
Ibu sudah kembali dari ladang. Matahari pun sudah sangat terik karena berada tepat di atas kepala. Aku memilih membersihkan badan dan melanjutkan istirahat karena letih semalaman di perjalanan.
"Makan dulu, Di." Ibu menyiapkan makan siang di meja. Segera aku bangkit dan melahap masakan yang di sajikan ibuku itu. Ibu tak bertanya apa pun, bahkan saat mengetahui aku datang sendirian tanpa mengajak Ratih.
"Bu." panggilku lirih pada wanita yang telah melahirkanku itu.
"Ada apa sebenarnya, Di?" rupanya Ibu sudah tahu apa maksudku. Bahkan sepertinya Ibu mengetahui bahwa semuanya sedang tidak baik-baik saja.
"Bolehkah jika untuk sementara Ratih tinggal disini?" tanyaku ragu-ragu. Sedangkan Ibu yang ku ajak berbicara hanya bungkam. Namun dari raut wajahnya menandakan sebuah rasa penasaran dan kekhawatiran.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Ibu kemudian.
Aku menghembuskan nafas panjang. Mempersiapkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Ibu.
"Rati menjadi korban ke egoisan Bapaknya, Bu." ucapku lirih. Ibu yang sedang menonton televisi itu sesaat langsung beralih ke padaku.
"Apa maksudnya, Di?" Ibu memperbaiki posisi duduknya, bergeser lebih dekat ke arahku.
Ku ceritakan apa yang Ibu mertuaku katakan semalam. Antara rasa percaya atau tidak, namun kata Ibu mertuaku semua itu kenyataannya. Selama ini beliau mencoba menutup mata dengan sikap dan perbuatan suaminya itu. Hanya saja, saat Ibu mertua melihat dengan mata kepala sendiri kondisi Ratih yang memprihatinkan setelah tinggal bersama mereka selama satu minggu di rumah, membuat Ibu mertua sadar. Hal ini tak bisa jika di biarkan terlalu lama. Ibu mertua tak ingin anaknya, Ratih menjadi seperti perempuan yang tak waras dan juga kematian Ranti menjadi tak tenang. Bahkan arwahnya yang seharusnya sudah beristirahat dengan tenang masih harus bergentayangan kesana kemari karena menjadi arwah penasaran.
"Astaghfirullah hal'adzim." Ibu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Terlihat jelas ekspresi terkejut dari wajahnya yang sudah tampak keriput di mana-mana. Apalagi aku sebagai suami Ratih yang tak pernah mengetahui hal sebenarnya yang membuat istriku menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Tanyalah ke Mbah Trimo bagaimana baiknya. Ibu sih tidak keberatan jika memang Ratih akan sembuh disini." jawab Ibu.
Rencana sore nanti aku akan kembali mendatangi rumah Mbah Trimo. Setidaknya kini aku bisa istirahat terlebih dahulu sebelum sore nanti menuju rumah Mbah Trimo. Lagi pula, perjalanan semalam membuat tubuhku sangat letih dan seperti kehabisan energi.
Ternyata banyak sekali telephone dan pesan yang di kirim oleh Ratih sejak pagi tadi. Memang aku tak memberi tahukan Ratih, Ibu maupun siapapun di rumah kalau aku akan pulang ke kampung halaman untuk bertemu Mbah Trimo.
"Iya, Dik. Mas baik-baik saja. Maaf, tadi Mas sibuk. Jadi baru sempat buka HP." ku kirimkan pesan untuk Ratih dengan memberikan alasan jika aku sibuk di rumah makan.
"Mas, Ratih tahu jika Mas tidak sibuk hari ini. Mas Hadi lupakah?" Ratih kembali membalas pesanku. Kali ini di sertai emoticon tersenyum sinis padaku. Aku menelan saliva saat membaca isi pesan dari Ratih. Bukan karena takut padanya jika ketahuan, hanya saja aku lupa jika Ratih akan mengetahui apa yang ku lakukan jika berhubungan dengannya. Apalagi kata Ratih, kakaknya akan selalu memberikan informasi pada Ratih apa pun yang ku lakukan di luar rumah. Ratih menganggap jika Ranti sangat menyayanginya, sehingga apa pun akan di beritahukan padanya jika berhubungan dengan diriku.
"Istrimu mengira jika arwah kakaknya melindunginya. Memberikan informasi tentang kamu di luar rumah dia anggap sebagai perhatian dari seorang kakak terhadap adiknya." ucap Mbah Trimo waktu itu.
"Arwah kakaknya memang sengaja ingin mengikutimu kemana pun kamu pergi karena dia jatuh hati padamu. Jadi semua itu dia jadikan alasan untuk tetap dekat denganmu dengan memberi tahu istrimu tentang keberadaanmu."ucap Mbah Trimo membuatku terpaksa menggaruk tengkuk leherku yang tiba-tiba saja meremang.
Ku letakkan kembali gawai di atas meja kamar. Aku mencoba menetralkan perasaan dan mencoba untuk memejamkan mata. Mengingat saat ini pasti arwah Ranti juga berada di sekitarku, setidaknya aku akan berusaha lebih hati-hati lagi dalam bertindak. Jangan sampai arwah Ranti marah seperti waktu itu dan kembali mengganggu Ibu juga aku.
Dering ponsel membangunkan aku yang sempat terlelap karena merasa lelah. Ku lihat nama Ibra berada disana. Segera ku usap layar berwarna hijau dan terdengar suara di seberang sana.
"Pak, Bapak sampai kapan tidak masuk kerja?" terdengar suara Ibra seperti sedang ketakutan.
"Kurang tahu, Bra. Maaf, saya lupa belum mengabari kamu." ucapku masih dengan nada tenang.
__ADS_1
"Pak... sa-saya..." Ibra menghentikan ucapannya. Namun terdengar suaranya seperti sedang ketakutan.
"Kamu kenapa, Bra? Apa ada masalah?" aku menjadi tak tenang manakala terdengar suara seseorang sedang tertawa.
"Pak, sa-saya mau resign saja kerjanya." ucap Ibra tiba-tiba membuatku terkejut. Tidak biasanya Ibra minta resign seperti itu. Bahkan sebelumnya tak pernah ada tanda-tanda dia ingin mengundurkan diri dari rumah makan. Padahal awalnya dia yang paling bersemangat saat bekerja.
"Memangnya ada apa, Bra?" aku mencoba mencari jawaban dari bawahanku itu. Setidaknya seharusnya dia berikan alasan yang jelas jika benar-benar ingin berhenti bekerja. Padahal dia pekerja yang paling bisa ku andalkan. Apalagi aku sedang berada dalam kondisi seperti ini, hanya dia yang bisa ku andalkan sebagai pengganti ku untuk menghandle seluruh tugas dan pekerjaan di rumah makan karena dia yang paling lama bekerja.
"Bra. Bisa jelaskan mengapa kamu tiba-tiba ingin resign?" tanyaku dengan suara lembut. Aku yang terbangun secara tiba-tiba karena suara dering telepon, di tambah mendengar pengunduran diri Ibra secara tiba-tiba membuat kepalaku berdenyut hebat.
"Ma-maaf, Pak. Sa-saya belum bisa kasih penjelasan." jawab Ibra terbata. Belum aku sempat berbicara, Ibra sudah mematikan sambungan telephone secara sepihak. Saat ku telephone balik, tak ada jawaban dari Ibra di seberang sana. Padahal terlihat sudah berdering berkali-kali di layar handphone, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda Ibra akan mengangkat telephone.
"Biar ku coba sekali lagi." gumamku. Rasa penasaranku membuatku tak putus asa untuk menghubungi Ibra kembali.
"Aaahhh... akhirnya." ucapku sambil meletakkan layar telephone ke telingaku.
"Ha-hallo, Bra." ku panggil nama pegawaiku di seberang sana. Namun tak terdengar jawaban dari Ibra. Hanya terdengar suara nafas yang berat di seberang telephone sana.
"Hallo, Bra. Ibra. Kamu masih disitu?" berkali-kali ku panggil nama Ibra, namun laki-laki yang ku panggil namanya tak kunjung menjawab.
"Bra, Ibra. Apa yang terjadi?" aku semakin panik di buatnya.
__ADS_1