
"Aaaarrrrkkkhhh..."
Sebuah tangan meraih salah satu kaki ku. Tangan sedingin es itu mencengkeram kuat pergelangan kaki ku. Aku terdiam, hanya berusaha menahan suara untuk tak berteriak. Kuku-kukunya yang runcing, terasa kuat mencengkeram kulit kaki dan mencabik-cabik dagingnya.
Detak jantung berdebar kencang, bahkan suaranya pun aku mampu mendengarnya. Dari balik selimut aku melihat, di bawah sana, sosok itu terlihat duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh erat kaki ku. Sedangkan wajahnya sedikitpun tak ia tampakkan. Hanya rambut panjang tak terawat yang terurai hingga menyentuh tempat tidur.
Tubuhku bergetar hebat. Meskipun sekuat tenaga telah ku coba bertahan, namun rasa takut mengalahkan segalanya. Aku bangun, berusaha untuk melepaskan cengkeramannya dan berniat untuk melarikan diri. Apalagi aku teringat akan Ratih yang sedang bersama Radit di kamar sebelah. Aku takut terjadi hal yang tidak di inginkan padanya.
"Di-dimana dia?" sosok itu menghilang mana kala aku membuka selimut. Nafasku yang masih memburu membuatku terengah-engah ber susulan dengan detak jantung yang berdetak keras seakan siap untuk menjebol dada.
"Ra-ratih ..." secepat kilat aku bangkit dan berlari ke kamar sebelah, berharap Ratih baik-baik saja. Tampaknya perkiraan ku salah.
"Dik." aku mendekat pada sosok wanita yang duduk membelakangi ku. Sosok wanita dengan rambut tergerai sepinggang itu duduk menatap jendela kamar. Wajahnya tak terlihat, ia tampak menunduk.
"Dik." ku tepuk perlahan pundaknya. Wanita itu diam, bahkan tak merespon sedikitpun panggilanku. Aku mencoba untuk duduk di sampingnya, meraih tangannya dan mencoba untuk menyadarkannya.
"Sadar, Dik. Sadar." aku menggoyang-goyangkan tubuh itu. Namun sedikitpun tak meresponnya.
__ADS_1
"Bbbrrruuukkk..."
Ratih ambruk, tubuhnya sangat dingin. Bahkan wajahnya tampak sangat pucat dan berantakan. Secepat kilat ku gendong dan ku larikan ke dalam mobil. Malam ini juga aku membawa Ratih ke Rumah Sakit.
Dokter memeriksa keadaan Ratih. Sedangkan aku hanya bisa mondar-mandir di depan ruangan Ratih di periksa. Karena sedang musim pandemi, tak ada yang di perbolehkan masuk ke ruangan selain pasien. Aku baru di perbolehkan masuk jika sudah melakukan prosedur yang di minta dan di nyatakan sehat.
"Astaga." aku teringat akan Radit yang ku tinggalkan pergi begitu saja di rumah. Sedangkan aku sendiri juga tak mungkin meninggalkan Ratih seorang diri di Rumah Sakit dalam kondisi seperti ini.
________
Mendengar penuturan Dokter kalau Ratih baik-baik saja, aku memutuskan untuk pulang kerumah mencari Radit sekalian membawa peralatan yang akan ku bawa lagi ke Rumah Sakit. Ratih di anjurkan untuk menginap seharu atau dua hari di Rumah Sakit untuk memastikan kondisinya membaik. Lagu pula, aku juga butuh tempat untuk menenangkan diri selain di rumah.
Dalam perjalanan, aku memikirkan sosok wanita yang mencengkeram kaki ku tadi.
"Mengapa tak ku periksa sekalian tadi di Rumah Sakit." gumamku saat dalam perjalanan pulang. Bahkan rasa sakit di kaki ku pun tak ku hiraukan lantaran melihat kondisi Ratih yang sangat kacau.
____________
__ADS_1
"Radit." perlahan aku berjalan memasuki rumah. Inci demi inci di setiap ruangan aku mencari dimana keberadaan Radit.
"Radit." satu persatu pintu ku buka. Bawah meja dan di bawah kolong tempat tidur juga ku cari karena takut jika Radit merangkak sampai kesana.
Plleeettaaakkk ... bbbrrruukkk...
Suara benda jatuh terdengar sangat keras. Aku langsung memutar badan dan mencari sumber suara.
"Ra-Ratih." Ratih terlihat terbaring pingsan di dapur dan tak jauh darinya ada Radit yang sedang duduk memegang sebuah mainan kerincingan yang di belikan Ratih beberapa waktu lalu.
"Dik." Aku berlari menghampiri Ratih dan memeriksanya. Wajah pucatnya memberi tahukan kalau Ratih tidak baik-baik saja. Aku membopongnya dan membawanya ke kamar. Ku baringkan ia di tempat tidur dan aku kembali ke dapur untuk segera mengambil air minum untuknya. Melihat Radit yang bermain sendiri, membuatku merasa iba dan berniat untuk menggendongnya.
"Astaga, berat sekali anak ini." gumamku saat gagal mengangkat tubuh mungil itu. Radit yang melihatku langsung tersenyum dan terlihat menyeramkan.
Aku berniat membuat teh manis untuk Ratih. Saat melihat bayangan Radit dari pantulan cermin lemari makan, aku teringat Ratih yang sedang berada di Rumah Sakit. Lantas, siapa wanita yang ku gendong baru saja? Ratihkah? Atau?
Perlahan aku memutar badan dan melihat ke arah Radit. Sosok kecil itu tersenyum menyeringai. Bukannya menggemaskan, sosok itu malah berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
__ADS_1