
"Radit, kamu kenapa, Nak?" Ratih terlihat sangat gelisah dan cemas saat melihat tatapan Radit tidak seperti biasanya. Radit hanya menatap ke arah jendela. Matanya tak berkedip sedikitpun meskipun Ratih sudah berusaha menggoyang-goyangkan tubuh mungilnya.
"Mas, Radit kenapa ini?"
Aku tak menjawab, aku hanya melihat ke arah jendela. Sama seperti yang di lakukan oleh Radit saat ini. Ku beranikan diri untuk mendekat, memeriksa apa sebenarnya yang ada di balik jendela luar sana. Perlahan ku sibakan tirai putih yang menutup kaca jendela. Tak ada apa pun di luar sana. Namun mata Radit masih saja tertuju ke luar sana.
"Radit. Sadar, Nak. Ini Ibu. Kamu kenapa?" Ratih masih berusaha menyadarkan Radit dengan menggendong dan menimang-nimang sosok bayi berwajah pucat itu.
"Ratih. Kamu yang seharusnya sadar. Dia bukan bayi manusia." aku berusaha membujuk Ratih supaya Istriku itu tersadar bahwa apa yang dia timang selama ini adalah bayi setan.
"Apa maksud Mas Hadi? Mas Hadi masih menganggap Radit ini bukan manusia? Bilang saja Mas Hadi tidak mau menerima Radit jadi anak kita." aku merasa semua jadi serba salah. Di satu sisi aku merasa takut bila harus membiarkan Ratih terus-terusan seperti ini. Apalagi jika harus membiarkan Radit tetap di sekitar kami. Sedangkan memisahkan Radit dari Ratih sama saja menabuh genderang perang terhadap istriku itu.
__ADS_1
"Dik, percayalah sama Mas. Kita akan mengambil anak dari panti asuhan yang lebih jelas asal usulnya. Tapi bukan dia." ucapku sambil melihat ke arah Radit yang tiba-tiba saja menangis keras saat aku bilang untuk mengambil anak dari panti asuhan.
"Sudahlah. Mas memang egois."
Aku menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Aku bingung harus bagaimana. Aku pun sebenarnya juga masih merasa bingung dengan kebenaran orang-orang saat melihat Ratih membawa boneka yang menyeramkan, bukan sedang membawa bayi. Dan satu lagi, wanita siapa yang memberikan nasihat untuk merawat Radit karena di anggap membawa keberuntungan. Tetapi memang benar adanya, semenjak kedatangan Radit, usahaku semakin lancar dan ramai. Bahkan setiap hari pengunjung rumah makan kami selalu penuh.
Sosok itu tak muncul lagi. Aku kembali membujuk Ratih untuk tak terus-terusan mendiamkan ku seperti ini.
"Yasudah, kita rawat Radit. Tapi mas hanya ingin bertanya satu hal sama kamu, apa kamu tidak pernah merasa kalau Radit itu berbeda?" tanyaku sambil menepuk bahu istriku dan memilih untuk keluar kamar.
"Ssrreeeekkk ... srreeekkk ... srreeekkk...".
__ADS_1
Aku melirik ke arah jam yang terpasang di dinding, tepat di atas pintu menuju dapur. Jam setengah dua belas malam. Suasana kampung biasanya sudah sangat sepi. Bahkan hampir semua tetangga sudah terlelap karena terlalu lelah bekerja seharian. Di tambah, jarak rumah yang memang tidak terlalu dekat antara rumah satu dan yang lainnya.
"Srrreeekkk... srreeekkk... srreeekkk..."
Aku bangkit dari kursi, derit bangku yang sebenarnya tidak terlalu kencang, menjadi lebih terdengar nyaring saat tengah malam. Aku beranjak, berjalan perlahan ke arah jendela. Aku mengintip ke sekitar halaman rumah. Penasaran, siapa yang tengah malam begini menyapu halaman. Tidakkah ada hari esok lagi.
Sosok bergaun putih terlihat berjalan dan menghilang di balik tembok. Sepertinya sosok itu menuju ke samping rumah, dimana di sana adalah kamar kami. Kamar yang biasa ku gunakan untuk melepas lelah bersama Ratih. Ditambah sekarang ada Radit disana. Aku mencoba masuk ke dalam kamar. Perlahan aku membuka pintu karena takut membangunkan Ratih dan Radit yang mungkin sedang terlelap.
Deegg...
Jantungku berdegub dengan kencang melihat pemandangan yang ku lihat disana. Keringat dingin mulai keluar membanjiri tubuh. Badan terasa gemetar dan lunglai. Ratih sedang duduk bersandar pada dinding tempat tidur. Sedangkan sosok wanita itu tampak sedang menggendong dan mengayun seorang bayi di dalam dekapannya. Dengan perlahan wanita itu menimang bayi yang ku duga itu Radit, dan menina bobokan anak itu dalam dekapannya.
__ADS_1
Ratih hanya terdiam dan menatap keduanya. Wajah tanpa ekspresi itu terus menatap dan tak menyadari akan kedatanganku. Sosok itu membelakangi ku. Dia sibuk menimang dan menyanyikan lagu nina bobok untuk Radit. Suaranya yang menggema, membuat merinding seluruh tubuh. Hingga akhirnya sosok itu berbalik dan menatap ke arahku.
Aku terjatuh, kakiku tersandung oleh kaki ku sendiri saat mundur karena terkejut melihat siapa sosok wanita yang menggendong Radit saat itu. Wanita itu berhenti bernyanyi. Ia berjalan ke arah Ratih dan menyerahkan Radit pada Ratih. Dan Ratih pun menerimanya tanpa ada ekspresi yang ia tunjukan. Wanita itu menatapku, wajahnya yang pucat, setengahnya hancur, dengan bola mata yang hampir keluar membuatku merasakan sensasi lemas di sekujur tubuh. Jangankan untuk menolonh Ratih, untuk berdiri sendiri saja rasanya aku tak sanggup.