
Ratih mendiamkan aku semenjak kejadian tadi. Mungkin dia tersinggung karena aku dan Ibu ketakutan. Atau mungkin karena aku meninggalkannya hampir seharian penuh untuk kerumah Pak Trimo. Sedangkan awalnya aku sudah berjanji untuk mengajaknya ikut serta berjalan-jalan keliling kampung.
"Dik, sudahlah. Jangan mendiamkan Mas terus." aku berusaha membujuk Ratih untuk kembali berbicara padaku.
"Dik. Mas minta maaf, Mas tahu kalau Mas salah." ucapku berharap Ratih luluh dan memaafkan aku.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, Mas? Kamu terlihat aneh dan selalu menghindar dari Ratih semenjak di kampung. Apa Mas bertemu mantan kekasih Mas Hadi itu, makanya Mas Hadi melupakan Ratih?" Ratih terisak.
"Astaghfirullah." Mantan Mas yang mana? Kamu jangan mengada-ada." jawabku terkejut. Pasti Ratih cemburu pada Suci. Dulu Ratih pernah ku ceritakan tentang Suci, bagaimana kedekatan kami berdua hingga di doakan berjodoh oleh kebanyakan orang.
__ADS_1
"Mah Hadi jangan pura-pura. Ratih tahu kalau tadi Mas Hadi pergi ke rumahnya, kan?" aku tertegun. Tenggorokanku terasa tercekat dan tak mampu mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Ratih.
"Jawab, Mas. Kalau Mas Hadi diam saja berarti Mas Hadi benar-benar ke rumahnya untuk menemuinya. Iya, kan?" Ratih mencercaku dengan pertanyaan konyolnya.
"Dik, Mas kesana untuk bertemu Bapaknya. Bukan untuk bertemu Suci." jawabku berharap Ratih mengerti.
Aku memilih untuk diam. Membiarkan Ratih tenang adalah jalan satu-satunya cara yang sering ku lakukan saat Ratih tampak kesal. Namun sejak tadi ku perhatikan, Ratih malah tambah banyak tingkah. Tak biasanya dia seperti ini. Padahal biasanya Ratih banyak diam saat marah. Namun kali ini berbeda. Ratih tampak gelisah dan sering menatapku dengan tiba-tiba dengan pandangan yang entah sulit untuk di jelaskan.
Ku tatap punggung Ratih yang membelakangiku. Terlihat guncangan lada tubuhnya membuatku merasa bersalah.
__ADS_1
"Dik, apa kamu menangis?" tanyaku perlahan. Namun Ratih tak menjawab, yang ada malah bahunya tampak semakin berguncang keras.
"Dik." aku membalik tubuh Ratih untuk memastikan keadaan Ratih. Saat itu juga aku mendorong tubuh Ratih hingga jatuh ke lantai. Bagaimana tidak, sosok menyeramkan dengan wajah separuh hancur dan bola mata yang keluar dan hampir jatuh kalau tidak terikat oleh syaraf-syaraf kecil yang menghubungkannya dengan batok kepalanya.
"Sial." umpatku. Aku berdiri dan mundur hingga tubuhku menabrak pintu keluar. Sedangkan sosok wanita itu bangkit dan duduk di tepian ranjang.
"Mas Hadi jahat." terdengar suara yang keluar dari bibir sosok menyeramkan itu. Sosok itu berdiri, berjalan perlahan ke arahku. Aku yang gemetar hebat tak mampu untuk pergi apalagi berlari. Lututku terasa lemas. Tulang-tulangnya terasa terlepas dari tempatnya.
"Mas. Sini. Mengapa kamu tak mencintaiku lagi, Mas." wanita itu berjalan maju, mendekat ke arahku. Tubuhku yabg tertahan oleh dinding merasa buntu dan merasa kesulitan untuk melarikan diri. Kemudian aku mencoba untuk memejamkan mata kuat-kuat.
__ADS_1