen sialan lo kemaren udah kita kasih pelajaran. Rem motornya kita putusin. Sayang banget dia gak kenapa-kenapa. Sekarang, giliran lo yang harus mati!" Ucapan panjang lebar tersebut membuat Gerald spontan terkekeh. Walau hanya bertahan sekilas, setelahnya, raut wajah cowok itu berubah dingin dan sangar dengan napasnya yang tampak memburu.
"Temen? Gue gak ada temen! Bos lo salah nyari target. Kalau dia dendam, dendam sama gue, gak usah jauh-jauh nyari yang lain! Dan lagi, bilang sama bos lo, kalau dia mau tuntasin dendamnya ke gue, jangan nyari antek-antek gak guna! BASI!"
"Sialan si Gerald! Maju semua, kita serang nih bocah sialan!" Seruan lantang tersebut menjadi pembuka dari awal perkelahian antara Gerald melawan sepuluh orang anggota geng motor.
Dengan brutal, para anggota geng motor itu seolah sengaja menyerang secara bersamaan, hingga hampir membuat Gerald kewalahan.
Beruntungnya, Gerald cepat menghindar. Diserangan selanjutnya, salah seorang anggota geng motor itu membawa balok kayu. Berlari hendak kembali menyerang Gerald, tetapi berhasil dikalahkan hanya dengan satu serangan.
Perkelahian antara mereka berlangsung lama dan hampir tak memiliki jeda. Masing-masing dari mereka semua mulai sama-sama kewalahan. Wajah dan tubuh sudah mulai babak belur. Beberapa anggota geng motor itu pun satu-persatu mulai gugur. Hanya tinggal sisa tiga orang lagi, dan Gerald masih dengan ancang-ancang di tempatnya.
"Maju lo semua! Kenapa pada diem?" Gerald berkata mengejek yang ditujukan pada ketiga anggota geng motor tersebut yang masih tetap diam di tempat mereka.
Ketiga orang itu tampak saling pandang dengan menahan berbagai rasa sakit di beberapa tubuh dan wajah mereka akibat serangan dari Gerald.
"Tunggu apa lagi? Maju, Sialan! Jangan malu-maluin gue, lo! Gue potong masing-masing satu jari lo semua kalau berani gak dengerin gue!" Teriakan sarkas itu berasal dari sang ketua geng motor yang pada saat bersamaan hanya berleha-leha di atas motornya.
Tugasnya di sini hanya satu. Memerintah dan memerintah seenaknya. Para anggotanya terluka parah, sementara dirinya baik-baik saja.
Karena terlanjur takut akan ancaman tersebut, mereka bertiga pun kembali menyerang Gerald dengan sisa kekuatan yang ada. Tak bertahan lama, segerombolan mobil polisi datang mengerubungi mereka.
Dengan langkah cepat, para anggota geng motor yang tengah terkapar hendak melarikan diri pun langsung dibekuk paksa oleh anggota polisi. Bahkan, sang ketua yang juga hendak melarikan diri dengan menaiki motornya pun turut dicegat dan berakhir seperti anggotanya yang lain.
"Gerald!" Sahutan keras diiringi langkah cepat, seketika mengalihkan atensi sang pemilik nama yang pada saat bersamaan tengah berbincang pelan dengan anggota kepolisian yang meminta kesaksiannya.
Raut wajah penuh luka Gerald yang tampak datar, mulai menampilkan seulas senyuman tipis yang ditujukan pada Abhigail.
Belum sempat ia merasa tenang melihat gadisnya baik-baik saja, dari arah lain, tampak seorang pria asing berpakaian serba hitam dengan memakai topi dan masker, berlari ke arah Abhigail dengan langkah yang terbilang cukup gontai. Sebuah benda tajam bahkan tampak berada dalam genggaman tangannya yang terbungkus sarung tangan.
Terlanjur panik, Gerald pun ikut berlari menuju Abhigail. Ia kemudian memeluk erat tubuh gadis itu, dan memutar posisi mereka. Sehingga yang terjadi saat ini adalah, Gerald menggantikan posisi Abhigail dan melundunginya, namun sial, pisau tajam itu berhasil menusuk pinggang sebelah kiri Gerald.
To be continue...
__ADS_1