Bayi Ambar

Bayi Ambar
Sosok Yang Mengaku Ibunya Radit


__ADS_3

Aku menekuk lutut dan menutup wajahku dengan mengapitkannya di antara kedua lutut. Aku tak mempedulikan lagi Ratih yang terlihat biasa saja dengan sosok mengerikan itu. Aku duduk menyudut bersandar pada dinding lemari dan berusaha sebaik mungkin bersembunyi dari sosok mengerikan yang berada bersama Ratih dan Radit di dalam kamar kami.


"Mas." Ratih memanggil perlahan. Suaranya terdengar parau.


"Mas." lagi-lagi panggilan itu ku hiraukan. Aku tak peduli lagi bila Ratih akan mengamuk atau memaki ku. Tapi jujur saja, wajah wanita tadi sungguh tak bisa ku lupakan.


Pluk


Tepukan lembut di pundak membuatku terperanjat dan melompat dari persembunyian ku. Aku meng aduh saat tanpa sengaja punggungku terantuk ujung meja yang terletak tepat di sebelah lemari pakaian.


"Dik. S-siapa tadi?" tanyaku lada Ratih, istriku.


"Dia Ibunya Radit, Mas."

__ADS_1


Aku menelan saliva saat mendengar jawaban dari Ratih. Ibunya Radit? Itu artinya Radit benar-benar anak setan. Aku bergidik setiap mengingat kejadian-kejadian tentang Radit. Kejadian yang beberapa kali terjadi yang awalnya menurutku sebuah mukjizat atau keberuntungan untuk kami. Karena semuanya selalu berada di luar nalar.


"La-lalu, apakah kamu masih ingin membiarkan bayi ini disini?" tanyaku berharap jawaban Ratih akan mengembalikan atau melepaskan Radit dan hidup normal seperti semua.


"Tentu saja, Mas." jawab Ratih tersenyum. Jawaban itu membuatku lunglai dan kembali terjatuh ke lantai. Seluruh tubuhku rasanya lemas. Sepertinya tak mungkin membuat Ratih berubah pikiran untuk melepaskan Radit.


"T-tapi dia bukan anak manusia, Dik." Kali ini aku kembali berusaha menyadarkan istriku.


"Iya, terserah siapa namanya. Mengapa Ibunya tidak mengurus sendiri anaknya? Mengapa malah kita yang di minta merawatnya?" ucapku ketus. Kali ini aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Ratih. Bisa-bisanya dia malah memilih memelihara anak setan ketimbang mencari anak manusia di panti asuhan.


Ratih terdiam, dia tak bersuara. Dia hanya menimang Radit dan mengayunkannya. Sesekali mulutnya menggumam, menyanyikan lagu penghantar tidur untuk anak itu. Aku menjadi enggan menyebutnya anak kami, karena memang Radit bukan anak kami. Apalagi setelah melihat seperti apa sosok Ibunya.


"Tolong jaga anakku. Kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan jika merawatnya dengan sepenuh hati." aku menoleh saat terdengar Ratih berbicara. Nada suaranya parau, namun aku yakin kalau itu Ratih yang berbicara. Ratih berdiri, berjalan mendekat ke arahku perlahan. Sedangkan aku memilih untuk mundur, namun sayang, tubuhku tertahan oleh lemari. Aku terpojok dan tak bisa kemana-mana. Tubuh Ratih semakin mendekat, bahkan tubuhnya menempel pada tubuhku. Aku yang tak mampu berkutik hanya mampu memejamkan mata.

__ADS_1


"S-siapa kamu sebenarnya?"


"Aku titip anak ku. Maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau." sekali lagi Ratih berbicara aneh.


"Ba-baiklah. T-tapi sampai kapan aku harus merawatnya?" tanyaku tergagap.


"Sampai aku akan mengambilnya lagi. Beri aku waktu untuk membalaskan dendamku terlebih dahulu. Setelah itu, akan ku bawa pergi anak ku." ucapnya yang kemudian terhenti bersamaan dengan jatuhnya tubuh Ratih ke lantai. Aku gagal menahan tubuh istriku di karenakan aku yang masih gugup dan takut, di tambah Ratih terjatuh secara tiba-tiba.


"Dik. Dik, bangun." aku menggoyang-goyangkan tubuh Ratih setelah membopongnya dan membawanya ke atas tempat tidur. Sedangkan Radit tertidur di sebelahnya.


Ku tatap wajah anak itu, memang terlihat sangat pucat. Tak seperti bayi pada umumnya yang lucu dan menggemaskan. Namun rasa kasihan itu muncul saat melihat kondisi Ibunya yang begitu menyeramkan. Setelah ku ingat-ingat, fisik Ibunya tak sempurna. Sepertinya ia mengalami kekerasan sehingga membuatnya mati tidak tenang.


Teringat kata-kata Ratih, wanita itu akan kembali dan mengambil Radit setelah dendamnya terbalaskan. Sebenarnya dendam apa yang sudah membuat dia bergentayangan dan meninggalkan seorang anak seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2