
Aku tergagap saat mendengar panggilan Ratih yang mendayu-dayu. Tatapan kedua matanya membuat irama jantungku semakin cepat. Di tambah aroma bunga melati dan juga kenanga serta mawar bercampur jadi satu, menyeruak, menusuk indra penciumanku.
"I-iya, Dik."
"Memangnya Mas Hadi nggak kangen sama aku?" tanya Ratih dengan suara yang manja. Memang lain istriku kali ini. Tak sepertinya biasanya dia bersikap seperti ini. Apalagi ini di rumah orang tuanya. Biasanya Ratih akan sungkan menunjukan kemesraannya di hadapan Ibu Bapaknya.
"Dik." panggilku lirih sambil merenggangkan pelukan Ratih yang terasa sesak di dada.
"Hhhmmmm..." Ratih hanya menjawab dengan deheman manja.
__ADS_1
"Ma-mas, harus ketemu Bapak dulu." aku berusaha melepaskan tangan Ratih yang melingkar erat di perutku. Melepaskannya secara perlahan karena takut akan menyinggung perasaannya. Tampak wajah Ratih berubah pias. Rasa tak suka ia tunjukkan saat aku memaksa untuk menemui Bapak mertua yang terbaring di kamar.
"Sa-sabar, sayang. Mas hanya sebentar." ucapku sambil berdiri dan tetap tersenyum pada Ratih. Sungguh dilema yang sulit ku uraikan. Bergegas aku berjalan menuju sebuah ruangan dimana Bapak mertuaku biasanya berada. Masih dengan tatapan yang sama, aku melihat ke arah Ratih yang terus saja memandang kepergianku hingga aku menghilang di balik pintu kamar.
"Pak." aku menyalami dengan takzim tangan laki-laki yang telah memberikan nafkah dan merawat istriku sejak masih kecil hingga dewasa.
"Iya, Pak. Bapak sudah makan?" aku mengawali obrolan dengan sedikit berbasa basi pada Bapak mertuaku itu. Sedikit obrolan ringan yang mampu menghibur Bapak yang sekarang ini lebih banyak menghabiskan waktu kesehariannya di tempat tidur. Aku ingin menjemput Ratih ke rumah kami saja. Aku tak ingin membuat Bapak dan Ibu merasa terbebani dengan kondisi Ratih yang tidak memungkinkan untuk tetap berada bersama kedua orang tuanya. Meskipun mereka orang tua kandung Ratih sendiri, namun sekarang tanggung jawab itu sudah di serahkan padaku. Jadi tidak mungkin jika aku terus-terusan membiarkan istriku berada di rumah ini bersama mereka yang sudah tampak menua.
"Bapak mau keluar?" aku menawarkan diri untuk membawa Bapak keluar kamar. Berharap Bapak akan senang menghirup udara luar yang segar dan bisa melihat lalu lalang kendaraan serta tetangga yang sedang berjalan.
__ADS_1
Dengan raut wajah gembira, Bapak mengangguk semangat. Lekas ku bopong tubuh renta itu dan mendudukkannya di kursi rotan yang sudah di desain sedemikian rupa dan di berikan kasur busa supaya Bapak merasa nyaman saat bersantai di luar rumah.
Ibu rupanya sedang memasak di dapur. Sedangkan Ratih hanya duduk dan merias dirinya sendiri. Tampak dari pantulan kaca di meja riasnya dia tersenyum seorang diri sambil menyisir rambutnya yang menipis. Dengan bersenandung lirih ia tampak sesekali menatap wajahnya sendiri pada cermin di hadapannya. Aku menyeka tengkuk leherku saat tak sengaja tatapan mata kami beradu. Entah hawa apa yang ku rasakan, namun aku merasa bulu kudukku merinding saat kedua tatapan mata kami saling beradu.
"Mas." tiba-tiba Ratih bangkit dari kursinya saat aku hendak membawakan minuman hangat untuk Bapak di depan. Otomatis aku menghentikan langkah kaki ku dan membiarkan tangan Ratih bergelayut manja di lengan tanganku yang sedang membawa nampan serta beberapa cemilan yang mungkin Bapak mertuaku suka.
"Mas." sapanya dengan manja.
"Sebentar, ya, Dik. Mas mau bawa ini dulu buat Bapak." aku berusaha menepis tangan Ratih dengan lembut. Aku tak ingin membuatnya tersinggung yang pada akhirnya akan menimbulkan kekecewaan padanya.
__ADS_1