
Seperti malam lainnya, kali ini aku juga memilih untuk tidur sendiri di kamar sebelah. Namun malam ini terasa sangat panjang. Badanku yang sudah lelah malah membuatku semakin tak bisa tidur. Sudah hampir tengah malam, mataku tak juga mau di ajak tidur. Malah kini isi pikiranku ikut serta melanglang buana memikirkan kejadian-kejadian yang mungkin sudah menimpa kakak beradik yang salah satunya kini menjadi istriku.
Sudah bisa di pastikan bagaimana Ratih menghadapi rasa traumanya saat kejadian naas yang merenggut nyawa saudarinya pada akhirnya kini menimbulkan berbagai gangguan pada keluargaku. Ratih yang selama ini pendiam dan tertutup lantaran memendam sebuah harapan akan hancurnya hidup laki-laki yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Dengan membiarkan saudarinya membalas dendam dan mencari ayah dari Radit dan berniat untuk menghancurkan hidupnya karena telah membuatnya kehilangan hidup yang amat ia inginkan. Cita-cita Ratih dan Ranti yang hampir saja terwujud, begitu saja di hancurkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab.
Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh, manakala terdengar suara tawa anak kecil bermain dan bercanda di luar kamar. Sudah jelas siapa pelakunya. Namun aku mencoba untuk abai dan berharap supaya lekas tertidur. Detik jam terdengar nyaring, bersahutan dengan suara burung hantu yang selalu bertengger di atas pohon belakang rumah. Suara tawa cekikikan terdengar begitu nyaring. Bahkan suara langkah kaki saling berkejaran pun terdengar begitu jelas mondar mandir dari depan kamar, ruang tamu menuju dapur. Tubuhku menggigil meskipun sudah tertutup selimut rapat-rapat. Namun keringatku mengucur dengan derasnya. Tak sanggup rasanya bila aku harus menjalani hidup dengan gangguan seperti ini terus menerus.
Aku terkejut saat tiba-tiba saja selimut yang ku kenakan tersingkap begitu saja. Dengan mata yang terus terpejam, aku berusaha keras menggapai dan mencari selimut untuk kembali menutupi tubuhku yang masih menggigil karena takut. Namun sepertinya usahaku sia-sia. Sudah cukup lama aku berusaha menggapai selimut, namun barang yang ku cari itu tak juga ku temukan. Terpaksa aku membuka mata dan berniat untuk mencari ke bawah kolong tempat tidur.
"Astaghfirullah." aku setengah berteriak lalu kembali ke atas tempat tidur dengan menutup mulut juga mataku. Sosok anak kecil dengan wajah menyeramkan setengah hancur berada di bawah ranjang tempat tidur sedang asyik bermain kain selimut yang tadi ku kenakan. Dengan membaca doa-doa pendek yang masih ku ingat, aku mencoba mengusir rasa ketakutan karena teror yang tak berkesudahan ini.
"Mengapa orang lain yang berbuat, namun aku yang harus kena imbasnya." umpatku dalam hati.
Entah sudah berapa lama aku meringkuk tanpa selimut. Hanya dengan memejamkan mata dan membaca doa-doa, aku akhirnya merasa sedikit tenang. Suara-suara mengerikan sudah mulai tak terdengar. Dengan nafas yang masih naik turun, aku mencoba untuk mengambil selimut yang terjatuh di bawah ranjang. Sepi, bahkan suara binatang malam pun hampir tak terdengar. Aku mengkhawatirkan Ratih, namun sepertinya dia selalu baik-baik saja dengan segala gangguan ini. Terbesit di dalam pikiran untuk membawa Ratih pulang kampung menemui Ibu. Aku ingin beberapa hari tinggal di sana dan merasakan ketenangan. Lelah sekali rasanya bila harus berhadapan dengan makhluk-makhluk halus seperti ini setiap saat.
__ADS_1
Mataku kembali segar, bahkan rasa kantuk ku pun menghilang dalam sekejap. Malah yang ada rasa lelah yang amat sangat karena sudah berhari-hari aku tak bisa beristirahat karena gangguan-gangguan yang ku terima. Bahkan kadang aku sering tertidur saat di rumah makan karena merasa kantuk yang sangat hebat meskipun pekerjaan sedang banyak-banyaknya.
Aku mengambil ponsel, kembali mencari tahu melalui internet tentang teror bayi bajang dan juga kuntilanak di rumah. Bagaimana cara mengatasi dan bagaimana cara mengusir mereka supaya tidak mengusik keluargaku lagi. Banyak sekali saran-saran yang ku temukan, dari hal yang wajar hingga hal yang luar biasa untuk bisa terlepas dari jeratan mereka.
Aku menghentikan aktivitasku saat menyadari sebuah hembusan angin menerpa tengkuk leherku. Seperti sebuah nafas yang sangat dekat, hembusan angin itu terasa sangat dekat dan hampir menempel di tengkuk leher bagian kiri. Aku tak berani meraba, apalagi menoleh. Aku hanya berpura-pura terus memainkan handphone dan membuka aplikasi yang menayangkan berbagai macam video. Sebuah angin yang terasa seperti deru nafas itu masih begitu terasa, kali ini berpindah tepat di depan wajahku. Aku memilih untuk menutup mata rapat-rapat. Namun angin dari hembusan yang tak tahu dari mana asalnya itu meniup tepat di depan hidungku. Aroma menyengat mendadak menusuk kedua lubang hidung, membuat aku langsung berhenti bernafas dan menahannya sekuat tenaga. Namun rupanya aroma itu sudah terlanjur tercium dan masuk ke dalam hidung. Bau busuk yang begitu lengket dan menyengat seolah masih tertinggal di dalam rongga hidung dan membuatku selalu merasa bau busuk setiap menarik nafas. Sebuah tangan dingin meraba pergelangan tanganku. Handphone yang ku pegang mendadak jatuh saat tangan dingin itu menyentuk tangan dan naik hingga ke lengan.
Dengan tubuh yang masih bergetar, aku beringsut kebelakang. Bersandar pada dinding tempat tidur dan mencoba untuk bertahan.
Ujung tempat tidur terasa bergerak. Sepertinya ada seseorang yang sedang mendudukinya. Perlahan benda itu bergerak, perlahan mendekat dan semakin dekat. Hawa dingin mulai terasa kembali. Suara tarikan nafas yang berat terdengar tepat di sebelahku. Mulutku kembali komat-kamit membaca doa-doa pendek yang selalu ku ulang-ulangi setiap saat. Hingga pada akhirnya sepertinya sosok itu tak jadi mendekat. Dia sudah menghilang saat aku membuka mata.
Cekkllleeekkk ...
Suara gagang pintu di tekan dari luar. Aku tertegun, mendadak jantungku kembali berpacu dan bergemuruh. Aliran darah seolah-olah kembali cepat dan membuat tubuh terasa panas. Keringat mulai mengucur dari kening, dan mengalir melalui kedua pelipis dan terjatuh jatuh di kasur.
__ADS_1
"Mas." Ratih masuk dengan membawa segelas air putih. Rupanya dia tahu kalau aku belum juga tidur.
"Minumlah." aku meraih gelas yang Ratih pegang dan meneguknya hingga tandas. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku menarik tangan Ratih dan memintanya untuk duduk di sampingku.
"Dik, bagaimana kalau besok kita jenguk Ibu di kampung?" ajak ku pada Ratih. Tiba-tiba saja wajah Ratih berubah, dia diam dan tak segera menjawab ajakanku.
"Bagaimana? Mau kan?" tanyaku sekali lagi.
"Tapi, Mas."
"Kita sudah lama tak menengok Ibu, Dik." bujuk ku. Padahal sebelumnya kami sering menyempatkan diri untuk pulang dan menengok Ibu yang kini sendirian di kampung.
"Baiklah." akhirnya Ratih mau ku ajak pulang kampung dan betapa bahagianya aku membayangkan tidur dengan nyenyak dan menikmati kedamaian hidup tanpa gangguan dari Mbak Ranti dan Radit.
__ADS_1