Bayi Ambar

Bayi Ambar
Bayi Setan


__ADS_3

"Mas." Ratih kembali saat pikiranku sedang benar-benar kalut.


"Kamu dari mana, Dik?" spontan aku menarik tangannya dan memaksanya untuk lebih mendekat kepada ku. Aku amati wajah Radit di dalam gendongan istriku itu. Bayi itu terlelap, sangat pulas. Bibirnya yang pucat dan kulit tipisnya yang putih pucat itu membuatku semakin yakin siapa Radit sebenarnya.


"Kamu dari mana, Dik?" ku ulangi pertanyaan ku sekali lagi.


"Dari sana, Mas." tunjuk Ratih membuatku semakin cemas. Sedangkan aku juga baru saja dari tempat itu dan tak menemukan siapapun di sana termasuk istriku itu.


"Tapi Mas baru saja dari sana juga. Mas tidak melihatmu." ucapku untuk memastikan ucapan Ratih benar.


"Aku serius, Mas. Aku dari sana bersama Radit. Bahkan tadi Radit di gendong sama Ibu-ibu disana." ucapnya membuatku bingung.


"Ibu yang mana? Yang sedang mengobrol bertiga disana?" tanyaku memastikan. Ratih menggeleng.


"Bukan. Mereka hanya tetangga yang tidak suka dengan anak kita, Mas. Masa mereka bilang, anak kita menyeramkan. Bahkan mereka bilang kalau aku ini gila." ucapnya dengan nada kesal. Aku yang mendengarnya pun juga kesal. Namun aku juga harus menyelidiki mengapa mereka bisa-bisanya mengatakan Ratih itu tidak waras. Bahkan mereka bilang, Radit yang di bawa Ratih itu hanya sebuah boneka. Bukan bayi.


"Sudahlah. Ayo kita masuk." ajak ku.


Ratih meletakkan Radit di atas tempat tidur kami. Ku lihat sosok bayi itu terdiam tak bergerak sedikitpun. Heran ku, mengapa bayi itu tak rewel meskipun tak makan dan minum. Bahkan juga tak mengeluarkan kotoran apapun.

__ADS_1


Aku mencoba mencari tahu lebih tentang bayi bajang yang Ibra ceritakan. Seperti apa wujudnya dan bagaimana cara mengatasinya.


"Bisa jadi karena ada bayi itu, Pak. Makanya rumah makan kita kembali laris." ucap Ibra siang tadi.


"Lalu, apakah itu kabar baik? Bukankah itu termasuk memelihara pesugihan?" tanyaku penasaran. Ibra tak menjawab, ia hanya mengangkat ke dua bahunya.


"Mas." kedatangan Ratih membuat pikiranku terpecah.


"Ada apa, Dik?"


"Ibu-ibu yang di ujung sana bilang, kalau Radit pembawa rejeki. Dia meminta kita untuk merawatnya." ucap Ratih membuatku mengernyitkan dahi.


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Kali ini aku harus mencari tahu kebenaran tentang siapa Radit sebenarnya.


Ku lihat sosok kecil itu tergolek di tempat tidur dekat dengan tembok. Sedangkan Ratih sudah tertidur dengan posisi membelakanginya. Ku amati wajah kecil itu, tak ada raut wajah menggemaskan disana. Yang ada hanya hawa dingin dan seram saat aku berlama-lama menatap wajah bayi itu.


"Astaghfirullah." lagi-lagi aku harus melihat ekspresi wajah itu. Radit dengan tiba-tiba membuka kedua mata dan langsung menatap ke arahku. Wajahnya berubah menyeramkan. Senyumnya yang menyeringai ia tunjukan hanya kepadaku, tidak dengan Ratih.


"Si... sial. Makhluk apa kamu sebenarnya. Umpat ku kesal sambil melempar bantal ke arah Radit. Tubuh kecil itu kemudian terbangun dan merangkak. Ia menuruni tempat tidur dan merangkak mendekati ku yang saat ini berdiri di dekat lemari pakaian. Aku mundur perlahan, tak ingin aku membangunkan Ratih.

__ADS_1


"Jangan ganggu keluarga ku. Pergi kamu dari sini." pintaku pada sosok menyeramkan itu. Namun bukannya pergi, bayi itu malah kembali merangkak ke atas tempat tidur dan mendekati Ratih. Bahkan ia menyusup ke sela-sela baju Ratih dan berusaha membukanya dengan paksa. Aku yang melihat kejadian itu tak mampu berbuat apa pun. Dengan jelas aku melihat Radit menyusu lada istriku dengan lahapnya.


"A...apa yang kamu lakukan." aku berusaha menarik tubuh kecil Radit dari badan Ratih. Namun sekuat tenaga ku kerahkan, tubuh kecil itu tak mau terlepas dari tubuh Ratih. Bahkan Ratih pun seperti tak merasakan keberadaan Radit yang saat ini berada di atas dadanya.


Layaknya seorang bayi yang menyusu pada Ibunya, bayu itu tak mau menghentikan aksinya meskipun sekuat tenaga aku berusaha menghentikannya. Bahkan Ratih yang tak mampu ku bangunkan meskipun tubuhnya ku goncang-goncangkan dengan amat keras.


"Dik, bangun. Dik. Ayo bangun."


"Dik. Buang bayi itu, Dik. Dia setan."


Aku terus berusaha menarik kaki Radit dari tubuh Ratih. Namun sosok itu tetap tak bergeming. Hingga akhirnya Ratih terbangun dengan sendirinya. Sedangkan Radit entah kapan ia turun dari sana. Radit sudah tampak terlelap kembali di sebelah Ratih. Bahkan seolah tak terjadi apapun. Radit tetap dengan pulasnya tertidur dengan memegang sebuah mainan kecil yang di berikan oleh Ratih untuknya.


"Ada apa, Mas?" tanya Ratih.


Entah bagaimana aku menjelaskannya. Ratih pun tak akan percaya kalau aku menceritakan semua itu padanya saat ini.


"Ti ... tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja, Dik?" tanyaku memeriksa kondisi Ratih.


"Aku baik-baik saja, Mas. Hanya saja, aku sedikit pusing." keluh Ratih.

__ADS_1


Aku tak bisa tidur malam ini. Aku memilih tetap terjaga untuk menjaga Ratih dari makhluk berbentuk bayi itu. Aku tak ingin kejadian tadi terulang lagi. Aku memastikan bayi itu tak lagi terbangun dan mengganggu istriku. Akan ku cari cara untuk mengusirnya dari tempat ini bagaimana pun caranya.


__ADS_2