
Atas saran Ibu, aku akhirnya memilih untuk kembali ke kota. Membawa serta Ibu untuk tinggal bersamaku dan Ratih. Aku berharap semua ini akan segera berakhir.
"Biarkan Ratih ku bawa pulang, Pak." ijinku pada Bapak mertua. Meskipun melalui rintangan yang cukup alot, akhirnya aku berhasil membawa kembali ke rumah. Kondisi Bapak semakin memburuk, kesehatannya begitu menurun saat Ratih ku bawa ke rumah yang ku bangun atas bantuan Bapak mertua itu.
"Biarkan Ratih ikut suaminya, Pak. Belajarlah untuk ikhlas. Relakan yang sudah pergi, cukup kita kenang saja." ucap Ibu mertua menasehati Bapak. Bapak mertua menangis sesenggukan.
"Tapi Ranti anak kita, Bu. Putri kita juga, sama dengan Ratih. Bapak hanya ingin keadilan untuknya." ucap Bapak keras. Bapak mertua memang memiliki sikap yang keras kepala. Apapun yang sudah menjadi kehendaknya harus di turuti, tak bisa di bantah.
"Dengan mengorbankan Ratih? Ingat, Pak. Ratih juga anak kita, darah daging kita. Jangan hanya karena nafsu dendam yang Bapak simpan selama ini justru akan membuat Ratih bernasib sama dengan Ranti." kali ini Ibu berbicara dengan nada keras. Selama bertahun-tahun aku menjadi anggota keluarga ini, baru ini pertama kalinya aku mendengar Ibu membentak Bapak. Selama ini Ibu selalu tunduk, manut dengan apa yang Bapak ucapkan.
"Ingat, Pak. Ratih masih memiliki harapan dan masa depan. Jangan karena ke egoisan orang tua seperti kita, yang belum bisa menerima kenyataan kalau Ranti sudah meninggal, malah akan menghancurkan hidup Ratih juga. Istighfar, Pak. Tobat." bujuk Ibu. Bapak semakin tergugu. Entah beliau mengakui kesalahannya atau tidak, yang pasti aku dan Ibu sudah berusaha menasehati beliau.
Ratih ku tinggal di rumah bersama Ibu. Untuk berjaga-jaga, Ratih ku kunci di dalam kamar selama aku pergi untuk menghindari perbuatan yang bisa mencelakai dirinya sendiri mau pun Ibu.
"Lalu bagaimana dengan Ranti, Bu? Apa ini adil untuknya? Bapak ndak ikhlas kalau Ranti harus meninggal dengan cara seperti itu." ucap Bapak tergugu.
__ADS_1
"Pak, semua manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Mungkin memang sudah takdir Mbak Ranti seperti itu. Semua itu sudah tertulis di lauful mahfudz, seperti apa kita hidup, dan bagaimana kita akan mati. Semua sudah jelas disana. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani skenario yang sudah Allah berikan pada kita."ku coba berbicara dan memberikan pengertian pada Bapak mertua tentang sedikit yang ku ketahui. Bapak tampak terdiam, lama wajahnya tampak berpikir sesuatu.
"Ingat, Pak. Dengan Bapak membiarkan Ranti berkeliaran seperti itu justru malah menyiksa anak kita juga. Seharusnya dia sudah bisa beristirahat dengan tenang. Tapi Bapak lihat sekarang, Ranti malah berkeliaran kesana kemari mencari orang yang entah siapa dan dimana keberadaannya pun kita tak pernah tahu. Apalagi sekarang, Ranti jatuh cinta dengan menantu kita, suami dari Ratih anak kita. Apa Bapak tega menyakiti hati kedua anak kita seperti ini?" Ibu tergugu saat berbicara pada Bapak, mencoba memberikan pengertian pada Bapak memang tak mudah.
Setelah mengobrol panjang dengan Bapak, akhirnya Bapak mau mengikhlaskan Ranti. Mencoba memberikan saran untuk membawa Ratih berobat ke sebuah pondok pesantren di Jawa Barat.
"Ratih bisa di rukiyah disana. Coba kamu bawa kesana. Tapi Bapak tak bisa menemani." ucap Bapak memberikan alamat yang hendak ku tuju.
**
Aku dan Ratih, di temani Ibu akhirnya pergi ke Jawa Barat. Selama tujuh hari kami menginap disana. Setiap siang dan malam, Ratih di rukiyah. Kondisinya semakin membaik, bahkan Ratih sudah bisa di ajak komunikasi dengan lancar seperti semula.
Akhirnya mengalirlah ceritaku dari awal hingga akhir. Ku ceritakan semua tentang kematian kakaknya, dan juga rasa ingin balas dendam oleh Bapak mertua pada laki-laki yang sudah menyakiti anaknya, hingga mengakibatkan Bapak mertua bersekutu dengan dukun untuk membuat Ranti bergentayangan kesana kemari mencari sosok laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Astaghfirullah. Jangan sekali-kali kita bersekutu dengan syetan jika tak mau akhirnya kita terjebak dalam kondisi seperti ini, Mas." nasehat Kyai Ramzi. Aku mengangguk paham. Saya sudah coba berbicara dengan mertua saya, Pak. Makanya ini beliau juga yang menyarankan kami untuk kemari.
__ADS_1
"Kalian akan saya bentengi, tapi setidaknya kalian pun juga harus berusaha membentengi diri sendiri juga dari hal-hal seperti ini. Jangan pernah tinggalkan shalat. Shalat wajib mau pun sunah tolong di lakukan. Jaga ucapan maupun perbuatan yang tak baik." nasehat Kyai Ramzi.
Hari ke tujuh, akhirnya Ratih boleh di bawa pulang. Aku kembali ke kota bersama Ibu dan Ratih. Kondisinya sudah normal, Ratih tampak ceria. Meskipun kadang tampak murung karena mengingat kakaknya yang selama ini menemaninya.
"Ikhlaskan, Dik. Doakan, semoga Mbak mu dan Radit tenang di sana." pintaku, Ratih mengangguk.
Sampai di kota, aku mendengar bahwa Ibra sudah di temukan. Rupanya dia pindah kost, seseorang menemukannya saat dia sedang keluar membeli obat di apotik. Kondisinya memburuk. Rupanya Ibra depresi, selama ini dia di teror oleh hantu perempuan membawa anak. Menurut laporan kepolisian, Ibra salah satu tersangka yang memperkosa Ranti. Jujur aku tak menyangka. Pria yang selama ini ku beri kepercayaan penuh rupanya memiliki kisah masa lalu yang tak bisa di maafkan. Dia di laporkan ke polisi saat orang suruhanku menemukan Ibra dalam kondisi depresi. Bahkan tanpa dia sadar, Ibra mengakui kesalahannya sendiri karena merasa takut dan terancam oleh sosok hantu wanita yang ternyata Ranti.
"Kondisinya hampir gila, Pak. Hanya saja masih bisa di ajak komunikasi. Bahkan dia masih ingat siapa saja pelakunya." ucap Rio, salah satu orang suruhanku untuk mencari keberadaan Ibra karena awalnya aku merasa khawatir padanya.
Berkat pengakuan Ibra, akhirnya komplotan manusia tak punya hati itu berhasil di ringkus. Motif awalnya hanya ingin berkenalan dengan Ranti, namun karena bisikan syetan, akhirnya mereka tergoda dan menghancurkan masa depan Ranti dengan memperkosanya secara bergantian. Bahkan Ibra yang awalnya hanya sedang berkumpul dengan teman-temannya pun ikut melakukan hal bejat itu.
Mereka mengakui, bahwa mereka melakukannya secara sadar. Karena tergoda dengan kecantikan Ranti, meskipun waktu itu Ratih yang ingin mereka celakai. Namun berkat Ranti, Ratih berhasil kabur. Sedangkan Ranti di tahan oleh mereka. Perbuatan mereka membuat Ranti frustasi, hingga membuat Ranti kabur dari rumah untuk mencari mereka. Namun bukannya mendapat keadilan, yang ada malah Ranti mendapat perlakuan yang sama kembali seperti pertama kali bertemu. Padahal saat itu Ranti sudah mengandung hasil perkosaan para laki-laki bejat itu. Namun tanpa ampun mereka melakukan perbuatan keji itu kembali. Hingga akhirnya Ranti menghembuskan nafas terakhir di tangan para pemuda tak bertanggung jawab itu. Untuk mengelabuhi hasil penyidikan polisi, mereka menjatuhkan tubuh Ranti dari atas jembatan, dan memalsukan bukti seolah-olah Ranti mati bunuh diri.
Semua akhirnya terungkap. Para pelaku berhasil di tangkap. Ranti bisa kembali beristirahat dengan tenang dengan membawa Radit ikut serta. Ratih pun sembuh seperti sedia kala.
__ADS_1
"Bapak yang ikhlas, semua sudah mendapatkan ganjarannya." Ibu menasehati Bapak yang sedang berjemur di teras rumah dengan kursi rodanya. Bapak terdiam, pandangannya lurus kedepan. Entah apa yang di pikirkan, namun sepertinya Bapak sudah bisa menerima karena para pelaku akhirnya di beri ganjaran atas perbuatannya.
Bapak tiba-tiba saja ambruk, tubuhnya luruh merosot dari kursi roda dan tak sadarkan diri. Bergegas aku membawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan. Namun rupanya Alah berkehendak lain, Bapak mertua meninggal saat perjalanan menuju Rumah Sakit. Isak tangis mengiringi perjalanan pulang kami. Bapak langsung di kebumikan haru itu juga.