
Pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah Mbah Trimo. Namun rupanya pria itu sedang ngangon kambing-kambing miliknya di kebun. Sekalian memandikan kambingnya, kata Suci.
"Nanti sepulang ngangon kambing Bapak akan langsung ke rumahmu, Mas Hadi." ucap Suci sambil menimang anaknya. Rupanya dia baru saja memandikan anaknya. Aroma minyak telon dan juga bedak tabur menguar membuat rasa nyaman.
Sambil menunggu Mbah Trimo pulang, aku meminta ijin pada Suci untuk menggendong anaknya. Bayi lucu dan imut itu merespon mimik wajah yang menggemaskan, membuatku langsung jatuh cinta.
"Anakmu ganteng, ya, Ci." pujiku pada teman masa kecilku itu. Suci yang mendengar pujianku pada anaknya hanya tersenyum.
"Anak jelek begitu kok dibilang ganteng." jawabnya dengan tersenyum.
"Anak sendiri kok di bilang jelek, Ci." ucapku sambil mencium pipinya gemas.
Suci tak menanggapi ucapanku. Dia hanya tersenyum dan mengambil alih anaknya dariku.
"Tunggulah disini dulu, Mas Hadi. Sebentar lagi Bapak pulang." ucapnya memintaku untuk duduk di bangku panjang di bawah pohon depan rumahnya.
"Eh, kamu mau kemana, Ci?"tanyaku saat melihat Suci masuk ke dalam rumah bersama anaknya.
__ADS_1
"Masuk, Mas. Saru kalau aku harus di luar sama kamu saja. Hehehe..." ucap Suci sambil berlalu.
Sambil menunggu Mbah Trio pulang, aku melihat-lihat sekitar rumah Suci. Mengulang kembali-masa kecil dimana aku dan Suci sering bermain di sebuah pohon di belakang rumahnya. Bermain rumah-rumahan bersama anak-anak yang lainnya. Aku dan laki-laki lainnya bertugas sebagai kepala rumah tangga yang harus pergi ke ladang untuk mencari nafkah, dan Suci, Marni serta teman wanita lainnya sebagai Ibu rumah tangga yang tetap tinggal di rumah dan memasak untuk menyambut kepulangan kami para lelaki dari ladang. Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian masa lalu.
Ssrreesseett...
Sebuah bayangan cepat melintas tepat di hadapanku. Sekilas mirip bayangan manusia, namun menghilang dengan cepat. Aku mencari sumber dimana bayangan itu menghilang. Hanya ada semak belukar yang cukup tinggi, sosok tadi pun sudah menghilang.
"Jangan di cari. Dia tidak akan kemana-mana." tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara Mbah Trimo yang muncul di jalanan kecil yang mengarah ke pematang sawah belakang rumah beliau.
"Itu ya yang selalu ngikutin kamu. Dia tak ingin jauh-jauh darimu, Hadi." ucap Mbah Trimo sambil menjatuhkan bobot badannya di bale-bale belakang rumah.
"Apa saya bisa lepas darinya? Jujur saya khawatir dengan istri saya." ucapku penuh harap. Mbah Trimo yang tampak lelah karena berjalan kaki setelah mengobati pasien, terdiam sambil tangannya mengibas-ngibaskan topi yang beliau kenakan sebagai kipas untuk menghalau butiran asin yang keluar dari tubuhnya.
"Semoga saja masih bisa, Di." jawab Mbah Trimo kemudian. Tenggorokanku tercekat mendengar jawaban Mbah Trimo. Semoga masih bisa, itu artinya masih ada kemungkinan kalau makhluk itu tak akan mau pergi dari hidupku.
"Lalu saya harus bagaimana?" aku mendekat dan berbisik pada Mbah Trimo.
__ADS_1
"Apakah tidak ada yang tahu siapa pelakunya? Atau pria yang saudari istrimu itu temui sebelum meregang nyawa?" ucap Mbah Trimo membuatku berpikir sejenak.
"Saya tidak tahu menahu, Mbah. Tapi saya akan coba cari tahi semuanya." ucapku bersemangat meskipun kenyataannya aku harus memutar otak agar Ratih mau berbicara dan memberitahuku semuanya.
Mbah Trimo menyerahkan bungkusan kresek yang berisi bunga saat ku buka.
"Gunakan untuk mandi istrimu. Dan lagi, jaga istrimu untuk tetap suci. Air yang ada di dalam botol, kamu minumkan perlahan pada istrimu. Nanti aku akan ke rumahmu untuk mengobatinya secara langsung. Setidaknya gunakan semua itu dulu untuk mengurangi kekuatan buruk dari gangguan saudarinya." perintah Mbah Trimo membuatku mengangguk senang.
Bergegas aku berjalan pulang menuju rumah dengan membawa apa yang Mbah Trimo berikan.
"Jangan menoleh jika ada yang memanggil. Teruskan saja langkahmu." pinta Mbah Trimo yang harus ku tepati.
"Mas Hadi." sebuah suara memanggil namaku. Dari suaranya mirip sekali dengan Suci. Aku berhenti, namun aku urung menengok. Teringat pesan Mbah Trimo untuk tak menoleh saat ada yang memanggil namaku. Akhirnya ku putuskan untuk berjalan kembali.
Sekitar beberapa langkah setelah aku melanjutkan perjalanan. Tepatnya di sebuah tikungan dimana sekitarnya merupakan lahan milik warga. Sebuah suara kembali memanggil namaku.
"Mas Hadi, tunggu aku." kali ini bukan suara Suci. Melainkan suara Ratih, istriku. Hampir saja aku menoleh, berharap kalau itu benar Ratih yang memanggil. Namun akhirnya aku urung menoleh juga. Aku memutuskan untuk kembali berjalan. Lagi pula Ratih masih di rumah dan masih dalam kondisi di ikat kedua tangannya.
__ADS_1