
Bayi yang ku beri nama Radit itu merangkak, mengitari kedua kaki ku yang sejak tadi berdiri mematung di dekat lemari. Seperti meminta untuk ku gendong, Radit bergelayut dan mencoba untuk berdiri dengan berpegangan salah satu kaki ku. Tangan sedingin es itu menempel di betis ku yang kebetulan saat itu aku hanya mengenakan celana sebatas lutut. Sontak saja aku langsung menarik kaki ku dengan kuat dan membuat Radit terjatuh begitu saja ke lantai. Dia tak menangis. Hanya tatapan mata yang entah ala artinya, serta senyum menyeringai seolah meledek ku karena telah berhasil membuatku takut. Aku menoleh saat mendengar suara Ratih menjerit.
"Mas." dengan wajah memerah dia menghampiri ku dan langsung mengambil Radit yang terduduk tepat di depanku. Tiba-tiba saja bayi itu menangis, merengek seolah sedang meminta pertolongan.
"D-Dik." panggilku lirih. Aku menggeleng. Jelas saja apa yang Ratih lihat tidak seperti apa yang ia duga. Aku ingin berusaha menjelaskan, namun ku tahu itu semua tidak akan berguna. Ratih terlalu menyayangi Radit.
"Sudahlah. Ratih tahu, Mas Hadi tidak bisa menyayangi Radit. Ratih sadar, Ratih tidak bisa memberikan keturunan sama Mas Hadi. Tapi bukan begitu caranya. Kalau tidak bisa menerima kehadiran Radit di tengah-tengah kita. Mas Hadi tidak udah menyiksa Radit. Dia tidak bersalah." umpat Ratih panjang lebar.
"Bu-bukan begitu, Dik. Mas hanya..."
Belum sempat ku lanjutkan kata-kataku, Ratih langsung pergi meninggalkanku membawa Radit bersamanya. Bayi itu menatapku dengan senyuman yang entah apa artinya. Aku merinding setiap kali melihat Radit tersenyum.
*****
__ADS_1
Di rumah makan, Ibra mencoba memberikan penjelasan tentang pengertian bayi ambar.
"Jadi dia bukan bayi manusia?" tanyaku lirih. Ibra menggeleng.
"Bukan, Pak. Disini tertulis kalau dia bayi arwah. Atau bisa jadi arwah bayi yang meninggal saat di dalam kandungan Ibunya." jelas Ibra.
"Lalu, apa bisa kita mencari siapa Ibunya bayi ini? Siapa tahu bisa membantu menyingkirkan atau mungkin membawanya pulang. Aku takut Ratih dalam bahaya." ucapku memohon pada Ibra.
"Tergantung, Pak." jawabnya singkat. Aku hanya mengernyitkan dahi. Jujur, aku tak mengerti tentang hal seperti ini.
Malam itu, pikiranku benar-benar kalut. Aku menyesap kopi hitam dan sebatang rokok di teras rumah. Tak seperti biasanya, aku memang bukan lelaki yang suka merokok. Hanya saja, saat ini aku membutuhkan ketenangan untuk berpikir.
"Harus ku apakan anak ini?" aku bergumam sendirian. Kalau harus ku rawat, dia bukan anak manusia. Jika harus ku buang, bagaimana caranya?
__ADS_1
Srrreeeekkk ... srrreeekkk ...
Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku mencari ke arah sumber suara, penasaran. Siapa tengah malam begini yang sedang menyapu. Bukankan tak ada penjual makanan di sekitar rumah jika sudah larut begini.
"Ssrreeeekkkk... srreeekkk ... srreeekkk..."
Bulu kudukku berdiri dengan sendirinya. Hawa dingin terasa begitu kuat. Tak ada siapapun yang lewat. Aku berpikir seseorang mungkin sedang berjalan dengan menyeret sandal yang ia kenakan. Namun tak ada siapa-siapa di luar pagar sana.
"Oooeeee... oooeeee..."
Aku bergegas ke dalam saat mendengar tangisan bayi. Tak biasanya Radit menangis sekencang itu. Biasanya dia hanya merengek saja, namun kali ini tangisannya sangat keras hingga membangunkan Ratih yang tertidur.
Sssrreeeettt ...
__ADS_1
Bayangan putih melintas dengan cepat di luar jendela kamar kami. Radit yang semula menangis langsung terdiam. Ia menoleh ke asal suara dan bayangan yang baru saja lewat.