Bayi Ambar

Bayi Ambar
Kondisi Ratih Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Hadi, jelaskan sama Ibu. Apa yang sebenarnya terjadi sama Ratih?" Ibu mertua langsung memberondongiku pertanyaan saat aku baru saja menutup pintu mobil.


"Memangnya ada apa, Bu?" aku di dudukkan pada sebuah kursi di teras rumah mertuaku. Bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu malah menangis sesenggukan membuatku kebingungan.


"Bu, ada apa?" aku semakin di buat bingung saat suara isak tangis Ibu semakin kencang.


"Ratih, Ratih bukan seperti dia yang biasanya." ucap Ibu sesenggukan.


"Maksud Ibu?"


"Kamu lihat saja sendiri." pinta Ibu memintaku untuk segera masuk.


Ratih tak terlihat di ruang tengah. Di kamar pun dia juga tak ada. Aku mencarinya ke seluruh ruangan, tanpa memanggilnya terlebih dahulu. Aku hanya ingin melihat bagaimana kondisi istriku itu.


"Kesini." Ibu memintaku untuk mengikuti beliau. Terlihat Ratih sedang bersenandung dan terlihat seperti menimang sesuatu di tangannya.


"Sejak kapan dia seperti itu, Bu?" ku tanyakan pada Ibu mengenai kondisi Ratih yang sama seperti sewaktu masih berada bersamaku di rumah kami.


"Sejak kamu tinggalkan dia disini. Ibu pikir kamu sudah tahu, makanya Ibu tak bertanya lagi." isak Ibu lagi. Aku menghela nafas panjang. Rasa sedih kembali muncul saat melihat kondisi istriku yang rupanya masih sama saat aku tak bersamanya.


"Bu, Hadi mau berbicara sama Ibu." aku menarik perlahan lengan Ibu. Mengajaknya kembali duduk di teras dan menutup pintu depan berharap Ratih tak tiba-tiba muncul dari dalam. Ibu pun menurut dan lekas duduk bersamaku.

__ADS_1


"Bu, apa benar Mbak Ranti meninggal karena di bunuh?" tanyaku dengan suara bergetar. Ibu yang sedang menunduk tampak menatapku seketika dengan pandangan mata yang entah sulit ku artikan.


"Kamu tahu dari mana?"


Perlahan, mengalirlah cerita yang ku dengar dari Ratih tentang saudari kembarnya. Dari awal mereka bertemu dengan seorang pria hingga kejadian di mana Ranti kehilangan kehormatannya. Bahkan ku ceritakan bagaimana Ranti meregang nyawa yang kedua orang tuanya pikir itu adalah karena depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tampaknya Ibu mertuaku tak mengetahui keseluruhannya. Yang beliau tahi, Ranti hanya depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya bersama bayi yang di kandungnya.


"Mbak Ranti ada bersama kami, Bu. Hampir setiap malam arwahnya muncul dan mengganggu kami." ucapku lirih.


"Kamu yakin?" tampaknya Ibu masih setengah percaya dengan apa yang ku ceritakan. Aku mengangguk memberikan kepastian.


"Sungguh malang nasibmu, Nak." ibu kembali terisak. Terlihat sekali beliau tampak sangat terpukul dengan kondisi anaknya.


"Jadi, Ratih begitu karena Ranti?" kembali Ibu bertanya. Aku kembali mengangguk.


"Apa yang bisa Ibu perbuat, Di? Sedangkan kondisi Bapakmu saja kamu tahu sendiri, kan?" kembali aku menarik nafas panjang mengingat Ibu akan kerepotan dan pasti terbebani dengan kondisi Bapak mertua saat ini dan di tambah dengan Ratih yang bertingkah seperti itu.


"Ya Allah, sampai kapan cobaan ini akan ku lalui?" aku bergumam sambil menyugar rambut dengan gusar. Kepalaku mendadak terasa pening. Aku membenamkan wajahku di kedua telapak tanganku. Mencoba berpikir untuk mencari jalan keluar dari semua ini. Begitu juga dengan Ibu mertua. Beliau tampak bimbang dan sedih. Tak seharusnya aku menceritakan semua ini pada beliau jika akhirnya membuat Ibu tampak tertekan. Namun aku juga tak bisa menyembunyikan kondisi Ratih yang sebenarnya pada kedua orang tuanya. Setidaknya mereka harus tahu apa yang terjadi pada putrinya.


"Mas Hadi." sebuah suara terdengar memanggil hingga mengalihkan kegusaranku dan Ibu. Kami serempak menoleh ke sumber suara. Ratih berdiri dari balik pintu depan yang entah kapan pintu itu terbuka. Aku sama sekali tak mendengarnya.


"Eh, Dik." aku menghampiri istriku yang masih berdiri dengan senyum mengembang di bibirnya. Segera dia menyalimi tanganku dan menciumnya dengan khidmad. Rasanya Ratih terlihat sangat normal jika seperti ini.

__ADS_1


"Mas baru datang?" tanyanya yang ku jawab dengan anggukan kepala.


"Ayo masuk. Aku buatkan minum dulu." ajaknya sambil menarik paksa tanganku untuk mengikutinya. Ibu hanya terdiam sambil menatap kami berlalu ke dalam. Meskipun begitu, tampak raut wajah khawatir saat menatap kepergian kami.


"Mas, sudah makan?" tanya istriku lembut. Sungguh ku rasakan damai jika memang Ratih sudah sembuh sepenuhnya.


"Mas." panggilan Ratih membuyarkan lamunanku.


"Kenapa lihatin aku begitu?" Ratih tampak tersipu saat aku menatapnya terus menerus. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan seperti itu.


"Mas kangen sama kamu, Dik." gurauku sambil mencubit ujung hidungnya yang berukuran rata-rata. Wajah Ratih tampak bersemu merah. Dengan malu-malu Ratih menarik bangku dan duduk mensejajariku.


Aroma bunga melati menyeruak, menusuk indra penciumanku. Aku tak berani bertanya. Aku hanya mencoba untuk mengendus dari mana asal aroma menyengat itu. Ratih bergelayut manja. Merebahkan kepalanya di pundakku. Tak biasanya dia seperti ini. Meskipun sedang di rundung rindu, biasanya Ratih hanya akan bermanja-manja padaku saat kami berada di dalam kamar. Ratih tak pernah mau menunjukkan kemesraan kami di depan orang lain meskipun itu orang tua kami sendiri.


"Dik." panggilku lirih. Ratih yang ku sebut namanya hanya mendongakkan kepala menatapku dan kemudian kembali menyusupkan kepalanya di sela-sela ketiakku.


"Dik. Mas mau bertemu Bapak dulu." ujarku berharap Ratih mengakhiri sesi manjanya dan membiarkanku bertemu dengan Bapak mertua yang terbaring di kamar.


"Nanti saja. Aku masih kangen, Mas." ucapnya dengan nada manja. Aku semakin yakin dengan kondisi Ratih saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Aroma bunga melati di pucuk kepala Ratih membuatku pusing dan membuat isi perutku bergejolak. Kalau hanya aroma bunga melati saja tentu tidak akan semual ini. Karena menurutku aroma bunga putih dan kecil itu sangat segar jika di hirup dalam jumlah sedikit. Namun aroma yang ku hirup kali ini rasanya bukan hanya berasal dari bunga melati. Melainkan campuran antara bunga melati, bunga mawar serta bunga kenanga. Aroma yang sering tercium saat di pasar bunga maupun di makam.


Aku merinding saat membayangkan Ratih tiba-tiba akan berubah sikap maupun wujud seperti waktu itu. Degub jantungku mendadak bertabuh cepat layaknya sedang di kejar oleh sesuatu hal yang mengerikan. Di tambah tatapan kedua bola mata Ratih yang tiba-tiba saja sudah menatap lekat ke arahku, membuat bulu kudukku seketika meremang. Hawa dingin terasa menjalar, membuat irama jantung semakin cepat dan darah berdesir mengalir lebih cepat.

__ADS_1


Sebuah senyuman Ratih berikan padaku. Namun bukannya aku senang, justru senyuman itu terasa sangat mengerikan saat aku melihatnya.


"Maaasss..."


__ADS_2