
Aku memilih untuk tetap diam. Aku bingung harus menjawab apa. Jika Ratih tahu aku datang ke rumah Ibu karena Ranti, sudah pasti Ratih juga tahu untuk apa aku datang ke rumah Ibu jauh-jauh.
"Mas, tolong bantu aku." pinta Ratih sambil memegang tanganku.
"Mas harus berbuat apa, Dik?" tanyaku lemah.
"Biarkan Radit bersama kita. Biarkan Mba Ranti membalaskan dendamnya terlebih dahulu." ucap Ratih mengiba.
"Tapi, Dik. Bukankan membalas dendam justru tidak akan menyelesaikan semuanya?" jawabku takut menyakiti hati istriku.
"Mas, lalu Mba Ranti harus apa? Harus mengikhlaskan semuanya tentang semua yang sudah terjadi padanya? Dia sudah ikhlas menerima Radit, namun bukan berarti mbak Ranti pantas untuk di bunuh." teriak Ranti membuatku terkejut.
"Mak-Maksudmu apa, Dik?" aku semakin tak mengerti. Ibu bilang kalau Mbak Ranti mati bunuh diri. Namun sekarang Ratih bilang kalau Mbak Ranti di bunuh.
"Mbak Ranti dibunuh. Dia tidak bunuh diri." ucap Ratih terisak. Tangisnya mulai keras saat aku mencoba untuk memeluknya. Ku elus lembut bahu dan punggungnya, membiarkan istriku mengeluarkan semua perasaan sedihnya. Untung saja rumah tetangga kami berjauhan, sehingga tidak akan ada yang datang kerumah hanya karena suara tangis Ratih yang semakin keras.
"Mbak Ranti dibunuh saat menemui laki-laki bajingan itu, Mas." Ratih mulai menceritakan apa yang ia ketahui.
"Dia tidak bunuh diri dengan terjun dari jembatan itu. Namun Mbak Ranti di bunuh terlebih dahulu sebelum akhirnya jasadnya di terjunkan kebawah melalui jembatan yang jarang di lalui orang. Besok akan ku bawa Mas Hadi kesana. Ketempat dimana Mbak Ranti di jatuhkan."ucap Ratih membuatku merasa serba salah. Niatku ingin menghiburnya malah membuatnya semakin mendendam karena teringat akan masa lalu saudaranya itu.
"Lalu Mas bisa apa, Dik?" tanyaku berusaha menghibur.
__ADS_1
"Biarkan Radit disini, dan biarkan Mbak Ranti menyelesaikan keinginannya." ucap Ratih membuatku harus terpaksa menyetujui permintaan konyolnya itu.
"Ba-baiklah."
Semalaman aku tak bisa tidur. Pikiranku penuh dengan bayangan kejadian yang tak pernah ku lihat sendiri. Dan juga memikirkan nasib keluarga kami kedepannya kalau harus mengikuti kemauan Ranti untuk balas dendam kepada laki-laki yang telah mencelakainya. Aku takut, sungguh aku takut jika Ratih atau siapapun dari kami akan mendapatkan balasan yang setimpal karena bersekutu dengan syetan.
Aku tetap memilih berangkat ke rumah makan. Berlama-lama di rumah membuatku sesak dan tak nyaman. Apalagi ada Radit yang kenyataannya memang bukan bayi manusia. Rasanya aneh jika aku harus bermain dan bercanda dengannya.
"Pak, apa Bapak sakit?" tiba-tiba Ibra datang membawakan secangkir kopi hitam untukku. Aku yang kebetulan sedang pusing merasa ini sangat kebetulan.
"Terimakasih, Ibra." ucapku sambil menyesap perlahan cangkir berisi kopi yang masih mengepulkan asap.
Kali ini aku tak bisa menceritakan ini pada Ibra. Semua ini ku anggap aib keluarga dan memang seharusnya di rahasiakan.
"Oh, syukurlah. Bagaimana bisa lepas darinya?" tanya Ibra yang tampaknya ingin tahu lebih.
"Entahlah, Bra. Dia pergi begitu saja. Mungkin Ratih yang membuangnya." jawabku begitu saja membuat Ibra seperti tak nyaman dan pamit untuk keluar dan melanjutkan pekerjaan. Mungkin dia menyadari bahwa aku sedang tak ingin di ganggu dan tak ingin bercerita apapun.
Semenjak aku tahu cerita sebenarnya dari Ratih, aku menjadi lebih diam. Lebih memilih untuk tetap diam lebih tepatnya. Bahkan aku tidak bercerita pada Ibra tentang Radit yang sebelumnya sudah ku akui kalau Radit sudah tidak bersamaku lagi. Ibra tampaknya juga tak begitu ingin tahu tentang Radit lagi, tak seperti awalnya yang ku rasa dia sangat penasaran dengan Radit dan juga Ratih. Ibra pernah bertemu dengan Ratih beberapa kali. Meskipun begitu, Ibra tak pernah bisa akrab dengan Ratih. Bahkan Ibra tampak selalu menghindar bila Ratih datang ke rumah makan. Hingga akhirnya rumah makanku mengalami kemunduran dan akhirnya Ratih tak pernah lagi mau datang ke rumah makan kami.
_____________
__ADS_1
Sekelebat bayangan hitam kembali muncul. Aku yang sedang membuat mie instan di dapur spontan saja melompat dan hampir berteriak. Namun mengingat siapa yang lewat, aku berusaha untuk tampak biasa saja. Entah wajar atau tidak, aku mencoba untuk hidup berdampingan dengan Ranti dan Radit yang kini telah menjadi setan.
Sosok wanita terlihat mengintip, menyembulkan kepala di antara dinding pintu dan korden yang sengaja ku pasang di pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tengah. Langsung saja ku tundukan kepala dan meneruskan menyeruput kuah mie yang tampak segar namun sesak saat ku telan. Bagaimana tidak, aku harus berusaha mengabaikan sosok itu yang jelas-jelas sedang berdiri menatap ke arahku.
"Dik." ku panggil Ratih barangkali dia bersedia menemaniku.
"Dik." ku ulangi panggilanku, namun Ratih tak juga muncul. Ku tengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Jam sebelas malam, mungkin Ratih sudah terlelap. Aku menggerutu sendiri harus menikmati mie dengan di temani sosok mengerikan di pintu. Dengan nafas memburu dan keringat yang membanjiri tubuh, aku memaksakan diri untuk menghabiskan mie yang mulai mekar.
"Sial, mengapa harus muncul di saat yang tidak tepat." gerutuku.
Sosok wanita itu akhirnya pergi juga, meninggalkan suara tawa yang melengking membuat bulu kudukku berdiri ketika mendengarnya. Bergegas aku berjalan mengendap dan berniat pergi ke kamar. Ku tinggalkan saja sisa mie instan yang sudah dingin dan mekar. Tak ada lagi niatku untuk makan apalagi menghabiskannya.
"Dik." aku memilih untuk tidur bersama Ratih. Meskipun ada Radit, namun setidaknya aku bersama Ratih saat ini. Dari pada aku sendirian dan kembali di temani sosok wanita itu di kamar sebelah.
"Dik." aku mencoba membalik tubuh Ratih yang sedang tidur menghadap ke arah Radit. Begitu lelapnya Ratih hingga ku panggil berkali-kali tak menyahut juga.
Dingin, itulah yang aku rasakan saat menyentuh pundak Ratih. Tubuh Ratih sedingin es dan keras. Apa mungkin Ratih kedinginan? Secepat kilat ku selimuti tubuh dingin istriku.
"Dik, aku matikan saja ya AC nya." ucapku pada Ratih yang tampak bergerak setelah ku selimuti. Namun rupanya Ratih tak juga menjawab.
"Aaaaarrrkkkhhh..."
__ADS_1
Se-seetttaaaannn..." aku berlari keluar kamar dan menabrak apapun yang ada di depanku. Termasuk pintu kamar yang sudah ku tutup rapat supaya sosok Ranti tak bisa masuk. Entah mengapa pintu kamar menjadi sangat sulit di buka saat kondisi panik, nyatanya malah membuatku kesusahan saat ingin melarikan diri.
"Ratiiihhh ... Rraaattiihhh..." sekencang mungkin ku panggil Ratih karena saat ini aku benar-benar ketakutan