Bayi Ambar

Bayi Ambar
Malam Hari


__ADS_3

Tubuhku lemas bak tak bertulang. Aku terjatuh dan terduduk saat melihat sosok lusuh itu berdiri dan menatap Ratih yang sedang tergolek lemah di ranjang ruang inap. Radit berceloteh seolah-olah sedang mengajaknya mengobrol, sedangkan Ratih hanya mampu menimpali semampunya. Tubuhnya yang lemas tergolek di atas ranjang beroda itu. Bahagianya Ratih bila bersama Radit, hanya saja Ratih sepertinya tak pernah tahu apa yang di lakukan Radit padanya selama ini.


"Radit, apa yang kamu lakukan?" ucapku sambil mengangkat tubuh mungil itu. Namun rasanya tubuh kecil nan mungil itu sangat berat, sehingga sedikitpun tak bergeser dari atas tubuh Ratih yang sudah tergolek lemas dengan mata terpejam.


Sejak saat itu, aku selalu memikirkan Ratih yang hanya berdua saja dengan Radit setiap hari dirumah. Memikirkan apa yang terjadi pada istriku, dan bayangan-bayangan Radit yang tiba-tiba sering berubah menjadi monster mengerikan.


Sssrrreeekkk ... ssrreeekkk ... srreeekkk...


Aku baru menyadari dari mana asal datangnya suara seperti benda berat yang terseret tadi. Sosok wanita itu bergeser dan berjalan sambil menyeret gaun panjang lusuhnya dan di ikuti rambutnya yang panjang terurai hingga menyapu lantai. Tubuhku bergetar, keringat dingin membasahi seluruh tubuh melihat hal yang menurutku mampu membangkitkan bulu kudukku.


Aku tak berani mendekat, sepertinya Ratih pun tak menyadari hadirnya sosok menyeramkan tersebut. Lain halnya dengan Radit. Anak itu menoleh dan berceloteh dengan riangnya menghadap sosok wanita itu. Bahkan tangannya melambai-lambai seperti meminta untuk di gendong, sedangkan wanita itu hanya terdiam menatapnya. Namun sesekali tangannya menjuntai meraih pipi Radit dan mengelusnya.

__ADS_1


Suara roda berputar seperti ranjang yang di derek kencang melintas di depan ruang tempat Ratih di rawat saat ini. Aku menguap dan menggeliat merasakan pegal di seluruh tubuh. Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Jarum jam masih menunjukkan pukul dua pagi. Rupanya hari masih gelap, namun sudah terdengar ramai aktivitas di luar ruangan. Beberapa perawat terdengar lewat dan mengobrol sambil bersenda gurau dan tertawa saat melintas depan ruangan kami. Ratih tampaknya sudah terlelap, begitu juga dengan Radit. Sedangkan sosok wanita itu sudah pergi kira-kira sejak dua jam yang lalu. Bahkan bagaimana perginya pun aku tak terlalu mengetahuinya. Yang ku lihat, sosok itu sempat keluar dan menghilang begitu saja di depan pintu kamar mandi.


Aku membuka pintu kamar, ingin melihat suasana malam di Rumah Sakit. Terlihat kesibukan para pekerja Rumah Sakit yang tampak mondar-mandir di sepanjang lorong. Bahkan ada pula yang sudah mendorong-dorong troli dan berjalan perlahan melewatiku yang tengah berdiri di depan pintu.


"Pagi, Mas." sapaku pada laki-laki yang mendorong troli tersebut. Tak menjawab, laki-laki itu hanya mengangguk pelan dan terus melanjutkan pekerjaannya dan menghilang di ujung lorong.


Udara dingin menerpa, membuat bulu kuduk kembali meremang. Suasana yang tadinya ramai mendadak sepi. Beberapa pekerja terlihat meninggalkan tempat mereka dan mungkin untuk bertugas atau beristirahat. Aku duduk di bangku depan kamar sambil memainkan handphone yang sedari tadi hanya ku simpan di kantong saja. Tak memperhatikan sekitar, bahkan membuatku sedikit lupa kalau aku sedang berada di Rumah Sakit.


"Oh, istri saya, Pak." jawabku ramah sambil bergeser tempat duduk untuk memberikan tempat yang lebih luas pada laki-laki tua tersebut.


"Sakit apa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Kata dokter hanya syok dan kelelahan. Bapak sedang menunggu siapa?" tanyaku kembali untuk meneruskan obrolan.


"Saya disini saja. Tidak menunggu siapa-siapa." jawabnya dan kemudian beliau mendongak menatap pohon jambu yang tertanam dan tumbuh besar di depan ruang rawat inap. Aku mengernyitkan dahi, namun aku tak berniat untuk bertanya lebih. Mungkin yang beliau maksud adalah beliau sendiri inilah pasiennya, sehingga tidak sedang menunggu siapapun.


"Pak, Bapak di rawat di ruang apa?" tanyaku, laki-laki itu hanya menunjuk ke sebuah arah dengan jarinya, dan aku melihat ke sebuah tempat dimana tempat itu memiliki lorong yang sepi dan penerangan yang ala kadarnya. Bahkan sekitar lorong itu tampak beberapa rumput yang mulai meninggi seperti tak terawat. Aku hanya mengangguk-angguk saja setelah mengetahui jawabannya.


Begitu terkejutnya saat tak ku temui laki-laki tua yang sedari tadi duduk di sebelahku. Bahkan kemana perginya pun aku tak sempat melihatnya.


"Astaga." aku menutup mulut manakala laki-laki tua itu sudah berada di ujung lorong dimana tadi beliau menunjuknya.


"Sejak kapan dia sampai disitu?" gumamku lirih sambil membalas lambaian tangan dari laki-laki itu. Tak lama kemudian laki-laki itu menghilang di kegelapan lorong yang entah dimana ujungnya itu. "

__ADS_1


Coba besok ku cari tahu."gumamku dalam hati.


__ADS_2