
“Ekhem!” Suara dehaman yang terdengar cukup menggema dalam sebuah ruangan luas bernuansa serba putih, sontak mengagetkan seseorang yang baru saja selesai menutup pintu dengan sangat berhati-hati.
Perlahan namun pasti, Aldevaro mulai membalikkan tubuhnya, menghadap sosok wanita paruh baya yang sedari tadi terus berusaha ia hindari. Sebuah cengiran tak biasa lantas ia tampilkan saat sepasang netra tajam milik sang mama mulai meyelidiknya dari atas sampai bawah.
“Baru pulang ke rumah? Kalau Mama gak suruh pulang, kamu bakalan pulang gak?” Regina, mamanya Aldevaro, meletakkan secangkir teh yang sempat ia tenggak seteguk ke atas meja depan sofa.
“Pulang lah, Ma. Cuman, ya, kalo di rumah segede gini sendirian 'kan, gak enak. Mending di apartement.”
Regina mengangguk-anggukkan kepalanya dengan masih memasang raut senyum profesional. “Padahal di sini masih ada pembantu, lho, yang bisa memberikan fasilitas apa pun yang kamu minta. Cuciin baju misalnya? Tinggal di apartement sendirian lebih enak, ya? Lebih leluasa, hm?” Tatapan Regina berubah nyalang, membuat Aldevaro sontak berlari menghampiri sang mama yang masih berdiam diri di sofa single dengan sesekali akan membuka aplikasi berita di dalam Ipad miliknya.
“Eng-gak gitu maksudnya, Ma! Maksud aku tuh ...” Aldevaro menghentikan ucapannya kala tatapan Regina lagi-lagi kembali padanya. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu menaruh kembali Ipadnya di atas meja, kemudian bersidekap menatap wajah pucat pasi Aldevaro.
“Jelasin sama Mama. Kamu minta ‘kan, sama Kakek?”
“Itu ... I-iya, Al minta sama Kakek. Tapi ‘kan itu juga karena dia yang maksa. Itu cuman kado ulang tahun, Ma!” Jelas Aldevaro. Raut wajahnya tampak tegang, sangat berbeda dengan dirinya yang biasanya selalu terlihat kalem.
“Kenapa harus apartement?” Tanya Regina, seraya bangkit dari posisinya.
Di tempatnya, Aldevaro berdesis pelan dengan sesekali akan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sebenarnya ...” Aldevaro menggantungkan ucapannya, kala tatapan sang mama berubah lebih menyeramkan dari sebelumnya.
“Al tuh bosen di rumah mulu. Mama sama Papa sibuk, jarang ada di rumah. Ya, walaupun di sini banyak pembantu, tapi ‘kan tetep aja masing-masing. Ya kali diajak main. Kalo di apartement ‘kan, bisa sambil nongkrong sama temen-temen tuh. Mana jaraknya jadi deket sama sekolah, jadi gak memakan waktu lama ‘kan?” Terang Aldevaro. Seulas cengiran kaku ia tampilkan pada sang mama. Berharap beliau mau memakluminya kali ini.
Regina lantas mengembuskan napas lelah. Ucapan dari putranya kali ini sanggup membuatnya serasa tertampar oleh kenyataan. Ya, dirinya serta sang suami jarang berada di rumah. Sangat jarang sampai rasanya rumah yang tampak megah dari luar itu terlihat begitu dingin tak tersentuh.
“Ya sudah kalau itu membuat kamu bahagia. Mama bisa apa?” Ujar Regina, kemudian melenggang dari hadapan Aldevaro yang dibuat terdiam, tak mengerti maksud dari sikap dingin mamanya yang tiba-tiba.
“Oh, ya. Kamu udah makan?” Regina menghentikan langkahnya, seraya membalikkan tubuhnya menghadap Aldevaro. Bukannya menjawab dengan lisan, cowok itu malah menggelengkan kepalanya dengan kikuk. Tanpa sadar mengundang seulas senyum tipis di wajah sang mama.
“Makan, gih. Di dapur ada makanan kesukaan kamu.” Ucapnya, ketika Regina hendak melanjutkan langkah kakinya, sahutan pelan dari Aldevaro menghentikan niatannya.
“Buatan Mama?” Pertanyaan itu sedikit membuat Regina membatu. Tanpa membalikkan tubuhnya, wanita itu berkata, “Bukan. Buatan Si Mbok. Mama ‘kan, baru pulang. Mana bisa buat makanan kesukaan kamu.” Tanpa menunggu putranya membalas, Regina langsung melanjutkan langkah kakinya dengan terburu-buru.
****
Tok tok tok!
Suara ketukan di luar pintu kamarnya, membuat Aldevaro yang belum lama ini memejamkan mata, langsung membuka matanya disertai dengan helaan napas yang keluar dari mulutnya.
Dengan malas, perlahan cowok itu mulai bangkit dari tempat tidur untuk membukakan pintu. Dan ketika pintu kamarnya telah sepenuhnya terbuka, betapa terkejutnya saat Diandra dengan seulas senyuman manis andalannya, kini berdiri tepat di hadapannya. Tanpa menunggu Aldevaro bicara, gadis itu langsung saja menerobos masuk. Membuat Aldevaro lagi-lagi hanya dapat menghela napas, seraya kembali menutup pintu kamarnya.
“Akhirnya sekarang lo pulang ke rumah lo juga, ya. Jadi gue gak perlu jauh-jauh lagi, deh, hehee.” Sahut Diandra, tepat ketika gadis itu telah mendudukkan dirinya di atas tempat tidur Aldevaro.
“Kok, lo tahu gue pulang ke rumah?” Aldevaro menatap Diandra dengan kedua alisnya yang berkerut dalam. Tak lupa dengan kedua lengannya yang ia lipat di depan dada, dengan posisi masih berdiri di depan pintu kamar yang sudah tertutup rapat.
“Dari Tante Regina.” Ujar Diandra, masih memasang senyuman manis di wajahnya. Tak berapa lama setelah gadis itu berucap, ia mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur Aldevaro tanpa merasa sungkan sedikitpun.
Sedangkan Aldevaro, cowok itu hanya mampu menghela napas malas, dan memilih mengalah, sehingga ia berakhir mendudukkan dirinya di atas sofa yang tak jauh dari tempat Diandra saat ini.
Hening. Suasana di antara mereka mendadak sunyi tak seperti biasanya. Karena merasa bosan sedari tadi terus-menerus saling membisu, diam-diam Diandra melirik Aldevaro. Tampak cowok itu tengah memainkan ponselnya dengan sesekali tersenyum misterius.
“Al!” Panggilnya, seraya mengubah posisinya menjadi terduduk biasa.
“Hm.”
“Gue udah milih lagunya, lho,”
“Lagu buat..?” Tanya Aldevaro jengah. Membuat Diandra lantas menghela napas malas, seraya memutar bola matanya.
__ADS_1
“Itu ... yang buat-”
“Ooh. Lagu apa?” Potong Aldevaro. Diandra yang merasa tidak diperhatikan pun langsung menghampiri cowok itu, kemudian dengan berani merebut ponselnya. Dan siapa sangka, raut wajah Aldevaro langsung berubah dingin saat itu juga.
“Apaan sih lo? Balikin.” Saat Aldevaro hendak meraih ponselnya, Diandra langsung menjauhkannya.
“Gak akan gue balikin, kalau lo masih aja kayak tadi!”
“Fine. Lo mau gue gimana?” Perkataan pasrah dari Aldevaro membuat Diandra tersenyum dalam hati. Memang, ya, sedari kecil sampai saat ini pun, cowok itu selalu mengalah padanya. Berarti, gue termasuk prioritas juga ‘kan? Batinnya tanpa sadar berucap.
“Gitu dong. Gue cuman mau lo dengerin gue ngomong, itu aja. Gue gak suka ya, kalau lagi ngomong sama seseorang, tapi malah gak didengerin atau didengerinnya asal-asalan. Lo juga pasti gitu ‘kan?” Diandra lantas mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. Setelahnya, gadis itu mulai menarik sebuah kursi kayu, kemudian mendudukkan dirinya tepat di hadapan Aldevaro.
“Keluarin gitar lo, gue mau nyanyi.” Ucap Diandra angkuh, yang diakhiri sebuah kekehan kecil.
“Nyuruh gue, lo? Ambil aja sendiri.” Aldevaro menarik smirk-nya, seraya menyandarkan punggungnya di sofa. Dengan menahan kekesalan, Diandra lantas bangkit dari kursi seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke, fine! Gitarnya di taroh di mana, btw,”
“Noh, di dalem lemari. Ambil aja, gak usah sungkan, kek biasanya.” Ujar Aldevaro, terdengar seakan tengah meledeknya. Namun, hal itu tak membuat Diandra kesal. Ia justru merasa senang dan berbunga-bunga saat Aldevaro hanya bersikap seperti ini padanya.
Sayangnya, Diandra salah besar. Aldevaro bahkan bersikap lebih dari itu hanya ketika saat bersama Zeva.
“Yang ini ‘kan?”
“Eeh, bentar, bentar. Cewek gue nelepon.” Teriakan Aldevaro yang cukup menggema, membuat Diandra lantas tersentak. Raut wajah gadis itu langsung berubah bingung saat Aldevaro mengatakan bahwa “ceweknya tengah meneleponnya”.
Tunggu, apa?
“Cewek? Lo punya-” gestur tangan dari Aldevaro yang mengisyaratkan agar Diandra diam pun membuat gadis itu mau tidak mau menutup mulutnya sementara, walau dalam hati, Diandra merasa sangat terbakar saat ini.
“Iya, Va? Tumben lo hubungin gue duluan. Kangen gue, ya?” Diandra tanpa sadar mengepalkan tangannya saat mendengar Aldevaro berkata manis pada seseorang yang dia klaim adalah gadisnya. Raut wajah cowok itu bahkan terlihat begitu berbinar dengan senyuman manis yang seolah tak dapat luntur dari wajahnya.
“Va? Lo gak pa-pa? Lo di mana?” Suara Aldevaro mendadak serius dengan wajahnya yang juga berubah tegang. Hal itu lantas tak luput dari perhatian Diandra yang sedari tadi hanya mampu diam tak melakukan apa-apa.
Melihat Aldevaro yang terburu-buru hendak membukakan pintu, refleks Diandra mencekal tangan cowok itu. “Lo mau ke mana? Ini udah jam enam sore lho, Al.”
“Gue ada perlu, penting. Kalau Mama nanya, lo bilangin aja gue keluar sebentar.”
“Lo mau ke-” ucapan Diandra lagi-lagi terpotong saat Aldevaro melepaskan cengkraman tangannya, dan melenggang keluar dengan langkah terburu-buru.
“Lo mau ke mana sih, Al? Kenapa lo tinggalin gue?” Diandra berucap lirih di tempatnya. Setetes air mata lantas luruh menuruni wajah cantiknya tanpa dirinya minta.
****
Sore ini, selepas Zeva pulang dari sekolah, gadis itu mendapat panggilan telepon dari mamanya, Raya, bahwa beliau hendak melakukan dinas ke luar kota selama beberapa hari. Raya tidak bisa pamit pada Zeva dikarenakan dinasnya yang cukup mendadak, dan mau tidak mau, beliau harus melakukan dinas tersebut.
Hingga saat ini, saat jam telah menunjukkan pukul 5 sore, Zeva tengah sendirian di dalam rumahnya. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru bagi Zeva, namun sanggup membuatnya kesepian dalam rumah. Perutnya lapar, dan tidak ada makanan maupun bahan makanan yang tersisa di kulkasnya.
Jika tahu begini, sebelum pulang ke rumah tadi, Zeva harusnya meminta Aldevaro untuk mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Jika sudah begini, sepertinya yang mampu Zeva lakukan hanyalah menunggu sampai besok, atau mampir ke mini market membeli mi instant.
Tapi ... ini sudah sangat sore, dan jarak mini market dengan rumahnya terbilang cukup jauh. Jika saja Zeva memiliki motor, mungkin ia tidak akan sesengsara ini. Ralat. Zeva memiliki motor, hanya saja selalu dipakai bekerja oleh mamanya. Zeva dapat memakainya ketika hari libur saja, tidak dengan hari-hari biasa.
“Huft ... apa gue pake gofud aja, ya? Akh, tapi ‘kan, gue lagi gak ada kuota. Ini aja cuman kuota chat.” Zeva menggerutu, seraya terus-menerus berpikir keras dalam otak kecilnya.
“Gak tahu, ah. Gue jalan keluar aja. Siapa tahu jam segini masih ada ayam krispi.” Gerutunya lagi, kemudian bangkit dari posisi terlentangnya di atas sofa depan tv.
Saat Zeva hendak menuju kamarnya untuk mengambil uang, langkah kakinya sontak terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu di luar rumahnya. Sempat terdiam sejenak untuk memastikan, suara ketukan tersebut tak lagi terdengar. Dengan bermodalkan positive thinking, Zeva melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Namun, baru juga sampai di dalam kamar, suara ketukan pintu itu kembali terdengar. Tanpa sadar Zeva berdecak sebal saat suara ketukan pintu itu berubah menuntut, sehingga menghasilkan bunyi yang cukup mengganggu.
__ADS_1
“Siapa sih? Varo, gak mungkin. Kalau dia mau ke sini, dia bakalan ngabarin dulu,” gerutu Zeva, seraya melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, selepas dirinya selesai mengambil selembar uang lima puluh ribuan.
Ketika Zeva telah sepenuhnya berdiri di depan pintu rumahnya, entah mengapa sudut hatinya mendadak ragu. Tangan yang hendak meraih knop pintu pun hanya sampai melayang di udara, belum sepenuhnya menyentuh permukaan knop pintu tersebut.
Suara ketukan pintu itu pun mulai menghilang, membuat sepasang alis Zeva berkerut dalam. Pikirnya, jika dirinya saat ini tengah diganggu oleh makhluk yang bukan manusia, maka ini benar-benar sudah keterlaluan. Baru juga pukul 5 sore, namun para makhluk tak kasat mata sudah berani mengganggunya? Benar-benar menyebalkan.
Oke. Anggap saja Zeva dapat merasakan bahkan melihat sekilas sosok makhluk astral dalam kesehariannya. Perlu digaris bawahi, hanya sekilas! Tidak lebih. Terkadang pula, Zeva dapat melihat sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui sebagai manusia. Contohnya, dapat melihat masa depan. Sayangnya, Zeva tak pernah sadar akan apa yang telah ia lihat, dan dia akan sadar ketika kejadian yang sempat ia lihat dalam benaknya telah benar-benar ia alami dengan kejadian yang persis sama.
Aneh bukan?
Sungguh, semua ini bukanlah kemauannya.
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, Zeva lantas menarik knop pintu tersebut. Dan, ketika pintu telah benar-benar terbuka sepenuhnya, tak ada siapa pun di sana.
“Gue beneran diganggu lagi?” Gerutu Zeva, tak habis pikir dengan dirinya yang selalu lain dari yang lain.
Namun, ketika netranya tak sengaja melirik ke bawah, tampak beberapa noda tanah yang berbentuk sepasang alas kaki mengotori teras rumahnya. Noda tersebut bahkan terlihat seperti baru saja datang, namun tak lama kemudian pergi.
Jadi, jika itu bukanlah makhluk yang biasa sering mengganggu Zeva, berarti, yang sempat mengetuk pintu rumahnya adalah ... seseorang?
“Tapi siapa? Dan kenapa dia pergi gitu aja setelah ngetuk pintu?” Banyak yang menjadi pertanyaan dalam benak Zeva sebenarnya. Namun gadis itu memilih tak peduli dan melanjutkan hal yang sempat tertunda. Yaitu, pergi ke sebuah mini market untuk membeli beberapa makanan pokok, atau apa pun itu. Yang terpenting, rasa laparnya dapat segera teratasi.
Setelah pintu rumahnya telah benar-benar ia kunci rapat, Zeva langsung melenggang begitu saja tanpa beban sedikitpun. Padahal, kasus seseorang yang baru saja mengetuk pintu rumahnya, dan langsung menghilang tanpa memperlihatkan muka, bisa saja menjadi sebuah ancaman bagi seseorang. Tapi sepertinya, itu semua tidak berlaku untuk Zeva. Karena baginya, hal tersebut sudah sangat biasa, alias sudah sangat sering terjadi di hidupnya.
Daripada terus memikirkan kejadian tersebut yang bisa saja membuat dirinya parno, lebih baik Zeva melupakannya.
Tanpa dirinya sadari, sepasang netra dari kejauhan, tengah memerhatikan Zeva dari sejak gadis itu pertama kali membuka pintu. Raut wajahnya tampak sulit dijabarkan, ketika wajah bermuka dingin nan tegas itu masih memiliki ekspresi sendu yang terpampang di wajahnya ketika menatap kepergian Zeva.
Sekali lagi, orang yang entah siapa itu mengembuskan napasnya untuk yang kesekian kali. Tak ingin berakhir menyesal, dia lantas mengikuti langkah Zeva dengan terburu-buru, namun masih menyisakan jarak agar tak segera diketahui oleh gadis itu.
****
Sesampainya di sebuah mini market yang akhir-akhir ini sering menjadi langganannya, Zeva mulai meraih sebuah keranjang kosong yang nantinya akan ia isi dengan barang-barang belanjaan. Karena dirinya hanya membawa uang senilai lima puluh ribu rupiah, Zeva memutuskan untuk membeli beberapa bungkus mi instant serta beberapa makanan ringan untuk menemani malam sunyinya.
Ketika gadis itu mulai berpindah ke sisi rak yang lain, ia menemukan beberapa bungkus roti tawar serta selai yang sudah dari lama sekali ia idam-idamkan, namun sering kali Zeva tak pernah kebagian, karena memang stoknya yang agak terbatas.
Tak ingin berakhir menyesal seperti saat-saat dulu, Zeva mulai mengambil satu bungkus roti tawar disertai dengan satu buah selai favoritnya, yaitu selai strawberi.
Dirasa puas, Zeva mulai berjalan-jalan ke rak lain dan menemukan beberapa camilan pedas favoritnya yang kalau disatukan dengan mi kuah instant, maka rasanya akan jauh lebih nikmat. Membayangkannya saja sudah membuat Zeva merasa lapar.
Tanpa berbasa-basi, Zeva memasukkan dua bungkus camilan pedas berupa makaroni itu ke dalam keranjang belanjaannya. Dirasa cukup, ia mulai berjalan ke arah kasir untuk membayar belanjaannya. Beruntung sore ini mini market terbilang cukup sepi, mungkin karena langit yang sudah hampir berganti gelap.
Tak menunggu waktu lama, kini giliran Zeva membayar semua belanjaannya. Total semuanya menjadi 46.600, tinggal sisa sedikit lagi.
Tak pernah ia bayangkan jika belanja beberapa makanan yang kini berada di tangannya akan menguras dompetnya sebegitu banyak. Padahal di hari-hari ketika di sekolah, Zeva akan selalu berhemat untuk membeli keperluan ini dan itu yang di luar keperluan sekolah.
Baru kali ini Zeva merasa menyesal telah membelanjakan uang yang sudah susah payah ia kumpulkan berhari-hari. Namun, Zeva bisa apa lagi? Jika sudah seperti ini, menyesal pun sudah tidak berarti.
Dengan langkah malas, Zeva mulai menyeret kedua kakinya meninggalkan area mini market. Suasana di sekitar yang semula berwarna jingga kemerah-merahan akibat sorotan cahaya dari matahari sore, perlahan mulai berganti gelap dengan seiring berjalannya waktu yang tidak pernah berhenti.
Ketika Zeva menyalakan ponselnya, jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah 6 sore. Jarak rumahnya masih cukup lumayan jika ditempuh dengan hanya berjalan kaki, mungkin membutuhkan waktu sekiranya 5-8 menit.
Lagi-lagi Zeva menghela napasnya, merasa lelah dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini. Namun, rasa lelah dan malas itu seolah menguap, saat sesosok pria bersetelan jas dan kemeja lengkap, berdiri menghadang jalannya di depan sana.
Langkah Zeva yang terbilang cukup pelan, mulai berhenti. Sepasang netra yang tadinya menatap asal, tampak melebar ketika sosok pria yang tengah ia lihat di depannya saat ini, sudah cukup mengguncang hati serta pikirannya.
“Eva!? Gimana kabar kamu? Papa kangen banget sama kamu.”
__ADS_1
To be continue...